Rabu, 27 Februari 2013

Sepucuk Surat Untukmu (lagi)


Malam ini hujan. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat titik air menetes dari setiap helai rambutmu.
Tidak deras, tapi cukup untuk membuat titik air merambat turun dari keningmu. 
Dan entah mengapa, tetesan hujan itu membuat wajahmu semakin terlihat sempurna.

Malam ini hujan mengetuk setiap lekuk motor yang kujalankan lambat-lambat. Berharap titik air yang menetes dari tubuhku sama manisnya dengan yang menetes darimu.
Dengan begitu, aku tak perlu memandangmu hanya untuk melampiaskan rinduku.
Toh, Memandangmu kan bukan hal yang baik kulakukan untuk saat ini?

Aku sebenarnya ingin menuangkanmu dalam cerpen, tapi kemudian aku tahu bahwa cerpen-pun tak cukup panjang untuk menuliskan ribuan yang kurasakan.
Mungkin nanti aku akan membuat novel, atau apa-lah. 
Apa saja. yang penting kamu tetap terekam dalam butir-butir kata yang kuketikkan selagi aku bisa.

Dengan begitu mungkin nanti, mungkin beberapa tahun lagi, jika kau hidup bersamaku atau bahkan tidak bersamaku, kau akan tetap punya suatu bukti bahwa pernah ada perempuan yang menulis tentangmu dalam ribuan lembar sepanjang hidupnya.

Ketika kau menyadarinya, aku bukan ingin membuatmu menyesal karena tak bersamaku.
Aku melakukannya untuk membuatmu tahu bahwa aku mengagumimu tetapi dengan tidak memperebutkanmu dengan perempuan lain diluar sana.
Aku tak bisa. Dan kau jauh lebih berharga daripada sesuatu untuk diperebutkan oleh perempuan yang dengan mudahnya jatuh dalam pesonamu, indahmu, dan bukan kesedihan atau sisi lain hidupmu.

Aku tidak mungkin bercerita tentangmu kepada orangtuaku, temanku, atau orang-orang yang biasa kujadikan tempat mencurahkan semua keluh kesahku.
Maka aku memilih jalan ini : Menulismu, dan membiarkan banyak orang membaca dan menebak-nebak siapa kamu.
Dengan begitu kau tetap aman dalam kerahasiaanku, dan aku sudah mencurahkan apa-pun yang kurasakan jika tak mampu lebih lama memendamnya.
Cukup adil bukan?

Seseorang yang mencinta secara otomatis terlatih untuk menjadi pujangga. 
Aku juga.
Makanya aku menulis, menulis, dan terus menulis ratusan kalimat puitis.
Siapa tahu ada penerbit yang akan tanpa sengaja membacanya dan berminat menerbitkannya?
Kalau memang bisa begitu, maka semua tentangmu akan semakin abadi.
Kisahmu akan tersebar dan mungkin akan menginspirasi.

Tapi itu nanti. 
Kita lihat saja apa aku mampu mewujudkannya.
Terlepas dari itu, aku hanya ingin memberitahumu bahwa sejak pertama kali mengetahui siapa dirimu hingga saat ini aku masih tetap mengagumimu.
Aku masih memaafkan dan memaklumi segala alfa atau kekuranganmu.
Apa itu cukup untuk membuatmu yakin kalau aku memang orang yang tepat untukmu dan kamu orang yang tepat untukku?
Tapi apakah lamanya seseorang merasakan geratarn ketika melihat orang lain bisa menjadi pertanda kalau itu memang cinta yang sebenarnya?

Entahlah.
Nanti pasti aku akan tahu jawabannya. 
Aku hanya perlu sedikit menanti, mengulang apa yang biasanya kulakukan jika aku sudah hampir tidak bisa menahan lagi.
Aku bisa. I 'm good in waiting. 


Aku,
diujung senja peraduanku.


0 comments:

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir