Sabtu, 04 Agustus 2012

Kembalikan Makna Kebersamaan Ramadhan Kami


Riuh rendah suara anak-anak yang sedang tarawih di mushola yang hanya berjarak kurang dari 20 meter dari rumahku ini mau tidak mau membuat syaraf wajahku menyungging senyum.
Teringat bahwa dulu aku juga seperti itu. Berteriak keras sampai beberapa tetangga memarahi kami.

Hanya saja, Ramadhan disini, di desa kelahiran saya,semakin terasa berbeda dari tahun ke tahun.
Semakin sepi rasanya.
entah apa yang sebenarnya sudah merubahnya.
Jelas sekali tergambar bahwa dulu, tadarusan di mushola ini adalah sesuatu yang menaikkan harga diri kami --anak-anak seusiaku--. Dan mushola adalah tempat bermain kami sambil menghabiskan waktu menunggu buka puasa.

Ketika adzan subuh mulai terdengar, kami, yang notabene masih SD, segera berlari menyambar alat ibadah dan segera berangkat ke mushola sambil membawa Al-Quran dan Buku Kegiatan Ramadhan.
Ah, iya. dulu Buku Kegiatan Ramadhan itulah yang mempersatukan kami, anak-anak sebuah dusun di pinggiran kabupaten ini untuk memenuhi tiap jengkal Ramadhan yang kami lalui.
As you know, Buku Kegiatan Ramadhan adalah semacam paper checklist kegiatan ibadah yang dibukukan. 

Usai sholat subuh, mendengarkan kuliah subuh dari pak Murtadli, imam sholat mushola kami, dan tadarus, seiring dengan mentari yang mulai menunjukkan batang hidungnya biasanya kami menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan keliling kampung sambil membawa petasan korek yang nantinya akan dinyalakan di pematang sawah yang sepi.

Sambil berjalan biasanya kami bersenda gurau. kadang ada juga satu atau dua anak yang kumat isengnya yang bersembunyi dan menakut-nakuti kami ketika rombongan kami terpecah. Seperti biasa, anak-anak perempuan adalah sasaran empuk anak laki-laki untuk ditakut-takuti, baik dengan berpura-pura menjadi hantu atau dengan petasan yang dilemparkan ke arahku dan teman-teman lain.

Setelah matahari mulai dirasa menunjukkan saatnya pulang dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah, Maka kami akan segera menyudahi kegiatan bersenang-senang kami dan melanjutkan rutinitas sekolah yang.. ya.. bisa dibilang cukup membosankan.
Apa sih yang bisa anak-anak lakukan ketika perutnya kosong dan mendengarkan gurunya bercerita didepan papan tulis?
Tidur? jelas tidak. kami cuma menutup mata sejenak. #eh

Kegiatan di mushola mulai berlanjut ketika adzan dhuhur berkumandang.
Setelah beruka puasa --bagi yang puasa mbedug--  kami kembali berkumpul memadu keceriaan di mushola dengan sholat berjamaah, mendengarkan tausiyah (lagi) dan kemudian antri meminta tanda tangan Sang Imam di Buku Kegiatan Ramadhan kami. Oke, Sang Imam mendadak populer dikalangan anak-anak.

Ketika selesai dan Sang Imam melangkah pulang kerumah, kami biasanya menutup pintu mushola dan mulai beraksi di dalamnya. entah bermain karet, main rumah-rumahan, atau apa saja yang menyenangkan.
Bahkan kadang, kami juga bekerja bakti membersihkan mushola lho.. 
kami anak yang manis kan? ini entah karna memang bulan puasa dan setan-setan sedang di ikat dineraka (kata Pak Murtadli) sehingga tingkat kenakalan kami menurun drastis, atau memang karena kebersamaan kami melahirkan banyak niat baik, kami bisa dengan sukarela bekerja membersihkan mushola semampu kami, hingga sholat Ashar menutup kembali pertemuan kami.

Belum lagi kami menyantap habis makanan buka puasa kami, Adzan Maghrib berkumandang.
secara serentak, kami langsung lari ke mushola untuk sholat berjamaah. 
Hahaaa.. kami oke sekali dalam hal ibadah ya? bukan. itu karena kami takut lembar check list buku kegiatan ramadhan kami di bagian sholat maghrib kosong.. #SalahNiat.

Dan tarawih adalah puncak dari hari kami yang melelahkan.
Biasanya, kami akan berangkat awal untuk memenuhi shaf sholat paling belakang padahal baris depan belum terisi. kenapa? Untuk apa lagi kalau bukan bercanda (Semoga Allah mengampuni dosa polos kami).
Biasanya juga, mushola kami akan penuh dengan jamaah tarawih, bahkan sampai ke teras mushola.
Tapi sekarang? 
terisi setengahnya saja sudah bersyukur..

Dewasa ini, saya agak merasa 'kehilangan'.
Saya kehilangan kebersamaan anak-anak sepeti saat saya kecil.
Saya kehilangan rasanya berdesak-desakkan tarawih.
Saya kehilangan riuh rendah suara anak-anak yang tadarus.
Saya kehilangan rasanya melihat anak-anak antri minta tanda tangan.
Saya kehilangan rasanya melihat anak-anak menghabiskan waktu bersama sepanjang hari dalam kegiatan keagamaan kami.

Karena saya sudah tidak melihatnya lagi sekarang.
Bahkan adik saya ketika disuruh tadarus oleh ibu saya, menjawab dengan polos, 'mboten wonten rencang-e og bu.. ajrih kula tadarus piyambakkan..'
Dan saya hanya bisa menghela nafas.
Kenapa sekarang tak ada Buku Kegiatan Ramadhan?
Kenapa sekarang anak-anak lebih suka dirumah?

Anak-anak memilih menonton tayangan televisi setelah sahur.
Anak-anak memilih online atau smsan untuk menghabiskan waktu.
Anak-anak memilih bermain Game di Laptop pribadi atau di Warnet
dan sudah tidak ada Buku Kegiatan Ramadhan yang memacu kami untuk berlomba-lomba rajin ke mushola.

Saya menatap sekeliling saya, dan ingin sekali berkata pada Laptop, TV, Facebook, Game, Handphone, dan sebagainya yang menyita perhatian anak-anak jaman sekarang.
Kembalikan makna kebersamaan Ramadhan kami..

0 comments:

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir