Minggu, 21 April 2013

Well, Hari Kartini dan Wanita


April.Setiap mendengar kata April, otak saya tidak hanya secara otomatis mengingat tanggal kelahiran saya, tetapi juga tanpa sadar mengaitkan april dengan sebuah nama yang sudah sangat kita kenal: Kartini. Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia.

Sejenak menilik sejarah Kartini,Wanita yang namanya menjadi salah satu nama yang paling dikenang di Indonesia ini harus menjalani masa pingitan. Adat istiadat tidak mengijinkan Kartini bebas berkomunikasi dengan dunia luar, dia hanya menunggu seorang pria pilihan ayahnya, untuk menikahinya. Ayahnya juga menolak keinginan Kartini untuk melanjutkan sekolah dan dia mulai terganggu dengan pemikiran-pemikiran feodal Belanda. Sejak itu, jiwa muda Kartini meletup-letup. Dia bahkan mendirikan sekolah Kartini dan melakukan berbagai perubahan.

Kembali ke potret wanita saat ini. Disini kita tidak lagi akan menyoroti kenapa wanita indonesia yang sekarang tidak bisa berjuang seperti Kartini. Tidak. Karena jelas sekali masa yang dilalui sudah berbeda. Dewasa ini, perhatian kita akan sosok wanita ideal menemukan kiblat baru seiring munculnya budaya pop saat ini. Setidaknya, Katini tidak lagi menjadi idola. Wanita selalu digambarkan sebagai makhluk pesolek yang lemah lembut. Iklan-iklan di televisi memberikan standar baru dalam definisi ‘cantik’. Kulit putih, rambut lurus dan lembut, langsing, dan sebagainya. Hal ini juga sedikit didongkrak oleh rilisnya berbagai jenis tayangan di Indonesia. Salah satunya film Habibie dan Ainun. Yap! Sadar atau tidak, sejak kemunculan film ini, banyak wanita—khususnya yang sudah berpasangan—menemukan demam baru. Romantisme Ainun seperti menghipnotis wanita inonesia, terutama para remaja untuk memujudkan kisah cinta seperti dalam film sehingga mau melakukan apa saja. Terutama dalam urusan berdandan dan berpacaran. Ups! Maaf. Tapi memang iya. Kesempatan kita untuk memperoleh kebebasan seluas-luasnya sangat percuma kalau hanya dilalui dengan hal-hal macam demikian.

Padahal kita diciptakan tidak dengan hakikat yang seperti itu. No. Kita diciptakan sebagai makhluk yang kompleks. Kecantikan kita tidak bisa dinilai hanya dengan segala bentuk kecantikan fisik atau mewujudkan kisah cinta yang indah. Jelas sekali, sebagai pewarna peradaban, banyak sekali yang harus kita lakukan sebelum memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan bersolek. Tidak perlu membuat definisi yang muluk-muluk. Mempercantik kepribadian, tentu menjadi hal yang paling utama. Mempercantik cara berfikir dapat menjadi prioritas selanjutnya. Kita juga dituntut untuk melakukan sesuatu untuk kemajuan sesama. Bahkan jika itu hanya sekedar berbagi motivasi dengan orang lain untuk berbuat sesuatu menuju kearah yang lebih baik. Girls, We are Full Passionate just like Beryllium, Precious like Gold, and Strong like Titanium. Because We are ‘Be Au Ti’ Full.

0 comments:

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir