Sebagai orang yang sudah melalui banyak hal menyenangkan bersamamu,
apa lagi yang bisa kuharapkan?
hampir tidak ada.
Aku bahkan tidak tahu harus merasakan apa.
Mungkin, bulir-bulir pasir yang menguning keemasan ditempa senja, dan desah angin yang menggelitiki kita bukan lagi satu-satunya pemandangan indah yang bisa kusaksikan.
Jangankan mega yang bersemburat jingga, bahkan birunya langit dan kelamnya mendung sudah fasih aku sesapi sensasinya.
Entahlah, semua itu sudah tak berarti lagi untukku. Semua keindahan itu sudah biasa untukku.
Aku tak lagi menatap nanar hingga Sang Surya menghilang dibalik lengkungan lautan dengan otak penuh senyumanmu.
Aku tak lagi mendesah ketika angin membelaiku dengan harapan bahwa itu adalah jelmaan jemarimu.
Aku sudah belajar untuk berhenti menghubungkan semuanya denganmu.
Kau tahu? banyak sekali yang sudah kulakukan untuk menjaga keseimbanganmu.
Kau orang yang terlalu mudah jatuh.
Aku selalu bersusah payah menegakkanmu kembali ketika badai mematahkan penyanggamu.
Setelah semua ini aku sadar, aku tidak terlalu kuat.
Kau bahkan tak pernah sepenuh hati membiarkanku menjadi sandaranmu, kan?
Dan apa-pun yang kulakukan untuk menyeimbangkan orbitmu selalu sia-sia karena kau sendiri membiarkan dirimu jatuh lagi, dan lagi.
Kau membiarkan dirimu sendiri dengan mudahnya terombang-ambing angin senja yang berbeda setiap sorenya.
Bersamaan dengan itu, aku kehabisan tenaga untuk terus menjagamu tetap berdiri.
Aku terjatuh jauh lebih dalam dari apa yang bisa kau pikirkan.
Maafkan aku.
Bukannya aku lelah. Jika lelah-pun aku bisa dan biasa menahannya.
Maafkan aku, sungguh bukan inginku berhenti meyakinkanmu.
Tapi bagaimana bisa aku membuatmu yakin kembali jika kau sendiri tak membiarkan dirimu sendiri meyakini semua ini?
Percuma sekali.
Aku tidak ingin membuatmu merasa melewatkan sesuatu yang penting.
Tidak.
Tapi aku sekarang ini cukup mengerti jika aku bukan sesuatu yang penting itu, karena pada kenyataannnya kamu dengan mudah melewatkanku.
Mungkin kau sedikit kecewa, bahwa seseorang yang dikirim Tuhan untuk mencintaimu bukan orang yang sama seperti dalam harapanmu.
Karena itu aku mengerti. Bukan salahmu jika tak bisa menerima. Bukan salahmu jika tak bisa melihat dengan seksama.
Aku ingin berhenti, tapi tidak bisa sama sekali.
Karena sekarang aku telah memilih untuk hanya berdiam diri, maka aku harus bisa menerima jika aku akan terus terusuk-tusuk duri. Tapi apalah arti sebuah tusukan jika aku terbiasa menikam hasratku sendiri?
Senin, 22 April 2013
With No-Words
Posted by Kharissa Widya Kresna at 01.05 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
Minggu, 21 April 2013
Well, Hari Kartini dan Wanita
April.Setiap mendengar kata April, otak saya tidak hanya secara otomatis mengingat tanggal kelahiran saya, tetapi juga tanpa sadar mengaitkan april dengan sebuah nama yang sudah sangat kita kenal: Kartini. Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia.
Sejenak menilik sejarah Kartini,Wanita yang namanya menjadi salah satu nama yang paling dikenang di Indonesia ini harus menjalani masa pingitan. Adat istiadat tidak mengijinkan Kartini bebas berkomunikasi dengan dunia luar, dia hanya menunggu seorang pria pilihan ayahnya, untuk menikahinya. Ayahnya juga menolak keinginan Kartini untuk melanjutkan sekolah dan dia mulai terganggu dengan pemikiran-pemikiran feodal Belanda. Sejak itu, jiwa muda Kartini meletup-letup. Dia bahkan mendirikan sekolah Kartini dan melakukan berbagai perubahan.
Kembali ke potret wanita saat ini. Disini kita tidak lagi akan menyoroti kenapa wanita indonesia yang sekarang tidak bisa berjuang seperti Kartini. Tidak. Karena jelas sekali masa yang dilalui sudah berbeda. Dewasa ini, perhatian kita akan sosok wanita ideal menemukan kiblat baru seiring munculnya budaya pop saat ini. Setidaknya, Katini tidak lagi menjadi idola. Wanita selalu digambarkan sebagai makhluk pesolek yang lemah lembut. Iklan-iklan di televisi memberikan standar baru dalam definisi ‘cantik’. Kulit putih, rambut lurus dan lembut, langsing, dan sebagainya. Hal ini juga sedikit didongkrak oleh rilisnya berbagai jenis tayangan di Indonesia. Salah satunya film Habibie dan Ainun. Yap! Sadar atau tidak, sejak kemunculan film ini, banyak wanita—khususnya yang sudah berpasangan—menemukan demam baru. Romantisme Ainun seperti menghipnotis wanita inonesia, terutama para remaja untuk memujudkan kisah cinta seperti dalam film sehingga mau melakukan apa saja. Terutama dalam urusan berdandan dan berpacaran. Ups! Maaf. Tapi memang iya. Kesempatan kita untuk memperoleh kebebasan seluas-luasnya sangat percuma kalau hanya dilalui dengan hal-hal macam demikian.
Padahal kita diciptakan tidak dengan hakikat yang seperti itu. No. Kita diciptakan sebagai makhluk yang kompleks. Kecantikan kita tidak bisa dinilai hanya dengan segala bentuk kecantikan fisik atau mewujudkan kisah cinta yang indah. Jelas sekali, sebagai pewarna peradaban, banyak sekali yang harus kita lakukan sebelum memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan bersolek. Tidak perlu membuat definisi yang muluk-muluk. Mempercantik kepribadian, tentu menjadi hal yang paling utama. Mempercantik cara berfikir dapat menjadi prioritas selanjutnya. Kita juga dituntut untuk melakukan sesuatu untuk kemajuan sesama. Bahkan jika itu hanya sekedar berbagi motivasi dengan orang lain untuk berbuat sesuatu menuju kearah yang lebih baik. Girls, We are Full Passionate just like Beryllium, Precious like Gold, and Strong like Titanium. Because We are ‘Be Au Ti’ Full.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.35 0 comments
Labels: Artikel, Belajar Hidup
Mempertanyakan Alasan
Yuna melempar kuat-kuat sebungkus es krim yang diterimanya dari Yulian.
Yulian tercengang.
'Kenapa kamu buang, Yun?'
'Aku nggak suka.' Jawab Yuna tandas. Yulian memandang dengan hati pedih.
'Sejak kapan kamu nggak suka es krim?' Tanyanya lirih.
'Sejak kamu bikin kesalahan besar. Aku memutuskan untuk tidak lagi mengunyah bongkahan krim padat menjijikan seperti itu.'
Yulian tertegun. Dia masih berusaha menguatkan hatinya menerima cecaran kata-kata tak berperasaan yang dilontarkan Yuna. Yuna masih diam dengan ekspresi beku.
'Baiklah. Kamu mau apa?' Tanya Yulian. Yuna mendongak, menatap Yulian yang terpaut 15 cm dari tinggi badannya, kemudian tersenyum sinis.
'Aku tidak mau apa-apa. Tidak kehadiranmu, tidak ribuan es krim yang kau bawa, atau apapun. Aku tidak butuh apapun.'
Yulian gusar. Dia mulai kehabisan kesabaran.
'Kamu ini kenapa, Yun? Kenapa mendadak aneh begini?'
'Aku tidak aneh.' Yuna menyahut datar.
'Terserah kau saja. Aku lelah!' Yulian akhirnya beranjak meninggalkannya. Yuna hanya memandang.
Sepeninggal Yulian, Yuna menghela nafas. Memandang nanar kearah es krim kesukaannya tergeletak. Hatinya perih.
Tidak. Aku tidak harus menyukainya.
Yuna mengulang kalimat itu dalam hatinya. Berulang kali, hingga kalimat itu hanyalah sebuah kalimat. tanpa makna. Hilang dalam riuh rendah gejolak hatinya.
***
Malam itu, Yuna turun dari motornya dan merapikan jilbabnya.
Dia memandang sekilas dari kaca spion, memastikan agar tak ada yang terlewat dari penampilannya. Dia ingin terlihat sempurna.
Yuna melangkahkan kaki memasuki minimarket dengan riang. Dia berencana membeli beberapa es krim untuknya dan Yulian.
Sambil memilih es krim kesukaan Yulian, dia tersenyum. Membayangkan tawa Yulian benar-benar membuatnya senang. Yuna berjalan memutar, sambil menimbang, kira-kira apa rasa es krim kesukaan Yulian.
Malam itu gerimis mengguyur pelan, menyisakan uap-uap air di kaca mini market. Tak banyak orang yang berada di mini market, tapi itu justru membuat Yuna leluasa. Dia tak pernah suka keramaian.
Sejenak Yuna berfikir : apakah keputusannya membeli es krim di saat hujan tidak akan membuat Yulian flu nantinya? Tapi ah, es krim selalu nikmat dinikmati. Walapun suasana sedang hujan sekalipun.
Apalagi Yulian sedang banyak beban pikiran. Es Krim cokelat ini pasti bisa membuatnya sedikit rileks.
Yuna berdiri beberapa saat di depan kotak penyimpanan es krim, hingga akhirnya memilih 2 buah es krim rasa cokelat.
Yuna mengancingkan jaketnya lebih rapat, memasang tudungnya, kemudian beranjak membuka pintu mini market. Beberapa percikan hujan menetesi wajahnya.
Yuna refleks memalingkan muka, dan dilihatnya Yulian sedang memarkir motor. Yulian.
Yuna tersenyum. Semestanya seketika berwarna. Seolah hujan sudah berhenti dan langitnya serupa pelangi.
Hanya saja senyumnya tak berlangsung lama. Seper-sekian detik kemudian Yuna melihat bahwa ternyata Yulian tak sendirian. Dia bersama seorang gadis yang dia kenal. Refleks, Yuna merapatkan tubuhnya ke tiang penyangga mini market yang 3 kali lebih besar dibanding tubuhnya. Berusaha agar Yulian tak melihatnya.
Yuna masih terus memandangi Yulian yang berjalan sambil mengucek rambut gadis yang sedari tadi bersamanya.
Bayangan tubuh mereka terus berjalan tanpa menyadari kehadiran Yuna, dan baru berhenti didepan boks es krim tempat Yuna berdiri beberapa menit yang lalu.
Yuna tersenyum, kemudian mencantolkan plastik belanjaannya yang berisi dua buah es krim di stang motor Yulian. Membiarkan rintikan hujan yang mengenai plastiknya menimbulkan bunyi gemerisik lembut dengan irama yang konstan.
Yuna mengambil kunci, menghidupkan motornya, kemudian memacunya menerobos keremangan malam dan tirai hujan.
***
Yuna menghela nafas.
Dia menyukai es krim bukan sekedar suka. Tapi es krim adalah bagian lain dari dirinya.
Es krim adalah tanda kebersamaannya dengan orang-orang yang dia sayangi.
Satu-satunya sarana berbagi isi hati kepada orang-orang di sekitarnya.
Satu-satunya cara yang dia buka untuk menerima kehadiran seseorang dalam hidupnya.
Ini kali kedua es krim yang dia berikan untuk Yulian mencair sia-sia.
Dia memutuskan untuk tidak lagi menerima atau memberikan es krim setelahnya.
02042013
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.34 1 comments
Labels: Cerpen, Prosa, Tulisan Bebas
Untuk Malam ini
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.32 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
Being in the Middle of Nowhere
Mungkin salahku, semua ini membuatku berfikir aku mempunyai hak atas hidupmu.
Mungkin salahku, semua ini membuatku berfikir aku mempunyai bagian atas hidupku.
Mungkin salahku, semua ini membuatku berharap lebih kepadamu.
Mungkin salahku, aku tak pernah mengatakan apa-apa. Tapi bukan berarti tak merasakan apa-apa.
Aku hanya ingin berada diantara kalian dengan biasa, tanpa harus ikut terkena dampak hubungan kalian yang tak biasa.
Aku hanya lelah berada di tengah-tengah.
Aku tak pernah menyalahkan kalian, aku hanya ingin hidup berdampingan dan menemukan tempat diantara kalian.
Aku hanya lelah berada di tengah-tengah.
Aku tak pernah memarahi kalian atas apa yang kalian lakukan atau kurasakan, jadi tolong, jangan menjadikanku pelarian.
Aku lelah berada di tengah-tengah.
Bisakah kalian mendukungku dan bukannya menyalahkan setiap langkahku?
Bisakah kalian menerimaku tanpa memandang hal-hal selainku?
Bisakah kalian berhenti saling menatap dengan pandangan yang seperti itu?
Aku lelah berada di tengah-tengah.
Aku dekat dengannya bukan berarti aku ini dirinya.
tetap saja aku raga dengan jiwa yang berbeda.
Aku hanya suka berteman dengan siapa saja.
Tak ada siapa lebih penting dengan siapa.
Aku hanya mencoba mengadilkan semuanya.
Berhentilah. Dalam beberapa hal, aku tak ada hubungannya.
Mengapa kalimat sederhana itu susah sekali dimengerti?
23032013
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.31 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
Aku Menunggu Seseorang yang sedang Menunggu
Aku hanya berharap untuk tidak memintalmu dalam dekapan kata malam ini,
namun semuanya memang sebatas harap yang tak pernah kutaati.
Sesuatu menjadi sangat melelahkan ketika menanti. Kau juga sadari?
Namun tak setiap orang-pun ingin menanti sesuatu yang juga sedang menanti.
Karena dengan begitu setiap detik yang terlampau menjadi berpangkat kuadrat
Dan seluruh sesap masa menjadi sesuatu yang mendatangkan karat.
Meski berkarat, tetap saja perasaan ini memuai dalam padang rumput tempat senyummu mendarat.
Aku tak ingin sedikitpun melalui detik demi detik yang dengan susah payah kudentingkan dengan sebuah pengharapan,
namun pada kenyataannya semua tersungkur dalam sebuah ketikan cerita yang kusongsong penuh angan
Aku hanya ingin memberitahumu,
bahwa setiap kali kau melamun melihatnya. aku melakukan hal yang sama padamu.
Aku hanya ingin memberitahumu,
bahwa setiap jengkal waktu yang kau habiskan untuk menunggunya, kugunakan juga untuk menunggumu
Mengertikah kau?
Bahwa setiap asa yang kugenggam makin terasa tak cukup menopang bongkahan rindu.
Rindu yang kusodorkan padamu, dan kau berikan untuk ratumu.
Padahal kau satu-satunya rajaku.
Terlanjur sekarang. dan petang semakin membayang.
Aku bagai riang yang mendamba benderang,
berpura bahwa gelap bukan sesuatu yang bisa membuatmu menghilang.
Aku menunggumu, dan kau menunggunya.
Garis hati menjadi segitiga bermuda yang menenggelamkan cerita kita.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.29 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
I haven't Write this Before.
Mungkin aku hanya harus mencoba berhenti. Sekuat apa-pun aku menginginkan untuk terus mendaki.
Namun puncakmu berada dalam sebuah ketinggian yang tak terdefinisi.
Mungkin aku hanya harus mencoba mencapai perbatasan. Sekuat apa-pun aku menginginkan untuk terus melanjutkan perjalanan
Namun tempatmu berada dalam sebuah jarak yang tidak bisa terukur pasti dalam satuan yang kugunakan.
Tahukah kau aku mulai putus asa?
Tentu saja aku sering memimpikan untuk kembali berjalan menuju sesuatu, tapi aku tak pernah sedikitpun mengira jika sekarang ini aku hanya ingin mencapaimu.
Tentu saja aku sering memimpikan melukis kembali pelangi dilangitku, tapi aku tak pernah sedikitpun mengira jika sekarang ini aku ingin men-cat-nya menggunakan warnamu.
Terkadang, kita memang berbatas pada daya meski jiwa masih ingin melakukannya.
Dan dayaku tiba dalam batasnya : Hatimu.
Hatimu yang terpaku pada hati selainku.
Padahal aku benci sekali menunggu dan berdiam diri. Itu terlalu menguras energi.
Dia…
Yang slalu kuingat
Takkan pernah hilang
Dari relung jiwa
Mengapa…
Tak pernah dia sadari
Getar rasa di hati
Yang kurasa kini..
Takkan ku bina semua
Rasa cinta ku padanya
Walau apa yang kurasa
Cukup pedih dan membara
Takkan ku paksa dirinya
'tuk memberikan cintanya
Karna ku tau dia takkan bisa
Tinggalkan cintanya...
(Takkan - Ten2Five)
Jika sampai hari ini kamu bertanya-tanya kenapa aku masih saja memandangmu meski kamu tak pernah sedikitpun melirikku,
You live my life, then you'll know what I feel.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.28 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
Aku tidak (ingin) Bisa Hidup Tanpamu
.Because these days aren’t easy Like they have been once before These days aren’t easy anymore..
Mungkin, ketika seseorang berkata 'aku tidak bisa hidup tanpamu.' kita tidak bisa langsung percaya. Itu bukan berarti dia benar-benar akan mati tanpamu. Tapi bukan berarti juga dia mencoba berbohong.
Mereka mungkin hanya akan kehilangan sepenggal bagian dari hidup mereka.
Dan itu membuat hidup mereka tak akan selengkap sebelumnya.
Manusia diciptakan untuk tidak bisa hidup tanpa orang lain,
namun bukan berarti hidup matinya bergantung pada kehadiran seseorang. Tidak.
Sepahit dan sebesar apapun kita kehilangan seseorang dalam hidup kita, kita masih harus tetap hidup untuk menghargai kehadirannya yang pernah menjadi sesuatu yang kita sentuh keberadaannya.
Salah satu dari kita pasti pernah kehilangan. Ataupun setidaknya akan kehilangan.
Kalau aku, sebagaimana kau tahu, aku tidak bisa hidup tanpamu setelah kamu memutuskan untuk tidak lagi bertahan disampingku.
Tapi aku masih hidup.
Hanya saja setelah itu terasa ada yang berbeda, dan perbedaan itu semakin mendesak dari hari ke hari.
Aku masih bisa melakukan semuanya tanpamu.
Aku masih bisa tertawa, aku masih bisa menangis,
aku masih bisa berlari atau diam tak bergerak. semuanya aku bisa.
Hanya saja sebagian diriku mengingkanmu mengutuhkan kembali yang kulakukan selama ini.
Aku ingin kau disana ketika aku tertawa. Aku ingin menjumpaimu ketika aku meneteskan air mata. Aku ingin membawamu ketika aku bergerak. Dan aku ingin berdiam disampingmu ketika lelah.
Aku ingin semuanya kulakukan bersamamu.
Setidaknya ketika kamu disini, aku tenang.
Aku merasa ada sumber energi yang tak-kan habis untuk berjalan bertahun-tahun.
Aku merasa ada kasur empuk yang akan menopangku ketika aku terjatuh.
Aku merasa ada akar kokoh yang aku bisa bersembunyi dibawahnya ketika ketakutan.
Aku merasa ada kanopi dedaunan rindang yang melindungiku dari sengatan matahari.
Aku merasa ada tempat yang kutuju ketika aku tidak tahu dengan pasti arah jalan.
Aku merasa ada senyum yang kujadikan alasan kenapa aku melakukan sesuatu.
Sekarang siapa yang akan melakukannya?
Hari-hari setelah namamu terabadikan dalam patok kayu terasa lebih lama dari biasanya.
Tak ada lagi yang kusapa ketika aku membuka telepon selular, merasakan senyummu mengembang diantara sela-sela ceritaku hari ini.
Why do you do this to me? Why do you do this so easily?
You make it hard to smile because You make it hard to breathe.. Why do you do this to me?
10032013
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.27 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
Sudah Biasa
Aku sudah biasa.
Aku sudah biasa menahan diri untuk beringsut pelan-pelan tanpa sepengetahuan orang lain.
Aku sudah biasa menahan diri untuk tidak menunjukkan ekspresi apa-pun ketika namamu disebut orang lain.
Aku sudah biasa.
Aku sudah biasa menahan diri untuk tidak tenggelam dalam matamu ketika kamu lekat-lekat menatapku.
Aku sudah biasa menahan diri untuk tetap bergeming bahkan ketika kamu menanyakan seberapa pekat perasaanku.
Aku sudah biasa.
Aku sudah biasa menahan diri untuk tidak membiarkan seseorang dengan mudah menyentuh hatiku.
Aku sudah biasa menahan diri untuk bisa berdiri sedekat mungkin denganmu tapi mengambil jarak terjauh dengan hatimu.
Aku sudah biasa.
Maka kamu tak perlu khawatir akan perasaanku.
Aku sudah biasa menawarkan getir sendirian dalam gilas waktu.
Dan sekarang itu semua berguna.
Aku bisa tetap tegak menatapmu mengejarnya, dan Aku tak lagi merasakan apa-apa.
Aku bisa tertawa, sedang kau masih terus bertanya-tanya kenapa aku bisa berlaku seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Tidakkah kau menyesalinya?
11032013
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.26 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
Orang-orang itu (terlalu) Baik
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.25 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Coretan Kosong, Prosa, Tulisan Bebas
Jalan Terus
Jalan terus, dan jangan pernah menoleh kepadaku.
Karena ketika kau memutuskan untuk melangkah satu atau dua langkah di depanku, maka saat itu pula kamu memutuskan meninggalkan aku.
Jalan terus, dan jangan pernah berbalik menghampiriku.
Karena ketika kau melakukannya--berbalik untuk kembali menggandengku--aku tak bisa berjanji akan mau.
Jalan terus, karena denganku takkan pernah ada kesempatan kedua.
Jalan terus, atau jangan beranjak kemanapun juga.
Berjalanlah terus, karena sejatinya aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kau tetap berdiam diri disampingku.
Memeluk untuk melukaimu, atau melukaimu untuk--suatu saat nanti--memelukmu.
Berjalanlah terus, karena sejatinya meski aku tak bisa secara langsung menerimanya, itu jauh lebih baik pula adanya.
Jalan terus, dan jangan biarkan hasratmu untuk meninggalkanku tergerus.
Karena memang aku akan berusaha menahan demi hatiku, tapi kita memang tak bisa terus-menerus mengedepankan masalah hati.
Jalan terus, dan jangan bergeming hanya karena aku tetap disini.
Karena memang aku akan terus berusaha disini menunggumu, tapi kamu memang tak bisa terus-menerus menemaniku.
Maka..
Jalan terus, dan jangan pernah menoleh kepadaku.
Karena ketika kau memilih untuk berhenti, maka aku takkan mengizinkanmu melanjutkan lagi.
Jalan terus, dan jangan pernah berbalik menghampiriku.
Karena ketika kau memilih untuk tanpaku, maka aku takkan mengizinkanmu membawaku kembali.
Jalan terus, karena denganku takkan pernah ada kesempatan kedua.
Jalan terus, atau jangan beranjak kemanapun juga.
Aku butuh kamu untuk tertawa.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.23 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Coretan Kosong, Prosa, Tulisan Bebas
Menelan Rasa
Aku merasakan angin berhembus menerpa seluruh tubuhku, dan detik itu juga kurasakan setiap sel-ku meluruh bersamanya.
Bagai ribuan daun kering yang terbang tertiup Sang Sepoi, mengantarkan bayangmu kembali menjadi raja.
Sama seperti ketika kau menatapku seolah aku permaisyuri yang tercipta untuk menemanimu.
Lalu kau dengan mudah dapat gagah duduk bertakhta dalam singasana : Memegang tampu kekuasaan atas seluruh kerajaan kataku.
Betapa dahsyatnya, bukan? Padahal yang kau lakukan sederhana. Hanya tersenyum dan memandang.
Namun ketika tatapanmu membidik setiap angle yang membentang dihadapmu, aku seolah menemukan kacamata baru. Segalanya sewarna syahdu.
Membelai dan mengembangkan hatiku, sehingga seluruh alveolusnya menyesap setiap unsur oksigen dan melempar jauh udara sisanya.
Aku seolah dialiri matriks kehidupan yang baru. Aku seolah dihidupkan kembali dari kematianku.
Betapa dahsyatnya, bukan? Padahal yang kau lakukan sederhana. Hanya memandang dan berlaku apa adanya dirimu.
Namun ketika kau bergerak dalam sudut ruang mataku, aku seolah menemukan sinar energi baru pengganti matahari. Segalanya seolah berseri.
Menarik urat pipiku dan melengkungkan garis ceria yang meluncurkan namamu dengan fasih, dan dengan doa penuh kasih.
Aku seolah berada dalam panel surya yang mempu menyimpan gemerlap nirwana untuk bangkit dan bersinar selamanya.
Kau Luar biasa. Serupa dahsyat kau cipta kembali, namun dalam atmosfir nelangsa yang tak ku kira sebelumnya.
Kau memutuskan berhenti berevolusi mengelilingi bumiku.
Kau bilang kau lelah menjadi surya dalam terangku, atau menjelma bulan dalam gelapku.
Kau bilang kau lelah meniup angin dalam gerahku, atau meretas hangat dalam beku-ku.
Kau bilang aku labirin dengan banyak jalan buntu.
Kau bilang aku tebing dengan banyak batuan curam yang menjatuhkanmu.
Seketika badai menerpa habis setiap selku.
Kemudian dengan kejam angin menerbangkan setiap serpihanku menuju tempat yang aku sendiri tidak tahu.
Aku hanya tak bergeming, aku masih disini menunggumu memungut setiap bagianku yang berterbangan dan meletakkannya lagi dalam pelukmu. Namun ini sudah lebih dari empat-belas purnama, dimana kau berada? Tahukah kau baru saja Sang Pipit mengabarkan padaku bahwa kau telah berdua?
Sayangku, kini mereka mengatakan aku telah redup dan tak punya cahaya kehidupan. Kenapa kau meninggalkanku terpanggang kenangan?
03032013
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.22 0 comments
Labels: Coretan Kosong, Prosa, Tulisan Bebas

