Aku baru sampai.
Dan kudapati tempat ini begitu sepi.
Padahal jika kami berkumpul, canda tawa tak pernah tak terdengar.
Semuanya pergi. Sibuk dengan dinamika kehidupan mereka sendiri-sendiri.
Sama sepertimu.
Kau mulai lengang meramaikan dering ponselku.
Kau mulai beringsut sedikit demi sedikit,
menjauh sepetak demi sepetak,
Tanpa aku mengerti kenapa.
Aku baru sampai.
Dan keheningan tempat ini menggiring setiap adegan dari setiap episode yang telah sukses kita perankan.
Satu-persatu muncul kembali,
memproyeksikan ribuan tawa yang kita lalui bersama.
Lalu semuanya menggelap.
Pita kasetnya berhenti mempresentatifkan episode selanjutnya.
Seolah film kita memang selesai begitu saja.
Aku baru sampai.
Dan setiap tempat di sekitarku menceritakan semua hal yang kita lakukan disana.
Aku baru sampai.
Dan setiap jalan yang kulalui menuju kesini membisikkan segala cara yang kita lakukan untuk membunuh waktu perjalanan ketika bersama.
Kursi tempat peraduan,
Angin dan pemandangan,
Lagu yang kita dengarkan,
Aku baru sampai.
Dan seiring aku meletakkan barang bawaanku di tempat ini, aku sadar.
Perasaan seperti ini takkan bisa kuingkari, sejauh apapun aku pergi.
Karena dia meninggali setiap celah hati, dan bukan tertinggal di suatu tempat yang tak bisa kusentuh lagi.
Dia tinggal disana, dan akan terus ada kemanapun kita berada.
Apa yang bisa kulakukan untuk melipat jarak ini?


0 comments:
Posting Komentar