Jumat, 08 Juni 2012

Mungkin Memang Seperti ini Seharusnya (Bag.1)



Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. Sejuk. Kicau burung melebur dalam hiruk-pikuk aktivitas yang yang mulai bergeliat memadati ceruk-ceruk kehidupan.
Dan bukannya dilalui dengan berbaring menunggu gelap, dan detik selanjutnya menunggu gelap menjadi pagi kembali.
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. Ceria. semangat terkepul dalam segelas susu, teh, atau kopi hangat.
dinamika tentang harapan dan cita-cita sedang ranum-ranumnya dikejar.
Dan bukannya dilalui dengan memegang buku serta menggores pensil dan terdiam di keremangan kamar. menuliskan keputus-asaan dan berharap Tuhan membalas segala keluhannya dengan menyudahi kerja paru-paru atau detak jantungnya.

Resna menghela nafas. dia memandang nanar pada burung yang hinggap di teralis jendela kamarnya. dengan susah payah dia menggerakkan maju kursi roda yang sudah seminggu ini menopang tubuhnya.
'Hai.. kamu mau bermain? Aku sudah tidak bisa. Aku kemana-mana harus pakai kursi berjalan jelek ini.' Ujarnya.
'Andai aku bisa terbang saja sepertimu..'
'Na, sarapan sayang..' Bunyi pintu diketuk seiring dangan terdengarnya suara ibu. Resna mendongak dan tersenyum.
'Iya, Bu.. sebentar lagi..' Resna menggerakkan rodanya dan menuju pintu. Ibu membuka pintu dan mengambil alih kendali kursi roda Resna.
'Bu, Resna tidak usah sekolah lagi ya..' seketika Ibu terdiam dan berhenti tiba-tiba.
'Kenapa Resna bilang seperti itu?'
'Aku malu bu. Aku sudah tidak bisa seperti teman-teman. Aku mau menyusul ayah..' Resna mulai terisak. Dada ibu terasa ikut sesak. terbayang di benak wanita 40 tahun itu kejadian seminggu yang lalu...

Saat itu hujan gerimis. Resna sedang menyisir rambutnya ketika Ibu dan Ayah baru saja bersitegang. Resna segera berlari turun, dan mendapati ibunya menangis sesenggukan.
'Ibu kenapa?'
Ayahnya dengan dingin melewati Resna, tapi Resna menahan tangan ayahnya. dia tau dia cukup dewasa untuk tau sebenar-benarnya apa yang terjadi.
'Ayah mau kemana? Ada yang belum selesai disini.'
'Kamu anak kecil tidak usah ikut campur! kalau menurutmu ini belum selesai, Baik! Akan ayah selesaikan! Mulai sekarang, kita berpisah, Bu! kamu urus Resna. Aku akan urus surat-surat perceraiannya!' Teriak Ayah Resna.
Resna tercengang. seketika dia menahan tangan ayahnya lebih erat
"Ayah tidak serius mau begitu..' ucapnya parau. sementara ibunya semakin sesenggukan menahan tangis, dan hampir tidak bisa berkata apa-apa.
'Ayah serius Resna!' katanya gusar. Dia melangkah keluar rumah dan Resna mulai mengejar.
'Ayah..! Ayaaah..!'
Langkah ayahnya terhenti. melihat mata merah dan ekspresi geram ayahnya, nyali Resna menciut juga. tapi dia berteriak.
'Kalau ayah memang lebih memilih meninggalkan kami untuk wanita murahan di kantor ayah, silahkan! aku menyesal dilahirkan sebagai anakmu!'
Mendengar ucapan anaknya. Ayah Resna semakin kalut. secara tiba-tiba dia meringsek maju dan mendorong Resna sedemikian kuatnya hingga Resna terpelanting. tangan Resna sempat meraih stang motornya, tapi ternyata motor itu tidak cukup kuat menopang gaya yang bekerja pada tubuh Resna, hingga roboh dan menimpa kedua kaki Resna. Resna menjerit kesakitan, dan menjadi lebih histeris ketika melihat darah mengalir dari kedua kaki Resna.
Ayah Resna tertegun memandang kejadian itu, sedetik kemudian dia berteriak memanggil ibunya. Resna tak ingat apa-apa lagi hingga dia terbangun di Rumah Sakit keesokan harinya.


Ibu menghela nafas.
'Sabar ya sayang..' ucapnya sambil tersenyum. kemudian meninggalkan Resna di ruang makan.
Resna tersenyum pahit. kemudian kembali ke kamar dan membuka bukunya.
..Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. kelam, dan hambar. bukannya ceria dengan kicauan burung atau kupu-kupu yang beraneka warna membuai Sang Bunga.
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya. Dingin, dan kesepian.. bukannya berkawan dan tertawa bersama mereka yang kau cintai, atau melihat mereka bahagia karena saling mencinta..


Resna tidak tau kapan tepatnya semuanya berantakan. dia tidak tau. atau mungkin tidak menyadari. atau mungkin sebenarnya terlalu disembunyikan. entah.
Dia hanya bertanya-tanya apakah jika dia menikah dengan Lian--kekasihnya yang sekarang-- dia juga kan mengalami kejadian pahit seperti ini.
Tiba-tiba dia teringat kalau sejak kemarin belum bertemu atau bicara pada Lian.
Dia ingin menghubunginya, tapi.. apa Lian mau menerimanya?
Bukankah dulu Lian pernah bilang padanya kalau Lian mencintainya melalui gerak luwes Resna ketika menari?
Dan sekarang Resna sudah tidak bisa menari.
Resna mengangkat ponselnya dan memasukkan nomor Lian, bersiap menelponnya. tapi kemudian mengurungkan niatnya dan meletakkan ponselnya kembali ke dalam laci...

0 comments:

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir