Setiap sel udara malam mempresentasikan bayangmu,
membentuk sedikit demi sedikit susunan sosokmu yang mengelabu, kemudian mengabur dan membawa serta isi hatiku yang terburai,
tercerai-berai dalam hembus angin yang menarikan kerinduan.
Ingin sekali kutahan lajunya, tapi pada akhirnya aku membiarkannya terbawa.
Dan kubiarkan jatuh dalam tiris bening genangan sisa hujan yang memantulkan sinar rembulan.
Setiap gurat cahayanya, dalam sela-sela dedaunan, rembulan memantulkan wajahmu dalam bias peraknya.
Mengatakan padaku bahwa setiap lekuknya semakin dalam, membentuk ceruk-ceruk yang tanpa kusadari semakin terisi.
Ingin sekali kutahan dan kutumpahkan kembali, tapi pada akhirnya aku membiarkannya terpenuhi juga.
Dan kubiarkan semua do'a-do'a luber mengiringinya dalam kekakuan yang selalu kubanggakan.
Aku kembali terpekur dan berfikir, apa aku telah jatuh ke samuderamu?
tenggelam dan meminum asinnya airmu yang membuatku semakin haus dan semakin ingin meneguk tiap aliranmu?
Atau aku terlalu sibuk dengan keangkuhanku dan terlupa, bahwa sekuat apapun benteng yang kubangun pada akhirnya akan lebur dikehendak-Nya.
Melalui seseorang yang dikirim Tuhan untuk memembusnya. Membawaku dengan lembut untuk kembali kepada-Nya.
Jikalau memang ada seseorang yang menerapkan gravitasinya padaku dan berhasil menarikku keluar dari dunia khayalku, aku berharap dia adalah orang yang akan melayang bersamaku ketika tak ada lagi batas yang menahanku tetap berpijak dan bergumul dengan semu.
Dengan begitu aku takkan menyesal, jika harus terjatuh dan tertahan mengendap selamanya.
Apalagi untukmu.
Senin, 07 Januari 2013
Malam
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.51
Labels: Tulisan Bebas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar