Jumat, 28 Desember 2012

Sepucuk Surat untuk Mentari


Sudah tengah malam.
Sudah tengah malam ketika detik demi detik kulalui dengan mata terjaga.
Untuk terlelap pun tak bisa.
Berharap keesokan paginya segala cerita mampu menawar seluruh luka.

Aku tak menulis surat ini dengan perasaan kecewa.
Tidak.
Aku justru merasa bersalah karena aku menulis ini tanpa peduli sedikitpun,
apakah isinya akan menyakitimu yang membacanya.
Aku hanya rembulan malam. Durjana dalam kelam yang akan mati ketika kau terbit.
maka sedikit waktu yang kupunya, aku ingin benar-benar memilikinya untukku sendiri.
dan mengenangmu adalah hal yang kuhindari.
Apa artinya?
yang kita bicarakan hanyalah omong kosong dan janji-janji.
Padahal kita sama-sama tau, hidup kita bukan sesuatu yang pasti.
Aku bosan dengan abu-abu.
kau tau.
Aku hidup dalam langit malam yang sama kelabunya.
Dan denganmu, haruskah aku menikmati warna yang sama?
untuk jangka waktu yang tak kita duga--mungkin selamanya?

aku hanya rembulan malam, dan rembulan takkan pernah bertemu dengan mentari dalam satu hitungan waktu.
Duniaku memisahkan kita.
Duniaku yang membatasiku agar tak bisa melihatmu, dan begitu pula sebaliknya.
Kau tak suka terlibat kedalam duniaku.
Aku tak cukup peduli.
Kau tak mengizinkanku masuk kedalam duniamu.
Aku tak cukup peduli.
Walau sebenarnya memendam hasrat bersamamu sama dengan menusuk jantungmu sendiri.
Aku tak cukup peduli.

Aku mencintaimu, mentari.
Sebesar rintik hujan mendamba pelangi.
namun aku terlampau menyadari, kau dan aku tak pernah saling mengerti.
atau yang lebih naas lagi, kau dan aku sama-sama berhenti saling mengerti.
Dan hidup bersama, hanya sebatas mimpi tanpa harapan menjadi nyata.

Aku tertawa.
Semoga Tuhan menawarkan cara agar kita bersama.
Akankah bisa?


0 comments:

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir