Relawan. Apa mindset kita tentang relawan?
pasti yang terbesit dalam otak kita adalah seseorang yang bekerja tanpa bayaran apapun unutk menolong korban bencana maupun konflik. Namanya juga relawan.
yang diurus ya masalah kegawatdaruratan keselamatan, ya kesehatan, ya permasalahan bencana.
Oke. Mungkin banyak sekali yang menulis tentang diklatsar kemaren dan seluruh nilai-nilai yang bisa diambil dari diklatsar.
Tapi saya, melalui tulisan ini ingin mengajak anda memandang seorang relawan dari sudut pandang yang berbeda.
Namun ini haya pendapat pribadi. sebatas hasil pemikiran saya yang sederhana. boleh diterima, boleh tidak.
Diklatsar dan Gladi Tangguh UKM KSR PMI Sub-Unit PGSD FIP UNNES Angkatan 26.
Wow. dari judulnya saja sudah sedikit horror bagi pe-tidak-suka (?) kegiatan dalam jangka waktu lama seperti saya ini.
Capeknya itu lho..
Tapi serius. Tolong serius membaca tulisan ini. Sebentar saja.
Sebenernya menurut saya memang dua kegiatan terakhir itulah yang sangat berkesan. tapi bukan karena harus pura-pura jadi korban atau harus berjalan berkilo-kilometer ditengah malam atau berguling-guling di lumpur atau dimarah-marahi kakak senior atau karena asrama mati air atau karena sepatu saja jebol atau karena harus menyebrang sungai dan berpegangan pada tangan mas-mas yang tidak saya kenal (?) yang membuat saya menulis ini. bukan.
ya. Simulasi bencana dan gladi tangguh ini mengajarkan sesuatu yang tidak ditawarkan oleh ribuan kegiatan dalam bidang lain.
Inilah yang membuka mata saya. Betapa yang namanya relawan itu adalah pahlawan tanpa tanda jasa setelah guru (Catatan: Guru adalah spesialisasi pendidikan saya. Jadi saya menjunjung tinggi profesi ini). Kenapa saya menyebeut begitu?
Ada 2 Point disini. Lihat judulnya kan? Secara bunyi disebut RELAWAN, tapi dalam tulisan bisa dibaca REAL̶A̶WAN.
kenapa begitu?
Pertama, Relawan.
Merujuk pada pengertian kata relawan, Imbuhan “wan” tidak pernah dipadankan dengan kata kerja (verba).
Jadi relawan adalah orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan).
Untuk pengertian yang ini saya kira teman-teman punya alur pemikiran yang sama dengan saya, bahwa relawan adalah seseorang yang benar-benar berdedikasi pada kemanusiaan tanpa bayaran, bahkan jika harus mempertaruhkan nyawa sekalipun.
dalam kegiatan ini, saya sadar bahwa relawan tidak hanya dalam hal medis dan penyelamatan saja.
Kenapa?
Karena relawan bergerak paling depan mengatasi permasalahan. begitu pula pelajaran yang saya dapat dari kegiatan ini. secara teori saya mendapat materi apa saja yang harus kami lakukan dalam siaga gawat-darurat bencana.
TAPI secara praktek kami belajar bagaimana menghadapi keadaan yang menjengkelkan dengan kerelaan setulus hati.
Lihat saja, dalam kegiatan ini kami harus secara sadar diri menyadari bahwa kami harus rela kegiatan ini menguras tenaga kami, menyita waktu dan mengurangi kegiatan online kami. kembali lagi, bahwa kami diajari untuk menghadapi segala kemungkinan dengan kerelaan setulus hati.
ini penting untuk hidup kita. dalam hal apapun. Dengan penerimaan yang indah dalam kesukarelaan inilah seluruh masalah dalam hidup kita setidaknya tidak seberat yang kita pikirkan.
Kedua, Apa hubungannya dengan REAL̶A̶WAN?
kenapa saya katakan REAL?
Karena prinsip KESUKARELAAN ini berhubungan denga KENYATAAN atau sesuatu yang REAL.
Untuk apa kita menerapakan prinsip rela atau nerima dalam menjadi relawan di hidup ini?
Karena ini:
- Dengan penerimaan pada kenyataan yang digariskan Sang Pencipta untuk kita, kita terhindar dari sifat pengeluh. bahkan sikap menghujat keputusan-Nya.
- Dengan penerimaan pada kenyataan kita senantiasa melihat apa yang bisa disyukuri. Melihat apa yang terjadi pada kita tentulan bertujuan baik untuk kita.
- Dengan penerimaan pada kenyataan kita bisa melangkah dengan tenang tanpa terbebani dengan pemikiran buruk kita. gampangnya pikiran kita jadi lebih ringan.
- Dengan penerimaan pada kenyataan kita merasa terpacu bahwa mungkin setiap kegagalan adalah alasan kita untuk terus membuktikan diri kita layak dan mampu.
- Dengan penerimaan pada kenyataan kita tau bahwa ada alasan untuk kita untuk terus belajar dan tidak terseret kenyataan pahit.
- Dengan penerimaan pada kenyataan kita telah menjalin hubungan yang baik dengan sesama.
- Dengan penerimaan pada kenyataan kita mampu mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan kita, serta cara menanganinya..
- dan banyak hal yang belum terungkap oleh pemikiran saya.
Percayalah kawan, percayalah.
sebagaimana saya percaya anda bisa meresapi nilai-nilai yang saya sebutkan.
kita sudah cukup dewasa untuk mengerti tanpa dijabarkan.
kita semua adalah relawan tanpa harus turun ke PMI--bagi yang tidak berminat di PMI--.
Setidaknya, dengan ini kita telah meng-upgrade diri sendiri kearah yang lebih-baik.
kita rela menerima segala kenyataan yang IA berikan, berikut dengan kerelaan untuk terus berbenah.
Cukup ya?
Segini saja sudah mampu mencetak KITA menjadi Pribadi yang LUAR BIASA.
Trimakasih untuk UKM KSR yang telah menyelenggarakan acara yang Luar biasa ini.
*Applause untuk kita. :)

0 comments:
Posting Komentar