Tampilkan postingan dengan label Kepedulian - Kemanusiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepedulian - Kemanusiaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Desember 2012

Menyoal Jarak, Antara Kita


Senja kemarin menghantarkan aku merenungi semuanya. Semuanya.
Dan pertanyaan lama yang kukubur dalam-dalam kembali menyeruak masuk ke dalam otak.
'Bagaimana bisa manusia mempunyai jarak yang tak bisa diukur dengan manusia lain?'

Dulu, sebelum berkemas meninggalkan kota kelahiran, satu-satunya keyakinan yang membawaku melangkah adalah soal paham, dimana aku mengira jika semakin cepat saya beranjak pergi, semakin cepat pula apa yang selama ini kubahasakan secara tersirat mampu dimengerti.
Tapi tidak.
Manusia tidak diciptakan untuk mengerti kebisuan orang lain. Begitu pula orang-orang ini.
Orang-orang yang membuatku merasa kalau dicintai oleh mereka justru merupakan sebuah tancapan duri.
Tunggu, aku tidak bicara tentang cinta dengan orang yang kusukai.

Setiap orang pasti mendamba untuk dicintai. Tetapi tidak bagi sebagian orang.
Dicintai kadang membawa beban yang terlalu berat, terlalu menekan dan membuat tertekan.
Hingga pada detik selanjutnya kita tidak tau apa yang harus kita lakukan.

Hingga saat ini, ketika orang lain menyoal betapa mereka dicintai dengan cara yang mereka ketahui dan mereka inginkan secara sadar, aku hanya tersenyum.
Pasti banyak orang diluar sana yang ingin sekali memiliki perasaan seperti itu.
Dicintai dengan cara yang kita ingini. Atau disayangi dengan kebebasan berkomunikasi.

Tulisan ini mungkin mewakili mereka yang tak nyaman dengan hidupnya.
Yang merasa punya kasih sayang tapi rasanya gersang.
Tak apa. memang untuk itulah tulisan ini dibuat.

Kadang timbul tanda tanya besar dalam diri saya :
'Bagaimana bisa seseorang yang hidup dengan orang lain selama bertahun-tahun tapi tetap mempunyai jarak?'
padahal mereka menghabiskan banyak waktu bersama, melalui banyak peristiwa bersama.
Tapi tak kunjung bisa terbuka.

Menjaga perasaan masing-masing mungkin menjadi satu-satunya alasan yang kuat tapi tidak masuk akal.
Dan itu dijalani sepanjang hidup. Betapa menyiksa.
Dulu saya juga berfikir, kenapa kita bisa sedemikian hancur ketika seseorang tidak memahami apa yang kita rasakan.
Sekarang saya mengerti kenapa.

Setiap orang pasti mempunyai keinginan, dan orang lain juga punya keinginan atas orang tersebut.
Dan jarak terjauh yang bisa terjadi adalah ketika kedua keinginan itu tidak tersampaikan dengan baik. Atau tidak saling berlaku satu-sama lain.

Dua orang yang sudah bersama bertahun-tahun tetapi tak juga bisa saling meyelami isi hati masing-masing.
Sama-sama ngotot.
Sama-sama tak mau mengalah.
Sama-sama merasa paling benar.
Hingga satu-satunya perasaan yang bisa dirasakan hanyalah 'Hampa'.
dan satu-satunya anggapan yang bisa terpikirkan hanyalah : 'Semua yang kulakukan untukmu tak pernah berharga.'

Dan puncak terburuknya adalah ketika salah satu sudah merasa lelah dan tak lagi peduli.
Tak lagi peduli bagaimana bertindak dengan baik.
Tak lagi peduli bagaimana bersikap dengan baik.
Tak lagi peduli untuk melakukan semuanya sebenar mungkin.
Tak lagi peduli dengan mengecewakan dan dikecewakan.

Maka dari sekarang, seandainya bisa, banyak orang pasti meminta dilahirkan kembali sebagai orang yang sama tapi dengan kehidupan berbeda.
Dimana bicara bukan lagi menjadi halangan.
Dimana bicara dari hati ke hati bukan sesuatu yang sulit.

Mungkin memang iya, satu-satunya hal yang membuat hidup ini 'tak tertahankan' adalah orang-orang yang kita cintai.
Dan aku kembali berharap, Semoga tak ada lagi keinginan seperti beberapa tahun lalu untuk yang kedua kali.

That's why, I never tell you that I love you, M**.
Aku takut bahwa kata sesederhana itu tak juga bisa dipahami maksudnya.
Maaf. :)


Kamis, 16 Agustus 2012

Selamat Ulang Tahun Indonesiaku.


Besok negara kita Ulang Tahun loh..
sekedar mengingatkan aja sih.. kali aja ada yang belum tau.

Kenapa saya bilang Ulang Tahun dan bukannya peringatan Kemerdekaan?
Karena saya setuju dengan banyak statement yang mengatakan negara Indonesia belum sepenuhnya merdeka.
Tenang saja. disini kita nggak akan membicarakan sejarah negara yang penuh dengan peristiwa dan tanggal-tanggal penting--yang bahkan hingga usia saya yang ke-18 tahun ini--belum benar-benar dimengerti.
Padahal sejak SD kita sudah dijejali pelajaran sejarah bangsa kita tercinta ini.

Sudah bisa ditebak jika mendekati hari besar negara kita ini seluruh jejaring sosial akan penuh dengan ucapan nasionalisme dari seluruh warga Indonesia.
Itu baik sekali kan? tandanya masih banyak warga se-negara yang ingat betapa berharga hari bertanggal 17 Agustus itu.
tentunya kita semua berharap itu tidak sekedar kata-kata tanpa makna.

Indonesia.
Setiap kali mendengar nama itu yang terlintas dipikiran saya adalah suatu negara yang complicated. Dimana semua urusannya baik yang kecil maupun yang besar saling membelit dan susah diuraikan.
Mungkin karena otak warga kita yang belum sampai, atau memang karena masalahnya luar biasa hebatnya.

Tadi  pagi (16 Agustus 2012), bapak berpesan sebelum pergi.
'Dengarkan pidato kenegaraan SBY di _______ (sensored-, salah satu stasiun televisi swasta). Lihat apa yang beliau sampaikan.'
Dalam pidato tersebut, Bapak Presiden banyak menyinggung isu internasional dan kedudukan Bangsa Indonsia di mata dunia.
Yaa.. itu bagus. hanya saja saya takut kalau masalah di domestik justru 'terlupa' untuk dibahas. padahal, bagaimana-pun urusan dalam negara justru jauh lebih penting.

Setelah bapak Presiden berpidato, segala macam testimoni rakyat muncul. ada yang menghujat, ada juga yang menilai baik. saya justru berfikir kalau masalah yang membeli bangsa kita itu sebenarnya justru masalah-masalah kecil.
Saya jadi ingat bagaimana sikap kita sebagai supporter bola untuk TIMNAS kita.
ketika mereka menang, kita memuja bak pahlawan super.
Giliran ketika mereka down, cercaan pedas justru muncul dari kalangan kita sendiri.
Hei dude, Can't you see?
bahkan dalam ilmu psikologi juga dijelaskan bahwa seseorang yang hidup suatu lingkungan akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter sebanding dengan lingkungannya.
Ketika dipuji secara berlebihan mereka menjadi terlena.
Ketika dihujat habis-habisan mereka akan mendendam dan semakin tebal telinga.
Nah, kita juga salah kan?

Saya pikir itu berbanding lurus dengan sikap pejabat pemerintahan kita.
Semakin kita menghujat, mereka akan lebih tidak peduli terhadap nasib rakyat.
Mungkin mereka--para pejabat itu-- berfikir,
'buat apa rakyat juga diperhatikan? toh citra kita telanjur buruk. Lebih baik melakukan sesuatu yang berguna untuk diri sendiri dan keluarga saja.'

Selain itu kebanyakan dari kita juga cuek dengan keadaan negara.
'ah, kurang kerjaan ngurusi negara.'
'alah, diurusi juga ngapain? toh nggak ada perubahan.'
Lah kalo kita cuek siapa yang ngawasin negara?
mereka justru leluasa melakukan penyimpangan mbak, mas yang cakep-cakep..

Inilah. Negara kita terjajah oleh perilaku kita sendiri.
Apa yang kita tanam akan kita tuai, ingat?
kalau kita nggak mau peduli ya kita nggak akan dipedulikan.
simple.

Kita perlu mendukung perubahan.
salah satunya dengan percaya dan mendukung kebijakan pemerintah.
Tapi disini saya juga tidak membenarkan jika kita terus mendukung seluruh perilaku pejabat.Tidak.
Kita tetap harus tau batasan sampai mana kita harus percaya dan kapan kita harus bergerak meluruskan yang melenceng.
Kita boleh marah dengan pemerintah tapi TIDAK dengan demo anarkis.
Kita boleh kecewa dengan beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab tetapi TIDAK dengan aksi destruktif.
Apa yang bisa diperbaiki dengan cara seperti itu?
Rakyat justru sebal, dan masalah tidak terselesaikan.
Wibawa kita sebagai pemuda pembawa perubahan hancur. Dan kita makin kalah dengan penyimpangan.

Kritik dan saran bisa disampaikan dengan lebih baik.
lewat media masa, lewat musyawarah, atau apa saja yang menarik simpati msyarakat.
Shock terapy  boleh juga.
tapi ada tempo dan strateginya. Bukan asal nyeplos kasar dan merusak seenaknya.

Seorang kakak pernah menjelaskan kepada saya kalau dalam suatu golongan pasti akan ada orang yang membawa kebenaran. Sekalipun golongan itu bobrok.
Kemudian kenapa kita tidak percaya jika seseorang yang membawa kebenaran itu ada dinegara kita?
Atau malah sebenarnya tugas itu ADA PADA KITA.

Dukung dan Ingatkan negara kita dengan cara yang benar.
Caranya?
Buat dirimu belajar. Persiapkan bekalmu untuk terjun secara langsung. dan jika pada saatnya kau punya cukup ilmu, bangun kembali negara ini dari dalam.
Ah, kamu pintar berteori.
Silahkan berfikir demikian. Tidak masalah buat saya.
Saya juga belajar, sama dengan ribuan pemuda lainnya.

Pemuda Indonesia,
adalah saya, anda, dan ribuan remaja lain yang punya tanggungjawab.
ya kepada orangtua, ya kepada agama, ya kepada bangsa dan negara.
kan gitu yang diharapkan semua orang ketika lahir.
Pas syukuran kelahiran juga sering diucapkan kalimat itu.

Contoh sederhana :
Mengejar prestasi akademik it's OK.
tapi bukan berarti kita tidak bisa belajar memperbaiki negara.
Coba pikir. bahkan melalui mengejar angka prestasi juga kita bisa belajar berbangsa dan bernegara.
Bahkan ada wacana mata kuliah dan mata pelajaran anti korupsi.
Kita tinggal menguasai materi kuliah dan mampu mengembangkan dan mengimplementasikan.
Kita tinggal menurut sistem pendidikan sambil belajar untuk apa dan bagaimana sistem itu dibuat.
masalah apa yang berkemungkinan timbul.
tinggal menganalogikan ketika nanti kita terjun di dunia yang sebenarnya, kan?
bukankah banyak dari kita yang meraih prestasi akademik dengan mudah?
seharusnya bisa kan?

Nilai akademik dan prestasi adalah bentuk pertanggungjawaban kita pada orangtua
Apa yang kita pelajari dan pengimplementasiannya adalah pertanggungjawaban kepada agama dan negara.

Bukankah kita hidup, belajar, dan nantinya bekerja di negara ini?
apa kita sampai hati melihat negara yang menjadi tempat hidup kita terkikis dan mati?

Kita tidak perlu berspekulasi dengan debat yang ruwet tanpa hasil.
Kalau menurut saya,
Tinggal jalankan kehidupan kita sesuai dengan kepercayaan kita masing-masing.
Toh dalam agama saya (saya muslim) ajarannya sudah mencakup seluruh aspek kehidupan. termasuk politik.
Kalau kita terbiasa hidup dengan sebenar mungkin dijalan-Nya, kita akan terbiasa menjalankan sistem dengan benar. dan mungkin tanpa kita sadari, itu akan menjadi perubahan besar dalam negara kita.

Everything starts from here.
*tunjukdirisendiri

Sekecil apapun itu.
Bahkan perilaku membuang sampah pada tempatnya bisa menolong negara kita dari musibah banjir kan?
dan banyak yang lain.
Perilaku merawat tumbuhan bisa menyelamatkan negara--bahkan dunia-- dari polusi udara kan kerusakan ozon.
Lihatlah. perilaku kita penting.
Jika belum bisa berdebat dan memikirkan tetek bengek urusan pemerintahan. kita toh bisa berjuang untuk negara dengan cara ini.
#kode

Pemuda,
Besok adalah hari jadi untuk perjuanganmu.
Besok adalah tonggak awal tugasmu.
tongkat estafet sudah siap beralih pengendali.
Maka, mari berlari..

Selamat Ulang Tahun untuk Perjuangan Kita.
Selamat Ulang Tahun Indoesia tercinta..

Sabtu, 04 Agustus 2012

Kembalikan Makna Kebersamaan Ramadhan Kami


Riuh rendah suara anak-anak yang sedang tarawih di mushola yang hanya berjarak kurang dari 20 meter dari rumahku ini mau tidak mau membuat syaraf wajahku menyungging senyum.
Teringat bahwa dulu aku juga seperti itu. Berteriak keras sampai beberapa tetangga memarahi kami.

Hanya saja, Ramadhan disini, di desa kelahiran saya,semakin terasa berbeda dari tahun ke tahun.
Semakin sepi rasanya.
entah apa yang sebenarnya sudah merubahnya.
Jelas sekali tergambar bahwa dulu, tadarusan di mushola ini adalah sesuatu yang menaikkan harga diri kami --anak-anak seusiaku--. Dan mushola adalah tempat bermain kami sambil menghabiskan waktu menunggu buka puasa.

Ketika adzan subuh mulai terdengar, kami, yang notabene masih SD, segera berlari menyambar alat ibadah dan segera berangkat ke mushola sambil membawa Al-Quran dan Buku Kegiatan Ramadhan.
Ah, iya. dulu Buku Kegiatan Ramadhan itulah yang mempersatukan kami, anak-anak sebuah dusun di pinggiran kabupaten ini untuk memenuhi tiap jengkal Ramadhan yang kami lalui.
As you know, Buku Kegiatan Ramadhan adalah semacam paper checklist kegiatan ibadah yang dibukukan. 

Usai sholat subuh, mendengarkan kuliah subuh dari pak Murtadli, imam sholat mushola kami, dan tadarus, seiring dengan mentari yang mulai menunjukkan batang hidungnya biasanya kami menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan keliling kampung sambil membawa petasan korek yang nantinya akan dinyalakan di pematang sawah yang sepi.

Sambil berjalan biasanya kami bersenda gurau. kadang ada juga satu atau dua anak yang kumat isengnya yang bersembunyi dan menakut-nakuti kami ketika rombongan kami terpecah. Seperti biasa, anak-anak perempuan adalah sasaran empuk anak laki-laki untuk ditakut-takuti, baik dengan berpura-pura menjadi hantu atau dengan petasan yang dilemparkan ke arahku dan teman-teman lain.

Setelah matahari mulai dirasa menunjukkan saatnya pulang dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah, Maka kami akan segera menyudahi kegiatan bersenang-senang kami dan melanjutkan rutinitas sekolah yang.. ya.. bisa dibilang cukup membosankan.
Apa sih yang bisa anak-anak lakukan ketika perutnya kosong dan mendengarkan gurunya bercerita didepan papan tulis?
Tidur? jelas tidak. kami cuma menutup mata sejenak. #eh

Kegiatan di mushola mulai berlanjut ketika adzan dhuhur berkumandang.
Setelah beruka puasa --bagi yang puasa mbedug--  kami kembali berkumpul memadu keceriaan di mushola dengan sholat berjamaah, mendengarkan tausiyah (lagi) dan kemudian antri meminta tanda tangan Sang Imam di Buku Kegiatan Ramadhan kami. Oke, Sang Imam mendadak populer dikalangan anak-anak.

Ketika selesai dan Sang Imam melangkah pulang kerumah, kami biasanya menutup pintu mushola dan mulai beraksi di dalamnya. entah bermain karet, main rumah-rumahan, atau apa saja yang menyenangkan.
Bahkan kadang, kami juga bekerja bakti membersihkan mushola lho.. 
kami anak yang manis kan? ini entah karna memang bulan puasa dan setan-setan sedang di ikat dineraka (kata Pak Murtadli) sehingga tingkat kenakalan kami menurun drastis, atau memang karena kebersamaan kami melahirkan banyak niat baik, kami bisa dengan sukarela bekerja membersihkan mushola semampu kami, hingga sholat Ashar menutup kembali pertemuan kami.

Belum lagi kami menyantap habis makanan buka puasa kami, Adzan Maghrib berkumandang.
secara serentak, kami langsung lari ke mushola untuk sholat berjamaah. 
Hahaaa.. kami oke sekali dalam hal ibadah ya? bukan. itu karena kami takut lembar check list buku kegiatan ramadhan kami di bagian sholat maghrib kosong.. #SalahNiat.

Dan tarawih adalah puncak dari hari kami yang melelahkan.
Biasanya, kami akan berangkat awal untuk memenuhi shaf sholat paling belakang padahal baris depan belum terisi. kenapa? Untuk apa lagi kalau bukan bercanda (Semoga Allah mengampuni dosa polos kami).
Biasanya juga, mushola kami akan penuh dengan jamaah tarawih, bahkan sampai ke teras mushola.
Tapi sekarang? 
terisi setengahnya saja sudah bersyukur..

Dewasa ini, saya agak merasa 'kehilangan'.
Saya kehilangan kebersamaan anak-anak sepeti saat saya kecil.
Saya kehilangan rasanya berdesak-desakkan tarawih.
Saya kehilangan riuh rendah suara anak-anak yang tadarus.
Saya kehilangan rasanya melihat anak-anak antri minta tanda tangan.
Saya kehilangan rasanya melihat anak-anak menghabiskan waktu bersama sepanjang hari dalam kegiatan keagamaan kami.

Karena saya sudah tidak melihatnya lagi sekarang.
Bahkan adik saya ketika disuruh tadarus oleh ibu saya, menjawab dengan polos, 'mboten wonten rencang-e og bu.. ajrih kula tadarus piyambakkan..'
Dan saya hanya bisa menghela nafas.
Kenapa sekarang tak ada Buku Kegiatan Ramadhan?
Kenapa sekarang anak-anak lebih suka dirumah?

Anak-anak memilih menonton tayangan televisi setelah sahur.
Anak-anak memilih online atau smsan untuk menghabiskan waktu.
Anak-anak memilih bermain Game di Laptop pribadi atau di Warnet
dan sudah tidak ada Buku Kegiatan Ramadhan yang memacu kami untuk berlomba-lomba rajin ke mushola.

Saya menatap sekeliling saya, dan ingin sekali berkata pada Laptop, TV, Facebook, Game, Handphone, dan sebagainya yang menyita perhatian anak-anak jaman sekarang.
Kembalikan makna kebersamaan Ramadhan kami..

Berhentilah, Sejenak


Hei, berhentilah sejenak dari kegiatanmu. aku ingin mengajakmu bicara sebentar.
Kau tau bagaimana dengung nyamuk ketika kau tertidur? kau terganggu? tidakkah kau menyukainya? 
iya. Suara kecil itu mengganggu. menyulut kekesalanku ketika tidurku terganggu olehnya. 
Tapi tau apa dia tentang kekesalanku?

Kau tau gemuruh petir ketika langit mendung? kau terusik? tidakkah kau menyukainya?
iya. gemuruh itu menakutkan. menyulut kemarahanku ketika dia merusak syahdunya hujanku.
Tapi tau apa dia tentang kemarahanku?

Sama seperti manusia. kadang kesalahan seseorang dapat menyulut kemarahan dan kekesalan orang lain tanpa disadari.

Hei, tolong berhenti sejenak dari kegiatanmu. Dengarkan kata-kataku tanpa harus kamu berpura-pura tak tau maknanya.
Kau tau. dan cukup kau membuatnya rumit dari kelihatannya. Aku sebenarnya benci sekali saat-saat seperti ini.

Aku takut menyinggungmu atau membuatmu membenciku. Tapi aku harus mengatakannya padamu.

Hei, tolong berhenti sejenak dari kegiatanmu. Aku ingin mengajakmu bicara.
Taukah kau yang kaulakukan ini salah? lalu kenapa kau tak punya keberanian untuk menghentikannya?
kau ini tidak mendengarku atau memang tidak mau mendengarkan aku?

Hei, tolonglah berhenti sejenak. aku ingin mengajakmu bicara.
tidakkah kau lelah mendengarku terus-terusan berteriak padamu? sekarang aku ingin bicara dengan tutur kata lembut, sebentar. jadi tolong, dengarkanlah.

Aku sedang dalam kebingungan, kau tau? tentang sebuah kesalahan.
aku bingung bagaimana menyampaikannya.
Kau-lah titik tumpunya. jadi tolong, apapun yang kau mulai harus kau jalani hingga akhir.
Aku ingin sekali berteriak ketika kau tak menghiraukan sindiran halus yang kutujukan padamu.
Aku tidak membencimu. aku hanya ingin kau sadari kesalahanmu.
Tidak. tidak hanya sadar, tapi mampu melakukan tindak lanjut setelah sadar.

Pernahkan kau melakukan kesalahan pada orang lain?
apa yang kau lakukan? mengakui dalam hati bahwa kau salah tapi bersembunyi dari kenyataan?
Kau takut dianggap pesakitan jika mengaku? Kau takut kehilangan yang kau anggap berharga jika mengaku?
Taukah kau diluar sana banyak yang menjadi korban ketidak-tegasanmu? 
seseorang mungkin menjadi yang tertuduh ketika kau sembunyi. seseorang lain mungkin tenggelam dalam kepercayaannya terhadap dusta.

Ini contoh kecil, tapi bukankah ini sering sekali terjadi?
bahwa kita kadang takut mengambil keputusan hanya karena pertimbangan ego kita.

Teman--cukuplah aku memanggilmu dengan sebutan ini--, bukankah kau tau Allah tak pernah meninggalkan umatnya dalam kesempitan? 
Bahkan ketika kita bersalah?
Jadi kenapa kau takut akan dunia yang malah menghimpitmu?
Berserahlah..

Teguhkan niatmu. jika kau merasa sudah melangkah dengan rencana yang benar, maka jalankanlah. jangan khawatir dengan apa yang mengusikmu. karena Dia pasti menggantinya nanti. Bukankah janji Allah pasti adanya?
jika kau merasa berjalan dalam rencana dan menuju tujuan yang benar, maka berjalanlah. jangan khawatir akan sakit hati atau kehilangan yang mungkin akan kau rasakan. karena Dia pasri menggantinya nanti. Bukankah janji Allah pasti adanya?
Kau--atau aku-- pasti akan melewatinya. dengan baik. seiring bantuan-Nya.
Berserahlah..

Jika kau pernah terpererosok dalam satu lubang, maka mengapa kau mengulanginya?
karena masalah itu rumit?

Iya, memang.
Tapi tidakkah kau menganggap ini ujian?
layaknya ujian sekolah, maka kau akan mengulang ujian ketika nilaimu dirasa belum memuaskan.
Remidi istilahnya.
Bukankah ini analoginya?
Jika kemarin kau terperosok dalam satu lubang sebagai tanda kau belum lulus ujian dari-Nya, tidakkah kau berfikir ini --yang kau alami sekarang-- adalah remidinya?
apa kau ingin gagal lagi?
tentu tidak kan?

Jika memang suatu keputusan yang baik akan mendatangkan kehilangan, bukankan Dia akan memberikanmu pengganti yang sepadan dengan usaha dan cinta-Mu pada-Nya?
Jika memang suatu keputusan yang baik akan mendatangkan sakih hati yang kita rasakan, bukankah Dia akan memberika penawar yang lebih manis karena cinta-Nya padamu?

Kau mungkin akan diuji dengan prestasi yang gemilang, Ikhwan/Akhwat yang taat, Atau segala bentuk yang menyenangkan. tapi bukankah semakin berat ujian maka itu sebagai penanda Imanmu?
Bukankan ujian yang Dia berikan pada hambanya sesuai dengan Iman hambanya?
Hingga tiba waktu kau lulus dengan baik, maka bertambah pula cinta-Nya padamu. bertambah pula Ridho-Nya padamu.
Masihkah kau takut?

Hanya karena kau temanmu. aku hanya ingin mengingatkanmu.
melalui ini. Sebagai teman yang harusnya saling mengingatkan.
Aku juga tak luput dari salah, tentu saja. dan kau juga pernah mengingatkanku. Dan kali ini mungkin aku yang berkesempatan untuk berusaha mengingatkanmu.

Kau bisa membuatku bangkit dari masalah yang jauh lebih rumit daru yang kau hadapi.
maka seharusnya kau bisa pula bangkit dari sini.

Maka tegakkanlah badanmu. angkat dagumu.
Evaluasi apa yang telah kita lakukan selama ini. Perbaiki yang kurang banar, sempurnakan yang benar, tambahi yang kurang.
Hingga pada akhirnya nanti kita akan melewati satu-demi satu ujian-Nya dengan memuaskan. dan tiba pada saat kita tersenyum lebar melihat rapor-mu membanggakan.


Mohon maaf atas tuturku yang tak berkenan, kawan.
Selamat Ramadhan. :)

Rabu, 07 Maret 2012

Kita (Selalu) Beruntung karena Memiliki Pilihan

Salam jumpa
:smile
Sudah beberapa lama saya tidak menulis ya?
semoga tidak membuat saya lupa menempatkan kata-kata ini.

Hei, menyusun kata berarti memilih susunan yang paling tepat untuk kalimat yang bagus kan?
Seandainya saya salah meletakkan kata dalam suatu kalimat, maka makna kalimat itu akan berubah seluruhnya bukan?
Seperti itulah pilihan. kadang tidak terlihat penting. tapi ketika salah, dia merubah hidup anda.

Pilihan.
Siapa yang sering dilema menghadapinya?
*tunjuktangan
Saya sering. dan pastinya semua orang diantara kita atau di dunia ini pernah merasakan menghadapi suatu pilihan.
Mungkin kita sering mengeluh,
'aduh.. bingung. pilih ini apa itu ya.. aku pengen ini, tapi itu juga bagus...'

Tapi percayalah bahwa kita selalu beruntung karena memiliki pilihan.
hanya saja kita memang harus berfikir tentang semua hal yang harus dipertimbangkan.
Ketika kita memutuskan untuk menerima lamaran atau melamar seseorang misalnya. kita tidak mungkin memilih dengan cepat dan tanpa pertimbangan kan?

Oke. itu contoh sulit.
ini mungkin lebih mudah. kamu punya pilihan, pergi atau tinggal.
Itu dilema berat bukan?
Ada kalanya kamu harus mengambil pilihan untuk pergi, bukan karena kamu ingin berhenti, tapi karena kamu memang tak mungkin melanjutkan.
Masalahnya adalah bagaimana kita tau kalau kita sudah tidak bisa melanjutkan lagi?
Bingung juga ya..
Ada pepatah mengatakan,
Orang bilang, ikuti kata hatimu. Tapi ketika hatimu pecah menjadi berbagai bagian, bagian mana yang harus kau ikuti?

Kalau saya, saya akan tetap bilang ikuti kata hatimu, tapi biarkan waktu yang menjawab mana dari sisi hatimu yang terkuat.
Hanya saja ditulisan ini saya hanya ingin mengingatakan bahwa kita jangan sampai salah mengikuti nafsu, bukan hati kita.
karena bisa saja, suara keinginan hati kita itu tidak datang dari nurani, melainkan dari nafsu. atau keinginan sesaat.

Untuk yang nerasa sudah mempunyai pilihan, syukurilah.
karena tidak semua orang punya, dan tak semua orang bisa memutuskan pilihan yang tepat.
karena itu, jangan sia-siakan setiap pilihan.
Caranya, berfikirlah tentang siapa kita. apa tujuan hidup kita. apa yang kita inginkan dan sesuai dengan tujuan kita, dan apa yang akan kita kerjakan untuk orang lain.
Hidup ini pilihan, dan kita selalu beruntung karena sudah memilikinya.
Bayangkan jika ada orang lain yang selalu bermimpi untuk memiliki pilihan yang sama dengan kita, untuk memprbaiki hidupnya.
Betapa bergunanya satu pilihan yang tidak kita duga.

Tapi juga jangan asal mengambil pilihan. apalagi jika itu hanya suatu nafsu atau keinginan kita semata.
Misalnya begini.
kita dapat memilih antara pergi dari tempat kerja kita sekarang untuk tawaran pekerjaan lain yang lebih bergengsi daripada pekerjaan kita sekarang, atau tinggal di pekerjaan lama tetapi dengan title tidak sekeren tawaran tadi.
Jika tujuan hidup kita hanya untuk memperlihatkan title yang bergengsi kepada orang lain, kita boleh memilih untuk pergi dari pekerjaan yang lama
TAPI
jika tujuan hidup kita ingin mengabdikan diri pada orang lain walau dengan gaji yang tak seberapa atau dengen title tidak sepanjang pekerjaan baru kita, kita mungkin memilih tinggal.
apalagi mempertimbangkan dampak lain yang akan kita tempuh jika mengambil pilihan lain.

Untuk yang merasa belum memiliki pilihan, Hei. bukannya takdir tidak berpihak padamu. bukan. tapi memang..
ehm.. Rabb sedang membantu kita untuk memilih, dengan langsung menunjukkan padamu jalan yang harus kita tempuh.
Kita akan tetap punya pilihan, dilain kesempatan nanti. yang kita butuhkan adalah bersabar dalam keindahan dan percaya.

Hidup anda adalah akumulasi pilihan anda sekarang.
Jadi, melangkahlah dengan benar. :)

Kita TIDAK Perlu Menebang Pisang untuk Menyelamatkan Rumput. #EdisiKMD

Ini yang saya dapat selama ikut KMD.
KMD. Kursus Mahir Dasar untuk Menjadi Pembina Pramuka.
Keren? Jelas. PGSD punya.
:bigsmile
Kembali pada keadaan saya yang lebih cenderung memilih untuk mencoret-coret menuliskan sesuatu yang tidak penting daripada menuliskan catatan materi, saya tertarik pada satu kalimat ini:
'..Salah satu metode aman dan tidak merusak alam ketika pembuatan api unggun adalah dengan mencabut rumput disekitar area api unggun beserta tanahnya, kemudian di-area tersebut ditaruh batang pisang untuk tempat pembakarannya..'

Dan... Sreeettt..
otak saya tiba-tiba bekerja.
Kenapa harus batang pisang?
kenapa harus mencabut batang pisang untuk menyelamatkan kehidupan rumput?
Cinta alam darimana kalau membunuh satu tumbuhan itu demi tumbuhan lain?
maksudnya gini, apa gunanya kita menyelamatkan nyawa makhluk hidup dengan mengorbankan nyawa makhluk hidup lain?

Mungkin pemikiran saya salah.
Tapi saya bukannya ingin membahas itu, tapi saya ingin menganalogikan kalimat tersebut dalam hidup kita.
kita tidak perlu mengorbankan pisang untuk menyelamatkan rumput.
Maksud saya, kita tidak perlu mengorbankan hal yang lebih besar untuk keterpurukan kita karena masalah sepele.
Mulai mengerti arah pembicaraan saya?
Ya.
Benar. Dalam hal yang kita lakukan kita harus rasional memikirkan segala kemungkinan.
Dan saya rasa, kita-pun pasti juga sudah bisa mempertimbangkan resiko yang kita hadapi.

Pernah sakit hati sampai badmood se-badmood-badmoodnya?
Pernah sedih sampai nangis se-sedih-sedihnya?
Pernah bingung mikirin masalah sampai se-pusing-pusingnya?
Apa yang kita lakukan?
Berdiam diri dan membiarkan hari berlalu dengan duduk nungguin ada orang yang menayakan kabar kita?
Teman, nggak begitu caranya.
Saya pikir bahwa melewatkan semuanya yang bisa kita raih hanya karena kita sedang berada dalam keadaan yang tidak stabil itu merugikan sekali.
Contohnya gini, malam ini kamu bertengkar hebat sama pacar kamu. kamu sedih se-sedih-sedihnya, sampai lupa waktu buat tidur padahal besoknya ada seleksi fungsionaris HMJ atau ada lomba.
Karena kamu sedih kamu lebih milih begadang menyesali kesalahpahaman kamu sama dia.
besoknya telat bangun, kondisi nggak fit, seleksi mggak maksimal, dan sebagainya.
Hingga pada akhirnya kamu nggak lolos seleksi HMJ atau jadi finalis di lomba itu.
itu hanya satu contoh. dalam hidup kita, ribuan kejadian semacam ini banyak terjadi dengan kasus yang berbeda.

Inilah yang saya bilang kamu memotong tanaman pisang hanya untuk menyelamatkan rumput.
Kamu mengorbankan hal yang jauh lebih besar dari masalah yang menyandungmu saat ini.

Saya sedang dalam keadaan seperti ini.
Saya tidak tau apakah keputusan yang saya buat benar atau salah.
Saya tidak tau apakah pilihan yang saya buat benar atau salah.
Tapi bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa
Kehidupan Anda yang sekarang ini adalah kumulatif dari pilihan-pilihan yang anda buat saat ini.
Jadi saya memberanikan diri mengambil suatu keputusan yang sangat menyakitkan untuk saya.
Tapi saya percaya, apapun yang saya pilih nantinya pasti akan memberikan dampak yang positif baik untuk saya atau orang yang bersangkutan.

Teman, keadaan itu tidak pernah berpihak pada kita.
Tidak pernah.
Tapi bukan berarti kita tidak bisa membuat pilihan yang benar untuk meminimalisir segi negatifnya.
Teman, jika kamu sedang terpuruk sekarang, Berdirilah. Tolong berdirilah.
Sudah terlalu lama kamu tersungkur dan membiarkan banyak hal menyenangkan untuk menggantikan kesedihanmu.
Percayalah bahwa yang baik akan kembali baik padamu, seburuk apapun kondisinya saat ini. Yang pasti itu terjadi setelah kamu mengusahakannya semaksimal mungkin.
Selanjutnya percayakan semua pada tangan yang berwenang dalam menilai usaha dan keadaanmu yang sesungguhnya. semua sudah akan ada yang mengaturnya untukmu.
Jadi, kita tidak perlu menebang pisang untuk menyelamatkan rumput bukan?
Bukan karena rumput tidak berarti,
Tapi karena kita tidak boleh membuang manfaat tanaman pisang hanya untuk rumput yang sudah layu.

Salam Sayang. :)

Re(A)l ̶a̶ wan. Tentang Kehidupan.#EfekDiklatsar

Relawan. Apa mindset kita tentang relawan?
pasti yang terbesit dalam otak kita adalah seseorang yang bekerja tanpa bayaran apapun unutk menolong korban bencana maupun konflik. Namanya juga relawan.
yang diurus ya masalah kegawatdaruratan keselamatan, ya kesehatan, ya permasalahan bencana.
Oke. Mungkin banyak sekali yang menulis tentang diklatsar kemaren dan seluruh nilai-nilai yang bisa diambil dari diklatsar.
Tapi saya, melalui tulisan ini ingin mengajak anda memandang seorang relawan dari sudut pandang yang berbeda.
Namun ini haya pendapat pribadi. sebatas hasil pemikiran saya yang sederhana. boleh diterima, boleh tidak.
Diklatsar dan Gladi Tangguh UKM KSR PMI Sub-Unit PGSD FIP UNNES Angkatan 26.
Wow. dari judulnya saja sudah sedikit horror bagi pe-tidak-suka (?) kegiatan dalam jangka waktu lama seperti saya ini.
Capeknya itu lho..
Tapi serius. Tolong serius membaca tulisan ini. Sebentar saja.
Sebenernya menurut saya memang dua kegiatan terakhir itulah yang sangat berkesan. tapi bukan karena harus pura-pura jadi korban atau harus berjalan berkilo-kilometer ditengah malam atau berguling-guling di lumpur atau dimarah-marahi kakak senior atau karena asrama mati air atau karena sepatu saja jebol atau karena harus menyebrang sungai dan berpegangan pada tangan mas-mas yang tidak saya kenal (?) yang membuat saya menulis ini. bukan.
ya. Simulasi bencana dan gladi tangguh ini mengajarkan sesuatu yang tidak ditawarkan oleh ribuan kegiatan dalam bidang lain.
Inilah yang membuka mata saya. Betapa yang namanya relawan itu adalah pahlawan tanpa tanda jasa setelah guru (Catatan: Guru adalah spesialisasi pendidikan saya. Jadi saya menjunjung tinggi profesi ini). Kenapa saya menyebeut begitu?
Ada 2 Point disini. Lihat judulnya kan? Secara bunyi disebut RELAWAN, tapi dalam tulisan bisa dibaca REAL̶A̶WAN.
kenapa begitu?
Pertama, Relawan.
Merujuk pada pengertian kata relawan, Imbuhan “wan” tidak pernah dipadankan dengan kata kerja (verba).
Jadi relawan adalah orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan).
Untuk pengertian yang ini saya kira teman-teman punya alur pemikiran yang sama dengan saya, bahwa relawan adalah seseorang yang benar-benar berdedikasi pada kemanusiaan tanpa bayaran, bahkan jika harus mempertaruhkan nyawa sekalipun.
dalam kegiatan ini, saya sadar bahwa relawan tidak hanya dalam hal medis dan penyelamatan saja.
Kenapa?
Karena relawan bergerak paling depan mengatasi permasalahan. begitu pula pelajaran yang saya dapat dari kegiatan ini. secara teori saya mendapat materi apa saja yang harus kami lakukan dalam siaga gawat-darurat bencana.
TAPI secara praktek kami belajar bagaimana menghadapi keadaan yang menjengkelkan dengan kerelaan setulus hati.
Lihat saja, dalam kegiatan ini kami harus secara sadar diri menyadari bahwa kami harus rela kegiatan ini menguras tenaga kami, menyita waktu dan mengurangi kegiatan online kami. kembali lagi, bahwa kami diajari untuk menghadapi segala kemungkinan dengan kerelaan setulus hati.
ini penting untuk hidup kita. dalam hal apapun. Dengan penerimaan yang indah dalam kesukarelaan inilah seluruh masalah dalam hidup kita setidaknya tidak seberat yang kita pikirkan.
Kedua, Apa hubungannya dengan REAL̶A̶WAN?
kenapa saya katakan REAL?
Karena prinsip KESUKARELAAN ini berhubungan denga KENYATAAN atau sesuatu yang REAL.
Untuk apa kita menerapakan prinsip rela atau nerima dalam menjadi relawan di hidup ini?
Karena ini:
  • Dengan penerimaan pada kenyataan yang digariskan Sang Pencipta untuk kita, kita terhindar dari sifat pengeluh. bahkan sikap menghujat keputusan-Nya.
  • Dengan penerimaan pada kenyataan kita senantiasa melihat apa yang bisa disyukuri. Melihat apa yang terjadi pada kita tentulan bertujuan baik untuk kita.
  • Dengan penerimaan pada kenyataan kita bisa melangkah dengan tenang tanpa terbebani dengan pemikiran buruk kita. gampangnya pikiran kita jadi lebih ringan.
  • Dengan penerimaan pada kenyataan kita merasa terpacu bahwa mungkin setiap kegagalan adalah alasan kita untuk terus membuktikan diri kita layak dan mampu.
  • Dengan penerimaan pada kenyataan kita tau bahwa ada alasan untuk kita untuk terus belajar dan tidak terseret kenyataan pahit.
  • Dengan penerimaan pada kenyataan kita telah menjalin hubungan yang baik dengan sesama.
  • Dengan penerimaan pada kenyataan kita mampu mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan kita, serta cara menanganinya..
  • dan banyak hal yang belum terungkap oleh pemikiran saya.

Percayalah kawan, percayalah.

sebagaimana saya percaya anda bisa meresapi nilai-nilai yang saya sebutkan.
kita sudah cukup dewasa untuk mengerti tanpa dijabarkan.
kita semua adalah relawan tanpa harus turun ke PMI--bagi yang tidak berminat di PMI--.
Setidaknya, dengan ini kita telah meng-upgrade diri sendiri kearah yang lebih-baik.
kita rela menerima segala kenyataan yang IA berikan, berikut dengan kerelaan untuk terus berbenah.
Cukup ya?
Segini saja sudah mampu mencetak KITA menjadi Pribadi yang LUAR BIASA.
Trimakasih untuk UKM KSR yang telah menyelenggarakan acara yang Luar biasa ini.
*Applause untuk kita. :)

Minggu, 13 November 2011

Mahasiswa dan Masa Depan

Oleh Dona Sukma Permana
Senin, 05 Juli 2010 20:38

Oleh Ermy Mulltiyarti

Mahasiswa. Tentu kita semua tahu apa pengertian dari kata – kata tersebut, Karena kita pun merupakan bagian dari kata – kata tersebut. Mahasiswa tidak dapat hanya diartikan sebagai suatu gabungan dari kata ‘Maha’ dan ‘Siswa’ tapi ‘Mahasiswa’ sebagai suatu kesatuan memiliki makna yang sangat luas. Mahasiswa bukan hanya sekedar sebutan bagi seseorang yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi tapi Mahasiswa adalah bagian sebuah proses panjang dari sesuatu yang biasa kita sebut dengan masa depan.



Apa yang kita sandang sebagai mahasiswa tidaklah ringan. Karena yang kita bawa adalah harapan dari begitu banyak manusia di Indonesia. Tentu sangatlah tidak mudah untuk dapat mewujudkan semua harapan tersebut. Tapi satu hal yang pasti bisa kita lakukan adalah belajar, karena belajar adalah suatu awal tanpa akhir. Kita akan terus belajar dan belajar untuk mendapatkan apapun yang kita inginkan termasuk masa depan yang lebih baik tidak hanya bagi diri kita sendiri tapi juga negara ini. Namun belajar dalam konteks ini tidak lantas diartikan dalam makna yang sempit sebagai seorang mahasiswa tipe ‘study oriented’ tapi belajar disini memiliki makna yang sangat luas karena dalam kehidupan sehari-hari pun kita senantiasa belajar dengan atau tanpa kita sadari. Saat kita semua terlahir kedunia ini pun kita mengalami proses yang sangat panjang, mulai dari bayi kita belajar bagaimana cara berbicara, merangkak, berjalan, hingga belajar tentang makna kehidupan. Dari kecil kita belajar membawa makna hidup yang sangat besar dari orang tua kita. Begitupun kita sebagai seorang mahasiswa, kita membawa makna dan harapan hidup dari bangsa ini. Bangsa yang tengah berjuang menghadapi banyak sekali permasalahan demi sebuah kata yaitu masa depan yang lebih baik.

Mahasiswa dengan berjuta-juta harapan yang diembannya juga merupakan seorang agen masa depan yang sangat penting. Mahasiswa berperan membawa amanat yang dititipkan banyak manusia Indonesia untuk dapat menyampaikan amanat itu dengan baik pada orang –orang yang tengah “berkuasa” di Negara ini.

Lalu muncul pertanyaan baru ‘Mengapa harus kita, seorang Mahasiswa yang harus mengemban semua itu ? Karena kita sebagai generasi muda dengan mau atau tidak mau akan menggantikan posisi orang – orang yang “berkuasa” tersebut. Karena itu kita harus mempersiapkan diri kita sebelum semua hal itu benar-benar sampai d hadapan kita. Kita harus mulai menempa kemampuan dan mental kita dari sekarang. Jangan biarkan keadaan menggerogoti jiwa kita.

Namun kenyataannya dewasa ini jauh lebih banyak mahasiswa yang “kopong” dari pada mahasiswa yang utuh. Mahasiswa kopong ini membiarkan dirinya digrogoti oleh keadaan. Wabah keadaan ini datang dalam berbagai bentuk baik rasa malas, pengaruh dunia luar ataupun sejuta alasan bodoh yang lain. Karena itu jangan sampai kita terjangkiti wabah mahasiswa ‘kopong ini’ yang terlihat secara fisik tapi kosong isinya bahkan seringkali tidak disadari keberadaannya oleh orang – orang disekitarnya. Tentu akan sangat menyedihkan. Yang seharusnya kita lakukan adalah memanfaatkan keadaan bukan dimanfaatkan oleh keadaan. Kita harus memanfaatkan keadaan kita sekarang ini di saat kita masih memiliki kesempatan untuk belajar berkontribusi dalam lingkungan dan masyarakat sekitar sebelum kita benar-benar kehabisan waktu untuk belajar.

Sekarang adalah saat yang tepat untuk membentuk karakter yang akan menjadi tolak ukur masyarakat pada kita di masa datang. Karakter ini dapat dibentuk melalui berbagai hal salah satunya dengan berorganisasi. Banyak sekali organisasi dan kegiatan di sekitar kita hanya tinggal kita yang memilih dan memutuskan karakter seperti apa yang akan kita ciptakan. Karakter ini akan menjadi stereotype untuk mengukur peran dan keberadaan mahasiswa bagi masyarakat. Seperti pada era kejatuhan orde baru. D masa itu kita bisa melihat bagaimana peran mahasiswa dalam pemerintahan. Karenanya masyarakat tidak bisa menyepelekan keberadaan mahasiswa karena mahasiswa adalah ‘agent of change’ yang merupakan tumpuan harapan masyarakat untuk masa depan Negara ini di masa depan . Kita harus bisa membuktikan keberadaan dan peranan kita bagi masyarakat dan Negara ini.

Mari Berkontribusi !!!

sumber : http://www.penilai-stan.com/index.php/component/content/article/78--mahasiswa-dan-masa-depan

Sabtu, 12 November 2011

Seperti apa seharusnya teman itu?

Seperti apa seharusnya teman itu ?

Seperti apa sih sebuah pertemanan itu dijalankan ?



Jangan anggap aku konyol bertanya seperti itu. tapi tolong renungkanlah. jika banyak orang bilang teman itu harus saling membantu dan tolong menolong dalam kebaikan, mari pikirkan lagi. kebaikan yang seperti apa?

jangan buat aku makin ragu dengan apa itu TEMAN.

beberapa bulan yang lalu, seorang teman datang meminta tolong dan aku menyanggupi. saya tau, bantuan yang kulakukan akan berdampak besar untukku sendiri. menyangkut pencitraan buruk atas diri saya sendiri. tapi karena KUPIKIR kami TEMAN, tidak masalah. karena aku temannya, dan kewajibanku membantunya. juga karena kau tidak tega membiarkanya kebingungan.

Tapi ketika semua yang direncanakan tidak berjalan mulus, bisakah seorang teman meninggalkan kita sendirian menyelesaikan masalah yang bahkan bukan wilayah kita?

bisakah seorang teman hanya datang ketika dia yang mempunyai keperluan tapi menghilang ketika situasi membahayakan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang yang tulus berkeinginan membantunya?

Sistem pertemanan macam apa ini?



Bukannya menuntut dihargai atau bagaimana. tapi paling tidak ketika anda bicara bahwa AKU TEMAN KAMU itu berarti anda telah memberikan dampak psikologis pada orang yang anda ajak bicara. secara tidak langsung, anda pasti juga MERASA BERARTI ketika seseorang mengatakan bahwa anda adalah temannya --tentu saja ini hanya berlaku pada hal kebaikan-- karena teman adalah sesuatu yang membanggakan. karena teman adalah bagian hidup yang tak bisa ditinggalkan. karena teman adalah orang yang kita sapa tiap harinya. ataukah cuma aku yang merasa begitu?



Bagaimana seharusnya kita memperlakukan seorang teman?

Banyak orang mau melakukan apa yang diminta seseorang atas dasar rasa TEMAN, tetapi tidak menyadari apakah hal yang dia lakukan benar atau salah. Aku salah satunya.

jadi,

TEMAN, apa aku salah menganggapmu teman?

apakah benar kamu temanku? atau kamu hanya sebatas orang lain yang kuketahui namanya tapi tidak kukenal?

buktikan bahwa kamu adalah TEMAN bukan raga dengan nama tapi TANPA ARTI bagi orang lain.

Minggu, 16 Oktober 2011

Tatapan anak kecil dipinggir Jalan itu...

Well, sore ini (16/10-2011) aku dan salah seorang teman melintas di pertigaan jalan di kota ini.

miris banget pas ngliat ada anak kecil umur 8-9taunan lagi nggendong adheknya yang mungkin sekitar 1 taunan, duduk di pinggir taman pembatas jalan.

walo sekilas, jelas banget kalau anak kecil itu lagi berusaha ndiemin adheknya yang lagi nangis, padahal kita tau, jalan semarang begitu panasnya. sementara kendaraan lalulalang banyak banget dan pasti membahayakan mereka. tapi tak ada satu-pun kendaraan yang peduli (mungkin termasuk aku, karna aku juga cuma lewat begitu saja)

tapi Guys,, ternyata keadaan kayak gini mengganggu banget.

bagaimana bisa kita semua cuek dengan hal-hal semacam ini ? bayangkan kalo itu adhek kita, atau (mungkin) anak kita.

tidakkah pemandangan seperti ini menyakitkan sekali ?

Lalu aku berfikir, salah siapa sebenernya keadaan ini ?

orang tua yang mengabaikan kemerdekaan masa kecil mereka-kah ?

atau pemerintah yang tidak memperhatikan mereka ?

atau itu justru SALAH KITA yang tidak mengindahkan tatapan mata mereka yang kepanasan, dan kulit mereka yang menghitam ? sedangkan kita, berada dalam keadaan yang jauh berlebih dibanding mereka.

secara pribadi-pun aku malu. sebagai orang yang sekarang sedang belajar menjadi guru anak seusia mereka, aku berani menulis impian SEKOLAH GRATIS UNTUK ANAK JALANAN. tapi hari ini, aku disadarkan tuhan kalau ternyata, tantangannya lebih besar dari yang aku kira. sedangkan aku cuma lewat begitu saja ketika melihat mereka.

pernahkah anda berfikir demikian ? sedikit saja ? ataukah kita hanya berfikir bagaimana caranya menuntut pemerintah sedangkan kita tidak berbuat apa-apa ?

lalu aku berfikir lagi, langkah tegas apakah yang harus kami tempuh ya Rabb ? untuk membebaskan mereka dari debu jalanan yang bisa aja mengganggu pernafasan mereka.

sedangkan pemerintah juga sudah mengatur dalam undang-undang tentang nasib mereka.

sedangkan orangtua mereka sudah menahan nafas demi mereka--tak akan ada orangtua yang ingin anaknya terlantar dijalanan--,

sedangkan kami --segelintir orang-- pun sudah berusaha membantu mereka semampu kami.

ya Rabb, kiranya jangan tambah lagi jumlah manusia yang tidak peduli pada mereka.

kiranya jangan lagi KAU tambah kebutaan kami akan mereka, jika justru kami-lah yang menyebabkan anak-anak polos-lucu-dan belum tau apa-apa itu terkorbankan masa depannya.

dan kini GILIRAN KITA.

APA YANG BISA KITA LAKUKAN UNTUK MEREKA YANG MENATAP KITA DARI PINGGIR JALAN ???



#dedicate to Kintan Siwi Andhiniari dan Wildan Akbar Alfiansyah, adhekku tercinta.

belajar yang bener ya dhek.. mbak sayang adhek..

Kamis, 11 November 2010

^ SAHABAT ^

Malam tadi, kamu dan sahabatmu bertengkar. kamu membuat keputusan untuk tak mau berbicara padanya.
Keesokan harinya dia tersenyum padamu tapi kamu mengatupkan bibir untuknya,
Dia menceritakan perkara yang baik tentangmu krpada teman^nya.
sebaliknya, kamu menyebarkan kabar angin mengenainya.
Dia mencoba mendekatimu dan menegurmu. Tapi kamu tak peduli dan mendorongnya menjauh.
Kamu merasa ia sahabat yang paling buruk.
Diapun menulis catatan tentangmu dan menuliskan saat^ indah bersamamu.
Sebaliknya, kmu menulis saat^ buruk bersamanya.
Jauh disudut hatimu kau menyayanginya. tapi hatimu sudah dipenuhi oleh kebencian.
Keesokkan harinya kamu mendapat catatan darinya...

".... Dear,
aku mencoba memberitaumu semalam,
tapi kamu gg memberiku peluang untuk bicara.
aku mencoba memberitahumu kabar gembira tapi kau takut tuk mendengarnya.
aku coba tuk tersenyum padamu tapi kau sambut senyumku penuh kebencian.
Sekarang keadaanku terlalu payah dan semakin lemah..
Aku minta maaf karena tak bisa menemuimu hari ini.
Aku tulis surat ini dari rumah sakit. aku udah gg punya waktu.
aku minta maaf karna baru memberitahumu sekarang.
Aku juga minta maaf untuk perselisihan dan kesilafan antara kita.
Kamu sahabat yang baik.
Aku janji akan terus memperhatikan kamu.
Salam kasih sayang..."




Kamupun berlari ke rumah sakit untuk meminta maaf padanya.
tapi hanya ibunya yang ada disitu.
Ibuna menutup mukanya dengan kedua belah tangannya,
dan diapun menangis...
Beliau berlutut dan berdoa supaya ALLAH mengembalikkan anaknya...

***

PERSAHABATAN.
ada kala baik dan buruk. dan kadangkala kamu perlu meminta maaf sebelum orang lain melakukannya dulu..
Sebab siapapun tak tau apa yang terjadi besok..

Hal-hal yg Membuat Saya Menangis Hari ini.

Dari judulnya terlihat cengeng,,
tapi gk pa-pa lah..
Lets Play ...


Kemarin malam (5/3.10), selepas magrib, aku ingat aku pernah berjanji diatas kapal Ferry dari Gilimanuk-Tanjung Priuk, sebuah janji klo aku gk mau jadi seorang yg tak bisa dibanggakan.

Memang aku sering kali merasa aku bukan bagian penting dikeluargaku. Mungkin tu gg benar. Tapi y.. Urat childishku sudah telanjur memvonis perasaanku dgn hal seperti itu.

Ditemani sinar bulan yg terbias lautan, riak kapal, & rangkulan hangat dari Seorang Sahabatku, aku menuturkan betapa atiku benar^ tak mampu menahan airmataku. Ya. Aku menangis bersamanya. Shg terucap janji yg kusebutkan sebelumnya.




Today (6/3.10),
pagi ini aku membuat sedikit konflik dengan ortuku.
Aku terpaksa membicarakan sesuatu.
Tapi tnyata saat yg kupilih gk tepat. Konflik tjadi dan aku dicap sebagai "anak yg tak tau keadaan orangtua".
Menyakitkan.
Aku tau dulu aku pernah melakukan kesalahan besar. Dan tu sangat mengecewakan beliau.
Alhasil aku brangkat skolah dgn berlinang air mata.
Bukti pertama Aku gagal menepati janjiku.

Disekolah,
aku benar^ badmood. Kejadian td pg bdampak fatal. Aku lupa mbawa tugas yg deadline hari ini. Sial.
Tapi ternyata tak kusangka, bapakku kesekolah ngantarin tugasku itu. Bapak sm sX tak tersenyum padaku. Tapi ada 1 ucapannya yg keluar dr bibirnya,
`dichek dulu semuanya. Hidup tu gk cuma utk masalahmu sendiri. Jangan ragu uat bilang klo emg gk mampu. Apalagi sama ortumu sendiri. Hdup gk sendirian. Terus2n sikap kamu yg ky gt. Bapak tunggu jadi apa kamu ntar.`
Aku ngrasa ditampar keras2. Lagi, aku merasa melakukan kesalahan besar. Aku anak yg payah & hanya merepotkan orang tua.
Bukti kedua aku gagal nepatin janjiku.
Dan aku benar^ menangis untk k2 kalinya.

Menjelang plg skolah, aku ketemu sahabatku. ia menanyakan keadaanku & memelukku. Yah, ia memang keibuan. Aku ingat saat mnangis bareng ia. Saat aku ngrasa gk pantas bsahabat dgn mereka d'MBC, Saat aku ngrasa payah diorganisasi. Ingatan tu memaksaku ngrasa jadi orang yg buruk. ia tsenyum n bilang,
`Jangan nyerah. Kita tetep sahabat wlau kamu plg berbeda. Jangan pikirin omgan orang. Sobat2mu tau kok yg kamu lakuin tu positif. Diem sejenak, renungin. Maaf aku gk bs kasih solusi, krn aku jg lum mampu hdapi mslahku sendiri. Slg menyemangati aja. Jangan down. Kami ada buat kamu kok.`
Bukti ketiga aku gagal nepatin janjiku. tu ckup mbuatku tak mampu utk tak berkaca-kaca.

Di bus, aku lg ngobrol2 ma slah seorang sahabatku yang lain, ia jg menanyakan aku kenapa. Ia jg blg aku kelainan jiwa. Bercanda memang. Tp aku jd ingat kata^ ayahku. Aku pgen crita ma sahabatku itu, tapi aku gk tau harus mulai darimana, & aku gk kuasa uat gk mengeluarkan airmata.

Sampai dirumah,
suasana rumah ternyata gg berubah. Aku dsambut senyum hambar, omelan, dan suara nada tinggi bunda.
Beliau bilang,
`Lain kali, kalau ada masalah, bicara dari awal. Jangan ndadak. Bapak ibu pasti nurutin klo positif buat kamu. Tapi y liat2 kemampuan bapak ibu dulu. Jangan cuma diem. Sediem apapun kamu, kamu gk bkal pnh bisa bohongin orangtuamu. Apalagi ibu. Ibu tau kamu lbh dr yg kamu tau.`
ya..Aku sadar Sebenarnya tu luapan kekecewaan beliau padaku, tp dtelingaku tu terdengar seperti "Daftar Kesalahanku".
Ok, air mataku jatuh lagi. X ni dDpan film, biar gk ada yg tau aku nangis.
Lagi, bukti aku gagal nepatin janjiku.

Belum sempat tenang atiku, 1 sms masuk, dari Mas. Intinya ia sdg labil krn gk bs ktemu aku.
ia uga minta aku buktikan prestasi belajarku.
Tapi dengan keadaan seperti ni Aku gk yakin bisa dpet nilai maksimal.
Yaa.. Tu mbuatku sadar klo aku bner2 bkin ksalahan & aku sekarang sangat butuh ia utk menenangkan aku yg lagi "gila".
Oh God,, Aku nangis lagi karena itu.!!



Dan setiap hal yg kulakukan utk memperbaiki kesalahanku, hasilnya malah makin payah. Tak menjadi lebih baik.

Aku nulis catatan ni bukan utk dkasihani,, bukan utk bkin org2 yg mbuat airmataku mrasa bersalah.
Aku cuma pgn crita. Biar lega.

Aku butuh dimengerti, benar-benar dimengerti, dan kembali dibantu berdiri.

Tentang Keindahan & yg Ada dibaliknya..

Hay Sob.. ^o^
sberapa lama kamu merenung hari ini ??
3jam ? 4jam ? 5jam ?
Whatever.
Tapiii udah ngrenungin yg ini lum ??

Sahabatku sekalian, coba renung bentar ke dalam diri,
apa yg kita rasain sekarang ?

Mungkin, di waktu ini kalian ada yg sakit. Mungkin ada yg sedang tertekan. Saya yakin juga ada yg risau, ada yg keliru, marah, sedih, bahkan mungkin ada yg cemburu.
Terserah apa aja..
Tapi aku pengen ngajak kalian mperhatikan alam.


Perhatikan sungai, danau, dan lautan.
Perhatikan juga awan yg berarak.
Hijau hutan & tumbuhan, gunung-gunung yg gagah, taman-taman yg indah,
kita sering terpesona kan ??

Tapi Sob, taukah kalian ?
Kalau dibalik keindahan ini ada ssuatu yg menakutkan ?
Disungai ada buaya yg ganas, ular berbisa, & btang-btang kayu balok yg merintangi.

Dihutan, binatang buas menakutkan banget. Jurang2 curam jg siap merenggut nyawa.
Air-air bisa saja mengganas, tsunami datang, gempa bumi & letusan gunung berapi, juga taufan.
Semuanya ini ditutup rapi dgn pakaian keindahan.
DALAM KECANTIKAN ADA KESENGSARAAN.

Coba pikir deh, kalo gk ada ujian & tekanan dalam hidup, darimana kita tau bedanya arang ma berlian ??

Untuk semua yg lagi merasakan ssuatu yg mengganjal di ati,
jangan lama2 bersedih, kecewa, marah, ato kesal.
Cepet2 bangkit Sob !!
Kumpulin kekuatan & kesabaran yg udah Allah beri ke kalian.

Bersyukur.. Bersyukur.. Bersyukur..

Belajar Bilang `CUKUP` yuk..

Refresh otak dikit ya??
Bukannya mau ceramah ni, tapi gg ada salahnya berbagi kebaikan.

Ehm.. Sering kan kita minta hal-hal yg berbagai macam seolah itu yg terbaik untuk kita.
Persoalannya, taukah kita apa yg terbaik untuk diri kita ??

Kalo miskin, minta kaya.
Kalo dilahirkan pendek ato trlalu tinggi,
terus ngarep ada keajaiban utk jadi manusia sempurna. Yaa,, minimal `just nice`.
Tapi pastikah kalo yg kita minta itu yg terbaik ?

Persoalannya lagi, apakah yg kita dapat sekarang ini tu bukan yg terbaik ?
Apa Allah, Tuhan, Pencipta kita itu zalim atau pilih kasih ?
Bukankah IA itu Maha Adil, Maha Bijaksana, dan Maha Mengetahui ?

Aku Pernah baca disebuah majalah Religi, tentang seseorang yg berdoa diberi keselamatan.
Tetapi Allah mbuat ia jadi sakit. Dari kaya jadi miskin. G berdaya.

Gimana tu ?
ternyata dibalik itu hanyalah ujian kesabarannya. Seandainya imannya kuat, insyaAllah ia selamat diakhirat.
Selamat juga, kan? Bahkan Allah meletakkan ia ke tempat yg lebih tinggi.

...

Bila IA menentukan ssuatu utk kita, yakinlah itu adlh yg terbaik.
Mengapa sulit utk ikhlas pd ketetapanNYA ?
Karna kita gg nrimo. Slalu mrasa milik orang lain lebih baik.
itu bikin kita gg bersyukur.
Slalu ngejar peluang yg lebih baik. Slalu merasa kurang.

Cukup ato nggak itu tgantung pd cukup n nggak-nya kita bersyukur kepadaNYA.


Kalo contoh diatas kurang, boleh hubungi aku. InsyaAllah masih ada bnyak kisah yg bs bikin kamu melek kalo kamu masih jauh beruntung dr mereka2 yg lebih susah dari kamu.

So, masih mau bilang Allah gg adil ??

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir