Kamis, 24 Januari 2013

Pemikiran tentang Hujan



Hujan.
Siapa yang hatinya merasa 'ngenes' ketika hujan turun?
berawal dari rasa penasaran kenapa hujan bisa begitu menghanyutkan perasaan seseorang,
saya mulai browsing dan mencari alasan kenapa keduanya berhubungan sangat erat.
Tau apa yang saya dapat?
Hujan, menyimpan fakta yang paling misterius dan mengejutkan ilmuwan.
Hujan dikatakan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan masa lalu.
Hujan juga membuat perasaan kita seperti dihipnotis menjadi tenang..dan saking tenangnya akhirnya otak menjadi tenang dan badan mulai terasa ngantuk.
Namun tanpa bisa mendapatkan bukti ilmiah, para ilmuan juga menyimpulkan bahwa di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang dilanda rindu. Dan pada titik ini, Kebanyakan manusia biasanya mendapatkan inspirasi saat hari hujan.
Rata-rata disaat hujan datang semua aktifitas jadi terhenti lalu hening, ketika hening itu memicu sesorang untuk melamun sambil memikirkan sesuatu, misalnya orang yang dicintai.
Ketika bersamanya mungkin terselip sebuah kenangan yang manis ataupun pahit disaat hujan ataupun tidak, tapi rata-rata justru kenangan sedih yang muncul, dan galau pun melanda.
Perasaan ini kerap sekali dihubungkan dengan satu-satunya alasan, bahwa faktor cuaca dan suasananya yang dingin dan mellow itulah yang membuat seseorang merasa sedih ketika hujan turun.

Kalau saya, saya mengaitkan hujan dengan ketiga filsafat tentang air, yang mungkin mendukung kenapa hujan--yang notabene adalah air--begitu menghipnotis seseorang.


Pertama, air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.  Saya yakin, Tuhan menciptakan air agar manusia bisa mengambil pelajaran darinya. Menurut saya, sifat air yang selalu mengalir ke tempat rendah analog dengan sikap rendah hati pada manusia. Air selalu ingin berguna bagi makhluk hidup yang ada di bawahnya. Tapi kali ini, yang saya bicarakan bukan rendah dalam konteks rendah hati atau atau sejenisnya, tapi keadaan yang benar-benar rendah. Keadaan ketika kita down. Ketika hujan turun, mungkin percikan air-nya secara magis membawa kita dalam titik yang lebih rendah dari keadaan kita yang sekarang. Titik dimana suatu kenangan pernah menjatuhkan kita. Hujan mengembalikan ingatan kita akan kenangan-kenangan tersebut dan membuat seolah kita dilemparkan untuk merasakan lagi perasaan-perasaan pada saat itu.

Kedua, air selalu mengisi ruang-ruang yang kosong. Cobalah Anda buat sebuah kotak kedap air yang bersekat tapi memiliki celah. Kemudian isi kotak tersebut dengan air. Air pasti akan berusaha memenuhi kotak tersebut dengan wujudnya. Perlahan tapi pasti, melalui celah antar sekat, air akan mengisi kotak tersebut hingga penuh. Manusia yang baik adalah manusia yang berusaha mengisi kekosongan hati dari manusia lainnya. Tetapi ketika seseorang yang pernah mengisi hidup kita pergi, maka yang tersisa adalah ruang kosong dalam hati kita. Tempat dimana dia pernah berada. Ketika hujan turun, Hujan membawa kenangan tentang dia merembes kembali ke celah-celah kekosongan hati kita. Perlahan tapi pasti, kenangan itu menggenangi ruang kosong hati kita dengan tumpukan rindu. Rindu membawa kita kembali mengharapkan dia dan segala hal tentang dia kembali mengisi kekosongan yang kita miliki. Padahal kita tahu, harapan seperti itu tak bisa lagi menjadi kenyataan. Hati kita tak akan pernah sama lagi.

Ketiga, air selalu mengalir ke muara. Tak peduli seberapa jauh jaraknya dari muara, air pasti akan tiba di sana. Bayangkan, ada berapa banyak hambatan yang dilalui oleh air gunung untuk mencapai muara? Mungkin ia akan singgah di sungai, tertahan karena batu, kemudian bisa saja masuk ke selokan. Tapi toh akhirnya ia tetap mengalir dan tiba di muaranya. Waktu tempuh air untuk sampai ke muara sangat bervariasi. Ada yang hanya beberapa hari, tapi ada juga yang beberapa minggu. Hujan mempresentasikan kembali persinggahan kita, yang mungkin sudah kita ingkari dan hindari sekuat tenaga. Hujan membuat kenangan-kenangan tentang dia yang pergi terproyeksi kembali, dan sekejap kemudian usaha kita untuk bangkit dan melupakan kenangan-kenangan itu seolah tak berarti. Sekeras apa-pun kita mencoba, pada akhirnya kita dikalahkan oleh kenangan itu. Sejauh apa-pun kita pergi, ternyata kita tak bergerak 1 senti-pun dari kenangan-kenangan itu. Selama apa-pun kita berusaha tak mengungkitnya lagi, pada akhirnya kita akan tetap ingat tentang dia yang pernah ada disisi. Dan kenangan tentang dia yang pergi kembali menghantui, menyadarkan kita bahwa kita memang tak pernah bisa benar-benar pergi.

Hujan meresonansikan ingatan masa lalu, dan menyanyikan lagu bagi mereka yang hatinya sedang merindu..

Minggu, 20 Januari 2013

Biarkan Kerikil..

Biarkan kerikil itu
tetap didadaku
Biarkan kerikil itu
mengusam dan berdebu
Seiring berjalannya waktu
Biarkan dengan kerikil itu
aku hapus
Sebuah nama yang tlah lekat,
pekat,
dihatiku...

Namamu.

Andai Semua Orang (Mau) Berpamitan


Malam ini, semuanya tengah terlelap dalam mimpinya masing-masing, dan aku masih terjaga.
beberapa teman membuka tab percakapan, tapi hingga pada detik ini semuanya berpamitan memenuhi hak tubuhnya.
Walaupun pada akhirnya semuanya menjadi hening dan membawa dingin merasuk lebih dalam ke setiap ceruk lamunanku,
aku bersyukur kalau mereka sempat mengatakan padaku kalau tak bisa menemaniku.
Sehingga aku lebih siap untuk tenggelam dalam kesunyian seperti ini, sendiri.
Ah, andai saja semua orang mau berpamitan,
mungkin rasa sepi yang datang tiba-tiba bisa sedikit tertawarkan.

Hanya saja rasa kecewa sejenak menyergap, ketika seseorang yang kusapa mematikan obrolan secara tiba-tiba.
bahkan tanpa jawaban sebelumnya.
Seolah kata 'hai' yang kutulis hanya menghabiskan setiap detik berharga yang mereka punya.
Secercah harap bahwa bisa meretas rindu lama tak berjumpa seketika dipupus begitu saja.
membuat endapan yang mengganjal untuk dilupakan keberadaannya.
Ah, andai saja semua orang mau berpamitan,
mungkin kesepian yang menjajari detak malam ini sedikit tertiriskan.

Andai, setiap orang mau berpamitan,
mungkin tak terhitung berapa kesakitan orang lain yang dapat terhindarkan.
Namun mungkin semua orang tak menyadari,
seberapa penting mengucapkan salam sebelum mereka pergi.
Begitu mudahnya mereka memulai percakapan kemudian mengakhirinya.
padahal mungkin deretan balasan telah dinanti oleh lawan bicara.
padahal mungkin deretan balasan adalah sesuatu yang berharga untuk lawan bicara.
mungkin kemunculannya secara tiba-tiba adalah suatu hal yang menyenangkan,
seolah rindu yang tertahan dapat segera terlampiaskan.
Tetapi tidak lagi jika kau pergi tanpa memberi salam perpisahan.

Seperti malam ini.
Lambaian perpisahanku tak sempat lagi menjadi sesuatu yang berarti,
karena kau tak sedetikpun mencoba peduli.
Apa kau menyadarinya?
Tidak. Aku tau persis apa yang kau rasa.
Tak kan mungkin kau merasakan hampa,
jika memang belum mengalaminya.
Hampa yang sama seperti yang kurasa.
Ah, andai saja semua orang mau berpamitan,
mungkin segala hiruk-pikuk yang sekejap berganti tanpa suara bukan menjadi sesuatu yang menyiksa.

Ah, andai semua orang mau berpamitan,
mungkin rasa sakit akan kedatangan dan kepergian yang mendadak bukanlah hal yang melukai jiwa.

Andai saja..
Andai saja semua orang mau berpamitan,
kesedihan akan perpisahan mungkin sedikit teratasi, walau tak mungkin dihindari..


Aku Janji, Aku akan Benci Kamu


Aku janji.
Aku akan benci kamu.
Mungkin saat ini aku belum bisa, tapi aku berjanji, suatu saat nanti aku akan benci kamu.

Aku janji akan benci kamu karena kamu menancapkan duri disetiap rintik hujan yang turun,
dan tak pernah sekalipun menerbitkan pelangi setelahnya.
Karena itu, aku berjanji, suatu saat aku akan benci kamu.

Aku janji akan benci kamu karena kamu tau bahwa terang takkan pernah datang,
tapi kau selalu meyakinkanku untuk tak berhenti berharap.
Karena itu, aku berjanji, suatu saat aku akan benci kamu.

Aku janji akan benci kamu karena kamu tidak pernah melakukan apa-apa.
dan pura-pura tidak tau apa-apa.
seolah memang aku tak merasakan apa-apa.

Aku janji akan benci kamu, karena kamu selalu memupus mimpi-mimpiku yang berwarna.
Padahal kamu yang membuatnya bersemi sedemikian rupa.
Karena itu aku janji, suatu saat nanti aku akan benci kamu.

Aku janji akan benci kamu.
Mungkin saat ini aku belum bisa, tapi aku berjanji, suatu saat nanti aku akan benci kamu.
Sebesar rasa ini ke kamu.


Jumat, 11 Januari 2013

Jam Senyummu


(Prosa ini ditulis ketika proses pengerjaaan UAS Manajemen Kelas, 11 Januari 2013, 08.45 AM.)

Mungkin ini bukan kali pertama waktu mengukir cerita tentang kamu.
Kebisuan benar-benar bukan hal yang kucintai. Tak pernah sama sekali.
Derak meja, gesekan kertas, dan derit gores alat tulis, serta hembus angin diluar sana
menyenandungkan nada-nada yang kusimpan gemanya sedalam yang aku bisa.
Mereka bergerak bebas diruang hampa, berbenturan dengan momentum-momentum harmoni wajah pemikir yang terpampang dimana-mana
beradu menerjemahkan kata, berlomba menulis tafsir pemahaman mereka.

Aku juga terkungkung dalam tiga perempat waktu yang tertera.
Telisik merdu mereka menggairahkan lamunanku.
beberapa waktu yang lalu, kekekalan hampa bertahta hingga detik ketiga,
yang setiap detiknya menghipnotis semesta memperlambat lalu percepatan berlalunya.
Kau tersenyum, ku tersenyum, dan lorong yang kita lalui menjadi temaram..
Kau memandang, aku memandang, dan sekeliling menjadi benderang..
Saling tertawa seolah tak ada apa-apa, dan keterlambatan masa hanyalah cara Tuhan mencipta bahagia untuk hamba-Nya.

Meski lajunya melambat, tetapi tak bisa dipungkiri akan tetap tiba pula pada akhirnya.
Dan sudut jarum.. menyudahi cerita kita.


Tanpa Makna


(Prosa ini ditulis ketika dalam proses pengerjaan UAS Pendidikan Kewarganegaraan, 9 Januari 2013, 11.09 AM)

Barisan soal-soal mengabur begitu saja, seiring denting jarum jam menyanyikan rotasinya.
edaran pandanganku bertumbuk pada sosok-sosok yang khusyuk memandangi lembaran-lembaran tak berarti,
menyesapi labirin-labirin teori yang tersimpan rapi.
Gores penaku beradu dengan kertas, tapi bukan jawaban yang kusebar diatasnya.
Gores penaku mengalun menggambarkan huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan semuanya tersungkur dalam tanda tanya.
Sedang apa kau disana? Apa kau juga sedang berkiblat pada rangkaian pertanyaan yang memuakkan ini?
Ah, dasar rasa. kau juga yang berkuasa.

Ribuan detik bergelut dengan diorama kemelut tanya jawab monoton seperti ini benar-benar membekukan sistem kerja logika.
Aku hampir gila karenanya. Aku mulai lelah berbicara teori. Tuan omong kosong yang membodohi diri sendiri.
Aku berharap senyummu jadi anestesi yang menawarkan rasa jengahku.
Tapi kau, berbatas dinding yang menelan ragamu, juga tengah dibuai jajaran karangan.
Ah, dasar kau. kau juga sedang memenjarakan dirimu dalam susunan kata rupanya.

Aku, dan mereka --wajah-wajah yang berkerut itu--, bergumul dengan urusan-urusan dunia tanpa makna seperti ini.
Berharap prosa-prosa seperti ini jauh lebih bisa membicarakan makna.
Apa pentingnya buku-buku yang kucumbu sepanjang malam?
Berapa harganya tulisan-tulisan itu sekarang?

Isi otakku terburai begitu saja dan akan berakhir di tempat sampah atau tergeletak di meja-meja mereka.
Apapun takkan terbaca kecuali nama.
Kemudian standar indikator fiktif yang kuterima cukup untuk membuat hatiku menggembung berbangga.
Mungkin isi hatiku dihadapanmu sama nasibnya dengan itu semua ?
Ah, aku berkerumun dengan jelaga!

Mati saja.

Senin, 07 Januari 2013

Biarkan Awan itu Berwarna Merah Jambu


(Cerita ini ditulis ketika masih dalam proses pengerjaan UAS Strategi Pembelajaran. 8 Januari 2013.)

Aku menengadahkan kepala, menikmati setiap belai angin yang mengantarkan awan berarak melaju,
menuju ke suatu tempat yang mungkin mereka sendiri belum tau.
Seperti aku.
Kalimat-kalimat yang menyesakkan otakku berarak dan kujejer rapi membentuk prosa tentang 'Kamu',
yang aku sendiri tak tau siapa kamu yang kumaksud.

Aku hanya berfikir, apakah dijalan awan-awan itupun menemui persimpangan?
Kalau ada, kemana mereka membelokkan jalannya? atas dasar apa?
Atau mungkin hanya aku yang tengah berada dalam persimpangan, di masaku menjalani kodratku sebagai manusia.
Aku belum tau harus menuju kemana atau ke siapa. Lalu kenapa aku harus berada disana.

Awan itu berarak, melampaui jarak, meretas waktu yang dalam beberapa saat mungkin melebur putihnya menjadi kelabu.
dan mereka akan marah, menggertak dunia dengan petirnya. Atau detik selanjutnya berduka mengguyurkan ribuan rintik airnya.
Atau akupun begitu?
sebagai manusia kita tak mungkin tercipta hanya dalam kondisi bahagia. Suatu saat-pun kita akan mengucurkan hujan tanda berduka,
atau menggelegarkan petir sebagai tanda murka. Bisa saja.
Kita ini manusia.

Tapi aku belum pernah menemukan awan merah jambu menghiasi angkasa. Disitulah tanyaku mulai mendera. Jika awan merah jambu tak ada, mengapa aku ingin sekali melukisnya? kenapa aku ingin sekali mengganti mendung yang gelap dangan awan merah muda yang ceria?
Kalau belum pernah ada, mengapa hasratku berbisik tentangnya? Mengapa dia menjelma menjadi sesuatu yang kudamba?

Sungguh, awan-awan itu ingin sekali kusingkirkan, dan menggantinya dengan warna yang lebih lembut.
Sebagaimana dua insan yang harusnya tercipta saling bersambut.
Tapi aku bukan pencipta. Aku tak bisa mencipta bahagia dengan merubah ketetapan-Nya.
Awan beranjak pergi, aku berharap dia sampai ditempatmu berdiri.
Kamu, yang ingin segera aku ketahui.


Malam


Setiap sel udara malam mempresentasikan bayangmu,
membentuk sedikit demi sedikit susunan sosokmu yang mengelabu, kemudian mengabur dan membawa serta isi hatiku yang terburai,
tercerai-berai dalam hembus angin yang menarikan kerinduan.
Ingin sekali kutahan lajunya, tapi pada akhirnya aku membiarkannya terbawa.
Dan kubiarkan jatuh dalam tiris bening genangan sisa hujan yang memantulkan sinar rembulan.

Setiap gurat cahayanya, dalam sela-sela dedaunan, rembulan memantulkan wajahmu dalam bias peraknya.
Mengatakan padaku bahwa setiap lekuknya semakin dalam, membentuk ceruk-ceruk yang tanpa kusadari semakin terisi.
Ingin sekali kutahan dan kutumpahkan kembali, tapi pada akhirnya aku membiarkannya terpenuhi juga.
Dan kubiarkan semua do'a-do'a luber mengiringinya dalam kekakuan yang selalu kubanggakan.

Aku kembali terpekur dan berfikir, apa aku telah jatuh ke samuderamu?
tenggelam dan meminum asinnya airmu yang membuatku semakin haus dan semakin ingin meneguk tiap aliranmu?
Atau aku terlalu sibuk dengan keangkuhanku dan terlupa, bahwa sekuat apapun benteng yang kubangun pada akhirnya akan lebur dikehendak-Nya.
Melalui seseorang yang dikirim Tuhan untuk memembusnya. Membawaku dengan lembut untuk kembali kepada-Nya.

Jikalau memang ada seseorang yang menerapkan gravitasinya padaku dan berhasil menarikku keluar dari dunia khayalku, aku berharap dia adalah orang yang akan melayang bersamaku ketika tak ada lagi batas yang menahanku tetap berpijak dan bergumul dengan semu.
Dengan begitu aku takkan menyesal, jika harus terjatuh dan tertahan mengendap selamanya.
Apalagi untukmu.

Hujan Turun Kesekian Kalinya


Hujan turun lagi.
Entah karena memang sedang musim hujan, atau memang hujan tengah ikut turut menyuarakan perasaanku, aku tak tau.
yang jelas hujan turun lagi.
Dan kali ini aku tak mau membicarakan kesedihan.

Banyak sekali yang bertanya padaku, kenapa aku terlalu terinspirasi dengan hujan, kenapa aku selalu menulis tentang hujan, atau kenapa ceritaku selalu seputar hujan.
Biasanya aku hanya tersenyum. Tapi sekarang aku sedikit ingin bercerita.
Hujan selalu ada, bahkan ketika aku tidak memintanya kepada Tuhan.
Hujan selalu disana, saat aku memnghadapi bagian-bagian sulit di hidupku.
Hujan pernah membuatku tidak tidur dan mengguyurku selama tiga malam berturut-turut dan membawaku memasuki bangsal disuatu rumah sakit, membuatku terpana akan ketulusan luar biasa yang kuterima.
Hujan pernah menjadi saksi aku tertawa dan mulai percaya padanya, dan kemudian menjadi saksi ketika semuanya berakhir pula.

Hujan selalu disana, membuatku merasakan banyak sekali perasaan ketika detik melodinya terlantun bersama suasananya.
Syahdu.
Sekarang aku mungkin sedang jatuh cinta.
Tapi aku tak ingin memikirkan apakah hujan akan membawa cintaku keakhir yang menyenangkan seperti pelangi yang datang setelah kedatangannya,
atau hujan akan membawanya ke akhir yang menggertakkan seluruh daya seperti petir yang menghancurkan kicau tetesan airnya.
aku tak ingin memikirkan itu.

Aku hanya ingin hujan mengatakan sesuatu yang mungkin takkan pernah kukatakan.
Aku hanya ingin hujan mengatakan tentang kerinduan.
Kerinduanku menyapa kembali cuaca yang cerah dan bunga yang merekah.
Kerinduanku tuk kembali menatap kesegaran dedaunan yang basah.

Hujan selalu disana, membuatku merasakan banyak sekali perasaan ketika harmoninya terdengar oleh jiwaku yang tersentuh relungnya.
Tapi aku tak mau memikirkan bagaimana hujan membawa sejuta kenyataan tak menyenangkan yang harus kuhadapi.
Aku tak mau memikirkan bagaimana hujan membuatku melihat titiknya menghantarkanmu berlari menjauhi.
Aku tak ingin memikirkan itu.

Aku hanya ingin hujan menyapa kembali jiwaku yang bersemi.
Aku ingin hujan menyapa do'a-do'a yang kupanjatkan kepadaNya sepenuh hati.
Aku ingin hujan menyapa mimpi-mimpi yang kuukir bersama mentari.
Do'a-do'a dan mimpi-mimpi yang kutulis dengan menyelipkan namamu diantara untaianya.
Do'a-do'a dan mimpi-mimpi yang aku ingin Tuhan meridhainya.

Aku mungkin sedang jatuh cinta, dan aku ingin, hujan mendengar ceritanya.
Melipatnya menjadi dongeng indah sampai suatu saat kita bisa membacanya, bersama.

Aamiin.

Sabtu, 05 Januari 2013

Tiba-tiba Aku Membenci Hujan


Yuna merasa pusing. Bukan karena dia dikejutkan oleh amplop tanpa nama pengirim yang diterimanya pagi ini, tetapi karena dia menghabiskan waktunya untuk terguyur hujan bersama Ardyan semalam. Yuna mengangkat bahu. Dia menarik kursi, membuka amplop surat kalengnya, kemudian membaca isinya.

Mungkin, aku bukan satu-satunya orang yang justru pikirannya ramai dalam keadaan sepi. 
Kalimat-kalimat itu berdengung bising, ingin dilontarkan, tetapi aku hanya tenggelam dalam kebekuan.
Terdiam menatapmu.

teringat, kalau sebenarnya aku sudah terlalu banyak menulis tentang hujan, dan tiba-tiba aku bosan.
Tiba-tiba aku benci sekali pada hujan.
Bgaimana hujan membuatku menulis sejuta kalimat tentangmu, tetapi hujan membuatmu menulis berjuta kalimat untuk orang lain.
Aku terlalu cemburu hujan yang bahkan bisa menarikmu dari duniamu, sekaligus membuatmu terbenam dalam bagian lain duniamu sendiri,dan hadirku makin tak kau sadari.
atau aku juga lelah, melihatmu terombang-ambing dalam suasana hujan dan kehilangan senyummu yang sebelumnya selalu untukku.

Sebelum hujan turun semuanya milikku.
tetapi seiring kedatangannya, siluet bayangan yang tak kukenal mengambil alihmu dariku.
Aku benci sekali. 
Siapa dia? sampai dengan mudahnya mengambilmu dariku? padahal aku bersusah payah, melakukan segalanya untuk satu saja lengkungan dari bibir manismu.
Dan seiring hujan tiba, tiba-tiba saja dia merenggut senyummu menjadi gurat kegalauan. Galau karena dia yang bahkan, namanya saja tak kuketahui.
Ingin sekali aku berteriak dan memaki hujan. 
Ingin sekali aku membuangnya jauh dari hidupmu.

Sebelum hujan turun semuanya milikku.
Ceriamu, tawa renyah dan gurau candamu.
tetapi seiring hujan turun, kau kembali duduk terpekur dan menatap kejauhan. 
mengatakan padaku kalau hujan membuatmu teringat masa-masa yang telah lalu.
Tiba-tiba aku membenci hujan. Bagaimana dia membuatku tak berdaya untuk menahanmu tetap ceria.
Hujan membuatku tak berdaya menghalau bayangnya merasuki setiap relung hatimu yang kurambati dengan susah payah.
Siapa dia? Bolehkah aku membunuhnya? sekalipun kau mencintainya?

Tiba-tiba aku membenci hujan.
Seiring kedatangannya membuat aku terlalap amarah. 
Katakan padaku, Apa yang harus kulakukan agar Hujan tak lagi membawa namanya kembali ke celah-celah hatimu?
Apa yang harus kulakukan agar Hujan berhenti mengingatkan segala tentangnya dan menggantinya DENGANKU?

Hujan pertama yang kulalui denganmu di tahun ini.
Ardyan.

Yuna mendesah pelan.
Bagaimana ini?

Es Krimku Mencair..


Yuna berulang kali melirik jam tangannya, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman kota tempatnya menunggu.
Harusnya kamu datang tiga jam yang lalu, bisiknya dalam hati.
Tangan kirinya menggenggam plastik hitam yang sedari tadi dibawanya. sedangkan tangan kanannya berulang kali memencet ponselnya.
Tidak ada jawaban. Tidak bisa dihubungi.
'Yulian, kamu kemana sih? katanya mau es krim.' dengusnya kesal.
Dia berdiri, berjalan gelisah dan mengehempakan kembali tubuhnya di kursi.

Yuna menunduk. Dipelupuk matanya timbul lapisan air yang mengaburkan pandangannya.
tangannya meremas plastik hitam yang digenggamnya. sejurus kemudian butiran-butiran bening jatuh membasahi jilbabnya.
Yuna berdiri dan melangkah pergi. Putus asa sudah dia menunggu.

***

Langit siang selalu panas, apalagi di daerah tempat tinggal Yuna.
tapi angin sepoi-sepoi juga berhembus menerpa jilbab cream-nya ketika dia duduk di rerumputan taman kota.
'Pulanglah.', kata Yulian
Yuna menoleh. Dia terkejut melihat Yulian yang tiba-tiba berada dibelakangnya. Tapi dia hanya diam.
'Pulanglah.' ulang Yulian lebih keras.
Yuna bergeming.
'Yun, pulanglah.' kata Yulian lagi. kali ini lembut sekali.
'Apa pedulimu?' tanya Yuna
'Pulanglah. sudah siang. panas.' Kata Yulian.
'Kemana kamu kemarin?' Yuna bertanya lagi.
'Pulanglah Yun. atau mau kuantar? Yulian balik bertanya.
'Kamu nggak jawab pertanyaanku.' sahut Yuna
'Aku datang!' teriak Yulian tiba-tiba
'Bohong! aku disana sampai tiga jam. Kamu nggak datang!' Yuna berteriak pula.
beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka. Yuna memalingkan muka tidak peduli.
'Aku datang.' kata Yulian.
'Ketika kau pulang aku datang'. lanjut Yulian lemah.
'Kau selalu begitu. Datang disaat tak tepat..' Yuna berkata lirih, tapi cukup keras untuk didengar Yulian.
Yulian tercekat. Ras nyeri mendadak menjalar direlung hatinya.
Yuna bangkit dan berjalan pergi.
'Aaaargh.' Yulian hanya bisa mengeluh dan menghempaskan tubuhnya ke atas rerumputan.

Tak lama kemudian Yuna kembali.
Yulain segera bangkit.
'Ini.' kata Yuna.
'Apa ini?' tanya Yulian
'Es krim.' jawabnya singkat.
Yulian membuka plastik hitam tersebut, kemudian terkejut ketika cairan coklat lengket tumpah dari dalam plastik itu.
Yulain memandang Yuna tak mengerti.
'Itu es krim kemarin. Es krimku yang kemarin. Seharusnya bisa kau nikmati. Tapi kamu membiarkannya mencair. Kamu membiarkan es krimku mencair..'
Yuna terisak.
Yulian makin tak mengerti.

'Es krim. walaupun dingin, tapi lembut dan rasa manisnya bisa kau nikmati. tapi kamu memilih membiarkannya mencair. Hingga rasa manisnya tak lagi bisa kau nikmati. kecuali kalau kau membeli es krim yang baru..'
Yuna makin terisak.
'Nah, bagaimana kalau es krim itu aku? Aku menunggumu kemarin. Aku ingin bicara. Aku ingin memberitahumu kalau... kalau keluarga Arya akan datang melamarku kemarin malam. Tapi kamu selalu begitu. Kamu datang disaat tidak tepat.. dan.. semua terlambat..'
Yuna susah payah melanjutkan bicaranya, kemudian menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya.
Yulian hanya bisa terdiam.

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir