Minggu, 21 April 2013

Mempertanyakan Alasan


Yuna melempar kuat-kuat sebungkus es krim yang diterimanya dari Yulian.
Yulian tercengang.
'Kenapa kamu buang, Yun?'
'Aku nggak suka.' Jawab Yuna tandas. Yulian memandang dengan hati pedih.
'Sejak kapan kamu nggak suka es krim?' Tanyanya lirih.
'Sejak kamu bikin kesalahan besar. Aku memutuskan untuk tidak lagi mengunyah bongkahan krim padat menjijikan seperti itu.'

Yulian tertegun. Dia masih berusaha menguatkan hatinya menerima cecaran kata-kata tak berperasaan yang dilontarkan Yuna. Yuna masih diam dengan ekspresi beku.
'Baiklah. Kamu mau apa?' Tanya Yulian. Yuna mendongak, menatap Yulian yang terpaut 15 cm dari tinggi badannya, kemudian tersenyum sinis.
'Aku tidak mau apa-apa. Tidak kehadiranmu, tidak ribuan es krim yang kau bawa, atau apapun. Aku tidak butuh apapun.'
Yulian gusar. Dia mulai kehabisan kesabaran.
'Kamu ini kenapa, Yun? Kenapa mendadak aneh begini?'
'Aku tidak aneh.' Yuna menyahut datar.
'Terserah kau saja. Aku lelah!' Yulian akhirnya beranjak meninggalkannya. Yuna hanya memandang.

Sepeninggal Yulian, Yuna menghela nafas. Memandang nanar kearah es krim kesukaannya tergeletak. Hatinya perih.
Tidak. Aku tidak harus menyukainya.
Yuna mengulang kalimat itu dalam hatinya. Berulang kali, hingga kalimat itu hanyalah sebuah kalimat. tanpa makna. Hilang dalam riuh rendah gejolak hatinya.

***

Malam itu, Yuna turun dari motornya dan merapikan jilbabnya.
Dia memandang sekilas dari kaca spion, memastikan agar tak ada yang terlewat dari penampilannya. Dia ingin terlihat sempurna.

Yuna melangkahkan kaki memasuki minimarket dengan riang. Dia berencana membeli beberapa es krim untuknya dan Yulian.
Sambil memilih es krim kesukaan Yulian, dia tersenyum. Membayangkan tawa Yulian benar-benar membuatnya senang. Yuna berjalan memutar, sambil menimbang, kira-kira apa rasa es krim kesukaan Yulian.

Malam itu gerimis mengguyur pelan, menyisakan uap-uap air di kaca mini market. Tak banyak orang yang berada di mini market, tapi itu justru membuat Yuna leluasa. Dia tak pernah suka keramaian.

Sejenak Yuna berfikir : apakah keputusannya membeli es krim di saat hujan tidak akan membuat Yulian flu nantinya? Tapi ah, es krim selalu nikmat dinikmati. Walapun suasana sedang hujan sekalipun.
Apalagi Yulian sedang banyak beban pikiran. Es Krim cokelat ini pasti bisa membuatnya sedikit rileks.
Yuna berdiri beberapa saat di depan kotak penyimpanan es krim, hingga akhirnya memilih 2 buah es krim rasa cokelat.

Yuna mengancingkan jaketnya lebih rapat, memasang tudungnya, kemudian beranjak membuka pintu mini market. Beberapa percikan hujan menetesi wajahnya.
Yuna refleks memalingkan muka, dan dilihatnya Yulian sedang memarkir motor. Yulian.
Yuna tersenyum. Semestanya seketika berwarna. Seolah hujan sudah berhenti dan langitnya serupa pelangi.
Hanya saja senyumnya tak berlangsung lama. Seper-sekian detik kemudian Yuna melihat bahwa ternyata Yulian tak sendirian. Dia bersama seorang gadis yang dia kenal. Refleks, Yuna merapatkan tubuhnya ke tiang penyangga mini market yang 3 kali lebih besar dibanding tubuhnya. Berusaha agar Yulian tak melihatnya.

Yuna masih terus memandangi Yulian yang berjalan sambil mengucek rambut gadis yang sedari tadi bersamanya.
Bayangan tubuh mereka terus berjalan tanpa menyadari kehadiran Yuna, dan baru berhenti didepan boks es krim tempat Yuna berdiri beberapa menit yang lalu.

Yuna tersenyum, kemudian mencantolkan plastik belanjaannya yang berisi dua buah es krim di stang motor Yulian. Membiarkan rintikan hujan yang mengenai plastiknya menimbulkan bunyi gemerisik lembut dengan irama yang konstan.

Yuna mengambil kunci, menghidupkan motornya, kemudian memacunya menerobos keremangan malam dan tirai hujan.

***

Yuna menghela nafas.
Dia menyukai es krim bukan sekedar suka. Tapi es krim adalah bagian lain dari dirinya.
Es krim adalah tanda kebersamaannya dengan orang-orang yang dia sayangi.
Satu-satunya sarana berbagi isi hati kepada orang-orang di sekitarnya.
Satu-satunya cara yang dia buka untuk menerima kehadiran seseorang dalam hidupnya.

Ini kali kedua es krim yang dia berikan untuk Yulian mencair sia-sia.
Dia memutuskan untuk tidak lagi menerima atau memberikan es krim setelahnya.

02042013

1 comments:

Anonim mengatakan...

yulian = yulianto wibowo

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir