Sabtu, 29 Desember 2012

Gue Gagal Meyakinkan Dia kalau Gue Sayang Dia


Rasa sayang kadang memang menghalangi kita untuk bisa ikhlas. Gue bukannya mau bicara tentang pacar atau semacamnya. Nggak.
Tapi gue mau bicara tentang organisasi dimana gue pernah bernaung dibawahnya.
Pernah, karena sudah berakhir. Dan gue ngerasa gue butuh orang buat tau sebenar-benarnya perasaan gue selama disana.

Gue bukan mahasiswa yang menonjol, atau terlalu sering meneriakkan pergerakan, atau pengurus organisasi yang baik, gue tau.
Tapi ketika lo tanya apa gue sayang sama organisasi gue, gue akan dengan tegas menjawab : iya. Gue sayang.
Tapi sebagaimana kebiasaan gue dalam mencintai sesuatu atau seseorang, mencintai organisasipun gue sama.Mencintai itu gue lakukan secara diam-diam.
Tapi dibalik itu, gue tetep sakit kalo ada yang menghujat, tetep seneng kalo ada yang menyanjung, dan nglakuin apa aja yang bisa gue lakuin didalamnya.

Sedikit nyesek, pas keinget gimana gue cerita sama abang kalo gue juga pengen masuk ke organisasi dimana dia magang.
Sempet putus harapan ketika ngliat anak-anak magang mondar-mandir ikut menyukseskan kegiatan. Ah, siapa gue?
sempet kepikiran juga kalo ah.. udahlah. gue bergabung di skuad organisasi yang lain aja. Gue udah kehilangan kesempatan disini.
Gue mulai ikut oprect sebuah organisasi UKM, dan untungnya, nggak diterima. Gue galau. gue makin sedih.
Gue ngrasa gue bukan orang yang pantes masuk dijajaran organisator.
Tapi dasarnya gue gapeka, gue mau mencoba ikut seleksi lagi.
Sampai akhirnya, abang gue tanpa sadar membuka jalan dengan merekomendasikan gue tampil didepan anak-anak organisasi impian gue itu. Wow.
gue gapernah lupa.
dan Voila!
Pas hari seleksi datang, gue bukannya berangkat seleksi organisasi UKM tapi malah lanjut tidur berangkat seleksi ke organisasi tempat abang gue magang.
Padahal temen sekamar gue yang dulu ikutan seleksi tahap pertama dan gagal juga, hari itu mencoba kembali.

Mungkin itu jalan yang Allah kasih.
berawal dari abang gue yang ngenalin gue ke orang-orang, dan..
hasil ngomong ngomong sama pemimpin organisasi impian gue, ngasih sebuah kepercayaan diri buat ikut seleksi lagi. Dan kali ini, keterima.
What a Shock!
Sebagai mahasiswa baru, gue bangga.
Tapi kemudian berubah nyesek ketika tau, temen-temen se-genk dan abang gue justru nggak masuk.
What a Sad thing, you know.

Gue ulang,
Gue bukan mahasiswa yang menonjol, atau terlalu sering meneriakkan pergerakan, atau pengurus organisasi yang baik, gue tau.
Tapi ketika lo tanya apa gue sayang sama organisasi gue, gue akan dengan tegas menjawab : iya. Gue sayang.
Gue suka berada ditengah mereka dan bikin acara buat temen-temen sesama mahasiswa.
Gue suka rapat bareng mereka, walau gue lebih banyak diem.
hampir selalu malah.
Nah ini, bagian yang ini murni kesalahan gue.
Gue orang pasif, dan selalu begitu. Susah ngerubahnya.
Cuma paling nggak, gue tetep berusaha do my best selama disana.
Menurut gue.

Seenggaknya ketika ada acara walaupun guie bukan pemegang posisi vital, gue selalu berusaha tetep disana. stand by kalau-kalau ada yang butuh bantuan.
Sayangnya dengan sadar gue tau, kehadiran gue nggak terlalu keliatan. Yah.. banyak faktor didalam diri gue yang nyebabin itu semua.
Salah satunya perbedaan aliran berfikir, dan --lagi-- kepasifan gue. Gue terlalu takut dianggap sok, gue terlalu takut sama kritikan pedas senior, dan gue terlalu malas untuk mendekatkan diri sama siapa-siapa disana. Gue terlalu takut sama pengalaman buruk organisasi selama SMA.

Tapi gue nggak bisa mangkir dari banyak hal yang udah gue pelajari dari sana. Gimana-pun, banyak hal yang udah jadi bekal buat gue ngebantu menggelindingkan sebuah organisasi yang sedang berkembang.
Gue sebut aja : Jurnalistik PGSD.
Dan dari Jurnalistik juga gue menyadari kalo berorganisasi nggak cuma soal bikin acara dan pake jas almamater.
tapi juga masalah gimana caranya biar organisasi itu bisa jalan dengan segala masalah yang ada. ya administrasi, ya dana, ya nama besar. ya kelangsungan hidup. ya komitmen. ya pengorbanan. ya kritik, ya saran, ya tekanan, dan.. rasa kekeluargaan.
Gimana caranya biar bisa survive ketika organisasi seperjuangan satu-persatu mulai collaps karena berbagai keterbatasan.
Dari situ juga gue sadar, banyak yang nggak gue tau dari organisasi besar yang gue pake bernaung. Dan gue menyalahkan diri gue sendiri atas ketidaktauan itu. Gue kurang terbuka.
Apalagi ketika organisasi gue diguncang banyak masalah di akhir taun kepengurusan, gue praktis nggak melakukan apa-apa. Padahal gue seharusnya bisa dan mau melakukan yang lebih dari sekedar diam.
Dan satu hal yang bikin gue sadar adalah kesalahan gue yang terbesar : Gue nggak fokus disalah satunya. Selama gue di Jurnalistik, gue terlampau sering meninggalkannya buat hal-hal lain. Dan selama di organisasi yang ini, hati gue yang separuh lagi nggak bisa berhenti memikirkan Jurnalistik. Dan gue mulai kecewa di organisasi yang ini di satu sisi. Hati gue mulai sering perang dengan masing-masing sisinya. Sampai gue mengecewakan dua-duanya.
Gue bertekad memperbaiki.

Dan sekarang, masa gue habis disana.
Gue nggak punya kesempatan memperbaiki. Gue gagal membuat organisasi ini percaya kalo gue sayang sama dia. Katanya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang juga memikirkan generasi yang akan meneruskannya.
tapi gue pikir itu bukan cuma berlaku buat pemimpin. tapi seluruh orang dalam organisasi ini. Setiap orang disini memikirkan gimana caranya generasi penerus bisa menjalankan organisasi ini dengan lebih baik.
Begitu pula gue.
Kecewa sih iya, tapi sebagaimana pernyataan mereka kalau ada adik-adik penerus yang punya kesempatan berkembang, gue berusaha sadar, bahwa gue nggak maksimal dan organisasi nggak bisa nunggu gue berubah.
ada potensi-potensi lain yang harus dapet kesempatan berkembang.

Seiring itu, keberadaan gue di Jurnalistik terasa makin membahagiakan buat gue pribadi, karena orang-orang didalamnya membuat gue jadi siapa gue yang sebenernya.
Dan seiring tanggung jawab gue disana yang makin besar, Gue harus makin belajar dari pengalaman setahun ini.

Gue minta maaf sama semua pihak, atas semua keterbatasan gue.
Dan pada akhirnya gue berpesan sama siapapun yang ngebaca ini, kalo lo sedang berada dalam suatu organisasi, ya berkembanglah. berkembanglah.
Bukan siapa organisasinya, tapi siapa kamu diorganisasi. :)


Jumat, 28 Desember 2012

Melukai


Melukai adalah hal yang paling sulit dihindari.
Melukai terlalu absurd untuk didefinisikan oleh pemahaman yang berbeda arti.
Melukai tak pernah punya ukuran yang sama untuk sudut pandang yang tak searah.
Melukai... adalah hal yang tak bisa kita tolak.

Kita pernah melukai. dan terlukai.
Terlukai adalah suatu kata kerja yang sebagai objek yang terkena dampak dari seseorang yang 'melukai'.
entah sengaja. entah tidak.

Kita tidak pernah bisa menyalahkan orang lain karena melukai kita.
Apalagi dari tindakannya yang sebenarnya tidak melanggar apa-apa.
Bingung?
Oke. begini..
katakanlah kamu mencintai orang lain dan orang itu mencintai orang lain lagi.
Tanpa sadar, sebenarnya orang itu sedang melukaimu karena dia mencintai orang selainmu.
Tapi apakah itu kesalahannya?
Jelas tidak.
Karena dia bebas mencintai orang lain dan--sialnya--kita terikat perasaan kita sendiri yang mencintainya.
Lalu siapa yang melukai sebenarnya?
Dia, atau diri kita sendiri?

Melukai adalah ketika kita tak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah seseorang kecewa.
Melukai adalah ketika kita tak mau melakukan apa-apa untuk mencegah seseorang kecewa.
Bedanya adalah pada pernyataan pertama kita mungkin sekali tidak berdosa.
sedangkan pada pernyataan kedua, kita jelas dipersalahkan.

Melukai adalah ketika kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah seseorang kecewa.
Melukai tak pernah punya ukuran yang sama untuk sudut pandang yang tak searah.
Contohnya adalah SALAH PAHAM.
jelas sekali kalau salah paham adalah perbedaan sudut pandang.
perbedaan pemahaman.
yang berujung kekecewaan pada salah satu atau kedua pihak.
dan kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya kecewa.
Ya.. mau dikatakan apa lagi?
namanya saja salah pengertian.
satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menjelaskan. Itu-pun tak mudah. Iya kalau diterima.
kalau tidak?
Kita berusaha keras menjelaskan dan dia tidak mempercayainya. Dan ini melukai diri kita. Dan melukainya (mungkin).
dan kita juga tidak bisa menyalahkan dia karena melukai kita dengan tidak percaya pada penjelasan kita.
See? Melukai tak pernah bisa dihindari.

Melukai adalah ketika kita tidak mau melakukan apa-apa untuk mencegah seseorang kecewa.
Kalau yang ini jelas contohnya.
KETIDAKPEDULIAN.
Kita akan melukai seseorang kalau kita tidak peduli dengan apa yang sudah dia lakukan atau dia berikan kepada kita.
Kita yang salah kalau ini.


Melukai tidak pernah bisa dihindari.
Lainnya? Silahkan pikirkan sendiri.

Selamat Melukai.


Suatu Keputusan : Berpisah


Mungkin ini pertamakalinya aku kembali tersadar, setelah sayu matamu puas kupandangi dalam lembaran-lembaran menit yang tersisa.
Kau bukan orang lain yang kehadirannya tak pernah kusentuh, tapi asing selalu merambati tiap baris kata yang kita rangkai tuk mencairkan suasana.
'Kita harus putuskan.'
Katamu sambil berjalan mengitari meja.
Dan aku hanya tersenyum memandangimu.
'Pasti. Kita akan membuat suatu keputusan.'
Pandangan matamu semakin beku, menatap lurus jalanan yang diguyur riintikan hujan dari balik kaca jendela.
Tanganmu menyapu tepian meja yang berdebu, membuat butiran-butiran halus partikelnya berhamburan keudara.

Seiring detak waktu yang terlewat begitu saja, sepi merambat naik dari relung hatiku.
Kita pernah bersama, dan perpisahan adalah hal yang nyata. terlalu nyata bahkan ketika kusebut semuanya hanya mimpi.
'Jadi ini keputusannya?' 
sejurus kemudian kusadari kalimat tanyaku menguap tanpa ada yang menyadarinya.
tidak juga kau, yang sibuk menghilangkan debur gelisah dengan memainkan kedua jemarimu.
'Maaf..'
suara lirihmu terdengar parau.
dan lagi, aku hanya bisa mengembangkan senyum. Tak tega melihatmu dikuasai kegelisahan.
'Baiklah. kau yang membuat keputusan dan aku yang akan melaksanakannya. Selama ini-pun begitu kan?'
'Maaf. aku.. tak tau harus menjelaskan darimana.'
'Tak usah kau rangkai kata indah untuk menggambarkan suatu perpisahan, sayang. Karena tak pernah ada yang indah dalam sebuah perpisahan. Hanya saja jika kau katakan sejujurnya bahwa dalam jarak ini tak ada lagi ruang untukku, sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Aku menyadari segala keterbatasanku. Dan kau membutuhkan yang lebih..'
Kau baru akan membuka suara, dan aku mengambil alih melodi sebelum kau menyanyikannya.
'Aku tak pernah menyalahkan jarak, atau dirimu, atau diriku sendiri atas mengapa kau pilih keputusanmu yang ini. Ini hanya soal perbedaan kebutuhan kita yang tak biisa dijembatani. Aku mengerti.  Berhentilah meminta maaf. Jaga dirimu, jaga seluruk jarak yang pernah kuretas dalam rindu untukmu..'

Kau masih tertunduk, dan aku tak henti memandangi setiap inci lekuk wajahmu.
Mungkin keteduhan tak pernah kudapatkan darimu, atau mungkin kesempurnaan tak pernah kau dapatkan dariku, hingga akhirnya semua itu membawa kita dalam suatu keputusan : Berpisah.

Sepucuk Surat dari Mentari


Dalam gelap malam, saat kau terlelap tidur dalam sinar rembulan yang temaram,
Aku menanti di sudut gelap yang tak pernah kau sadari.
Berharap pagi segera terbit dan aku kembali memelukmu erat,
seakan aku tak rela jika kelak malam datang lagi dan merenggutmu dari sisi.

Dalam gelap malam, saat kau terlelap tidur dalam sinar rembulan yang temaram,
aku terpekur di sudut gelap yang tak pernah kau mengerti.
Memikirkan daya agar bisa selalu menemani,
tanpa harus terpisah ketika raja mimpi memanggilmu tuk datang menghampirI.

Kenyataannya tak akan ada satu makhluk-pun yang tahan hidup bersamaku.
Tak hanya kau.
Maka aku tau, aku memang diciptakan untuk mencintai sendiri.
Mencintai dan dicintai tanpa memiliki.
kebersamaan hanya fatamorgana yang kunikmati. tanpa arti.

Mencintai selalu sulit untukku.
Mencintai bagiku adalah rasa ingin mengekangmu disampingku.
Dan itu berarti aku harus membinasakanmu dalam kobaran api, bahkan sebelum sempat kau menyelamatkan diri.
Mencintai selalu sulit bagiku.
Mencintai untukku adalah hasrat untuk melampiaskan keegoisanku.
Dan itu berarti aku harus membunuhmu dalam silau cahaya yang selalu kau banggakan sebagai pemicu semangat.
Dan itu berarti aku kehilanganmu sebelum sempat merasakan memilikimu.

Kau selalu berkata dengan bangga bahwa aku mencintaimu, dengan mengirimkan cuaca cerah tanpa mendung. tanpa hujan.
Tapi kau belum cukup mengerti, jika itu justru membuatmu terlupa, bahwa mendung dan hujan-pun sesuatu yang menyejukkan.
Kau selalu berkata dengan bangga bahwa aku mencintaimu, dengan mengusir kegelapan yang menyelimuti malammu.
Tapi kau belum cukup mengerti, jika itu justru membuatmu terlupa, bahwa kau butuh malam untuk mengistirahatkan seluruh tubuhmu yang lelah bekerja.

Kaetika kau dengan bangga dan bahagia mengatakan aku selalu mencintaimu, dan memberimu kebahagian yang tak tertawarkan,
aku justru melakukan dosa besar telah hadir dalam setiap detik hidupmu.
Mengambil porsi yang tak semestinya untukku.
kemudian meniadakan apa-apa yang harusnya ada di setiap harimu.
Ketika kau bangga mengatakan aku mencintaimu, dan kau bilang kau mencintaiku,
aku sadar bahwa detik itu juga aku membawa kematian untukmu.
Aku yang selalu kau simbolkan sebagai keceriaan dan sumber kekuatamu, justru membawa maut untukmu.
Dan kau tak menyadari.. sedikitpun.

Karena itulah,
Mencintai selalu sulit untukku.
Mencintai bagiku adalah nelangsa. Masalah terbesar kita bukan didirimu, tapi tumbuh dari dalam jiwaku.
karena aku merenggut cahaya kehidupan darimu sebelum kau bisa mencegahnya.
Kita tak perlu bicara cinta jika harus melihat salah seorang dari kita tersiksa, bahkan binasa.
Karena itu,
Cukuplah aku mencintaimu dan takkan kubiarkan dirimu mendekati atau membersamai langkahmu.
Aku tak mungkin sampai hati melakukannya.

Aku mencintaimu,
Tapi aku lebih baik tak bersamamu.
Tak apa, itu memang yang terbaik.
Dan aku yakin, walaupun tak bisa setiap waktu, aku masih bisa melihat senyummu.
Menyimpannya untuk sisa-sisa harapan. Mencintai untuk tetap memberimu ruang melanjutkan kehidupan.

Aku-pun akan melanjutkan pula. Menyinarimu hingga batas akhir aku diperbolehkan melakukannya.


Berjalanlah walau habis terang, ambil cahaya cintaku terangi langkahmu.
Diantara beribu lainnya, kau tetap benderang..

Tiada Bekas


Mencintai seseorang terlalu dalam membuat kita tidak bisa mencintai lagi.
Ku pikir itu benar, bagaimana suatu rasa telah membunuh perasaan dan keinginan untuk mencintai orang lain. 
Hanya berharap pada satu orang. Bahkan lebih memilih menahan sakit daripada memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyembuhkannya.

Aku mencintainya. Dalam tahun-tahun yang tak bisa kutulis dalam cerita.
Bahkan ketika semuanya berakhir secara nyata, hingga sekarang aku masih menginginkannya. Merindukan segala sesuatu yang kulalui bersamanya.
Tak perrnah benar-benar meninggalkannya. Segala sesuatu yang kulakukan mengingatkan padanya.

Mencintai seseorang terlalu dalam membuat kita tidak bisa mencintai lagi. 
Kupikir itu benar. bagaimana sebuah rasa mengambil alih kendali. Bahkan ketika kukira aku telah jatuh cinta lagi,
ternyata aku masih mengharapkannya. Rasa yang kuanggap cinta menjadi hambar dihadapan bayangnya.

Seseorang yang dicintai terlalu dalam oleh orang lain, adakah merasa?
Jika iya, aku ingin tau apakah dia merasakan kalau aku belum bisa menggantinya.
Samakah? Adakah harapan bersama?

"Setidaknya, kamu pernah menjadi milikku. Meskipun tak lama hal itu telah membuat ku bahagia..'

Mencintai seseorang terlalu dalam membuat kita tidak bisa mencintai lagi.
kupikir itu benar, karena tak pernah lagi kurasakan mencintai seseorang sedalam mencintainya.
Tak lagi kurasakan keceriaan seperti ketika bercanda dengannya.
Karena tak ada lagi bayang yang kuimpikan tuk ku sentuh seperti dia.

Aku merindukannya. Aku masih mencintainya.


Yuna membaca sekali lagi tulisannya di halaman buku bersampul merah hati, kemudian menuliskan deretan kecil dipojok halaman : Sabtu, 1 Desember 2012.
Tapi hati tetaplah hati.
Kadang kau tak bisa mengaturnya sendiri tanpa campur tangan pemiliknya yang Hakiki..

Pernahkah Kau Berfikir?


Pernahkah kamu berfikir bagaimana dia mondar-mandir sambil memegang telepon selulernya,
dan berharap kamu membalas atau mengangkat puluhan panggilan ke ponselmu?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana dia ingin bercerita semua yang dialaminya tetapi kamu bertindak seolah itu bukan masalah dan malah marah-marah?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia mengundangmu kerumah dan kau tak memberikan kepastian untuk datang?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia berusaha menjelaskan sesuatu dan kamu tak mau mendengarkannya sama sekali?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia disuatu tempat selalu memikirkanmu dan kamu malah menuduhnya melupakanmu?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia  berkata jujur dan kamu tak mau menyisakan sedikit kelapangan hatimu untuk percaya?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia menahan rindu, dan kamu malah membalas dingin ketika dia menghubungimu?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia menunjukkan siapa dirinya tetapi kamu malah memperlakukanya seolah dia dan dirinya adalah suatu kesalahan?

Dan pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika segala usahanya membuatmu bahagia dan telah kau tolak begitu saja hanya karena tak sesuai menurut sudut pandangmu itu menjadikannya JERA?

Dan aku lelah membahagiakanmu dengan segala dayaku. 
Dan aku lelah melihatmu menganggap semua itu keliru.
Dan aku lelah..
Maka ketika kau merasa aku tak lagi bisa mengerti dan tak layak kau cintai,
Maka ketika kau merasa aku tak lagi menjaga hati dan kau ingin pergi, 
pergi saja.
TANPA HARUS MENGELUARKAN KATA-KATA YANG MENYIKSA.

Paragraf -- Bagian Kecil dari Rumput di Padang Ilalang


Saat ini mendung, dan mendadak aromanya menggeliatkan kebencianku pada hujan.
Aku benci.
Benci ketika hujan terselubung dengan kesedihan.
Benci ketika hujan terselimuti dengan rindu yang tak tersampaikan.
Aku menatap keluar jendela yang tembus ke pemandangan diluar sana.
dari alunan radio didalam bus ini sebuah kalimat menggema

Semakin dalam seseorang mencintai yang menjadi miliknya,
Semakin sulit baginya berkorban untuk orang lain.


Memang iya.
Dan hujan menjadi satu-satunya yang bersaksi akan itu.

Saat itu mendung, dan hujan mulai menjatuhkan titik demi titik ke permukaan bumi
Kau disana, berdiri dan melambaikan tangan dari kaca jendela bus yang aku tumpangi..
Aku menatap nanar membisikkan kata yang tak pernah kau dengar,
'Hujan tak pernah membawa kesedihan, atau identik dengan kesepian..'
Sejurus kemudian aku melihat kita mengarungi jalanan dengan arah berlawanan..

Dalam derap suara kereta aku berfikir dengan isak tertahan.
Tak apa. Tak apa.
Perpisahan hanyalah bagian kecil dari sandiwara yang aku jalankan.
Dan monolog kesepian hanya basa-basiku dengan Tuhan.
Dia akan baik-baik saja. Berdiri tegak dengan seseorang disampingnya.
yang diharapkannya.
Yang mampu bertahan dengan seluruh lika-liku kehidupannya.
Bukan aku...

Aku menghela nafas.
Siluet kenangan seakan menambah gersang padang ini, padahal mendung masih setia mengayomi.
Sebegitu keringkah tanah ini?
Hingga hujan-pun tak mampu membasahinya lagi?
atau memang satu-satunya yang mampu membasahinya hanyalah lembab derai tawanya?
Tawanya.
yang kutinggalkan diujung pelangi ketika senja berupa semburat jingga?

Kaca jendela bus ini memburam, rintik hujan menguap dalam partikel-pertikelnya dan mengaburkan pandanganku memalui celah jendela ini.
Atau memang hujan selalu menguap?
apakah titik air selalu mengaburkan pandangan?
Layaknya titik air mata yang membias disudut beku tatapanku..
Bayanganmu mengecil, hingga hilang ditelan jarak.
tersamar tirai rintikan hujan yang halus..
yang menyejukkan namun menusuk kalbu.

Hujan adalah nyanyian kalbu,
Bagi seseorang yang hatinya sedang merindu

ya. Rindu.
Tapi bagaimana bisa hujan membawa rindu dari jarak sekian meter dan sekian detik yang baru kulalui?
Memikirkan jarak dan tahapan hidup yang akan kulalui bermil-mil jauhnya darimu, membuatku rindu.
Tidak. aku tidak merindukanmu.
Aku merindukan kita.
Bagaimana bisa kita memilih berpisah atas nama cinta?
Bukankah cinta harusnya selalu menyatukan?

Ah, tidak.
Setiap kilasan kenangan ini tidak boleh datang dengan gampangnya dan merenggut jiwa.
Tak bisa.
Tak akan kubiarkan semua tentang kita merenggut rona kebahagiaan di hidupku yang selanjutnya.
Bagaimana bisa?
padahal kau mungkin sudah bahagia dan lupa bagaimana caranya kita tertawa bersama.
Mendung ini tak pernah berarti apa-apa untukmu kan?
Maka aku-pun akan bangkit juga.
Bus ini membawaku pergi.
Meninggalkan serpihan sisa-sisa cerita kita yang merobek hati.
Maafkan aku yang pergi.
karena kutau kau takkan cukup mampu untuk mengakhiri.

Untuk kesekian kalinya, aku menyesap hal yang tak pernah kau mengerti.
Menyerap segala rasa ketika ribuan pertanyaan kau lontarkan padaku.

Kau terus menerus mengejarku dengan tuduhan bahagia tanpamu, dan berulang kali aku hanya menjawab 'oke. Kalau itu yang ada di pikiranmu.'
Kau mungkin membenciku karena bersikap begitu, tapi aku terlanjur membatu untuk membicarakannya kembali.
Bahkan untuk sekedar menjelaskan apa yang kurasakan ketika kau terus membicarakan hal yang sama.

Mungkin memang aku yang terlalu tak ingin peduli.
Mungkin juga benteng yang kubangun sudah terlalu kuat untuk sekedar kau hancurkan dengan keraguanmu padaku.
Kenyataannya aku memang sudah membiarkanmu terus bertanya-tanya. Dan aku tak mau menjawabnya.
Aku ingin ku yang berhenti bertanya dan  mulai kembali percaya.
Kemudian akan kubiarkan segalanya seperti semula.

Dengarkan aku.
Aku mengacuhkanmu dan bukan berarti tiap-tiap detik kulewati tanpa memikirkanmu. Aku hanya tak ingin terombang-ambing dalam ketidak-pastianmu.
Kadang kau datang dengan sejuta pertanda kau masih mencintaiku,
Detik selanjutnya kau meninggalkanku ketika aku mulai menyukaimu.
Berulang begitu. Aku lelah.
Maka sekarang maafkan aku jika aku begini.
Bukan karena cinta telah pergi, Tapi karena hati sudah enggan terluka lagi.


Maka, kini kuucapkan kembali.
Cinta tak pernah pergi.
Hanya hati enggan terluka lagi.
Dan seiring aku mengucapkan janji,
Mendung mulai berganti dan hujan turun membasahi bumi..

Hujan ini mungkin jelmaanmu.
Ronta setiap kalimat-kalimat kebencianmu padaku.
tapi hujan tak pernah berarti kesedihan, dan tak pernah identik dengan rindu yang tak tersampaikan.
Maka, dalam setiap penjelmaanmu tak akan aku iringi dengan airmata yang menyesalimu.
Hujan ini cintaku, cintamu, cinta kita yang tak bisa kita nikmati kapanpun kita membutuhkannya untuk memadamkan gersang di padang, tapi kita akan selalu menemuinya ketika kita membutuhkannya untuk menyelamatkan padang dari kematian..

Berbahagialah, Ilalang.
Dan bahagiaku-pun akan datang..


Sepucuk Surat untuk Mentari


Sudah tengah malam.
Sudah tengah malam ketika detik demi detik kulalui dengan mata terjaga.
Untuk terlelap pun tak bisa.
Berharap keesokan paginya segala cerita mampu menawar seluruh luka.

Aku tak menulis surat ini dengan perasaan kecewa.
Tidak.
Aku justru merasa bersalah karena aku menulis ini tanpa peduli sedikitpun,
apakah isinya akan menyakitimu yang membacanya.
Aku hanya rembulan malam. Durjana dalam kelam yang akan mati ketika kau terbit.
maka sedikit waktu yang kupunya, aku ingin benar-benar memilikinya untukku sendiri.
dan mengenangmu adalah hal yang kuhindari.
Apa artinya?
yang kita bicarakan hanyalah omong kosong dan janji-janji.
Padahal kita sama-sama tau, hidup kita bukan sesuatu yang pasti.
Aku bosan dengan abu-abu.
kau tau.
Aku hidup dalam langit malam yang sama kelabunya.
Dan denganmu, haruskah aku menikmati warna yang sama?
untuk jangka waktu yang tak kita duga--mungkin selamanya?

aku hanya rembulan malam, dan rembulan takkan pernah bertemu dengan mentari dalam satu hitungan waktu.
Duniaku memisahkan kita.
Duniaku yang membatasiku agar tak bisa melihatmu, dan begitu pula sebaliknya.
Kau tak suka terlibat kedalam duniaku.
Aku tak cukup peduli.
Kau tak mengizinkanku masuk kedalam duniamu.
Aku tak cukup peduli.
Walau sebenarnya memendam hasrat bersamamu sama dengan menusuk jantungmu sendiri.
Aku tak cukup peduli.

Aku mencintaimu, mentari.
Sebesar rintik hujan mendamba pelangi.
namun aku terlampau menyadari, kau dan aku tak pernah saling mengerti.
atau yang lebih naas lagi, kau dan aku sama-sama berhenti saling mengerti.
Dan hidup bersama, hanya sebatas mimpi tanpa harapan menjadi nyata.

Aku tertawa.
Semoga Tuhan menawarkan cara agar kita bersama.
Akankah bisa?


Apathy


Hujan malam ini, yang biasanya bercerita tentang kerinduan,
sekarang bicara tentang kebekuan.
tentang dingin rintikannya yang tak pernah bisa dihangatkan.
tentang dinginnya hembus angin yang tak bisa dipanaskan.
tentang dinginnya suasana yang tak bisa tersentuh oleh canda tawa.
Aku memejamkan mata, mencoba mencari sisa-sisa rasa yang kupunya.
Berharap kehangatannya mampu mengusir gemertak tulang yg menggigil.
Dan.. Tak ada apa-apa.
tak ada perasaan apa-apa.
seketika aku takut bekunya udara malam ini merenggut kepekaanku.
Aku takut hatiku membeku bersama butiran hujan yang membasahi setiap sudut tempatku terpaku.

Mungkin aku hanya lelah, atau memang aku sudah menyerah. Tak pernah bisa kupastikan.
aku hanya tau aku tak ingin mengalah hanya untuk meretaskan sebuah kehilangan.

Aku berhenti peduli.

Menyoal Jarak, Antara Kita


Senja kemarin menghantarkan aku merenungi semuanya. Semuanya.
Dan pertanyaan lama yang kukubur dalam-dalam kembali menyeruak masuk ke dalam otak.
'Bagaimana bisa manusia mempunyai jarak yang tak bisa diukur dengan manusia lain?'

Dulu, sebelum berkemas meninggalkan kota kelahiran, satu-satunya keyakinan yang membawaku melangkah adalah soal paham, dimana aku mengira jika semakin cepat saya beranjak pergi, semakin cepat pula apa yang selama ini kubahasakan secara tersirat mampu dimengerti.
Tapi tidak.
Manusia tidak diciptakan untuk mengerti kebisuan orang lain. Begitu pula orang-orang ini.
Orang-orang yang membuatku merasa kalau dicintai oleh mereka justru merupakan sebuah tancapan duri.
Tunggu, aku tidak bicara tentang cinta dengan orang yang kusukai.

Setiap orang pasti mendamba untuk dicintai. Tetapi tidak bagi sebagian orang.
Dicintai kadang membawa beban yang terlalu berat, terlalu menekan dan membuat tertekan.
Hingga pada detik selanjutnya kita tidak tau apa yang harus kita lakukan.

Hingga saat ini, ketika orang lain menyoal betapa mereka dicintai dengan cara yang mereka ketahui dan mereka inginkan secara sadar, aku hanya tersenyum.
Pasti banyak orang diluar sana yang ingin sekali memiliki perasaan seperti itu.
Dicintai dengan cara yang kita ingini. Atau disayangi dengan kebebasan berkomunikasi.

Tulisan ini mungkin mewakili mereka yang tak nyaman dengan hidupnya.
Yang merasa punya kasih sayang tapi rasanya gersang.
Tak apa. memang untuk itulah tulisan ini dibuat.

Kadang timbul tanda tanya besar dalam diri saya :
'Bagaimana bisa seseorang yang hidup dengan orang lain selama bertahun-tahun tapi tetap mempunyai jarak?'
padahal mereka menghabiskan banyak waktu bersama, melalui banyak peristiwa bersama.
Tapi tak kunjung bisa terbuka.

Menjaga perasaan masing-masing mungkin menjadi satu-satunya alasan yang kuat tapi tidak masuk akal.
Dan itu dijalani sepanjang hidup. Betapa menyiksa.
Dulu saya juga berfikir, kenapa kita bisa sedemikian hancur ketika seseorang tidak memahami apa yang kita rasakan.
Sekarang saya mengerti kenapa.

Setiap orang pasti mempunyai keinginan, dan orang lain juga punya keinginan atas orang tersebut.
Dan jarak terjauh yang bisa terjadi adalah ketika kedua keinginan itu tidak tersampaikan dengan baik. Atau tidak saling berlaku satu-sama lain.

Dua orang yang sudah bersama bertahun-tahun tetapi tak juga bisa saling meyelami isi hati masing-masing.
Sama-sama ngotot.
Sama-sama tak mau mengalah.
Sama-sama merasa paling benar.
Hingga satu-satunya perasaan yang bisa dirasakan hanyalah 'Hampa'.
dan satu-satunya anggapan yang bisa terpikirkan hanyalah : 'Semua yang kulakukan untukmu tak pernah berharga.'

Dan puncak terburuknya adalah ketika salah satu sudah merasa lelah dan tak lagi peduli.
Tak lagi peduli bagaimana bertindak dengan baik.
Tak lagi peduli bagaimana bersikap dengan baik.
Tak lagi peduli untuk melakukan semuanya sebenar mungkin.
Tak lagi peduli dengan mengecewakan dan dikecewakan.

Maka dari sekarang, seandainya bisa, banyak orang pasti meminta dilahirkan kembali sebagai orang yang sama tapi dengan kehidupan berbeda.
Dimana bicara bukan lagi menjadi halangan.
Dimana bicara dari hati ke hati bukan sesuatu yang sulit.

Mungkin memang iya, satu-satunya hal yang membuat hidup ini 'tak tertahankan' adalah orang-orang yang kita cintai.
Dan aku kembali berharap, Semoga tak ada lagi keinginan seperti beberapa tahun lalu untuk yang kedua kali.

That's why, I never tell you that I love you, M**.
Aku takut bahwa kata sesederhana itu tak juga bisa dipahami maksudnya.
Maaf. :)


Gemerlap Lampu Kota


Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja mengadu tawa antara kita.
menawar rasa yang sengaja tak pernah dibicarakan selamanya.

Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja merajut tiap memori ketika kita bersama.
Tak masalah jika kita memandangnya dengan arah yang sama tapi dengan pikiran yang berbeda.
Aku hanya butuh setiap sel udara yang kuhirup bersamamu menjadi bermakna.
Jauh lebih bermakna, daripada apa-apa diantara kita.

Kau bilang, melihatnya menimbulkan sensasi yang istimewa. Seolah kesempatan selalu datang tanpa kita minta.
Dan harapan akan senantiasa berkembang bila kita percaya.
Namun aku memandangnya dengan makna yang berbeda.
Kita memang slalu berbeda.

Aku bilang, melihatnya mengingatkanku pada kita.
mengingatkan padamu tiap kali aku mengedipkan mata.

Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja.
Melukiskan kamu dalam setiap masa yang aku punya.
satu-satunya yang membuatku sesak ketika aku berusaha melapangkannya.

Kumpulan lampu kota itu mungkin hanya bisa kunikmati keindahannya ketika malam menjelang,
dan rasa rinduku mulai menggenang.

Ah, bagaimana bisa kumpulan lampu membuatku sedemikian risau?
jauh dari yang bisa terlihat, kumpulan lampu itu bagaikan kamu.
Menyinari kegelapan malamku dengan sinar cahaya yang samar-samar, tetapi cukup menimbulkan suasana yang tak bisa kudapatkan dari cahaya lain.
Namun kenyataannya aku tak bisa membawanya pulang kerumahku, atau menyalakanmu sesuka hatiku ketika aku membutuhkannya.
Bagai kamu.
Menyinari ruang hatiku yang sengaja kubiarkan padam tanpa penerangan setelah satu-satunya lampu disitu putus alirannya. Dan tak kubiarkan siapapun memasang penggantinya.
Tapi aku tak bisa membuatmu menjadi penerangan dirumahku ketika gelap mulai menyergap. Kamu hanya akan tetap bersinar disana dan menjadikan aku penonton setia.

Ah, bagaimana bisa kumpulan lampu bisa membuatku sedemikian risau?
jauh yang bisa terlihat, kumpulan lampu itu bagaikan kamu.
Memandangnya begitu menenangkan, seolah aku tak pernah sendirian.
Tapi sebenarnya tidak nyata. Rasa tak pernah sendirian itu hanya fatamorgana.
Lampu kota hanyalah teman yang akan lenyap ketika mentari menunjukkan seringainya. Dan aku kembali tertelan dalam lika-liku luka setiap harinya.
Bagai kamu.
Bersamamu membuat hampa menjadi sirna. Tapi sebenarnya kamu memang tak pernah ada.
Kebersamaan kita adalah bahagia yang tak bermakna, selalu tertelan jarak predikat 'siapa kita'. Kau memiliki segalanya dariku, Dan aku tetaplah satu-satunya yang tak punya apa-apa. Dan kamu tak bisa membuatku memiliki semuanya.

Gemerlap lampu kota dalam temaram senja,
Aku hanya penikmat keindahannya.
Tak apa, aku tau lampu kota itu tak hanya tercipta untuk menyinari jalanku. atau memang bukan untuk menyinariku.

Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja.
Jangan kau padamkan sebelum aku puas mencecap pesonanya.


Belum Menemukan Mereka, atau memang Tidak Ada.


Kembali menyusuri lorong kampus, berjalan perlahan ditengah keramaian perbincangan teman-teman sesama mahasiswa.
Sebuah keramaian yang biasa tapi tak ada kebosanan yang menyertainya.
Mungkin memang iya, mempunyai teman adalah sebuah anugrah tersendiri.
Tapi ada juga yang tidak mampu menikmati seperti apa rasanya punya teman.
Saya tidak membual. setiap orang pasti pernah merasa tidak punya teman.
Kapan?
Ketika kamu mempunyai masalah dan tak mampu menceritakannya pada siapa-pun.

Bagaimana rasanya tidak bisa menjadi diri sendiri bahkan dalam lingkungan dimana kau menjalani hidup setiap harinya?
Membosankan. tapi tidak sepenuhnya membosankan juga.
kadang, kita bisa tetap tertawa bersama mereka seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi keadaan seperti ini juga membunuh secara perlahan.
Ketika keadaan meyebalkan itu datang, seperti : ada beberapa hal yang ada didiri kita tidak bisa dikomunikasikan dengan mereka.
dan mereka tidak bisa menangkap bahasa mata kita.

Seperti dimana kamu mempunyai teman yang sama-sama suka ngomong dan berdiskusi. Tapi disisi lain ternyata si teman 'terbatas' untuk kita ajak bicara.
Katakanlah dia punya pacar --atau siapalah-- yang kemudian mencemburui kita.
atau terbatas peraturan bla-bla-bla. atau kemudian ada kabar burung yang membuat kalian canggung.
Seperti juga dimana kamu mempunyai teman yang se-Hobi, hangout bersama, bercanda setiap hari, tapi tidak bisa kau ajak diskusi masalah lain selain suka-suka.

Maka, mungkin memang iya sebuah pernyataan yang berkata : 'Tidak perlu banyak teman. Cukup satu. yang bisa kau pahami dan memahamimu.'


Dimana berada diantaranya, kamu bisa benar-benar menjadi dirimu sendiri. Dimana kamu bisa benar-benar 'memiliki' tanpa harus ada yang menghalangi.
Dimana kamu bisa benar-benar tertawa, menangis, marah, atau menghabiskan waktu bersama tanpa peduli apa yang orang katakan.
Dimana kamu bisa benar-benar berbuat kesalahan dan mendapatkan maaf sama mudahnya.
Dimana kamu bisa benar-benar 'aneh' dan dimaklumi dengan mudahnya.
Dimana kamu bisa benar-benar merasa bahwa hubungan kalian jauh lebih dalam dari sekedar pacar atau saudara.
Dimana kamu bisa benar-benar tidak mengerti apa yang menyatukan kalian walau kalian memang jarang terlihat bersama..
Dimana.... kamu seakan mempunyai dunia yang sama dengan mereka. Benar-benar sama. tanpa kata 'mirip' atau 'layaknya'.

Mungkin, jika masih merasa seperti ini, kita memang hanya belum bisa 'menemukan' mereka.
Atau memang tidak ada...


Senin, 08 Oktober 2012

Ketika Terbangun


Aku terbangun dengan hati yang kosong.
Seolah satu-satunya yang menjadi isinya ditarik keluar dan terburai begitu saja.
Disergap hampa seketika menjadi hal yang menyesakkan dada.
ketika satu-satunya alasan aku menikmati harapan-pun diberodol tanpa basa-basi sebelumnya.

Aku terbangun dengan hati yang kosong.
Seolah satu-satunya yang kutahan menjadi isinya ditumpahkan dan tercecer begitu saja.
Disergap kecewa seketika manjadi hal yang menyempitkan kesabaran.
ketika satu-satunya pertahanan yang kubangun-pun dihancurkan tanpa ampun.

Dan kau,
menjadi satu-satunya bagian yang paling rawan kusentuh.
menyapamu akan menjadi kehancuran yang tak terprediksikan.
namun mengubur keinginan untuk menatap matamu akan menjadi badai yang lebih menakutkan.

Aku terbangun dengan hati yang kosong.
Bahkan merasa kau mencintai-pun hanya mampu kurasakan dalam kelelapan,
kemudian menjadi belati ketika waktu membangunkan.

Aku terbangun dengan hati yang kosong.
Seolah apa yang kurahasiakan darimu menjadi jerat-jerat yang menekan jalan nafas.

Aku terbangun dengan hati yang kosong.
seolah mendekapmu dalam mimpi adalah satu-satunya kesempatan.
dan terbuai didalamnya menjadi hal yang memabukkan.

Maaf,
aku terbangun dengan hati yang kosong.
dengan hati yang diremas hingga habis dayanya.
Namun sisa-sisa kehidupannya masih melafadzkan namamu dengan fasih..
dengan tanpa kehilangan harapannya.

Aku terbangun dengan hati yang kosong.
dan titik hujan dimataku yang menggersang.
dengan keyakinan bahwa kau mungkin jodohku,
sekalipun kau mengharapnya sebagai jodohmu.
Dan waktu,
terasa menjadi durjana untuk hatiku.

Senin, 10 September 2012

DIA TAU


Dia tau. Dia tau aku takut terjatuh.
Dia tau tapi tak ingin beranjak. Malah menghempas semakin deras.
Dia tau, Dia tau aku takut terhanyut.
Dia tau tapi tak berhenti mengalir. Malah mengikis semakin tipis.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku tak ingin berada dalam dekapnya.
Dia tau tapi tak ingin melepas. Malah memegang semakin erat.
Dia tau, Dia tau aku tak ingin membuang pembatas.
Dia tau tapi tak juga berpisah. Malah meruntuhkannya dengan tanganku.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku memenjarakan kemungkinan.
Dia tau tapi tak juga melawan. Malah membias tipis sulit ditepis.
Dia tau. Dia tau aku melawan kebersamaan.
Dia tau tapi tak juga membiarkanku sendiri. Malah menjelma dalam bisik mengelitik.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku ingin bukan ini.
Dia tau tapi tak juga menepi. Malah beredar penuh tanpa peduli.
Dia tau. Dia tau aku tak ingin mencintai.
Dia tau tapi tak berhenti. Malah mencipta semesta disayangi.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku menolak.
Dia tau tapi tetap membawa gejolak. Malah semakin menjebak.
Dia tau. Dia tau aku ingin berkata 'tidak'.
Dia tau tapi tetap membujuk. Malah semakin meremuk.
Dia tau.

Dia tau. Dia tau aku berusaha mengabaikannya.
Dia tau tapi tetap terjaga bersama. Malah semakin dekat tanpa diduga.
Dia tau. Dia tau aku pintar menepis rasa.
Dia tau tapi tetap tau caranya. Malah aku semakin khawatir karenanya.
Dia tau.

Tapi
DIA tau. DIA tau aku rapuh.
DIA tau tapi tak berhenti membuatku berusaha. Malah membuatku bertanya.
Benarkah DIA tau dalam diamNya?
Benarkah DIA (sudah) tau aku semakin terlena?
Benarkah DIA (ingin) tau bagaimana aku melawan daya?

yang kutau, Dia tau dan tetap berjalan dalam ketakutanku.
Dan DIA tau, aku bimbang. Dalam jalan bermuara DIA atau Dia.
Aku ingin DIA dan Dia tau aku bimbang dalam ketidaktegasanku.
Aku ingin DIA tau aku membutuhkan cara agar Dia berhenti tau.

Dia tau.
DIA-pun tau.
satu-satunya yang kutau adalah D-I-A-T-A-U.

Kamis, 16 Agustus 2012

Selamat Ulang Tahun Indonesiaku.


Besok negara kita Ulang Tahun loh..
sekedar mengingatkan aja sih.. kali aja ada yang belum tau.

Kenapa saya bilang Ulang Tahun dan bukannya peringatan Kemerdekaan?
Karena saya setuju dengan banyak statement yang mengatakan negara Indonesia belum sepenuhnya merdeka.
Tenang saja. disini kita nggak akan membicarakan sejarah negara yang penuh dengan peristiwa dan tanggal-tanggal penting--yang bahkan hingga usia saya yang ke-18 tahun ini--belum benar-benar dimengerti.
Padahal sejak SD kita sudah dijejali pelajaran sejarah bangsa kita tercinta ini.

Sudah bisa ditebak jika mendekati hari besar negara kita ini seluruh jejaring sosial akan penuh dengan ucapan nasionalisme dari seluruh warga Indonesia.
Itu baik sekali kan? tandanya masih banyak warga se-negara yang ingat betapa berharga hari bertanggal 17 Agustus itu.
tentunya kita semua berharap itu tidak sekedar kata-kata tanpa makna.

Indonesia.
Setiap kali mendengar nama itu yang terlintas dipikiran saya adalah suatu negara yang complicated. Dimana semua urusannya baik yang kecil maupun yang besar saling membelit dan susah diuraikan.
Mungkin karena otak warga kita yang belum sampai, atau memang karena masalahnya luar biasa hebatnya.

Tadi  pagi (16 Agustus 2012), bapak berpesan sebelum pergi.
'Dengarkan pidato kenegaraan SBY di _______ (sensored-, salah satu stasiun televisi swasta). Lihat apa yang beliau sampaikan.'
Dalam pidato tersebut, Bapak Presiden banyak menyinggung isu internasional dan kedudukan Bangsa Indonsia di mata dunia.
Yaa.. itu bagus. hanya saja saya takut kalau masalah di domestik justru 'terlupa' untuk dibahas. padahal, bagaimana-pun urusan dalam negara justru jauh lebih penting.

Setelah bapak Presiden berpidato, segala macam testimoni rakyat muncul. ada yang menghujat, ada juga yang menilai baik. saya justru berfikir kalau masalah yang membeli bangsa kita itu sebenarnya justru masalah-masalah kecil.
Saya jadi ingat bagaimana sikap kita sebagai supporter bola untuk TIMNAS kita.
ketika mereka menang, kita memuja bak pahlawan super.
Giliran ketika mereka down, cercaan pedas justru muncul dari kalangan kita sendiri.
Hei dude, Can't you see?
bahkan dalam ilmu psikologi juga dijelaskan bahwa seseorang yang hidup suatu lingkungan akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter sebanding dengan lingkungannya.
Ketika dipuji secara berlebihan mereka menjadi terlena.
Ketika dihujat habis-habisan mereka akan mendendam dan semakin tebal telinga.
Nah, kita juga salah kan?

Saya pikir itu berbanding lurus dengan sikap pejabat pemerintahan kita.
Semakin kita menghujat, mereka akan lebih tidak peduli terhadap nasib rakyat.
Mungkin mereka--para pejabat itu-- berfikir,
'buat apa rakyat juga diperhatikan? toh citra kita telanjur buruk. Lebih baik melakukan sesuatu yang berguna untuk diri sendiri dan keluarga saja.'

Selain itu kebanyakan dari kita juga cuek dengan keadaan negara.
'ah, kurang kerjaan ngurusi negara.'
'alah, diurusi juga ngapain? toh nggak ada perubahan.'
Lah kalo kita cuek siapa yang ngawasin negara?
mereka justru leluasa melakukan penyimpangan mbak, mas yang cakep-cakep..

Inilah. Negara kita terjajah oleh perilaku kita sendiri.
Apa yang kita tanam akan kita tuai, ingat?
kalau kita nggak mau peduli ya kita nggak akan dipedulikan.
simple.

Kita perlu mendukung perubahan.
salah satunya dengan percaya dan mendukung kebijakan pemerintah.
Tapi disini saya juga tidak membenarkan jika kita terus mendukung seluruh perilaku pejabat.Tidak.
Kita tetap harus tau batasan sampai mana kita harus percaya dan kapan kita harus bergerak meluruskan yang melenceng.
Kita boleh marah dengan pemerintah tapi TIDAK dengan demo anarkis.
Kita boleh kecewa dengan beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab tetapi TIDAK dengan aksi destruktif.
Apa yang bisa diperbaiki dengan cara seperti itu?
Rakyat justru sebal, dan masalah tidak terselesaikan.
Wibawa kita sebagai pemuda pembawa perubahan hancur. Dan kita makin kalah dengan penyimpangan.

Kritik dan saran bisa disampaikan dengan lebih baik.
lewat media masa, lewat musyawarah, atau apa saja yang menarik simpati msyarakat.
Shock terapy  boleh juga.
tapi ada tempo dan strateginya. Bukan asal nyeplos kasar dan merusak seenaknya.

Seorang kakak pernah menjelaskan kepada saya kalau dalam suatu golongan pasti akan ada orang yang membawa kebenaran. Sekalipun golongan itu bobrok.
Kemudian kenapa kita tidak percaya jika seseorang yang membawa kebenaran itu ada dinegara kita?
Atau malah sebenarnya tugas itu ADA PADA KITA.

Dukung dan Ingatkan negara kita dengan cara yang benar.
Caranya?
Buat dirimu belajar. Persiapkan bekalmu untuk terjun secara langsung. dan jika pada saatnya kau punya cukup ilmu, bangun kembali negara ini dari dalam.
Ah, kamu pintar berteori.
Silahkan berfikir demikian. Tidak masalah buat saya.
Saya juga belajar, sama dengan ribuan pemuda lainnya.

Pemuda Indonesia,
adalah saya, anda, dan ribuan remaja lain yang punya tanggungjawab.
ya kepada orangtua, ya kepada agama, ya kepada bangsa dan negara.
kan gitu yang diharapkan semua orang ketika lahir.
Pas syukuran kelahiran juga sering diucapkan kalimat itu.

Contoh sederhana :
Mengejar prestasi akademik it's OK.
tapi bukan berarti kita tidak bisa belajar memperbaiki negara.
Coba pikir. bahkan melalui mengejar angka prestasi juga kita bisa belajar berbangsa dan bernegara.
Bahkan ada wacana mata kuliah dan mata pelajaran anti korupsi.
Kita tinggal menguasai materi kuliah dan mampu mengembangkan dan mengimplementasikan.
Kita tinggal menurut sistem pendidikan sambil belajar untuk apa dan bagaimana sistem itu dibuat.
masalah apa yang berkemungkinan timbul.
tinggal menganalogikan ketika nanti kita terjun di dunia yang sebenarnya, kan?
bukankah banyak dari kita yang meraih prestasi akademik dengan mudah?
seharusnya bisa kan?

Nilai akademik dan prestasi adalah bentuk pertanggungjawaban kita pada orangtua
Apa yang kita pelajari dan pengimplementasiannya adalah pertanggungjawaban kepada agama dan negara.

Bukankah kita hidup, belajar, dan nantinya bekerja di negara ini?
apa kita sampai hati melihat negara yang menjadi tempat hidup kita terkikis dan mati?

Kita tidak perlu berspekulasi dengan debat yang ruwet tanpa hasil.
Kalau menurut saya,
Tinggal jalankan kehidupan kita sesuai dengan kepercayaan kita masing-masing.
Toh dalam agama saya (saya muslim) ajarannya sudah mencakup seluruh aspek kehidupan. termasuk politik.
Kalau kita terbiasa hidup dengan sebenar mungkin dijalan-Nya, kita akan terbiasa menjalankan sistem dengan benar. dan mungkin tanpa kita sadari, itu akan menjadi perubahan besar dalam negara kita.

Everything starts from here.
*tunjukdirisendiri

Sekecil apapun itu.
Bahkan perilaku membuang sampah pada tempatnya bisa menolong negara kita dari musibah banjir kan?
dan banyak yang lain.
Perilaku merawat tumbuhan bisa menyelamatkan negara--bahkan dunia-- dari polusi udara kan kerusakan ozon.
Lihatlah. perilaku kita penting.
Jika belum bisa berdebat dan memikirkan tetek bengek urusan pemerintahan. kita toh bisa berjuang untuk negara dengan cara ini.
#kode

Pemuda,
Besok adalah hari jadi untuk perjuanganmu.
Besok adalah tonggak awal tugasmu.
tongkat estafet sudah siap beralih pengendali.
Maka, mari berlari..

Selamat Ulang Tahun untuk Perjuangan Kita.
Selamat Ulang Tahun Indoesia tercinta..

Rabu, 08 Agustus 2012

Aku Bicara Melalui Rindu


Malam ini, detak ketukan keyboard memecah rindu.
iya. Rindu.

Tapi bukankah rindu ini sesuatu yang tidak boleh lagi kusenandungkan?
maka aku menyimpan melodinya dalam hati.
berharap meskipun perih, senandungnya tetap dapat kunikmati.
Walau sendiri.

Ah, masihkah kau tau aku tetap sama?
atau kau berpikiran aku sudah jauh bahagia?

Memang aku bahagia. Cukup bahagia karena Dia mendekapku pada saat yang tepat.
atau setidaknya sebelum terlambat.

Aku berusaha semampuku berdiam diri,
meskipun hasrat selalu meracau namamu.
Aku menyentuhmu melalui redup mentari dan sunyi malam hari..
berharap jika bukan kau yang mendengarnya, maka Sang pemiliknya yang hakiki akan membawanya ke ribaan yang semestinya.

Aku menggambar batas hakku, sekarang.
Hingga aku tak melanggarmu dengan perbuatan yang terlarang.

Karena cinta bukan sesuatu yang habis diluruh dengan kata.
Maka aku percaya, kau akan tau pada masanya.
Bahkan tanpa aku membuka mulut untuk bicara.

Malam ini, tenang malam memecah segala benteng kekuatanku.
merasa lemah karena merasa tak punya tempat mengadu setelah kehilanganmu.
Padahal aku tau persis, Dia tak pernah meninggalkanku.

Engkau,
yang kenangannya tak pernah habis kuresapi.
yang baru sekarang caraku mencintaimu kusesali.

Masihkah bayang ini mampu meretas apa yang terlampaui?
Semoga saja kesalahanku menjadi titik tolak yang baru untukku dan untukmu.

Engkau,
Janganlah berubah menjadi yang kurang dari ini..

Derik jangkrik malam ini memecah tabir mataku menjadi rintikan hujan dipipiku.
tapi terasa terlalu kering..
Hingga aku merasakannya bagai bersisik dan terpecah kasar.

Tapi bukankah air ini sudah tidak boleh kubiarkan jatuh pada penyesalan akan dirimu?
Maka aku menyimpan alirannya dalam jiwa,
dan menjadikannya lukisan cinta yang walau dengan luka, mampu membuatku tersenyum ceria.

Aku tak pernah takut lagi untuk mengingatmu.
Apapun tentang siluet kebersamaan kita tak boleh jadi sembilu.
Bukan salah kenangan jika aku terluka..
Salahku menyandarkan cinta pada siapa.

Tapi ah..
Sudahlah.
Rindu ini toh tetap berdetak tanpa aku bisa menahannya.
Datang dan teralun sesukanya.
Maka engkau, yang sekarang sedang terlelap,
semoga debur harap yang kulantunkan tak menjadikan berat langkahmu untuk menjalani hidup yang baru.

Semoga Allah menggantikan tanganku yang belum semestinya menggenggammu dengan sejuta rahmat anugerahnya padamu.
Maafkan aku karena tidak berani berkata 'TIDAK' selama kita bersama.

Maka sekarang biarkan aku menebusnya dengan berusaha untuk membelenggu segala keinginan untuk mendekapmu dalam keegoisan dan kebutaan perasaanku.

Cinta adalah hal yang fitrah.
yang menyenangkan dan membahagiakan.
Jika-pun kita terluka karenanya, bukan salah cinta.
Tapi salah kita yang tak tau cara menyalurkan cinta.

Aku meminta maaf atas kesalahanku yang tak kujelaskan alasannya padamu,
hingga kau membenciku. hingga kau menganggap buruk diriku.
tak apa..
semua ini sudah tak apa bagiku.

Aku meminta maaf karena masih belum mampu meretas hati darimu.
beri aku waktu..
berhenti mencintai tidak pernah mudah bagiku..
karena merasakan mencintai juga tak mudah untukku.

Aku meminta maaf untuk segalanya yang berjalan diluar kontrolku.
tak seharusnya begitu..
tapi...

Desir angin malam membawa hatimu dalam kilas balik bayangmu.
iya. Kamu.

Tapi kamu bukanlah orang yang boleh aku pikirkan atau kucumbui kenangannya setiap waktu.
Maka aku menutup mata,
Agar semua tentangmu walau dengan rasa teriris bisa kutepis.
sedikit demi sedikit.
hingga memori yang tersisa tinggal butiran yang menarik segurat tawa.

Semoga kau bahagia..
#8787

Sabtu, 04 Agustus 2012

Kembalikan Makna Kebersamaan Ramadhan Kami


Riuh rendah suara anak-anak yang sedang tarawih di mushola yang hanya berjarak kurang dari 20 meter dari rumahku ini mau tidak mau membuat syaraf wajahku menyungging senyum.
Teringat bahwa dulu aku juga seperti itu. Berteriak keras sampai beberapa tetangga memarahi kami.

Hanya saja, Ramadhan disini, di desa kelahiran saya,semakin terasa berbeda dari tahun ke tahun.
Semakin sepi rasanya.
entah apa yang sebenarnya sudah merubahnya.
Jelas sekali tergambar bahwa dulu, tadarusan di mushola ini adalah sesuatu yang menaikkan harga diri kami --anak-anak seusiaku--. Dan mushola adalah tempat bermain kami sambil menghabiskan waktu menunggu buka puasa.

Ketika adzan subuh mulai terdengar, kami, yang notabene masih SD, segera berlari menyambar alat ibadah dan segera berangkat ke mushola sambil membawa Al-Quran dan Buku Kegiatan Ramadhan.
Ah, iya. dulu Buku Kegiatan Ramadhan itulah yang mempersatukan kami, anak-anak sebuah dusun di pinggiran kabupaten ini untuk memenuhi tiap jengkal Ramadhan yang kami lalui.
As you know, Buku Kegiatan Ramadhan adalah semacam paper checklist kegiatan ibadah yang dibukukan. 

Usai sholat subuh, mendengarkan kuliah subuh dari pak Murtadli, imam sholat mushola kami, dan tadarus, seiring dengan mentari yang mulai menunjukkan batang hidungnya biasanya kami menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan keliling kampung sambil membawa petasan korek yang nantinya akan dinyalakan di pematang sawah yang sepi.

Sambil berjalan biasanya kami bersenda gurau. kadang ada juga satu atau dua anak yang kumat isengnya yang bersembunyi dan menakut-nakuti kami ketika rombongan kami terpecah. Seperti biasa, anak-anak perempuan adalah sasaran empuk anak laki-laki untuk ditakut-takuti, baik dengan berpura-pura menjadi hantu atau dengan petasan yang dilemparkan ke arahku dan teman-teman lain.

Setelah matahari mulai dirasa menunjukkan saatnya pulang dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah, Maka kami akan segera menyudahi kegiatan bersenang-senang kami dan melanjutkan rutinitas sekolah yang.. ya.. bisa dibilang cukup membosankan.
Apa sih yang bisa anak-anak lakukan ketika perutnya kosong dan mendengarkan gurunya bercerita didepan papan tulis?
Tidur? jelas tidak. kami cuma menutup mata sejenak. #eh

Kegiatan di mushola mulai berlanjut ketika adzan dhuhur berkumandang.
Setelah beruka puasa --bagi yang puasa mbedug--  kami kembali berkumpul memadu keceriaan di mushola dengan sholat berjamaah, mendengarkan tausiyah (lagi) dan kemudian antri meminta tanda tangan Sang Imam di Buku Kegiatan Ramadhan kami. Oke, Sang Imam mendadak populer dikalangan anak-anak.

Ketika selesai dan Sang Imam melangkah pulang kerumah, kami biasanya menutup pintu mushola dan mulai beraksi di dalamnya. entah bermain karet, main rumah-rumahan, atau apa saja yang menyenangkan.
Bahkan kadang, kami juga bekerja bakti membersihkan mushola lho.. 
kami anak yang manis kan? ini entah karna memang bulan puasa dan setan-setan sedang di ikat dineraka (kata Pak Murtadli) sehingga tingkat kenakalan kami menurun drastis, atau memang karena kebersamaan kami melahirkan banyak niat baik, kami bisa dengan sukarela bekerja membersihkan mushola semampu kami, hingga sholat Ashar menutup kembali pertemuan kami.

Belum lagi kami menyantap habis makanan buka puasa kami, Adzan Maghrib berkumandang.
secara serentak, kami langsung lari ke mushola untuk sholat berjamaah. 
Hahaaa.. kami oke sekali dalam hal ibadah ya? bukan. itu karena kami takut lembar check list buku kegiatan ramadhan kami di bagian sholat maghrib kosong.. #SalahNiat.

Dan tarawih adalah puncak dari hari kami yang melelahkan.
Biasanya, kami akan berangkat awal untuk memenuhi shaf sholat paling belakang padahal baris depan belum terisi. kenapa? Untuk apa lagi kalau bukan bercanda (Semoga Allah mengampuni dosa polos kami).
Biasanya juga, mushola kami akan penuh dengan jamaah tarawih, bahkan sampai ke teras mushola.
Tapi sekarang? 
terisi setengahnya saja sudah bersyukur..

Dewasa ini, saya agak merasa 'kehilangan'.
Saya kehilangan kebersamaan anak-anak sepeti saat saya kecil.
Saya kehilangan rasanya berdesak-desakkan tarawih.
Saya kehilangan riuh rendah suara anak-anak yang tadarus.
Saya kehilangan rasanya melihat anak-anak antri minta tanda tangan.
Saya kehilangan rasanya melihat anak-anak menghabiskan waktu bersama sepanjang hari dalam kegiatan keagamaan kami.

Karena saya sudah tidak melihatnya lagi sekarang.
Bahkan adik saya ketika disuruh tadarus oleh ibu saya, menjawab dengan polos, 'mboten wonten rencang-e og bu.. ajrih kula tadarus piyambakkan..'
Dan saya hanya bisa menghela nafas.
Kenapa sekarang tak ada Buku Kegiatan Ramadhan?
Kenapa sekarang anak-anak lebih suka dirumah?

Anak-anak memilih menonton tayangan televisi setelah sahur.
Anak-anak memilih online atau smsan untuk menghabiskan waktu.
Anak-anak memilih bermain Game di Laptop pribadi atau di Warnet
dan sudah tidak ada Buku Kegiatan Ramadhan yang memacu kami untuk berlomba-lomba rajin ke mushola.

Saya menatap sekeliling saya, dan ingin sekali berkata pada Laptop, TV, Facebook, Game, Handphone, dan sebagainya yang menyita perhatian anak-anak jaman sekarang.
Kembalikan makna kebersamaan Ramadhan kami..

Dipelupuk Matamu


Mencumbu waktu 
mengiris beku
Mencinta semu
Bagai memberi makan benalu

Mencumbu ruang
Menepis bayang
Mencintai serupa menambang
Mengambil secuil membuang sembarang

Seperti udara yang tersedia tanpa ada habisnya
Seperti air yang tak ada hentinya mengalir
Walau keruh, tetap dirasa jua
Adakah tersisa?

menggiring memori
membangkitkan getar silih berganti
Tatkala debur gelora menyapa denyut nadi
Seiring kita bertaut tuk pertama kali
Meniadakan benci
Meretas cita di pelupuk matahari

Namun kini,

Mencumbu haru
menyerbu pilu 
Dan jika kasih menetas tanpa jemu
Kusapa kembali ketika kita bertemu

dipelupuk matamu.

Sebuah Percakapan


Pagi ini, matahari merekah setelah dua hari yang lalu tersamar mendung.
Ilalang menghirup dalam-dalam aroma pagi, dan sejenak berlayar dibalik pekatnya memori.
Tanpa dia sadari, sang rumput memandangnya kejauhan jarak dan keterikatan yang telah dengan sengaja diurai dalam kesendirian yang menyiksa.

Sang rumput menghela nafas. bagaimana bisa sesuatu dikagumi sebegitu dahsyatnya tanpa menyadari?
Burung yang melihat itu menyapa dalam keramahan dan kelembutan tutur,

Kau rumput, tidakkah kau lelah mengharapkannya?
Aku? tidak.

kenapa?
Karena aku tidak mengharapkannya. Aku mencintainya.

Tidakkah kau ingin dia mengetahuinya?
Tidak. tak ada yang perlu diketahuinya. Rasa ini terang adanya.

Tapi dia tidak tau kau mencintainya.
Lalu kenapa?

Tidakkah cintamu itu berubah sakit yang menggerogoti hatimu?
Iya. dan akan selalu begitu. Rasa tak suka ketika ia dicumbu angin tanpa aku.
Amarah, Sakit hati, dan ke-iri-an..
Selalu terasa belum terlampiaskan.
Seakan meminum air asin saat haus..

Lalu kenapa tak kau ungkapkan?
Karena akan lebih baik jika begitu.

Burung menatap tak mengerti.
Sang rumput tersenyum, lalu berkata lagi.

Burung, aku tak mencintainya dalam diam. karena ada yang tau.
Kau tau, aku tau, Pencipta-pun tau. Dan dia... sebenarnya juga tau.
hanya belum mengerti kebenaran rasa ini.
Maka biarkanlah.
Karena seandainya aku mengatakannya-pun aku tak akan mungkin bisa merengkuhnya  untukku.
Karena seandainya aku katakan padanya-pun aku tak bisa melakukan apa-apa.
Aku hanya akan menjadi racun dari sesuatu yang telah ia jalani.
dalam sesuatu yang jauh lebih suci yang dia jalani.

Posisiku tidak benar jika harus mengharapkannya.
Aku hanya tau jika aku mengatakannya terus adalah bukanlah hal yang pantas.
maka biarkan saja aku merasakannya sendiri.
Hingga apapun padanya dan padaku akan tetap terjaga sebagaimana mestinya.

aku berkata padanya dalam keremangan padang ketika surya belum terbangun.

jika bukan karena Tuhan kita, tinggalkanlah cinta.

Dan dia, meninggalkannya.

Maka Pantaskah?


Dalam derapnya, ada tekad tersilau lelap
Dalam tegapnya, ada tegar termakan gelap
Lalu kita menuntut sebuah harap
'Berikan maaf, tolong berikan maaf..'

Pada padang ketika mendung datang
Pada ilalang tergoyang udara gersang
Kita membiarkan pinta berkumandang
'Berikan tenang, tolong berikan tenang..'

Namun pada saatnya terdekap dunia
Namun pada saatnya terbuai ceria
Sesuatu terlupa (tanpa) disengaja

Maka pantaskah kita datang kembali dalam aduan lemah diri?
Maka pantaskah kita meminta kembali yang kita tinggalkan sendiri?

Jika mencintai-Nya kita selalu alfa?

Berhentilah, Sejenak


Hei, berhentilah sejenak dari kegiatanmu. aku ingin mengajakmu bicara sebentar.
Kau tau bagaimana dengung nyamuk ketika kau tertidur? kau terganggu? tidakkah kau menyukainya? 
iya. Suara kecil itu mengganggu. menyulut kekesalanku ketika tidurku terganggu olehnya. 
Tapi tau apa dia tentang kekesalanku?

Kau tau gemuruh petir ketika langit mendung? kau terusik? tidakkah kau menyukainya?
iya. gemuruh itu menakutkan. menyulut kemarahanku ketika dia merusak syahdunya hujanku.
Tapi tau apa dia tentang kemarahanku?

Sama seperti manusia. kadang kesalahan seseorang dapat menyulut kemarahan dan kekesalan orang lain tanpa disadari.

Hei, tolong berhenti sejenak dari kegiatanmu. Dengarkan kata-kataku tanpa harus kamu berpura-pura tak tau maknanya.
Kau tau. dan cukup kau membuatnya rumit dari kelihatannya. Aku sebenarnya benci sekali saat-saat seperti ini.

Aku takut menyinggungmu atau membuatmu membenciku. Tapi aku harus mengatakannya padamu.

Hei, tolong berhenti sejenak dari kegiatanmu. Aku ingin mengajakmu bicara.
Taukah kau yang kaulakukan ini salah? lalu kenapa kau tak punya keberanian untuk menghentikannya?
kau ini tidak mendengarku atau memang tidak mau mendengarkan aku?

Hei, tolonglah berhenti sejenak. aku ingin mengajakmu bicara.
tidakkah kau lelah mendengarku terus-terusan berteriak padamu? sekarang aku ingin bicara dengan tutur kata lembut, sebentar. jadi tolong, dengarkanlah.

Aku sedang dalam kebingungan, kau tau? tentang sebuah kesalahan.
aku bingung bagaimana menyampaikannya.
Kau-lah titik tumpunya. jadi tolong, apapun yang kau mulai harus kau jalani hingga akhir.
Aku ingin sekali berteriak ketika kau tak menghiraukan sindiran halus yang kutujukan padamu.
Aku tidak membencimu. aku hanya ingin kau sadari kesalahanmu.
Tidak. tidak hanya sadar, tapi mampu melakukan tindak lanjut setelah sadar.

Pernahkan kau melakukan kesalahan pada orang lain?
apa yang kau lakukan? mengakui dalam hati bahwa kau salah tapi bersembunyi dari kenyataan?
Kau takut dianggap pesakitan jika mengaku? Kau takut kehilangan yang kau anggap berharga jika mengaku?
Taukah kau diluar sana banyak yang menjadi korban ketidak-tegasanmu? 
seseorang mungkin menjadi yang tertuduh ketika kau sembunyi. seseorang lain mungkin tenggelam dalam kepercayaannya terhadap dusta.

Ini contoh kecil, tapi bukankah ini sering sekali terjadi?
bahwa kita kadang takut mengambil keputusan hanya karena pertimbangan ego kita.

Teman--cukuplah aku memanggilmu dengan sebutan ini--, bukankah kau tau Allah tak pernah meninggalkan umatnya dalam kesempitan? 
Bahkan ketika kita bersalah?
Jadi kenapa kau takut akan dunia yang malah menghimpitmu?
Berserahlah..

Teguhkan niatmu. jika kau merasa sudah melangkah dengan rencana yang benar, maka jalankanlah. jangan khawatir dengan apa yang mengusikmu. karena Dia pasti menggantinya nanti. Bukankah janji Allah pasti adanya?
jika kau merasa berjalan dalam rencana dan menuju tujuan yang benar, maka berjalanlah. jangan khawatir akan sakit hati atau kehilangan yang mungkin akan kau rasakan. karena Dia pasri menggantinya nanti. Bukankah janji Allah pasti adanya?
Kau--atau aku-- pasti akan melewatinya. dengan baik. seiring bantuan-Nya.
Berserahlah..

Jika kau pernah terpererosok dalam satu lubang, maka mengapa kau mengulanginya?
karena masalah itu rumit?

Iya, memang.
Tapi tidakkah kau menganggap ini ujian?
layaknya ujian sekolah, maka kau akan mengulang ujian ketika nilaimu dirasa belum memuaskan.
Remidi istilahnya.
Bukankah ini analoginya?
Jika kemarin kau terperosok dalam satu lubang sebagai tanda kau belum lulus ujian dari-Nya, tidakkah kau berfikir ini --yang kau alami sekarang-- adalah remidinya?
apa kau ingin gagal lagi?
tentu tidak kan?

Jika memang suatu keputusan yang baik akan mendatangkan kehilangan, bukankan Dia akan memberikanmu pengganti yang sepadan dengan usaha dan cinta-Mu pada-Nya?
Jika memang suatu keputusan yang baik akan mendatangkan sakih hati yang kita rasakan, bukankah Dia akan memberika penawar yang lebih manis karena cinta-Nya padamu?

Kau mungkin akan diuji dengan prestasi yang gemilang, Ikhwan/Akhwat yang taat, Atau segala bentuk yang menyenangkan. tapi bukankah semakin berat ujian maka itu sebagai penanda Imanmu?
Bukankan ujian yang Dia berikan pada hambanya sesuai dengan Iman hambanya?
Hingga tiba waktu kau lulus dengan baik, maka bertambah pula cinta-Nya padamu. bertambah pula Ridho-Nya padamu.
Masihkah kau takut?

Hanya karena kau temanmu. aku hanya ingin mengingatkanmu.
melalui ini. Sebagai teman yang harusnya saling mengingatkan.
Aku juga tak luput dari salah, tentu saja. dan kau juga pernah mengingatkanku. Dan kali ini mungkin aku yang berkesempatan untuk berusaha mengingatkanmu.

Kau bisa membuatku bangkit dari masalah yang jauh lebih rumit daru yang kau hadapi.
maka seharusnya kau bisa pula bangkit dari sini.

Maka tegakkanlah badanmu. angkat dagumu.
Evaluasi apa yang telah kita lakukan selama ini. Perbaiki yang kurang banar, sempurnakan yang benar, tambahi yang kurang.
Hingga pada akhirnya nanti kita akan melewati satu-demi satu ujian-Nya dengan memuaskan. dan tiba pada saat kita tersenyum lebar melihat rapor-mu membanggakan.


Mohon maaf atas tuturku yang tak berkenan, kawan.
Selamat Ramadhan. :)

Senyap



Senyap
dan terbenam dalam lelap
Tapi tidak bagi secercah cahaya
Dia berjaga 
dan menunggu pagi mengusir dahaga

Lelah letih dari setiap duri
dan semua luka yang tak terperi
menancap dalam, mengukir kelam
dan dia yang tersungkur terlebur dalam kabur

Yang tak berpihak tergeletak
yang sesak lupa letak
hingga ceria enggan mengusir nelangsa
dan biarkan berjelaga
kandas selamanya


HADAPI


Menghadapi kenyataan tidak pernah menjadi pilihan.
Karena kita tidak bisa memaksa semuanya berjalan sesuai arah keinginan kita. padahal dalam kiblat yang sesungguhnya terlalu bertentangan.
Menghadapi kenyataan tidak akan pernah menjadi pilihan.
Karena semuanya terlalu cepat terjadi untuk menunggumu siap menghadapinya.
katanya,
kamu tidak akan tau seberapa kuat dirimu, sampai menjadi kuat adalah satu-satunya pilihanmu.
Saya terlalu sering dibilang gagal move on. Dan biasanya saya cuma menjawab dengan senyum dan jawaban klise.
Tapi sebenarnya tidak begitu. saya menulis tentang 'dia' bukan karena gagal move on. Karena memang hingga sekarang hal-hal yang lebih banyak menginspirasi saya adalah segala hal dari 'dia'.

Move On bukan berarti tidak membicarakannya sama sekali. Move On bukan berarti menghapusnya dari segala kehidupan kita. Itu terlalu kejam.

Move On adalah soal berhenti berharap dan memaafkan. Berhenti berharap bahwa dia akan kembali dan mau mengerti betapa kita terluka seolah semua ini salahnya. Memaafkan jika memang tindakannya kurang tepat untuk kita.
Kita tidak pernah tau apakah dia terluka juga atau tidak kan? Kita juga tidak tau apakah dengan rasa amarah kita semuanya akan lebih baik. Jadi, ayo berhenti menjadi pendendam. berikan maaf.. ringankan langkah kita sendiri..

And I know, I'm not alone.. I'm not the only one who is broken..
(Secondhand Serenade- You and I).
hanya orang dewasa yang bisa berfikir seperti itu.
Perpindahan hanyalah masalah perpindahan posisi. iya kan?
Beberapa orang tinggal di hatimu tetapi tidak di hidupmu. Maafkan mereka.
Beberapa orang tinggal di hidupmu tetapi tidak di hatimu. Hargai mereka.

Iya, perpisahan memang bukan persoalan gampang, tapi cukuplah seperti itu saja sulitnya. jangan semakin dipersulit dengan terus-terusan bertanya kenapa kita ditinggalkan dan kenapa itu terjadi.
Beberapa orang memang tercipta untuk kau cintai, tapi tidak untuk mencintaimu. itu biasa terjadi.
Tapi beberapa orang emang diciptakan untuk mencintaimu walau kau tidak pernah mencintainya.
Karena itulah kita belajar untuk tau bagaimana memaafkan dan menghargai orang dalam arti yang sedalam-dalamnya.
memaafkan mereka yang tak bisa membalas cintamu. menghargai mereka yang tetap mencintaimu walau kau tak pernah menoleh pada mereka.

Saya juga berharap note ini tidak hanya sekedar teori. saya juga sedang belajar memaknai dan tidak lagi merengek seperti anak kecil untuk sesuatu yang tidak membahagiakan. bahkan dalam hal menyayangi seseorang.

Ambil langkah. mantapkan berdiri.

Hanya Jika..


Hanya jika kamu sempat membacanya. Mungkin kamu akan tau bahwa jutaan kata-kata ini masih milikmu. 
Hanya jika kamu sempat membacanya. Mungkin kamu akan tau bahwa setiap apa yang kutulis, ada bayangmu dibaliknya.
Dan hanya jika kamu percaya.. keadaan yang seperti ini tidak akan terasa begitu menyiksa.

Bersembunyi mungkin menjadi keahlian setiap mereka yang mencinta tapi tak berani mengungkapkannya. Atau tidak tersambut baik.
Aku tau apa artinya sekarang. Banyak yang mereka lakukan untuk bersembunyi dari perasaannya.
Beberapa memilih bersembunyi pada setiap karakter kata yang mereka tuliskan.
Dan hanya jika kamu sempat membacanya, kamu mungkin akan menjadi orang yang paling menyesal sudah tidak melihat terangnya ketulusan mereka--orang-orang yang mencintaimu diam-diam-- dalam hidupmu.

Bagi kami--yang mencinta tanpa mengatakan atau menunjukkan apa-apa--, memandangmu yang ceria merupakan kebahagiaan. Tapi tidak ketika kamu tertawa dengan yang lain. Akan selalu ada pikiran 'kenapa bukan aku?'.

Hanya jika kamu sempat membacanya, kamu akan mengerti. Bahwa memiliki sudah bukan harga mutlak untukku. Memiliki adalah suatu keberuntungan. Semacam undian. Karena aku tau, akui tak akan membuatmu mengerti atas apa yang TIDAK PERNAH kuucapkan. Hanya saja aku memang selalu berharap ada kejaiban yang membuatmu mengerti. Dan menolongku untuk membuang jauh-jauh bagaimana rasanya mencinta bayangan.

Hanya jika kamu sempat membacanya, aku selalu menuliskan betapa kamu selalu terlihat sempurna. Walau aku tau, sempurnamu bukan milikku.
Kamu berdandan bukan untukku.
Kamu mengikut gaya dan tampil keren bukan untuk sengaja mempesonaku.
Bisakah kamu berbohong sekali saja kalau itu memang untukku?

Tidak. Kamu ternyata terlalu jujur bahkan untuk berkata 'tidak bisa mencintaiku'.
Tak apa. Aku hanya berharap hanya jika kamu sempat membacanya, kamu tau betapa ada orang yang bahkan rela memendam segalanya hanya agar kamu tetap nyaman. Dan mengabaikan kenyamaman mereka sendiri.

Hanya jika kamu sempat membacanya, mungkin kamu akan mengerti..
betapa kamu masih mengendap jauh didasar hatiku, tanpa aku bisa membuang endapanya. terlalu dalam. sampai aku bahkan tak sampai untuk mencapai dasarnya. dan kau tetap disana. Didasar hatiku. Dalam waktu yang lama.
Dan merindukanmu menjadi satu-satunya rasa sakit yang menyenangkan.

Hanya jika kamu sempat membacanya, mungkin kamu akan mengerti. Betapa setiap detik malam yang kulalui adalah malammu. 
Hanya jika kamu sempat membacanya, mungkin kamu akan mengerti. Betapa setiap tawaku ada kamu. masih ada kamu. bahkan ketika kau berfikir aku bisa hidup tanpamu.
Hanya jika kamu sempat membacanya, mungkin kamu akan mengerti. Iya, aku bisa hidup tanpa keberadaanmu. tapi tidak bayanganmu.

Dan hanya jika kamu membacanya, mungkin kamu akan mengerti. Kenapa aku menunggu. kenapa aku belum mengatakan mencintai orang lain selainmu.
Aku hanya ingin menemukanmu, dan menjalani semuanya bersamamu. Atau menemukan orang yang membuatku menangis seperti menangisimu. Seseorang yang membuatku jatuh dalam perasaan yang dalam, sedalam padamu. Disaat yang tepat dan takdir yang tepat.
Hanya saja.... Kau tak pernah sempat membacanya.
Dan aku merasa, mungkin memang bukan kamu.
dan karena itulah Tuhan tak mengizinkanku mampu meraihmu sekarang. karena kamu tak cukup peduli akan kepedulianku padamu. Hidupmu. yang bahkan aku juga tak tau kenapa..


Dedicate to :
Seorang teman yang tak bisa disebut namanya. KAU-TAHU-SIAPA.

Mungkin Memang Seperti Ini Seharusnya.. (Bag. 2 - Habis)


Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya.. terlampaui dengan cepat dan tanpa kenangan indah. Bukannya disambut penuh kehangatan.
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya.. terbangun dengan perasaan yang tak diinginkan. seolah kau terlahir tanpa di harapkan..

Resna menghela nafas dan membuka matanya dengan berat. Malam yang tidak menyenangkan. dan 1 lagi hari buruk yang harus dilalui. pikirnya.
'Resna.. jam berapa ini sayang? nggak libur kan?' teriakan ibu membangunkannya mulai terdengar seantero rumah.
'Iya bu.. Resna mau baru mau mandi..'
setengah jam kemudian Resna sudah bersiap dimuka pintu dengan muka ragu
'Bu, serius Resna harus sekolah hari ini?'
'Lho? memang kenapa? Resna masih sakit ya?'
'Resna malu. teman-teman dan.. Lian.. belum tau Resna pakai kursi roda..'
'Sayang, anak baik tidak akan tertolak. Resna pakai kursi roda kan cuma sementara..'
Resna tersenyum.
'Resna berangkat bu.. Assalamualaikum..' pamitnya
'walaikumsalam, sayang..'

Disekolah, Resna merasa setiap meter yang dilaluinya menuju ke kelas terasa seperti berjalan di bara api.
Teman-temannya memandang dengan tatapan yang tidak dia mengerti, seolah Resna adalah seorang tahanan penjara yang diarak keliling kota.
Resna merasakan mukanya memanas.. matanya mulai terasa perih. tapi hal itu ditahannya hingga sampai ke kelas.
ia melihat Lian sedang bercanda dengan teman-temannya ketika dia masuk.
Lian tercengang.
'Res.. ehm.. sayang.. kamu...' katanya terbata
'Apa?' Jawab Resna dingin. Lian salah tingkah.
'Kamu.. kenapa nggak bilang kalau sakit?'
'Apa pedulimu?'
'Kenapa kamu bilang begitu, sayang?'
'Kau tak cukup pandai berpura-pura dan tak usah berpura-pura, Li..' Ucap Resna sambil menjalankan kursi rodanya ke bangkunya. Lian ingin mengejarnya tetapi Pak Didik sudah memasuki kelas dan langung memulai pelajaran.
Lian mencuri kesempatan untuk melirik kearah Resna. tapi gadis itu tidak melihat kearahnya sedikitpun.
Lian menghela nafas dengan sedih.

'Res, tunggu. aku mau bicara.' teriak Lian sambil menghentikan laju kursi roda Resna.
'Ada apa?'
'Res.. kejadian seminggu yang lalu itu.. sungguh bukan seperti yang kamu pikir. Aku tidak tau kenapa kamu bisa berada disana....'
'kenapa?' potong Resna 'kamu kaget aku ada disitu dang melihat kamu sama adik kelasmu yang cantik itu? Kamu kaget karena aku tau kalau kamu nggak lebih baik dari mayat hidup? Kamu cuma punya raga tapi nggak punya hati, Li..' cercanya kemudian
'Res... bukan gitu. saat itu aku cuma sedang dimintai tolong untuk nganterin dia pulang karna dia sakit. serius..'
'Cukup Li. kamu lebih memilih ngenterin dia padahal aku nungguin kamu untuk ngeliat pentasku kan? yasudah. habiskan waktumu sama dia dan nggak usah menjelaskan kenapa kamu nggak datang. cukup. aku sudah bahagia karena kamu nggak datang. bahagia sekali sampai aku nggak tau gimana memaafkan kamu. sekarang kamu lihat. kamu nggak akan bisa lagi ngeliat aku menari..' Tiba-tiba Resna serak. dia sudah tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Lian memejamkan mata dengan pedih. kemudian berlutut memeluk Resna. Resna sesenggukan menahan tangis.
'Lepas Li.. kumohon..'
Lian menatap Resna tak mengerti.
'sudah cukup. sudah ada yang berubah tanpa kita sadari.. Pelukmu... kata-katamu.. entah kenapa aku merasa semua itu sudah bukan milikku lagi. Duniaku sudah runtuh.. dan aku--semoga kau mengerti-- sudah tidak ingin terlibat apapun denganmu..' Ucap Resna
'Sayang... kamu..' Lian terbata-bata dan menatap Rena tak percaya
'Aku hanya seorang gadis yang tersungkur di kursi roda. takkan bisa menemanimu berlatih lari lagi. takkan bisa menemanimu berenang lagi. aku tidak ingin tersiksa dengan kenyataan seperti itu. Lagipula kamu sudah lebih baik dengan adik kelasmu itu. terbukti karena kamu nggak mencariku bahkan ketika aku menghilang. kamu nggak sedikitpun ingin tau apa yang terjadi. dan kamu juga tak perlu berpura-pura peduli lagi.. Aku bukan orang yang tepat. Aku dan kamu bukan pasangan yang tepat. saat-saat kebersamaan kita bukan saat yang tepat. Kita akhiri saja..' pungkas Resna.

Lian memukul meja dengan geram.
'Apa yang dipikirkan Resna sebenarnya?' katanya
Dina memandang Lian 'Resna sedang mengalami saat-saat yang buruk, Li.. terlabih dia melihatmu merangkul Linda saat itu. kau harus mengerti apa yang mengganggu pikirannya..'
'Tapi dia memutuskanku. MEMUTUSKAN hubungan denganku. dia tidak menerima penjelasanku..'
Lian duduk dengan lemas.
'Tidak tahukah dia?' Lian merintih
'Li, bersabarlah. biarkan Resna tenang.. baru datang kembali dan jelaskan padanya.. mengetilah keadaannya..' Dina berusaha menenangkan Lian
'Tapi aku tidak punya banyak waktu Di..' kata Lian gusar.
'Apa maksudmu?' Tanya Dina tak mengerti
Lian tidak menjawab dan hanya menghela nafas sambil menerawang jauh.

Sudah berjalan 5 hari sejak Resna memutuskan hubungan dengan Lian, den keadaannya justru tidak membaik seperti harapannya.
Persidangan perceraian orangtuanya sudah terbayang didepan mata, dan Resna melewatkan malam-malamnya dengan menangisi perasaannya yang begitu dalam kepada Lian.
Hanya Lian. Dia mulai berfikir bahwa mungkin keputusannya salah, tapi dia tidak bisa membayangkan jika harus menemani Lian yang gila olahraga, padahal sekarang kedua kakinya lumpuh dan belum ada tanda-tanda akan sembuh. Resna mulai kehilangan harapan.
Tiba-tiba Bel motor tukang pos membuyarkan lamunannya.
dia melihat pak pos menyelipkan sepucuk surat di kotak surat miliknya. Resna bergegas menuju jalan dan mengambil surat tersebut. tidak ada alamat pengirimnya.
Dadanya tiba-tiba berdebar. ada sebuah firasat buruk yang tidak bisa dijelaskannya. dia merobek amplop dan segera menbaca isinya.

"Dear, Resna. Gadis berkursi roda yang slalu dihati yang mencintanya..
Begitu bunyi pembukaan suratnya. Hati Resna semakin tidak tenang.

Aku meminta maaf atas kesalah pahaman kita.
aku mencoba menjelaskan tapi kamu nggak mau mendengar kata-kataku.
Aku berusaha menemuimu tapi kamu menghindari aku terus menerus.
Aku mencoba menghubungi ponselmu tapi kau tidak pernah menerimanya.
Aku menulis ini dari rumah sakit. Aku tidak punya banyak waktu.
Tapi aku berharap masih sempat mengatakan jika saat itu aku hanya mau mengantar Linda pulang, kemudian langsung menonton pentasmu.
Aku hanya sedang menunggu buket bunga yang kupesan untukmu, itu sebabnya aku blum masuk ke studio ketika pentasmu mulai. bahkan ketika pentasnya berakhir. tapi ternyata kau lebih dulu melihatku memapah Linda sebelum aku sempat menjelaskan apa yang terjadi. 
Kau tak sempat mempercayaiku.
Tapi tak apa. aku bahagia sudah menjadi milikmu. mendengar kata-kata kau mencintaiku. Aku mencintaimu. selalu.

Salam sayang,
Lian.

Resna bagaikan tersambar petir. dia segera berteriak memanggil ibunya agar mengantarnya kerumah sakit. dia menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan gusar, dan meminta agar ibunya mendorong kusi rodanya semakin cepat dan semakin cepat.
Resna tiba dikamar Lian tepat saat ibu Lian berteriak histeris meminta agar Allah mengembalikan nyawa anaknya.

Mungkin memang seperti ini, hidupku yang seharusnya. Sepi dan ditinggalkan. Bukannya berkawan dengan tawa dan tertawa bersama orang yang kucintai, atau melihat mereka tertawa karena saling mencintai.
Mungkin memang seperti ini, hidupku yang seharusnya. Ditinggalkan oleh mereka yang kucintai. Ayah, Kekasih, bahkan Dunia yang kucintai.Tapi aku mengerti bahwa seluruhnya hanya-lah kedar perpindahan tempat. tanpa meninggalkanku. 
Ayah berpindah tempat dari sisi ibu ke sisi jodohnya yang lain, tapi aku tetap anak yang dicintainya.
Lian berpindah tempat dari sisiku ke sisi pemiliknya yang abadi, tapi tetap mencintaiku.
dan aku hanya berpindah tempat dari kemampuan berdiri ke atas kursi roda.
dan hobiku menari berpindah dari yang kualunkan secara fisik menjadi kualunkan dalam hati dan pikiranku.
tak apa. inilah hidup.
Allah selalu mencintaiku..

Resna menutup bukunya, dan memejamkan mata sejenak sambil mengusap nisan pusara Lian. kemudian beranjak pergi..

Jumat, 08 Juni 2012

Sepucuk Surat untuk Kesekian Kalinya


Aku tidak tahu kamu tercipta untuk siapa, tapi aku tahu kalau aku pernah berharap kamu tercipta untukku.
Hanya saja untuk mengatakannya padamu, aku pikir cukup aku dan Pencipta perasaan ini yang tahu. Dan pembaca tulisan ini tentunya.

Aku tidak tahu kamu tercipta untuk siapa, tapi aku merasa bersalah ketika meminta pada Pencipta rasa ini untuk mengabulkan harapanku agar kamu tercipta untukku.
Hanya saja untuk menangani apa yang sedang kurasakan ini cukup menghabiskan dayaku. Kuakui, aku tidak tau tentang bagaimana menghadapi keadaan seperti ini, tapi aku berusaha semampuku menyerahkannya pada pemiliknya yang hakiki. Dan mengelolanya dengan sebenar mungkin, agar tidak menjadi penghalang bagi kita untuk meraih surgaNya.

Aku tidak tahu kamu tercipta untuk siapa. Tapi aku ingin meminta maaf  jika aku sudah berani menatapmu dari kejauhan, atau merasa terluka mengetahui kamu memuji gadis lain. Maafkan aku.

Dan jujur, aku lelah mendengarmu dekat dengan dia, atau dia, atau dia. mungkin salahku juga karena aku memutuskan mengagumimu. Aku juga menyadari bahwa ketika aku memandangmu, ada banyak pasang mata yang juga memandang dengan sinar mata berbinar kearahmu. Tapi apa aku bisa memilih? Aku tidak pernah meminta pada Sang pencipta agar diberi rasa seperti ini padamu. Sejak mengenalmu, aku tidak pernah berharap untuk bisa dekat denganmu atau memilikimu. sama sekali tidak. Entah mengapa kemudian dalam perjalanannya perasaan ini ada dan bertahan lama sekali.
Tapi bukankah DIA pemberi segalanya? Maka DIA pula yang memberi rasa ini. Hanya saja aku belum mengerti, kenapa DIA menakdirkannya terjadi padaku sedangkan kamu ditakdirkan untuk bersama orang lain. Tolong bantu aku mencari artinya.

Aku tahu, menulis seperti ini sedikit percuma. karena aku tak pernah berani mengirimkannya secara langsung padamu. aku hanya berharap kamu membacanya ketika tanpa sengaja membuka dunia tanpa batas ini. Aku hanya.. entahlah. Aku hanya membutuhkan seseorang atau sesuatu untuk mengungkapkan yang kurasakan. Dan maafkan aku karena memilih media sosial yang sangat luas ini. Tapi aku melindungi identitasmu sebisaku. Sungguh..

Siang ini aku malu sekali ketika mengadu padaNya karena merasa lemah mengingatmu. Bagaimana aku merasa lemah untuk seseorang yang belum halal untuk kucintai?  Mencumbui bayanganmu melalui dunia maya. membuka timeline twittermu, akun facebookmu. Berharap ada sedikit petunjuk untuk keputusan yang harus kuambil atas rasa ini. Maafkan aku memata-matai hidupmu dengan cara ini.

Dan sekarang aku berharap kelak akan tiba pula pada masa yang aku butuhkan. Masa dimana aku tak harus berdosa untuk mencintai ciptaanNya. Mungkin setelah ini kamu takkan pernah tersenyum jika bertemu denganku--Jika mungkin bisa bertemu--. Mungkin juga kau akan berlalu begitu saja. Mungkin juga kamu akan menganggapku tak ada. Mungkin juga kau takkan pernah berbicara padaku. Mungkin juga aku berhenti menunggu dering telepon darimu, tau pesan singkat darimu yang membicarakan hal yang tidak seharusnya. Atau mungkin aku yang harus menghilang dari peredaranku di orbitmu. Tak apa. Aku sudah memikirkan tiap kemungkinan yang akan terjadi. Aku sudah siap. Mungkin memang seharusnya begitu. Agar rasa ini tak semakin liar tumbuh dalam hati yang belum layak untuk menjamah hati makhluk indah sepertimu. Agar rasa ini tak menjadi pemberat langkahmu, atau langkahku. Agar rasa ini tidak meracuniku dan membuatku bersedih. Agar rasa ini tidak membuatmu canggung bersikap padaku. Agar rasa ini tidak menyakiti orang lain. Agar rasa ini tidak menghancurkan hidup siapa-siapa. Dan agar rasa ini menjadi kebahagiaan yang tepat...
Sebagaimana fitrahnya.

Hanya saja begitu lelah rasanya berdiri disini memandang gemerlapmu hari ini. Semoga IA memaafkanku untuk semua ketidakmampuanku menundukkan pandanganku terhadapmu.

Dan untukmu, aku tidak tahu kamu tercipta untuk siapa. Tapi semoga kau tercipta untuk seseorang yang tepat dan sudah seharusnya disisimu. Yang membahagiakanmu dan menjadi makmum yang baik. Yang menjadi teman dan jembatan yang sesungguhnya. Aamiin.
Aku hanya berharap jika tulisan ini dibaca, semoga tulisan ini mampu menyampaikan suatu harapan dan pelajaran agar perasaan cinta seperti ini menjadi media untuk kita memperbaiki diri. Dan perasaan yang belum bersambut tak seharusnya menjadi kapak penghancur. Bukan hanya aku dan kamu. Tapi semua orang yang membacanya.

Buatlah dirimu menjadi imam yang baik untuk istrimu, dan aku akan mempersiapkan diri agar menjadi istri yang baik untuk imamku kelak..

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir