Selasa, 10 Januari 2012

Sepucuk Surat Lain, dari Rumput pada Ilalang


Menemuimu di lengkung pelangi, Ilalang..

Aku tak ingin bertanya kabar, walaupun aku memang sangat ingin mengetahui kabarmu.

Aku tak ingin bertanya kabar, walau aku memang sangat ingin mengetahui keadaanmu.



Aku juga tak ingin bertanya kenapa kau tak lagi menyapa padang tempat kita beradu bersama lembutnya angin dan basahnya hujan.

Aku juga tak ingin bertanya kenapa kau tak lagi menari gemulai memamerkan ketegasan bilah-bilah daunmu.

Aku menulis ini dalam jarak yang sangat jauh.

padahal kita hanya terpisah sekian puluh meter saja.

jauhnya jarak ini bukan dalam arti yang sebenarnya, jika kau tau.

aku menulis jarak tentang hati kita.



Dulu aku selalu berbisik pada diriku sendiri,

untuk tidak memperdulikan ilalang lain ketika kita dalam kerenggangan. karena aku percaya badai akan segera berlalu. aku percaya mentari akan segera terbit.



tapi dalam hari yang terus menerus hujan ini, kusadari bahwa ilalang-ku berubah. dia telah jauh berubah.

aku menyadari aku mulai kehilangan ilalang-ku pada awal aku meraih pelangi dunia baruku, disini.

ilalang-ku mulai jarang menari dalam angin yang sama denganku, hingga kemudian dia benar-benar berhenti menari bersamaku.

Aku terluka. Aku hanya rumput yang memujamu. Aku hanya rumput yang mengagumi buai gagah ilalang-ku.

Aku hanya ingin bertanya dalam tulisan ini. Kenapa kau, ilalang sepertimu membuatku terjatuh dalam hempasan

harap palsu?

Kenapa kau, ilalang sepertimu membuatku jatuh kepadamu? Kenapa harus rumput rapuh sepertiku?



Kenapa aku terbuai terbang, mengalun perlahan, menjemput bias-bias pelangi dalam embun, merasakan desir sentuhan angin? hingga kupikir aku telah meraih harap setinggi-tingginya. hingga kukira aku sudah jadi seperti harapmu.



Aku tidak menangis ketika menulis ini. sedikitpun tidak. tapi bukan berarti aku tidak merasakan apa-apa.

Aku selalu berusaha memberitahumu keadaanku, tapi kau hanya diam, diam, dan hanya diam.

aku sudah berusaha mencari tahu keadaanmu, tapi lagi-lagi kau hanya diam.

bahkan sampai musim telah berganti untuk ketiga kalinya.

kau pikir itu sebentar? pikirkanlah lagi.

Aku selalu menawarkan cara yang jauh lebih mudah untuk saling menautkan maksud, tetapi kau selalu memilih cara yang lebih sulit.

Apakah memang dicintai olehmu berarti disakiti olehmu?

Aku berusaha tidak menyalahkanmu. Sungguh, aku memang berusaha untuk tidak menyalahkanmu. Aku juga slalu menyadarkan diri bahwa tak pernah ada perkembangbiakan silang antara rumput dengan ilalang.

Tapi jika memang iya ilalang sepertimu bukan untuk ruput rapuh sepertiku, jika memang iya ilalang-ku tak lagi ingin menari bersamaku, katakanlah saja. katakanlah tanpa perlu menggelapkan dunia dan mengundang badai.

Aku tidak ingin kau terbebani dengan ini, karena aku bahkan sudah melalui musim panas yang membakar habis air mataku. aku tidak bisa menangis lagi. tapi disini, dipadang ini sedang terjadi musim dingin yang terlalu lama, namun uap bias harapku sekering sahara.

Aku membeku dan gersang dalam satu waktu karena rasa ini.



Tolong bangunkan aku ketika musim dingin ini telah sampai pada titik hentinya. Ataukah dunia memang hanya memiliki musim dingin ketika aku (rumput), kehilangan ilalang sepertimu...  


0 comments:

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir