Universitas Negeri Semarang (UNNES) belakangan ini dihebohkan oleh Pemilihan Raya Keluarga Mahasiswa atau yang biasa kita sebut Pemira periode 2011/2012 yang akan dilaksanakan tanggal 14 Desember 2011 nanti. SepertI yang telah disosialisasikan, Pemira tahun ini diikuti oleh tiga calon. Dengan diselenggarakannya Pemira, berarti hal terpenting yang disoroti adalah mengenai kesadaran politik mahasiswa.
Kampus, selain sebagai lembaga pendidikan, juga menggambarkan miniature kehidupan bernegara, terutama mengenai aspek politik. Kecenderungan aspek poltik ini semakin terasa kuat pengaruhnya ketika memasuki masa-masa pemilihan raya seperti saat ini. Namun, berdasarkan pemahaman yang ada sekarang, politik itu memang berarti sesuatu yang ‘kejam’. Bagaimana tidak, jika dalam sebuah pameo dikatakan, bahwa dalam politik tidak ada teman yang abadi, tidak ada kawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.
Menurut Henry S, dalam www.sumajanews.com, Pendidikan politik telah diatur dalam kurikulum Sisdiknas untuk memenuhi kebutuhan politik para pelajar dan mahasiswa. Tetapi bagi sebagian remaja, terutama mahasiswa yang notabene sudah dianggap mampu berpolitik dalam tingkatan lebih kompleks, ternyata masih kurang kesadaran politiknya. Bukan bermaksud sinis, tetapi menumbuhkan kesadaran politik dikalangan mahasiswa memang merupakan hal yang penting. Hal ini bertujuan bahwa sebagai mahasiswa kita dituntut untuk kritis sekaligus solutif dalam lingkungan masyarakat.
Selain itu, kesadaran politik perlu dibangun sedini mungkin pada kalangan mahasiswa mengingat merekalah yang akan menjadi pemengang pimpinan bangsa ini dengan sportif dan tanpa mengacuhkan norma-norma yang berlaku di bangsa kita. Tanggungjawab kita selanjutnya adalah bagaimana caranya agar terbangun kesadaran politik dalam diri masyarakat. Pada Buletin Express edisi 8 November 2011, tertulis bahwa pada Pemira tahun 2010 kemarin, dari 24000 mahasiswa hanya sekitar 6000 mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya. Selain itu, fenomena lain terjadi ketika diadakan dialog Presiden mahasiswa yang terlihat sedikit peminat. Hal ini dapat memicu adanya mahasiswa yang tidak memberikan hak suaranya pada saat Pemira, dengan alasan tidak mengenal calon Presma yang mengikuti Pemira. Hal ini tentu harus ditanggulangi, karena pemilih yang cerdas merupakan salah satu syarat terselenggaranya pemilu yang berkualitas. Pemilu yang berkualitas harus meliputi kontestan dan pemilih yang beretika, taat aturan main, media yang sehat dan objektif, penyelenggara juga objektif, dan pemilihnya cerdas. Pemilih yang cerdas adalah pemilih yang memahami peraturan pemilu, mengetahui orang yang dipilihnya dan pemilih yang tidak mau dibodohi oleh calon yang menggunakan politik iming-iming sebagai alat berkampanye.
Kita harus mencontoh aksi Himpunan Mahasiswa Islam di Jakarta yang mendirikan gerakan pemilih cerdas sebagai salah satu solusi mengurangi mahasiswa yang golput, serta memulai perybahan mendasar di kalangan mahasiswa. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan memberi stimulus kapada para mahasiswa untuk tutut serta menentukan keputusan yang menyangkut kehidupan mereka melalui media yang persuasif, misalnya dengan inovasi cara kampanye atau mengadakan teatrikal tentang pentingnya hak suara mereka untuk lembaganya.
Alternatif selanjutnya adalah dengan membudayakan partisipasi mahasiswa diluar organisasi penyelenggara Pemira dalam menentukan sistem pemungutan suara. Dengan begini, mahasiswa akan merasa bahwa kehadirannya sangat dibutuhkan, sehingga akan tumbuh rasa peduli dalam diri mereka. Mari kita canangkan suatu perubahan.
Kharissa Widya Kresna
PGSD FIP UNNES 2011
085742946406
Kamis, 08 Desember 2011
Upaya Sadar Politik dalam Pemilihan Raya Unniversitas Negeri Semarang (UNNES)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar