Mungkin ini pertamakalinya aku kembali tersadar, setelah sayu matamu puas kupandangi dalam lembaran-lembaran menit yang tersisa.
Kau bukan orang lain yang kehadirannya tak pernah kusentuh, tapi asing selalu merambati tiap baris kata yang kita rangkai tuk mencairkan suasana.
'Kita harus putuskan.'
Katamu sambil berjalan mengitari meja.
Dan aku hanya tersenyum memandangimu.
'Pasti. Kita akan membuat suatu keputusan.'
Pandangan matamu semakin beku, menatap lurus jalanan yang diguyur riintikan hujan dari balik kaca jendela.
Tanganmu menyapu tepian meja yang berdebu, membuat butiran-butiran halus partikelnya berhamburan keudara.
Seiring detak waktu yang terlewat begitu saja, sepi merambat naik dari relung hatiku.
Kita pernah bersama, dan perpisahan adalah hal yang nyata. terlalu nyata bahkan ketika kusebut semuanya hanya mimpi.
'Jadi ini keputusannya?'
sejurus kemudian kusadari kalimat tanyaku menguap tanpa ada yang menyadarinya.
tidak juga kau, yang sibuk menghilangkan debur gelisah dengan memainkan kedua jemarimu.
'Maaf..'
suara lirihmu terdengar parau.
dan lagi, aku hanya bisa mengembangkan senyum. Tak tega melihatmu dikuasai kegelisahan.
'Baiklah. kau yang membuat keputusan dan aku yang akan melaksanakannya. Selama ini-pun begitu kan?'
'Maaf. aku.. tak tau harus menjelaskan darimana.'
'Tak usah kau rangkai kata indah untuk menggambarkan suatu perpisahan, sayang. Karena tak pernah ada yang indah dalam sebuah perpisahan. Hanya saja jika kau katakan sejujurnya bahwa dalam jarak ini tak ada lagi ruang untukku, sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Aku menyadari segala keterbatasanku. Dan kau membutuhkan yang lebih..'
Kau baru akan membuka suara, dan aku mengambil alih melodi sebelum kau menyanyikannya.
'Aku tak pernah menyalahkan jarak, atau dirimu, atau diriku sendiri atas mengapa kau pilih keputusanmu yang ini. Ini hanya soal perbedaan kebutuhan kita yang tak biisa dijembatani. Aku mengerti. Berhentilah meminta maaf. Jaga dirimu, jaga seluruk jarak yang pernah kuretas dalam rindu untukmu..'
Kau masih tertunduk, dan aku tak henti memandangi setiap inci lekuk wajahmu.
Mungkin keteduhan tak pernah kudapatkan darimu, atau mungkin kesempurnaan tak pernah kau dapatkan dariku, hingga akhirnya semua itu membawa kita dalam suatu keputusan : Berpisah.
Jumat, 28 Desember 2012
Suatu Keputusan : Berpisah
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.08
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar