Rabu, 07 Maret 2012

Sepucuk Surat... Entah yang ke-berapa.

Menemuimu di ujung pagi.
Salam untukmu yang sampai hari ini masih bertahan untuk tidak menengok ke belakang. Hebat sekali.
Sedangkan aku masih disini dan berusaha lari.
Aku tidak tau aku menunggu karena atau untuk apa. tapi yang kutau aku hanya masih ingin disini. ya. aku masih ingin disini.
Menyerap bau rumput yang tertinggal. barangkali saja masih ada serpihannya untuk kujadikan alasan yang tak akan lagi mampu tersapu waktu.

Aku suka melihatmu tersenyum seperti itu. tapi aku masih juga berusaha mengingkari kalau aku tak ingin kau bahagia tanpa aku.
Dalam surat sebelumnya aku pernah bilang, bahwa mimpi-pun terasa sangat menyakitkan ketika tak ada harapan akan terwujud. Aku hanya tak ingin membiarkan tembok yang berusaha kubangun melemah.
Tapi sebenarnya aku tau kalau sudah hancur. Lucu ya? tidak juga.
Hidup ini tragedi untuk mereka yang memikirkannya.

Aku hanya lelah untuk terus memikirkan, tapi aku juga tak bisa untuk melupakan. Aku tidak tau.
Hei, hari ini menyebalkan sekali. tapi aku berharap suatu saat tiap pucuk surat yang kutulis bisa ku kumpulkan menjadi sebuah bendel kecil.

Aku tau menulis seperti ini sedikit percuma. karena aku tak pernah berani mengirimkannya secara langsung padamu. aku hanya berharap kau membacanya ketika tanpa sengaja membuka dunia tanpa batas ini.

Aku hanya ingin menjaga diriku. Hei, bagaimana-pun aku perempuan bukan? aku hanya... yaa... tidak mungkin berkata terus terang kalau ini tentangmu. Aku hanya terus menulis perumpamaan yang hanya aku yang tau persis siapa tokoh utamanya. haha.. mungkin aku berbakat menjadi seorang penulis skenario?
entahlah.

Selalu dalam temaram senja seperti ini, aku mengingat sesuatu. sesuatu yang aku bahkan tidak tau kenapa aku mengingatnya. Maafkan aku. Jika kata seorang penulis, seseorang harus pindah katika tempat kediamannya sudah dirasa sempit untuk menuju ke tempat yang lebih luas dan nyaman, aku tidak begitu.
Entah kenapa aku justru sangat ingin tidak pindah.
tapi sudahlah, ini kewajibanku bukan? kuanggap ini adalah tugas.
Ya. tugasku yang tak pernah kau mengerti caraku melakukannya.
Berat memang. tapi biarkan aku menjalani prosesku sampai aku selesai. Kamu bisa diam disana jika sabar.

Aku hanya ingin melindungi milikku sendiri. aku tidak mau milikku terluka. maaf. mungkin aku membuat keputusan-keputusan yang salah, tapi itulah aku.
semua yang kumaksudkan hanya untuk diriku sendiri saat ini. aku ingin milikku utuh kembali. dengan sendirinya.
Kadang aku berfikir kenapa harus aku? kenapa bukan kamu?
hahaha.. lucu. tapi ya sudahlah. memang adanya begini dan kuakui.

Kamu boleh saja mengumpulkan lembaran lembaran halaman ini, menumpuknya atau membawanya ke psikiater untuk dianalisa. aku mungkin sudah bisa menebak hasilnya.
Ah, sudahlah. Aku sedang berada dipuncak ego-ku.

hanya 2 hal. perjuangkan atau tinggalkan. atau pilihan paling buruk: TIDAK KEMANA-MANA.

0 comments:

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir