Universitas Negeri Semarang (UNNES) belakangan ini dihebohkan oleh Pemilihan Raya Keluarga Mahasiswa atau yang biasa kita sebut Pemira periode 2011/2012 yang akan dilaksanakan tanggal 14 Desember 2011 nanti. SepertI yang telah disosialisasikan, Pemira tahun ini diikuti oleh tiga calon. Dengan diselenggarakannya Pemira, berarti hal terpenting yang disoroti adalah mengenai kesadaran politik mahasiswa.
Kampus, selain sebagai lembaga pendidikan, juga menggambarkan miniature kehidupan bernegara, terutama mengenai aspek politik. Kecenderungan aspek poltik ini semakin terasa kuat pengaruhnya ketika memasuki masa-masa pemilihan raya seperti saat ini. Namun, berdasarkan pemahaman yang ada sekarang, politik itu memang berarti sesuatu yang ‘kejam’. Bagaimana tidak, jika dalam sebuah pameo dikatakan, bahwa dalam politik tidak ada teman yang abadi, tidak ada kawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.
Menurut Henry S, dalam www.sumajanews.com, Pendidikan politik telah diatur dalam kurikulum Sisdiknas untuk memenuhi kebutuhan politik para pelajar dan mahasiswa. Tetapi bagi sebagian remaja, terutama mahasiswa yang notabene sudah dianggap mampu berpolitik dalam tingkatan lebih kompleks, ternyata masih kurang kesadaran politiknya. Bukan bermaksud sinis, tetapi menumbuhkan kesadaran politik dikalangan mahasiswa memang merupakan hal yang penting. Hal ini bertujuan bahwa sebagai mahasiswa kita dituntut untuk kritis sekaligus solutif dalam lingkungan masyarakat.
Selain itu, kesadaran politik perlu dibangun sedini mungkin pada kalangan mahasiswa mengingat merekalah yang akan menjadi pemengang pimpinan bangsa ini dengan sportif dan tanpa mengacuhkan norma-norma yang berlaku di bangsa kita. Tanggungjawab kita selanjutnya adalah bagaimana caranya agar terbangun kesadaran politik dalam diri masyarakat. Pada Buletin Express edisi 8 November 2011, tertulis bahwa pada Pemira tahun 2010 kemarin, dari 24000 mahasiswa hanya sekitar 6000 mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya. Selain itu, fenomena lain terjadi ketika diadakan dialog Presiden mahasiswa yang terlihat sedikit peminat. Hal ini dapat memicu adanya mahasiswa yang tidak memberikan hak suaranya pada saat Pemira, dengan alasan tidak mengenal calon Presma yang mengikuti Pemira. Hal ini tentu harus ditanggulangi, karena pemilih yang cerdas merupakan salah satu syarat terselenggaranya pemilu yang berkualitas. Pemilu yang berkualitas harus meliputi kontestan dan pemilih yang beretika, taat aturan main, media yang sehat dan objektif, penyelenggara juga objektif, dan pemilihnya cerdas. Pemilih yang cerdas adalah pemilih yang memahami peraturan pemilu, mengetahui orang yang dipilihnya dan pemilih yang tidak mau dibodohi oleh calon yang menggunakan politik iming-iming sebagai alat berkampanye.
Kita harus mencontoh aksi Himpunan Mahasiswa Islam di Jakarta yang mendirikan gerakan pemilih cerdas sebagai salah satu solusi mengurangi mahasiswa yang golput, serta memulai perybahan mendasar di kalangan mahasiswa. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan memberi stimulus kapada para mahasiswa untuk tutut serta menentukan keputusan yang menyangkut kehidupan mereka melalui media yang persuasif, misalnya dengan inovasi cara kampanye atau mengadakan teatrikal tentang pentingnya hak suara mereka untuk lembaganya.
Alternatif selanjutnya adalah dengan membudayakan partisipasi mahasiswa diluar organisasi penyelenggara Pemira dalam menentukan sistem pemungutan suara. Dengan begini, mahasiswa akan merasa bahwa kehadirannya sangat dibutuhkan, sehingga akan tumbuh rasa peduli dalam diri mereka. Mari kita canangkan suatu perubahan.
Kharissa Widya Kresna
PGSD FIP UNNES 2011
085742946406
Kamis, 08 Desember 2011
Upaya Sadar Politik dalam Pemilihan Raya Unniversitas Negeri Semarang (UNNES)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 21.22 0 comments
Labels: Artikel
Rabu, 07 Desember 2011
Pendidikan Karakter, Untuk Siapa?
Dewasa ini ramai sekali diperbincangkan mengenai pendidikan karakter, setelah maraknya kasus korupsi yang terbongkar di negara ini. Tetapi apakah pendidikan karakter itu?
Menurut mandikdasmen dalam situs mandikdasmen.kemdiknas.go.id dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Tetapi apakah pelaksanaannya sudah sesuai dan mencakup seluruh aspek tersebut?
Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menjelaskan fungsi Pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; dan tujuan pendidikan nasional untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tetapi terlepas dari itu, prihatin sekali ketika saya mendapati kasus di desa kecil disebuah kabupaten di Jawa Tengah, ada oknum guru yang tertangkap basah terlibat dalam sindikat perdagangan siswi SMK Swasta ternama di kabupaten tersebut. Contoh yang lebih sepele adalah bahwa masih saja ada oknum guru -baik PNS maupun guru wiyata bakti- yang sering membolos kerja dengan berbagai alasan. Padahal pemerintah setempat sudah sering mengadakan sidak untuk mengurangi ketidakdisiplinan guru.
Sekarang mari kita pikirkan. Apa gunanya kita gencar menanamkan pendidikan karakter pada peserta didik jika sebagai pendidiknya saja ‘bermasalah’ dengan karakter? Bukankah upaya penanaman karakter yang terbaik untuk peserta didik adalah dengan memberi contoh kongkrit dalam kehidupan sehari-hari? Pendidikan karakter akan berakar kuat ketika guru menyadari keberadaan dirinya sebagai pendidik karakter dan pelaku perubahan.
Guru sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan dituntut belajar tentang banyak hal, bukan hanya materi yang akan disampaikan, guru juga harus benar-benar bisa menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menanamkan karakter pada anak sesuai kepribadian bangsa.
Karena kunci keberhasilan dunia pendidikan terletak di tangan guru, termasuk dalam menegakkan pendidikan karakter kepada anak. Sebelum guru mendidik anak supaya berkarakter, terlebih dahulu gurunya juga harus berkarakter.
Oleh karena itu, upaya penigkatan profesionalisme para pendidik merupakan hal mutlak atau suatu keharusan. Hakikatnya, kualitas seorang guru dapat dilihat dari segi moralitas, bijaksana, sabar, serta mampu menguasai materi yang akan diajarkan kepada anak, berikut upaya penerapannya. Guru harus memiliki komitmen untuk mengembangkan karakter peserta didik, dimulai dari kesadarannya sebagai penutan anak-anak didiknya. Dengan kata lain, guru inspiratif adalah guru yang mampu menularkan pengetahuan dan sekaligus menggerakkan perubahan serta memengaruhi siswa. Jadi, guru inspiratif bukanlah sekadar guru kurikulum, melainkan mampu mengembangkan potensi dan kemampuan siswa, berpikir kreatif, dan mampu melahirkan siswa yang tangguh dalam menghadapi aneka tantangan dan perubahan.
Guru inspiratif mampu membangun iklim pembelajaran dengan kreatif. Model dan media pembelajaran dibuatnya menarik perhatian. Peserta didik pun akan selalu merindukan guru semacam itu untuk terus hadir di kelas. Pembelajaran pun terasa begitu sebentar bagi peserta didik. Usai pelajaran, peserta didik pun mendapatkan pencerahan, termotivasi melakukan perubahan dan pelajaran tertanam dalam. Lebih dari itu, siswa mengalami revolusi diri: cinta pada Tuhan, berubah lebih baik, mengenal bakat terpendam dan kreatif.
Memperingati hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November yang lalu, kita pasti berharap adanya perbaikan pada sistem pendidikan di Indonesia, terutama pada pendidikan karakter ini. Karena pada dasarnya guru-lah yang memegang kendali arah generasi penerus bangsa. Dan kita sebagai mahasiswa, terutama pada mahasiswa calon pendidik sudah pasti memikul tanggungjawab untuk turut serta membangun negara, berawal pada diri dan karakter kita pribadi. Demi Pendidikan Indonesia yang lebih baik. Indonesia Bisa!
Hidup Mahasiswa!
Posted by Kharissa Widya Kresna at 04.42 0 comments
Labels: Artikel, Tulisan Bebas
Minggu, 13 November 2011
Mahasiswa dan Masa Depan
Oleh Dona Sukma Permana
Senin, 05 Juli 2010 20:38
Oleh Ermy Mulltiyarti
Mahasiswa. Tentu kita semua tahu apa pengertian dari kata – kata tersebut, Karena kita pun merupakan bagian dari kata – kata tersebut. Mahasiswa tidak dapat hanya diartikan sebagai suatu gabungan dari kata ‘Maha’ dan ‘Siswa’ tapi ‘Mahasiswa’ sebagai suatu kesatuan memiliki makna yang sangat luas. Mahasiswa bukan hanya sekedar sebutan bagi seseorang yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi tapi Mahasiswa adalah bagian sebuah proses panjang dari sesuatu yang biasa kita sebut dengan masa depan.
Apa yang kita sandang sebagai mahasiswa tidaklah ringan. Karena yang kita bawa adalah harapan dari begitu banyak manusia di Indonesia. Tentu sangatlah tidak mudah untuk dapat mewujudkan semua harapan tersebut. Tapi satu hal yang pasti bisa kita lakukan adalah belajar, karena belajar adalah suatu awal tanpa akhir. Kita akan terus belajar dan belajar untuk mendapatkan apapun yang kita inginkan termasuk masa depan yang lebih baik tidak hanya bagi diri kita sendiri tapi juga negara ini. Namun belajar dalam konteks ini tidak lantas diartikan dalam makna yang sempit sebagai seorang mahasiswa tipe ‘study oriented’ tapi belajar disini memiliki makna yang sangat luas karena dalam kehidupan sehari-hari pun kita senantiasa belajar dengan atau tanpa kita sadari. Saat kita semua terlahir kedunia ini pun kita mengalami proses yang sangat panjang, mulai dari bayi kita belajar bagaimana cara berbicara, merangkak, berjalan, hingga belajar tentang makna kehidupan. Dari kecil kita belajar membawa makna hidup yang sangat besar dari orang tua kita. Begitupun kita sebagai seorang mahasiswa, kita membawa makna dan harapan hidup dari bangsa ini. Bangsa yang tengah berjuang menghadapi banyak sekali permasalahan demi sebuah kata yaitu masa depan yang lebih baik.
Mahasiswa dengan berjuta-juta harapan yang diembannya juga merupakan seorang agen masa depan yang sangat penting. Mahasiswa berperan membawa amanat yang dititipkan banyak manusia Indonesia untuk dapat menyampaikan amanat itu dengan baik pada orang –orang yang tengah “berkuasa” di Negara ini.
Lalu muncul pertanyaan baru ‘Mengapa harus kita, seorang Mahasiswa yang harus mengemban semua itu ? Karena kita sebagai generasi muda dengan mau atau tidak mau akan menggantikan posisi orang – orang yang “berkuasa” tersebut. Karena itu kita harus mempersiapkan diri kita sebelum semua hal itu benar-benar sampai d hadapan kita. Kita harus mulai menempa kemampuan dan mental kita dari sekarang. Jangan biarkan keadaan menggerogoti jiwa kita.
Namun kenyataannya dewasa ini jauh lebih banyak mahasiswa yang “kopong” dari pada mahasiswa yang utuh. Mahasiswa kopong ini membiarkan dirinya digrogoti oleh keadaan. Wabah keadaan ini datang dalam berbagai bentuk baik rasa malas, pengaruh dunia luar ataupun sejuta alasan bodoh yang lain. Karena itu jangan sampai kita terjangkiti wabah mahasiswa ‘kopong ini’ yang terlihat secara fisik tapi kosong isinya bahkan seringkali tidak disadari keberadaannya oleh orang – orang disekitarnya. Tentu akan sangat menyedihkan. Yang seharusnya kita lakukan adalah memanfaatkan keadaan bukan dimanfaatkan oleh keadaan. Kita harus memanfaatkan keadaan kita sekarang ini di saat kita masih memiliki kesempatan untuk belajar berkontribusi dalam lingkungan dan masyarakat sekitar sebelum kita benar-benar kehabisan waktu untuk belajar.
Sekarang adalah saat yang tepat untuk membentuk karakter yang akan menjadi tolak ukur masyarakat pada kita di masa datang. Karakter ini dapat dibentuk melalui berbagai hal salah satunya dengan berorganisasi. Banyak sekali organisasi dan kegiatan di sekitar kita hanya tinggal kita yang memilih dan memutuskan karakter seperti apa yang akan kita ciptakan. Karakter ini akan menjadi stereotype untuk mengukur peran dan keberadaan mahasiswa bagi masyarakat. Seperti pada era kejatuhan orde baru. D masa itu kita bisa melihat bagaimana peran mahasiswa dalam pemerintahan. Karenanya masyarakat tidak bisa menyepelekan keberadaan mahasiswa karena mahasiswa adalah ‘agent of change’ yang merupakan tumpuan harapan masyarakat untuk masa depan Negara ini di masa depan . Kita harus bisa membuktikan keberadaan dan peranan kita bagi masyarakat dan Negara ini.
Mari Berkontribusi !!!
sumber : http://www.penilai-stan.com/index.php/component/content/article/78--mahasiswa-dan-masa-depan
Posted by Kharissa Widya Kresna at 17.14 0 comments
Labels: Artikel, Kepedulian - Kemanusiaan
Sabtu, 12 November 2011
Perjalanan Mencari Tujuan
Sebelumnya, tolong jangan katakan saya hanya pintar TEORI atau MENGGURUI. tidak. Maksud saya bukan begitu. ini hanyalah suatu yang terfikir di otak saya. Jika anda berkenan membaca, lanjutkan saja. Tapi jika anda berfikir ini tidak ada artinya, Silahkan tinggalkan halaman ini. Karena anda tidak akan mengerti. :)
(Saturday Night, November 12th 2011)
Ketika terbungkus dalam deranya hujan dan kegelapan ruang kecil ini, saya berfikir. Seperti inikah yang saya inginkan?
Seperti inikah keadaan saya?
Bahwa saya hanya tersilap dalam kotak yang bahkan lebih kecil dari yang saya pikirkan.
Bisa dibilang pikiran saya sedang tidak rasional. Saya merasa dititik bawah hidup saya. Saya frustasi dengan apa yang ada di diri saya.
Tiba-tiba ponsel saya bergetar, dengan ringtone lagu yang cukup mengagetkan.
'..You never enjoy your life, living inside the box. You're so afraid for taking chances, how you gonna reach the top?'.
[Greyson Chance - Waiting Outside the Lines]
Saya tertegun.
Saya sendiri malah lupa kalau saya yang dengan sengaja memasang ringtone itu.
Anda tau rasanya? Seperti tertampar. Seperti dibangunkan.
Selama ini saya berfikir apa yang saya lakukan, sudah cukup untuk menyelesaikan masalah. Dan diam untuk menghindari masalah.
TAPI semua itu SALAH. masalah tidak selesai. Semuanya hanya 'pelarian' tetapi tidak mengubah apa-apa. Semua yang ingin saya tinggalkan justru mengendap semakin banyak, dan mendesak keluar semakin diluar kontrol.
Saya tidak mengerti, jujur saya merasa kesulitan.
Saya membatasi diri saya karna saya merasa hampa. Saya merasa ditarik keluar dari diri saya sendiri oleh segala deretan keadaan yang saya alami.
DAN sekarang saya tau saya HARUS BANGKIT.
saya harus bisa menyeret mereka dari posisi saya, dan menempatinya kembali.
Ini mungkin suatu teori, dan pasti akan banyak kendala. Tapi benar apa kata sahabat saya malam ini,
bahwa semua ini pasti bagian dari perjalanan hidup.
Sudah cukup saya berdiam diri dan membiarkan masalah men-damage diri saya.
Sudah cukup pula saya menghancurkan diri saya sendiri
SAYA AKAN BERJUANG.
Saya mungkin sedang berjalan tanpa arah, tapi saya sedang berjuang menentukannya.
Saya mungkin sedang berjalan tanpa tau arti perjalanan saya,
tapi saya sedang berjuang menemukannya.
Saya tau, jalan diluar sana akan jauh lebih terjal dan menyakitkan. Dan mungkin berdampak jauh lebih dalam dari yang saya alami sekarang, namun saya harus memulai berjalan atau mereka akan menang tanpa perlawanan.
Hidup itu berjalan, proses itu berjalan, dan masalah serta keadaan akan terus berkembang. Jadi, apa kita akan diam saja tanpa ingin berjalan?
BEGINNING IS ALWAYS DIFFICULT, BUT ITS NOT IMPOSIBBLE.
Saya juga tau bahwa perjuangan ini mungkin tidak akan pernah benar-benar berakhir. Tapi percayalah, tidak ada salahnya mencoba.
Saya mencoba. Bagaimana dengan anda?
Semangat untuk kita!
Posted by Kharissa Widya Kresna at 20.30 0 comments
Labels: Artikel, Belajar Hidup
Seperti apa seharusnya teman itu?
Seperti apa seharusnya teman itu ?
Seperti apa sih sebuah pertemanan itu dijalankan ?
Jangan anggap aku konyol bertanya seperti itu. tapi tolong renungkanlah. jika banyak orang bilang teman itu harus saling membantu dan tolong menolong dalam kebaikan, mari pikirkan lagi. kebaikan yang seperti apa?
jangan buat aku makin ragu dengan apa itu TEMAN.
beberapa bulan yang lalu, seorang teman datang meminta tolong dan aku menyanggupi. saya tau, bantuan yang kulakukan akan berdampak besar untukku sendiri. menyangkut pencitraan buruk atas diri saya sendiri. tapi karena KUPIKIR kami TEMAN, tidak masalah. karena aku temannya, dan kewajibanku membantunya. juga karena kau tidak tega membiarkanya kebingungan.
Tapi ketika semua yang direncanakan tidak berjalan mulus, bisakah seorang teman meninggalkan kita sendirian menyelesaikan masalah yang bahkan bukan wilayah kita?
bisakah seorang teman hanya datang ketika dia yang mempunyai keperluan tapi menghilang ketika situasi membahayakan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang yang tulus berkeinginan membantunya?
Sistem pertemanan macam apa ini?
Bukannya menuntut dihargai atau bagaimana. tapi paling tidak ketika anda bicara bahwa AKU TEMAN KAMU itu berarti anda telah memberikan dampak psikologis pada orang yang anda ajak bicara. secara tidak langsung, anda pasti juga MERASA BERARTI ketika seseorang mengatakan bahwa anda adalah temannya --tentu saja ini hanya berlaku pada hal kebaikan-- karena teman adalah sesuatu yang membanggakan. karena teman adalah bagian hidup yang tak bisa ditinggalkan. karena teman adalah orang yang kita sapa tiap harinya. ataukah cuma aku yang merasa begitu?
Bagaimana seharusnya kita memperlakukan seorang teman?
Banyak orang mau melakukan apa yang diminta seseorang atas dasar rasa TEMAN, tetapi tidak menyadari apakah hal yang dia lakukan benar atau salah. Aku salah satunya.
jadi,
TEMAN, apa aku salah menganggapmu teman?
apakah benar kamu temanku? atau kamu hanya sebatas orang lain yang kuketahui namanya tapi tidak kukenal?
buktikan bahwa kamu adalah TEMAN bukan raga dengan nama tapi TANPA ARTI bagi orang lain.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.33 0 comments
Labels: Artikel, Belajar Hidup, Kepedulian - Kemanusiaan
Menghapus Nepotisme. Yakin??
Salam..
ini bukan sesuatu yang diperuntukkan untuk mengkritisi suatu sistem, TAPI untuk MENGKRITISI DIRI SENDIRI.
Santai saja.. :bigsmile:
tau definisi Nepotisme?
Sederhananya Nepotisme adalah suatu tindakan memberikan sesuatu (mungkin jabatan, kesempatan, dll) kepada orang atau kelompok tertentu yg memiliki hubungan intens dengan si pemberi.
Flashback di Orde Baru, KKN --kolusi Korupsi Nepotisme-- banyak merebak di sistem pemerintahan RI.
Tapi kali ini kita tidak membahas sistem. Melainkan KEBIASAAN.
Mari kita renungkan, bisakah nepotisme dihapus ?
Nyatanya, nepotisme sudah mendarah daging dalam hidup kita.
Tidak usah jauh2. Sebagai mahasiswa, tiap masuk dalam ruangan untuk mengikuti kuliah, beberapa mahasiswa yg datang lebih awal mengklaim-kan tempat duduk untuk teman dekatnya yg belum datang.
Akibatnya, beberapa mahasiswa lain yg susah payah hanya bisa kebingungan melihat tempat duduk strategis sudah 'dipesan' teman2 lain yg belum datang.
Atau seperti ini kasusnya : Sama2 minta dipesankan tempat duduk, yg satu teman dekat kita, sedangkan yg lain belum kita kenal dgn baik, pasti yg pertama kali kita pesankan tempat duduk adalah teman dekat kita. Ini juga contoh nepotisme kan? Mengutamakan keuntungan orang yg sudah kita kenal, padahal mereka punya kesempatan yg sama.
Lalu, dalam proses perkuliahan : ketika persentasi materi, sesi tanyajawab diisi oleh pertanyaan dari teman dekat yg sengaja dipilih oleh kelompok yg bersangkutan. Lalu, saya ingat ketika seorang teman bercerita bahwa ketika dalam suatu forum ada yg bertanya tentang bagaimana menjadi aktifis organisasi mahasiswa, sang pemateri menjawab '..dengan mencari kenalan kakak tingkat.. (lupa lanjutannya)'
bukankah sudah jelas ?
Contoh lain dosen saya, lebih cenderung melihat dan menganakemaskan teman saya yg sudah beliau kenal dibanding saya, padahal saya sudah seaktif mungkin didepan beliau. Padahal saya berusaha sekeras mungkin mempersiapkan pertanyaan atau materi se-baik mungkin. Tapi tetap saja saya diabaikan. Sedangkan teman saya tidak melakukan apaapa. :( (curcol dikit)
Bahkan, baik anda akui atau tidak, anda pasti selalu mempertimbangkan aspek subjektifitas saat mengambil keputusan yg menyangkut orang lain. Cuma bedanya, anda mampu mengalahkan 'nafsu' tsb atau tidak. :)
Dan hey, anda pasti tidak sadar ketika anda menilai seseorang.
Anda PASTI akan lebih mempertimbangkan orang yg sudah anda kenal lama & sudah anda ketahui perilakunya, DARIPADA orang yg anda kenal sehari tanpa anda ketahui kemampuannya yg sebenar-benarnya.
Lalu bagaimana nasib orang yg baru anda kenal? Jika mungkin justru dia-lah yg (mungkin) lebih menginginkan dan lebih bisa melakukan sesuatu dibanding orang yg sudah lama anda kenal? Nepotisme juga kan itu?
Contoh :
ketika anda dihadapkan pilihan antara bekerjasama dengan teman dekat anda ato bekerjasama dengan teman yg belum anda kenal sebelumnya, apa yg akan ada pilih?
Hampir dapat dipastikan anda akan cenderung memilih teman dekat anda.
Memang, terlihat bahwa Nepotisme itu berkaitan erat dengan KENYAMANAN KITA.
Maka dari itu, jika ada suatu harapan menghapus nepotisme dari negara ini, mulailah menyadari hal kecil yg kita lakukan.
Kenapa kita 'takut' menilai seseorang yg baru dalam hidup kita?
Menurut saya pribadi, menghapus nepotisme itu sulit--bahkan cenderung tidak mungkin-- karna subjektifitas itu manusiawi. tapi setidaknya kita mampu meminimalisir terjadinya Nepotisme demi kenyamanan semua pihak. Betul tidak ? :)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.31 0 comments
Labels: Artikel, Belajar Hidup
Terkadang salah mengartikan 'Nikmat'
Teman, ingatkah apa yg kita katakan ketika awal pidato atau membuka sesuatu wacana lisan?
Berawal saya mencermati beberapa teman,
Lets repeat :
'..Pertama-tama marilah kita Panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yg telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya berupa nikmat keselamatan dan nikmat kesehatan..' dst.
Pertanyaan yg timbul adalah, APAKAH NIKMAT HANYA SEBATAS HAL-HAL SEMACAM ITU ?
dan otak saya secara otomatis menjawab : ABSOLUTELY NO.
Pernahkah terlintas difikiran anda,
bahwa corak baju anda yg dipuji bagus oleh orang lain itu juga NIKMAT ?
bahwa anda masuk kelas terlebih dahulu --sedangkan teman anda mungkin terlambat-- itu juga nikmat ?
Dan bahkan, ketika anda punya teman bicara yg menyenangkan itu juga NIKMAT?
Bukankah anda sudah bisa berfikir lebih cepat dibanding teman anda itu juga nikmat?
Orang lain belum tentu mendapatkan itu semua kan?
masalahnya adalah, betapa hal2 yg sangat sederhana ini-lah yg tanpa sengaja kita abaikan. Dan bahkan, kita lupa untuk mengucapkan terimakasih. Dan yg lebih parah, kita sibuk mengkritik sedikit dari kekurangan kita yg bahkan jauh lebih sedikit dari kenikmatan kita.
DAN bukankah MASALAH serta KEKURANGAN kita juga sebuah NIKMAT ? dimana masalah dan kekurangan kita itulah yg menjadikan kita lebih dari sebelumnya.
Tanpa masalah, kita akan tetap menjadi kita ketika SD dulu.
Tanpa kekurangan, kita akan sama dengan banyak orang lain didunia ini yg mengakibatkan hidup ini monoton.
Kelebihan bisa diusahakan, tapi kekurangan kita yg tercover itulah yg menjadi ciri khas.
Jadi, katakanlah, yg mana dari nikmat Tuhanmu yg kamu dustakan ?
:)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.30 0 comments
Labels: Artikel, Belajar Hidup
Minggu, 16 Oktober 2011
Tatapan anak kecil dipinggir Jalan itu...
Well, sore ini (16/10-2011) aku dan salah seorang teman melintas di pertigaan jalan di kota ini.
miris banget pas ngliat ada anak kecil umur 8-9taunan lagi nggendong adheknya yang mungkin sekitar 1 taunan, duduk di pinggir taman pembatas jalan.
walo sekilas, jelas banget kalau anak kecil itu lagi berusaha ndiemin adheknya yang lagi nangis, padahal kita tau, jalan semarang begitu panasnya. sementara kendaraan lalulalang banyak banget dan pasti membahayakan mereka. tapi tak ada satu-pun kendaraan yang peduli (mungkin termasuk aku, karna aku juga cuma lewat begitu saja)
tapi Guys,, ternyata keadaan kayak gini mengganggu banget.
bagaimana bisa kita semua cuek dengan hal-hal semacam ini ? bayangkan kalo itu adhek kita, atau (mungkin) anak kita.
tidakkah pemandangan seperti ini menyakitkan sekali ?
Lalu aku berfikir, salah siapa sebenernya keadaan ini ?
orang tua yang mengabaikan kemerdekaan masa kecil mereka-kah ?
atau pemerintah yang tidak memperhatikan mereka ?
atau itu justru SALAH KITA yang tidak mengindahkan tatapan mata mereka yang kepanasan, dan kulit mereka yang menghitam ? sedangkan kita, berada dalam keadaan yang jauh berlebih dibanding mereka.
secara pribadi-pun aku malu. sebagai orang yang sekarang sedang belajar menjadi guru anak seusia mereka, aku berani menulis impian SEKOLAH GRATIS UNTUK ANAK JALANAN. tapi hari ini, aku disadarkan tuhan kalau ternyata, tantangannya lebih besar dari yang aku kira. sedangkan aku cuma lewat begitu saja ketika melihat mereka.
pernahkah anda berfikir demikian ? sedikit saja ? ataukah kita hanya berfikir bagaimana caranya menuntut pemerintah sedangkan kita tidak berbuat apa-apa ?
lalu aku berfikir lagi, langkah tegas apakah yang harus kami tempuh ya Rabb ? untuk membebaskan mereka dari debu jalanan yang bisa aja mengganggu pernafasan mereka.
sedangkan pemerintah juga sudah mengatur dalam undang-undang tentang nasib mereka.
sedangkan orangtua mereka sudah menahan nafas demi mereka--tak akan ada orangtua yang ingin anaknya terlantar dijalanan--,
sedangkan kami --segelintir orang-- pun sudah berusaha membantu mereka semampu kami.
ya Rabb, kiranya jangan tambah lagi jumlah manusia yang tidak peduli pada mereka.
kiranya jangan lagi KAU tambah kebutaan kami akan mereka, jika justru kami-lah yang menyebabkan anak-anak polos-lucu-dan belum tau apa-apa itu terkorbankan masa depannya.
dan kini GILIRAN KITA.
APA YANG BISA KITA LAKUKAN UNTUK MEREKA YANG MENATAP KITA DARI PINGGIR JALAN ???
#dedicate to Kintan Siwi Andhiniari dan Wildan Akbar Alfiansyah, adhekku tercinta.
belajar yang bener ya dhek.. mbak sayang adhek..
Posted by Kharissa Widya Kresna at 03.36 0 comments
Labels: Kepedulian - Kemanusiaan
Jumat, 14 Oktober 2011
Sudah Berapa Lama Tidak Hujan, Ya Rabb ?
Sudah berapa lama tidak hujan ?
Aku sudah rindu berlari dibawahnya dan membiarkan air dari sudut mataku menetes bersama hujan.
Sudah berapa lama tidak hujan ?
Sudah terlalu keringkah hati dan jiwa ini untuk terbasahi kembali ?
ingin sekali kulempar semua ini dan berteriak, Aku rindu hujan !
Betapa ingin aku memeluk semua ini untuk meniriskan resahku.
Aku rindu hujan yang membawa rinduku padanya.
Hujan yang membawa semua asaku tentangnya.
Hujan yang membawa bayangnya menemaniku.
Hujan yang menceritakan ketulusannya.
Hujan yang menghapus semua sedih dan keraguanku.
Hujan yang mendinginkan aku ketika berkobar dalam apiku.
dan Hujan lah yang menjadi alasanku bersamanya.
Hujan yang membuatku gelisah dan begitu tenang disaat yang sama.
Hujan yang membuatku sangat lemah dan sangat kuat disaat yang sama.
Hujan yang membuatku sangat kekanakan tapi juga sangat dewasa disaat yang sama.
Dan Hujan...
yang membuatku bertahan ketika aku begitu ingin menyerah.
Karna hujan adalah nafasnya dalam nafasku.
Hujan adalah dirinya dalam diriku.
Hujan yang tenang itu... DIA.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 15.52 0 comments
Labels: Puisi - Curahan hati
Selasa, 11 Oktober 2011
Sepucuk Surat... (Lagi)
by Malfactor Tertatih on Tuesday, April 26, 2011 at 4:46pm
Listen to me carefully...
Hey, Dear... :)
Apa lagi yang bisa aku tulis ?
nggak terlalu banyak, mungkin. karna justru terlalu banyak senyum yang kau hadirkan, sampai aku nggak tau yang mana yang akan aku ceritakan pada dunia.
Hey, Dear...
Mungkin kita memang sangat berbeda dari pasangan-pasangan lain diluar sana.
seperti saat ini. kamu mungkin bakal jarang banget mengungkapkan sesuatu tentang aku, sedangkan aku menulis milyaran kata dipuluhan note seperti ini, yang semuanya tentang kamu.
Hey, Dear...
kau itu unik.
setauku, tak banyak mahluk berjenis kelamin pria yang perasaannya peka kayak kamu.
Aku belum pernah tau ada cowok yang super cuek diluar, tapi ternyata punya firasat kuat tentang pasangannya.
Kamu mungkin satu-satunya cowok yang maksa aku nggoreng telur tengah malem cuma biar aku gendut, padahal aku berusaha keliatan langsing, biar kamu seneng. kalo gitu, aku harus ketawa ato cemberut?
Kamu mungkin juga satu-satunya cowok yang dengan polos ngasih kaos setengah basah sambil bilang,
"karena aku nggak pinter mbungkus, cuma kulipat asal-asalan nggak pa-pa ya.."
Yang akhirnya bikin aku setengah mati nahan airmata, tapi aku nggak bisa berhenti ketawa.
dan yang jelas, kamu satu-satunya cowok yang bisa bikin aku berhenti kecanduan hujan.
dan aku seneng waktu kamu nyuruh aku belajar dengan tegas. padahal aku selalu ngulur-ngulur waktu dan ngajak ngobrolin segala hal biar bisa ratusan kali smsn sama kamu.
Aku selalu seneng :
Karena kamu nggak pernah menutupi apa-apa tentang kamu dari aku.
Karena ketika kamu mimpi aku selingkuh, kamu bilang itu mimpi buruk.
Karena kamu nemenin aku diRumah Sakit.
Karena kamu ngikutin aku ma kakakku ke kantor pos.
Karena kamu selalu tau tiap aku boong.
Karena kamu ngasih motivasi yg luar biasa.
Karena kita nggak sering ketemu padahal rumahmu dibelakang sekolahku.
Karena kamu slalu ngopy-in aku film.
Karena kamu ngliat aku dari semua sisi.
Karena kamu tetep senyum pas liat mukaku yg imut dalam keadaan jelek banget.
Karena kamu ngebiarin aku jadi tetep ngrengek2 manja, tapi ngajarin aku bedain suasana.
Karena kamu nggak pinter ngeluarin kata-kata puitis buat nyenengin aku, tapi mengatakan kalimat sederhana yang dalem banget artinya.
Karena kamu bikin aku mati-matian berusaha ngertiin kamu dengan cara-cara dewasa.
Karena kamu ngebawain 3 lollipop kesenenganku pas aku 5 hari berada bermil-mil jauhnya dari kamu.
Karena kamu satu-satunya orang ngedoain aku cepet dapet KTP diultah ke-17-ku taun ini...
Karena kamu ngasih apa yang aku butuh, bukan apa yang aku pengen.
Karena kamu selalu bikin kejutan pas bilang kamu kangen aku.
Karena kamu bilang sayang ke aku dengan polos dan tanpa ada rayuan sedikit-pun.
Karena kamu mau ijin kerja buat nganterin aku daftar kuliah.
Karena kamu gampang banget ketiduran pas lagi asik ngobrol.
Karena kamu manggil aku `cil` atau `sayem`.
Karena kamu seneng nyabutin bulu halus ditanganku.
Karena kamu mbeliin kaos couple buat aku.
Karena kamu selalu mau ngasih kesempatan buat aku.
Karena kamu percaya aku.
Karena kamu nggak pernah lupa ngasih dopping belajar.
Karena kamu slalu bikin aku khawatir tiap kamu lupa bawa HP.
Karena kamu ngebiarin aku berfikir sendiri.
Karena kamu ada saat aku butuh bantuan.
Dan masih banyak lagi...
Ahhh... aku capek nulis ribuan kata-kata. masih terlalu banyak.
Padahal pada dasarnya makna-nya sama : Aku bersyukur banget punya kamu.
tetaplah begitu, ya...
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.32 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
A letter 4 my Mom - The Sun of my world
by Malfactor Tertatih on Tuesday, August 2, 2011 at 9:03pm
Yeah, mom.. 2 minggu lagi putrimu ini mulai menapaki dunia perkuliahan.
Mulai hidup berjauhan dengan sosokmu bu..
Lalu apa ?
Beberapa bulan yang lalu mungkin perasaan ini berbeda.
Aku senang, aku sudah mahasiswa. Bahkan tak sabar untuk segera berangkat.
Mulai merengek minta diizinkan bawa motor, ato cepat-cepat dicarikan tempat kost.
Tapi bu..
Menjelang keberangkatanku ini rasanya aku justru tak ingin cepat-cepat keluar dari zona nyaman yg ibu ciptakan.
Senyummu, omelanmu, atau cara ibu menyiapkan sarapanku.
Ibu..
Bisakah aku berhenti mengkhawatirkanmu ditempat baruku nanti ?
Selama 17tahun aku begitu lekat denganmu.
Selalu bisa dipastikan begitu aku pulang aku bisa langsung menemukan ibu didapur, menyiapkan makan siangku.
Ibu..
Kita tetaplah anak dan ibunya.
Yg slalu berdebat dengan warna baju, menu makan, ato model sepatu.
Sepele sekali ya?
Tapi bu, sekarang aku tau kalau itu sangat berarti.
Apalagi yg akan kuharapkan?
Berangkat kuliah dikota yg berlainan denganmu, memantapkan jodohku, lalu menikah dan tinggal bersama suamiku ?
Berapa sisa waktu yg bisa kubaktikan?
Ibu..
Masih pantaskah aku merengek minta dipeluk diusiaku yg sekarang ini ?
Tapi aku memang ingin begitu..
Bu..
Maafkan putrimu ini..
Tak banyak yg telah kuperbuat untuk membuat ibu tersenyum bangga padaku..
Malah aku slalu membuat ibu kecewa.
Membantah perkataan ibu, melawan permintaan ibu.
Maafkan sikapku selama menjadi putri kecilmu yg manja..
Mengertikah ibu ?
Walau aku tak ingin ibu terlalu mencampuri urusanku, tetapi aku mau ibu slalu perhatian padaku.
Walau aku tak mau ibu sedih aku pergi, tapi aku mau ibu slalu merindukan aku.
Memujiku didepan adik2, atau menelponku untuk segera pulang.
Bisakah hal kekanak-kanakan itu membuat ibu makin menyayangiku ?
Ibu..
Terimakasih sudah mengantarkan putrimu ini digerbang kedewasaan.
Terimakasih sudah menyiapkan semuanya untuk keperluanku..
Terimakasih sudah tulus mengurus hidupku. Bahkan sekecil apapun kebutuhanku.
Aku tau aku masih akan pulang seminggu sekali, ato dua minggu sekali, ato sebulan sekali.
Yg jelas secepatnya aku bisa pulang, aku pasti segera pulang.
Tapi itu tak membuatku berhenti sedih jika memikirkan nantinya tak setiap hari bertemu dengan ibu..
Sampaikan pada ayah dan adik2 ya bu..
Supaya mereka menjaga ibu, untukku.
Aku memang tak pernah mengatakan apaapa padamu bu, tapi percayalah..
Aku sayang ibu. Lebih dari apa yg bisa kuungkapkan.
Doakan aku bu, doakan aku.. Restumu adalah bagian terpenting dihidupku.
Salam sayang,
Putrimu.
Rissa.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.28 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Tulisan Bebas
Cinta. Apa maksud Tuhan memberiku cinta?
Ehm..
Kadang aku pengen tanya, kenapa Tuhan beri aku rasa yang sedemikian ini.
Untuk menghibur diri, aku slalu bilang 'ah.. Pasti IA punya maksud tertentu. Jalani saja..'
tapi nyatanya ?
Sampai sekarang aku belum tau persis apa maksudnya.
Ibu bilang, apapun yg diberi-NYA kepada kita adalah untuk menguji kita.
Kalau bukan untuk itu, apa lagi ??
Sudah 20 bulan lebih 7 hari ketika aku menulis ini.
Aku punya cinta. Dan masih kujalani.
Tapi sampai sekarang-pun nyatanya aku masih belajar cara terbaik mencintai seseorang yg IA titipkan sekarang.
Masih belajar apa maksud Tuhan memberiku cinta yg kutujukan pada seseorang-ku sekarang.
Tapi yg perlu untuk di camkan adalah,
aku mensyukuri cinta yg IA berikan & mensyukuri seseorang yg IA titipkan untuk bersamaku.
:)
Awal aku terpaut, susah di deskripsikan. Tepatnya aku tidak tau apa & bagaimana awalnya.
Tiba-tiba saja disuatu malam ketika mati lampu aku terisak mengakui aku menyayanginya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku menyadari & percaya bahwa tidak ada yg bisa kuingkari ?
Bulan - bulan pertama cukup berat. Perbedaan kami sempat membuat aku dan seseorangku saling menyakiti bahkan sempat memisahkan kami beberapa lama.
Tapi akhirnya egoku luluh.
inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar berkorban demi orang lain ?
Lalu banyak sekali perubahan di diriku karena sikapnya. Mulai dari berhenti kecanduan hujan. Belajar untuk tidak childish. Belajar untuk bersabar. & belajar memahami seseorang-ku.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar menghargai dan mengerti orang lain ?
Pernah juga aku melakukan kesalahan besar. Mendustakan cinta. & mengingkarinya. Tapi akhirnya aku kembali padanya sampai sekarang.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar mengakui kesalahan dan tidak gegabah ?
Dan atas kesalahan besarku itu, dia tetap memaafkan & memberi kesempatan memperbaikinya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku tau apa arti MAAF dan MENYESAL ?
Kemudian sikap-sikap manisnya yg mendewasakan aku. Tidak romantis, sederhana dan berarti. Sangat berarti.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku merasakan rasanya dicintai setulusnya ?
Juga ketakutanku kehilangannya, dan keinginanku membuatnya ceria.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar menjaga sebaik-baiknya yg kumiliki ?
Karena aku mencintainya, aku membatasi cinta lain yg datang.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku SETIA ?
Kemudian keputusanku mengenalkan seseorang-ku kepada orang tuaku ketika awal aku dan dia melangkah bersama.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar meminta restu orangtua untuk hidupku ?
O ya, ketika seseorang-ku selalu menyuruhku belajar.
Dan aku memang jadi bersemangat karna ingin memenuhi keinginannya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar berusaha sebaik yg aku bisa agar tidak mengecewakan harapan orang lain ?
Untuk semua kekurangan dan kelebihannya, aku menyukainya dan belajar memaklumi kekurangannya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku menerima orang lain apa adanya dan mensyukuri yg telah IA beri padaku ?
Lalu sampai malam ini aku merasa amat sangat rindu, tapi seseorang-ku sedang tak punya banyak waktu.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku belajar menghadapi keadaan yg tak selalu seperti yg kuinginkan ?
Untuk segalanya yg ia lakukan untukku.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku mengerti bahwa cinta tidak sekedar kata CINTA. Tapi sikap. Begitukah ?
Dan 1 hal berarti : Setelah semua yg manis dan pahit yg aku lalui dengannya.
Inikah maksud Tuhan ? Agar aku dan dia belajar saling mempertahankan ? Agar aku dan dia belajar bekerjasama menyelesaikan masalah ? Agar aku dan dia belajar mencapai hasil akhir yg indah ?
Terimakasih, Tuhan.. Atas cinta & kepercayaan yg KAU beri, dan membuatku belajar banyak hal.
Dan seseorang-ku, terimakasih. Kamu luar biasa.
:)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.26 0 comments
Labels: Coretan Kosong
Senin, 25 April 2011
Just About Me, tonight.
Aku dilahirkan & tumbuh menjadi orang yang berbeda dari mereka.
Karena aku terlalu berbeda.
Pada goresan yang sama dengan yang mereka alami, lukaku jauh lebih dalam.
Pada serpihan kecil tawa yang sama dengan yang mereka rasakan, kebahagiaanku terasa jauh lebih besar. Tentu itu hanya berlaku untukku.
Mungkin karena aku terbiasa menjadi orang yang tidak diperhatikan.
Ada atau tidak adanya aku terasa sama saja untuk orang lain.
Tak banyak yang tau seperti apa rasanya menjadi bagian kecil yang tak terlihat, tapi aku tau persis rasanya.
Tersingkir karena berbeda, tersingkir karena tak bisa melakukan hal yang sama, dan tersingkir karena tak begitu berarti.
Itulah kenapa ketika aku merasa menyayangi seseorang, aku cenderung tlalu takut kehilangan mereka.
itu alami, menurutku.
Bagiku, DICINTAI SETULUSNYA oleh seseorang adalah ANUGRAH YANG LUAR BIASA.
Terima kasih pada mereka yang membuatku merasakan itu.
(tapi itu-pun hanya beberapa orang)
Aku pernah tersakiti oleh suatu persahabatan. That's why, aku nggak terlalu pandai percaya pada teman kalo mereka akan membuat hidupku berwarna.
Akibatnya, aku tak punya banyak teman.
Aku pernah kecewa dengan keluarga. That's why aku sering melindungi diri dibenteng yang kusebut kamar.
Dimana ketika kau menangis ato bahkan mencoba bunuh diri, tak akan ada yang tau.
Well, aku terpuruk beberapa lama. Karena kupikir, jika ibuku aja nggak bisa mengerti aku, bagaimana orang lain bisa??
Aku bodoh berpikiran seperti itu?
Bisa juga.
Tapi aku hanyalah anak yang ingin amat sangat dekat dengan ibunya. Aku ingin tak satu tak hal-pun tentang aku yang ibuku tak tau.
Wajar kan?
semoga Allah memberi ibu umur panjang untuk nemenin aku.
Aku pernah juga terluka dalam mencintai seseorang.
Sebenarnya, aku nggak mudah mencintai orang sepenuh hati, dan aku baru 2x merasakannya.
Yang pertama berakhir tragis,
sedangkan yang kedua sedang kujalani
(y Allah, Lindungi ia), aku memberikan semuanya. Semuanya. Tapi bukan dalam bentuk materi. Karena kalo itu aku nggak bisa.
Semoga Allah menjaga kami.
Well, rasanya menggoda banget mencampakkan diriku sendiri saat sedih atau hancur.
Kalian boleh percaya, aku sudah melakukan kenakalan yang mungkin belum pernah kalian lakukan.
Tapi aku bukan orang yang tahan sakit.
Aku bisa tak tidur 3 hari hanya karena marahan dengan orang yg kusayangi.
Aku pernah hujan-hujanan tengah malem 4hari berturut-turut.
Aku pernah hampir bunuh diri.
Gila?
Tidak. Hal seperti itu wajar ketika kau sedang depresi.
Aku udah bilang dari awal kalo perasaanku amat sangat sensitif.
Aku hanya bisa dipahami dengan kesabaran yang lebih. Sayangnya, tak banyak orang yang bisa.
Untuk orang yang bersamaku sekarang, bersabarlah.. Kumohon.
Aku tak tau apa masih ada orang seperti kamu yang bisa kutemui.
Aku sering mengungkapkan hal dengan cara yang salah, walau aku tak pernah bermaksud menyakiti siapa-pun.
Aku sering membuat orang-orang terdekatku marah tanpa sengaja, lalu aku tak bisa berhenti minta maaf, dan justru membuat mereka makin marah.
TAPI AKU TAK PERNAH BERMAKSUD JAHAT.
tolong...
Tapi karena itu semua --aku yakin-- aku akan jauh lebih bisa menghargai hidup & komitmen yang ada didalamnya, lebih dari mereka yang tidak mengalaminya.
Seseorang mengatakan padaku, bukan hasil yang paling penting tapi Proses.
Karena proses membuat kita belajar.
Maaf untuk semua yang ku sebut disini.
Kalian tau ?
Aku mungkin sebuah objek psikologis yang menakjubkan bagi psikiater.
Oh, aku benar-benar butuh pskiater.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 09.31 0 comments
Labels: Coretan Kosong

