Aku slalu berkata pada diriku sendiri, setidaknya aku pernah menjadi bulan yang kau puja ketika kau tenggelam dalam gelap malammu.
Walau kini ketika kau sudah mulai melihat fajar, kau menemukan mentari yang lebih terang daripada aku..
tapi memang setidaknya aku pernah kau puja walau kini tidak lagi.
seharusnya ku sudah cukup bahagia menjadi sesuatu yang menemanimu ketika kau terjebak dalam kebutaan yang pekat.
tapi ternyata tidak sesederhana itu.
Egoisme ini terlalu melekat kuat, berat untuk kupungkiri.
Seeorang macam apa yang telah tega meninggalkanku untuk matahari? sedangkan aku memberinya seluruh cahaya yang kupunya untuk mengangkatnya dari keredupan.
Kau slalu memuja mentari? selalu?
kau pikir matahari jauh lebih hebat dari aku?
tapi pernahkah kau berfikir, bagaimana kau layak mendapatkan sesuatu yang sebesar mentari jika pada sesuatu sekecil aku kau tak bisa mempertanggungjawabkan harapan yang kau ciptakan padaku?
pernahkah kau berfikir, sehebat apa mentari jika tak mampu menerangimu dalam gelap malammu?
Aku Sang Bulan.
Aku Sang Bulan tempat kau meratap dalam gelap malammu.
bagaimana aku bisa setidak-berarti itu dimatamu?
ataukah mentari yang bias sinarnya terlalu terang itu terlalu menyilaukanmu?
ataukah kecerahan mentari itu telah meredupkan sinar perak pucatku?
Sudah pasti aku kalah jika kau sandingkan pada mentarimu itu.
Sudah pasti.
Tapi tak seharusnya kau mensejajarkan aku dengannya. Apalagi untuk memilih!
Siapa dirimu, kau pikir?
Aku mempertahankanmu bahkan ketika badai dinginnya angin malam menghembusmu.
Aku mengawasimu, berjaga untuk keamananmu bahkan disaat kau mengalami titik paling terang dihidupmu. walau untuk bertahan melihatmu dalam terang mentari aku harus merasakan perih..
Aku Sang Bulan.
Aku Sang Bulan yang kau tinggalkan demi bias mentari.
Kenapa tak juga bisa kau melihatku?
Kenapa tak lagi bisa kau melihatku?
Tapi Aku Sang Bulan.
Aku Sang Bulan yang akan terus bersinar walau tak terlihat.
Mungkin kau bertanya, kenapa tulisan ini bukan lagi tentang rumput dan ilalang?
kenapa sekarang bulan dan mentari?
semua itu karena seiring menghilangnya malam aku --bulan-- terus menerus dan semakin meredup, sedangkan kau makin bersinar dalam terangnya mentari dalam hidupmu.
Aku.
Diujung senja peraduanku.
Selasa, 17 Januari 2012
Sepucuk Surat dari Sang Bulan, Sebuah ledakan yang tak lagi tertahan.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 01.02
Labels: Tulisan Bebas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar