Yuna melempar kuat-kuat sebungkus es krim yang diterimanya dari Yulian.
Yulian tercengang.
'Kenapa kamu buang, Yun?'
'Aku nggak suka.' Jawab Yuna tandas. Yulian memandang dengan hati pedih.
'Sejak kapan kamu nggak suka es krim?' Tanyanya lirih.
'Sejak kamu bikin kesalahan besar. Aku memutuskan untuk tidak lagi mengunyah bongkahan krim padat menjijikan seperti itu.'
Yulian tertegun. Dia masih berusaha menguatkan hatinya menerima cecaran kata-kata tak berperasaan yang dilontarkan Yuna. Yuna masih diam dengan ekspresi beku.
'Baiklah. Kamu mau apa?' Tanya Yulian. Yuna mendongak, menatap Yulian yang terpaut 15 cm dari tinggi badannya, kemudian tersenyum sinis.
'Aku tidak mau apa-apa. Tidak kehadiranmu, tidak ribuan es krim yang kau bawa, atau apapun. Aku tidak butuh apapun.'
Yulian gusar. Dia mulai kehabisan kesabaran.
'Kamu ini kenapa, Yun? Kenapa mendadak aneh begini?'
'Aku tidak aneh.' Yuna menyahut datar.
'Terserah kau saja. Aku lelah!' Yulian akhirnya beranjak meninggalkannya. Yuna hanya memandang.
Sepeninggal Yulian, Yuna menghela nafas. Memandang nanar kearah es krim kesukaannya tergeletak. Hatinya perih.
Tidak. Aku tidak harus menyukainya.
Yuna mengulang kalimat itu dalam hatinya. Berulang kali, hingga kalimat itu hanyalah sebuah kalimat. tanpa makna. Hilang dalam riuh rendah gejolak hatinya.
***
Malam itu, Yuna turun dari motornya dan merapikan jilbabnya.
Dia memandang sekilas dari kaca spion, memastikan agar tak ada yang terlewat dari penampilannya. Dia ingin terlihat sempurna.
Yuna melangkahkan kaki memasuki minimarket dengan riang. Dia berencana membeli beberapa es krim untuknya dan Yulian.
Sambil memilih es krim kesukaan Yulian, dia tersenyum. Membayangkan tawa Yulian benar-benar membuatnya senang. Yuna berjalan memutar, sambil menimbang, kira-kira apa rasa es krim kesukaan Yulian.
Malam itu gerimis mengguyur pelan, menyisakan uap-uap air di kaca mini market. Tak banyak orang yang berada di mini market, tapi itu justru membuat Yuna leluasa. Dia tak pernah suka keramaian.
Sejenak Yuna berfikir : apakah keputusannya membeli es krim di saat hujan tidak akan membuat Yulian flu nantinya? Tapi ah, es krim selalu nikmat dinikmati. Walapun suasana sedang hujan sekalipun.
Apalagi Yulian sedang banyak beban pikiran. Es Krim cokelat ini pasti bisa membuatnya sedikit rileks.
Yuna berdiri beberapa saat di depan kotak penyimpanan es krim, hingga akhirnya memilih 2 buah es krim rasa cokelat.
Yuna mengancingkan jaketnya lebih rapat, memasang tudungnya, kemudian beranjak membuka pintu mini market. Beberapa percikan hujan menetesi wajahnya.
Yuna refleks memalingkan muka, dan dilihatnya Yulian sedang memarkir motor. Yulian.
Yuna tersenyum. Semestanya seketika berwarna. Seolah hujan sudah berhenti dan langitnya serupa pelangi.
Hanya saja senyumnya tak berlangsung lama. Seper-sekian detik kemudian Yuna melihat bahwa ternyata Yulian tak sendirian. Dia bersama seorang gadis yang dia kenal. Refleks, Yuna merapatkan tubuhnya ke tiang penyangga mini market yang 3 kali lebih besar dibanding tubuhnya. Berusaha agar Yulian tak melihatnya.
Yuna masih terus memandangi Yulian yang berjalan sambil mengucek rambut gadis yang sedari tadi bersamanya.
Bayangan tubuh mereka terus berjalan tanpa menyadari kehadiran Yuna, dan baru berhenti didepan boks es krim tempat Yuna berdiri beberapa menit yang lalu.
Yuna tersenyum, kemudian mencantolkan plastik belanjaannya yang berisi dua buah es krim di stang motor Yulian. Membiarkan rintikan hujan yang mengenai plastiknya menimbulkan bunyi gemerisik lembut dengan irama yang konstan.
Yuna mengambil kunci, menghidupkan motornya, kemudian memacunya menerobos keremangan malam dan tirai hujan.
***
Yuna menghela nafas.
Dia menyukai es krim bukan sekedar suka. Tapi es krim adalah bagian lain dari dirinya.
Es krim adalah tanda kebersamaannya dengan orang-orang yang dia sayangi.
Satu-satunya sarana berbagi isi hati kepada orang-orang di sekitarnya.
Satu-satunya cara yang dia buka untuk menerima kehadiran seseorang dalam hidupnya.
Ini kali kedua es krim yang dia berikan untuk Yulian mencair sia-sia.
Dia memutuskan untuk tidak lagi menerima atau memberikan es krim setelahnya.
02042013
Minggu, 21 April 2013
Mempertanyakan Alasan
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.34 1 comments
Labels: Cerpen, Prosa, Tulisan Bebas
Kamis, 14 Februari 2013
Jengkal Jarak.. (Part III)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.40 0 comments
Labels: Cerpen, Tulisan Bebas
Selasa, 12 Februari 2013
Jengkal Jarak (Part II)
Yulian mengusap wajahnya yang basah untuk kesekian kalinya. Setiap wajahnya mulai kering dia segera mengguyurnya lagi di kran air. begitu seterusnya hingga hampir setengah jam.
'Yul, wudhu ratusan kali itu nggak bakal bikin kamu tenang kalau belum sholat.' Andre menepuk bahu Yulian.
Yulian kaget dan tergagap. Saking kagetnya air kran tanpa sengaja memasuki tenggorokannya.
Yulian mendongakkan kepala dengan kesal.
'Kamu nggak bisa permisi dulu apa sebelum ngomong? kamu pikir kesedak air kran itu hal yang keren gitu?' Yulian melemparkan raut muka penuh peperangan. Andre mengangkat bahu.
'Mungkin saja kan tahun ini bakal ada kontes menelan air kran terbanyak. Kamu bisa menang Yul..' Kata Andre sambil mendahului Yulian meninggalkan tempat wudhu.
Yulian mendelik.
Yulian menghempaskan dirinya ke dinding. Dia memandangi murid-muridnya yang bermain dengan riang di halaman sekolah. Beberapa tampak ceria bermain lompat tali dengan karet gelang yang disusun memanjang, beberapa tampak beradu mulut memperdebatkan siapa yang curang ketika bermain. Yulian tersenyum. Anak-anak memang selalu menunjukkan hal lucu yang menakjubkan. Kalau saja dia dan Yuna nantinya menikah, apakah anak-anak mereka akan selucu itu?
Yulian tertegun dan merubah cara duduknya. Dia merasakan seluruh tubuhnya menegang. Dia mengerjapkan matanya, berusaha menelaah pikirannya sendiri. Dia kaget dengan apa yang dipikirkannya barusan. Sejak kapan dia mulai melantur?
Yulian bergegas mengambil ponselnya dari saku. Dia hampir lupa kalau tadi mengirimkan pesan kepada Yuna. Apakah Yuna membalasnya? Apakah pesan yang dikirimnya bukannya memperbaiki hubungannya dengan Yuna tetapi malah semakin memperburuknya? Apakah Yuna justru marah besar dan menganggap dia hanya menggodanya?
Yulian terdiam sebentar, meredam kebisingan anggapannya sendiri yang terus berkecamuk di otaknya. Dilayar ponselnya tertera nama Yuna lengkap dengan balasan pesannya.
Aah..
Yulian mendesah.
Mencintai adalah sesuatu yang sulit ketika sudah begini keadaannya. Hal-hal kecil yang tampak tak berarti justru menjadi sesuatu yang besar dan sulit dipahami.
Apa artinya jika dalam setahun dia belum bisa melupakan Yuna?
Apa artinya jika dalam setahun dia masih berharap Yuna memiliki perasaan yang sama?
Seandainya malam itu Yuna tidak memutuskan hubungan mereka tepat sehari sebelum dia dan orangtua-nya mendatangi rumah Yuna, akankah semuanya terasa jauh membahagiakan?
Yuna menyerah. dia menggeletakkan ponselnya begitu saja dan tidak menyentuhnya sama sekali. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya dan membuat Putri menatapnya dengan tatapan curiga. Yuna bukannya tidak menyadari, hanya saja dia belum sempat menghadapi pertanyaan Putri yang pasti akan memberondongnya tanpa ampun.
Putri pasti akan terus menanyakan mengapa, dan aku belum tahu harus menjawab apa. Pikir Yuna. Dia mendengar Putri berbicara tapi tidak bisa berkonsentrasi pada apa yang dibicarakannya, hingga Putri menariknya keluar dari dunia lamunan dengan mencubit tangannya keras-keras.
'Aduh!' Pekik Yuna. Putri menatapnya dengan mata melebar. Sejenak Yuna takut mata sahabatnya itu akan mencuat keluar.
'Kamu itu kenapa sih Yun?' Ujar Putri kesal. Yuna mengusap-usap tangannya yang pedih bekas dicubit Putri tadi.
'Nggak papa. Kamu nggak bisa ya lembut dikit?' Kata Yuna kesal. Putri mendengus.
'Itu nggak seberapa Yun. Bisa lebih sakit, kalau kamu nggak mau cerita apa yang menjadi masalahmu.' Putri menegaskan.
Putri tahu, Yuna adalah tipe orang yang akan langsung bercerita jika ceritanya itu membahagiakan, tapi cenderung menyimpan rapat-rapat kalau itu membuatnya sedih.
Yuna menghela nafas. Tatapannya meredup. Putri secara defensif menepuk bahu Yuna, sekedar memberinya aliran kekuatan. Tidak masuk akal memang. Tapi apa salahnya dilakukan? Yuna kan sedang membutuhkan dukungan.
'Aku tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak menyangka, kalau sebuah sms dari Yulian bisa benar-benar membuat cuaca hidupku berubah. Sebegitu berartikan dia untukku?' Pertanyaan Yuna terdengar mengambang. Putri yakin pertanyaan itu lebih ditujukan Yuna kepada dirinya sendiri ketimbang kepada Putri.
'Yulian menghubungimu?' Tanya Putri. Yuna mengangguk samar.
'Aku takut dia kembali.. Maksudku kenangan tentang dia kembali.' Yuna merasakan nada tidak yakin dalam suaranya. Dia takut Yulian kembali atau justru mengharapkan Yulian kembali?
Yuna memeluk lengannya sendiri. Bukan kali pertama harapan itu menyembur dengan dahsyatnya ketika sebuah pesan pendek Yulian bertengger di kotak masuknya. Lalu tanpa ampun harapan itu gugur begitu saja ketika Yulian tak lagi mengirimkan pesan balasan ketika dia membalasnya.
Apa memang hati perempuan selalu serapuh ini? Atau Yulian yang terlalu kuat mendiami relung hatinya?
'Kamu yang memintanya meninggalkanmu.' Suara Putri terngiang kembali di kepalanya. Yuna menahan isak tangisnya. Kenapa begitu membekas?
Putri secara refleks memeluk sahabatnya, dan Yuna membiarkan kepalanya bersandar di pundak Putri. Dia merasakan bulir air matanya menetes membasahi leher sahabatnya, tapi dia tak peduli.
Saat ini, keberadaan Putri sudah lebih dari cukup menghibur hatinya.
Yulian berulang kali menggumamkan kalimat meminta maaf. Dia sendiri tidak yakin kalimat itu ditujukan kepada siapa. Entah kepada Penciptanya, entah kepada Yuna. Satu-satunya yang dia rasakan saat ini adalah perasaan bersalah.
Mungkinkah dia sudah mengusik hidup wanita yang dicintainya?
(Bersambung...)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.38 0 comments
Labels: Cerpen, Tulisan Bebas
Jengkal Jarak (Part I)
'Aku tidak merindukannya.' Yuna mengerang
'Oh, Yuna. Akui sajalah.' Bantah Putri
'Tidak sama sekali. Kalau kau pikir aku cuma duduk di tempat tidur seharian sambil memandangi layar ponsel itu berarti aku merindukannya, kau salah besar.' Yuna bersikeras
'Kenyataannya memang seperti itu.' Putri merasa menang adu argumen dengan Yuna kali ini.
'Put, aku bisa gila kalau kita terus membicarakan ini.'
'Kamu yang memintanya meninggalkanmu, Yun..' Yuna mendadak menegakkan kepalanya.
'Kau bicara sekali lagi atau kuamputasi gajimu bulan ini!' Yuna berteriak. Putri mengangkat bahu. Sahabatnya ini memang keras kepala.
'Oke. Lupakan.' Katanya kemudian. Menyerah.
Yuna terdiam dan mengalihkan perhatiannya dengan membolak-balik halaman majalah remaja yang baru dibelinya di lampu merah pagi tadi.
Tapi seiring matanya menelusuri tiap baris majalah itu, pikirannya justru semakin terbang ke tempat lain.
Yuna ingat bagaimana dulu dia bergeming dengan perubahan sikapnya yang membuat Yulian protes keras.
Yuna ingat bagaimana dulu dia membiarkan Yulian lelah mempertanyakan kesibukannya, hingga akhirnya Yulian mengucapkan selamat tinggal padanya, satu tahun yang lalu.
Yuna berfikir dengan melepaskan Yulian berarti dirinya akan terbebas dari perasaan yang membelenggunya.
Jarak memang selalu membuat semuanya jauh lebih sulit.
Bagaimana hidup berjauhan menjadi alasan untuk saling mencurigai tanpa alasan, dan bagaimana hidup berjauhan mengubah waktu menjadi semakin sempit dari yang sebenarnya.
Dan rindu semakin terasa bagaikan pasir yang harus kau minum setiap hari.
Yuna menghela nafas. Ternyata anggapannya salah besar. Memutuskan hubungan dengan Yulian tak sepenuhnya membuat hatinya menjadi utuh untuk dirinya sendiri seperti sebelumnya, tetapi justru memecahnya menjadi bagian yang semakin kecil. Tak tersisa sedikitpun untuk dirinya sendiri.
'Astaghfirullah..' Yuna menghela nafas
'Yun, kau tak apa?' Putri mengguncang bahunya.
'Kurasa.. Jarak memang mengubah segalanya, kecuali 1 hal. Kenangan.' Yuna menggelengkan kepalanya, lalu menunduk. Membiarkan tirai tipis yang menyelimuti matanya meluncur menetesi rok yang dipakainya.
Yulian baru saja menulis sebuah teks di pesan singkatnya, namun butuh waktu beberapa menit untuk memutuskan menghapusnya kembali.
Yulian diam. Sebenarnya apa yang membuatnya ragu mengirim sebuah pesan?
Satu tahun yang lalu mengirimkan pesan singkat seperti ini terasa sangat mudah baginya. Bahkan dalam sehari dia bisa mengirim ratusan pesan singkat kepada orang yang sama : Yuna.
Dia memasukkan ponselnya sambil berfikir, apa yang membuatnya takut mengirim pesan? Apa dia takut Yuna mengetahui bahwa dia merindukannya, atau dia justru takut mengakui kenyataan bahwa dia merindukan Yuna?
Sebagai seorang cowok yang diputuskan hubungannya oleh seorang cewek, bukan hal yang mudah bagi Yulian untuk datang dan mengatakan 'Aku merindukanmu' kepada cewek yang telah memutuskannya.
Entahlah, ego memang selalu mengambil logikanya sendiri.
Satu tahun sudah berlalu. Dia memikirkan seperti apa Yuna sekarang. Dia mendengar kabar bahwa Yuna sekarang sudah bekerja di perusahaan penerbitan, persis seperti yang dicita-citakannya dulu. Dia juga mendengar kabar kalau diwajah Yuna sudah bertengger sebuah kacamata.
Mungkinkah Yuna semakin cantik dengan kacamata itu?
Jarak rumah Yulian dengan Yuna tidak kurang dari 20 km. Hanya saja sekarang Yuna bertempat tinggal di kota yang berjarak 75 km dari tempatnya tinggal. Yuna memang beruntung. Mendapatkan pekerjaan dan tinggal di kota besar, sedangkan dia masih di kota kelahirannya, berteman dengan anak-anak setiap harinya.
Yulian kembali mengingat, bagaimana perasaannya ketika melewati rumah Yuna dalam perjalanan menuju rumah ibunya. Perasaan bergetar dan seolah ada angin yang menerpa tubuhnya, melemaskan seluruh tulangnya.
Perasaan itu masih sama, dan tidak berkurang bahkan ketika Yulian tak lagi melihat wajah Yuna selama satu tahun belakangan.
Yulian menggigit bibirnya, kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia kembali tersenyum dan memejamkan mata, ketika pemberitahuan di ponselnya mengabarkan bahwa pesan yang dikirimnya telah sampai di ponsel Yuna.
Trrrrrr...
Yuna dikagetkan dengan getar ponselnya. Sudah berapa lama dia melamun?
Dibukanya ponselnya dan dibacanya pesan singkat dengan nama yang sangat dikenalnya tertera disana.
Hai, lama tak pernah memberi kabar. Kamu sudah lupa ya padaku?
Perlu sedikitnya limabelas detik bagi Yuna untuk mempercayai siapa pengirimnya.
Dia meletakkan ponselnya sebentar. menatap sekeliling, dan merenggangkan jemarinya.
Kau yang menghilang tanpa kabar
Ketiknya. tapi kemudian dia memencet tombol delete hingga layar ponselnya kembali bersih.
Alhamdulillah, aku baik. Kamu bagaimana Yul?
Yuna kemudian memencet tombol send.
Pesan balasannya tidak datang dalam waktu sepuluh menit setelah Yuna mengirimkan pesannya.
Yuna mulai gelisah. Sesekali dia menengok ponselnya ketika mengetik, berharap pesan balasan sudah bertengger disana. Tapi hingga genap keduapuluh kalinya Yuna menengok ponselnya yang tergeletak tanpa suara, balasan itu tak kunjung tiba.
Yuna menggigit bibirnya. Mungkinkah Yulian mengirim pesan singkat hanya untuk menggodanya?
Mungkinkah Yulian tak merindukannya seperti yang dia bayangkan?
Yuna masih berharap dengan cemas, bahkan ketika satu jam sudah berlalu.
Pesan dari Yulian tak kunjung menggetarkan ponselnya.
Yuna melirik jam dinding di kantornya.
Sudah waktunya istirahat makan siang. Masa sih Yulian tak sempat membalas pesannya?
Yuna menghempaskan tubuhnya pada senderan kursi kerjanya.
Dia menyesali dirinya yang begitu mudah terombang-ambing hanya dengan pesan singkat yang dikirimkan Yulian. Dia menyesali dirinya yang masih begitu mudah disusupi harapan kepada Yulian.
Ya Rabb, maafkan hamba. bisiknya. Kemudian Yuna berdiri dan beranjak menuju ke mushola di kantornya.
(Bersambung...)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.36 0 comments
Labels: Cerpen, Tulisan Bebas
Sabtu, 05 Januari 2013
Tiba-tiba Aku Membenci Hujan
Kalimat-kalimat itu berdengung bising, ingin dilontarkan, tetapi aku hanya tenggelam dalam kebekuan.
Terdiam menatapmu.
teringat, kalau sebenarnya aku sudah terlalu banyak menulis tentang hujan, dan tiba-tiba aku bosan.
Tiba-tiba aku benci sekali pada hujan.
Bgaimana hujan membuatku menulis sejuta kalimat tentangmu, tetapi hujan membuatmu menulis berjuta kalimat untuk orang lain.
Aku terlalu cemburu hujan yang bahkan bisa menarikmu dari duniamu, sekaligus membuatmu terbenam dalam bagian lain duniamu sendiri,dan hadirku makin tak kau sadari.
atau aku juga lelah, melihatmu terombang-ambing dalam suasana hujan dan kehilangan senyummu yang sebelumnya selalu untukku.
Sebelum hujan turun semuanya milikku.
tetapi seiring kedatangannya, siluet bayangan yang tak kukenal mengambil alihmu dariku.
Aku benci sekali.
Siapa dia? sampai dengan mudahnya mengambilmu dariku? padahal aku bersusah payah, melakukan segalanya untuk satu saja lengkungan dari bibir manismu.
Dan seiring hujan tiba, tiba-tiba saja dia merenggut senyummu menjadi gurat kegalauan. Galau karena dia yang bahkan, namanya saja tak kuketahui.
Ingin sekali aku berteriak dan memaki hujan.
Ingin sekali aku membuangnya jauh dari hidupmu.
Sebelum hujan turun semuanya milikku.
Ceriamu, tawa renyah dan gurau candamu.
tetapi seiring hujan turun, kau kembali duduk terpekur dan menatap kejauhan.
mengatakan padaku kalau hujan membuatmu teringat masa-masa yang telah lalu.
Tiba-tiba aku membenci hujan. Bagaimana dia membuatku tak berdaya untuk menahanmu tetap ceria.
Hujan membuatku tak berdaya menghalau bayangnya merasuki setiap relung hatimu yang kurambati dengan susah payah.
Siapa dia? Bolehkah aku membunuhnya? sekalipun kau mencintainya?
Tiba-tiba aku membenci hujan.
Seiring kedatangannya membuat aku terlalap amarah.
Katakan padaku, Apa yang harus kulakukan agar Hujan tak lagi membawa namanya kembali ke celah-celah hatimu?
Apa yang harus kulakukan agar Hujan berhenti mengingatkan segala tentangnya dan menggantinya DENGANKU?
Hujan pertama yang kulalui denganmu di tahun ini.
Ardyan.
Yuna mendesah pelan.
Bagaimana ini?
Posted by Kharissa Widya Kresna at 18.12 0 comments
Labels: Cerpen, Tulisan Bebas
Es Krimku Mencair..
Yuna berulang kali melirik jam tangannya, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman kota tempatnya menunggu.
Harusnya kamu datang tiga jam yang lalu, bisiknya dalam hati.
Tangan kirinya menggenggam plastik hitam yang sedari tadi dibawanya. sedangkan tangan kanannya berulang kali memencet ponselnya.
Tidak ada jawaban. Tidak bisa dihubungi.
'Yulian, kamu kemana sih? katanya mau es krim.' dengusnya kesal.
Dia berdiri, berjalan gelisah dan mengehempakan kembali tubuhnya di kursi.
Yuna menunduk. Dipelupuk matanya timbul lapisan air yang mengaburkan pandangannya.
tangannya meremas plastik hitam yang digenggamnya. sejurus kemudian butiran-butiran bening jatuh membasahi jilbabnya.
Yuna berdiri dan melangkah pergi. Putus asa sudah dia menunggu.
***
Langit siang selalu panas, apalagi di daerah tempat tinggal Yuna.
tapi angin sepoi-sepoi juga berhembus menerpa jilbab cream-nya ketika dia duduk di rerumputan taman kota.
'Pulanglah.', kata Yulian
Yuna menoleh. Dia terkejut melihat Yulian yang tiba-tiba berada dibelakangnya. Tapi dia hanya diam.
'Pulanglah.' ulang Yulian lebih keras.
Yuna bergeming.
'Yun, pulanglah.' kata Yulian lagi. kali ini lembut sekali.
'Apa pedulimu?' tanya Yuna
'Pulanglah. sudah siang. panas.' Kata Yulian.
'Kemana kamu kemarin?' Yuna bertanya lagi.
'Pulanglah Yun. atau mau kuantar? Yulian balik bertanya.
'Kamu nggak jawab pertanyaanku.' sahut Yuna
'Aku datang!' teriak Yulian tiba-tiba
'Bohong! aku disana sampai tiga jam. Kamu nggak datang!' Yuna berteriak pula.
beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka. Yuna memalingkan muka tidak peduli.
'Aku datang.' kata Yulian.
'Ketika kau pulang aku datang'. lanjut Yulian lemah.
'Kau selalu begitu. Datang disaat tak tepat..' Yuna berkata lirih, tapi cukup keras untuk didengar Yulian.
Yulian tercekat. Ras nyeri mendadak menjalar direlung hatinya.
Yuna bangkit dan berjalan pergi.
'Aaaargh.' Yulian hanya bisa mengeluh dan menghempaskan tubuhnya ke atas rerumputan.
Tak lama kemudian Yuna kembali.
Yulain segera bangkit.
'Ini.' kata Yuna.
'Apa ini?' tanya Yulian
'Es krim.' jawabnya singkat.
Yulian membuka plastik hitam tersebut, kemudian terkejut ketika cairan coklat lengket tumpah dari dalam plastik itu.
Yulain memandang Yuna tak mengerti.
'Itu es krim kemarin. Es krimku yang kemarin. Seharusnya bisa kau nikmati. Tapi kamu membiarkannya mencair. Kamu membiarkan es krimku mencair..'
Yuna terisak.
Yulian makin tak mengerti.
'Es krim. walaupun dingin, tapi lembut dan rasa manisnya bisa kau nikmati. tapi kamu memilih membiarkannya mencair. Hingga rasa manisnya tak lagi bisa kau nikmati. kecuali kalau kau membeli es krim yang baru..'
Yuna makin terisak.
'Nah, bagaimana kalau es krim itu aku? Aku menunggumu kemarin. Aku ingin bicara. Aku ingin memberitahumu kalau... kalau keluarga Arya akan datang melamarku kemarin malam. Tapi kamu selalu begitu. Kamu datang disaat tidak tepat.. dan.. semua terlambat..'
Yuna susah payah melanjutkan bicaranya, kemudian menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya.
Yulian hanya bisa terdiam.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 17.33 0 comments
Labels: Cerpen, Tulisan Bebas
Sabtu, 04 Agustus 2012
Mungkin Memang Seperti Ini Seharusnya.. (Bag. 2 - Habis)
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya.. terlampaui dengan cepat dan tanpa kenangan indah. Bukannya disambut penuh kehangatan.
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya.. terbangun dengan perasaan yang tak diinginkan. seolah kau terlahir tanpa di harapkan..
Resna menghela nafas dan membuka matanya dengan berat. Malam yang tidak menyenangkan. dan 1 lagi hari buruk yang harus dilalui. pikirnya.
'Resna.. jam berapa ini sayang? nggak libur kan?' teriakan ibu membangunkannya mulai terdengar seantero rumah.
'Iya bu.. Resna mau baru mau mandi..'
setengah jam kemudian Resna sudah bersiap dimuka pintu dengan muka ragu
'Bu, serius Resna harus sekolah hari ini?'
'Lho? memang kenapa? Resna masih sakit ya?'
'Resna malu. teman-teman dan.. Lian.. belum tau Resna pakai kursi roda..'
'Sayang, anak baik tidak akan tertolak. Resna pakai kursi roda kan cuma sementara..'
Resna tersenyum.
'Resna berangkat bu.. Assalamualaikum..' pamitnya
'walaikumsalam, sayang..'
Disekolah, Resna merasa setiap meter yang dilaluinya menuju ke kelas terasa seperti berjalan di bara api.
Teman-temannya memandang dengan tatapan yang tidak dia mengerti, seolah Resna adalah seorang tahanan penjara yang diarak keliling kota.
Resna merasakan mukanya memanas.. matanya mulai terasa perih. tapi hal itu ditahannya hingga sampai ke kelas.
ia melihat Lian sedang bercanda dengan teman-temannya ketika dia masuk.
Lian tercengang.
'Res.. ehm.. sayang.. kamu...' katanya terbata
'Apa?' Jawab Resna dingin. Lian salah tingkah.
'Kamu.. kenapa nggak bilang kalau sakit?'
'Apa pedulimu?'
'Kenapa kamu bilang begitu, sayang?'
'Kau tak cukup pandai berpura-pura dan tak usah berpura-pura, Li..' Ucap Resna sambil menjalankan kursi rodanya ke bangkunya. Lian ingin mengejarnya tetapi Pak Didik sudah memasuki kelas dan langung memulai pelajaran.
Lian mencuri kesempatan untuk melirik kearah Resna. tapi gadis itu tidak melihat kearahnya sedikitpun.
Lian menghela nafas dengan sedih.
'Res, tunggu. aku mau bicara.' teriak Lian sambil menghentikan laju kursi roda Resna.
'Ada apa?'
'Res.. kejadian seminggu yang lalu itu.. sungguh bukan seperti yang kamu pikir. Aku tidak tau kenapa kamu bisa berada disana....'
'kenapa?' potong Resna 'kamu kaget aku ada disitu dang melihat kamu sama adik kelasmu yang cantik itu? Kamu kaget karena aku tau kalau kamu nggak lebih baik dari mayat hidup? Kamu cuma punya raga tapi nggak punya hati, Li..' cercanya kemudian
'Res... bukan gitu. saat itu aku cuma sedang dimintai tolong untuk nganterin dia pulang karna dia sakit. serius..'
'Cukup Li. kamu lebih memilih ngenterin dia padahal aku nungguin kamu untuk ngeliat pentasku kan? yasudah. habiskan waktumu sama dia dan nggak usah menjelaskan kenapa kamu nggak datang. cukup. aku sudah bahagia karena kamu nggak datang. bahagia sekali sampai aku nggak tau gimana memaafkan kamu. sekarang kamu lihat. kamu nggak akan bisa lagi ngeliat aku menari..' Tiba-tiba Resna serak. dia sudah tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Lian memejamkan mata dengan pedih. kemudian berlutut memeluk Resna. Resna sesenggukan menahan tangis.
'Lepas Li.. kumohon..'
Lian menatap Resna tak mengerti.
'sudah cukup. sudah ada yang berubah tanpa kita sadari.. Pelukmu... kata-katamu.. entah kenapa aku merasa semua itu sudah bukan milikku lagi. Duniaku sudah runtuh.. dan aku--semoga kau mengerti-- sudah tidak ingin terlibat apapun denganmu..' Ucap Resna
'Sayang... kamu..' Lian terbata-bata dan menatap Rena tak percaya
'Aku hanya seorang gadis yang tersungkur di kursi roda. takkan bisa menemanimu berlatih lari lagi. takkan bisa menemanimu berenang lagi. aku tidak ingin tersiksa dengan kenyataan seperti itu. Lagipula kamu sudah lebih baik dengan adik kelasmu itu. terbukti karena kamu nggak mencariku bahkan ketika aku menghilang. kamu nggak sedikitpun ingin tau apa yang terjadi. dan kamu juga tak perlu berpura-pura peduli lagi.. Aku bukan orang yang tepat. Aku dan kamu bukan pasangan yang tepat. saat-saat kebersamaan kita bukan saat yang tepat. Kita akhiri saja..' pungkas Resna.
Lian memukul meja dengan geram.
'Apa yang dipikirkan Resna sebenarnya?' katanya
Dina memandang Lian 'Resna sedang mengalami saat-saat yang buruk, Li.. terlabih dia melihatmu merangkul Linda saat itu. kau harus mengerti apa yang mengganggu pikirannya..'
'Tapi dia memutuskanku. MEMUTUSKAN hubungan denganku. dia tidak menerima penjelasanku..'
Lian duduk dengan lemas.
'Tidak tahukah dia?' Lian merintih
'Li, bersabarlah. biarkan Resna tenang.. baru datang kembali dan jelaskan padanya.. mengetilah keadaannya..' Dina berusaha menenangkan Lian
'Tapi aku tidak punya banyak waktu Di..' kata Lian gusar.
'Apa maksudmu?' Tanya Dina tak mengerti
Lian tidak menjawab dan hanya menghela nafas sambil menerawang jauh.
Sudah berjalan 5 hari sejak Resna memutuskan hubungan dengan Lian, den keadaannya justru tidak membaik seperti harapannya.
Persidangan perceraian orangtuanya sudah terbayang didepan mata, dan Resna melewatkan malam-malamnya dengan menangisi perasaannya yang begitu dalam kepada Lian.
Hanya Lian. Dia mulai berfikir bahwa mungkin keputusannya salah, tapi dia tidak bisa membayangkan jika harus menemani Lian yang gila olahraga, padahal sekarang kedua kakinya lumpuh dan belum ada tanda-tanda akan sembuh. Resna mulai kehilangan harapan.
Tiba-tiba Bel motor tukang pos membuyarkan lamunannya.
dia melihat pak pos menyelipkan sepucuk surat di kotak surat miliknya. Resna bergegas menuju jalan dan mengambil surat tersebut. tidak ada alamat pengirimnya.
Dadanya tiba-tiba berdebar. ada sebuah firasat buruk yang tidak bisa dijelaskannya. dia merobek amplop dan segera menbaca isinya.
"Dear, Resna. Gadis berkursi roda yang slalu dihati yang mencintanya..
Begitu bunyi pembukaan suratnya. Hati Resna semakin tidak tenang.
Aku meminta maaf atas kesalah pahaman kita.
aku mencoba menjelaskan tapi kamu nggak mau mendengar kata-kataku.
Aku berusaha menemuimu tapi kamu menghindari aku terus menerus.
Aku mencoba menghubungi ponselmu tapi kau tidak pernah menerimanya.
Aku menulis ini dari rumah sakit. Aku tidak punya banyak waktu.
Tapi aku berharap masih sempat mengatakan jika saat itu aku hanya mau mengantar Linda pulang, kemudian langsung menonton pentasmu.
Aku hanya sedang menunggu buket bunga yang kupesan untukmu, itu sebabnya aku blum masuk ke studio ketika pentasmu mulai. bahkan ketika pentasnya berakhir. tapi ternyata kau lebih dulu melihatku memapah Linda sebelum aku sempat menjelaskan apa yang terjadi.
Kau tak sempat mempercayaiku.
Tapi tak apa. aku bahagia sudah menjadi milikmu. mendengar kata-kata kau mencintaiku. Aku mencintaimu. selalu.
Salam sayang,
Lian.
Resna bagaikan tersambar petir. dia segera berteriak memanggil ibunya agar mengantarnya kerumah sakit. dia menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan gusar, dan meminta agar ibunya mendorong kusi rodanya semakin cepat dan semakin cepat.
Resna tiba dikamar Lian tepat saat ibu Lian berteriak histeris meminta agar Allah mengembalikan nyawa anaknya.
Mungkin memang seperti ini, hidupku yang seharusnya. Sepi dan ditinggalkan. Bukannya berkawan dengan tawa dan tertawa bersama orang yang kucintai, atau melihat mereka tertawa karena saling mencintai.
Mungkin memang seperti ini, hidupku yang seharusnya. Ditinggalkan oleh mereka yang kucintai. Ayah, Kekasih, bahkan Dunia yang kucintai.Tapi aku mengerti bahwa seluruhnya hanya-lah kedar perpindahan tempat. tanpa meninggalkanku.
Ayah berpindah tempat dari sisi ibu ke sisi jodohnya yang lain, tapi aku tetap anak yang dicintainya.
Lian berpindah tempat dari sisiku ke sisi pemiliknya yang abadi, tapi tetap mencintaiku.
dan aku hanya berpindah tempat dari kemampuan berdiri ke atas kursi roda.
dan hobiku menari berpindah dari yang kualunkan secara fisik menjadi kualunkan dalam hati dan pikiranku.
tak apa. inilah hidup.
Allah selalu mencintaiku..
Resna menutup bukunya, dan memejamkan mata sejenak sambil mengusap nisan pusara Lian. kemudian beranjak pergi..
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.49 0 comments
Labels: Cerpen
Jumat, 08 Juni 2012
Mungkin Memang Seperti ini Seharusnya (Bag.1)
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. Sejuk. Kicau burung melebur dalam hiruk-pikuk aktivitas yang yang mulai bergeliat memadati ceruk-ceruk kehidupan.
Dan bukannya dilalui dengan berbaring menunggu gelap, dan detik selanjutnya menunggu gelap menjadi pagi kembali.
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. Ceria. semangat terkepul dalam segelas susu, teh, atau kopi hangat.
dinamika tentang harapan dan cita-cita sedang ranum-ranumnya dikejar.
Dan bukannya dilalui dengan memegang buku serta menggores pensil dan terdiam di keremangan kamar. menuliskan keputus-asaan dan berharap Tuhan membalas segala keluhannya dengan menyudahi kerja paru-paru atau detak jantungnya.
Resna menghela nafas. dia memandang nanar pada burung yang hinggap di teralis jendela kamarnya. dengan susah payah dia menggerakkan maju kursi roda yang sudah seminggu ini menopang tubuhnya.
'Hai.. kamu mau bermain? Aku sudah tidak bisa. Aku kemana-mana harus pakai kursi berjalan jelek ini.' Ujarnya.
'Andai aku bisa terbang saja sepertimu..'
'Na, sarapan sayang..' Bunyi pintu diketuk seiring dangan terdengarnya suara ibu. Resna mendongak dan tersenyum.
'Iya, Bu.. sebentar lagi..' Resna menggerakkan rodanya dan menuju pintu. Ibu membuka pintu dan mengambil alih kendali kursi roda Resna.
'Bu, Resna tidak usah sekolah lagi ya..' seketika Ibu terdiam dan berhenti tiba-tiba.
'Kenapa Resna bilang seperti itu?'
'Aku malu bu. Aku sudah tidak bisa seperti teman-teman. Aku mau menyusul ayah..' Resna mulai terisak. Dada ibu terasa ikut sesak. terbayang di benak wanita 40 tahun itu kejadian seminggu yang lalu...
Saat itu hujan gerimis. Resna sedang menyisir rambutnya ketika Ibu dan Ayah baru saja bersitegang. Resna segera berlari turun, dan mendapati ibunya menangis sesenggukan.
'Ibu kenapa?'
Ayahnya dengan dingin melewati Resna, tapi Resna menahan tangan ayahnya. dia tau dia cukup dewasa untuk tau sebenar-benarnya apa yang terjadi.
'Ayah mau kemana? Ada yang belum selesai disini.'
'Kamu anak kecil tidak usah ikut campur! kalau menurutmu ini belum selesai, Baik! Akan ayah selesaikan! Mulai sekarang, kita berpisah, Bu! kamu urus Resna. Aku akan urus surat-surat perceraiannya!' Teriak Ayah Resna.
Resna tercengang. seketika dia menahan tangan ayahnya lebih erat
"Ayah tidak serius mau begitu..' ucapnya parau. sementara ibunya semakin sesenggukan menahan tangis, dan hampir tidak bisa berkata apa-apa.
'Ayah serius Resna!' katanya gusar. Dia melangkah keluar rumah dan Resna mulai mengejar.
'Ayah..! Ayaaah..!'
Langkah ayahnya terhenti. melihat mata merah dan ekspresi geram ayahnya, nyali Resna menciut juga. tapi dia berteriak.
'Kalau ayah memang lebih memilih meninggalkan kami untuk wanita murahan di kantor ayah, silahkan! aku menyesal dilahirkan sebagai anakmu!'
Mendengar ucapan anaknya. Ayah Resna semakin kalut. secara tiba-tiba dia meringsek maju dan mendorong Resna sedemikian kuatnya hingga Resna terpelanting. tangan Resna sempat meraih stang motornya, tapi ternyata motor itu tidak cukup kuat menopang gaya yang bekerja pada tubuh Resna, hingga roboh dan menimpa kedua kaki Resna. Resna menjerit kesakitan, dan menjadi lebih histeris ketika melihat darah mengalir dari kedua kaki Resna.
Ayah Resna tertegun memandang kejadian itu, sedetik kemudian dia berteriak memanggil ibunya. Resna tak ingat apa-apa lagi hingga dia terbangun di Rumah Sakit keesokan harinya.
Ibu menghela nafas.
'Sabar ya sayang..' ucapnya sambil tersenyum. kemudian meninggalkan Resna di ruang makan.
Resna tersenyum pahit. kemudian kembali ke kamar dan membuka bukunya.
..Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. kelam, dan hambar. bukannya ceria dengan kicauan burung atau kupu-kupu yang beraneka warna membuai Sang Bunga.
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. Dingin, dan kesepian.. bukannya berkawan dan tertawa bersama mereka yang kau cintai, atau melihat mereka bahagia karena saling mencinta..
Resna tidak tau kapan tepatnya semuanya berantakan. dia tidak tau. atau mungkin tidak menyadari. atau mungkin sebenarnya terlalu disembunyikan. entah.
Dia hanya bertanya-tanya apakah jika dia menikah dengan Lian--kekasihnya yang sekarang-- dia juga kan mengalami kejadian pahit seperti ini.
Tiba-tiba dia teringat kalau sejak kemarin belum bertemu atau bicara pada Lian.
Dia ingin menghubunginya, tapi.. apa Lian mau menerimanya?
Bukankah dulu Lian pernah bilang padanya kalau Lian mencintainya melalui gerak luwes Resna ketika menari?
Dan sekarang Resna sudah tidak bisa menari.
Resna mengangkat ponselnya dan memasukkan nomor Lian, bersiap menelponnya. tapi kemudian mengurungkan niatnya dan meletakkan ponselnya kembali ke dalam laci...
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.17 0 comments
Labels: Cerpen
Kenapa Tak Kau Katakan
Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan kembali disini, dan menghirup bau tanah tempat ini sendirian.
Sudah cukup lama sepertinya aku meninggalkan tempat ini, dengan alasan paling pengecut yang pernah kuberikan.
Seandainya saat itu kamu mau mengatakan apa yang membuat kita mengambil jalan yang sangat jauh dari bayanganku..
Hei, Yulian. Dimana kamu sekarang?
***
Esok ini aku berjalan menyusuri lorong sekolah. Lengang sekali. tidak seperti biasanya yang selalu ramai dikunjungi anak-anak. Ohya, aku ini siswa baru di salah satu (baca: satu-satunya) SMA Negeri di Ibukota Kabupatenku.
Diujung jalan aku melihatmu terduduk sendirian diatas pagar tembok dan menatap lurus kearah parkiran sepeda motor siswa. Aku tidak tau siapa kamu. Aku penasaran dan ingin sekali tau. Siapa anak kurang waras yang memilih duduk di pagar tembok sepanas itu? Syaraf kulitnya pasti rusak. Atau dia mahluk planet berkacamata yang terdampar di bumi.
Aku termangu sepersekian detik sebelum kembali memutuskan untuk melewatimu.
Aku menghitung langkah demi langkah sebelum tiba tepat disebelah pagar tembok tempatmu duduk, sampai akhirnya ketika sampai pada langkah yang kedua puluh empat aku sudah melewatimu sejauh 2 meter.
Kamu dibelakangku. tepat dibelakangku. aku inging sekali menoleh dan melihat senyummu. Tapi.. ah. sudahlah.
Kusadari, aku memang mengagumimu. kacamata yang bertengger manis dihidungmu, gaya cuekmu, dan garis wajah tegas itu.
Kulirik penanda kelas di lengan kirimu. Oh, kelas tiga. dia lulusan.
Aku ini siapa?
Mungkin aku hanya berani menatapmu dari kejauhan dan membiarkanmu berlari secara bebas disudut-sudut mataku.
Aku suka. Aku menikmatinya. Kamu terlalu sempurna dan aku nggak mungkin menjangkaumu.
Hingga pada...
'Cha.. temenin aku buat friendster yuk'
Githa menyenggol tanganku yang sedang menopang dagu.
'Sial. Males ah. nggak minat banget.' sambarku cuek.
'Chaaaaaa... ayolah..'
'Oke. tapi beliin es krim.'
Githa meringis
'Oke apa aja deh..' Akhirnya dia menyerah. Seketika senyumku mengembang.
Jadi ya.. ya.. begitulah. Akhirnya aku punya juga jejaring sosial, sama seperti anak-anak lain.
One Friend Request : Yulian Bowo Ardi.
Grobogan, Jawa Tengah.
Accept Friend Request
klik.
Siapa ini? cowok berkacamata hitam gaya 80-an?
Norak sekali, pikirku.
Dan entah siapa yang memulai, aku terlarut dalam percakapan yang tak ada habisnya.
'bip bip'
One message received
open klik.
'Hai. Icha bukan?'
'ini siapa?'
'Mas Yulian. temen friendster.'
Dheg.
Tuhaaan,, mas Yulian? mas Yulian teman friendster itu?
Yang mana orangnya?
'Haha... iya mas yul.. :P'
'Dhek, dulu kamu liat aku kok nggak nyapa? Padahal aku dipagar tembok yang kamu lewatin lho..'
Dheg!
Jadi itu mas Yulian? Cowok planet itu mas Yulian?
Refleks tanganku membuka kembali jejaring sosial dan mengobrakabrik seluruh info di profilenya.
Kemudian terdiam dalam satu foto. seorang cowok dengan wet look hair duduk diatas pagar pembatas yang menghadap parkiran siswa. lambang SMA tempatku terdaftar sebagai siswa tampak jelas di lengan kiri seragamnya.
Aku menghela nafas panjang kemudian menutup laptop dengan perasaan tidak karuan.
Tuhan, kenapa kesan yang timbul seperti ini?
***
Aku tersenyum mengingat saat-saat pertama melihat dan mengenal Yulian. Aku suka sekali melihatnya. Badannya yang agak membungkuk, matanya yang tampak acuh terhadap lingkungan sekitarnya yang ternyata selalu tajam dan waspada, langkahnya yang ringan, dan senyum tipis yang menghiasi wajahnya, kacamata yang menambah kesan smart dan charming, kulit hitam tapi sangat cocok dengan kepribadiannya.. dan bulan-bulan pertama menjadi temannya terasa menyenangkan. hari-hariku menjadi semarak dengan sapaannya melalu pesan singkat.
Aku terbuai kembali..
***
'Cha.. ayo cepat. kamu mau terlambat ngambil rapor apa? Percuma dong bapak izin mengajar kalau kamunya lelet.' Teriak bapak dari teras rumah.
'Bentar pak.. lagi pake sepatu nih... bapak sih nggak mau makein' Sahutku.
Thug!
Sendok makan yang dibawa ibu mendarat tepat di kepalaku
'Bocah kok kurang ajar.' Kata wanita yang kucintai itu. Aku meringis jahil kemudian berlari menghampiri bapak yang sudah siap diatas motor.
'Apaapaan? Ke sekolah pakai kaos kaki cuma semata kaki gitu? tinggikan!'
'Mangke mawon pak. Telat lho.' kataku sambil melompat ke jok belakang. dari kaca spion kulihat bapakku cemberut.
Ya.. begitulah bapak. disiplin sekali. Kadang aku jadi seperti pesakitan kalau bapak sedang menginspeksi penampilanku.
Sampai disekolah kulihat teman-teman sudah berjajar rapi didepan kelas dengan wajah tegang. Yaiyalah. ini Kenaikan kelas! Waktu dimana hampir 90% siswa disini berharap dapat menempati kursi di kelas IPA.
Aku termasuk yang beruntung karena berhasil menyabet salah satunya. Bisa ketebak lah.. Bapak terlihat sumringah ketika keluar dari kelasku.
'Bip Bip.'
One message received
Oh Tuhan.
Sender : Mas Yulian
Selamat ya dhek Cha.. bisa ke gerbang sekarang? mas diluar.'
yes! sorakku dalam hati.
Dan ya.. sambil berlari kegerbang aku merasa waktu menjadi semakin indah dan semarak seiring kembalinya mas Yulian, setelah terakhir kali aku melihatnya dipagar sekolah ketika malam perpisahan. dan kemudian kudapati friendsternya tak lagi aktif. Kudapati hatiku hampa, tapi aku tak berfikir lebih jauh walaupun ribuan pertanyaan atas hilangnya Yulian mendesak masuk keotakku. tapi sekarang mas Yulian disini. Mas Yulian disini!
'Dhek Cha mas anterin pulang ya?' kata Yulian
'Eh?' Aku tersentak
'Dhek Cha mas anter pulang ya? nggak papa kan?'
'Eh?' ulangku, aku merasa seperti orang idiot yang bodoh
Yulian memandang dalam kearah mataku.
'Dhek Cha, mas anter dhek Cha pulang ya? mas pengen ketemu orangtua dhek Cha. Nggak papa kan?'
Butuh sepuluh detik untukku mencerna perkataan Yulian barusan. gelompang perasaan bimbang seketika menyapu hatiku. Kurasakan ekspresi wajahku membeku.
'Mas mau bilang sama bapak ibu dhek Cha kalau mas mau serius sama dhek Cha.' Katanya lagi sambil menyodorkan helm kearahku. Aku menerimanya dengan linglung.
'Tapi mas.. kenapa mas ngilang gitu aja beberapa bulan kemaren?' tanyaku
kulihat semburat senyumnya mengembang
'Ada hal yang nggak bisa dhek Cha tau sekarang. sekarang ayuk pulang.'
Dan sudah. meski ganjil, pernyataanya dihadapan orangtuaku menjadi satu rona bahagia yang membuatku lupa akan keganjilannya.
***
Aku mengusap pagar pembatas yang menghadap ke parkiran siswa ini untuk kesekian kalinya, dimana dulu aku dan Yulain pernah saling memandang dan merasakan senja memagut hati kami. kami mereguk indahnya dan berharap waktu berhenti hingga kami bisa lebih lama menikmati semuanya berdua disini..
***
Panas sekali hari ini. Tuhaaaan.. Panas sekali. Dan aku berjalan di jalan sepanas ini bareng panda jantan item yang menyebalkan.
'Cha buruan ngapa. Panas. Laper.'
'Berisik! Nggak ngeliat jalanku udah kayak nenek-nenek kehilangan tongkat? Lo cerewet gue gembesin juga. Sekarang jalan aja. Nggak usah komen.' Sahutku ketus. dan panda jantan item sahabat saya itu hanya memperlihatkan ekspresi penuh dendam.
'bip bip'
'Cha hape lo bunyi.'
'Diem. Gue udah tau.'
open. KLIK
Dhek Cha, mas sayang banget sama dhek Cha. Apa yang mas rasain, ya itu yang mas katakan.
Beratus ratus kali kuulangi membaca sms itu.
Haaaaaa?
Kurasakan euforia kegilaan mengambil alih fungsi otakku mengkoordinasikan senyum dan gerakanku. aku melonjaklonjak kegirangan
plak! Gilang memukul jidatku
'Cha, Lo SEHAT? ngapain lo senyum senyum?' tanya panda jantan item sahabat kesayangan saya itu.
Aku menatap mata Gilang dengan tatapan penuh arti.
'Pandaaaaa... gue bahagia!' teriakku.
***
Aku tersentak dan tertawa. Tuhan, berapa lama aku melamun?
SMA itu memang indah sekali ya,, indah sekali. Aku bahkan tidak menyangka tahun-tahun terbaik di SMA sudah ku lampaui hampir 2 semester ini.
Aku menghela nafas panjang.
Aku membiarkan tiap sel udara di tempat ini memasuki kembali paru-paruku. Mungkin saja udara ini membawa Yulian kembali mengisiku.
Yulian. Ah.. cowok planet itu.
Cowok planet yang bahkan aku nggak menyangka, berpisah dengannya akan membawa rasa yang luar biasa dan jauh dari kontrolku.
Sakit juga ya.. pikirku.
Tuhan, tolong. Tidak seharusnya aku begini kan? Aku sudah sejauh ini bertahan dan berusaha mengertinya.
Kenapa dia tak pernah mengatakan sesuatu padaku?
Aku hanya lelah mencari. Aku... hanya ingin ditemukan.
Aku tau Yulian bukan tipe orang yang terbuka. baik soal perasaan atau masalah. tapi dia hanya perlu bicara padaku. hanya perlu bicara. Kenapa tak kau katakan? Kita seharusnya bisa memperbaiki ini..
Aku bicara sendiri seolah sedang berhadapan dengan Yulian.
***
'Dhek cha, mas sayang banget sama dhek Cha.'
Kata Yulian sambil mencoba mencabuti bulu halus ditanganku. Aku mengelak dan memukul lembut tangannya. sedemikian rupa hingga kudapati tangannya mengenggam jemariku. Baru aku berusaha serius menatapnya.
'Kok ngomongnya gitu mas? tumben sekali. biasanya susah banget disuruh bilang sayang. padahal sama pacarnya juga.'
Aku merajuk manja. Tapi ada seuatu yang aneh pada ekspresinya. kaku dan tidak tersentuh. Aku mengerti bahwa saat ini dia tidak sedang main-main.
'Mumpung masih sempat dan masih bisa dhek..' Katanya sambil menatap dalam mataku.
Aku terdiam. Apa maksudnya? mumpung masih bisa? jadi?
'Mas.. ada apa?
Dan kau hanya tersenyum. dan diam sejenak.
'Ada yang dhek Cha nggak bisa tau sekarang..' ujarnya lemah. Lalu membuka bibir seolah ingin bicara, tapi kemudian mengurungkannya.
Menit-menit kediaman antara kami terasa begitu menyiksa. aku ingin angkat bicara, tapi dia mendahuluiku.
'Dhek, mas nggak bisa. Mas tau adhek butuh cahaya yang bisa menerangimu. yang bisa meluangkan waktu buatmu. Dan mungkin sekarang bakal ada cahaya lain yang bisa bikin kamu nyaman. Raih cahaya itu dhek..'
tapi kenapa?
Aku terdiam. Jangan yang kutakutkan, please.
'Maafin mas ya dhek. mas sayang adhek tapi mas tau mas nggak akan bisa. Biar mas yang jaga rasa ini dhek..'
Tiba-tiba emosiku meluap.
'Seharusnya mas bilang kalau dari awal mas nggak pernah sayang sama aku! Mas bilang mau serius, mana buktinya? Ada masalah apa? diluar sana juga banyak yang ngalamin masalah tapi bisa bertahan. kenapa mas nggak?'
marah, bingung, takut, dan sakit hati semuanya bercampur jadi satu. Aku gemetaran menahan emosi.
'Maaf dhek.. kamu nggak perlu mojokin mas dengan pertanyaan seperti itu. Ternyata setelah 14 bulan-pun kamu belum kenal siapa aku dhek..'
Oh, GOD. tolong beri alasan yang sedikit rasional.
'Apa? Aku harus gimana mas?'
'Maafin mas dhek..'
Sedetik kemudian kulihat Yulian bangkit dan berjalan menjauh.
Aku tidak tau apa yang terjadi barusan dan tiba-tiba semuanya berakhir.
***
Aku menyeka air mataku. Sulit sekali untuk menahan ingatan-ingatan itu untuk tidak datang kembali.
Bagaimana bisa?
Terlalu rumit ya Yul? sampai kamu memutuskan untuk berhenti saling menyapa.
Tapi ini sakit sekali. Aku belum bisa pergi dari bayangmu.
Sesakit ini kah Yul?
Aku menghela nafas..
Mencintai terlalu dalam kepada seseorang bisa membuat kita tidak bisa mencintai lagi.
Kupikir itu benar, bagaimana rasa itu, yang muncul untukmu, telah membunuh kemampuanku untuk mencintai pria lain selainmu. Bahkan aku memilih hidup menahan sakit dan kerinduan yang membara terhadapmu selama lebih dari 7 tahun daripada membuka hati untuk orang lain.
Aku mencintaimu sejak awal aku melihatmu di pagar pembatas sekolah, 9,5 tahun yang lalu.
dan bahkan ketika semuanya berakhir tanpa kutau apa penyebabnya aku measih menginginkan untuk terus mencintaimu dan hanya hidup denganmu.
merindukan segala yang kulalui bersamamu. dan setelah selama ini, semuanya masih mengingatkanku padamu. hari-hari yang kulalui begitu membunuh.. tapi aku masih hidup dengan nyawa yang terpincang karenamu..
Ah, Yulian.. dimana kamu sekarang?
Tetes airmata tak lagi bisa kubendung. aku segera meraih tasku dan mengaduk-aduk isinya untu mencari tissue. hampir saja kutemukan ketika aku melihat dua sosok menusia berjalan kearahku.
Aku menghentikan aktifitasku sementara dan mencoba menerka.
Siapa mereka? kelihatannya sama orang dewasa-nya sepertiku. Tapi apa yang mereka lakukan disini? apakah mereka guru baru disini?' pikirku.
Aku meloncat turun dari pagar pembatas yang menghadap kearah parkiran siswa.
dan berdiri memaku ketika menyadari siapa yang berada dihadapanku...
'Sedang apa kamu disini, Cha? duduk diatas sana kayak masih ABG aja.'
sapa Yulian kaku
Aku terdiam, masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dan kuhadapi. aku begitu ingin berlari memeluk Yulian. tapi kuurungkan ketika kulihat tangan Yulian terkait mesra dengan tangan yang lain.
Aku mendongak untuk melihat siapa yang digandheng Yulian.
Seorang wanita. cantik. dari wajahnya kukira usianya lebih tua dariku tapi masih begitu segar dipandang.
Sedetik kemudian aku tersadar...
Mas Yul.. jangan katakan dia.... aku menjerit merana dalam hati.
'Cha, aku mau minta maaf sama kamu atas apa ayang aku lakukan ketika masih sama kamu. Sekarang aku ingin jujur segalanya sama kamu.. tapi tolong, jangan marah sebelum aku selesai bicara..'
kata Yulian kemudian duduk berlutut dihadapanku. Aku ingin mencegah tapi terasa kaku untuk mengulurkan tangan padanya. Aku sudah menebak apa yang akan terjadi tapi tetap menunggu kalimat selanjutnya keluar dari mulut satu-satunya yang kucintai.
'Cha.. maaf. sejak melihamu berjalan melewatiku di pagar ini aku sudah merasa terpagut sama kamu. aku menyadari betul kalau aku jatuh cinta sama kamu. tapi saat itu aku sedang berada dalam jalinan cinta dengan Iva,..'
katanya sambil memandang wanita yang datang bersamanya. Iva menunduk. mungkin takut padaku.
Aku menegangkan leher dan menelan ludah dengan pahit.
Kenyataan pertama bahwa kau mencintai dan dicintai orang yang telah menjadi milik orang lain sudah cukup membuat duniamu hancur.
Apa lagi?
'Itulah kenapa aku menghilang ketika baru beberapa bulan mengenalmu. Aku merasa sudah membuaimu terlalu tinggi dan membuatmu berpikir aku mencintaimu. itu salahku.'
lanjutnya kemudian terdiam. aku merasa jatuh kesumur tanpa dasar.
'Lanjutkan!' ucapku serak
'Tapi kemudian aku menyadari aku nggak bisa hidup tanpa kamu. lalu kuputuskan untuk mencarimu kembali. tapi saat itu aku sudah mnyelesaikan ceritaku dengan Iva. Hanya saja...' dia tercekat suaranya sendiri.
'Teruskan!' Suaraku tegas menuntut penjelasan.
'Hanya saja itu tidak berlangsung lama. 8 bulan sebelum aku memutuskan hubungan denganmu aku bertemu kembali dengan Iva dan meluapkan segalanya. perlu kamu tau, aku... ingin sekali melakukannya denganmu. tapi aku tidak bisa. maksudku aku ingin sekali melampiaskan hasratku padamu dan melakukannya sambil bicara betapa aku mencintaimu. tapi aku tidak mungkin melihatmu rusak hanya karena mencintai lelaki sepertiku. jadi kuputuskan melakukannya dengan Iva. Iva setuju karena dia masih mencintaiku dan ingin membuatku bahagia denganmu. Tapi ternyata aku salah..'
Aku mengigit bibir hingga berdarah. aku mengusapnya. tapi sakit hati yang kurasakan telah membuatku mati rasa dengan sakit terhadap fisikku.
Aku menahan airmataku agar tidak keluar sekeras mungkin. Yulian mulai bicara lagi.
'Maafkan aku, Cha. tapi ternyata perbuatanku membuat Iva mengandung anakku. karena itulah aku meninggalkanmu. tapi aku tidak berani berterus terang karena takut kau terluka..'
'Tapi kau melukaiku dengan membuatku bertanya-tanya selama bertahun-tahun..' akhirnya aku terisak
aku memandang nanar pada Yulian. bagaimana bisa ini terjadi atas nama cinta?
'Aku tau. dan aku minta maaf. aku telah menikahi Iva... dan aku....'
'Cukup Yul!' potongku. aku menangis histeris.
'cukup sekali kuhabiskan waktu 10 tahun untuk mencintaimu. aku kuliah. meninggalkan tempat ini, mengejar pekerjaan. dan kembali kesini untuk menemuimu. Hanya untuk berkata padamu bahwa karena kamu-lah aku seperti ini. Bahwa untukmulah aku menunggu dan tidak berubah sama sekali. Dan sekarang?...'
Aku tak sanggup meneruskan kata-kataku. sedetik kemudian aku sadari telah berlari meninggalkan mereka.
***
Keesokan harinya aku melangkah perlahan kepintu rumah Yulian dan Iva, yang kudapat alamatnya dari temanku.
Aku membuka lipatan dan membaca surat yang kubawa untuk Yulian.
Biarkan Bunga Rumput itu Tetap Menari
Bunga rumput itu tertunduk lesu
Menari dialunan permainan sang waktu
Serapuh batang rerumputan layu
Sekering udara gurun yang beradu
Saat kau dan aku bertemu
Dan kau selalu bilang,
' Takkan kubiarkan bunga rumput itu tetap menari
Jika sang angin membuainya terlalu tinggi
Jika Mentari janjikan sinarnya sendiri
Tapi sbenarnya semua itu tak ada arti.. `
Kamu juga selalu bilang,
`Takkan kubiarkan bunga rumput itu tetap menari
Jika Leluasanya mbuatnya berpaling dari sini
Jika lambaiannya isyaratkan salam utk pergi
Dan mredupkan keindahan ilalang yg jua hampir mati.. `
Tapi , Kusadari itu hanya mimpi
Ketika kau katakan padaku kau tak rela mLepasku dari diri,
tapi nyatanya kau tak datang kembali
Aku bilang,
` Biarkan bunga rumput itu tetap menari
Karena harapnya tlah terkhianati
Karena kelopaknya tlah terhempas dari pelangi
Leluasanya tak mampu menahanmu disini
Lambaiannya isyaratkan kau pergi
Sang angin tlah mbawamu berlari
Mentari pun tak sanggup dpandangnya lagi
Pada bunga rumput itu tertinggal janji
Tapi sang pejanji tlah mengingkari
Shg batangnya tak mampu tegak Lagi
dan meski hati tak kuasa melihatnya berjuang hindari mati,
kumohon...
Biarkan Bunga Rumput itu tetap Menari... `
Semoga kau bahagia. Sampaikan juga permintaan maafku pada Iva
Aku membacanya sekali lagi kemudian memasukkannya ke amplop, dan menyelipkannya dibawah pintu rumah Yulian.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.15 0 comments
Labels: Cerpen
