Rabu, 27 Februari 2013
Sepucuk Surat Untukmu (lagi)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 16.26 0 comments
Labels: Prosa, Tulisan Bebas
Aku (tidak) Mencoba Bicara Padamu
Aku tidak akan mencoba berbicara denganmu, karena itu akan membuatnya sangat rumit dan aku tak ingin menambah atau terlibat dalam kerumitan lagi.
Jadi cukuplah aku merasakan semuanya sendiri, menutup sekecil apapun celah dan memplesternya dari kebocoran yang mungkin terjadi.
Maaf aku tak mencoba bicara denganmu, karena itu akan membuat semuanya menjadi menjadi labirin dan mengurung pembicaraan kita untuk mencapai jalan keluar.
Jadi cukuplah bertindak seolah tak terjadi apa-apa, dan aku akan beringsut sedikit demi sedikit untuk keluar dari kotak tentang kita.
Maaf aku bertindak seolah aku pengecut. Tapi kukira aku jauh lebih berani dengan memilih merasakan semuanya sendiri, dan mengambil resiko bahwa semuanya akan jauh lebih berat dibanding aku membaginya dengan orang lain.
Aku tidak akan mencoba mengatakan padamu. Namun jika benar semua ini tentang kamu pasti kamu akan menemukan petunjuk yang tercecer dibanyak tempat tanpa ku sengaja.
Maaf jika aku membuatnya terlihat semakin sulit untukmu, padahal sebenarnya tidak. Tidak akan ada yang sulit, karena tiba-tiba ratusan syaraf di otakku mengatakan bahwa kamu akan baik-baik saja.
Kamu akan tetap baik-baik saja. Aku cukup bisa melihatnya.
Kamu akan tetap baik-baik saja karena kulihat sudah ada banyak orang yang akan menyanggamu ketika kamu terjatuh.
Kamu akan tetap baik-baik saja karena kulihat sudah ada banyak alasan untukmu tersenyum ketika lengkung bibirmu tertekuk kebawah.
Maaf aku tak mencoba bicara denganmu. Karena itu akan membuatmu mendapat kesulitan baru, dan aku tak ingin kau begitu.
Aku tidak akan mencoba berbicara denganmu, karena itu akan membuat angin terasa bertiup terlalu kencang dan aku akan roboh dengan mudahnya.
Jadi cukuplah aku merasakannya sendiri, menutup sekecil apapun celah dan memplesternya dari kebocoran yang mungkin terjadi, agar aku, atau kau tetap bisa tegak berdiri.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 16.25 0 comments
Labels: Prosa, Tulisan Bebas
Embun Pagiku
Selamat pagi,
Dia yang matanya sejernih embun ini
Kuharap masih sama teduhnya,
memantulkan bias semangat yang sedang tak bisa kuselami kedalamannya
Aku tak bisa merangkaikan kata-kata untuknya lebih dari ini,
Tapi kuharap, jika dia melihat embun setiap pagi itu cukup mengingatkannya padaku,
orang yang menyamakan matanya dengan itu.
Selamat pagi,
Dia yang matanya sebening embun ini
Kuharap masih sama murninya,
memantulkan doa-doa kepada Sang Pencipta, bahwa aku--atau dia--tetap tunduk pada apa yang digariskan oleh-Nya
sekalipun yang mampu terjalin hanya milyaran kata.
merangkai serutan-serutan kerinduanku padanya.
Aku tak bisa menghiburnya lebih dari ini,
Tapi kuharap, jika dia lihat embun setiap pagi itu cukup menguatkannya daripadaku,
orang yang mengirimkan setiap lembar buku doa untuknya.
Ibu.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 16.24 0 comments
Labels: Prosa, Tulisan Bebas
Gap Kita
Halo, kamu.
Iya, kamu.
Kamu yang tertumpuk ribuan lembar cerita lain hidupku.
Kamu yang tergilas jutaan detik perputaran jarumku.
Aku berharap, sekalipun diafragma ini sedang berubah fokusnya kamu tetap menjadi salah satu angle view favoritku.
Salah satu.
Karena kamu bukan satu-satunya lensa yang kupunya,
dan jalan ini bukan satu-satunya tempat indah untuk mengambil sebuah gambar untuk album foto kita.
Maka satu-satunya yang kuharapkan adalah ini bukan tentang sebuah polemik egoisme diri.
Bukan tentang aku yang berotasi sendiri dalam orbitku, atau kamu yang terpaksa berevolusi tanpa aku.
Bukan itu.
Kita masih bersama, hanya sedang tak terlihat berdua.
Bisakah kau memahaminya?
Dan bahkan setiap kata dalam jalinan kalimat ini-pun ada spasi yang memisahkan mereka.
Apalagi kita?
Jika boleh, aku meminta,
Mungkin sekarang--atau kapanpun--kita sedang berada dalam spasi, kuharap itu hanya memisahkan cara penulisan kita. Bukan makna siapa kita.
Bisa?
Posted by Kharissa Widya Kresna at 16.23 0 comments
Labels: Prosa, Tulisan Bebas
Kamis, 14 Februari 2013
Jengkal Jarak.. (Part III)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.40 0 comments
Labels: Cerpen, Tulisan Bebas
Selasa, 12 Februari 2013
Jengkal Jarak (Part II)
Yulian mengusap wajahnya yang basah untuk kesekian kalinya. Setiap wajahnya mulai kering dia segera mengguyurnya lagi di kran air. begitu seterusnya hingga hampir setengah jam.
'Yul, wudhu ratusan kali itu nggak bakal bikin kamu tenang kalau belum sholat.' Andre menepuk bahu Yulian.
Yulian kaget dan tergagap. Saking kagetnya air kran tanpa sengaja memasuki tenggorokannya.
Yulian mendongakkan kepala dengan kesal.
'Kamu nggak bisa permisi dulu apa sebelum ngomong? kamu pikir kesedak air kran itu hal yang keren gitu?' Yulian melemparkan raut muka penuh peperangan. Andre mengangkat bahu.
'Mungkin saja kan tahun ini bakal ada kontes menelan air kran terbanyak. Kamu bisa menang Yul..' Kata Andre sambil mendahului Yulian meninggalkan tempat wudhu.
Yulian mendelik.
Yulian menghempaskan dirinya ke dinding. Dia memandangi murid-muridnya yang bermain dengan riang di halaman sekolah. Beberapa tampak ceria bermain lompat tali dengan karet gelang yang disusun memanjang, beberapa tampak beradu mulut memperdebatkan siapa yang curang ketika bermain. Yulian tersenyum. Anak-anak memang selalu menunjukkan hal lucu yang menakjubkan. Kalau saja dia dan Yuna nantinya menikah, apakah anak-anak mereka akan selucu itu?
Yulian tertegun dan merubah cara duduknya. Dia merasakan seluruh tubuhnya menegang. Dia mengerjapkan matanya, berusaha menelaah pikirannya sendiri. Dia kaget dengan apa yang dipikirkannya barusan. Sejak kapan dia mulai melantur?
Yulian bergegas mengambil ponselnya dari saku. Dia hampir lupa kalau tadi mengirimkan pesan kepada Yuna. Apakah Yuna membalasnya? Apakah pesan yang dikirimnya bukannya memperbaiki hubungannya dengan Yuna tetapi malah semakin memperburuknya? Apakah Yuna justru marah besar dan menganggap dia hanya menggodanya?
Yulian terdiam sebentar, meredam kebisingan anggapannya sendiri yang terus berkecamuk di otaknya. Dilayar ponselnya tertera nama Yuna lengkap dengan balasan pesannya.
Aah..
Yulian mendesah.
Mencintai adalah sesuatu yang sulit ketika sudah begini keadaannya. Hal-hal kecil yang tampak tak berarti justru menjadi sesuatu yang besar dan sulit dipahami.
Apa artinya jika dalam setahun dia belum bisa melupakan Yuna?
Apa artinya jika dalam setahun dia masih berharap Yuna memiliki perasaan yang sama?
Seandainya malam itu Yuna tidak memutuskan hubungan mereka tepat sehari sebelum dia dan orangtua-nya mendatangi rumah Yuna, akankah semuanya terasa jauh membahagiakan?
Yuna menyerah. dia menggeletakkan ponselnya begitu saja dan tidak menyentuhnya sama sekali. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya dan membuat Putri menatapnya dengan tatapan curiga. Yuna bukannya tidak menyadari, hanya saja dia belum sempat menghadapi pertanyaan Putri yang pasti akan memberondongnya tanpa ampun.
Putri pasti akan terus menanyakan mengapa, dan aku belum tahu harus menjawab apa. Pikir Yuna. Dia mendengar Putri berbicara tapi tidak bisa berkonsentrasi pada apa yang dibicarakannya, hingga Putri menariknya keluar dari dunia lamunan dengan mencubit tangannya keras-keras.
'Aduh!' Pekik Yuna. Putri menatapnya dengan mata melebar. Sejenak Yuna takut mata sahabatnya itu akan mencuat keluar.
'Kamu itu kenapa sih Yun?' Ujar Putri kesal. Yuna mengusap-usap tangannya yang pedih bekas dicubit Putri tadi.
'Nggak papa. Kamu nggak bisa ya lembut dikit?' Kata Yuna kesal. Putri mendengus.
'Itu nggak seberapa Yun. Bisa lebih sakit, kalau kamu nggak mau cerita apa yang menjadi masalahmu.' Putri menegaskan.
Putri tahu, Yuna adalah tipe orang yang akan langsung bercerita jika ceritanya itu membahagiakan, tapi cenderung menyimpan rapat-rapat kalau itu membuatnya sedih.
Yuna menghela nafas. Tatapannya meredup. Putri secara defensif menepuk bahu Yuna, sekedar memberinya aliran kekuatan. Tidak masuk akal memang. Tapi apa salahnya dilakukan? Yuna kan sedang membutuhkan dukungan.
'Aku tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak menyangka, kalau sebuah sms dari Yulian bisa benar-benar membuat cuaca hidupku berubah. Sebegitu berartikan dia untukku?' Pertanyaan Yuna terdengar mengambang. Putri yakin pertanyaan itu lebih ditujukan Yuna kepada dirinya sendiri ketimbang kepada Putri.
'Yulian menghubungimu?' Tanya Putri. Yuna mengangguk samar.
'Aku takut dia kembali.. Maksudku kenangan tentang dia kembali.' Yuna merasakan nada tidak yakin dalam suaranya. Dia takut Yulian kembali atau justru mengharapkan Yulian kembali?
Yuna memeluk lengannya sendiri. Bukan kali pertama harapan itu menyembur dengan dahsyatnya ketika sebuah pesan pendek Yulian bertengger di kotak masuknya. Lalu tanpa ampun harapan itu gugur begitu saja ketika Yulian tak lagi mengirimkan pesan balasan ketika dia membalasnya.
Apa memang hati perempuan selalu serapuh ini? Atau Yulian yang terlalu kuat mendiami relung hatinya?
'Kamu yang memintanya meninggalkanmu.' Suara Putri terngiang kembali di kepalanya. Yuna menahan isak tangisnya. Kenapa begitu membekas?
Putri secara refleks memeluk sahabatnya, dan Yuna membiarkan kepalanya bersandar di pundak Putri. Dia merasakan bulir air matanya menetes membasahi leher sahabatnya, tapi dia tak peduli.
Saat ini, keberadaan Putri sudah lebih dari cukup menghibur hatinya.
Yulian berulang kali menggumamkan kalimat meminta maaf. Dia sendiri tidak yakin kalimat itu ditujukan kepada siapa. Entah kepada Penciptanya, entah kepada Yuna. Satu-satunya yang dia rasakan saat ini adalah perasaan bersalah.
Mungkinkah dia sudah mengusik hidup wanita yang dicintainya?
(Bersambung...)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.38 0 comments
Labels: Cerpen, Tulisan Bebas
Jengkal Jarak (Part I)
'Aku tidak merindukannya.' Yuna mengerang
'Oh, Yuna. Akui sajalah.' Bantah Putri
'Tidak sama sekali. Kalau kau pikir aku cuma duduk di tempat tidur seharian sambil memandangi layar ponsel itu berarti aku merindukannya, kau salah besar.' Yuna bersikeras
'Kenyataannya memang seperti itu.' Putri merasa menang adu argumen dengan Yuna kali ini.
'Put, aku bisa gila kalau kita terus membicarakan ini.'
'Kamu yang memintanya meninggalkanmu, Yun..' Yuna mendadak menegakkan kepalanya.
'Kau bicara sekali lagi atau kuamputasi gajimu bulan ini!' Yuna berteriak. Putri mengangkat bahu. Sahabatnya ini memang keras kepala.
'Oke. Lupakan.' Katanya kemudian. Menyerah.
Yuna terdiam dan mengalihkan perhatiannya dengan membolak-balik halaman majalah remaja yang baru dibelinya di lampu merah pagi tadi.
Tapi seiring matanya menelusuri tiap baris majalah itu, pikirannya justru semakin terbang ke tempat lain.
Yuna ingat bagaimana dulu dia bergeming dengan perubahan sikapnya yang membuat Yulian protes keras.
Yuna ingat bagaimana dulu dia membiarkan Yulian lelah mempertanyakan kesibukannya, hingga akhirnya Yulian mengucapkan selamat tinggal padanya, satu tahun yang lalu.
Yuna berfikir dengan melepaskan Yulian berarti dirinya akan terbebas dari perasaan yang membelenggunya.
Jarak memang selalu membuat semuanya jauh lebih sulit.
Bagaimana hidup berjauhan menjadi alasan untuk saling mencurigai tanpa alasan, dan bagaimana hidup berjauhan mengubah waktu menjadi semakin sempit dari yang sebenarnya.
Dan rindu semakin terasa bagaikan pasir yang harus kau minum setiap hari.
Yuna menghela nafas. Ternyata anggapannya salah besar. Memutuskan hubungan dengan Yulian tak sepenuhnya membuat hatinya menjadi utuh untuk dirinya sendiri seperti sebelumnya, tetapi justru memecahnya menjadi bagian yang semakin kecil. Tak tersisa sedikitpun untuk dirinya sendiri.
'Astaghfirullah..' Yuna menghela nafas
'Yun, kau tak apa?' Putri mengguncang bahunya.
'Kurasa.. Jarak memang mengubah segalanya, kecuali 1 hal. Kenangan.' Yuna menggelengkan kepalanya, lalu menunduk. Membiarkan tirai tipis yang menyelimuti matanya meluncur menetesi rok yang dipakainya.
Yulian baru saja menulis sebuah teks di pesan singkatnya, namun butuh waktu beberapa menit untuk memutuskan menghapusnya kembali.
Yulian diam. Sebenarnya apa yang membuatnya ragu mengirim sebuah pesan?
Satu tahun yang lalu mengirimkan pesan singkat seperti ini terasa sangat mudah baginya. Bahkan dalam sehari dia bisa mengirim ratusan pesan singkat kepada orang yang sama : Yuna.
Dia memasukkan ponselnya sambil berfikir, apa yang membuatnya takut mengirim pesan? Apa dia takut Yuna mengetahui bahwa dia merindukannya, atau dia justru takut mengakui kenyataan bahwa dia merindukan Yuna?
Sebagai seorang cowok yang diputuskan hubungannya oleh seorang cewek, bukan hal yang mudah bagi Yulian untuk datang dan mengatakan 'Aku merindukanmu' kepada cewek yang telah memutuskannya.
Entahlah, ego memang selalu mengambil logikanya sendiri.
Satu tahun sudah berlalu. Dia memikirkan seperti apa Yuna sekarang. Dia mendengar kabar bahwa Yuna sekarang sudah bekerja di perusahaan penerbitan, persis seperti yang dicita-citakannya dulu. Dia juga mendengar kabar kalau diwajah Yuna sudah bertengger sebuah kacamata.
Mungkinkah Yuna semakin cantik dengan kacamata itu?
Jarak rumah Yulian dengan Yuna tidak kurang dari 20 km. Hanya saja sekarang Yuna bertempat tinggal di kota yang berjarak 75 km dari tempatnya tinggal. Yuna memang beruntung. Mendapatkan pekerjaan dan tinggal di kota besar, sedangkan dia masih di kota kelahirannya, berteman dengan anak-anak setiap harinya.
Yulian kembali mengingat, bagaimana perasaannya ketika melewati rumah Yuna dalam perjalanan menuju rumah ibunya. Perasaan bergetar dan seolah ada angin yang menerpa tubuhnya, melemaskan seluruh tulangnya.
Perasaan itu masih sama, dan tidak berkurang bahkan ketika Yulian tak lagi melihat wajah Yuna selama satu tahun belakangan.
Yulian menggigit bibirnya, kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia kembali tersenyum dan memejamkan mata, ketika pemberitahuan di ponselnya mengabarkan bahwa pesan yang dikirimnya telah sampai di ponsel Yuna.
Trrrrrr...
Yuna dikagetkan dengan getar ponselnya. Sudah berapa lama dia melamun?
Dibukanya ponselnya dan dibacanya pesan singkat dengan nama yang sangat dikenalnya tertera disana.
Hai, lama tak pernah memberi kabar. Kamu sudah lupa ya padaku?
Perlu sedikitnya limabelas detik bagi Yuna untuk mempercayai siapa pengirimnya.
Dia meletakkan ponselnya sebentar. menatap sekeliling, dan merenggangkan jemarinya.
Kau yang menghilang tanpa kabar
Ketiknya. tapi kemudian dia memencet tombol delete hingga layar ponselnya kembali bersih.
Alhamdulillah, aku baik. Kamu bagaimana Yul?
Yuna kemudian memencet tombol send.
Pesan balasannya tidak datang dalam waktu sepuluh menit setelah Yuna mengirimkan pesannya.
Yuna mulai gelisah. Sesekali dia menengok ponselnya ketika mengetik, berharap pesan balasan sudah bertengger disana. Tapi hingga genap keduapuluh kalinya Yuna menengok ponselnya yang tergeletak tanpa suara, balasan itu tak kunjung tiba.
Yuna menggigit bibirnya. Mungkinkah Yulian mengirim pesan singkat hanya untuk menggodanya?
Mungkinkah Yulian tak merindukannya seperti yang dia bayangkan?
Yuna masih berharap dengan cemas, bahkan ketika satu jam sudah berlalu.
Pesan dari Yulian tak kunjung menggetarkan ponselnya.
Yuna melirik jam dinding di kantornya.
Sudah waktunya istirahat makan siang. Masa sih Yulian tak sempat membalas pesannya?
Yuna menghempaskan tubuhnya pada senderan kursi kerjanya.
Dia menyesali dirinya yang begitu mudah terombang-ambing hanya dengan pesan singkat yang dikirimkan Yulian. Dia menyesali dirinya yang masih begitu mudah disusupi harapan kepada Yulian.
Ya Rabb, maafkan hamba. bisiknya. Kemudian Yuna berdiri dan beranjak menuju ke mushola di kantornya.
(Bersambung...)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.36 0 comments
Labels: Cerpen, Tulisan Bebas
Rabu, 06 Februari 2013
Potongan
Potongan-potongan puzzle ini berserakan, lihatlah..
bolehkah aku menyusunnya menjadi kesatuan kita yang utuh?
maukah kau menjadi salah satu pasangannya dan menggenapi potonganku?
Mungkin saja ada gambar peta hidup bersama diatasnya, jika kita berhasil menyusunnya.
Maukah kau duduk sebentar dan membantuku mengurutkannya?
Potongan-potongan puzzle ini berserakan, tataplah..
bolehkah aku mengumpulkan kepingannya agar tidak tercecer begitu saja?
atau maukah kau menghubungkan polanya yang membuatnya lengkap seperti seharusnya?
Mungkin saja ada gambar masa depan bersama diatasnya, jika kita berhasil menurutkannnya.
Maukah kau duduk sebentar dan membantuku menatanya?
Kita mungkin serupa tiap keping puzzle itu, pikirkanlah.
Kita terpecah dan terpisah.. dan menyusunnya dengan segala cara yang dapat terkerah.
Kita terpecah dan terpisah.. dan saling menemukan dengan susah payah.
Tapi bukankah kita memang diciptakan sebagai potongan yang berpasangan?
Lalu mengapa terasa sulit sekali bagi kita untuk saling melengkapi?
Mungkinkah Tuhan salah meletakkan kita berdua dalam satu kotak susunan?
Ataukah Tuhan memang mempertemukan kita sebagai potongan yang salah dalam pola gambar ini?
Tetapi mana mungkin Tuhan melakukan kesalahan?
Mana mungkin Tuhan teledor meletakkan potongan kita?
Atau mungkinkah jika aku...
Bukan potonganmu?
Posted by Kharissa Widya Kresna at 19.13 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Coretan Kosong, Tulisan Bebas
Selasa, 05 Februari 2013
The Shadow Spot
Malam ini rembulan ramah sekali.
Tirai cahayanya menerpa sosok kita yang duduk berdekatan, hingga tercipta siluet gelap tubuh kita.
Bayangan. Bayangan kita.
Aku memandangnya takjub.
Bagaimana bisa kita mengingkari ini? bahwa bayangan kita-pun telah diciptakan secara berpasangan,
dan mengikuti seluruh gerak, degup rasa, dan gejolak yang kita rasakan
Ah, memikirkannya saja sudah membuatku mabuk kepayang.
Seolah memang petang memantulkan senyum kita yang sedang mengembang..
Tiba-tiba kudengar melodi panggilan masuk ke ponselmu,
menampilkan sebuah nama yang selalu menjadi sumber ketakutanku.
Matamu memancarkan arus yang tak biasa, tak pernah sama dengan caramu memandangku.
Kemudian aku tau,
Bayangan yang sekarang sedang duduk bersama bayanganmu itu bukan aku.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 05.56 0 comments
Labels: Coretan Kosong, Tulisan Bebas
Mencoba Lari, dan Kembali.
Aku baru sampai.
Dan kudapati tempat ini begitu sepi.
Padahal jika kami berkumpul, canda tawa tak pernah tak terdengar.
Semuanya pergi. Sibuk dengan dinamika kehidupan mereka sendiri-sendiri.
Sama sepertimu.
Kau mulai lengang meramaikan dering ponselku.
Kau mulai beringsut sedikit demi sedikit,
menjauh sepetak demi sepetak,
Tanpa aku mengerti kenapa.
Aku baru sampai.
Dan keheningan tempat ini menggiring setiap adegan dari setiap episode yang telah sukses kita perankan.
Satu-persatu muncul kembali,
memproyeksikan ribuan tawa yang kita lalui bersama.
Lalu semuanya menggelap.
Pita kasetnya berhenti mempresentatifkan episode selanjutnya.
Seolah film kita memang selesai begitu saja.
Aku baru sampai.
Dan setiap tempat di sekitarku menceritakan semua hal yang kita lakukan disana.
Aku baru sampai.
Dan setiap jalan yang kulalui menuju kesini membisikkan segala cara yang kita lakukan untuk membunuh waktu perjalanan ketika bersama.
Kursi tempat peraduan,
Angin dan pemandangan,
Lagu yang kita dengarkan,
Aku baru sampai.
Dan seiring aku meletakkan barang bawaanku di tempat ini, aku sadar.
Perasaan seperti ini takkan bisa kuingkari, sejauh apapun aku pergi.
Karena dia meninggali setiap celah hati, dan bukan tertinggal di suatu tempat yang tak bisa kusentuh lagi.
Dia tinggal disana, dan akan terus ada kemanapun kita berada.
Apa yang bisa kulakukan untuk melipat jarak ini?
Posted by Kharissa Widya Kresna at 05.54 0 comments
Labels: Coretan Kosong, Tulisan Bebas






