Yulian mengusap wajahnya yang basah untuk kesekian kalinya. Setiap wajahnya mulai kering dia segera mengguyurnya lagi di kran air. begitu seterusnya hingga hampir setengah jam.
'Yul, wudhu ratusan kali itu nggak bakal bikin kamu tenang kalau belum sholat.' Andre menepuk bahu Yulian.
Yulian kaget dan tergagap. Saking kagetnya air kran tanpa sengaja memasuki tenggorokannya.
Yulian mendongakkan kepala dengan kesal.
'Kamu nggak bisa permisi dulu apa sebelum ngomong? kamu pikir kesedak air kran itu hal yang keren gitu?' Yulian melemparkan raut muka penuh peperangan. Andre mengangkat bahu.
'Mungkin saja kan tahun ini bakal ada kontes menelan air kran terbanyak. Kamu bisa menang Yul..' Kata Andre sambil mendahului Yulian meninggalkan tempat wudhu.
Yulian mendelik.
Yulian menghempaskan dirinya ke dinding. Dia memandangi murid-muridnya yang bermain dengan riang di halaman sekolah. Beberapa tampak ceria bermain lompat tali dengan karet gelang yang disusun memanjang, beberapa tampak beradu mulut memperdebatkan siapa yang curang ketika bermain. Yulian tersenyum. Anak-anak memang selalu menunjukkan hal lucu yang menakjubkan. Kalau saja dia dan Yuna nantinya menikah, apakah anak-anak mereka akan selucu itu?
Yulian tertegun dan merubah cara duduknya. Dia merasakan seluruh tubuhnya menegang. Dia mengerjapkan matanya, berusaha menelaah pikirannya sendiri. Dia kaget dengan apa yang dipikirkannya barusan. Sejak kapan dia mulai melantur?
Yulian bergegas mengambil ponselnya dari saku. Dia hampir lupa kalau tadi mengirimkan pesan kepada Yuna. Apakah Yuna membalasnya? Apakah pesan yang dikirimnya bukannya memperbaiki hubungannya dengan Yuna tetapi malah semakin memperburuknya? Apakah Yuna justru marah besar dan menganggap dia hanya menggodanya?
Yulian terdiam sebentar, meredam kebisingan anggapannya sendiri yang terus berkecamuk di otaknya. Dilayar ponselnya tertera nama Yuna lengkap dengan balasan pesannya.
Aah..
Yulian mendesah.
Mencintai adalah sesuatu yang sulit ketika sudah begini keadaannya. Hal-hal kecil yang tampak tak berarti justru menjadi sesuatu yang besar dan sulit dipahami.
Apa artinya jika dalam setahun dia belum bisa melupakan Yuna?
Apa artinya jika dalam setahun dia masih berharap Yuna memiliki perasaan yang sama?
Seandainya malam itu Yuna tidak memutuskan hubungan mereka tepat sehari sebelum dia dan orangtua-nya mendatangi rumah Yuna, akankah semuanya terasa jauh membahagiakan?
Yuna menyerah. dia menggeletakkan ponselnya begitu saja dan tidak menyentuhnya sama sekali. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya dan membuat Putri menatapnya dengan tatapan curiga. Yuna bukannya tidak menyadari, hanya saja dia belum sempat menghadapi pertanyaan Putri yang pasti akan memberondongnya tanpa ampun.
Putri pasti akan terus menanyakan mengapa, dan aku belum tahu harus menjawab apa. Pikir Yuna. Dia mendengar Putri berbicara tapi tidak bisa berkonsentrasi pada apa yang dibicarakannya, hingga Putri menariknya keluar dari dunia lamunan dengan mencubit tangannya keras-keras.
'Aduh!' Pekik Yuna. Putri menatapnya dengan mata melebar. Sejenak Yuna takut mata sahabatnya itu akan mencuat keluar.
'Kamu itu kenapa sih Yun?' Ujar Putri kesal. Yuna mengusap-usap tangannya yang pedih bekas dicubit Putri tadi.
'Nggak papa. Kamu nggak bisa ya lembut dikit?' Kata Yuna kesal. Putri mendengus.
'Itu nggak seberapa Yun. Bisa lebih sakit, kalau kamu nggak mau cerita apa yang menjadi masalahmu.' Putri menegaskan.
Putri tahu, Yuna adalah tipe orang yang akan langsung bercerita jika ceritanya itu membahagiakan, tapi cenderung menyimpan rapat-rapat kalau itu membuatnya sedih.
Yuna menghela nafas. Tatapannya meredup. Putri secara defensif menepuk bahu Yuna, sekedar memberinya aliran kekuatan. Tidak masuk akal memang. Tapi apa salahnya dilakukan? Yuna kan sedang membutuhkan dukungan.
'Aku tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak menyangka, kalau sebuah sms dari Yulian bisa benar-benar membuat cuaca hidupku berubah. Sebegitu berartikan dia untukku?' Pertanyaan Yuna terdengar mengambang. Putri yakin pertanyaan itu lebih ditujukan Yuna kepada dirinya sendiri ketimbang kepada Putri.
'Yulian menghubungimu?' Tanya Putri. Yuna mengangguk samar.
'Aku takut dia kembali.. Maksudku kenangan tentang dia kembali.' Yuna merasakan nada tidak yakin dalam suaranya. Dia takut Yulian kembali atau justru mengharapkan Yulian kembali?
Yuna memeluk lengannya sendiri. Bukan kali pertama harapan itu menyembur dengan dahsyatnya ketika sebuah pesan pendek Yulian bertengger di kotak masuknya. Lalu tanpa ampun harapan itu gugur begitu saja ketika Yulian tak lagi mengirimkan pesan balasan ketika dia membalasnya.
Apa memang hati perempuan selalu serapuh ini? Atau Yulian yang terlalu kuat mendiami relung hatinya?
'Kamu yang memintanya meninggalkanmu.' Suara Putri terngiang kembali di kepalanya. Yuna menahan isak tangisnya. Kenapa begitu membekas?
Putri secara refleks memeluk sahabatnya, dan Yuna membiarkan kepalanya bersandar di pundak Putri. Dia merasakan bulir air matanya menetes membasahi leher sahabatnya, tapi dia tak peduli.
Saat ini, keberadaan Putri sudah lebih dari cukup menghibur hatinya.
Yulian berulang kali menggumamkan kalimat meminta maaf. Dia sendiri tidak yakin kalimat itu ditujukan kepada siapa. Entah kepada Penciptanya, entah kepada Yuna. Satu-satunya yang dia rasakan saat ini adalah perasaan bersalah.
Mungkinkah dia sudah mengusik hidup wanita yang dicintainya?
(Bersambung...)
Selasa, 12 Februari 2013
Jengkal Jarak (Part II)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.38
Labels: Cerpen, Tulisan Bebas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar