Senja kemarin menghantarkan aku merenungi semuanya. Semuanya.
Dan pertanyaan lama yang kukubur dalam-dalam kembali menyeruak masuk ke dalam otak.
'Bagaimana bisa manusia mempunyai jarak yang tak bisa diukur dengan manusia lain?'
Dulu, sebelum berkemas meninggalkan kota kelahiran, satu-satunya keyakinan yang membawaku melangkah adalah soal paham, dimana aku mengira jika semakin cepat saya beranjak pergi, semakin cepat pula apa yang selama ini kubahasakan secara tersirat mampu dimengerti.
Tapi tidak.
Manusia tidak diciptakan untuk mengerti kebisuan orang lain. Begitu pula orang-orang ini.
Orang-orang yang membuatku merasa kalau dicintai oleh mereka justru merupakan sebuah tancapan duri.
Tunggu, aku tidak bicara tentang cinta dengan orang yang kusukai.
Setiap orang pasti mendamba untuk dicintai. Tetapi tidak bagi sebagian orang.
Dicintai kadang membawa beban yang terlalu berat, terlalu menekan dan membuat tertekan.
Hingga pada detik selanjutnya kita tidak tau apa yang harus kita lakukan.
Hingga saat ini, ketika orang lain menyoal betapa mereka dicintai dengan cara yang mereka ketahui dan mereka inginkan secara sadar, aku hanya tersenyum.
Pasti banyak orang diluar sana yang ingin sekali memiliki perasaan seperti itu.
Dicintai dengan cara yang kita ingini. Atau disayangi dengan kebebasan berkomunikasi.
Tulisan ini mungkin mewakili mereka yang tak nyaman dengan hidupnya.
Yang merasa punya kasih sayang tapi rasanya gersang.
Tak apa. memang untuk itulah tulisan ini dibuat.
Kadang timbul tanda tanya besar dalam diri saya :
'Bagaimana bisa seseorang yang hidup dengan orang lain selama bertahun-tahun tapi tetap mempunyai jarak?'
padahal mereka menghabiskan banyak waktu bersama, melalui banyak peristiwa bersama.
Tapi tak kunjung bisa terbuka.
Menjaga perasaan masing-masing mungkin menjadi satu-satunya alasan yang kuat tapi tidak masuk akal.
Dan itu dijalani sepanjang hidup. Betapa menyiksa.
Dulu saya juga berfikir, kenapa kita bisa sedemikian hancur ketika seseorang tidak memahami apa yang kita rasakan.
Sekarang saya mengerti kenapa.
Setiap orang pasti mempunyai keinginan, dan orang lain juga punya keinginan atas orang tersebut.
Dan jarak terjauh yang bisa terjadi adalah ketika kedua keinginan itu tidak tersampaikan dengan baik. Atau tidak saling berlaku satu-sama lain.
Dua orang yang sudah bersama bertahun-tahun tetapi tak juga bisa saling meyelami isi hati masing-masing.
Sama-sama ngotot.
Sama-sama tak mau mengalah.
Sama-sama merasa paling benar.
Hingga satu-satunya perasaan yang bisa dirasakan hanyalah 'Hampa'.
dan satu-satunya anggapan yang bisa terpikirkan hanyalah : 'Semua yang kulakukan untukmu tak pernah berharga.'
Dan puncak terburuknya adalah ketika salah satu sudah merasa lelah dan tak lagi peduli.
Tak lagi peduli bagaimana bertindak dengan baik.
Tak lagi peduli bagaimana bersikap dengan baik.
Tak lagi peduli untuk melakukan semuanya sebenar mungkin.
Tak lagi peduli dengan mengecewakan dan dikecewakan.
Maka dari sekarang, seandainya bisa, banyak orang pasti meminta dilahirkan kembali sebagai orang yang sama tapi dengan kehidupan berbeda.
Dimana bicara bukan lagi menjadi halangan.
Dimana bicara dari hati ke hati bukan sesuatu yang sulit.
Mungkin memang iya, satu-satunya hal yang membuat hidup ini 'tak tertahankan' adalah orang-orang yang kita cintai.
Dan aku kembali berharap, Semoga tak ada lagi keinginan seperti beberapa tahun lalu untuk yang kedua kali.
That's why, I never tell you that I love you, M**.
Aku takut bahwa kata sesederhana itu tak juga bisa dipahami maksudnya.
Maaf. :)
Jumat, 28 Desember 2012
Menyoal Jarak, Antara Kita
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.01
Labels: Belajar Hidup, Kepedulian - Kemanusiaan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar