(Prosa ini ditulis ketika dalam proses pengerjaan UAS Pendidikan Kewarganegaraan, 9 Januari 2013, 11.09 AM)
Barisan soal-soal mengabur begitu saja, seiring denting jarum jam menyanyikan rotasinya.
edaran pandanganku bertumbuk pada sosok-sosok yang khusyuk memandangi lembaran-lembaran tak berarti,
menyesapi labirin-labirin teori yang tersimpan rapi.
Gores penaku beradu dengan kertas, tapi bukan jawaban yang kusebar diatasnya.
Gores penaku mengalun menggambarkan huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan semuanya tersungkur dalam tanda tanya.
Sedang apa kau disana? Apa kau juga sedang berkiblat pada rangkaian pertanyaan yang memuakkan ini?
Ah, dasar rasa. kau juga yang berkuasa.
Ribuan detik bergelut dengan diorama kemelut tanya jawab monoton seperti ini benar-benar membekukan sistem kerja logika.
Aku hampir gila karenanya. Aku mulai lelah berbicara teori. Tuan omong kosong yang membodohi diri sendiri.
Aku berharap senyummu jadi anestesi yang menawarkan rasa jengahku.
Tapi kau, berbatas dinding yang menelan ragamu, juga tengah dibuai jajaran karangan.
Ah, dasar kau. kau juga sedang memenjarakan dirimu dalam susunan kata rupanya.
Aku, dan mereka --wajah-wajah yang berkerut itu--, bergumul dengan urusan-urusan dunia tanpa makna seperti ini.
Berharap prosa-prosa seperti ini jauh lebih bisa membicarakan makna.
Apa pentingnya buku-buku yang kucumbu sepanjang malam?
Berapa harganya tulisan-tulisan itu sekarang?
Isi otakku terburai begitu saja dan akan berakhir di tempat sampah atau tergeletak di meja-meja mereka.
Apapun takkan terbaca kecuali nama.
Kemudian standar indikator fiktif yang kuterima cukup untuk membuat hatiku menggembung berbangga.
Mungkin isi hatiku dihadapanmu sama nasibnya dengan itu semua ?
Ah, aku berkerumun dengan jelaga!
Mati saja.
Jumat, 11 Januari 2013
Tanpa Makna
Posted by Kharissa Widya Kresna at 05.21
Labels: Tulisan Bebas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar