Tampilkan postingan dengan label Coretan Kosong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan Kosong. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 April 2013

Orang-orang itu (terlalu) Baik


Kadang, orang-orang memang terlalu baik. Mereka mau kerepotan memetakan hidup kita.
Kadang, orang-orang memang terlalu baik. Mereka mau bersusah payah menentukan yang baik untuk kita.
Hanya saja kadang juga, orang-orang itu terlalu egois untuk menerima kenyataan bahwa kita tidak menyetujuinya.

Orang-orang itu baik. Mereka memandang bahwa semua ini tidak baik untuk kita lakukan.
Hanya saja terkadang orang-orang itu lupa pula, bahwa apa yang mereka lihat tidak pernah selalu sama dengan apa yang sedang berlangsung sebenarnya.

Kadang, orang-orang memang terlalu baik. Mereka perhatian dengan mengajukan banyak pertanyaan atas diri kita.
Kadang, orang-orang memang terlalu baik. Mereka dengan mudahnya memberikan jawaban untuk semua teka-teki mereka tentang kita,
Hanya saja kadang juga, orang-orang itu terlalu sibuk untuk menyadari bahwa jawaban yang mereka sediakan adalah jawaban yang ingin mereka dengar sendiri, dan bukan jawaban yang sebenarnya sesuai realita kita.

Orang-orang itu terlalu baik. Mereka bahkan mau dengan senang hati memikirkan prasangka terburuk tentang diri kita.
Orang-orang itu terlalu baik. Mereka bahkan mau dengan senang hati menanyakan pertanyaan dan mengemukakan pernyataan terkonyol tentang diri kita.
Hanya saja orang-orang itu seringkali tidak mau menyadari, bahwa pertanyaan dan pernyataan mereka menjadi suatu bentuk tekanan tersendiri untuk kita.

Orang-orang itu terlalu baik. Mereka mau menghakimi semua kesalahan kita tanpa diminta.
Orang-orang itu terlalu baik. Mereka mau memuji dan menghina kita bahkan ketika mereka tidak ada hubungannya dengan itu semua.
Hanya saja mereka terlalu sering tidak ingat untuk meluangkan waktu mendengar alasannya.

Ah, mungkin kita memang tak bisa hidup dengan baik diantara orang-orang yang terlalu baik seperti mereka.

08032013 when they tell me : NO. at the same time I realize that I love You. #14

Jalan Terus


Jalan terus, dan jangan pernah menoleh kepadaku.
Karena ketika kau memutuskan untuk melangkah satu atau dua langkah di depanku, maka saat itu pula kamu memutuskan meninggalkan aku.

Jalan terus, dan jangan pernah berbalik menghampiriku.
Karena ketika kau melakukannya--berbalik untuk kembali menggandengku--aku tak bisa berjanji akan mau.

Jalan terus, karena denganku takkan pernah ada kesempatan kedua.
Jalan terus, atau jangan beranjak kemanapun juga.

Berjalanlah terus, karena sejatinya aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kau tetap berdiam diri disampingku.
Memeluk untuk melukaimu, atau melukaimu untuk--suatu saat nanti--memelukmu.
Berjalanlah terus, karena sejatinya meski aku tak bisa secara langsung menerimanya, itu jauh lebih baik pula adanya.

Jalan terus, dan jangan biarkan hasratmu untuk meninggalkanku tergerus.
Karena memang aku akan berusaha menahan demi hatiku, tapi kita memang tak bisa terus-menerus mengedepankan masalah hati.
Jalan terus, dan jangan bergeming hanya karena aku tetap disini.
Karena memang aku akan terus berusaha disini menunggumu, tapi kamu memang tak bisa terus-menerus menemaniku.

Maka..

Jalan terus, dan jangan pernah menoleh kepadaku.
Karena ketika kau memilih untuk berhenti, maka aku takkan mengizinkanmu melanjutkan lagi.
Jalan terus, dan jangan pernah berbalik menghampiriku.
Karena ketika kau memilih untuk tanpaku, maka aku takkan mengizinkanmu membawaku kembali.

Jalan terus, karena denganku takkan pernah ada kesempatan kedua.
Jalan terus, atau jangan beranjak kemanapun juga.

Aku butuh kamu untuk tertawa.


06032013

Menelan Rasa


Aku merasakan angin berhembus menerpa seluruh tubuhku, dan detik itu juga kurasakan setiap sel-ku meluruh bersamanya.
Bagai ribuan daun kering yang terbang tertiup Sang Sepoi, mengantarkan bayangmu kembali menjadi raja.
Sama seperti ketika kau menatapku seolah aku permaisyuri yang tercipta untuk menemanimu.
Lalu kau dengan mudah dapat gagah duduk bertakhta dalam singasana : Memegang tampu kekuasaan atas seluruh kerajaan kataku.

Betapa dahsyatnya, bukan? Padahal yang kau lakukan sederhana. Hanya tersenyum dan memandang.
Namun ketika tatapanmu membidik setiap angle yang membentang dihadapmu, aku seolah menemukan kacamata baru. Segalanya sewarna syahdu.
Membelai dan mengembangkan hatiku, sehingga seluruh alveolusnya menyesap setiap unsur oksigen dan melempar jauh udara sisanya.
Aku seolah dialiri matriks kehidupan yang baru. Aku seolah dihidupkan kembali dari kematianku.

Betapa dahsyatnya, bukan? Padahal yang kau lakukan sederhana. Hanya memandang dan  berlaku apa adanya dirimu.
Namun ketika kau bergerak dalam sudut ruang mataku, aku seolah menemukan sinar energi  baru pengganti matahari. Segalanya seolah berseri.
Menarik urat pipiku dan melengkungkan garis ceria yang meluncurkan namamu dengan fasih, dan dengan doa penuh kasih.
Aku seolah berada dalam panel surya yang mempu menyimpan gemerlap nirwana untuk bangkit dan bersinar selamanya.

Kau Luar biasa. Serupa dahsyat kau cipta kembali, namun dalam atmosfir nelangsa  yang tak ku kira sebelumnya.
Kau memutuskan berhenti berevolusi mengelilingi bumiku.
Kau bilang kau lelah menjadi surya dalam terangku, atau menjelma bulan dalam gelapku.
Kau bilang kau lelah meniup angin dalam gerahku, atau meretas hangat dalam beku-ku.
Kau bilang aku labirin dengan banyak jalan buntu.
Kau bilang aku tebing dengan banyak batuan curam yang menjatuhkanmu.

Seketika badai menerpa habis setiap selku.
Kemudian dengan kejam angin menerbangkan setiap serpihanku menuju tempat yang aku sendiri tidak tahu.
Aku hanya tak bergeming, aku masih disini menunggumu memungut setiap bagianku yang berterbangan dan meletakkannya lagi dalam pelukmu. Namun ini sudah lebih dari empat-belas purnama, dimana kau berada? Tahukah kau baru saja Sang Pipit mengabarkan padaku bahwa kau telah berdua?

Sayangku, kini mereka mengatakan aku telah redup dan tak punya cahaya kehidupan. Kenapa kau meninggalkanku terpanggang kenangan?

03032013

Rabu, 06 Februari 2013

Potongan


Potongan-potongan puzzle ini berserakan, lihatlah..
bolehkah aku menyusunnya menjadi kesatuan kita yang utuh?
maukah kau menjadi salah satu pasangannya dan menggenapi potonganku?

Mungkin saja ada gambar peta hidup bersama diatasnya, jika kita berhasil menyusunnya.
Maukah kau duduk sebentar dan membantuku mengurutkannya?

Potongan-potongan puzzle ini berserakan, tataplah..
bolehkah aku mengumpulkan kepingannya agar tidak tercecer begitu saja?
atau maukah kau menghubungkan polanya yang membuatnya lengkap seperti seharusnya?

Mungkin saja ada gambar masa depan bersama diatasnya, jika kita berhasil menurutkannnya.
Maukah kau duduk sebentar dan membantuku menatanya?

Kita mungkin serupa tiap keping puzzle itu, pikirkanlah.
Kita terpecah dan terpisah.. dan menyusunnya dengan segala cara yang dapat terkerah.
Kita terpecah dan terpisah.. dan saling menemukan dengan susah payah.

Tapi bukankah kita memang diciptakan sebagai potongan yang berpasangan?
Lalu mengapa terasa sulit sekali bagi kita untuk saling melengkapi?
Mungkinkah Tuhan salah meletakkan kita berdua dalam satu kotak susunan?
Ataukah Tuhan memang mempertemukan kita sebagai potongan yang salah dalam pola gambar ini?

Tetapi mana mungkin Tuhan melakukan kesalahan?
Mana mungkin Tuhan teledor meletakkan potongan kita?

Atau mungkinkah jika aku...
Bukan potonganmu?



Selasa, 05 Februari 2013

The Shadow Spot


Malam ini rembulan ramah sekali.
Tirai cahayanya menerpa sosok kita yang duduk berdekatan, hingga tercipta siluet gelap tubuh kita.
Bayangan. Bayangan kita.

Aku memandangnya takjub.
Bagaimana bisa kita mengingkari ini? bahwa bayangan kita-pun telah diciptakan secara berpasangan,
dan mengikuti seluruh gerak, degup rasa, dan gejolak yang kita rasakan

Ah, memikirkannya saja sudah membuatku mabuk kepayang.
Seolah memang petang memantulkan senyum kita yang sedang mengembang..

Tiba-tiba kudengar melodi panggilan masuk ke ponselmu,
menampilkan sebuah nama yang selalu menjadi sumber ketakutanku.
Matamu memancarkan arus yang tak biasa, tak pernah sama dengan caramu memandangku.

Kemudian aku tau,
Bayangan yang sekarang sedang duduk bersama bayanganmu itu bukan aku.


Mencoba Lari, dan Kembali.


Aku baru sampai.
Dan kudapati tempat ini begitu sepi.
Padahal jika kami berkumpul, canda tawa tak pernah tak terdengar.

Semuanya pergi. Sibuk dengan dinamika kehidupan mereka sendiri-sendiri.
Sama sepertimu.
Kau mulai lengang meramaikan dering ponselku.
Kau mulai beringsut sedikit demi sedikit,
menjauh sepetak demi sepetak,
Tanpa aku mengerti kenapa.

Aku baru sampai.
Dan keheningan tempat ini menggiring setiap adegan dari setiap episode yang telah sukses kita perankan.
Satu-persatu muncul kembali,
memproyeksikan ribuan tawa yang kita lalui bersama.
Lalu semuanya menggelap.
Pita kasetnya berhenti mempresentatifkan episode selanjutnya.
Seolah film kita memang selesai begitu saja.

Aku baru sampai.
Dan setiap tempat di sekitarku menceritakan semua hal yang kita lakukan disana.
Aku baru sampai.
Dan setiap jalan yang kulalui menuju kesini membisikkan segala cara yang kita lakukan untuk membunuh waktu perjalanan ketika bersama.
Kursi tempat peraduan,
Angin dan pemandangan,
Lagu yang kita dengarkan,

Aku baru sampai.
Dan seiring aku meletakkan barang bawaanku di tempat ini, aku sadar.
Perasaan seperti ini takkan bisa kuingkari, sejauh apapun aku pergi.
Karena dia meninggali setiap celah hati, dan bukan tertinggal di suatu tempat yang tak bisa kusentuh lagi.
Dia tinggal disana, dan akan terus ada kemanapun kita berada.

Tidak di tempat kita terlahir ke dunia ini, tidak juga di tempat kita saling mengenal pertama kali.


Apa yang bisa kulakukan untuk melipat jarak ini?

Jumat, 28 Desember 2012

Pernahkah Kau Berfikir?


Pernahkah kamu berfikir bagaimana dia mondar-mandir sambil memegang telepon selulernya,
dan berharap kamu membalas atau mengangkat puluhan panggilan ke ponselmu?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana dia ingin bercerita semua yang dialaminya tetapi kamu bertindak seolah itu bukan masalah dan malah marah-marah?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia mengundangmu kerumah dan kau tak memberikan kepastian untuk datang?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia berusaha menjelaskan sesuatu dan kamu tak mau mendengarkannya sama sekali?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia disuatu tempat selalu memikirkanmu dan kamu malah menuduhnya melupakanmu?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia  berkata jujur dan kamu tak mau menyisakan sedikit kelapangan hatimu untuk percaya?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia menahan rindu, dan kamu malah membalas dingin ketika dia menghubungimu?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia menunjukkan siapa dirinya tetapi kamu malah memperlakukanya seolah dia dan dirinya adalah suatu kesalahan?

Dan pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika segala usahanya membuatmu bahagia dan telah kau tolak begitu saja hanya karena tak sesuai menurut sudut pandangmu itu menjadikannya JERA?

Dan aku lelah membahagiakanmu dengan segala dayaku. 
Dan aku lelah melihatmu menganggap semua itu keliru.
Dan aku lelah..
Maka ketika kau merasa aku tak lagi bisa mengerti dan tak layak kau cintai,
Maka ketika kau merasa aku tak lagi menjaga hati dan kau ingin pergi, 
pergi saja.
TANPA HARUS MENGELUARKAN KATA-KATA YANG MENYIKSA.

Apathy


Hujan malam ini, yang biasanya bercerita tentang kerinduan,
sekarang bicara tentang kebekuan.
tentang dingin rintikannya yang tak pernah bisa dihangatkan.
tentang dinginnya hembus angin yang tak bisa dipanaskan.
tentang dinginnya suasana yang tak bisa tersentuh oleh canda tawa.
Aku memejamkan mata, mencoba mencari sisa-sisa rasa yang kupunya.
Berharap kehangatannya mampu mengusir gemertak tulang yg menggigil.
Dan.. Tak ada apa-apa.
tak ada perasaan apa-apa.
seketika aku takut bekunya udara malam ini merenggut kepekaanku.
Aku takut hatiku membeku bersama butiran hujan yang membasahi setiap sudut tempatku terpaku.

Mungkin aku hanya lelah, atau memang aku sudah menyerah. Tak pernah bisa kupastikan.
aku hanya tau aku tak ingin mengalah hanya untuk meretaskan sebuah kehilangan.

Aku berhenti peduli.

Belum Menemukan Mereka, atau memang Tidak Ada.


Kembali menyusuri lorong kampus, berjalan perlahan ditengah keramaian perbincangan teman-teman sesama mahasiswa.
Sebuah keramaian yang biasa tapi tak ada kebosanan yang menyertainya.
Mungkin memang iya, mempunyai teman adalah sebuah anugrah tersendiri.
Tapi ada juga yang tidak mampu menikmati seperti apa rasanya punya teman.
Saya tidak membual. setiap orang pasti pernah merasa tidak punya teman.
Kapan?
Ketika kamu mempunyai masalah dan tak mampu menceritakannya pada siapa-pun.

Bagaimana rasanya tidak bisa menjadi diri sendiri bahkan dalam lingkungan dimana kau menjalani hidup setiap harinya?
Membosankan. tapi tidak sepenuhnya membosankan juga.
kadang, kita bisa tetap tertawa bersama mereka seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi keadaan seperti ini juga membunuh secara perlahan.
Ketika keadaan meyebalkan itu datang, seperti : ada beberapa hal yang ada didiri kita tidak bisa dikomunikasikan dengan mereka.
dan mereka tidak bisa menangkap bahasa mata kita.

Seperti dimana kamu mempunyai teman yang sama-sama suka ngomong dan berdiskusi. Tapi disisi lain ternyata si teman 'terbatas' untuk kita ajak bicara.
Katakanlah dia punya pacar --atau siapalah-- yang kemudian mencemburui kita.
atau terbatas peraturan bla-bla-bla. atau kemudian ada kabar burung yang membuat kalian canggung.
Seperti juga dimana kamu mempunyai teman yang se-Hobi, hangout bersama, bercanda setiap hari, tapi tidak bisa kau ajak diskusi masalah lain selain suka-suka.

Maka, mungkin memang iya sebuah pernyataan yang berkata : 'Tidak perlu banyak teman. Cukup satu. yang bisa kau pahami dan memahamimu.'


Dimana berada diantaranya, kamu bisa benar-benar menjadi dirimu sendiri. Dimana kamu bisa benar-benar 'memiliki' tanpa harus ada yang menghalangi.
Dimana kamu bisa benar-benar tertawa, menangis, marah, atau menghabiskan waktu bersama tanpa peduli apa yang orang katakan.
Dimana kamu bisa benar-benar berbuat kesalahan dan mendapatkan maaf sama mudahnya.
Dimana kamu bisa benar-benar 'aneh' dan dimaklumi dengan mudahnya.
Dimana kamu bisa benar-benar merasa bahwa hubungan kalian jauh lebih dalam dari sekedar pacar atau saudara.
Dimana kamu bisa benar-benar tidak mengerti apa yang menyatukan kalian walau kalian memang jarang terlihat bersama..
Dimana.... kamu seakan mempunyai dunia yang sama dengan mereka. Benar-benar sama. tanpa kata 'mirip' atau 'layaknya'.

Mungkin, jika masih merasa seperti ini, kita memang hanya belum bisa 'menemukan' mereka.
Atau memang tidak ada...


Senin, 08 Oktober 2012

Ketika Terbangun


Aku terbangun dengan hati yang kosong.
Seolah satu-satunya yang menjadi isinya ditarik keluar dan terburai begitu saja.
Disergap hampa seketika menjadi hal yang menyesakkan dada.
ketika satu-satunya alasan aku menikmati harapan-pun diberodol tanpa basa-basi sebelumnya.

Aku terbangun dengan hati yang kosong.
Seolah satu-satunya yang kutahan menjadi isinya ditumpahkan dan tercecer begitu saja.
Disergap kecewa seketika manjadi hal yang menyempitkan kesabaran.
ketika satu-satunya pertahanan yang kubangun-pun dihancurkan tanpa ampun.

Dan kau,
menjadi satu-satunya bagian yang paling rawan kusentuh.
menyapamu akan menjadi kehancuran yang tak terprediksikan.
namun mengubur keinginan untuk menatap matamu akan menjadi badai yang lebih menakutkan.

Aku terbangun dengan hati yang kosong.
Bahkan merasa kau mencintai-pun hanya mampu kurasakan dalam kelelapan,
kemudian menjadi belati ketika waktu membangunkan.

Aku terbangun dengan hati yang kosong.
Seolah apa yang kurahasiakan darimu menjadi jerat-jerat yang menekan jalan nafas.

Aku terbangun dengan hati yang kosong.
seolah mendekapmu dalam mimpi adalah satu-satunya kesempatan.
dan terbuai didalamnya menjadi hal yang memabukkan.

Maaf,
aku terbangun dengan hati yang kosong.
dengan hati yang diremas hingga habis dayanya.
Namun sisa-sisa kehidupannya masih melafadzkan namamu dengan fasih..
dengan tanpa kehilangan harapannya.

Aku terbangun dengan hati yang kosong.
dan titik hujan dimataku yang menggersang.
dengan keyakinan bahwa kau mungkin jodohku,
sekalipun kau mengharapnya sebagai jodohmu.
Dan waktu,
terasa menjadi durjana untuk hatiku.

Senin, 10 September 2012

DIA TAU


Dia tau. Dia tau aku takut terjatuh.
Dia tau tapi tak ingin beranjak. Malah menghempas semakin deras.
Dia tau, Dia tau aku takut terhanyut.
Dia tau tapi tak berhenti mengalir. Malah mengikis semakin tipis.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku tak ingin berada dalam dekapnya.
Dia tau tapi tak ingin melepas. Malah memegang semakin erat.
Dia tau, Dia tau aku tak ingin membuang pembatas.
Dia tau tapi tak juga berpisah. Malah meruntuhkannya dengan tanganku.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku memenjarakan kemungkinan.
Dia tau tapi tak juga melawan. Malah membias tipis sulit ditepis.
Dia tau. Dia tau aku melawan kebersamaan.
Dia tau tapi tak juga membiarkanku sendiri. Malah menjelma dalam bisik mengelitik.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku ingin bukan ini.
Dia tau tapi tak juga menepi. Malah beredar penuh tanpa peduli.
Dia tau. Dia tau aku tak ingin mencintai.
Dia tau tapi tak berhenti. Malah mencipta semesta disayangi.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku menolak.
Dia tau tapi tetap membawa gejolak. Malah semakin menjebak.
Dia tau. Dia tau aku ingin berkata 'tidak'.
Dia tau tapi tetap membujuk. Malah semakin meremuk.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku berusaha mengabaikannya.
Dia tau tapi tetap terjaga bersama. Malah semakin dekat tanpa diduga.
Dia tau. Dia tau aku pintar menepis rasa.
Dia tau tapi tetap tau caranya. Malah aku semakin khawatir karenanya.
Dia tau.

Tapi
DIA tau. DIA tau aku rapuh.
DIA tau tapi tak berhenti membuatku berusaha. Malah membuatku bertanya.
Benarkah DIA tau dalam diamNya?
Benarkah DIA (sudah) tau aku semakin terlena?
Benarkah DIA (ingin) tau bagaimana aku melawan daya?

yang kutau, Dia tau dan tetap berjalan dalam ketakutanku.
Dan DIA tau, aku bimbang. Dalam jalan bermuara DIA atau Dia.
Aku ingin DIA dan Dia tau aku bimbang dalam ketidaktegasanku.
Aku ingin DIA tau aku membutuhkan cara agar Dia berhenti tau.

Dia tau.
DIA-pun tau.
satu-satunya yang kutau adalah D-I-A-T-A-U.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Sebuah Percakapan


Pagi ini, matahari merekah setelah dua hari yang lalu tersamar mendung.
Ilalang menghirup dalam-dalam aroma pagi, dan sejenak berlayar dibalik pekatnya memori.
Tanpa dia sadari, sang rumput memandangnya kejauhan jarak dan keterikatan yang telah dengan sengaja diurai dalam kesendirian yang menyiksa.

Sang rumput menghela nafas. bagaimana bisa sesuatu dikagumi sebegitu dahsyatnya tanpa menyadari?
Burung yang melihat itu menyapa dalam keramahan dan kelembutan tutur,

Kau rumput, tidakkah kau lelah mengharapkannya?
Aku? tidak.

kenapa?
Karena aku tidak mengharapkannya. Aku mencintainya.

Tidakkah kau ingin dia mengetahuinya?
Tidak. tak ada yang perlu diketahuinya. Rasa ini terang adanya.

Tapi dia tidak tau kau mencintainya.
Lalu kenapa?

Tidakkah cintamu itu berubah sakit yang menggerogoti hatimu?
Iya. dan akan selalu begitu. Rasa tak suka ketika ia dicumbu angin tanpa aku.
Amarah, Sakit hati, dan ke-iri-an..
Selalu terasa belum terlampiaskan.
Seakan meminum air asin saat haus..

Lalu kenapa tak kau ungkapkan?
Karena akan lebih baik jika begitu.

Burung menatap tak mengerti.
Sang rumput tersenyum, lalu berkata lagi.

Burung, aku tak mencintainya dalam diam. karena ada yang tau.
Kau tau, aku tau, Pencipta-pun tau. Dan dia... sebenarnya juga tau.
hanya belum mengerti kebenaran rasa ini.
Maka biarkanlah.
Karena seandainya aku mengatakannya-pun aku tak akan mungkin bisa merengkuhnya  untukku.
Karena seandainya aku katakan padanya-pun aku tak bisa melakukan apa-apa.
Aku hanya akan menjadi racun dari sesuatu yang telah ia jalani.
dalam sesuatu yang jauh lebih suci yang dia jalani.

Posisiku tidak benar jika harus mengharapkannya.
Aku hanya tau jika aku mengatakannya terus adalah bukanlah hal yang pantas.
maka biarkan saja aku merasakannya sendiri.
Hingga apapun padanya dan padaku akan tetap terjaga sebagaimana mestinya.

aku berkata padanya dalam keremangan padang ketika surya belum terbangun.

jika bukan karena Tuhan kita, tinggalkanlah cinta.

Dan dia, meninggalkannya.

Berhentilah, Sejenak


Hei, berhentilah sejenak dari kegiatanmu. aku ingin mengajakmu bicara sebentar.
Kau tau bagaimana dengung nyamuk ketika kau tertidur? kau terganggu? tidakkah kau menyukainya? 
iya. Suara kecil itu mengganggu. menyulut kekesalanku ketika tidurku terganggu olehnya. 
Tapi tau apa dia tentang kekesalanku?

Kau tau gemuruh petir ketika langit mendung? kau terusik? tidakkah kau menyukainya?
iya. gemuruh itu menakutkan. menyulut kemarahanku ketika dia merusak syahdunya hujanku.
Tapi tau apa dia tentang kemarahanku?

Sama seperti manusia. kadang kesalahan seseorang dapat menyulut kemarahan dan kekesalan orang lain tanpa disadari.

Hei, tolong berhenti sejenak dari kegiatanmu. Dengarkan kata-kataku tanpa harus kamu berpura-pura tak tau maknanya.
Kau tau. dan cukup kau membuatnya rumit dari kelihatannya. Aku sebenarnya benci sekali saat-saat seperti ini.

Aku takut menyinggungmu atau membuatmu membenciku. Tapi aku harus mengatakannya padamu.

Hei, tolong berhenti sejenak dari kegiatanmu. Aku ingin mengajakmu bicara.
Taukah kau yang kaulakukan ini salah? lalu kenapa kau tak punya keberanian untuk menghentikannya?
kau ini tidak mendengarku atau memang tidak mau mendengarkan aku?

Hei, tolonglah berhenti sejenak. aku ingin mengajakmu bicara.
tidakkah kau lelah mendengarku terus-terusan berteriak padamu? sekarang aku ingin bicara dengan tutur kata lembut, sebentar. jadi tolong, dengarkanlah.

Aku sedang dalam kebingungan, kau tau? tentang sebuah kesalahan.
aku bingung bagaimana menyampaikannya.
Kau-lah titik tumpunya. jadi tolong, apapun yang kau mulai harus kau jalani hingga akhir.
Aku ingin sekali berteriak ketika kau tak menghiraukan sindiran halus yang kutujukan padamu.
Aku tidak membencimu. aku hanya ingin kau sadari kesalahanmu.
Tidak. tidak hanya sadar, tapi mampu melakukan tindak lanjut setelah sadar.

Pernahkan kau melakukan kesalahan pada orang lain?
apa yang kau lakukan? mengakui dalam hati bahwa kau salah tapi bersembunyi dari kenyataan?
Kau takut dianggap pesakitan jika mengaku? Kau takut kehilangan yang kau anggap berharga jika mengaku?
Taukah kau diluar sana banyak yang menjadi korban ketidak-tegasanmu? 
seseorang mungkin menjadi yang tertuduh ketika kau sembunyi. seseorang lain mungkin tenggelam dalam kepercayaannya terhadap dusta.

Ini contoh kecil, tapi bukankah ini sering sekali terjadi?
bahwa kita kadang takut mengambil keputusan hanya karena pertimbangan ego kita.

Teman--cukuplah aku memanggilmu dengan sebutan ini--, bukankah kau tau Allah tak pernah meninggalkan umatnya dalam kesempitan? 
Bahkan ketika kita bersalah?
Jadi kenapa kau takut akan dunia yang malah menghimpitmu?
Berserahlah..

Teguhkan niatmu. jika kau merasa sudah melangkah dengan rencana yang benar, maka jalankanlah. jangan khawatir dengan apa yang mengusikmu. karena Dia pasti menggantinya nanti. Bukankah janji Allah pasti adanya?
jika kau merasa berjalan dalam rencana dan menuju tujuan yang benar, maka berjalanlah. jangan khawatir akan sakit hati atau kehilangan yang mungkin akan kau rasakan. karena Dia pasri menggantinya nanti. Bukankah janji Allah pasti adanya?
Kau--atau aku-- pasti akan melewatinya. dengan baik. seiring bantuan-Nya.
Berserahlah..

Jika kau pernah terpererosok dalam satu lubang, maka mengapa kau mengulanginya?
karena masalah itu rumit?

Iya, memang.
Tapi tidakkah kau menganggap ini ujian?
layaknya ujian sekolah, maka kau akan mengulang ujian ketika nilaimu dirasa belum memuaskan.
Remidi istilahnya.
Bukankah ini analoginya?
Jika kemarin kau terperosok dalam satu lubang sebagai tanda kau belum lulus ujian dari-Nya, tidakkah kau berfikir ini --yang kau alami sekarang-- adalah remidinya?
apa kau ingin gagal lagi?
tentu tidak kan?

Jika memang suatu keputusan yang baik akan mendatangkan kehilangan, bukankan Dia akan memberikanmu pengganti yang sepadan dengan usaha dan cinta-Mu pada-Nya?
Jika memang suatu keputusan yang baik akan mendatangkan sakih hati yang kita rasakan, bukankah Dia akan memberika penawar yang lebih manis karena cinta-Nya padamu?

Kau mungkin akan diuji dengan prestasi yang gemilang, Ikhwan/Akhwat yang taat, Atau segala bentuk yang menyenangkan. tapi bukankah semakin berat ujian maka itu sebagai penanda Imanmu?
Bukankan ujian yang Dia berikan pada hambanya sesuai dengan Iman hambanya?
Hingga tiba waktu kau lulus dengan baik, maka bertambah pula cinta-Nya padamu. bertambah pula Ridho-Nya padamu.
Masihkah kau takut?

Hanya karena kau temanmu. aku hanya ingin mengingatkanmu.
melalui ini. Sebagai teman yang harusnya saling mengingatkan.
Aku juga tak luput dari salah, tentu saja. dan kau juga pernah mengingatkanku. Dan kali ini mungkin aku yang berkesempatan untuk berusaha mengingatkanmu.

Kau bisa membuatku bangkit dari masalah yang jauh lebih rumit daru yang kau hadapi.
maka seharusnya kau bisa pula bangkit dari sini.

Maka tegakkanlah badanmu. angkat dagumu.
Evaluasi apa yang telah kita lakukan selama ini. Perbaiki yang kurang banar, sempurnakan yang benar, tambahi yang kurang.
Hingga pada akhirnya nanti kita akan melewati satu-demi satu ujian-Nya dengan memuaskan. dan tiba pada saat kita tersenyum lebar melihat rapor-mu membanggakan.


Mohon maaf atas tuturku yang tak berkenan, kawan.
Selamat Ramadhan. :)

Selasa, 11 Oktober 2011

Cinta. Apa maksud Tuhan memberiku cinta?

Ehm..
Kadang aku pengen tanya, kenapa Tuhan beri aku rasa yang sedemikian ini.
Untuk menghibur diri, aku slalu bilang 'ah.. Pasti IA punya maksud tertentu. Jalani saja..'
tapi nyatanya ?
Sampai sekarang aku belum tau persis apa maksudnya.

Ibu bilang, apapun yg diberi-NYA kepada kita adalah untuk menguji kita.
Kalau bukan untuk itu, apa lagi ??

Sudah 20 bulan lebih 7 hari ketika aku menulis ini.
Aku punya cinta. Dan masih kujalani.
Tapi sampai sekarang-pun nyatanya aku masih belajar cara terbaik mencintai seseorang yg IA titipkan sekarang.
Masih belajar apa maksud Tuhan memberiku cinta yg kutujukan pada seseorang-ku sekarang.

Tapi yg perlu untuk di camkan adalah,
aku mensyukuri cinta yg IA berikan & mensyukuri seseorang yg IA titipkan untuk bersamaku.
:)

Awal aku terpaut, susah di deskripsikan. Tepatnya aku tidak tau apa & bagaimana awalnya.
Tiba-tiba saja disuatu malam ketika mati lampu aku terisak mengakui aku menyayanginya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku menyadari & percaya bahwa tidak ada yg bisa kuingkari ?

Bulan - bulan pertama cukup berat. Perbedaan kami sempat membuat aku dan seseorangku saling menyakiti bahkan sempat memisahkan kami beberapa lama.
Tapi akhirnya egoku luluh.
inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar berkorban demi orang lain ?

Lalu banyak sekali perubahan di diriku karena sikapnya. Mulai dari berhenti kecanduan hujan. Belajar untuk tidak childish. Belajar untuk bersabar. & belajar memahami seseorang-ku.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar menghargai dan mengerti orang lain ?

Pernah juga aku melakukan kesalahan besar. Mendustakan cinta. & mengingkarinya. Tapi akhirnya aku kembali padanya sampai sekarang.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar mengakui kesalahan dan tidak gegabah ?

Dan atas kesalahan besarku itu, dia tetap memaafkan & memberi kesempatan memperbaikinya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku tau apa arti MAAF dan MENYESAL ?

Kemudian sikap-sikap manisnya yg mendewasakan aku. Tidak romantis, sederhana dan berarti. Sangat berarti.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku merasakan rasanya dicintai setulusnya ?

Juga ketakutanku kehilangannya, dan keinginanku membuatnya ceria.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar menjaga sebaik-baiknya yg kumiliki ?

Karena aku mencintainya, aku membatasi cinta lain yg datang.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku SETIA ?

Kemudian keputusanku mengenalkan seseorang-ku kepada orang tuaku ketika awal aku dan dia melangkah bersama.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar meminta restu orangtua untuk hidupku ?

O ya, ketika seseorang-ku selalu menyuruhku belajar.
Dan aku memang jadi bersemangat karna ingin memenuhi keinginannya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar berusaha sebaik yg aku bisa agar tidak mengecewakan harapan orang lain ?

Untuk semua kekurangan dan kelebihannya, aku menyukainya dan belajar memaklumi kekurangannya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku menerima orang lain apa adanya dan mensyukuri yg telah IA beri padaku ?

Lalu sampai malam ini aku merasa amat sangat rindu, tapi seseorang-ku sedang tak punya banyak waktu.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar menghadapi keadaan yg tak selalu seperti yg kuinginkan ?

Untuk segalanya yg ia lakukan untukku.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku mengerti bahwa cinta tidak sekedar kata CINTA. Tapi sikap. Begitukah ?

Dan 1 hal berarti : Setelah semua yg manis dan pahit yg aku lalui dengannya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku dan dia belajar saling mempertahankan ? Agar aku dan dia belajar bekerjasama menyelesaikan masalah ? Agar aku dan dia belajar mencapai hasil akhir yg indah ?

Terimakasih, Tuhan.. Atas cinta & kepercayaan yg KAU beri, dan membuatku belajar banyak hal.
Dan seseorang-ku, terimakasih. Kamu luar biasa.
:)

Senin, 25 April 2011

Just About Me, tonight.

Aku dilahirkan & tumbuh menjadi orang yang berbeda dari mereka.
Karena aku terlalu berbeda.
Pada goresan yang sama dengan yang mereka alami, lukaku jauh lebih dalam.
Pada serpihan kecil tawa yang sama dengan yang mereka rasakan, kebahagiaanku terasa jauh lebih besar. Tentu itu hanya berlaku untukku.

Mungkin karena aku terbiasa menjadi orang yang tidak diperhatikan.
Ada atau tidak adanya aku terasa sama saja untuk orang lain.

Tak banyak yang tau seperti apa rasanya menjadi bagian kecil yang tak terlihat, tapi aku tau persis rasanya.
Tersingkir karena berbeda, tersingkir karena tak bisa melakukan hal yang sama, dan tersingkir karena tak begitu berarti.


Itulah kenapa ketika aku merasa menyayangi seseorang, aku cenderung tlalu takut kehilangan mereka.
itu alami, menurutku.
Bagiku, DICINTAI SETULUSNYA oleh seseorang adalah ANUGRAH YANG LUAR BIASA.
Terima kasih pada mereka yang membuatku merasakan itu.
(tapi itu-pun hanya beberapa orang)

Aku pernah tersakiti oleh suatu persahabatan. That's why, aku nggak terlalu pandai percaya pada teman kalo mereka akan membuat hidupku berwarna.
Akibatnya, aku tak punya banyak teman.

Aku pernah kecewa dengan keluarga. That's why aku sering melindungi diri dibenteng yang kusebut kamar.
Dimana ketika kau menangis ato bahkan mencoba bunuh diri, tak akan ada yang tau.
Well, aku terpuruk beberapa lama. Karena kupikir, jika ibuku aja nggak bisa mengerti aku, bagaimana orang lain bisa??
Aku bodoh berpikiran seperti itu?
Bisa juga.
Tapi aku hanyalah anak yang ingin amat sangat dekat dengan ibunya. Aku ingin tak satu tak hal-pun tentang aku yang ibuku tak tau.
Wajar kan?
semoga Allah memberi ibu umur panjang untuk nemenin aku.

Aku pernah juga terluka dalam mencintai seseorang.
Sebenarnya, aku nggak mudah mencintai orang sepenuh hati, dan aku baru 2x merasakannya.
Yang pertama berakhir tragis,
sedangkan yang kedua sedang kujalani
(y Allah, Lindungi ia), aku memberikan semuanya. Semuanya. Tapi bukan dalam bentuk materi. Karena kalo itu aku nggak bisa.
Semoga Allah menjaga kami.

Well, rasanya menggoda banget mencampakkan diriku sendiri saat sedih atau hancur.
Kalian boleh percaya, aku sudah melakukan kenakalan yang mungkin belum pernah kalian lakukan.

Tapi aku bukan orang yang tahan sakit.
Aku bisa tak tidur 3 hari hanya karena marahan dengan orang yg kusayangi.
Aku pernah hujan-hujanan tengah malem 4hari berturut-turut.
Aku pernah hampir bunuh diri.
Gila?
Tidak. Hal seperti itu wajar ketika kau sedang depresi.
Aku udah bilang dari awal kalo perasaanku amat sangat sensitif.

Aku hanya bisa dipahami dengan kesabaran yang lebih. Sayangnya, tak banyak orang yang bisa.
Untuk orang yang bersamaku sekarang, bersabarlah.. Kumohon.
Aku tak tau apa masih ada orang seperti kamu yang bisa kutemui.

Aku sering mengungkapkan hal dengan cara yang salah, walau aku tak pernah bermaksud menyakiti siapa-pun.
Aku sering membuat orang-orang terdekatku marah tanpa sengaja, lalu aku tak bisa berhenti minta maaf, dan justru membuat mereka makin marah.
TAPI AKU TAK PERNAH BERMAKSUD JAHAT.
tolong...

Tapi karena itu semua --aku yakin-- aku akan jauh lebih bisa menghargai hidup & komitmen yang ada didalamnya, lebih dari mereka yang tidak mengalaminya.
Seseorang mengatakan padaku, bukan hasil yang paling penting tapi Proses.
Karena proses membuat kita belajar.

Maaf untuk semua yang ku sebut disini.

Kalian tau ?
Aku mungkin sebuah objek psikologis yang menakjubkan bagi psikiater.
Oh, aku benar-benar butuh pskiater.

Jumat, 10 Desember 2010

CUEK BUKAN BERARTI NGGAK CINTA

"Sikap kaya gini biasanya dimilikin sama orang2 cuek yang keliatan masa bodo. tapi bukan berarti di hati mereka itu mereka gak punya cinta. sikap orang cuek emang biasanya 99% bikin orang bete. tapi bukan maksud mereka bikin orang bete.

orang cuek juga bisa cinta sama lawan jenis. cuma cara mereka nunjukinnya emang beda, mereka punya cara sendiri buat nunjukkin rasa cintanya.

orang cuek emang selalu keliatan nyebelin, apalagi di mata pasangannya. mereka keliatan ga peduli sama perasaan pasangannya. padahal dalam hatinya mereka peduli. sangat sangat peduli. cuma mereka nggak tau gimana caranya nunjukkin rasa peduli itu.

mereka pengen ngeliat kamu seneng, tapi kenyataannya mereka malah selalu bikin kamu bete gara2 sikap cueknya itu. mereka pengen ngebahagiain kamu, tapi bingung gimana cara yang pas buat bikin kamu bahagia.

terkadang mereka malah ngelakuin hal yang kamu gak suka berulang kali. itu bukan maksud mereka bikin kamu jengkel, tapi itu emang udah sifatnya yang seharusnya kamu bisa menerima kelemahannya di bidang perhatian.

kadang orang2 cuek emang keliatan nyebelin di mata pasangannya. mereka gak pernah nunjukin rasa cemburu kalo kamu lagi deket sama cowo atau cewe lain. tapi asal kamu tau, dalam hati mereka rasanya pengen meledak, pengen teriak sekenceng2nya kalo mereka takut kehilangan kamu. tapi mereka gak bisa ngelakuin itu.

kadang juga mereka keliatan kaya ga peduli kalo kamu sedih. padahal sebenernya mereka gak mau ngeliat kamu sedih. rasanya mereka pengen meluk kamu, ngapus air mata kamu, dan bilang,"jangan sedih lagi ya sayang. kan masih ada aku yang sayang kamu." atau kata2 sejenis itu. tapi yang akhirnya keluar dari mulut mereka,"Udah, gak usah nangis. Jangan dipikirin."

orang2 cuek biasanya jauh dari kata romantis. mereka emang ga bisa ngebuai kamu dengan sikap2 romantisnya. tapi percaya deh, mereka sebenernya berusaha untuk bisa keliatan romantis walaupun bagi kamu itu belom romantis. misalnya mereka berusaha nahan ngantuk buat ngucapin selamat ultah pas jam 12 malem pas hari ultah kamu. atau mungkin bikin kejutan2 kecil yg bagi kamu ga berharga sama sekali. padahal butuh perjuangan buat mereka ngelakuin itu.

mereka jarang sms atau telpon kamu. bahkan untuk sekedar nanya,"Sayang, lagi ngapain? udah makan belom?" itu rasanya berat banget. tapi bukan berarti mereka gak mikirin kamu. mereka cuma bisa bertanya2 dalam hati. "gimana kabarnya hari ini?" , "dia lagi apa ya?" , "udah makan belom dia ya?" , "lagi sama siapa ya?" mereka cuma nungguin kamu yang ngasih kabar ke mereka. dan waktu kamu udah ngasih kabar, hati mereka rasanya lega karna semua pertanyaan di hatinya udah kejawab.

yang paling parah, ada orang cuek yang kalo suka sama seseorang, gak mau nunjukin perasaannya ke orang itu. bahkan sampe orang itu cape nungguin pernyataan cinta trus akhirnya punya gebetan baru, mereka cuman gigit jari dan gak bisa ngelakuin apa2 buat nyatain perasaannya kalo mereka bener2 cinta sama orang itu.

yang terakhir, sebenernya orang2 cuek itu bener2 gak mau kehilangan orang yang disayang, sama kya orang2 normal lainnya. tapi anehnya, mereka gak bisa nahan kamu waktu kamu bilang udah gak tahan sama sikapnya yang cuek. mereka cuma bisa pasrah ngeliat kamu pergi. tapi percayalah, dlm hati mereka, mereka bener2 cinta dan sayang kamu. mereka cuman mau yang terbaik buat kamu. biar kamu bisa bahagia, bukan menderita hidup sama orang cuek kaya mereka."

(http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5787494)

Sabtu, 13 November 2010

The Saddest Thing Today... (131110)

Nggak bisa berkata apa-apa..
Sakit rasanya ketika menyadari cinta kita diujung jalan.
Ya Rabb,, teguhkan kami menjalani uji-Mu, kuatkan kami meniadakan benci dan menyatukan kekurangan kami..

Kamis, 11 November 2010

Sepucuk Surat... (part 1)

Well,,
Terimakasih buat 1 tahun yg brarti buat aku.
Aku tau, kisah kita terlalu jauh untuk dikatakan "indah".
Terlalu banyak airmata malah...
(tentu saja itu airmataku)
tapi aku besyukur sudah mengenalmu.
Sebelumnya,
aku nggak kenal apa itu "Kebahagiaan", ato apa itu "Sakit Hati"
(tentu aja aku bicara diluar konteks keluarga).
Sampai akhirnya aku tau 2 rasa itu dari kamu.
Bahagia,,
krn tiap aku terluka kau slalu ada,, memaksaku utk menangis didepanmu,, tapi kamu juga yg menenangkan dan menghapus airmataku...
Sakit hati,,
saat aku menyadari ketika aku melangkah arungi gelapnya hidupku,,, kau tak ada disampingku tuk temani aku.
Terimakasih sudah mengenalkan aku pada 2 rasa yang tak bisa kulupakan itu.
Jujur, selama ini aku menjauh karena ingin kamu ikuti.
Menghilang ingin kamu cari,
menjatuhkan diri karena ingin kamu tangkap,
dan menutup hati karena ingin kamu yang membukanya.

Kita tau, 1 tahun bukan waktu yang singkat untuk dilupakan,
apalagi kita mengawali kisah kita dengan indah, seindah kenangan yang menyertainya.
So, terimakasih karena kamu sudah berkomitmen mengakhiri ini dengan indah pula.

Mungkin sekarang saatnya aku berdiri dan mengucapkan "Selamat Jalan" atau mungkin "Sampai Jumpa Lagi".
Karena aku tak pernah mau mngucapkan "Selamat tinggal" padamu..

Terimakasih..
Terimakasih untuk hidup yang indah,
Terimakasih untuk kenangan yang brarti,
Terimakasih untuk akhir yang tak tlupakan.
Terimakasih untuk semuanya..

Aku tau kamu bisa,
dan aku-pun pasti bisa.
:)

Sepucuk Surat (part 2)..

Apa jadinya ..
Jika sseorang yg sedang rapuh & sangat terluka spertiku, bertemu dengannya.
Ssorg yg "sangat meneduhkan".
Bukankah aku akan mjadi sangat mudah jatuh hati padanya ??
.
.
.
Tapi memang bgtulah adanya.
Aku mulai merasa apa yg tak ingin aku rasakan.
Aku tak ingin jatuh hati padanya.
Bukan karna tak serius.
Tapi karna aku takut merubah keadaanku yg tlanjur lekat padanya.
Aku takut kehilangannya.
.
.
.
Aku takut..
Takut..
Aku ingin bicara..
Tp aku takut !
Yang kubutuhkan hanya ruang untuk bicara..
Dengan jaminan tak kan ada keadaan yg berubah..
Ketakutan yang tak masuk akal sbenarnya..
.
.
.
Tapi Stakut apapun aku utk mjelaskan smua yg aku rasa,, ternyata tak ckup mampu membendung aku utk bicara.
Aku tak tau mengapa.
Tapi kgelisahan ni terlalu menjepitku.
And foilla.!!
Tiba-tiba
Aku sudah jujur ttg smuanya padanya.
.
.
.
And now.. Lihat apa akibat kjujuranku mngatakan apa yang aku rasa.
Mungkin ini memang suatu ksalahan.
But its true.. Aku gg bsa nahan apapun..
Terlalu lama aku menutup hati..
Namun beberapa hari ni mulai terbuka.
Sampai akhirnya aku memilih suatu kebodohan ini..
Dan jika ini jadi tak baik..
Bukan tak mungkin aku menutupnya kembali untuk waktu yg lebih lama.
Sekedar menyembuhkan luka...

Sepucuk Surat.. (part 3)

Nah ya..
1 lagi keadaan yang "salah" mnrutku.
Suatu dampak kputusan bodohku, seperti yang kubilang di suratku sebelumnya.
Mungkin memang aku yg bodoh.
Aku yg bharap trlalu tinggi.
Atau aku yg gg bisa mngerti ?!

"Keadaan yg salah" kubilang,
kenapa?
Krna semuanya jauh berbeda.
Dasar bodoh !!
Dari awal kan aku sudah tak ingin mrasakan jatuh ati ?!
Aku takut mrubah keadaan awal yg sudah amat dekat n tbuka.

1 tahun aku hidup dalam bayang semu.
Sok tegar, Sok tak terpengaruh.
Tapi sbenarnya hatiku munafik !!
Nyatanya Aku rapuh !!

1 tahun pula aku mnutup hati.
Sok gg btuh cinta, sok ceria.
Tapi lagi-lagi, hatiku munafik !!
Sebenarnya Aku Lemah !!

Keadaan yg Memuakkan kan?

Lalu aku tak tau bgaimana ia masuk dKhdupanku.
Aku tau hatiku mrasakan ssuatu.
Tp tnyata mulutku terdesak untuk berkata, "Aku takut Sayang sama kamu".

Lalu keadaan mjawab, aku dan ia selangkah lebih maju, bersama.
Tapi aku tak tau awalnya.
Mungkin dsinilah ksalahanku...

Aku mulai mpercayakan hatiku.
Aku mulai mjaganya untukku.

Walaupun sbenarnya aku & ia tau, aku tak seperti yg diinginkannya.
inilah ketakutanku.
Mungkinkah ia mjalani smuanya krna tak mau mngcewakanku ?
Mungkinkah ia mlalui waktu bsamaku krna takut melukaiku ?

Aku tak pernah mau mmaksanya..
Aku tak pernah mau mnyiksanya..
Tapi jika memang begitu keadaannya,
Lalu apa yg harus kulakukan sekarang ?
Wajarkah jika hatiku meragu ?

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir