Yuna berulang kali melirik jam tangannya, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman kota tempatnya menunggu.
Harusnya kamu datang tiga jam yang lalu, bisiknya dalam hati.
Tangan kirinya menggenggam plastik hitam yang sedari tadi dibawanya. sedangkan tangan kanannya berulang kali memencet ponselnya.
Tidak ada jawaban. Tidak bisa dihubungi.
'Yulian, kamu kemana sih? katanya mau es krim.' dengusnya kesal.
Dia berdiri, berjalan gelisah dan mengehempakan kembali tubuhnya di kursi.
Yuna menunduk. Dipelupuk matanya timbul lapisan air yang mengaburkan pandangannya.
tangannya meremas plastik hitam yang digenggamnya. sejurus kemudian butiran-butiran bening jatuh membasahi jilbabnya.
Yuna berdiri dan melangkah pergi. Putus asa sudah dia menunggu.
***
Langit siang selalu panas, apalagi di daerah tempat tinggal Yuna.
tapi angin sepoi-sepoi juga berhembus menerpa jilbab cream-nya ketika dia duduk di rerumputan taman kota.
'Pulanglah.', kata Yulian
Yuna menoleh. Dia terkejut melihat Yulian yang tiba-tiba berada dibelakangnya. Tapi dia hanya diam.
'Pulanglah.' ulang Yulian lebih keras.
Yuna bergeming.
'Yun, pulanglah.' kata Yulian lagi. kali ini lembut sekali.
'Apa pedulimu?' tanya Yuna
'Pulanglah. sudah siang. panas.' Kata Yulian.
'Kemana kamu kemarin?' Yuna bertanya lagi.
'Pulanglah Yun. atau mau kuantar? Yulian balik bertanya.
'Kamu nggak jawab pertanyaanku.' sahut Yuna
'Aku datang!' teriak Yulian tiba-tiba
'Bohong! aku disana sampai tiga jam. Kamu nggak datang!' Yuna berteriak pula.
beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka. Yuna memalingkan muka tidak peduli.
'Aku datang.' kata Yulian.
'Ketika kau pulang aku datang'. lanjut Yulian lemah.
'Kau selalu begitu. Datang disaat tak tepat..' Yuna berkata lirih, tapi cukup keras untuk didengar Yulian.
Yulian tercekat. Ras nyeri mendadak menjalar direlung hatinya.
Yuna bangkit dan berjalan pergi.
'Aaaargh.' Yulian hanya bisa mengeluh dan menghempaskan tubuhnya ke atas rerumputan.
Tak lama kemudian Yuna kembali.
Yulain segera bangkit.
'Ini.' kata Yuna.
'Apa ini?' tanya Yulian
'Es krim.' jawabnya singkat.
Yulian membuka plastik hitam tersebut, kemudian terkejut ketika cairan coklat lengket tumpah dari dalam plastik itu.
Yulain memandang Yuna tak mengerti.
'Itu es krim kemarin. Es krimku yang kemarin. Seharusnya bisa kau nikmati. Tapi kamu membiarkannya mencair. Kamu membiarkan es krimku mencair..'
Yuna terisak.
Yulian makin tak mengerti.
'Es krim. walaupun dingin, tapi lembut dan rasa manisnya bisa kau nikmati. tapi kamu memilih membiarkannya mencair. Hingga rasa manisnya tak lagi bisa kau nikmati. kecuali kalau kau membeli es krim yang baru..'
Yuna makin terisak.
'Nah, bagaimana kalau es krim itu aku? Aku menunggumu kemarin. Aku ingin bicara. Aku ingin memberitahumu kalau... kalau keluarga Arya akan datang melamarku kemarin malam. Tapi kamu selalu begitu. Kamu datang disaat tidak tepat.. dan.. semua terlambat..'
Yuna susah payah melanjutkan bicaranya, kemudian menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya.
Yulian hanya bisa terdiam.
Sabtu, 05 Januari 2013
Es Krimku Mencair..
Posted by Kharissa Widya Kresna at 17.33
Labels: Cerpen, Tulisan Bebas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar