'Aku tidak merindukannya.' Yuna mengerang
'Oh, Yuna. Akui sajalah.' Bantah Putri
'Tidak sama sekali. Kalau kau pikir aku cuma duduk di tempat tidur seharian sambil memandangi layar ponsel itu berarti aku merindukannya, kau salah besar.' Yuna bersikeras
'Kenyataannya memang seperti itu.' Putri merasa menang adu argumen dengan Yuna kali ini.
'Put, aku bisa gila kalau kita terus membicarakan ini.'
'Kamu yang memintanya meninggalkanmu, Yun..' Yuna mendadak menegakkan kepalanya.
'Kau bicara sekali lagi atau kuamputasi gajimu bulan ini!' Yuna berteriak. Putri mengangkat bahu. Sahabatnya ini memang keras kepala.
'Oke. Lupakan.' Katanya kemudian. Menyerah.
Yuna terdiam dan mengalihkan perhatiannya dengan membolak-balik halaman majalah remaja yang baru dibelinya di lampu merah pagi tadi.
Tapi seiring matanya menelusuri tiap baris majalah itu, pikirannya justru semakin terbang ke tempat lain.
Yuna ingat bagaimana dulu dia bergeming dengan perubahan sikapnya yang membuat Yulian protes keras.
Yuna ingat bagaimana dulu dia membiarkan Yulian lelah mempertanyakan kesibukannya, hingga akhirnya Yulian mengucapkan selamat tinggal padanya, satu tahun yang lalu.
Yuna berfikir dengan melepaskan Yulian berarti dirinya akan terbebas dari perasaan yang membelenggunya.
Jarak memang selalu membuat semuanya jauh lebih sulit.
Bagaimana hidup berjauhan menjadi alasan untuk saling mencurigai tanpa alasan, dan bagaimana hidup berjauhan mengubah waktu menjadi semakin sempit dari yang sebenarnya.
Dan rindu semakin terasa bagaikan pasir yang harus kau minum setiap hari.
Yuna menghela nafas. Ternyata anggapannya salah besar. Memutuskan hubungan dengan Yulian tak sepenuhnya membuat hatinya menjadi utuh untuk dirinya sendiri seperti sebelumnya, tetapi justru memecahnya menjadi bagian yang semakin kecil. Tak tersisa sedikitpun untuk dirinya sendiri.
'Astaghfirullah..' Yuna menghela nafas
'Yun, kau tak apa?' Putri mengguncang bahunya.
'Kurasa.. Jarak memang mengubah segalanya, kecuali 1 hal. Kenangan.' Yuna menggelengkan kepalanya, lalu menunduk. Membiarkan tirai tipis yang menyelimuti matanya meluncur menetesi rok yang dipakainya.
Yulian baru saja menulis sebuah teks di pesan singkatnya, namun butuh waktu beberapa menit untuk memutuskan menghapusnya kembali.
Yulian diam. Sebenarnya apa yang membuatnya ragu mengirim sebuah pesan?
Satu tahun yang lalu mengirimkan pesan singkat seperti ini terasa sangat mudah baginya. Bahkan dalam sehari dia bisa mengirim ratusan pesan singkat kepada orang yang sama : Yuna.
Dia memasukkan ponselnya sambil berfikir, apa yang membuatnya takut mengirim pesan? Apa dia takut Yuna mengetahui bahwa dia merindukannya, atau dia justru takut mengakui kenyataan bahwa dia merindukan Yuna?
Sebagai seorang cowok yang diputuskan hubungannya oleh seorang cewek, bukan hal yang mudah bagi Yulian untuk datang dan mengatakan 'Aku merindukanmu' kepada cewek yang telah memutuskannya.
Entahlah, ego memang selalu mengambil logikanya sendiri.
Satu tahun sudah berlalu. Dia memikirkan seperti apa Yuna sekarang. Dia mendengar kabar bahwa Yuna sekarang sudah bekerja di perusahaan penerbitan, persis seperti yang dicita-citakannya dulu. Dia juga mendengar kabar kalau diwajah Yuna sudah bertengger sebuah kacamata.
Mungkinkah Yuna semakin cantik dengan kacamata itu?
Jarak rumah Yulian dengan Yuna tidak kurang dari 20 km. Hanya saja sekarang Yuna bertempat tinggal di kota yang berjarak 75 km dari tempatnya tinggal. Yuna memang beruntung. Mendapatkan pekerjaan dan tinggal di kota besar, sedangkan dia masih di kota kelahirannya, berteman dengan anak-anak setiap harinya.
Yulian kembali mengingat, bagaimana perasaannya ketika melewati rumah Yuna dalam perjalanan menuju rumah ibunya. Perasaan bergetar dan seolah ada angin yang menerpa tubuhnya, melemaskan seluruh tulangnya.
Perasaan itu masih sama, dan tidak berkurang bahkan ketika Yulian tak lagi melihat wajah Yuna selama satu tahun belakangan.
Yulian menggigit bibirnya, kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia kembali tersenyum dan memejamkan mata, ketika pemberitahuan di ponselnya mengabarkan bahwa pesan yang dikirimnya telah sampai di ponsel Yuna.
Trrrrrr...
Yuna dikagetkan dengan getar ponselnya. Sudah berapa lama dia melamun?
Dibukanya ponselnya dan dibacanya pesan singkat dengan nama yang sangat dikenalnya tertera disana.
Hai, lama tak pernah memberi kabar. Kamu sudah lupa ya padaku?
Perlu sedikitnya limabelas detik bagi Yuna untuk mempercayai siapa pengirimnya.
Dia meletakkan ponselnya sebentar. menatap sekeliling, dan merenggangkan jemarinya.
Kau yang menghilang tanpa kabar
Ketiknya. tapi kemudian dia memencet tombol delete hingga layar ponselnya kembali bersih.
Alhamdulillah, aku baik. Kamu bagaimana Yul?
Yuna kemudian memencet tombol send.
Pesan balasannya tidak datang dalam waktu sepuluh menit setelah Yuna mengirimkan pesannya.
Yuna mulai gelisah. Sesekali dia menengok ponselnya ketika mengetik, berharap pesan balasan sudah bertengger disana. Tapi hingga genap keduapuluh kalinya Yuna menengok ponselnya yang tergeletak tanpa suara, balasan itu tak kunjung tiba.
Yuna menggigit bibirnya. Mungkinkah Yulian mengirim pesan singkat hanya untuk menggodanya?
Mungkinkah Yulian tak merindukannya seperti yang dia bayangkan?
Yuna masih berharap dengan cemas, bahkan ketika satu jam sudah berlalu.
Pesan dari Yulian tak kunjung menggetarkan ponselnya.
Yuna melirik jam dinding di kantornya.
Sudah waktunya istirahat makan siang. Masa sih Yulian tak sempat membalas pesannya?
Yuna menghempaskan tubuhnya pada senderan kursi kerjanya.
Dia menyesali dirinya yang begitu mudah terombang-ambing hanya dengan pesan singkat yang dikirimkan Yulian. Dia menyesali dirinya yang masih begitu mudah disusupi harapan kepada Yulian.
Ya Rabb, maafkan hamba. bisiknya. Kemudian Yuna berdiri dan beranjak menuju ke mushola di kantornya.
(Bersambung...)
Selasa, 12 Februari 2013
Jengkal Jarak (Part I)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.36
Labels: Cerpen, Tulisan Bebas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar