Yuna merasa pusing. Bukan karena dia dikejutkan oleh amplop tanpa nama pengirim yang diterimanya pagi ini, tetapi karena dia menghabiskan waktunya untuk terguyur hujan bersama Ardyan semalam. Yuna mengangkat bahu. Dia menarik kursi, membuka amplop surat kalengnya, kemudian membaca isinya.
Kalimat-kalimat itu berdengung bising, ingin dilontarkan, tetapi aku hanya tenggelam dalam kebekuan.
Terdiam menatapmu.
teringat, kalau sebenarnya aku sudah terlalu banyak menulis tentang hujan, dan tiba-tiba aku bosan.
Tiba-tiba aku benci sekali pada hujan.
Bgaimana hujan membuatku menulis sejuta kalimat tentangmu, tetapi hujan membuatmu menulis berjuta kalimat untuk orang lain.
Aku terlalu cemburu hujan yang bahkan bisa menarikmu dari duniamu, sekaligus membuatmu terbenam dalam bagian lain duniamu sendiri,dan hadirku makin tak kau sadari.
atau aku juga lelah, melihatmu terombang-ambing dalam suasana hujan dan kehilangan senyummu yang sebelumnya selalu untukku.
Sebelum hujan turun semuanya milikku.
tetapi seiring kedatangannya, siluet bayangan yang tak kukenal mengambil alihmu dariku.
Aku benci sekali.
Siapa dia? sampai dengan mudahnya mengambilmu dariku? padahal aku bersusah payah, melakukan segalanya untuk satu saja lengkungan dari bibir manismu.
Dan seiring hujan tiba, tiba-tiba saja dia merenggut senyummu menjadi gurat kegalauan. Galau karena dia yang bahkan, namanya saja tak kuketahui.
Ingin sekali aku berteriak dan memaki hujan.
Ingin sekali aku membuangnya jauh dari hidupmu.
Sebelum hujan turun semuanya milikku.
Ceriamu, tawa renyah dan gurau candamu.
tetapi seiring hujan turun, kau kembali duduk terpekur dan menatap kejauhan.
mengatakan padaku kalau hujan membuatmu teringat masa-masa yang telah lalu.
Tiba-tiba aku membenci hujan. Bagaimana dia membuatku tak berdaya untuk menahanmu tetap ceria.
Hujan membuatku tak berdaya menghalau bayangnya merasuki setiap relung hatimu yang kurambati dengan susah payah.
Siapa dia? Bolehkah aku membunuhnya? sekalipun kau mencintainya?
Tiba-tiba aku membenci hujan.
Seiring kedatangannya membuat aku terlalap amarah.
Katakan padaku, Apa yang harus kulakukan agar Hujan tak lagi membawa namanya kembali ke celah-celah hatimu?
Apa yang harus kulakukan agar Hujan berhenti mengingatkan segala tentangnya dan menggantinya DENGANKU?
Hujan pertama yang kulalui denganmu di tahun ini.
Ardyan.
Yuna mendesah pelan.
Bagaimana ini?

0 comments:
Posting Komentar