Rasa sayang kadang memang menghalangi kita untuk bisa ikhlas. Gue bukannya mau bicara tentang pacar atau semacamnya. Nggak.
Tapi gue mau bicara tentang organisasi dimana gue pernah bernaung dibawahnya.
Pernah, karena sudah berakhir. Dan gue ngerasa gue butuh orang buat tau sebenar-benarnya perasaan gue selama disana.
Gue bukan mahasiswa yang menonjol, atau terlalu sering meneriakkan pergerakan, atau pengurus organisasi yang baik, gue tau.
Tapi ketika lo tanya apa gue sayang sama organisasi gue, gue akan dengan tegas menjawab : iya. Gue sayang.
Tapi sebagaimana kebiasaan gue dalam mencintai sesuatu atau seseorang, mencintai organisasipun gue sama.Mencintai itu gue lakukan secara diam-diam.
Tapi dibalik itu, gue tetep sakit kalo ada yang menghujat, tetep seneng kalo ada yang menyanjung, dan nglakuin apa aja yang bisa gue lakuin didalamnya.
Sedikit nyesek, pas keinget gimana gue cerita sama abang kalo gue juga pengen masuk ke organisasi dimana dia magang.
Sempet putus harapan ketika ngliat anak-anak magang mondar-mandir ikut menyukseskan kegiatan. Ah, siapa gue?
sempet kepikiran juga kalo ah.. udahlah. gue bergabung di skuad organisasi yang lain aja. Gue udah kehilangan kesempatan disini.
Gue mulai ikut oprect sebuah organisasi UKM, dan untungnya, nggak diterima. Gue galau. gue makin sedih.
Gue ngrasa gue bukan orang yang pantes masuk dijajaran organisator.
Tapi dasarnya gue gapeka, gue mau mencoba ikut seleksi lagi.
Sampai akhirnya, abang gue tanpa sadar membuka jalan dengan merekomendasikan gue tampil didepan anak-anak organisasi impian gue itu. Wow.
gue gapernah lupa.
dan Voila!
Pas hari seleksi datang, gue bukannya berangkat seleksi organisasi UKM tapi malah lanjut tidur berangkat seleksi ke organisasi tempat abang gue magang.
Padahal temen sekamar gue yang dulu ikutan seleksi tahap pertama dan gagal juga, hari itu mencoba kembali.
Mungkin itu jalan yang Allah kasih.
berawal dari abang gue yang ngenalin gue ke orang-orang, dan..
hasil ngomong ngomong sama pemimpin organisasi impian gue, ngasih sebuah kepercayaan diri buat ikut seleksi lagi. Dan kali ini, keterima.
What a Shock!
Sebagai mahasiswa baru, gue bangga.
Tapi kemudian berubah nyesek ketika tau, temen-temen se-genk dan abang gue justru nggak masuk.
What a Sad thing, you know.
Gue ulang,
Gue bukan mahasiswa yang menonjol, atau terlalu sering meneriakkan pergerakan, atau pengurus organisasi yang baik, gue tau.
Tapi ketika lo tanya apa gue sayang sama organisasi gue, gue akan dengan tegas menjawab : iya. Gue sayang.
Gue suka berada ditengah mereka dan bikin acara buat temen-temen sesama mahasiswa.
Gue suka rapat bareng mereka, walau gue lebih banyak diem.
hampir selalu malah.
Nah ini, bagian yang ini murni kesalahan gue.
Gue orang pasif, dan selalu begitu. Susah ngerubahnya.
Cuma paling nggak, gue tetep berusaha do my best selama disana.
Menurut gue.
Seenggaknya ketika ada acara walaupun guie bukan pemegang posisi vital, gue selalu berusaha tetep disana. stand by kalau-kalau ada yang butuh bantuan.
Sayangnya dengan sadar gue tau, kehadiran gue nggak terlalu keliatan. Yah.. banyak faktor didalam diri gue yang nyebabin itu semua.
Salah satunya perbedaan aliran berfikir, dan --lagi-- kepasifan gue. Gue terlalu takut dianggap sok, gue terlalu takut sama kritikan pedas senior, dan gue terlalu malas untuk mendekatkan diri sama siapa-siapa disana. Gue terlalu takut sama pengalaman buruk organisasi selama SMA.
Tapi gue nggak bisa mangkir dari banyak hal yang udah gue pelajari dari sana. Gimana-pun, banyak hal yang udah jadi bekal buat gue ngebantu menggelindingkan sebuah organisasi yang sedang berkembang.
Gue sebut aja : Jurnalistik PGSD.
Dan dari Jurnalistik juga gue menyadari kalo berorganisasi nggak cuma soal bikin acara dan pake jas almamater.
tapi juga masalah gimana caranya biar organisasi itu bisa jalan dengan segala masalah yang ada. ya administrasi, ya dana, ya nama besar. ya kelangsungan hidup. ya komitmen. ya pengorbanan. ya kritik, ya saran, ya tekanan, dan.. rasa kekeluargaan.
Gimana caranya biar bisa survive ketika organisasi seperjuangan satu-persatu mulai collaps karena berbagai keterbatasan.
Dari situ juga gue sadar, banyak yang nggak gue tau dari organisasi besar yang gue pake bernaung. Dan gue menyalahkan diri gue sendiri atas ketidaktauan itu. Gue kurang terbuka.
Apalagi ketika organisasi gue diguncang banyak masalah di akhir taun kepengurusan, gue praktis nggak melakukan apa-apa. Padahal gue seharusnya bisa dan mau melakukan yang lebih dari sekedar diam.
Dan satu hal yang bikin gue sadar adalah kesalahan gue yang terbesar : Gue nggak fokus disalah satunya. Selama gue di Jurnalistik, gue terlampau sering meninggalkannya buat hal-hal lain. Dan selama di organisasi yang ini, hati gue yang separuh lagi nggak bisa berhenti memikirkan Jurnalistik. Dan gue mulai kecewa di organisasi yang ini di satu sisi. Hati gue mulai sering perang dengan masing-masing sisinya. Sampai gue mengecewakan dua-duanya.
Gue bertekad memperbaiki.
Dan sekarang, masa gue habis disana.
Gue nggak punya kesempatan memperbaiki. Gue gagal membuat organisasi ini percaya kalo gue sayang sama dia. Katanya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang juga memikirkan generasi yang akan meneruskannya.
tapi gue pikir itu bukan cuma berlaku buat pemimpin. tapi seluruh orang dalam organisasi ini. Setiap orang disini memikirkan gimana caranya generasi penerus bisa menjalankan organisasi ini dengan lebih baik.
Begitu pula gue.
Kecewa sih iya, tapi sebagaimana pernyataan mereka kalau ada adik-adik penerus yang punya kesempatan berkembang, gue berusaha sadar, bahwa gue nggak maksimal dan organisasi nggak bisa nunggu gue berubah.
ada potensi-potensi lain yang harus dapet kesempatan berkembang.
Seiring itu, keberadaan gue di Jurnalistik terasa makin membahagiakan buat gue pribadi, karena orang-orang didalamnya membuat gue jadi siapa gue yang sebenernya.
Dan seiring tanggung jawab gue disana yang makin besar, Gue harus makin belajar dari pengalaman setahun ini.
Gue minta maaf sama semua pihak, atas semua keterbatasan gue.
Dan pada akhirnya gue berpesan sama siapapun yang ngebaca ini, kalo lo sedang berada dalam suatu organisasi, ya berkembanglah. berkembanglah.
Bukan siapa organisasinya, tapi siapa kamu diorganisasi. :)
Sabtu, 29 Desember 2012
Gue Gagal Meyakinkan Dia kalau Gue Sayang Dia
Posted by Kharissa Widya Kresna at 20.46 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
Jumat, 28 Desember 2012
Melukai
Melukai adalah hal yang paling sulit dihindari.
Melukai terlalu absurd untuk didefinisikan oleh pemahaman yang berbeda arti.
Melukai tak pernah punya ukuran yang sama untuk sudut pandang yang tak searah.
Melukai... adalah hal yang tak bisa kita tolak.
Kita pernah melukai. dan terlukai.
Terlukai adalah suatu kata kerja yang sebagai objek yang terkena dampak dari seseorang yang 'melukai'.
entah sengaja. entah tidak.
Kita tidak pernah bisa menyalahkan orang lain karena melukai kita.
Apalagi dari tindakannya yang sebenarnya tidak melanggar apa-apa.
Bingung?
Oke. begini..
katakanlah kamu mencintai orang lain dan orang itu mencintai orang lain lagi.
Tanpa sadar, sebenarnya orang itu sedang melukaimu karena dia mencintai orang selainmu.
Tapi apakah itu kesalahannya?
Jelas tidak.
Karena dia bebas mencintai orang lain dan--sialnya--kita terikat perasaan kita sendiri yang mencintainya.
Lalu siapa yang melukai sebenarnya?
Dia, atau diri kita sendiri?
Melukai adalah ketika kita tak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah seseorang kecewa.
Melukai adalah ketika kita tak mau melakukan apa-apa untuk mencegah seseorang kecewa.
Bedanya adalah pada pernyataan pertama kita mungkin sekali tidak berdosa.
sedangkan pada pernyataan kedua, kita jelas dipersalahkan.
Melukai adalah ketika kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah seseorang kecewa.
Melukai tak pernah punya ukuran yang sama untuk sudut pandang yang tak searah.
Contohnya adalah SALAH PAHAM.
jelas sekali kalau salah paham adalah perbedaan sudut pandang.
perbedaan pemahaman.
yang berujung kekecewaan pada salah satu atau kedua pihak.
dan kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya kecewa.
Ya.. mau dikatakan apa lagi?
namanya saja salah pengertian.
satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menjelaskan. Itu-pun tak mudah. Iya kalau diterima.
kalau tidak?
Kita berusaha keras menjelaskan dan dia tidak mempercayainya. Dan ini melukai diri kita. Dan melukainya (mungkin).
dan kita juga tidak bisa menyalahkan dia karena melukai kita dengan tidak percaya pada penjelasan kita.
See? Melukai tak pernah bisa dihindari.
Melukai adalah ketika kita tidak mau melakukan apa-apa untuk mencegah seseorang kecewa.
Kalau yang ini jelas contohnya.
KETIDAKPEDULIAN.
Kita akan melukai seseorang kalau kita tidak peduli dengan apa yang sudah dia lakukan atau dia berikan kepada kita.
Kita yang salah kalau ini.
Melukai tidak pernah bisa dihindari.
Lainnya? Silahkan pikirkan sendiri.
Selamat Melukai.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.11 0 comments
Labels: Belajar Hidup
Suatu Keputusan : Berpisah
Mungkin ini pertamakalinya aku kembali tersadar, setelah sayu matamu puas kupandangi dalam lembaran-lembaran menit yang tersisa.
Kau bukan orang lain yang kehadirannya tak pernah kusentuh, tapi asing selalu merambati tiap baris kata yang kita rangkai tuk mencairkan suasana.
'Kita harus putuskan.'
Katamu sambil berjalan mengitari meja.
Dan aku hanya tersenyum memandangimu.
'Pasti. Kita akan membuat suatu keputusan.'
Pandangan matamu semakin beku, menatap lurus jalanan yang diguyur riintikan hujan dari balik kaca jendela.
Tanganmu menyapu tepian meja yang berdebu, membuat butiran-butiran halus partikelnya berhamburan keudara.
Seiring detak waktu yang terlewat begitu saja, sepi merambat naik dari relung hatiku.
Kita pernah bersama, dan perpisahan adalah hal yang nyata. terlalu nyata bahkan ketika kusebut semuanya hanya mimpi.
'Jadi ini keputusannya?'
sejurus kemudian kusadari kalimat tanyaku menguap tanpa ada yang menyadarinya.
tidak juga kau, yang sibuk menghilangkan debur gelisah dengan memainkan kedua jemarimu.
'Maaf..'
suara lirihmu terdengar parau.
dan lagi, aku hanya bisa mengembangkan senyum. Tak tega melihatmu dikuasai kegelisahan.
'Baiklah. kau yang membuat keputusan dan aku yang akan melaksanakannya. Selama ini-pun begitu kan?'
'Maaf. aku.. tak tau harus menjelaskan darimana.'
'Tak usah kau rangkai kata indah untuk menggambarkan suatu perpisahan, sayang. Karena tak pernah ada yang indah dalam sebuah perpisahan. Hanya saja jika kau katakan sejujurnya bahwa dalam jarak ini tak ada lagi ruang untukku, sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Aku menyadari segala keterbatasanku. Dan kau membutuhkan yang lebih..'
Kau baru akan membuka suara, dan aku mengambil alih melodi sebelum kau menyanyikannya.
'Aku tak pernah menyalahkan jarak, atau dirimu, atau diriku sendiri atas mengapa kau pilih keputusanmu yang ini. Ini hanya soal perbedaan kebutuhan kita yang tak biisa dijembatani. Aku mengerti. Berhentilah meminta maaf. Jaga dirimu, jaga seluruk jarak yang pernah kuretas dalam rindu untukmu..'
Kau masih tertunduk, dan aku tak henti memandangi setiap inci lekuk wajahmu.
Mungkin keteduhan tak pernah kudapatkan darimu, atau mungkin kesempurnaan tak pernah kau dapatkan dariku, hingga akhirnya semua itu membawa kita dalam suatu keputusan : Berpisah.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.08 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
Sepucuk Surat dari Mentari
Dalam gelap malam, saat kau terlelap tidur dalam sinar rembulan yang temaram,
Aku menanti di sudut gelap yang tak pernah kau sadari.
Berharap pagi segera terbit dan aku kembali memelukmu erat,
seakan aku tak rela jika kelak malam datang lagi dan merenggutmu dari sisi.
Dalam gelap malam, saat kau terlelap tidur dalam sinar rembulan yang temaram,
aku terpekur di sudut gelap yang tak pernah kau mengerti.
Memikirkan daya agar bisa selalu menemani,
tanpa harus terpisah ketika raja mimpi memanggilmu tuk datang menghampirI.
Kenyataannya tak akan ada satu makhluk-pun yang tahan hidup bersamaku.
Tak hanya kau.
Maka aku tau, aku memang diciptakan untuk mencintai sendiri.
Mencintai dan dicintai tanpa memiliki.
kebersamaan hanya fatamorgana yang kunikmati. tanpa arti.
Mencintai selalu sulit untukku.
Mencintai bagiku adalah rasa ingin mengekangmu disampingku.
Dan itu berarti aku harus membinasakanmu dalam kobaran api, bahkan sebelum sempat kau menyelamatkan diri.
Mencintai selalu sulit bagiku.
Mencintai untukku adalah hasrat untuk melampiaskan keegoisanku.
Dan itu berarti aku harus membunuhmu dalam silau cahaya yang selalu kau banggakan sebagai pemicu semangat.
Dan itu berarti aku kehilanganmu sebelum sempat merasakan memilikimu.
Kau selalu berkata dengan bangga bahwa aku mencintaimu, dengan mengirimkan cuaca cerah tanpa mendung. tanpa hujan.
Tapi kau belum cukup mengerti, jika itu justru membuatmu terlupa, bahwa mendung dan hujan-pun sesuatu yang menyejukkan.
Kau selalu berkata dengan bangga bahwa aku mencintaimu, dengan mengusir kegelapan yang menyelimuti malammu.
Tapi kau belum cukup mengerti, jika itu justru membuatmu terlupa, bahwa kau butuh malam untuk mengistirahatkan seluruh tubuhmu yang lelah bekerja.
Kaetika kau dengan bangga dan bahagia mengatakan aku selalu mencintaimu, dan memberimu kebahagian yang tak tertawarkan,
aku justru melakukan dosa besar telah hadir dalam setiap detik hidupmu.
Mengambil porsi yang tak semestinya untukku.
kemudian meniadakan apa-apa yang harusnya ada di setiap harimu.
Ketika kau bangga mengatakan aku mencintaimu, dan kau bilang kau mencintaiku,
aku sadar bahwa detik itu juga aku membawa kematian untukmu.
Aku yang selalu kau simbolkan sebagai keceriaan dan sumber kekuatamu, justru membawa maut untukmu.
Dan kau tak menyadari.. sedikitpun.
Karena itulah,
Mencintai selalu sulit untukku.
Mencintai bagiku adalah nelangsa. Masalah terbesar kita bukan didirimu, tapi tumbuh dari dalam jiwaku.
karena aku merenggut cahaya kehidupan darimu sebelum kau bisa mencegahnya.
Kita tak perlu bicara cinta jika harus melihat salah seorang dari kita tersiksa, bahkan binasa.
Karena itu,
Cukuplah aku mencintaimu dan takkan kubiarkan dirimu mendekati atau membersamai langkahmu.
Aku tak mungkin sampai hati melakukannya.
Aku mencintaimu,
Tapi aku lebih baik tak bersamamu.
Tak apa, itu memang yang terbaik.
Dan aku yakin, walaupun tak bisa setiap waktu, aku masih bisa melihat senyummu.
Menyimpannya untuk sisa-sisa harapan. Mencintai untuk tetap memberimu ruang melanjutkan kehidupan.
Aku-pun akan melanjutkan pula. Menyinarimu hingga batas akhir aku diperbolehkan melakukannya.
Berjalanlah walau habis terang, ambil cahaya cintaku terangi langkahmu.
Diantara beribu lainnya, kau tetap benderang..
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.06 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
Tiada Bekas
Mencintai seseorang terlalu dalam membuat kita tidak bisa mencintai lagi.
Ku pikir itu benar, bagaimana suatu rasa telah membunuh perasaan dan keinginan untuk mencintai orang lain.
Hanya berharap pada satu orang. Bahkan lebih memilih menahan sakit daripada memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyembuhkannya.
Aku mencintainya. Dalam tahun-tahun yang tak bisa kutulis dalam cerita.
Bahkan ketika semuanya berakhir secara nyata, hingga sekarang aku masih menginginkannya. Merindukan segala sesuatu yang kulalui bersamanya.
Tak perrnah benar-benar meninggalkannya. Segala sesuatu yang kulakukan mengingatkan padanya.
Mencintai seseorang terlalu dalam membuat kita tidak bisa mencintai lagi.
Kupikir itu benar. bagaimana sebuah rasa mengambil alih kendali. Bahkan ketika kukira aku telah jatuh cinta lagi,
ternyata aku masih mengharapkannya. Rasa yang kuanggap cinta menjadi hambar dihadapan bayangnya.
Seseorang yang dicintai terlalu dalam oleh orang lain, adakah merasa?
Jika iya, aku ingin tau apakah dia merasakan kalau aku belum bisa menggantinya.
Samakah? Adakah harapan bersama?
"Setidaknya, kamu pernah menjadi milikku. Meskipun tak lama hal itu telah membuat ku bahagia..'
Mencintai seseorang terlalu dalam membuat kita tidak bisa mencintai lagi.
kupikir itu benar, karena tak pernah lagi kurasakan mencintai seseorang sedalam mencintainya.
Tak lagi kurasakan keceriaan seperti ketika bercanda dengannya.
Karena tak ada lagi bayang yang kuimpikan tuk ku sentuh seperti dia.
Aku merindukannya. Aku masih mencintainya.
Yuna membaca sekali lagi tulisannya di halaman buku bersampul merah hati, kemudian menuliskan deretan kecil dipojok halaman : Sabtu, 1 Desember 2012.
Tapi hati tetaplah hati.
Kadang kau tak bisa mengaturnya sendiri tanpa campur tangan pemiliknya yang Hakiki..
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.06 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
Pernahkah Kau Berfikir?
dan berharap kamu membalas atau mengangkat puluhan panggilan ke ponselmu?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana dia ingin bercerita semua yang dialaminya tetapi kamu bertindak seolah itu bukan masalah dan malah marah-marah?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia mengundangmu kerumah dan kau tak memberikan kepastian untuk datang?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia berusaha menjelaskan sesuatu dan kamu tak mau mendengarkannya sama sekali?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia disuatu tempat selalu memikirkanmu dan kamu malah menuduhnya melupakanmu?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia berkata jujur dan kamu tak mau menyisakan sedikit kelapangan hatimu untuk percaya?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia menahan rindu, dan kamu malah membalas dingin ketika dia menghubungimu?
Pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika dia menunjukkan siapa dirinya tetapi kamu malah memperlakukanya seolah dia dan dirinya adalah suatu kesalahan?
Dan pernahkah kamu berfikir bagaimana ketika segala usahanya membuatmu bahagia dan telah kau tolak begitu saja hanya karena tak sesuai menurut sudut pandangmu itu menjadikannya JERA?
Dan aku lelah membahagiakanmu dengan segala dayaku.
Dan aku lelah melihatmu menganggap semua itu keliru.
Dan aku lelah..
Maka ketika kau merasa aku tak lagi bisa mengerti dan tak layak kau cintai,
Maka ketika kau merasa aku tak lagi menjaga hati dan kau ingin pergi,
pergi saja.
TANPA HARUS MENGELUARKAN KATA-KATA YANG MENYIKSA.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.05 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Coretan Kosong, Tulisan Bebas
Paragraf -- Bagian Kecil dari Rumput di Padang Ilalang
Saat ini mendung, dan mendadak aromanya menggeliatkan kebencianku pada hujan.
Aku benci.
Benci ketika hujan terselubung dengan kesedihan.
Benci ketika hujan terselimuti dengan rindu yang tak tersampaikan.
Aku menatap keluar jendela yang tembus ke pemandangan diluar sana.
dari alunan radio didalam bus ini sebuah kalimat menggema
Semakin dalam seseorang mencintai yang menjadi miliknya,
Semakin sulit baginya berkorban untuk orang lain.
Memang iya.
Dan hujan menjadi satu-satunya yang bersaksi akan itu.
Saat itu mendung, dan hujan mulai menjatuhkan titik demi titik ke permukaan bumi
Kau disana, berdiri dan melambaikan tangan dari kaca jendela bus yang aku tumpangi..
Aku menatap nanar membisikkan kata yang tak pernah kau dengar,
'Hujan tak pernah membawa kesedihan, atau identik dengan kesepian..'
Sejurus kemudian aku melihat kita mengarungi jalanan dengan arah berlawanan..
Dalam derap suara kereta aku berfikir dengan isak tertahan.
Tak apa. Tak apa.
Perpisahan hanyalah bagian kecil dari sandiwara yang aku jalankan.
Dan monolog kesepian hanya basa-basiku dengan Tuhan.
Dia akan baik-baik saja. Berdiri tegak dengan seseorang disampingnya.
yang diharapkannya.
Yang mampu bertahan dengan seluruh lika-liku kehidupannya.
Bukan aku...
Aku menghela nafas.
Siluet kenangan seakan menambah gersang padang ini, padahal mendung masih setia mengayomi.
Sebegitu keringkah tanah ini?
Hingga hujan-pun tak mampu membasahinya lagi?
atau memang satu-satunya yang mampu membasahinya hanyalah lembab derai tawanya?
Tawanya.
yang kutinggalkan diujung pelangi ketika senja berupa semburat jingga?
Kaca jendela bus ini memburam, rintik hujan menguap dalam partikel-pertikelnya dan mengaburkan pandanganku memalui celah jendela ini.
Atau memang hujan selalu menguap?
apakah titik air selalu mengaburkan pandangan?
Layaknya titik air mata yang membias disudut beku tatapanku..
Bayanganmu mengecil, hingga hilang ditelan jarak.
tersamar tirai rintikan hujan yang halus..
yang menyejukkan namun menusuk kalbu.
Hujan adalah nyanyian kalbu,
Bagi seseorang yang hatinya sedang merindu
ya. Rindu.
Tapi bagaimana bisa hujan membawa rindu dari jarak sekian meter dan sekian detik yang baru kulalui?
Memikirkan jarak dan tahapan hidup yang akan kulalui bermil-mil jauhnya darimu, membuatku rindu.
Tidak. aku tidak merindukanmu.
Aku merindukan kita.
Bagaimana bisa kita memilih berpisah atas nama cinta?
Bukankah cinta harusnya selalu menyatukan?
Ah, tidak.
Setiap kilasan kenangan ini tidak boleh datang dengan gampangnya dan merenggut jiwa.
Tak bisa.
Tak akan kubiarkan semua tentang kita merenggut rona kebahagiaan di hidupku yang selanjutnya.
Bagaimana bisa?
padahal kau mungkin sudah bahagia dan lupa bagaimana caranya kita tertawa bersama.
Mendung ini tak pernah berarti apa-apa untukmu kan?
Maka aku-pun akan bangkit juga.
Bus ini membawaku pergi.
Meninggalkan serpihan sisa-sisa cerita kita yang merobek hati.
Maafkan aku yang pergi.
karena kutau kau takkan cukup mampu untuk mengakhiri.
Untuk kesekian kalinya, aku menyesap hal yang tak pernah kau mengerti.
Menyerap segala rasa ketika ribuan pertanyaan kau lontarkan padaku.
Kau terus menerus mengejarku dengan tuduhan bahagia tanpamu, dan berulang kali aku hanya menjawab 'oke. Kalau itu yang ada di pikiranmu.'
Kau mungkin membenciku karena bersikap begitu, tapi aku terlanjur membatu untuk membicarakannya kembali.
Bahkan untuk sekedar menjelaskan apa yang kurasakan ketika kau terus membicarakan hal yang sama.
Mungkin memang aku yang terlalu tak ingin peduli.
Mungkin juga benteng yang kubangun sudah terlalu kuat untuk sekedar kau hancurkan dengan keraguanmu padaku.
Kenyataannya aku memang sudah membiarkanmu terus bertanya-tanya. Dan aku tak mau menjawabnya.
Aku ingin ku yang berhenti bertanya dan mulai kembali percaya.
Kemudian akan kubiarkan segalanya seperti semula.
Dengarkan aku.
Aku mengacuhkanmu dan bukan berarti tiap-tiap detik kulewati tanpa memikirkanmu. Aku hanya tak ingin terombang-ambing dalam ketidak-pastianmu.
Kadang kau datang dengan sejuta pertanda kau masih mencintaiku,
Detik selanjutnya kau meninggalkanku ketika aku mulai menyukaimu.
Berulang begitu. Aku lelah.
Maka sekarang maafkan aku jika aku begini.
Bukan karena cinta telah pergi, Tapi karena hati sudah enggan terluka lagi.
Maka, kini kuucapkan kembali.
Cinta tak pernah pergi.
Hanya hati enggan terluka lagi.
Dan seiring aku mengucapkan janji,
Mendung mulai berganti dan hujan turun membasahi bumi..
Hujan ini mungkin jelmaanmu.
Ronta setiap kalimat-kalimat kebencianmu padaku.
tapi hujan tak pernah berarti kesedihan, dan tak pernah identik dengan rindu yang tak tersampaikan.
Maka, dalam setiap penjelmaanmu tak akan aku iringi dengan airmata yang menyesalimu.
Hujan ini cintaku, cintamu, cinta kita yang tak bisa kita nikmati kapanpun kita membutuhkannya untuk memadamkan gersang di padang, tapi kita akan selalu menemuinya ketika kita membutuhkannya untuk menyelamatkan padang dari kematian..
Berbahagialah, Ilalang.
Dan bahagiaku-pun akan datang..
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.03 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
Sepucuk Surat untuk Mentari
Sudah tengah malam.
Sudah tengah malam ketika detik demi detik kulalui dengan mata terjaga.
Untuk terlelap pun tak bisa.
Berharap keesokan paginya segala cerita mampu menawar seluruh luka.
Aku tak menulis surat ini dengan perasaan kecewa.
Tidak.
Aku justru merasa bersalah karena aku menulis ini tanpa peduli sedikitpun,
apakah isinya akan menyakitimu yang membacanya.
Aku hanya rembulan malam. Durjana dalam kelam yang akan mati ketika kau terbit.
maka sedikit waktu yang kupunya, aku ingin benar-benar memilikinya untukku sendiri.
dan mengenangmu adalah hal yang kuhindari.
Apa artinya?
yang kita bicarakan hanyalah omong kosong dan janji-janji.
Padahal kita sama-sama tau, hidup kita bukan sesuatu yang pasti.
Aku bosan dengan abu-abu.
kau tau.
Aku hidup dalam langit malam yang sama kelabunya.
Dan denganmu, haruskah aku menikmati warna yang sama?
untuk jangka waktu yang tak kita duga--mungkin selamanya?
aku hanya rembulan malam, dan rembulan takkan pernah bertemu dengan mentari dalam satu hitungan waktu.
Duniaku memisahkan kita.
Duniaku yang membatasiku agar tak bisa melihatmu, dan begitu pula sebaliknya.
Kau tak suka terlibat kedalam duniaku.
Aku tak cukup peduli.
Kau tak mengizinkanku masuk kedalam duniamu.
Aku tak cukup peduli.
Walau sebenarnya memendam hasrat bersamamu sama dengan menusuk jantungmu sendiri.
Aku tak cukup peduli.
Aku mencintaimu, mentari.
Sebesar rintik hujan mendamba pelangi.
namun aku terlampau menyadari, kau dan aku tak pernah saling mengerti.
atau yang lebih naas lagi, kau dan aku sama-sama berhenti saling mengerti.
Dan hidup bersama, hanya sebatas mimpi tanpa harapan menjadi nyata.
Aku tertawa.
Semoga Tuhan menawarkan cara agar kita bersama.
Akankah bisa?
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.02 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
Apathy
Hujan malam ini, yang biasanya bercerita tentang kerinduan,
sekarang bicara tentang kebekuan.
tentang dingin rintikannya yang tak pernah bisa dihangatkan.
tentang dinginnya hembus angin yang tak bisa dipanaskan.
tentang dinginnya suasana yang tak bisa tersentuh oleh canda tawa.
Aku memejamkan mata, mencoba mencari sisa-sisa rasa yang kupunya.
Berharap kehangatannya mampu mengusir gemertak tulang yg menggigil.
Dan.. Tak ada apa-apa.
tak ada perasaan apa-apa.
seketika aku takut bekunya udara malam ini merenggut kepekaanku.
Aku takut hatiku membeku bersama butiran hujan yang membasahi setiap sudut tempatku terpaku.
Mungkin aku hanya lelah, atau memang aku sudah menyerah. Tak pernah bisa kupastikan.
aku hanya tau aku tak ingin mengalah hanya untuk meretaskan sebuah kehilangan.
Aku berhenti peduli.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.01 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Coretan Kosong, Tulisan Bebas
Menyoal Jarak, Antara Kita
Senja kemarin menghantarkan aku merenungi semuanya. Semuanya.
Dan pertanyaan lama yang kukubur dalam-dalam kembali menyeruak masuk ke dalam otak.
'Bagaimana bisa manusia mempunyai jarak yang tak bisa diukur dengan manusia lain?'
Dulu, sebelum berkemas meninggalkan kota kelahiran, satu-satunya keyakinan yang membawaku melangkah adalah soal paham, dimana aku mengira jika semakin cepat saya beranjak pergi, semakin cepat pula apa yang selama ini kubahasakan secara tersirat mampu dimengerti.
Tapi tidak.
Manusia tidak diciptakan untuk mengerti kebisuan orang lain. Begitu pula orang-orang ini.
Orang-orang yang membuatku merasa kalau dicintai oleh mereka justru merupakan sebuah tancapan duri.
Tunggu, aku tidak bicara tentang cinta dengan orang yang kusukai.
Setiap orang pasti mendamba untuk dicintai. Tetapi tidak bagi sebagian orang.
Dicintai kadang membawa beban yang terlalu berat, terlalu menekan dan membuat tertekan.
Hingga pada detik selanjutnya kita tidak tau apa yang harus kita lakukan.
Hingga saat ini, ketika orang lain menyoal betapa mereka dicintai dengan cara yang mereka ketahui dan mereka inginkan secara sadar, aku hanya tersenyum.
Pasti banyak orang diluar sana yang ingin sekali memiliki perasaan seperti itu.
Dicintai dengan cara yang kita ingini. Atau disayangi dengan kebebasan berkomunikasi.
Tulisan ini mungkin mewakili mereka yang tak nyaman dengan hidupnya.
Yang merasa punya kasih sayang tapi rasanya gersang.
Tak apa. memang untuk itulah tulisan ini dibuat.
Kadang timbul tanda tanya besar dalam diri saya :
'Bagaimana bisa seseorang yang hidup dengan orang lain selama bertahun-tahun tapi tetap mempunyai jarak?'
padahal mereka menghabiskan banyak waktu bersama, melalui banyak peristiwa bersama.
Tapi tak kunjung bisa terbuka.
Menjaga perasaan masing-masing mungkin menjadi satu-satunya alasan yang kuat tapi tidak masuk akal.
Dan itu dijalani sepanjang hidup. Betapa menyiksa.
Dulu saya juga berfikir, kenapa kita bisa sedemikian hancur ketika seseorang tidak memahami apa yang kita rasakan.
Sekarang saya mengerti kenapa.
Setiap orang pasti mempunyai keinginan, dan orang lain juga punya keinginan atas orang tersebut.
Dan jarak terjauh yang bisa terjadi adalah ketika kedua keinginan itu tidak tersampaikan dengan baik. Atau tidak saling berlaku satu-sama lain.
Dua orang yang sudah bersama bertahun-tahun tetapi tak juga bisa saling meyelami isi hati masing-masing.
Sama-sama ngotot.
Sama-sama tak mau mengalah.
Sama-sama merasa paling benar.
Hingga satu-satunya perasaan yang bisa dirasakan hanyalah 'Hampa'.
dan satu-satunya anggapan yang bisa terpikirkan hanyalah : 'Semua yang kulakukan untukmu tak pernah berharga.'
Dan puncak terburuknya adalah ketika salah satu sudah merasa lelah dan tak lagi peduli.
Tak lagi peduli bagaimana bertindak dengan baik.
Tak lagi peduli bagaimana bersikap dengan baik.
Tak lagi peduli untuk melakukan semuanya sebenar mungkin.
Tak lagi peduli dengan mengecewakan dan dikecewakan.
Maka dari sekarang, seandainya bisa, banyak orang pasti meminta dilahirkan kembali sebagai orang yang sama tapi dengan kehidupan berbeda.
Dimana bicara bukan lagi menjadi halangan.
Dimana bicara dari hati ke hati bukan sesuatu yang sulit.
Mungkin memang iya, satu-satunya hal yang membuat hidup ini 'tak tertahankan' adalah orang-orang yang kita cintai.
Dan aku kembali berharap, Semoga tak ada lagi keinginan seperti beberapa tahun lalu untuk yang kedua kali.
That's why, I never tell you that I love you, M**.
Aku takut bahwa kata sesederhana itu tak juga bisa dipahami maksudnya.
Maaf. :)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.01 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Kepedulian - Kemanusiaan
Gemerlap Lampu Kota
Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja mengadu tawa antara kita.
menawar rasa yang sengaja tak pernah dibicarakan selamanya.
Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja merajut tiap memori ketika kita bersama.
Tak masalah jika kita memandangnya dengan arah yang sama tapi dengan pikiran yang berbeda.
Aku hanya butuh setiap sel udara yang kuhirup bersamamu menjadi bermakna.
Jauh lebih bermakna, daripada apa-apa diantara kita.
Kau bilang, melihatnya menimbulkan sensasi yang istimewa. Seolah kesempatan selalu datang tanpa kita minta.
Dan harapan akan senantiasa berkembang bila kita percaya.
Namun aku memandangnya dengan makna yang berbeda.
Kita memang slalu berbeda.
Aku bilang, melihatnya mengingatkanku pada kita.
mengingatkan padamu tiap kali aku mengedipkan mata.
Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja.
Melukiskan kamu dalam setiap masa yang aku punya.
satu-satunya yang membuatku sesak ketika aku berusaha melapangkannya.
Kumpulan lampu kota itu mungkin hanya bisa kunikmati keindahannya ketika malam menjelang,
dan rasa rinduku mulai menggenang.
Ah, bagaimana bisa kumpulan lampu membuatku sedemikian risau?
jauh dari yang bisa terlihat, kumpulan lampu itu bagaikan kamu.
Menyinari kegelapan malamku dengan sinar cahaya yang samar-samar, tetapi cukup menimbulkan suasana yang tak bisa kudapatkan dari cahaya lain.
Namun kenyataannya aku tak bisa membawanya pulang kerumahku, atau menyalakanmu sesuka hatiku ketika aku membutuhkannya.
Bagai kamu.
Menyinari ruang hatiku yang sengaja kubiarkan padam tanpa penerangan setelah satu-satunya lampu disitu putus alirannya. Dan tak kubiarkan siapapun memasang penggantinya.
Tapi aku tak bisa membuatmu menjadi penerangan dirumahku ketika gelap mulai menyergap. Kamu hanya akan tetap bersinar disana dan menjadikan aku penonton setia.
Ah, bagaimana bisa kumpulan lampu bisa membuatku sedemikian risau?
jauh yang bisa terlihat, kumpulan lampu itu bagaikan kamu.
Memandangnya begitu menenangkan, seolah aku tak pernah sendirian.
Tapi sebenarnya tidak nyata. Rasa tak pernah sendirian itu hanya fatamorgana.
Lampu kota hanyalah teman yang akan lenyap ketika mentari menunjukkan seringainya. Dan aku kembali tertelan dalam lika-liku luka setiap harinya.
Bagai kamu.
Bersamamu membuat hampa menjadi sirna. Tapi sebenarnya kamu memang tak pernah ada.
Kebersamaan kita adalah bahagia yang tak bermakna, selalu tertelan jarak predikat 'siapa kita'. Kau memiliki segalanya dariku, Dan aku tetaplah satu-satunya yang tak punya apa-apa. Dan kamu tak bisa membuatku memiliki semuanya.
Gemerlap lampu kota dalam temaram senja,
Aku hanya penikmat keindahannya.
Tak apa, aku tau lampu kota itu tak hanya tercipta untuk menyinari jalanku. atau memang bukan untuk menyinariku.
Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja.
Jangan kau padamkan sebelum aku puas mencecap pesonanya.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.00 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
Belum Menemukan Mereka, atau memang Tidak Ada.
Kembali menyusuri lorong kampus, berjalan perlahan ditengah keramaian perbincangan teman-teman sesama mahasiswa.
Sebuah keramaian yang biasa tapi tak ada kebosanan yang menyertainya.
Mungkin memang iya, mempunyai teman adalah sebuah anugrah tersendiri.
Tapi ada juga yang tidak mampu menikmati seperti apa rasanya punya teman.
Saya tidak membual. setiap orang pasti pernah merasa tidak punya teman.
Kapan?
Ketika kamu mempunyai masalah dan tak mampu menceritakannya pada siapa-pun.
Bagaimana rasanya tidak bisa menjadi diri sendiri bahkan dalam lingkungan dimana kau menjalani hidup setiap harinya?
Membosankan. tapi tidak sepenuhnya membosankan juga.
kadang, kita bisa tetap tertawa bersama mereka seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi keadaan seperti ini juga membunuh secara perlahan.
Ketika keadaan meyebalkan itu datang, seperti : ada beberapa hal yang ada didiri kita tidak bisa dikomunikasikan dengan mereka.
dan mereka tidak bisa menangkap bahasa mata kita.
Seperti dimana kamu mempunyai teman yang sama-sama suka ngomong dan berdiskusi. Tapi disisi lain ternyata si teman 'terbatas' untuk kita ajak bicara.
Katakanlah dia punya pacar --atau siapalah-- yang kemudian mencemburui kita.
atau terbatas peraturan bla-bla-bla. atau kemudian ada kabar burung yang membuat kalian canggung.
Seperti juga dimana kamu mempunyai teman yang se-Hobi, hangout bersama, bercanda setiap hari, tapi tidak bisa kau ajak diskusi masalah lain selain suka-suka.
Maka, mungkin memang iya sebuah pernyataan yang berkata : 'Tidak perlu banyak teman. Cukup satu. yang bisa kau pahami dan memahamimu.'
Dimana berada diantaranya, kamu bisa benar-benar menjadi dirimu sendiri. Dimana kamu bisa benar-benar 'memiliki' tanpa harus ada yang menghalangi.
Dimana kamu bisa benar-benar tertawa, menangis, marah, atau menghabiskan waktu bersama tanpa peduli apa yang orang katakan.
Dimana kamu bisa benar-benar berbuat kesalahan dan mendapatkan maaf sama mudahnya.
Dimana kamu bisa benar-benar 'aneh' dan dimaklumi dengan mudahnya.
Dimana kamu bisa benar-benar merasa bahwa hubungan kalian jauh lebih dalam dari sekedar pacar atau saudara.
Dimana kamu bisa benar-benar tidak mengerti apa yang menyatukan kalian walau kalian memang jarang terlihat bersama..
Dimana.... kamu seakan mempunyai dunia yang sama dengan mereka. Benar-benar sama. tanpa kata 'mirip' atau 'layaknya'.
Mungkin, jika masih merasa seperti ini, kita memang hanya belum bisa 'menemukan' mereka.
Atau memang tidak ada...
Posted by Kharissa Widya Kresna at 06.59 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Coretan Kosong, Tulisan Bebas
