Tampilkan postingan dengan label Puisi - Curahan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi - Curahan hati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

Biarkan Kerikil..

Biarkan kerikil itu
tetap didadaku
Biarkan kerikil itu
mengusam dan berdebu
Seiring berjalannya waktu
Biarkan dengan kerikil itu
aku hapus
Sebuah nama yang tlah lekat,
pekat,
dihatiku...

Namamu.

Senin, 10 September 2012

DIA TAU


Dia tau. Dia tau aku takut terjatuh.
Dia tau tapi tak ingin beranjak. Malah menghempas semakin deras.
Dia tau, Dia tau aku takut terhanyut.
Dia tau tapi tak berhenti mengalir. Malah mengikis semakin tipis.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku tak ingin berada dalam dekapnya.
Dia tau tapi tak ingin melepas. Malah memegang semakin erat.
Dia tau, Dia tau aku tak ingin membuang pembatas.
Dia tau tapi tak juga berpisah. Malah meruntuhkannya dengan tanganku.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku memenjarakan kemungkinan.
Dia tau tapi tak juga melawan. Malah membias tipis sulit ditepis.
Dia tau. Dia tau aku melawan kebersamaan.
Dia tau tapi tak juga membiarkanku sendiri. Malah menjelma dalam bisik mengelitik.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku ingin bukan ini.
Dia tau tapi tak juga menepi. Malah beredar penuh tanpa peduli.
Dia tau. Dia tau aku tak ingin mencintai.
Dia tau tapi tak berhenti. Malah mencipta semesta disayangi.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku menolak.
Dia tau tapi tetap membawa gejolak. Malah semakin menjebak.
Dia tau. Dia tau aku ingin berkata 'tidak'.
Dia tau tapi tetap membujuk. Malah semakin meremuk.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku berusaha mengabaikannya.
Dia tau tapi tetap terjaga bersama. Malah semakin dekat tanpa diduga.
Dia tau. Dia tau aku pintar menepis rasa.
Dia tau tapi tetap tau caranya. Malah aku semakin khawatir karenanya.
Dia tau.

Tapi
DIA tau. DIA tau aku rapuh.
DIA tau tapi tak berhenti membuatku berusaha. Malah membuatku bertanya.
Benarkah DIA tau dalam diamNya?
Benarkah DIA (sudah) tau aku semakin terlena?
Benarkah DIA (ingin) tau bagaimana aku melawan daya?

yang kutau, Dia tau dan tetap berjalan dalam ketakutanku.
Dan DIA tau, aku bimbang. Dalam jalan bermuara DIA atau Dia.
Aku ingin DIA dan Dia tau aku bimbang dalam ketidaktegasanku.
Aku ingin DIA tau aku membutuhkan cara agar Dia berhenti tau.

Dia tau.
DIA-pun tau.
satu-satunya yang kutau adalah D-I-A-T-A-U.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Dipelupuk Matamu


Mencumbu waktu 
mengiris beku
Mencinta semu
Bagai memberi makan benalu

Mencumbu ruang
Menepis bayang
Mencintai serupa menambang
Mengambil secuil membuang sembarang

Seperti udara yang tersedia tanpa ada habisnya
Seperti air yang tak ada hentinya mengalir
Walau keruh, tetap dirasa jua
Adakah tersisa?

menggiring memori
membangkitkan getar silih berganti
Tatkala debur gelora menyapa denyut nadi
Seiring kita bertaut tuk pertama kali
Meniadakan benci
Meretas cita di pelupuk matahari

Namun kini,

Mencumbu haru
menyerbu pilu 
Dan jika kasih menetas tanpa jemu
Kusapa kembali ketika kita bertemu

dipelupuk matamu.

Maka Pantaskah?


Dalam derapnya, ada tekad tersilau lelap
Dalam tegapnya, ada tegar termakan gelap
Lalu kita menuntut sebuah harap
'Berikan maaf, tolong berikan maaf..'

Pada padang ketika mendung datang
Pada ilalang tergoyang udara gersang
Kita membiarkan pinta berkumandang
'Berikan tenang, tolong berikan tenang..'

Namun pada saatnya terdekap dunia
Namun pada saatnya terbuai ceria
Sesuatu terlupa (tanpa) disengaja

Maka pantaskah kita datang kembali dalam aduan lemah diri?
Maka pantaskah kita meminta kembali yang kita tinggalkan sendiri?

Jika mencintai-Nya kita selalu alfa?

Senyap



Senyap
dan terbenam dalam lelap
Tapi tidak bagi secercah cahaya
Dia berjaga 
dan menunggu pagi mengusir dahaga

Lelah letih dari setiap duri
dan semua luka yang tak terperi
menancap dalam, mengukir kelam
dan dia yang tersungkur terlebur dalam kabur

Yang tak berpihak tergeletak
yang sesak lupa letak
hingga ceria enggan mengusir nelangsa
dan biarkan berjelaga
kandas selamanya


Jumat, 14 Oktober 2011

Sudah Berapa Lama Tidak Hujan, Ya Rabb ?

Sudah berapa lama tidak hujan ?

Aku sudah rindu berlari dibawahnya dan membiarkan air dari sudut mataku menetes bersama hujan.

Sudah berapa lama tidak hujan ?

Sudah terlalu keringkah hati dan jiwa ini untuk terbasahi kembali ?

ingin sekali kulempar semua ini dan berteriak, Aku rindu hujan !

Betapa ingin aku memeluk semua ini untuk meniriskan resahku.

Aku rindu hujan yang membawa rinduku padanya.

Hujan yang membawa semua asaku tentangnya.

Hujan yang membawa bayangnya menemaniku.

Hujan yang menceritakan ketulusannya.

Hujan yang menghapus semua sedih dan keraguanku.

Hujan yang mendinginkan aku ketika berkobar dalam apiku.



dan Hujan lah yang menjadi alasanku bersamanya.

Hujan yang membuatku gelisah dan begitu tenang disaat yang sama.

Hujan yang membuatku sangat lemah dan sangat kuat disaat yang sama.

Hujan yang membuatku sangat kekanakan tapi juga sangat dewasa disaat yang sama.

Dan Hujan...

yang membuatku bertahan ketika aku begitu ingin menyerah.

Karna hujan adalah nafasnya dalam nafasku.

Hujan adalah dirinya dalam diriku.



Hujan yang tenang itu... DIA.

Kamis, 11 November 2010

Biarkan Bunga Rumput itu Tetap Menari.

Bunga rumput itu tertunduk lesu
Menari dialunan permainan sang waktu
Serapuh batang rerumputan layu
Sekering udara gurun yang beradu
Saat kau dan aku bertemu

Dan kau selalu bilang,
` Takkan kubiarkan bunga rumput itu tetap menari
Jika sang angin membuainya terlalu tinggi
Jika Mentari janjikan sinarnya sendiri
Tapi sbenarnya semua itu tak ada arti.. `

Kamu juga selalu bilang,
` Takkan kubiarkan bunga rumput itu tetap menari
Jika Leluasanya mbuatnya berpaling dari sini
Jika lambaiannya isyaratkan salam utk pergi
Dan mredupkan keindahan ilalang yg jua hampir mati.. `


Tapi , Kusadari itu hanya mimpi
Ketika kau katakan padaku kau tak rela mLepasku dari diri,
tapi nyatanya kau tak datang kembali
Aku bilang,
` Biarkan bunga rumput itu tetap menari
Karena harapnya tlah terkhianati
Karena kelopaknya tlah terhempas dari pelangi
Leluasanya tak mampu menahanmu disini
Lambaiannya isyaratkan kau pergi
Sang angin tlah mbawamu berlari
Mentari pun tak sanggup dpandangnya lagi

Pada bunga rumput itu tertinggal janji
Tapi sang pejanji tlah mengingkari
Shg batangnya tak mampu tegak Lagi
dan meski hati tak kuasa melihatnya berjuang hindari mati,
kumohon...
Biarkan Bunga Rumput itu tetap Menari.

Harusnya

Harusnya kau ingat kata-kataku ini, cahayaku..
Bahwa aku slalu menyisakan ruang dihatiku, untukmu
Karna aku takkan sanggup ucapkan kata yg begitu menyiksa
Dan aku takkan sanggup jua, bila harus kehilanganmu..

Harusnya kau dengar kata-kataku ini, cahayaku..
Kan ku teriakkan namamu,
Agar sang mendung tak tutupi sinarmu tuk terangi gelap hampanya hatiku..
Agar sang bintang menolongku mengatakan padamu,
Betapa aku ingin slalu menahanmu..

Harusnya kau tau kata-kataku ini, cahayaku..
Takkan ada yg mampu melebihimu meracuni hatiku..
Takkan ada yg mampu mengingkari hidupku yg lekat akan bayangmu,
Hingga ku tak bisa lepas darimu..





(Dariku Diujung Senja)
- Malfactor-

Aku dalam buai permainan Sang Waktu.

Aku merasa jadi pecundang yang dipermainkan Sang Waktu
Disaat aku memaksa hatiku bertahan dalam penantian
Menunggu
Menunggu saat yang tepat tuk mendekap erat hatimu
...
Aku berusaha mengalahkannya untuk bisa bersamamu
Tapi apa ?
Tak ada bias harap yg ia sisakan disana
Lihat aku disini
Mencari sisa kenangan yg terpatri
yang berserakan,
berceceran,
setelah semua terhancurkan
Dan ia hanya tertawa,
seolah aku tak merasakan apa-apa.
Taukah ia?
Aku baru saja kehilangan asa karenanya !
Aku seolah menatap bayangan cermin yang bisu
Ketika kita duduk bersama saat itu
...
Taukah kamu ?
Belum hilang,
Belum hilang segenap rasaku
Belum musnah,
Belum musnah segala hasrat yang tersirat
dan belum sempat,
Belum sempat ku eratkan jemariku menggenggam tanganmu,
Belum sempat ku lingkarkan lenganku memelukmu,
bahkan belum sempat bibirku bertutur betapa aku merindukanmu !
Sang Waktu sudah menghimpitku tuk kembali tersadar ,
Bahwa ku tlah harus meninggalkanmu dengan serpihan hati yang tersebar ,
yang terburai sebelum bisa ku rangkai
Bersama bingkai bingkai indah sentuhanmu
...
Apa yg terjadi tadi
takkan berhasil menguatkanku lagi
untuk berdiri tegak menjalani hari
dan bertahan menanti saat ku dapat bersamamu kembali .

The End

Yaa...
Aku nangis..
emang.
gg boong deh..
Tapiiii,,
tanganku ternyata gg bisa berhenti menulis.
Ehm.. Memang dengan gemetaran nahan rasa sih..

"..Saat ku mengingatmu
Ku coba tuk tak menangisi kepergianmu
Walau aku tak pernah tau
Dengan apa kutiriskan perih dihatiku.
Sesuatu ikut terenggut dari jiwaku
Seiring ku kehilangan sejuta bayangmu
Tapi akhirnya,,
kulepas kau dengan rasa terluka
Sulit memang tuk ku lakukan
Namun yakinku Tuhan memampukan
Hanya tak putus harapan
yang slalu disertai permohonan
ku biarkan kau berlari mengejar mimpi
Lalu ku awali lagi hidup ini
Biarlah kenanganmu menjadi doaku,
Tuk iringi segala langkahmu.."



Awalnya aku marah..
Kenapa tak ada yg mampu mhiburku ketika ku terluka..
Tapi kini aku sadar,
semua itu karna memang hatiku terlanjur tak bisa dihibur...

Thanks.. untuk penggalan dunia yg kau hadirkan untukku.
Thanks.. untuk Belahan alam semesta yg kau tunjukkan padaku.
Thanks.. untuk amukan hujan yg kau tundukkan untukku.
Dan Maaf,, untuk serpihan nelangsa yg kupersembahkan untukmu..

".. Adakah kau rasakan,
debur ombak menyapa denyut nadi
Saat hati kita saling bertautan,
untuk pertama kali.
Kasih, bila sungguh tak mampu ku melepas genggamanmu,
biarkan aku mengingatnya sepanjang waktu
Seperti bintang dalam kelam,
yang tak jemu bertutur tentang indahnya malam.."

.
.
.
-Dariku-
(( yg meniadakan benci, meretaskan cinta dipelupuk matahari ))

Karna Ku Tau Ini Cinta

Inspiring from one of my friend,
(( dedicate to : sobatku, & seseorang yg gg bisa ditag disini ))

Terlalu dalam
Memang terlalu dalam
Bahkan untuk tertulis disini
Jutaan kata-pun tertunduk dhadapan rasa ini...

Terlalu besar
Memang terlalu besar
Bahkan untuk terungkap disini
Dunia-pun trasa kerdil dhadapan rasa ini...

Terlalu lekat
Memang terlalu lekat
Bahkan untuk mninggalkan disini
Lalu aku jatuh saat ingin menjauh dr rasa ini...

Kadang kurasa cumbuimu dlm mimpi
Sebab cintaku yg sederhana tersilaf dhidupmu yg begitu tinggi
(tuk kuraih)
Namun tiap kucoba tutup mata
Bayangmu tlalu nyata tuk ku dustai...

Tersesak stiap kulawan hati
Tsungkur lebur jika kuputuskan pergi
Kini harapku tetap tinggal bersamaku
Kamu, nafasmu, beserta detail tentangmu
Juga harapku angin bawa kabar ini padamu,
Karna ku tau ini cinta.

A story of This day.

Rinduku terpenjarakan amarah
Membuatku tak mampu menyentuhmu
Pula ketika sikapmu seolah menyentakkan asa-ku tanpa arah
Yang begitu ingin mendekap tubuhmu dan menelusuri hatimu
Hanya tuk menerka,
Apa yg kau rasa juga sama ?
Namun jika tembok kekakuan itu terlalu tebal membalut kita,
Apa daya usahaku tuk teriakkan rasa ?
Walau-pun ku coba tuk menghancurkannya,
Agar ku bisa guratkan senyummu seperti semula
Percuma
Tetap tak kutemukan celah
Tuk melarikan cinta,memeluk tubuhmu, meluapkan seluruh gelisah
Terburai sebelum sanggup kugapai
dan Kau tau pasti,
Betapa menyesakkannya keadaan seperti ini.

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir