Selamat pagi,
Dia yang matanya sejernih embun ini
Kuharap masih sama teduhnya,
memantulkan bias semangat yang sedang tak bisa kuselami kedalamannya
Aku tak bisa merangkaikan kata-kata untuknya lebih dari ini,
Tapi kuharap, jika dia melihat embun setiap pagi itu cukup mengingatkannya padaku,
orang yang menyamakan matanya dengan itu.
Selamat pagi,
Dia yang matanya sebening embun ini
Kuharap masih sama murninya,
memantulkan doa-doa kepada Sang Pencipta, bahwa aku--atau dia--tetap tunduk pada apa yang digariskan oleh-Nya
sekalipun yang mampu terjalin hanya milyaran kata.
merangkai serutan-serutan kerinduanku padanya.
Aku tak bisa menghiburnya lebih dari ini,
Tapi kuharap, jika dia lihat embun setiap pagi itu cukup menguatkannya daripadaku,
orang yang mengirimkan setiap lembar buku doa untuknya.
Ibu.
Rabu, 27 Februari 2013
Embun Pagiku
Posted by Kharissa Widya Kresna at 16.24
Labels: Prosa, Tulisan Bebas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 comments:
Posting Komentar