Selasa, 31 Januari 2012

Kalahari di Mataku Saat ini (Sepucuk Surat Penghabisan Kisah)

Temaram senja, mengadu deru yang menerbangkan tiap butiran kristal pasir ini.
Dalam gelap aku berharap kelak akan tiba pula pada masa yang aku butuhkan. Masa dimana aku tak kan lagi menutup mata ketika memandang sepasang mata yang begitu mengagumkan.
Mungkin kau takkan tersenyum didepanku. Mungkin juga kau akan berlalu begitu saja. Mungkin juga kau akan menganggapku tak ada.
Tak apa. Aku sudah memikirkan tiap kemungkinan yang akan terjadi.
Aku sudah siap.
Hanya saja begitu lelah rasanya berdiri disini memandang gemerlap rumahmu hari ini.
Ini gurun. percayalah ini gurun. Gurun yang bahkan aku tak tau seberapa luasnya, atau berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mengarungi samudera pasir ini.

Temaram senja, mengadu deru yang menerbangkan bias-bias harapan masa ini.
Betapa tidak? bukankah seharusnya aku yang berdiri disana? memandang bahagia ke arah teman-teman yang menyaksikan perjuangan kita, hingga penghabisan luka yang harusnya terjadi hari ini. Masih ingatkah kau tentang tiap angan yang kita lukis bersama? tentang warna-warni indah dunia kita.

Temaram senja, mengadu deru yang menerbangkan secercah sinar kebenaran.
Aku terjebak dalam kabut, kalau kau tau. memandangmu dari sini tak akan cukup untuk seseorang yang menyayangimu.
Ya. Aku menyayangimu. Lalu apa? Sudahlah. Berdirilah. Berjalanlah. dan aku juga akan berjalan. Tapi aku ingin kau mengetahui satu hal,
bahwa aku sudah sangat beruntung sudah menjadi orang yang tau dirimu.
bahwa aku sudah sangat beruntung sudah mampu menemanimu, walau dari sudut terjauh hidupmu..

Temaram senja, mengadu deru yang menerbangkan titik-titik airmata ini.
Aku ini siapa? dari awal selalu kupikirkan tentang itu. Maafkan aku, aku yang membiarkanmu masuk kedalamku. Jadi kupikir memang benar sikapmu jika kau tak memandangku. Bagaimana bisa? Kau sudah berada dalam oase gurun ini. sedangkan aku adalah angin panas yang mematikan. Dan aku sepenuhnya sadar, hanya orang bodoh yang mau melepas oase hanya untuk mati bersamaku.
Dan aku tau kau tidak bodoh.
kau tidak cukup bodoh untuk memilih bersamaku.

Temaram senja, mengadu deru yang meniupkan angin kering disini.
Ini mataku, kau tau? gurun ini mataku. Mungkin jika orang lain yang merasakan ini dia sudah akan menangis tersedu-sedu.
Aku juga. Percayalah aku juga. Tapi tidak. Sudah kubilang gurun ini mataku. Kalahari yang kering ini mataku. airmata yang kubutuhkan tak pernah bisa kukeluarkan lagi. Semakin lama justru semakin menyiksa.

Dan tiap angin yang menghembus semakin membawa keringnya udara di sekitarku.
Semakin kering, semakin membakar habis, semakin memandang penuh harap pada hujan.
Aku tidak tau apa tujuanku mengirim ini padamu. Tolong ajari aku untuk ikhlas menjalani semua ini. Tolong ajari aku untuk tidak terus-terusan bertanya mengapa atau kenapa.

Temaram senja, mengadu deru yang menggersangkan air yang kubawa berlari.
Aku ini apa? aku hanya bisa membawa genggam air dalam mangkok tanganku, dan kering sebelum aku sampai. Tolonglah.. aku hanya butuh air untuk melanjutkan perjalanan. Aku hanya butuh menangis sebentar..
Tolonglah..

0 comments:

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir