Kamis, 16 Agustus 2012

Selamat Ulang Tahun Indonesiaku.


Besok negara kita Ulang Tahun loh..
sekedar mengingatkan aja sih.. kali aja ada yang belum tau.

Kenapa saya bilang Ulang Tahun dan bukannya peringatan Kemerdekaan?
Karena saya setuju dengan banyak statement yang mengatakan negara Indonesia belum sepenuhnya merdeka.
Tenang saja. disini kita nggak akan membicarakan sejarah negara yang penuh dengan peristiwa dan tanggal-tanggal penting--yang bahkan hingga usia saya yang ke-18 tahun ini--belum benar-benar dimengerti.
Padahal sejak SD kita sudah dijejali pelajaran sejarah bangsa kita tercinta ini.

Sudah bisa ditebak jika mendekati hari besar negara kita ini seluruh jejaring sosial akan penuh dengan ucapan nasionalisme dari seluruh warga Indonesia.
Itu baik sekali kan? tandanya masih banyak warga se-negara yang ingat betapa berharga hari bertanggal 17 Agustus itu.
tentunya kita semua berharap itu tidak sekedar kata-kata tanpa makna.

Indonesia.
Setiap kali mendengar nama itu yang terlintas dipikiran saya adalah suatu negara yang complicated. Dimana semua urusannya baik yang kecil maupun yang besar saling membelit dan susah diuraikan.
Mungkin karena otak warga kita yang belum sampai, atau memang karena masalahnya luar biasa hebatnya.

Tadi  pagi (16 Agustus 2012), bapak berpesan sebelum pergi.
'Dengarkan pidato kenegaraan SBY di _______ (sensored-, salah satu stasiun televisi swasta). Lihat apa yang beliau sampaikan.'
Dalam pidato tersebut, Bapak Presiden banyak menyinggung isu internasional dan kedudukan Bangsa Indonsia di mata dunia.
Yaa.. itu bagus. hanya saja saya takut kalau masalah di domestik justru 'terlupa' untuk dibahas. padahal, bagaimana-pun urusan dalam negara justru jauh lebih penting.

Setelah bapak Presiden berpidato, segala macam testimoni rakyat muncul. ada yang menghujat, ada juga yang menilai baik. saya justru berfikir kalau masalah yang membeli bangsa kita itu sebenarnya justru masalah-masalah kecil.
Saya jadi ingat bagaimana sikap kita sebagai supporter bola untuk TIMNAS kita.
ketika mereka menang, kita memuja bak pahlawan super.
Giliran ketika mereka down, cercaan pedas justru muncul dari kalangan kita sendiri.
Hei dude, Can't you see?
bahkan dalam ilmu psikologi juga dijelaskan bahwa seseorang yang hidup suatu lingkungan akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter sebanding dengan lingkungannya.
Ketika dipuji secara berlebihan mereka menjadi terlena.
Ketika dihujat habis-habisan mereka akan mendendam dan semakin tebal telinga.
Nah, kita juga salah kan?

Saya pikir itu berbanding lurus dengan sikap pejabat pemerintahan kita.
Semakin kita menghujat, mereka akan lebih tidak peduli terhadap nasib rakyat.
Mungkin mereka--para pejabat itu-- berfikir,
'buat apa rakyat juga diperhatikan? toh citra kita telanjur buruk. Lebih baik melakukan sesuatu yang berguna untuk diri sendiri dan keluarga saja.'

Selain itu kebanyakan dari kita juga cuek dengan keadaan negara.
'ah, kurang kerjaan ngurusi negara.'
'alah, diurusi juga ngapain? toh nggak ada perubahan.'
Lah kalo kita cuek siapa yang ngawasin negara?
mereka justru leluasa melakukan penyimpangan mbak, mas yang cakep-cakep..

Inilah. Negara kita terjajah oleh perilaku kita sendiri.
Apa yang kita tanam akan kita tuai, ingat?
kalau kita nggak mau peduli ya kita nggak akan dipedulikan.
simple.

Kita perlu mendukung perubahan.
salah satunya dengan percaya dan mendukung kebijakan pemerintah.
Tapi disini saya juga tidak membenarkan jika kita terus mendukung seluruh perilaku pejabat.Tidak.
Kita tetap harus tau batasan sampai mana kita harus percaya dan kapan kita harus bergerak meluruskan yang melenceng.
Kita boleh marah dengan pemerintah tapi TIDAK dengan demo anarkis.
Kita boleh kecewa dengan beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab tetapi TIDAK dengan aksi destruktif.
Apa yang bisa diperbaiki dengan cara seperti itu?
Rakyat justru sebal, dan masalah tidak terselesaikan.
Wibawa kita sebagai pemuda pembawa perubahan hancur. Dan kita makin kalah dengan penyimpangan.

Kritik dan saran bisa disampaikan dengan lebih baik.
lewat media masa, lewat musyawarah, atau apa saja yang menarik simpati msyarakat.
Shock terapy  boleh juga.
tapi ada tempo dan strateginya. Bukan asal nyeplos kasar dan merusak seenaknya.

Seorang kakak pernah menjelaskan kepada saya kalau dalam suatu golongan pasti akan ada orang yang membawa kebenaran. Sekalipun golongan itu bobrok.
Kemudian kenapa kita tidak percaya jika seseorang yang membawa kebenaran itu ada dinegara kita?
Atau malah sebenarnya tugas itu ADA PADA KITA.

Dukung dan Ingatkan negara kita dengan cara yang benar.
Caranya?
Buat dirimu belajar. Persiapkan bekalmu untuk terjun secara langsung. dan jika pada saatnya kau punya cukup ilmu, bangun kembali negara ini dari dalam.
Ah, kamu pintar berteori.
Silahkan berfikir demikian. Tidak masalah buat saya.
Saya juga belajar, sama dengan ribuan pemuda lainnya.

Pemuda Indonesia,
adalah saya, anda, dan ribuan remaja lain yang punya tanggungjawab.
ya kepada orangtua, ya kepada agama, ya kepada bangsa dan negara.
kan gitu yang diharapkan semua orang ketika lahir.
Pas syukuran kelahiran juga sering diucapkan kalimat itu.

Contoh sederhana :
Mengejar prestasi akademik it's OK.
tapi bukan berarti kita tidak bisa belajar memperbaiki negara.
Coba pikir. bahkan melalui mengejar angka prestasi juga kita bisa belajar berbangsa dan bernegara.
Bahkan ada wacana mata kuliah dan mata pelajaran anti korupsi.
Kita tinggal menguasai materi kuliah dan mampu mengembangkan dan mengimplementasikan.
Kita tinggal menurut sistem pendidikan sambil belajar untuk apa dan bagaimana sistem itu dibuat.
masalah apa yang berkemungkinan timbul.
tinggal menganalogikan ketika nanti kita terjun di dunia yang sebenarnya, kan?
bukankah banyak dari kita yang meraih prestasi akademik dengan mudah?
seharusnya bisa kan?

Nilai akademik dan prestasi adalah bentuk pertanggungjawaban kita pada orangtua
Apa yang kita pelajari dan pengimplementasiannya adalah pertanggungjawaban kepada agama dan negara.

Bukankah kita hidup, belajar, dan nantinya bekerja di negara ini?
apa kita sampai hati melihat negara yang menjadi tempat hidup kita terkikis dan mati?

Kita tidak perlu berspekulasi dengan debat yang ruwet tanpa hasil.
Kalau menurut saya,
Tinggal jalankan kehidupan kita sesuai dengan kepercayaan kita masing-masing.
Toh dalam agama saya (saya muslim) ajarannya sudah mencakup seluruh aspek kehidupan. termasuk politik.
Kalau kita terbiasa hidup dengan sebenar mungkin dijalan-Nya, kita akan terbiasa menjalankan sistem dengan benar. dan mungkin tanpa kita sadari, itu akan menjadi perubahan besar dalam negara kita.

Everything starts from here.
*tunjukdirisendiri

Sekecil apapun itu.
Bahkan perilaku membuang sampah pada tempatnya bisa menolong negara kita dari musibah banjir kan?
dan banyak yang lain.
Perilaku merawat tumbuhan bisa menyelamatkan negara--bahkan dunia-- dari polusi udara kan kerusakan ozon.
Lihatlah. perilaku kita penting.
Jika belum bisa berdebat dan memikirkan tetek bengek urusan pemerintahan. kita toh bisa berjuang untuk negara dengan cara ini.
#kode

Pemuda,
Besok adalah hari jadi untuk perjuanganmu.
Besok adalah tonggak awal tugasmu.
tongkat estafet sudah siap beralih pengendali.
Maka, mari berlari..

Selamat Ulang Tahun untuk Perjuangan Kita.
Selamat Ulang Tahun Indoesia tercinta..

Rabu, 08 Agustus 2012

Aku Bicara Melalui Rindu


Malam ini, detak ketukan keyboard memecah rindu.
iya. Rindu.

Tapi bukankah rindu ini sesuatu yang tidak boleh lagi kusenandungkan?
maka aku menyimpan melodinya dalam hati.
berharap meskipun perih, senandungnya tetap dapat kunikmati.
Walau sendiri.

Ah, masihkah kau tau aku tetap sama?
atau kau berpikiran aku sudah jauh bahagia?

Memang aku bahagia. Cukup bahagia karena Dia mendekapku pada saat yang tepat.
atau setidaknya sebelum terlambat.

Aku berusaha semampuku berdiam diri,
meskipun hasrat selalu meracau namamu.
Aku menyentuhmu melalui redup mentari dan sunyi malam hari..
berharap jika bukan kau yang mendengarnya, maka Sang pemiliknya yang hakiki akan membawanya ke ribaan yang semestinya.

Aku menggambar batas hakku, sekarang.
Hingga aku tak melanggarmu dengan perbuatan yang terlarang.

Karena cinta bukan sesuatu yang habis diluruh dengan kata.
Maka aku percaya, kau akan tau pada masanya.
Bahkan tanpa aku membuka mulut untuk bicara.

Malam ini, tenang malam memecah segala benteng kekuatanku.
merasa lemah karena merasa tak punya tempat mengadu setelah kehilanganmu.
Padahal aku tau persis, Dia tak pernah meninggalkanku.

Engkau,
yang kenangannya tak pernah habis kuresapi.
yang baru sekarang caraku mencintaimu kusesali.

Masihkah bayang ini mampu meretas apa yang terlampaui?
Semoga saja kesalahanku menjadi titik tolak yang baru untukku dan untukmu.

Engkau,
Janganlah berubah menjadi yang kurang dari ini..

Derik jangkrik malam ini memecah tabir mataku menjadi rintikan hujan dipipiku.
tapi terasa terlalu kering..
Hingga aku merasakannya bagai bersisik dan terpecah kasar.

Tapi bukankah air ini sudah tidak boleh kubiarkan jatuh pada penyesalan akan dirimu?
Maka aku menyimpan alirannya dalam jiwa,
dan menjadikannya lukisan cinta yang walau dengan luka, mampu membuatku tersenyum ceria.

Aku tak pernah takut lagi untuk mengingatmu.
Apapun tentang siluet kebersamaan kita tak boleh jadi sembilu.
Bukan salah kenangan jika aku terluka..
Salahku menyandarkan cinta pada siapa.

Tapi ah..
Sudahlah.
Rindu ini toh tetap berdetak tanpa aku bisa menahannya.
Datang dan teralun sesukanya.
Maka engkau, yang sekarang sedang terlelap,
semoga debur harap yang kulantunkan tak menjadikan berat langkahmu untuk menjalani hidup yang baru.

Semoga Allah menggantikan tanganku yang belum semestinya menggenggammu dengan sejuta rahmat anugerahnya padamu.
Maafkan aku karena tidak berani berkata 'TIDAK' selama kita bersama.

Maka sekarang biarkan aku menebusnya dengan berusaha untuk membelenggu segala keinginan untuk mendekapmu dalam keegoisan dan kebutaan perasaanku.

Cinta adalah hal yang fitrah.
yang menyenangkan dan membahagiakan.
Jika-pun kita terluka karenanya, bukan salah cinta.
Tapi salah kita yang tak tau cara menyalurkan cinta.

Aku meminta maaf atas kesalahanku yang tak kujelaskan alasannya padamu,
hingga kau membenciku. hingga kau menganggap buruk diriku.
tak apa..
semua ini sudah tak apa bagiku.

Aku meminta maaf karena masih belum mampu meretas hati darimu.
beri aku waktu..
berhenti mencintai tidak pernah mudah bagiku..
karena merasakan mencintai juga tak mudah untukku.

Aku meminta maaf untuk segalanya yang berjalan diluar kontrolku.
tak seharusnya begitu..
tapi...

Desir angin malam membawa hatimu dalam kilas balik bayangmu.
iya. Kamu.

Tapi kamu bukanlah orang yang boleh aku pikirkan atau kucumbui kenangannya setiap waktu.
Maka aku menutup mata,
Agar semua tentangmu walau dengan rasa teriris bisa kutepis.
sedikit demi sedikit.
hingga memori yang tersisa tinggal butiran yang menarik segurat tawa.

Semoga kau bahagia..
#8787

Sabtu, 04 Agustus 2012

Kembalikan Makna Kebersamaan Ramadhan Kami


Riuh rendah suara anak-anak yang sedang tarawih di mushola yang hanya berjarak kurang dari 20 meter dari rumahku ini mau tidak mau membuat syaraf wajahku menyungging senyum.
Teringat bahwa dulu aku juga seperti itu. Berteriak keras sampai beberapa tetangga memarahi kami.

Hanya saja, Ramadhan disini, di desa kelahiran saya,semakin terasa berbeda dari tahun ke tahun.
Semakin sepi rasanya.
entah apa yang sebenarnya sudah merubahnya.
Jelas sekali tergambar bahwa dulu, tadarusan di mushola ini adalah sesuatu yang menaikkan harga diri kami --anak-anak seusiaku--. Dan mushola adalah tempat bermain kami sambil menghabiskan waktu menunggu buka puasa.

Ketika adzan subuh mulai terdengar, kami, yang notabene masih SD, segera berlari menyambar alat ibadah dan segera berangkat ke mushola sambil membawa Al-Quran dan Buku Kegiatan Ramadhan.
Ah, iya. dulu Buku Kegiatan Ramadhan itulah yang mempersatukan kami, anak-anak sebuah dusun di pinggiran kabupaten ini untuk memenuhi tiap jengkal Ramadhan yang kami lalui.
As you know, Buku Kegiatan Ramadhan adalah semacam paper checklist kegiatan ibadah yang dibukukan. 

Usai sholat subuh, mendengarkan kuliah subuh dari pak Murtadli, imam sholat mushola kami, dan tadarus, seiring dengan mentari yang mulai menunjukkan batang hidungnya biasanya kami menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan keliling kampung sambil membawa petasan korek yang nantinya akan dinyalakan di pematang sawah yang sepi.

Sambil berjalan biasanya kami bersenda gurau. kadang ada juga satu atau dua anak yang kumat isengnya yang bersembunyi dan menakut-nakuti kami ketika rombongan kami terpecah. Seperti biasa, anak-anak perempuan adalah sasaran empuk anak laki-laki untuk ditakut-takuti, baik dengan berpura-pura menjadi hantu atau dengan petasan yang dilemparkan ke arahku dan teman-teman lain.

Setelah matahari mulai dirasa menunjukkan saatnya pulang dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah, Maka kami akan segera menyudahi kegiatan bersenang-senang kami dan melanjutkan rutinitas sekolah yang.. ya.. bisa dibilang cukup membosankan.
Apa sih yang bisa anak-anak lakukan ketika perutnya kosong dan mendengarkan gurunya bercerita didepan papan tulis?
Tidur? jelas tidak. kami cuma menutup mata sejenak. #eh

Kegiatan di mushola mulai berlanjut ketika adzan dhuhur berkumandang.
Setelah beruka puasa --bagi yang puasa mbedug--  kami kembali berkumpul memadu keceriaan di mushola dengan sholat berjamaah, mendengarkan tausiyah (lagi) dan kemudian antri meminta tanda tangan Sang Imam di Buku Kegiatan Ramadhan kami. Oke, Sang Imam mendadak populer dikalangan anak-anak.

Ketika selesai dan Sang Imam melangkah pulang kerumah, kami biasanya menutup pintu mushola dan mulai beraksi di dalamnya. entah bermain karet, main rumah-rumahan, atau apa saja yang menyenangkan.
Bahkan kadang, kami juga bekerja bakti membersihkan mushola lho.. 
kami anak yang manis kan? ini entah karna memang bulan puasa dan setan-setan sedang di ikat dineraka (kata Pak Murtadli) sehingga tingkat kenakalan kami menurun drastis, atau memang karena kebersamaan kami melahirkan banyak niat baik, kami bisa dengan sukarela bekerja membersihkan mushola semampu kami, hingga sholat Ashar menutup kembali pertemuan kami.

Belum lagi kami menyantap habis makanan buka puasa kami, Adzan Maghrib berkumandang.
secara serentak, kami langsung lari ke mushola untuk sholat berjamaah. 
Hahaaa.. kami oke sekali dalam hal ibadah ya? bukan. itu karena kami takut lembar check list buku kegiatan ramadhan kami di bagian sholat maghrib kosong.. #SalahNiat.

Dan tarawih adalah puncak dari hari kami yang melelahkan.
Biasanya, kami akan berangkat awal untuk memenuhi shaf sholat paling belakang padahal baris depan belum terisi. kenapa? Untuk apa lagi kalau bukan bercanda (Semoga Allah mengampuni dosa polos kami).
Biasanya juga, mushola kami akan penuh dengan jamaah tarawih, bahkan sampai ke teras mushola.
Tapi sekarang? 
terisi setengahnya saja sudah bersyukur..

Dewasa ini, saya agak merasa 'kehilangan'.
Saya kehilangan kebersamaan anak-anak sepeti saat saya kecil.
Saya kehilangan rasanya berdesak-desakkan tarawih.
Saya kehilangan riuh rendah suara anak-anak yang tadarus.
Saya kehilangan rasanya melihat anak-anak antri minta tanda tangan.
Saya kehilangan rasanya melihat anak-anak menghabiskan waktu bersama sepanjang hari dalam kegiatan keagamaan kami.

Karena saya sudah tidak melihatnya lagi sekarang.
Bahkan adik saya ketika disuruh tadarus oleh ibu saya, menjawab dengan polos, 'mboten wonten rencang-e og bu.. ajrih kula tadarus piyambakkan..'
Dan saya hanya bisa menghela nafas.
Kenapa sekarang tak ada Buku Kegiatan Ramadhan?
Kenapa sekarang anak-anak lebih suka dirumah?

Anak-anak memilih menonton tayangan televisi setelah sahur.
Anak-anak memilih online atau smsan untuk menghabiskan waktu.
Anak-anak memilih bermain Game di Laptop pribadi atau di Warnet
dan sudah tidak ada Buku Kegiatan Ramadhan yang memacu kami untuk berlomba-lomba rajin ke mushola.

Saya menatap sekeliling saya, dan ingin sekali berkata pada Laptop, TV, Facebook, Game, Handphone, dan sebagainya yang menyita perhatian anak-anak jaman sekarang.
Kembalikan makna kebersamaan Ramadhan kami..

Dipelupuk Matamu


Mencumbu waktu 
mengiris beku
Mencinta semu
Bagai memberi makan benalu

Mencumbu ruang
Menepis bayang
Mencintai serupa menambang
Mengambil secuil membuang sembarang

Seperti udara yang tersedia tanpa ada habisnya
Seperti air yang tak ada hentinya mengalir
Walau keruh, tetap dirasa jua
Adakah tersisa?

menggiring memori
membangkitkan getar silih berganti
Tatkala debur gelora menyapa denyut nadi
Seiring kita bertaut tuk pertama kali
Meniadakan benci
Meretas cita di pelupuk matahari

Namun kini,

Mencumbu haru
menyerbu pilu 
Dan jika kasih menetas tanpa jemu
Kusapa kembali ketika kita bertemu

dipelupuk matamu.

Sebuah Percakapan


Pagi ini, matahari merekah setelah dua hari yang lalu tersamar mendung.
Ilalang menghirup dalam-dalam aroma pagi, dan sejenak berlayar dibalik pekatnya memori.
Tanpa dia sadari, sang rumput memandangnya kejauhan jarak dan keterikatan yang telah dengan sengaja diurai dalam kesendirian yang menyiksa.

Sang rumput menghela nafas. bagaimana bisa sesuatu dikagumi sebegitu dahsyatnya tanpa menyadari?
Burung yang melihat itu menyapa dalam keramahan dan kelembutan tutur,

Kau rumput, tidakkah kau lelah mengharapkannya?
Aku? tidak.

kenapa?
Karena aku tidak mengharapkannya. Aku mencintainya.

Tidakkah kau ingin dia mengetahuinya?
Tidak. tak ada yang perlu diketahuinya. Rasa ini terang adanya.

Tapi dia tidak tau kau mencintainya.
Lalu kenapa?

Tidakkah cintamu itu berubah sakit yang menggerogoti hatimu?
Iya. dan akan selalu begitu. Rasa tak suka ketika ia dicumbu angin tanpa aku.
Amarah, Sakit hati, dan ke-iri-an..
Selalu terasa belum terlampiaskan.
Seakan meminum air asin saat haus..

Lalu kenapa tak kau ungkapkan?
Karena akan lebih baik jika begitu.

Burung menatap tak mengerti.
Sang rumput tersenyum, lalu berkata lagi.

Burung, aku tak mencintainya dalam diam. karena ada yang tau.
Kau tau, aku tau, Pencipta-pun tau. Dan dia... sebenarnya juga tau.
hanya belum mengerti kebenaran rasa ini.
Maka biarkanlah.
Karena seandainya aku mengatakannya-pun aku tak akan mungkin bisa merengkuhnya  untukku.
Karena seandainya aku katakan padanya-pun aku tak bisa melakukan apa-apa.
Aku hanya akan menjadi racun dari sesuatu yang telah ia jalani.
dalam sesuatu yang jauh lebih suci yang dia jalani.

Posisiku tidak benar jika harus mengharapkannya.
Aku hanya tau jika aku mengatakannya terus adalah bukanlah hal yang pantas.
maka biarkan saja aku merasakannya sendiri.
Hingga apapun padanya dan padaku akan tetap terjaga sebagaimana mestinya.

aku berkata padanya dalam keremangan padang ketika surya belum terbangun.

jika bukan karena Tuhan kita, tinggalkanlah cinta.

Dan dia, meninggalkannya.

Maka Pantaskah?


Dalam derapnya, ada tekad tersilau lelap
Dalam tegapnya, ada tegar termakan gelap
Lalu kita menuntut sebuah harap
'Berikan maaf, tolong berikan maaf..'

Pada padang ketika mendung datang
Pada ilalang tergoyang udara gersang
Kita membiarkan pinta berkumandang
'Berikan tenang, tolong berikan tenang..'

Namun pada saatnya terdekap dunia
Namun pada saatnya terbuai ceria
Sesuatu terlupa (tanpa) disengaja

Maka pantaskah kita datang kembali dalam aduan lemah diri?
Maka pantaskah kita meminta kembali yang kita tinggalkan sendiri?

Jika mencintai-Nya kita selalu alfa?

Berhentilah, Sejenak


Hei, berhentilah sejenak dari kegiatanmu. aku ingin mengajakmu bicara sebentar.
Kau tau bagaimana dengung nyamuk ketika kau tertidur? kau terganggu? tidakkah kau menyukainya? 
iya. Suara kecil itu mengganggu. menyulut kekesalanku ketika tidurku terganggu olehnya. 
Tapi tau apa dia tentang kekesalanku?

Kau tau gemuruh petir ketika langit mendung? kau terusik? tidakkah kau menyukainya?
iya. gemuruh itu menakutkan. menyulut kemarahanku ketika dia merusak syahdunya hujanku.
Tapi tau apa dia tentang kemarahanku?

Sama seperti manusia. kadang kesalahan seseorang dapat menyulut kemarahan dan kekesalan orang lain tanpa disadari.

Hei, tolong berhenti sejenak dari kegiatanmu. Dengarkan kata-kataku tanpa harus kamu berpura-pura tak tau maknanya.
Kau tau. dan cukup kau membuatnya rumit dari kelihatannya. Aku sebenarnya benci sekali saat-saat seperti ini.

Aku takut menyinggungmu atau membuatmu membenciku. Tapi aku harus mengatakannya padamu.

Hei, tolong berhenti sejenak dari kegiatanmu. Aku ingin mengajakmu bicara.
Taukah kau yang kaulakukan ini salah? lalu kenapa kau tak punya keberanian untuk menghentikannya?
kau ini tidak mendengarku atau memang tidak mau mendengarkan aku?

Hei, tolonglah berhenti sejenak. aku ingin mengajakmu bicara.
tidakkah kau lelah mendengarku terus-terusan berteriak padamu? sekarang aku ingin bicara dengan tutur kata lembut, sebentar. jadi tolong, dengarkanlah.

Aku sedang dalam kebingungan, kau tau? tentang sebuah kesalahan.
aku bingung bagaimana menyampaikannya.
Kau-lah titik tumpunya. jadi tolong, apapun yang kau mulai harus kau jalani hingga akhir.
Aku ingin sekali berteriak ketika kau tak menghiraukan sindiran halus yang kutujukan padamu.
Aku tidak membencimu. aku hanya ingin kau sadari kesalahanmu.
Tidak. tidak hanya sadar, tapi mampu melakukan tindak lanjut setelah sadar.

Pernahkan kau melakukan kesalahan pada orang lain?
apa yang kau lakukan? mengakui dalam hati bahwa kau salah tapi bersembunyi dari kenyataan?
Kau takut dianggap pesakitan jika mengaku? Kau takut kehilangan yang kau anggap berharga jika mengaku?
Taukah kau diluar sana banyak yang menjadi korban ketidak-tegasanmu? 
seseorang mungkin menjadi yang tertuduh ketika kau sembunyi. seseorang lain mungkin tenggelam dalam kepercayaannya terhadap dusta.

Ini contoh kecil, tapi bukankah ini sering sekali terjadi?
bahwa kita kadang takut mengambil keputusan hanya karena pertimbangan ego kita.

Teman--cukuplah aku memanggilmu dengan sebutan ini--, bukankah kau tau Allah tak pernah meninggalkan umatnya dalam kesempitan? 
Bahkan ketika kita bersalah?
Jadi kenapa kau takut akan dunia yang malah menghimpitmu?
Berserahlah..

Teguhkan niatmu. jika kau merasa sudah melangkah dengan rencana yang benar, maka jalankanlah. jangan khawatir dengan apa yang mengusikmu. karena Dia pasti menggantinya nanti. Bukankah janji Allah pasti adanya?
jika kau merasa berjalan dalam rencana dan menuju tujuan yang benar, maka berjalanlah. jangan khawatir akan sakit hati atau kehilangan yang mungkin akan kau rasakan. karena Dia pasri menggantinya nanti. Bukankah janji Allah pasti adanya?
Kau--atau aku-- pasti akan melewatinya. dengan baik. seiring bantuan-Nya.
Berserahlah..

Jika kau pernah terpererosok dalam satu lubang, maka mengapa kau mengulanginya?
karena masalah itu rumit?

Iya, memang.
Tapi tidakkah kau menganggap ini ujian?
layaknya ujian sekolah, maka kau akan mengulang ujian ketika nilaimu dirasa belum memuaskan.
Remidi istilahnya.
Bukankah ini analoginya?
Jika kemarin kau terperosok dalam satu lubang sebagai tanda kau belum lulus ujian dari-Nya, tidakkah kau berfikir ini --yang kau alami sekarang-- adalah remidinya?
apa kau ingin gagal lagi?
tentu tidak kan?

Jika memang suatu keputusan yang baik akan mendatangkan kehilangan, bukankan Dia akan memberikanmu pengganti yang sepadan dengan usaha dan cinta-Mu pada-Nya?
Jika memang suatu keputusan yang baik akan mendatangkan sakih hati yang kita rasakan, bukankah Dia akan memberika penawar yang lebih manis karena cinta-Nya padamu?

Kau mungkin akan diuji dengan prestasi yang gemilang, Ikhwan/Akhwat yang taat, Atau segala bentuk yang menyenangkan. tapi bukankah semakin berat ujian maka itu sebagai penanda Imanmu?
Bukankan ujian yang Dia berikan pada hambanya sesuai dengan Iman hambanya?
Hingga tiba waktu kau lulus dengan baik, maka bertambah pula cinta-Nya padamu. bertambah pula Ridho-Nya padamu.
Masihkah kau takut?

Hanya karena kau temanmu. aku hanya ingin mengingatkanmu.
melalui ini. Sebagai teman yang harusnya saling mengingatkan.
Aku juga tak luput dari salah, tentu saja. dan kau juga pernah mengingatkanku. Dan kali ini mungkin aku yang berkesempatan untuk berusaha mengingatkanmu.

Kau bisa membuatku bangkit dari masalah yang jauh lebih rumit daru yang kau hadapi.
maka seharusnya kau bisa pula bangkit dari sini.

Maka tegakkanlah badanmu. angkat dagumu.
Evaluasi apa yang telah kita lakukan selama ini. Perbaiki yang kurang banar, sempurnakan yang benar, tambahi yang kurang.
Hingga pada akhirnya nanti kita akan melewati satu-demi satu ujian-Nya dengan memuaskan. dan tiba pada saat kita tersenyum lebar melihat rapor-mu membanggakan.


Mohon maaf atas tuturku yang tak berkenan, kawan.
Selamat Ramadhan. :)

Senyap



Senyap
dan terbenam dalam lelap
Tapi tidak bagi secercah cahaya
Dia berjaga 
dan menunggu pagi mengusir dahaga

Lelah letih dari setiap duri
dan semua luka yang tak terperi
menancap dalam, mengukir kelam
dan dia yang tersungkur terlebur dalam kabur

Yang tak berpihak tergeletak
yang sesak lupa letak
hingga ceria enggan mengusir nelangsa
dan biarkan berjelaga
kandas selamanya


HADAPI


Menghadapi kenyataan tidak pernah menjadi pilihan.
Karena kita tidak bisa memaksa semuanya berjalan sesuai arah keinginan kita. padahal dalam kiblat yang sesungguhnya terlalu bertentangan.
Menghadapi kenyataan tidak akan pernah menjadi pilihan.
Karena semuanya terlalu cepat terjadi untuk menunggumu siap menghadapinya.
katanya,
kamu tidak akan tau seberapa kuat dirimu, sampai menjadi kuat adalah satu-satunya pilihanmu.
Saya terlalu sering dibilang gagal move on. Dan biasanya saya cuma menjawab dengan senyum dan jawaban klise.
Tapi sebenarnya tidak begitu. saya menulis tentang 'dia' bukan karena gagal move on. Karena memang hingga sekarang hal-hal yang lebih banyak menginspirasi saya adalah segala hal dari 'dia'.

Move On bukan berarti tidak membicarakannya sama sekali. Move On bukan berarti menghapusnya dari segala kehidupan kita. Itu terlalu kejam.

Move On adalah soal berhenti berharap dan memaafkan. Berhenti berharap bahwa dia akan kembali dan mau mengerti betapa kita terluka seolah semua ini salahnya. Memaafkan jika memang tindakannya kurang tepat untuk kita.
Kita tidak pernah tau apakah dia terluka juga atau tidak kan? Kita juga tidak tau apakah dengan rasa amarah kita semuanya akan lebih baik. Jadi, ayo berhenti menjadi pendendam. berikan maaf.. ringankan langkah kita sendiri..

And I know, I'm not alone.. I'm not the only one who is broken..
(Secondhand Serenade- You and I).
hanya orang dewasa yang bisa berfikir seperti itu.
Perpindahan hanyalah masalah perpindahan posisi. iya kan?
Beberapa orang tinggal di hatimu tetapi tidak di hidupmu. Maafkan mereka.
Beberapa orang tinggal di hidupmu tetapi tidak di hatimu. Hargai mereka.

Iya, perpisahan memang bukan persoalan gampang, tapi cukuplah seperti itu saja sulitnya. jangan semakin dipersulit dengan terus-terusan bertanya kenapa kita ditinggalkan dan kenapa itu terjadi.
Beberapa orang memang tercipta untuk kau cintai, tapi tidak untuk mencintaimu. itu biasa terjadi.
Tapi beberapa orang emang diciptakan untuk mencintaimu walau kau tidak pernah mencintainya.
Karena itulah kita belajar untuk tau bagaimana memaafkan dan menghargai orang dalam arti yang sedalam-dalamnya.
memaafkan mereka yang tak bisa membalas cintamu. menghargai mereka yang tetap mencintaimu walau kau tak pernah menoleh pada mereka.

Saya juga berharap note ini tidak hanya sekedar teori. saya juga sedang belajar memaknai dan tidak lagi merengek seperti anak kecil untuk sesuatu yang tidak membahagiakan. bahkan dalam hal menyayangi seseorang.

Ambil langkah. mantapkan berdiri.

Hanya Jika..


Hanya jika kamu sempat membacanya. Mungkin kamu akan tau bahwa jutaan kata-kata ini masih milikmu. 
Hanya jika kamu sempat membacanya. Mungkin kamu akan tau bahwa setiap apa yang kutulis, ada bayangmu dibaliknya.
Dan hanya jika kamu percaya.. keadaan yang seperti ini tidak akan terasa begitu menyiksa.

Bersembunyi mungkin menjadi keahlian setiap mereka yang mencinta tapi tak berani mengungkapkannya. Atau tidak tersambut baik.
Aku tau apa artinya sekarang. Banyak yang mereka lakukan untuk bersembunyi dari perasaannya.
Beberapa memilih bersembunyi pada setiap karakter kata yang mereka tuliskan.
Dan hanya jika kamu sempat membacanya, kamu mungkin akan menjadi orang yang paling menyesal sudah tidak melihat terangnya ketulusan mereka--orang-orang yang mencintaimu diam-diam-- dalam hidupmu.

Bagi kami--yang mencinta tanpa mengatakan atau menunjukkan apa-apa--, memandangmu yang ceria merupakan kebahagiaan. Tapi tidak ketika kamu tertawa dengan yang lain. Akan selalu ada pikiran 'kenapa bukan aku?'.

Hanya jika kamu sempat membacanya, kamu akan mengerti. Bahwa memiliki sudah bukan harga mutlak untukku. Memiliki adalah suatu keberuntungan. Semacam undian. Karena aku tau, akui tak akan membuatmu mengerti atas apa yang TIDAK PERNAH kuucapkan. Hanya saja aku memang selalu berharap ada kejaiban yang membuatmu mengerti. Dan menolongku untuk membuang jauh-jauh bagaimana rasanya mencinta bayangan.

Hanya jika kamu sempat membacanya, aku selalu menuliskan betapa kamu selalu terlihat sempurna. Walau aku tau, sempurnamu bukan milikku.
Kamu berdandan bukan untukku.
Kamu mengikut gaya dan tampil keren bukan untuk sengaja mempesonaku.
Bisakah kamu berbohong sekali saja kalau itu memang untukku?

Tidak. Kamu ternyata terlalu jujur bahkan untuk berkata 'tidak bisa mencintaiku'.
Tak apa. Aku hanya berharap hanya jika kamu sempat membacanya, kamu tau betapa ada orang yang bahkan rela memendam segalanya hanya agar kamu tetap nyaman. Dan mengabaikan kenyamaman mereka sendiri.

Hanya jika kamu sempat membacanya, mungkin kamu akan mengerti..
betapa kamu masih mengendap jauh didasar hatiku, tanpa aku bisa membuang endapanya. terlalu dalam. sampai aku bahkan tak sampai untuk mencapai dasarnya. dan kau tetap disana. Didasar hatiku. Dalam waktu yang lama.
Dan merindukanmu menjadi satu-satunya rasa sakit yang menyenangkan.

Hanya jika kamu sempat membacanya, mungkin kamu akan mengerti. Betapa setiap detik malam yang kulalui adalah malammu. 
Hanya jika kamu sempat membacanya, mungkin kamu akan mengerti. Betapa setiap tawaku ada kamu. masih ada kamu. bahkan ketika kau berfikir aku bisa hidup tanpamu.
Hanya jika kamu sempat membacanya, mungkin kamu akan mengerti. Iya, aku bisa hidup tanpa keberadaanmu. tapi tidak bayanganmu.

Dan hanya jika kamu membacanya, mungkin kamu akan mengerti. Kenapa aku menunggu. kenapa aku belum mengatakan mencintai orang lain selainmu.
Aku hanya ingin menemukanmu, dan menjalani semuanya bersamamu. Atau menemukan orang yang membuatku menangis seperti menangisimu. Seseorang yang membuatku jatuh dalam perasaan yang dalam, sedalam padamu. Disaat yang tepat dan takdir yang tepat.
Hanya saja.... Kau tak pernah sempat membacanya.
Dan aku merasa, mungkin memang bukan kamu.
dan karena itulah Tuhan tak mengizinkanku mampu meraihmu sekarang. karena kamu tak cukup peduli akan kepedulianku padamu. Hidupmu. yang bahkan aku juga tak tau kenapa..


Dedicate to :
Seorang teman yang tak bisa disebut namanya. KAU-TAHU-SIAPA.

Mungkin Memang Seperti Ini Seharusnya.. (Bag. 2 - Habis)


Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya.. terlampaui dengan cepat dan tanpa kenangan indah. Bukannya disambut penuh kehangatan.
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya.. terbangun dengan perasaan yang tak diinginkan. seolah kau terlahir tanpa di harapkan..

Resna menghela nafas dan membuka matanya dengan berat. Malam yang tidak menyenangkan. dan 1 lagi hari buruk yang harus dilalui. pikirnya.
'Resna.. jam berapa ini sayang? nggak libur kan?' teriakan ibu membangunkannya mulai terdengar seantero rumah.
'Iya bu.. Resna mau baru mau mandi..'
setengah jam kemudian Resna sudah bersiap dimuka pintu dengan muka ragu
'Bu, serius Resna harus sekolah hari ini?'
'Lho? memang kenapa? Resna masih sakit ya?'
'Resna malu. teman-teman dan.. Lian.. belum tau Resna pakai kursi roda..'
'Sayang, anak baik tidak akan tertolak. Resna pakai kursi roda kan cuma sementara..'
Resna tersenyum.
'Resna berangkat bu.. Assalamualaikum..' pamitnya
'walaikumsalam, sayang..'

Disekolah, Resna merasa setiap meter yang dilaluinya menuju ke kelas terasa seperti berjalan di bara api.
Teman-temannya memandang dengan tatapan yang tidak dia mengerti, seolah Resna adalah seorang tahanan penjara yang diarak keliling kota.
Resna merasakan mukanya memanas.. matanya mulai terasa perih. tapi hal itu ditahannya hingga sampai ke kelas.
ia melihat Lian sedang bercanda dengan teman-temannya ketika dia masuk.
Lian tercengang.
'Res.. ehm.. sayang.. kamu...' katanya terbata
'Apa?' Jawab Resna dingin. Lian salah tingkah.
'Kamu.. kenapa nggak bilang kalau sakit?'
'Apa pedulimu?'
'Kenapa kamu bilang begitu, sayang?'
'Kau tak cukup pandai berpura-pura dan tak usah berpura-pura, Li..' Ucap Resna sambil menjalankan kursi rodanya ke bangkunya. Lian ingin mengejarnya tetapi Pak Didik sudah memasuki kelas dan langung memulai pelajaran.
Lian mencuri kesempatan untuk melirik kearah Resna. tapi gadis itu tidak melihat kearahnya sedikitpun.
Lian menghela nafas dengan sedih.

'Res, tunggu. aku mau bicara.' teriak Lian sambil menghentikan laju kursi roda Resna.
'Ada apa?'
'Res.. kejadian seminggu yang lalu itu.. sungguh bukan seperti yang kamu pikir. Aku tidak tau kenapa kamu bisa berada disana....'
'kenapa?' potong Resna 'kamu kaget aku ada disitu dang melihat kamu sama adik kelasmu yang cantik itu? Kamu kaget karena aku tau kalau kamu nggak lebih baik dari mayat hidup? Kamu cuma punya raga tapi nggak punya hati, Li..' cercanya kemudian
'Res... bukan gitu. saat itu aku cuma sedang dimintai tolong untuk nganterin dia pulang karna dia sakit. serius..'
'Cukup Li. kamu lebih memilih ngenterin dia padahal aku nungguin kamu untuk ngeliat pentasku kan? yasudah. habiskan waktumu sama dia dan nggak usah menjelaskan kenapa kamu nggak datang. cukup. aku sudah bahagia karena kamu nggak datang. bahagia sekali sampai aku nggak tau gimana memaafkan kamu. sekarang kamu lihat. kamu nggak akan bisa lagi ngeliat aku menari..' Tiba-tiba Resna serak. dia sudah tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Lian memejamkan mata dengan pedih. kemudian berlutut memeluk Resna. Resna sesenggukan menahan tangis.
'Lepas Li.. kumohon..'
Lian menatap Resna tak mengerti.
'sudah cukup. sudah ada yang berubah tanpa kita sadari.. Pelukmu... kata-katamu.. entah kenapa aku merasa semua itu sudah bukan milikku lagi. Duniaku sudah runtuh.. dan aku--semoga kau mengerti-- sudah tidak ingin terlibat apapun denganmu..' Ucap Resna
'Sayang... kamu..' Lian terbata-bata dan menatap Rena tak percaya
'Aku hanya seorang gadis yang tersungkur di kursi roda. takkan bisa menemanimu berlatih lari lagi. takkan bisa menemanimu berenang lagi. aku tidak ingin tersiksa dengan kenyataan seperti itu. Lagipula kamu sudah lebih baik dengan adik kelasmu itu. terbukti karena kamu nggak mencariku bahkan ketika aku menghilang. kamu nggak sedikitpun ingin tau apa yang terjadi. dan kamu juga tak perlu berpura-pura peduli lagi.. Aku bukan orang yang tepat. Aku dan kamu bukan pasangan yang tepat. saat-saat kebersamaan kita bukan saat yang tepat. Kita akhiri saja..' pungkas Resna.

Lian memukul meja dengan geram.
'Apa yang dipikirkan Resna sebenarnya?' katanya
Dina memandang Lian 'Resna sedang mengalami saat-saat yang buruk, Li.. terlabih dia melihatmu merangkul Linda saat itu. kau harus mengerti apa yang mengganggu pikirannya..'
'Tapi dia memutuskanku. MEMUTUSKAN hubungan denganku. dia tidak menerima penjelasanku..'
Lian duduk dengan lemas.
'Tidak tahukah dia?' Lian merintih
'Li, bersabarlah. biarkan Resna tenang.. baru datang kembali dan jelaskan padanya.. mengetilah keadaannya..' Dina berusaha menenangkan Lian
'Tapi aku tidak punya banyak waktu Di..' kata Lian gusar.
'Apa maksudmu?' Tanya Dina tak mengerti
Lian tidak menjawab dan hanya menghela nafas sambil menerawang jauh.

Sudah berjalan 5 hari sejak Resna memutuskan hubungan dengan Lian, den keadaannya justru tidak membaik seperti harapannya.
Persidangan perceraian orangtuanya sudah terbayang didepan mata, dan Resna melewatkan malam-malamnya dengan menangisi perasaannya yang begitu dalam kepada Lian.
Hanya Lian. Dia mulai berfikir bahwa mungkin keputusannya salah, tapi dia tidak bisa membayangkan jika harus menemani Lian yang gila olahraga, padahal sekarang kedua kakinya lumpuh dan belum ada tanda-tanda akan sembuh. Resna mulai kehilangan harapan.
Tiba-tiba Bel motor tukang pos membuyarkan lamunannya.
dia melihat pak pos menyelipkan sepucuk surat di kotak surat miliknya. Resna bergegas menuju jalan dan mengambil surat tersebut. tidak ada alamat pengirimnya.
Dadanya tiba-tiba berdebar. ada sebuah firasat buruk yang tidak bisa dijelaskannya. dia merobek amplop dan segera menbaca isinya.

"Dear, Resna. Gadis berkursi roda yang slalu dihati yang mencintanya..
Begitu bunyi pembukaan suratnya. Hati Resna semakin tidak tenang.

Aku meminta maaf atas kesalah pahaman kita.
aku mencoba menjelaskan tapi kamu nggak mau mendengar kata-kataku.
Aku berusaha menemuimu tapi kamu menghindari aku terus menerus.
Aku mencoba menghubungi ponselmu tapi kau tidak pernah menerimanya.
Aku menulis ini dari rumah sakit. Aku tidak punya banyak waktu.
Tapi aku berharap masih sempat mengatakan jika saat itu aku hanya mau mengantar Linda pulang, kemudian langsung menonton pentasmu.
Aku hanya sedang menunggu buket bunga yang kupesan untukmu, itu sebabnya aku blum masuk ke studio ketika pentasmu mulai. bahkan ketika pentasnya berakhir. tapi ternyata kau lebih dulu melihatku memapah Linda sebelum aku sempat menjelaskan apa yang terjadi. 
Kau tak sempat mempercayaiku.
Tapi tak apa. aku bahagia sudah menjadi milikmu. mendengar kata-kata kau mencintaiku. Aku mencintaimu. selalu.

Salam sayang,
Lian.

Resna bagaikan tersambar petir. dia segera berteriak memanggil ibunya agar mengantarnya kerumah sakit. dia menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan gusar, dan meminta agar ibunya mendorong kusi rodanya semakin cepat dan semakin cepat.
Resna tiba dikamar Lian tepat saat ibu Lian berteriak histeris meminta agar Allah mengembalikan nyawa anaknya.

Mungkin memang seperti ini, hidupku yang seharusnya. Sepi dan ditinggalkan. Bukannya berkawan dengan tawa dan tertawa bersama orang yang kucintai, atau melihat mereka tertawa karena saling mencintai.
Mungkin memang seperti ini, hidupku yang seharusnya. Ditinggalkan oleh mereka yang kucintai. Ayah, Kekasih, bahkan Dunia yang kucintai.Tapi aku mengerti bahwa seluruhnya hanya-lah kedar perpindahan tempat. tanpa meninggalkanku. 
Ayah berpindah tempat dari sisi ibu ke sisi jodohnya yang lain, tapi aku tetap anak yang dicintainya.
Lian berpindah tempat dari sisiku ke sisi pemiliknya yang abadi, tapi tetap mencintaiku.
dan aku hanya berpindah tempat dari kemampuan berdiri ke atas kursi roda.
dan hobiku menari berpindah dari yang kualunkan secara fisik menjadi kualunkan dalam hati dan pikiranku.
tak apa. inilah hidup.
Allah selalu mencintaiku..

Resna menutup bukunya, dan memejamkan mata sejenak sambil mengusap nisan pusara Lian. kemudian beranjak pergi..

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir