Aku merasakan angin berhembus menerpa seluruh tubuhku, dan detik itu juga kurasakan setiap sel-ku meluruh bersamanya.
Bagai ribuan daun kering yang terbang tertiup Sang Sepoi, mengantarkan bayangmu kembali menjadi raja.
Sama seperti ketika kau menatapku seolah aku permaisyuri yang tercipta untuk menemanimu.
Lalu kau dengan mudah dapat gagah duduk bertakhta dalam singasana : Memegang tampu kekuasaan atas seluruh kerajaan kataku.
Betapa dahsyatnya, bukan? Padahal yang kau lakukan sederhana. Hanya tersenyum dan memandang.
Namun ketika tatapanmu membidik setiap angle yang membentang dihadapmu, aku seolah menemukan kacamata baru. Segalanya sewarna syahdu.
Membelai dan mengembangkan hatiku, sehingga seluruh alveolusnya menyesap setiap unsur oksigen dan melempar jauh udara sisanya.
Aku seolah dialiri matriks kehidupan yang baru. Aku seolah dihidupkan kembali dari kematianku.
Betapa dahsyatnya, bukan? Padahal yang kau lakukan sederhana. Hanya memandang dan berlaku apa adanya dirimu.
Namun ketika kau bergerak dalam sudut ruang mataku, aku seolah menemukan sinar energi baru pengganti matahari. Segalanya seolah berseri.
Menarik urat pipiku dan melengkungkan garis ceria yang meluncurkan namamu dengan fasih, dan dengan doa penuh kasih.
Aku seolah berada dalam panel surya yang mempu menyimpan gemerlap nirwana untuk bangkit dan bersinar selamanya.
Kau Luar biasa. Serupa dahsyat kau cipta kembali, namun dalam atmosfir nelangsa yang tak ku kira sebelumnya.
Kau memutuskan berhenti berevolusi mengelilingi bumiku.
Kau bilang kau lelah menjadi surya dalam terangku, atau menjelma bulan dalam gelapku.
Kau bilang kau lelah meniup angin dalam gerahku, atau meretas hangat dalam beku-ku.
Kau bilang aku labirin dengan banyak jalan buntu.
Kau bilang aku tebing dengan banyak batuan curam yang menjatuhkanmu.
Seketika badai menerpa habis setiap selku.
Kemudian dengan kejam angin menerbangkan setiap serpihanku menuju tempat yang aku sendiri tidak tahu.
Aku hanya tak bergeming, aku masih disini menunggumu memungut setiap bagianku yang berterbangan dan meletakkannya lagi dalam pelukmu. Namun ini sudah lebih dari empat-belas purnama, dimana kau berada? Tahukah kau baru saja Sang Pipit mengabarkan padaku bahwa kau telah berdua?
Sayangku, kini mereka mengatakan aku telah redup dan tak punya cahaya kehidupan. Kenapa kau meninggalkanku terpanggang kenangan?
03032013
Minggu, 21 April 2013
Menelan Rasa
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.22
Labels: Coretan Kosong, Prosa, Tulisan Bebas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar