Yuna memandang lurus layar monitornya, menjelajahi setiap inci angka-angka yang tertera disana. Sedikit kekhawatiran tampak meronai wajahnya ketika mengamati grafik profit pekerjaannya yang menurun tajam.
Yuna mengecek ulang semuanya. Pas. Tak ada yang terlewat atau lupa belum termasukkan. Semuanya jelas dan rapi. Jelas sekali tidak ada kesalahan penghitungan. Berati memang pekerjaannya menurun akhir-akhir ini.
Yuna mendengus. Menyandarkan kepalanya pada layar monitor komputer di hadapannya. Pikirannya kalut. Dia berusaha mencari sendiri penjelasan yang bisa menghibur hatinya dari semua ini. Tapi tak bisa.
'Belum selesai, Yun?' tanya Putri, rekan kerjanya. Yuna terkejut, mendongak sebentar, kemudian tersenyum.
'Sudah. Ardian benar. Pekerjaanku kacau, Put.' Lanjutnya
'Kamu sudah chek semuanya?'
'Sudah. Dan semuanya sudah tercover dengan baik.'
'Kau kecewa sepertinya.'
'Tidak. Mungkin iya. Entahlah. Tak ada artinya buatku. Aku sudah berusaha semampuku. Dan kerjaku berantakan. Apa artinya sekarang ini?.' Kata Yuna. Sorot matanya sedikit meredup Putri meletakkan tangannya di pundak Yuna.
'Kau masih terganggu?' lanjutnya.
'Aku bingung bagaimana menjelaskannya pada Ardian. Dia berkorban banyak untuk ini. Atau Ibuku yang berharap banyak aku bisa melakukan sesuatu dengan benar.' Yuna menghela nafas. 'Apakah ini suatu kesalahan, Put?'
'Kalau kau tanya aku, jelas iya. Tapi kau sudah berusaha, dan tahu letak kesalahannya dimana. Lupakan. Kau sudah terlalu banyak menerima dampaknya. Mulailah kembali. ' Putri menggenggam tangan sahabatnya itu. Yuna hanya tersenyum.
Sampai ketika Putri pamit tidur, Yuna masih berdiam diri disana. Dia berharap ada seseorang yang benar-benar bisa mendengarkan segala keluh kesahnya sejujur-jujurnya dan membantunya keluar dari kemelut seperti ini.
Ah, Yulian, dimana kamu? Yuna menggigit bibir sambil memejamkan matanya.
Beberapa hari yang lalu kekhawatiran sudah mulai menyusupi hati Yuna. Hanya saja dia masih bisa berharap semua yang menjadi kekhawatirannya hanyalah sekedar kekhawatiran. Dia masih sempat menyusun langkah-langkah selanjutnya : menyiapkan diri berbicara pada Ardian tentang pekerjaannya, memasukkan formulir pengajuan iklan untuk memenangkan tender di perusahaan lain yang mungkin bisa membantunya menegakkan kembali usahanya, menyiapkan seperangkat program kerja untuk komunitasnya, dan.. memaafkan dirinya sendiri.
Tapi kemudian semuanya bagaikan kecelakaan beruntun. Ardian tahu lebih dulu sebelum Yuna angkat bicara, Ibunya yang tahu kabar ini dari Ardian melarangnya menjalankan komunitas yang sedang memasuki masa perkembangan emasnya. Formulir pengajuan iklannya ditolak. Usahanya terancam collaps karena tak ada suntikan dana. Dan yang lebih parah, Ibunya menyalahkan dirinya karena masih mengingat Yulian. Tabrakan Combo yang benar-benar membuatnya tersudut.
Yuna mendongakkan kepalanya. Cairan bening turun menyusuri lereng pipinya. Yuna ingin menyerah. Tapi apa bisa setelah semuanya kacau seperti ini? Yuna menyeka airmatanya, mencuci muka, lalu tidur. berharap semuanya lebih baik ketika dia bangun dan membuka mata.
Tapi apa iya semudah itu?
bip, bip!
suara ponselnya menggantikan denting alarm yang membangunkan Yuna pagi ini.
Yuna menggelit, menanggalkan seluruh rasa malasnya untuk beringsut dari tempat tidurnya. Diraihnya ponsel, dan tertera nama Ardian disana. Yuna sempat tak ingin mengangkat teleponnya, tetapi akhirnya dia menekan tombol jawab.
'Hallo, Assalamualaikum..' Ujarnya
'Waalaikumsalam, Yun. Kamu sudah dikantor?' Suara Ardian terdengar dari seberang
'Apa? Aku? Sudah. Eh, maksudku belum. Entahlah. Sepertinya aku sedang tidak bisa berangkat ke kantor sekarang.' Yuna terbata
'Apa? Kenapa? Kamu sakit?'
'Tidak. Maksudku sedikit pusing. Atau radang sinusku sedang kambuh.' Yuna mengigit bibir. Ini kebohongan yang anak TK pasti juga langsung mengetahuinya.
'Kupanggilkan dokter?' Suara Ardian terdengar tak yakin. Atau curiga. Entahlah, Yuna tak bisa membedakannya.
'Apa? Tidak. Aku bisa sendiri.'
'Oke. Nanti sepulang dari kantor aku kerumahmu.' Detik kemudian Yuna mendengar suara telepon ditutup. Dia memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya ke tembok, lalu merosot terduduk.
Apa yang dipikirkannya? Padahal Ardian begitu baik. Mau berpura-pura percaya kalau dirinya memang sedang sakit.
Setelah menutup telepon dari Yuna, Ardian hanya duduk termangu di teras rumahnya. Ada apa dengan tunangannya itu? Kenapa Yuna seolah ingin menghindari dirinya?
Ardian tak ingin memenuhi kepalanya dengan puluhan spekulasi yang membebani hatinya. Maka dia memilih untuk segera menuju ke kantornya.
Yulian memarkirkan motornya di halaman sekolah. Tak lama kemudian kerumunan siswa-siswanya berebutan mencium tangannya dengan riang. Yulian tersenyum. Kebahagiaan semacam ini selalu memenuhi dadanya setiap pagi. Keceriaan polos anak-anak itu seolang mentransfer energi yang mampu melengkungkan senyumnya.
Kebahagiaan itu terdorong juga karena Yuna pernah menuntut ilmu yang sesuai dengan profesinya. Walaupun kini Yuna sudah bekerja di kantor penerbitan dan bukannya menjadi guru SD seperti yang mereka rencanakan dulu, setidaknya dia masih merasa Yuna mencintainya dengan mau menempuh pendidikan tinggi sesuai keinginannya.
Yulian mendongakkan kepalanya. Dibiarkan mata coklat jernihnya menjelajahi keindahan awan dan langit yang biru. Rambutnya yang cepak bergerak tertiup angin.
Dulu, Yuna selalu suka jika awan cerah dan angin sepoi-sepoi seperti ini. Yuna akan tertawa ceria dan memekik kecil serta menutupi kepalanya erat-erat ketika jilbabnya tertiup angin.
Yuna, sedang apa kamu?
Yulian segera menyudahi lamunannya dan beranjak memasuki kantor. Kantor masih lengang. belum banyak guru yang datang. Jam pelajaran di sekolah tempat Yulian mengajar memang baru dimulai ketika jarum jam menunjukkan angka delapan. Dan sekarang masih pukul tujuh.
Ditengah keheningan kantor, Angan-angan Yulian kembali melayang. Dia teringat pada hari Yuna memintanya meninggalkan dirinya.
'Yul.. pergilah. Kita tak akan bisa terus begini.' Yuna menatap sendu matanya. Ada setitik ekspresi yang tidak bisa Yulian mengerti.
'Tapi kenapa Yun?'
'Karena bersama kembali bukan ide yang bagus. Aku memikirkannya. Melawan ibu jelas sekali bukan ide yang baik. Dan bukankah dulu kita memang sudah berpisah?'
'Tapi aku mencintaimu, Yun.. Aku ingin hidup denganmu.' Yulian bersikeras
'Aku juga mencintaimu, Yul.. dengan segenap hatiku. Bahkan hingga detik ini. Tapi sepertinya Allah memang tak pernah mempertemukan kita sebagai pasangan. Tegakah kau melihatku mengingkari keinginan ibuku? pergilah Yul.. tak apa.' aku tak mungkin membuatmu menunggu lebih lama lagi. Rasa bersalah itu akan terus menghantuiku. Sudahlah Yul.. kejarlah kebahagiaanmu. Lupakan aku..' Yuna berkata dengan berderai airmata
'Tapi bukankan kita masih bisa membujuk ibumu!' Yulian berteriak. Dia sudah kehabisan akal untuk menahan Yuna.
'Aku tahu. Tapi tak lagi bisa. Ibu menyuruhku meimilh antara kamu dan beliau. Maukah kau kita berdua hidup sebagai anak durhaka? Ingatlah Yul.. Ibuku tak ingin aku langsung menikah. Aku baru saja lulus kuliah..' Suara Yuna melirih. Dia tak sanggup menahan perih hatinya. Yulian terduduk. Dia tak bisa berkata apa-apa. semuanya mendadak menjadi rumit dengan begitu cepat. Bukankah ketika Yulian melamar Yuna semuanya baik-baik saja? Atau sebenarnya ibu Yuna memang tak ingin Yulian menjadi menantunya?
'Aku bisa menunggu lebih lama Yun.. aku bisa. Aku bahkan sudah menantimu selama 4 tahun untuk memenuhi keinginan ibumu, melamarmu waktu kau wisuda. Aku bisa Yun.. bekerjalah. Turuti ibumu. Aku bisa menanti..' Yulian berusaha kembali meyakinkan Yuna. Tapi sepertinya Yuna sudah lelah untuk mendengarnya lagi. Yulian sadar, bukan hal yang mudah untuk Yuna melewati 4 tahun dengan terpancang jarak dan segala masalah yang menyertainya. Dalam hati Yulian memaklumi jika Yuna tak ingin lagi merasakan semuanya.
'Yul.. pergilah..'
Yulian menggigit bibir. Perasaan pahit pada malam itu mendadak menyergap masuk kembali ke hatinya. Yulian mendadak merasa kehabisan nafas.

0 comments:
Posting Komentar