People Leave. I Hate People as deep as I Love Them.
Kamis, 23 Mei 2013
Beberapa Scene Menyenangkan dalam Hidup Saya. I Just Simply Love Them.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.56 0 comments
Senin, 22 April 2013
With No-Words
Sebagai orang yang sudah melalui banyak hal menyenangkan bersamamu,
apa lagi yang bisa kuharapkan?
hampir tidak ada.
Aku bahkan tidak tahu harus merasakan apa.
Mungkin, bulir-bulir pasir yang menguning keemasan ditempa senja, dan desah angin yang menggelitiki kita bukan lagi satu-satunya pemandangan indah yang bisa kusaksikan.
Jangankan mega yang bersemburat jingga, bahkan birunya langit dan kelamnya mendung sudah fasih aku sesapi sensasinya.
Entahlah, semua itu sudah tak berarti lagi untukku. Semua keindahan itu sudah biasa untukku.
Aku tak lagi menatap nanar hingga Sang Surya menghilang dibalik lengkungan lautan dengan otak penuh senyumanmu.
Aku tak lagi mendesah ketika angin membelaiku dengan harapan bahwa itu adalah jelmaan jemarimu.
Aku sudah belajar untuk berhenti menghubungkan semuanya denganmu.
Kau tahu? banyak sekali yang sudah kulakukan untuk menjaga keseimbanganmu.
Kau orang yang terlalu mudah jatuh.
Aku selalu bersusah payah menegakkanmu kembali ketika badai mematahkan penyanggamu.
Setelah semua ini aku sadar, aku tidak terlalu kuat.
Kau bahkan tak pernah sepenuh hati membiarkanku menjadi sandaranmu, kan?
Dan apa-pun yang kulakukan untuk menyeimbangkan orbitmu selalu sia-sia karena kau sendiri membiarkan dirimu jatuh lagi, dan lagi.
Kau membiarkan dirimu sendiri dengan mudahnya terombang-ambing angin senja yang berbeda setiap sorenya.
Bersamaan dengan itu, aku kehabisan tenaga untuk terus menjagamu tetap berdiri.
Aku terjatuh jauh lebih dalam dari apa yang bisa kau pikirkan.
Maafkan aku.
Bukannya aku lelah. Jika lelah-pun aku bisa dan biasa menahannya.
Maafkan aku, sungguh bukan inginku berhenti meyakinkanmu.
Tapi bagaimana bisa aku membuatmu yakin kembali jika kau sendiri tak membiarkan dirimu sendiri meyakini semua ini?
Percuma sekali.
Aku tidak ingin membuatmu merasa melewatkan sesuatu yang penting.
Tidak.
Tapi aku sekarang ini cukup mengerti jika aku bukan sesuatu yang penting itu, karena pada kenyataannnya kamu dengan mudah melewatkanku.
Mungkin kau sedikit kecewa, bahwa seseorang yang dikirim Tuhan untuk mencintaimu bukan orang yang sama seperti dalam harapanmu.
Karena itu aku mengerti. Bukan salahmu jika tak bisa menerima. Bukan salahmu jika tak bisa melihat dengan seksama.
Aku ingin berhenti, tapi tidak bisa sama sekali.
Karena sekarang aku telah memilih untuk hanya berdiam diri, maka aku harus bisa menerima jika aku akan terus terusuk-tusuk duri. Tapi apalah arti sebuah tusukan jika aku terbiasa menikam hasratku sendiri?
Posted by Kharissa Widya Kresna at 01.05 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
Minggu, 21 April 2013
Well, Hari Kartini dan Wanita
April.Setiap mendengar kata April, otak saya tidak hanya secara otomatis mengingat tanggal kelahiran saya, tetapi juga tanpa sadar mengaitkan april dengan sebuah nama yang sudah sangat kita kenal: Kartini. Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia.
Sejenak menilik sejarah Kartini,Wanita yang namanya menjadi salah satu nama yang paling dikenang di Indonesia ini harus menjalani masa pingitan. Adat istiadat tidak mengijinkan Kartini bebas berkomunikasi dengan dunia luar, dia hanya menunggu seorang pria pilihan ayahnya, untuk menikahinya. Ayahnya juga menolak keinginan Kartini untuk melanjutkan sekolah dan dia mulai terganggu dengan pemikiran-pemikiran feodal Belanda. Sejak itu, jiwa muda Kartini meletup-letup. Dia bahkan mendirikan sekolah Kartini dan melakukan berbagai perubahan.
Kembali ke potret wanita saat ini. Disini kita tidak lagi akan menyoroti kenapa wanita indonesia yang sekarang tidak bisa berjuang seperti Kartini. Tidak. Karena jelas sekali masa yang dilalui sudah berbeda. Dewasa ini, perhatian kita akan sosok wanita ideal menemukan kiblat baru seiring munculnya budaya pop saat ini. Setidaknya, Katini tidak lagi menjadi idola. Wanita selalu digambarkan sebagai makhluk pesolek yang lemah lembut. Iklan-iklan di televisi memberikan standar baru dalam definisi ‘cantik’. Kulit putih, rambut lurus dan lembut, langsing, dan sebagainya. Hal ini juga sedikit didongkrak oleh rilisnya berbagai jenis tayangan di Indonesia. Salah satunya film Habibie dan Ainun. Yap! Sadar atau tidak, sejak kemunculan film ini, banyak wanita—khususnya yang sudah berpasangan—menemukan demam baru. Romantisme Ainun seperti menghipnotis wanita inonesia, terutama para remaja untuk memujudkan kisah cinta seperti dalam film sehingga mau melakukan apa saja. Terutama dalam urusan berdandan dan berpacaran. Ups! Maaf. Tapi memang iya. Kesempatan kita untuk memperoleh kebebasan seluas-luasnya sangat percuma kalau hanya dilalui dengan hal-hal macam demikian.
Padahal kita diciptakan tidak dengan hakikat yang seperti itu. No. Kita diciptakan sebagai makhluk yang kompleks. Kecantikan kita tidak bisa dinilai hanya dengan segala bentuk kecantikan fisik atau mewujudkan kisah cinta yang indah. Jelas sekali, sebagai pewarna peradaban, banyak sekali yang harus kita lakukan sebelum memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan bersolek. Tidak perlu membuat definisi yang muluk-muluk. Mempercantik kepribadian, tentu menjadi hal yang paling utama. Mempercantik cara berfikir dapat menjadi prioritas selanjutnya. Kita juga dituntut untuk melakukan sesuatu untuk kemajuan sesama. Bahkan jika itu hanya sekedar berbagi motivasi dengan orang lain untuk berbuat sesuatu menuju kearah yang lebih baik. Girls, We are Full Passionate just like Beryllium, Precious like Gold, and Strong like Titanium. Because We are ‘Be Au Ti’ Full.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.35 0 comments
Labels: Artikel, Belajar Hidup
Mempertanyakan Alasan
Yuna melempar kuat-kuat sebungkus es krim yang diterimanya dari Yulian.
Yulian tercengang.
'Kenapa kamu buang, Yun?'
'Aku nggak suka.' Jawab Yuna tandas. Yulian memandang dengan hati pedih.
'Sejak kapan kamu nggak suka es krim?' Tanyanya lirih.
'Sejak kamu bikin kesalahan besar. Aku memutuskan untuk tidak lagi mengunyah bongkahan krim padat menjijikan seperti itu.'
Yulian tertegun. Dia masih berusaha menguatkan hatinya menerima cecaran kata-kata tak berperasaan yang dilontarkan Yuna. Yuna masih diam dengan ekspresi beku.
'Baiklah. Kamu mau apa?' Tanya Yulian. Yuna mendongak, menatap Yulian yang terpaut 15 cm dari tinggi badannya, kemudian tersenyum sinis.
'Aku tidak mau apa-apa. Tidak kehadiranmu, tidak ribuan es krim yang kau bawa, atau apapun. Aku tidak butuh apapun.'
Yulian gusar. Dia mulai kehabisan kesabaran.
'Kamu ini kenapa, Yun? Kenapa mendadak aneh begini?'
'Aku tidak aneh.' Yuna menyahut datar.
'Terserah kau saja. Aku lelah!' Yulian akhirnya beranjak meninggalkannya. Yuna hanya memandang.
Sepeninggal Yulian, Yuna menghela nafas. Memandang nanar kearah es krim kesukaannya tergeletak. Hatinya perih.
Tidak. Aku tidak harus menyukainya.
Yuna mengulang kalimat itu dalam hatinya. Berulang kali, hingga kalimat itu hanyalah sebuah kalimat. tanpa makna. Hilang dalam riuh rendah gejolak hatinya.
***
Malam itu, Yuna turun dari motornya dan merapikan jilbabnya.
Dia memandang sekilas dari kaca spion, memastikan agar tak ada yang terlewat dari penampilannya. Dia ingin terlihat sempurna.
Yuna melangkahkan kaki memasuki minimarket dengan riang. Dia berencana membeli beberapa es krim untuknya dan Yulian.
Sambil memilih es krim kesukaan Yulian, dia tersenyum. Membayangkan tawa Yulian benar-benar membuatnya senang. Yuna berjalan memutar, sambil menimbang, kira-kira apa rasa es krim kesukaan Yulian.
Malam itu gerimis mengguyur pelan, menyisakan uap-uap air di kaca mini market. Tak banyak orang yang berada di mini market, tapi itu justru membuat Yuna leluasa. Dia tak pernah suka keramaian.
Sejenak Yuna berfikir : apakah keputusannya membeli es krim di saat hujan tidak akan membuat Yulian flu nantinya? Tapi ah, es krim selalu nikmat dinikmati. Walapun suasana sedang hujan sekalipun.
Apalagi Yulian sedang banyak beban pikiran. Es Krim cokelat ini pasti bisa membuatnya sedikit rileks.
Yuna berdiri beberapa saat di depan kotak penyimpanan es krim, hingga akhirnya memilih 2 buah es krim rasa cokelat.
Yuna mengancingkan jaketnya lebih rapat, memasang tudungnya, kemudian beranjak membuka pintu mini market. Beberapa percikan hujan menetesi wajahnya.
Yuna refleks memalingkan muka, dan dilihatnya Yulian sedang memarkir motor. Yulian.
Yuna tersenyum. Semestanya seketika berwarna. Seolah hujan sudah berhenti dan langitnya serupa pelangi.
Hanya saja senyumnya tak berlangsung lama. Seper-sekian detik kemudian Yuna melihat bahwa ternyata Yulian tak sendirian. Dia bersama seorang gadis yang dia kenal. Refleks, Yuna merapatkan tubuhnya ke tiang penyangga mini market yang 3 kali lebih besar dibanding tubuhnya. Berusaha agar Yulian tak melihatnya.
Yuna masih terus memandangi Yulian yang berjalan sambil mengucek rambut gadis yang sedari tadi bersamanya.
Bayangan tubuh mereka terus berjalan tanpa menyadari kehadiran Yuna, dan baru berhenti didepan boks es krim tempat Yuna berdiri beberapa menit yang lalu.
Yuna tersenyum, kemudian mencantolkan plastik belanjaannya yang berisi dua buah es krim di stang motor Yulian. Membiarkan rintikan hujan yang mengenai plastiknya menimbulkan bunyi gemerisik lembut dengan irama yang konstan.
Yuna mengambil kunci, menghidupkan motornya, kemudian memacunya menerobos keremangan malam dan tirai hujan.
***
Yuna menghela nafas.
Dia menyukai es krim bukan sekedar suka. Tapi es krim adalah bagian lain dari dirinya.
Es krim adalah tanda kebersamaannya dengan orang-orang yang dia sayangi.
Satu-satunya sarana berbagi isi hati kepada orang-orang di sekitarnya.
Satu-satunya cara yang dia buka untuk menerima kehadiran seseorang dalam hidupnya.
Ini kali kedua es krim yang dia berikan untuk Yulian mencair sia-sia.
Dia memutuskan untuk tidak lagi menerima atau memberikan es krim setelahnya.
02042013
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.34 1 comments
Labels: Cerpen, Prosa, Tulisan Bebas
Untuk Malam ini
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.32 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
Being in the Middle of Nowhere
Mungkin salahku, semua ini membuatku berfikir aku mempunyai hak atas hidupmu.
Mungkin salahku, semua ini membuatku berfikir aku mempunyai bagian atas hidupku.
Mungkin salahku, semua ini membuatku berharap lebih kepadamu.
Mungkin salahku, aku tak pernah mengatakan apa-apa. Tapi bukan berarti tak merasakan apa-apa.
Aku hanya ingin berada diantara kalian dengan biasa, tanpa harus ikut terkena dampak hubungan kalian yang tak biasa.
Aku hanya lelah berada di tengah-tengah.
Aku tak pernah menyalahkan kalian, aku hanya ingin hidup berdampingan dan menemukan tempat diantara kalian.
Aku hanya lelah berada di tengah-tengah.
Aku tak pernah memarahi kalian atas apa yang kalian lakukan atau kurasakan, jadi tolong, jangan menjadikanku pelarian.
Aku lelah berada di tengah-tengah.
Bisakah kalian mendukungku dan bukannya menyalahkan setiap langkahku?
Bisakah kalian menerimaku tanpa memandang hal-hal selainku?
Bisakah kalian berhenti saling menatap dengan pandangan yang seperti itu?
Aku lelah berada di tengah-tengah.
Aku dekat dengannya bukan berarti aku ini dirinya.
tetap saja aku raga dengan jiwa yang berbeda.
Aku hanya suka berteman dengan siapa saja.
Tak ada siapa lebih penting dengan siapa.
Aku hanya mencoba mengadilkan semuanya.
Berhentilah. Dalam beberapa hal, aku tak ada hubungannya.
Mengapa kalimat sederhana itu susah sekali dimengerti?
23032013
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.31 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
Aku Menunggu Seseorang yang sedang Menunggu
Aku hanya berharap untuk tidak memintalmu dalam dekapan kata malam ini,
namun semuanya memang sebatas harap yang tak pernah kutaati.
Sesuatu menjadi sangat melelahkan ketika menanti. Kau juga sadari?
Namun tak setiap orang-pun ingin menanti sesuatu yang juga sedang menanti.
Karena dengan begitu setiap detik yang terlampau menjadi berpangkat kuadrat
Dan seluruh sesap masa menjadi sesuatu yang mendatangkan karat.
Meski berkarat, tetap saja perasaan ini memuai dalam padang rumput tempat senyummu mendarat.
Aku tak ingin sedikitpun melalui detik demi detik yang dengan susah payah kudentingkan dengan sebuah pengharapan,
namun pada kenyataannya semua tersungkur dalam sebuah ketikan cerita yang kusongsong penuh angan
Aku hanya ingin memberitahumu,
bahwa setiap kali kau melamun melihatnya. aku melakukan hal yang sama padamu.
Aku hanya ingin memberitahumu,
bahwa setiap jengkal waktu yang kau habiskan untuk menunggunya, kugunakan juga untuk menunggumu
Mengertikah kau?
Bahwa setiap asa yang kugenggam makin terasa tak cukup menopang bongkahan rindu.
Rindu yang kusodorkan padamu, dan kau berikan untuk ratumu.
Padahal kau satu-satunya rajaku.
Terlanjur sekarang. dan petang semakin membayang.
Aku bagai riang yang mendamba benderang,
berpura bahwa gelap bukan sesuatu yang bisa membuatmu menghilang.
Aku menunggumu, dan kau menunggunya.
Garis hati menjadi segitiga bermuda yang menenggelamkan cerita kita.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.29 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
I haven't Write this Before.
Mungkin aku hanya harus mencoba berhenti. Sekuat apa-pun aku menginginkan untuk terus mendaki.
Namun puncakmu berada dalam sebuah ketinggian yang tak terdefinisi.
Mungkin aku hanya harus mencoba mencapai perbatasan. Sekuat apa-pun aku menginginkan untuk terus melanjutkan perjalanan
Namun tempatmu berada dalam sebuah jarak yang tidak bisa terukur pasti dalam satuan yang kugunakan.
Tahukah kau aku mulai putus asa?
Tentu saja aku sering memimpikan untuk kembali berjalan menuju sesuatu, tapi aku tak pernah sedikitpun mengira jika sekarang ini aku hanya ingin mencapaimu.
Tentu saja aku sering memimpikan melukis kembali pelangi dilangitku, tapi aku tak pernah sedikitpun mengira jika sekarang ini aku ingin men-cat-nya menggunakan warnamu.
Terkadang, kita memang berbatas pada daya meski jiwa masih ingin melakukannya.
Dan dayaku tiba dalam batasnya : Hatimu.
Hatimu yang terpaku pada hati selainku.
Padahal aku benci sekali menunggu dan berdiam diri. Itu terlalu menguras energi.
Dia…
Yang slalu kuingat
Takkan pernah hilang
Dari relung jiwa
Mengapa…
Tak pernah dia sadari
Getar rasa di hati
Yang kurasa kini..
Takkan ku bina semua
Rasa cinta ku padanya
Walau apa yang kurasa
Cukup pedih dan membara
Takkan ku paksa dirinya
'tuk memberikan cintanya
Karna ku tau dia takkan bisa
Tinggalkan cintanya...
(Takkan - Ten2Five)
Jika sampai hari ini kamu bertanya-tanya kenapa aku masih saja memandangmu meski kamu tak pernah sedikitpun melirikku,
You live my life, then you'll know what I feel.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.28 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
Aku tidak (ingin) Bisa Hidup Tanpamu
.Because these days aren’t easy Like they have been once before These days aren’t easy anymore..
Mungkin, ketika seseorang berkata 'aku tidak bisa hidup tanpamu.' kita tidak bisa langsung percaya. Itu bukan berarti dia benar-benar akan mati tanpamu. Tapi bukan berarti juga dia mencoba berbohong.
Mereka mungkin hanya akan kehilangan sepenggal bagian dari hidup mereka.
Dan itu membuat hidup mereka tak akan selengkap sebelumnya.
Manusia diciptakan untuk tidak bisa hidup tanpa orang lain,
namun bukan berarti hidup matinya bergantung pada kehadiran seseorang. Tidak.
Sepahit dan sebesar apapun kita kehilangan seseorang dalam hidup kita, kita masih harus tetap hidup untuk menghargai kehadirannya yang pernah menjadi sesuatu yang kita sentuh keberadaannya.
Salah satu dari kita pasti pernah kehilangan. Ataupun setidaknya akan kehilangan.
Kalau aku, sebagaimana kau tahu, aku tidak bisa hidup tanpamu setelah kamu memutuskan untuk tidak lagi bertahan disampingku.
Tapi aku masih hidup.
Hanya saja setelah itu terasa ada yang berbeda, dan perbedaan itu semakin mendesak dari hari ke hari.
Aku masih bisa melakukan semuanya tanpamu.
Aku masih bisa tertawa, aku masih bisa menangis,
aku masih bisa berlari atau diam tak bergerak. semuanya aku bisa.
Hanya saja sebagian diriku mengingkanmu mengutuhkan kembali yang kulakukan selama ini.
Aku ingin kau disana ketika aku tertawa. Aku ingin menjumpaimu ketika aku meneteskan air mata. Aku ingin membawamu ketika aku bergerak. Dan aku ingin berdiam disampingmu ketika lelah.
Aku ingin semuanya kulakukan bersamamu.
Setidaknya ketika kamu disini, aku tenang.
Aku merasa ada sumber energi yang tak-kan habis untuk berjalan bertahun-tahun.
Aku merasa ada kasur empuk yang akan menopangku ketika aku terjatuh.
Aku merasa ada akar kokoh yang aku bisa bersembunyi dibawahnya ketika ketakutan.
Aku merasa ada kanopi dedaunan rindang yang melindungiku dari sengatan matahari.
Aku merasa ada tempat yang kutuju ketika aku tidak tahu dengan pasti arah jalan.
Aku merasa ada senyum yang kujadikan alasan kenapa aku melakukan sesuatu.
Sekarang siapa yang akan melakukannya?
Hari-hari setelah namamu terabadikan dalam patok kayu terasa lebih lama dari biasanya.
Tak ada lagi yang kusapa ketika aku membuka telepon selular, merasakan senyummu mengembang diantara sela-sela ceritaku hari ini.
Why do you do this to me? Why do you do this so easily?
You make it hard to smile because You make it hard to breathe.. Why do you do this to me?
10032013
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.27 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
Sudah Biasa
Aku sudah biasa.
Aku sudah biasa menahan diri untuk beringsut pelan-pelan tanpa sepengetahuan orang lain.
Aku sudah biasa menahan diri untuk tidak menunjukkan ekspresi apa-pun ketika namamu disebut orang lain.
Aku sudah biasa.
Aku sudah biasa menahan diri untuk tidak tenggelam dalam matamu ketika kamu lekat-lekat menatapku.
Aku sudah biasa menahan diri untuk tetap bergeming bahkan ketika kamu menanyakan seberapa pekat perasaanku.
Aku sudah biasa.
Aku sudah biasa menahan diri untuk tidak membiarkan seseorang dengan mudah menyentuh hatiku.
Aku sudah biasa menahan diri untuk bisa berdiri sedekat mungkin denganmu tapi mengambil jarak terjauh dengan hatimu.
Aku sudah biasa.
Maka kamu tak perlu khawatir akan perasaanku.
Aku sudah biasa menawarkan getir sendirian dalam gilas waktu.
Dan sekarang itu semua berguna.
Aku bisa tetap tegak menatapmu mengejarnya, dan Aku tak lagi merasakan apa-apa.
Aku bisa tertawa, sedang kau masih terus bertanya-tanya kenapa aku bisa berlaku seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Tidakkah kau menyesalinya?
11032013
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.26 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
Orang-orang itu (terlalu) Baik
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.25 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Coretan Kosong, Prosa, Tulisan Bebas
Jalan Terus
Jalan terus, dan jangan pernah menoleh kepadaku.
Karena ketika kau memutuskan untuk melangkah satu atau dua langkah di depanku, maka saat itu pula kamu memutuskan meninggalkan aku.
Jalan terus, dan jangan pernah berbalik menghampiriku.
Karena ketika kau melakukannya--berbalik untuk kembali menggandengku--aku tak bisa berjanji akan mau.
Jalan terus, karena denganku takkan pernah ada kesempatan kedua.
Jalan terus, atau jangan beranjak kemanapun juga.
Berjalanlah terus, karena sejatinya aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kau tetap berdiam diri disampingku.
Memeluk untuk melukaimu, atau melukaimu untuk--suatu saat nanti--memelukmu.
Berjalanlah terus, karena sejatinya meski aku tak bisa secara langsung menerimanya, itu jauh lebih baik pula adanya.
Jalan terus, dan jangan biarkan hasratmu untuk meninggalkanku tergerus.
Karena memang aku akan berusaha menahan demi hatiku, tapi kita memang tak bisa terus-menerus mengedepankan masalah hati.
Jalan terus, dan jangan bergeming hanya karena aku tetap disini.
Karena memang aku akan terus berusaha disini menunggumu, tapi kamu memang tak bisa terus-menerus menemaniku.
Maka..
Jalan terus, dan jangan pernah menoleh kepadaku.
Karena ketika kau memilih untuk berhenti, maka aku takkan mengizinkanmu melanjutkan lagi.
Jalan terus, dan jangan pernah berbalik menghampiriku.
Karena ketika kau memilih untuk tanpaku, maka aku takkan mengizinkanmu membawaku kembali.
Jalan terus, karena denganku takkan pernah ada kesempatan kedua.
Jalan terus, atau jangan beranjak kemanapun juga.
Aku butuh kamu untuk tertawa.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.23 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Coretan Kosong, Prosa, Tulisan Bebas
Menelan Rasa
Aku merasakan angin berhembus menerpa seluruh tubuhku, dan detik itu juga kurasakan setiap sel-ku meluruh bersamanya.
Bagai ribuan daun kering yang terbang tertiup Sang Sepoi, mengantarkan bayangmu kembali menjadi raja.
Sama seperti ketika kau menatapku seolah aku permaisyuri yang tercipta untuk menemanimu.
Lalu kau dengan mudah dapat gagah duduk bertakhta dalam singasana : Memegang tampu kekuasaan atas seluruh kerajaan kataku.
Betapa dahsyatnya, bukan? Padahal yang kau lakukan sederhana. Hanya tersenyum dan memandang.
Namun ketika tatapanmu membidik setiap angle yang membentang dihadapmu, aku seolah menemukan kacamata baru. Segalanya sewarna syahdu.
Membelai dan mengembangkan hatiku, sehingga seluruh alveolusnya menyesap setiap unsur oksigen dan melempar jauh udara sisanya.
Aku seolah dialiri matriks kehidupan yang baru. Aku seolah dihidupkan kembali dari kematianku.
Betapa dahsyatnya, bukan? Padahal yang kau lakukan sederhana. Hanya memandang dan berlaku apa adanya dirimu.
Namun ketika kau bergerak dalam sudut ruang mataku, aku seolah menemukan sinar energi baru pengganti matahari. Segalanya seolah berseri.
Menarik urat pipiku dan melengkungkan garis ceria yang meluncurkan namamu dengan fasih, dan dengan doa penuh kasih.
Aku seolah berada dalam panel surya yang mempu menyimpan gemerlap nirwana untuk bangkit dan bersinar selamanya.
Kau Luar biasa. Serupa dahsyat kau cipta kembali, namun dalam atmosfir nelangsa yang tak ku kira sebelumnya.
Kau memutuskan berhenti berevolusi mengelilingi bumiku.
Kau bilang kau lelah menjadi surya dalam terangku, atau menjelma bulan dalam gelapku.
Kau bilang kau lelah meniup angin dalam gerahku, atau meretas hangat dalam beku-ku.
Kau bilang aku labirin dengan banyak jalan buntu.
Kau bilang aku tebing dengan banyak batuan curam yang menjatuhkanmu.
Seketika badai menerpa habis setiap selku.
Kemudian dengan kejam angin menerbangkan setiap serpihanku menuju tempat yang aku sendiri tidak tahu.
Aku hanya tak bergeming, aku masih disini menunggumu memungut setiap bagianku yang berterbangan dan meletakkannya lagi dalam pelukmu. Namun ini sudah lebih dari empat-belas purnama, dimana kau berada? Tahukah kau baru saja Sang Pipit mengabarkan padaku bahwa kau telah berdua?
Sayangku, kini mereka mengatakan aku telah redup dan tak punya cahaya kehidupan. Kenapa kau meninggalkanku terpanggang kenangan?
03032013
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.22 0 comments
Labels: Coretan Kosong, Prosa, Tulisan Bebas
Jumat, 01 Maret 2013
Suatu Hari, Saat..
Suatu hari,
ketika aku menyadari bahwa aku sudah terlalu sibuk memastikan bahwa akan ada yang menopangmu ketika kau jatuh..
Suatu hari,
ketika aku menyadari bahwa aku sudah terlalu sibuk memastikan bahwa akan ada yang melengkungkan senyummu ketika kau terluka..
Saat itu pula aku tersadar,
bahwa ternyata ketika aku melihatmu ditopang olehnya atau dibuat tersenyum olehnya, akulah yang jatuh dan terluka.
Dan aku,
lupa untuk memastikan bahwa akan ada yang akan menopangku atau melengkungkan kembali senyumku.
![]() |
| Foto : DevianArt |
Posted by Kharissa Widya Kresna at 01.57 0 comments
Labels: Prosa, Tulisan Bebas
Rabu, 27 Februari 2013
Sepucuk Surat Untukmu (lagi)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 16.26 0 comments
Labels: Prosa, Tulisan Bebas
Aku (tidak) Mencoba Bicara Padamu
Aku tidak akan mencoba berbicara denganmu, karena itu akan membuatnya sangat rumit dan aku tak ingin menambah atau terlibat dalam kerumitan lagi.
Jadi cukuplah aku merasakan semuanya sendiri, menutup sekecil apapun celah dan memplesternya dari kebocoran yang mungkin terjadi.
Maaf aku tak mencoba bicara denganmu, karena itu akan membuat semuanya menjadi menjadi labirin dan mengurung pembicaraan kita untuk mencapai jalan keluar.
Jadi cukuplah bertindak seolah tak terjadi apa-apa, dan aku akan beringsut sedikit demi sedikit untuk keluar dari kotak tentang kita.
Maaf aku bertindak seolah aku pengecut. Tapi kukira aku jauh lebih berani dengan memilih merasakan semuanya sendiri, dan mengambil resiko bahwa semuanya akan jauh lebih berat dibanding aku membaginya dengan orang lain.
Aku tidak akan mencoba mengatakan padamu. Namun jika benar semua ini tentang kamu pasti kamu akan menemukan petunjuk yang tercecer dibanyak tempat tanpa ku sengaja.
Maaf jika aku membuatnya terlihat semakin sulit untukmu, padahal sebenarnya tidak. Tidak akan ada yang sulit, karena tiba-tiba ratusan syaraf di otakku mengatakan bahwa kamu akan baik-baik saja.
Kamu akan tetap baik-baik saja. Aku cukup bisa melihatnya.
Kamu akan tetap baik-baik saja karena kulihat sudah ada banyak orang yang akan menyanggamu ketika kamu terjatuh.
Kamu akan tetap baik-baik saja karena kulihat sudah ada banyak alasan untukmu tersenyum ketika lengkung bibirmu tertekuk kebawah.
Maaf aku tak mencoba bicara denganmu. Karena itu akan membuatmu mendapat kesulitan baru, dan aku tak ingin kau begitu.
Aku tidak akan mencoba berbicara denganmu, karena itu akan membuat angin terasa bertiup terlalu kencang dan aku akan roboh dengan mudahnya.
Jadi cukuplah aku merasakannya sendiri, menutup sekecil apapun celah dan memplesternya dari kebocoran yang mungkin terjadi, agar aku, atau kau tetap bisa tegak berdiri.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 16.25 0 comments
Labels: Prosa, Tulisan Bebas
Embun Pagiku
Selamat pagi,
Dia yang matanya sejernih embun ini
Kuharap masih sama teduhnya,
memantulkan bias semangat yang sedang tak bisa kuselami kedalamannya
Aku tak bisa merangkaikan kata-kata untuknya lebih dari ini,
Tapi kuharap, jika dia melihat embun setiap pagi itu cukup mengingatkannya padaku,
orang yang menyamakan matanya dengan itu.
Selamat pagi,
Dia yang matanya sebening embun ini
Kuharap masih sama murninya,
memantulkan doa-doa kepada Sang Pencipta, bahwa aku--atau dia--tetap tunduk pada apa yang digariskan oleh-Nya
sekalipun yang mampu terjalin hanya milyaran kata.
merangkai serutan-serutan kerinduanku padanya.
Aku tak bisa menghiburnya lebih dari ini,
Tapi kuharap, jika dia lihat embun setiap pagi itu cukup menguatkannya daripadaku,
orang yang mengirimkan setiap lembar buku doa untuknya.
Ibu.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 16.24 0 comments
Labels: Prosa, Tulisan Bebas
Gap Kita
Halo, kamu.
Iya, kamu.
Kamu yang tertumpuk ribuan lembar cerita lain hidupku.
Kamu yang tergilas jutaan detik perputaran jarumku.
Aku berharap, sekalipun diafragma ini sedang berubah fokusnya kamu tetap menjadi salah satu angle view favoritku.
Salah satu.
Karena kamu bukan satu-satunya lensa yang kupunya,
dan jalan ini bukan satu-satunya tempat indah untuk mengambil sebuah gambar untuk album foto kita.
Maka satu-satunya yang kuharapkan adalah ini bukan tentang sebuah polemik egoisme diri.
Bukan tentang aku yang berotasi sendiri dalam orbitku, atau kamu yang terpaksa berevolusi tanpa aku.
Bukan itu.
Kita masih bersama, hanya sedang tak terlihat berdua.
Bisakah kau memahaminya?
Dan bahkan setiap kata dalam jalinan kalimat ini-pun ada spasi yang memisahkan mereka.
Apalagi kita?
Jika boleh, aku meminta,
Mungkin sekarang--atau kapanpun--kita sedang berada dalam spasi, kuharap itu hanya memisahkan cara penulisan kita. Bukan makna siapa kita.
Bisa?
Posted by Kharissa Widya Kresna at 16.23 0 comments
Labels: Prosa, Tulisan Bebas
Kamis, 14 Februari 2013
Jengkal Jarak.. (Part III)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.40 0 comments
Labels: Cerpen, Tulisan Bebas
Selasa, 12 Februari 2013
Jengkal Jarak (Part II)
Yulian mengusap wajahnya yang basah untuk kesekian kalinya. Setiap wajahnya mulai kering dia segera mengguyurnya lagi di kran air. begitu seterusnya hingga hampir setengah jam.
'Yul, wudhu ratusan kali itu nggak bakal bikin kamu tenang kalau belum sholat.' Andre menepuk bahu Yulian.
Yulian kaget dan tergagap. Saking kagetnya air kran tanpa sengaja memasuki tenggorokannya.
Yulian mendongakkan kepala dengan kesal.
'Kamu nggak bisa permisi dulu apa sebelum ngomong? kamu pikir kesedak air kran itu hal yang keren gitu?' Yulian melemparkan raut muka penuh peperangan. Andre mengangkat bahu.
'Mungkin saja kan tahun ini bakal ada kontes menelan air kran terbanyak. Kamu bisa menang Yul..' Kata Andre sambil mendahului Yulian meninggalkan tempat wudhu.
Yulian mendelik.
Yulian menghempaskan dirinya ke dinding. Dia memandangi murid-muridnya yang bermain dengan riang di halaman sekolah. Beberapa tampak ceria bermain lompat tali dengan karet gelang yang disusun memanjang, beberapa tampak beradu mulut memperdebatkan siapa yang curang ketika bermain. Yulian tersenyum. Anak-anak memang selalu menunjukkan hal lucu yang menakjubkan. Kalau saja dia dan Yuna nantinya menikah, apakah anak-anak mereka akan selucu itu?
Yulian tertegun dan merubah cara duduknya. Dia merasakan seluruh tubuhnya menegang. Dia mengerjapkan matanya, berusaha menelaah pikirannya sendiri. Dia kaget dengan apa yang dipikirkannya barusan. Sejak kapan dia mulai melantur?
Yulian bergegas mengambil ponselnya dari saku. Dia hampir lupa kalau tadi mengirimkan pesan kepada Yuna. Apakah Yuna membalasnya? Apakah pesan yang dikirimnya bukannya memperbaiki hubungannya dengan Yuna tetapi malah semakin memperburuknya? Apakah Yuna justru marah besar dan menganggap dia hanya menggodanya?
Yulian terdiam sebentar, meredam kebisingan anggapannya sendiri yang terus berkecamuk di otaknya. Dilayar ponselnya tertera nama Yuna lengkap dengan balasan pesannya.
Aah..
Yulian mendesah.
Mencintai adalah sesuatu yang sulit ketika sudah begini keadaannya. Hal-hal kecil yang tampak tak berarti justru menjadi sesuatu yang besar dan sulit dipahami.
Apa artinya jika dalam setahun dia belum bisa melupakan Yuna?
Apa artinya jika dalam setahun dia masih berharap Yuna memiliki perasaan yang sama?
Seandainya malam itu Yuna tidak memutuskan hubungan mereka tepat sehari sebelum dia dan orangtua-nya mendatangi rumah Yuna, akankah semuanya terasa jauh membahagiakan?
Yuna menyerah. dia menggeletakkan ponselnya begitu saja dan tidak menyentuhnya sama sekali. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya dan membuat Putri menatapnya dengan tatapan curiga. Yuna bukannya tidak menyadari, hanya saja dia belum sempat menghadapi pertanyaan Putri yang pasti akan memberondongnya tanpa ampun.
Putri pasti akan terus menanyakan mengapa, dan aku belum tahu harus menjawab apa. Pikir Yuna. Dia mendengar Putri berbicara tapi tidak bisa berkonsentrasi pada apa yang dibicarakannya, hingga Putri menariknya keluar dari dunia lamunan dengan mencubit tangannya keras-keras.
'Aduh!' Pekik Yuna. Putri menatapnya dengan mata melebar. Sejenak Yuna takut mata sahabatnya itu akan mencuat keluar.
'Kamu itu kenapa sih Yun?' Ujar Putri kesal. Yuna mengusap-usap tangannya yang pedih bekas dicubit Putri tadi.
'Nggak papa. Kamu nggak bisa ya lembut dikit?' Kata Yuna kesal. Putri mendengus.
'Itu nggak seberapa Yun. Bisa lebih sakit, kalau kamu nggak mau cerita apa yang menjadi masalahmu.' Putri menegaskan.
Putri tahu, Yuna adalah tipe orang yang akan langsung bercerita jika ceritanya itu membahagiakan, tapi cenderung menyimpan rapat-rapat kalau itu membuatnya sedih.
Yuna menghela nafas. Tatapannya meredup. Putri secara defensif menepuk bahu Yuna, sekedar memberinya aliran kekuatan. Tidak masuk akal memang. Tapi apa salahnya dilakukan? Yuna kan sedang membutuhkan dukungan.
'Aku tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak menyangka, kalau sebuah sms dari Yulian bisa benar-benar membuat cuaca hidupku berubah. Sebegitu berartikan dia untukku?' Pertanyaan Yuna terdengar mengambang. Putri yakin pertanyaan itu lebih ditujukan Yuna kepada dirinya sendiri ketimbang kepada Putri.
'Yulian menghubungimu?' Tanya Putri. Yuna mengangguk samar.
'Aku takut dia kembali.. Maksudku kenangan tentang dia kembali.' Yuna merasakan nada tidak yakin dalam suaranya. Dia takut Yulian kembali atau justru mengharapkan Yulian kembali?
Yuna memeluk lengannya sendiri. Bukan kali pertama harapan itu menyembur dengan dahsyatnya ketika sebuah pesan pendek Yulian bertengger di kotak masuknya. Lalu tanpa ampun harapan itu gugur begitu saja ketika Yulian tak lagi mengirimkan pesan balasan ketika dia membalasnya.
Apa memang hati perempuan selalu serapuh ini? Atau Yulian yang terlalu kuat mendiami relung hatinya?
'Kamu yang memintanya meninggalkanmu.' Suara Putri terngiang kembali di kepalanya. Yuna menahan isak tangisnya. Kenapa begitu membekas?
Putri secara refleks memeluk sahabatnya, dan Yuna membiarkan kepalanya bersandar di pundak Putri. Dia merasakan bulir air matanya menetes membasahi leher sahabatnya, tapi dia tak peduli.
Saat ini, keberadaan Putri sudah lebih dari cukup menghibur hatinya.
Yulian berulang kali menggumamkan kalimat meminta maaf. Dia sendiri tidak yakin kalimat itu ditujukan kepada siapa. Entah kepada Penciptanya, entah kepada Yuna. Satu-satunya yang dia rasakan saat ini adalah perasaan bersalah.
Mungkinkah dia sudah mengusik hidup wanita yang dicintainya?
(Bersambung...)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.38 0 comments
Labels: Cerpen, Tulisan Bebas
Jengkal Jarak (Part I)
'Aku tidak merindukannya.' Yuna mengerang
'Oh, Yuna. Akui sajalah.' Bantah Putri
'Tidak sama sekali. Kalau kau pikir aku cuma duduk di tempat tidur seharian sambil memandangi layar ponsel itu berarti aku merindukannya, kau salah besar.' Yuna bersikeras
'Kenyataannya memang seperti itu.' Putri merasa menang adu argumen dengan Yuna kali ini.
'Put, aku bisa gila kalau kita terus membicarakan ini.'
'Kamu yang memintanya meninggalkanmu, Yun..' Yuna mendadak menegakkan kepalanya.
'Kau bicara sekali lagi atau kuamputasi gajimu bulan ini!' Yuna berteriak. Putri mengangkat bahu. Sahabatnya ini memang keras kepala.
'Oke. Lupakan.' Katanya kemudian. Menyerah.
Yuna terdiam dan mengalihkan perhatiannya dengan membolak-balik halaman majalah remaja yang baru dibelinya di lampu merah pagi tadi.
Tapi seiring matanya menelusuri tiap baris majalah itu, pikirannya justru semakin terbang ke tempat lain.
Yuna ingat bagaimana dulu dia bergeming dengan perubahan sikapnya yang membuat Yulian protes keras.
Yuna ingat bagaimana dulu dia membiarkan Yulian lelah mempertanyakan kesibukannya, hingga akhirnya Yulian mengucapkan selamat tinggal padanya, satu tahun yang lalu.
Yuna berfikir dengan melepaskan Yulian berarti dirinya akan terbebas dari perasaan yang membelenggunya.
Jarak memang selalu membuat semuanya jauh lebih sulit.
Bagaimana hidup berjauhan menjadi alasan untuk saling mencurigai tanpa alasan, dan bagaimana hidup berjauhan mengubah waktu menjadi semakin sempit dari yang sebenarnya.
Dan rindu semakin terasa bagaikan pasir yang harus kau minum setiap hari.
Yuna menghela nafas. Ternyata anggapannya salah besar. Memutuskan hubungan dengan Yulian tak sepenuhnya membuat hatinya menjadi utuh untuk dirinya sendiri seperti sebelumnya, tetapi justru memecahnya menjadi bagian yang semakin kecil. Tak tersisa sedikitpun untuk dirinya sendiri.
'Astaghfirullah..' Yuna menghela nafas
'Yun, kau tak apa?' Putri mengguncang bahunya.
'Kurasa.. Jarak memang mengubah segalanya, kecuali 1 hal. Kenangan.' Yuna menggelengkan kepalanya, lalu menunduk. Membiarkan tirai tipis yang menyelimuti matanya meluncur menetesi rok yang dipakainya.
Yulian baru saja menulis sebuah teks di pesan singkatnya, namun butuh waktu beberapa menit untuk memutuskan menghapusnya kembali.
Yulian diam. Sebenarnya apa yang membuatnya ragu mengirim sebuah pesan?
Satu tahun yang lalu mengirimkan pesan singkat seperti ini terasa sangat mudah baginya. Bahkan dalam sehari dia bisa mengirim ratusan pesan singkat kepada orang yang sama : Yuna.
Dia memasukkan ponselnya sambil berfikir, apa yang membuatnya takut mengirim pesan? Apa dia takut Yuna mengetahui bahwa dia merindukannya, atau dia justru takut mengakui kenyataan bahwa dia merindukan Yuna?
Sebagai seorang cowok yang diputuskan hubungannya oleh seorang cewek, bukan hal yang mudah bagi Yulian untuk datang dan mengatakan 'Aku merindukanmu' kepada cewek yang telah memutuskannya.
Entahlah, ego memang selalu mengambil logikanya sendiri.
Satu tahun sudah berlalu. Dia memikirkan seperti apa Yuna sekarang. Dia mendengar kabar bahwa Yuna sekarang sudah bekerja di perusahaan penerbitan, persis seperti yang dicita-citakannya dulu. Dia juga mendengar kabar kalau diwajah Yuna sudah bertengger sebuah kacamata.
Mungkinkah Yuna semakin cantik dengan kacamata itu?
Jarak rumah Yulian dengan Yuna tidak kurang dari 20 km. Hanya saja sekarang Yuna bertempat tinggal di kota yang berjarak 75 km dari tempatnya tinggal. Yuna memang beruntung. Mendapatkan pekerjaan dan tinggal di kota besar, sedangkan dia masih di kota kelahirannya, berteman dengan anak-anak setiap harinya.
Yulian kembali mengingat, bagaimana perasaannya ketika melewati rumah Yuna dalam perjalanan menuju rumah ibunya. Perasaan bergetar dan seolah ada angin yang menerpa tubuhnya, melemaskan seluruh tulangnya.
Perasaan itu masih sama, dan tidak berkurang bahkan ketika Yulian tak lagi melihat wajah Yuna selama satu tahun belakangan.
Yulian menggigit bibirnya, kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia kembali tersenyum dan memejamkan mata, ketika pemberitahuan di ponselnya mengabarkan bahwa pesan yang dikirimnya telah sampai di ponsel Yuna.
Trrrrrr...
Yuna dikagetkan dengan getar ponselnya. Sudah berapa lama dia melamun?
Dibukanya ponselnya dan dibacanya pesan singkat dengan nama yang sangat dikenalnya tertera disana.
Hai, lama tak pernah memberi kabar. Kamu sudah lupa ya padaku?
Perlu sedikitnya limabelas detik bagi Yuna untuk mempercayai siapa pengirimnya.
Dia meletakkan ponselnya sebentar. menatap sekeliling, dan merenggangkan jemarinya.
Kau yang menghilang tanpa kabar
Ketiknya. tapi kemudian dia memencet tombol delete hingga layar ponselnya kembali bersih.
Alhamdulillah, aku baik. Kamu bagaimana Yul?
Yuna kemudian memencet tombol send.
Pesan balasannya tidak datang dalam waktu sepuluh menit setelah Yuna mengirimkan pesannya.
Yuna mulai gelisah. Sesekali dia menengok ponselnya ketika mengetik, berharap pesan balasan sudah bertengger disana. Tapi hingga genap keduapuluh kalinya Yuna menengok ponselnya yang tergeletak tanpa suara, balasan itu tak kunjung tiba.
Yuna menggigit bibirnya. Mungkinkah Yulian mengirim pesan singkat hanya untuk menggodanya?
Mungkinkah Yulian tak merindukannya seperti yang dia bayangkan?
Yuna masih berharap dengan cemas, bahkan ketika satu jam sudah berlalu.
Pesan dari Yulian tak kunjung menggetarkan ponselnya.
Yuna melirik jam dinding di kantornya.
Sudah waktunya istirahat makan siang. Masa sih Yulian tak sempat membalas pesannya?
Yuna menghempaskan tubuhnya pada senderan kursi kerjanya.
Dia menyesali dirinya yang begitu mudah terombang-ambing hanya dengan pesan singkat yang dikirimkan Yulian. Dia menyesali dirinya yang masih begitu mudah disusupi harapan kepada Yulian.
Ya Rabb, maafkan hamba. bisiknya. Kemudian Yuna berdiri dan beranjak menuju ke mushola di kantornya.
(Bersambung...)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.36 0 comments
Labels: Cerpen, Tulisan Bebas
Rabu, 06 Februari 2013
Potongan
Potongan-potongan puzzle ini berserakan, lihatlah..
bolehkah aku menyusunnya menjadi kesatuan kita yang utuh?
maukah kau menjadi salah satu pasangannya dan menggenapi potonganku?
Mungkin saja ada gambar peta hidup bersama diatasnya, jika kita berhasil menyusunnya.
Maukah kau duduk sebentar dan membantuku mengurutkannya?
Potongan-potongan puzzle ini berserakan, tataplah..
bolehkah aku mengumpulkan kepingannya agar tidak tercecer begitu saja?
atau maukah kau menghubungkan polanya yang membuatnya lengkap seperti seharusnya?
Mungkin saja ada gambar masa depan bersama diatasnya, jika kita berhasil menurutkannnya.
Maukah kau duduk sebentar dan membantuku menatanya?
Kita mungkin serupa tiap keping puzzle itu, pikirkanlah.
Kita terpecah dan terpisah.. dan menyusunnya dengan segala cara yang dapat terkerah.
Kita terpecah dan terpisah.. dan saling menemukan dengan susah payah.
Tapi bukankah kita memang diciptakan sebagai potongan yang berpasangan?
Lalu mengapa terasa sulit sekali bagi kita untuk saling melengkapi?
Mungkinkah Tuhan salah meletakkan kita berdua dalam satu kotak susunan?
Ataukah Tuhan memang mempertemukan kita sebagai potongan yang salah dalam pola gambar ini?
Tetapi mana mungkin Tuhan melakukan kesalahan?
Mana mungkin Tuhan teledor meletakkan potongan kita?
Atau mungkinkah jika aku...
Bukan potonganmu?
Posted by Kharissa Widya Kresna at 19.13 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Coretan Kosong, Tulisan Bebas
Selasa, 05 Februari 2013
The Shadow Spot
Malam ini rembulan ramah sekali.
Tirai cahayanya menerpa sosok kita yang duduk berdekatan, hingga tercipta siluet gelap tubuh kita.
Bayangan. Bayangan kita.
Aku memandangnya takjub.
Bagaimana bisa kita mengingkari ini? bahwa bayangan kita-pun telah diciptakan secara berpasangan,
dan mengikuti seluruh gerak, degup rasa, dan gejolak yang kita rasakan
Ah, memikirkannya saja sudah membuatku mabuk kepayang.
Seolah memang petang memantulkan senyum kita yang sedang mengembang..
Tiba-tiba kudengar melodi panggilan masuk ke ponselmu,
menampilkan sebuah nama yang selalu menjadi sumber ketakutanku.
Matamu memancarkan arus yang tak biasa, tak pernah sama dengan caramu memandangku.
Kemudian aku tau,
Bayangan yang sekarang sedang duduk bersama bayanganmu itu bukan aku.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 05.56 0 comments
Labels: Coretan Kosong, Tulisan Bebas
Mencoba Lari, dan Kembali.
Aku baru sampai.
Dan kudapati tempat ini begitu sepi.
Padahal jika kami berkumpul, canda tawa tak pernah tak terdengar.
Semuanya pergi. Sibuk dengan dinamika kehidupan mereka sendiri-sendiri.
Sama sepertimu.
Kau mulai lengang meramaikan dering ponselku.
Kau mulai beringsut sedikit demi sedikit,
menjauh sepetak demi sepetak,
Tanpa aku mengerti kenapa.
Aku baru sampai.
Dan keheningan tempat ini menggiring setiap adegan dari setiap episode yang telah sukses kita perankan.
Satu-persatu muncul kembali,
memproyeksikan ribuan tawa yang kita lalui bersama.
Lalu semuanya menggelap.
Pita kasetnya berhenti mempresentatifkan episode selanjutnya.
Seolah film kita memang selesai begitu saja.
Aku baru sampai.
Dan setiap tempat di sekitarku menceritakan semua hal yang kita lakukan disana.
Aku baru sampai.
Dan setiap jalan yang kulalui menuju kesini membisikkan segala cara yang kita lakukan untuk membunuh waktu perjalanan ketika bersama.
Kursi tempat peraduan,
Angin dan pemandangan,
Lagu yang kita dengarkan,
Aku baru sampai.
Dan seiring aku meletakkan barang bawaanku di tempat ini, aku sadar.
Perasaan seperti ini takkan bisa kuingkari, sejauh apapun aku pergi.
Karena dia meninggali setiap celah hati, dan bukan tertinggal di suatu tempat yang tak bisa kusentuh lagi.
Dia tinggal disana, dan akan terus ada kemanapun kita berada.
Apa yang bisa kulakukan untuk melipat jarak ini?
Posted by Kharissa Widya Kresna at 05.54 0 comments
Labels: Coretan Kosong, Tulisan Bebas
Kamis, 24 Januari 2013
Pemikiran tentang Hujan
Hujan.
Siapa yang hatinya merasa 'ngenes' ketika hujan turun?
berawal dari rasa penasaran kenapa hujan bisa begitu menghanyutkan perasaan seseorang,
saya mulai browsing dan mencari alasan kenapa keduanya berhubungan sangat erat.
Tau apa yang saya dapat?
Hujan, menyimpan fakta yang paling misterius dan mengejutkan ilmuwan.
Hujan dikatakan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan masa lalu.
Hujan juga membuat perasaan kita seperti dihipnotis menjadi tenang..dan saking tenangnya akhirnya otak menjadi tenang dan badan mulai terasa ngantuk.
Namun tanpa bisa mendapatkan bukti ilmiah, para ilmuan juga menyimpulkan bahwa di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang dilanda rindu. Dan pada titik ini, Kebanyakan manusia biasanya mendapatkan inspirasi saat hari hujan.
Rata-rata disaat hujan datang semua aktifitas jadi terhenti lalu hening, ketika hening itu memicu sesorang untuk melamun sambil memikirkan sesuatu, misalnya orang yang dicintai.
Ketika bersamanya mungkin terselip sebuah kenangan yang manis ataupun pahit disaat hujan ataupun tidak, tapi rata-rata justru kenangan sedih yang muncul, dan galau pun melanda.
Perasaan ini kerap sekali dihubungkan dengan satu-satunya alasan, bahwa faktor cuaca dan suasananya yang dingin dan mellow itulah yang membuat seseorang merasa sedih ketika hujan turun.
Kalau saya, saya mengaitkan hujan dengan ketiga filsafat tentang air, yang mungkin mendukung kenapa hujan--yang notabene adalah air--begitu menghipnotis seseorang.
Kedua, air selalu mengisi ruang-ruang yang kosong. Cobalah Anda buat sebuah kotak kedap air yang bersekat tapi memiliki celah. Kemudian isi kotak tersebut dengan air. Air pasti akan berusaha memenuhi kotak tersebut dengan wujudnya. Perlahan tapi pasti, melalui celah antar sekat, air akan mengisi kotak tersebut hingga penuh. Manusia yang baik adalah manusia yang berusaha mengisi kekosongan hati dari manusia lainnya. Tetapi ketika seseorang yang pernah mengisi hidup kita pergi, maka yang tersisa adalah ruang kosong dalam hati kita. Tempat dimana dia pernah berada. Ketika hujan turun, Hujan membawa kenangan tentang dia merembes kembali ke celah-celah kekosongan hati kita. Perlahan tapi pasti, kenangan itu menggenangi ruang kosong hati kita dengan tumpukan rindu. Rindu membawa kita kembali mengharapkan dia dan segala hal tentang dia kembali mengisi kekosongan yang kita miliki. Padahal kita tahu, harapan seperti itu tak bisa lagi menjadi kenyataan. Hati kita tak akan pernah sama lagi.
Ketiga, air selalu mengalir ke muara. Tak peduli seberapa jauh jaraknya dari muara, air pasti akan tiba di sana. Bayangkan, ada berapa banyak hambatan yang dilalui oleh air gunung untuk mencapai muara? Mungkin ia akan singgah di sungai, tertahan karena batu, kemudian bisa saja masuk ke selokan. Tapi toh akhirnya ia tetap mengalir dan tiba di muaranya. Waktu tempuh air untuk sampai ke muara sangat bervariasi. Ada yang hanya beberapa hari, tapi ada juga yang beberapa minggu. Hujan mempresentasikan kembali persinggahan kita, yang mungkin sudah kita ingkari dan hindari sekuat tenaga. Hujan membuat kenangan-kenangan tentang dia yang pergi terproyeksi kembali, dan sekejap kemudian usaha kita untuk bangkit dan melupakan kenangan-kenangan itu seolah tak berarti. Sekeras apa-pun kita mencoba, pada akhirnya kita dikalahkan oleh kenangan itu. Sejauh apa-pun kita pergi, ternyata kita tak bergerak 1 senti-pun dari kenangan-kenangan itu. Selama apa-pun kita berusaha tak mengungkitnya lagi, pada akhirnya kita akan tetap ingat tentang dia yang pernah ada disisi. Dan kenangan tentang dia yang pergi kembali menghantui, menyadarkan kita bahwa kita memang tak pernah bisa benar-benar pergi.
Hujan meresonansikan ingatan masa lalu, dan menyanyikan lagu bagi mereka yang hatinya sedang merindu..
Posted by Kharissa Widya Kresna at 17.27 0 comments
Labels: Artikel, Tulisan Bebas
Minggu, 20 Januari 2013
Biarkan Kerikil..
Biarkan kerikil itu
tetap didadaku
Biarkan kerikil itu
mengusam dan berdebu
Seiring berjalannya waktu
Biarkan dengan kerikil itu
aku hapus
Sebuah nama yang tlah lekat,
pekat,
dihatiku...
Namamu.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 16.47 0 comments
Labels: Puisi - Curahan hati
Andai Semua Orang (Mau) Berpamitan
Malam ini, semuanya tengah terlelap dalam mimpinya masing-masing, dan aku masih terjaga.
beberapa teman membuka tab percakapan, tapi hingga pada detik ini semuanya berpamitan memenuhi hak tubuhnya.
Walaupun pada akhirnya semuanya menjadi hening dan membawa dingin merasuk lebih dalam ke setiap ceruk lamunanku,
aku bersyukur kalau mereka sempat mengatakan padaku kalau tak bisa menemaniku.
Sehingga aku lebih siap untuk tenggelam dalam kesunyian seperti ini, sendiri.
Ah, andai saja semua orang mau berpamitan,
mungkin rasa sepi yang datang tiba-tiba bisa sedikit tertawarkan.
Hanya saja rasa kecewa sejenak menyergap, ketika seseorang yang kusapa mematikan obrolan secara tiba-tiba.
bahkan tanpa jawaban sebelumnya.
Seolah kata 'hai' yang kutulis hanya menghabiskan setiap detik berharga yang mereka punya.
Secercah harap bahwa bisa meretas rindu lama tak berjumpa seketika dipupus begitu saja.
membuat endapan yang mengganjal untuk dilupakan keberadaannya.
Ah, andai saja semua orang mau berpamitan,
mungkin kesepian yang menjajari detak malam ini sedikit tertiriskan.
Andai, setiap orang mau berpamitan,
mungkin tak terhitung berapa kesakitan orang lain yang dapat terhindarkan.
Namun mungkin semua orang tak menyadari,
seberapa penting mengucapkan salam sebelum mereka pergi.
Begitu mudahnya mereka memulai percakapan kemudian mengakhirinya.
padahal mungkin deretan balasan telah dinanti oleh lawan bicara.
padahal mungkin deretan balasan adalah sesuatu yang berharga untuk lawan bicara.
mungkin kemunculannya secara tiba-tiba adalah suatu hal yang menyenangkan,
seolah rindu yang tertahan dapat segera terlampiaskan.
Tetapi tidak lagi jika kau pergi tanpa memberi salam perpisahan.
Seperti malam ini.
Lambaian perpisahanku tak sempat lagi menjadi sesuatu yang berarti,
karena kau tak sedetikpun mencoba peduli.
Apa kau menyadarinya?
Tidak. Aku tau persis apa yang kau rasa.
Tak kan mungkin kau merasakan hampa,
jika memang belum mengalaminya.
Hampa yang sama seperti yang kurasa.
Ah, andai saja semua orang mau berpamitan,
mungkin segala hiruk-pikuk yang sekejap berganti tanpa suara bukan menjadi sesuatu yang menyiksa.
Ah, andai semua orang mau berpamitan,
mungkin rasa sakit akan kedatangan dan kepergian yang mendadak bukanlah hal yang melukai jiwa.
Andai saja..
Andai saja semua orang mau berpamitan,
kesedihan akan perpisahan mungkin sedikit teratasi, walau tak mungkin dihindari..
Posted by Kharissa Widya Kresna at 16.42 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas















