Salam..
ini bukan sesuatu yang diperuntukkan untuk mengkritisi suatu sistem, TAPI untuk MENGKRITISI DIRI SENDIRI.
Santai saja.. :bigsmile:
tau definisi Nepotisme?
Sederhananya Nepotisme adalah suatu tindakan memberikan sesuatu (mungkin jabatan, kesempatan, dll) kepada orang atau kelompok tertentu yg memiliki hubungan intens dengan si pemberi.
Flashback di Orde Baru, KKN --kolusi Korupsi Nepotisme-- banyak merebak di sistem pemerintahan RI.
Tapi kali ini kita tidak membahas sistem. Melainkan KEBIASAAN.
Mari kita renungkan, bisakah nepotisme dihapus ?
Nyatanya, nepotisme sudah mendarah daging dalam hidup kita.
Tidak usah jauh2. Sebagai mahasiswa, tiap masuk dalam ruangan untuk mengikuti kuliah, beberapa mahasiswa yg datang lebih awal mengklaim-kan tempat duduk untuk teman dekatnya yg belum datang.
Akibatnya, beberapa mahasiswa lain yg susah payah hanya bisa kebingungan melihat tempat duduk strategis sudah 'dipesan' teman2 lain yg belum datang.
Atau seperti ini kasusnya : Sama2 minta dipesankan tempat duduk, yg satu teman dekat kita, sedangkan yg lain belum kita kenal dgn baik, pasti yg pertama kali kita pesankan tempat duduk adalah teman dekat kita. Ini juga contoh nepotisme kan? Mengutamakan keuntungan orang yg sudah kita kenal, padahal mereka punya kesempatan yg sama.
Lalu, dalam proses perkuliahan : ketika persentasi materi, sesi tanyajawab diisi oleh pertanyaan dari teman dekat yg sengaja dipilih oleh kelompok yg bersangkutan. Lalu, saya ingat ketika seorang teman bercerita bahwa ketika dalam suatu forum ada yg bertanya tentang bagaimana menjadi aktifis organisasi mahasiswa, sang pemateri menjawab '..dengan mencari kenalan kakak tingkat.. (lupa lanjutannya)'
bukankah sudah jelas ?
Contoh lain dosen saya, lebih cenderung melihat dan menganakemaskan teman saya yg sudah beliau kenal dibanding saya, padahal saya sudah seaktif mungkin didepan beliau. Padahal saya berusaha sekeras mungkin mempersiapkan pertanyaan atau materi se-baik mungkin. Tapi tetap saja saya diabaikan. Sedangkan teman saya tidak melakukan apaapa. :( (curcol dikit)
Bahkan, baik anda akui atau tidak, anda pasti selalu mempertimbangkan aspek subjektifitas saat mengambil keputusan yg menyangkut orang lain. Cuma bedanya, anda mampu mengalahkan 'nafsu' tsb atau tidak. :)
Dan hey, anda pasti tidak sadar ketika anda menilai seseorang.
Anda PASTI akan lebih mempertimbangkan orang yg sudah anda kenal lama & sudah anda ketahui perilakunya, DARIPADA orang yg anda kenal sehari tanpa anda ketahui kemampuannya yg sebenar-benarnya.
Lalu bagaimana nasib orang yg baru anda kenal? Jika mungkin justru dia-lah yg (mungkin) lebih menginginkan dan lebih bisa melakukan sesuatu dibanding orang yg sudah lama anda kenal? Nepotisme juga kan itu?
Contoh :
ketika anda dihadapkan pilihan antara bekerjasama dengan teman dekat anda ato bekerjasama dengan teman yg belum anda kenal sebelumnya, apa yg akan ada pilih?
Hampir dapat dipastikan anda akan cenderung memilih teman dekat anda.
Memang, terlihat bahwa Nepotisme itu berkaitan erat dengan KENYAMANAN KITA.
Maka dari itu, jika ada suatu harapan menghapus nepotisme dari negara ini, mulailah menyadari hal kecil yg kita lakukan.
Kenapa kita 'takut' menilai seseorang yg baru dalam hidup kita?
Menurut saya pribadi, menghapus nepotisme itu sulit--bahkan cenderung tidak mungkin-- karna subjektifitas itu manusiawi. tapi setidaknya kita mampu meminimalisir terjadinya Nepotisme demi kenyamanan semua pihak. Betul tidak ? :)
Sabtu, 12 November 2011
Menghapus Nepotisme. Yakin??
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.31
Labels: Artikel, Belajar Hidup
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 comments:
Posting Komentar