Jumat, 28 Desember 2012

Gemerlap Lampu Kota


Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja mengadu tawa antara kita.
menawar rasa yang sengaja tak pernah dibicarakan selamanya.

Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja merajut tiap memori ketika kita bersama.
Tak masalah jika kita memandangnya dengan arah yang sama tapi dengan pikiran yang berbeda.
Aku hanya butuh setiap sel udara yang kuhirup bersamamu menjadi bermakna.
Jauh lebih bermakna, daripada apa-apa diantara kita.

Kau bilang, melihatnya menimbulkan sensasi yang istimewa. Seolah kesempatan selalu datang tanpa kita minta.
Dan harapan akan senantiasa berkembang bila kita percaya.
Namun aku memandangnya dengan makna yang berbeda.
Kita memang slalu berbeda.

Aku bilang, melihatnya mengingatkanku pada kita.
mengingatkan padamu tiap kali aku mengedipkan mata.

Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja.
Melukiskan kamu dalam setiap masa yang aku punya.
satu-satunya yang membuatku sesak ketika aku berusaha melapangkannya.

Kumpulan lampu kota itu mungkin hanya bisa kunikmati keindahannya ketika malam menjelang,
dan rasa rinduku mulai menggenang.

Ah, bagaimana bisa kumpulan lampu membuatku sedemikian risau?
jauh dari yang bisa terlihat, kumpulan lampu itu bagaikan kamu.
Menyinari kegelapan malamku dengan sinar cahaya yang samar-samar, tetapi cukup menimbulkan suasana yang tak bisa kudapatkan dari cahaya lain.
Namun kenyataannya aku tak bisa membawanya pulang kerumahku, atau menyalakanmu sesuka hatiku ketika aku membutuhkannya.
Bagai kamu.
Menyinari ruang hatiku yang sengaja kubiarkan padam tanpa penerangan setelah satu-satunya lampu disitu putus alirannya. Dan tak kubiarkan siapapun memasang penggantinya.
Tapi aku tak bisa membuatmu menjadi penerangan dirumahku ketika gelap mulai menyergap. Kamu hanya akan tetap bersinar disana dan menjadikan aku penonton setia.

Ah, bagaimana bisa kumpulan lampu bisa membuatku sedemikian risau?
jauh yang bisa terlihat, kumpulan lampu itu bagaikan kamu.
Memandangnya begitu menenangkan, seolah aku tak pernah sendirian.
Tapi sebenarnya tidak nyata. Rasa tak pernah sendirian itu hanya fatamorgana.
Lampu kota hanyalah teman yang akan lenyap ketika mentari menunjukkan seringainya. Dan aku kembali tertelan dalam lika-liku luka setiap harinya.
Bagai kamu.
Bersamamu membuat hampa menjadi sirna. Tapi sebenarnya kamu memang tak pernah ada.
Kebersamaan kita adalah bahagia yang tak bermakna, selalu tertelan jarak predikat 'siapa kita'. Kau memiliki segalanya dariku, Dan aku tetaplah satu-satunya yang tak punya apa-apa. Dan kamu tak bisa membuatku memiliki semuanya.

Gemerlap lampu kota dalam temaram senja,
Aku hanya penikmat keindahannya.
Tak apa, aku tau lampu kota itu tak hanya tercipta untuk menyinari jalanku. atau memang bukan untuk menyinariku.

Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja.
Jangan kau padamkan sebelum aku puas mencecap pesonanya.


0 comments:

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir