Sabtu, 12 November 2011

Terkadang salah mengartikan 'Nikmat'

Teman, ingatkah apa yg kita katakan ketika awal pidato atau membuka sesuatu wacana lisan?
Berawal saya mencermati beberapa teman,
Lets repeat :
'..Pertama-tama marilah kita Panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yg telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya berupa nikmat keselamatan dan nikmat kesehatan..' dst.
Pertanyaan yg timbul adalah, APAKAH NIKMAT HANYA SEBATAS HAL-HAL SEMACAM ITU ?
dan otak saya secara otomatis menjawab : ABSOLUTELY NO.
Pernahkah terlintas difikiran anda,
bahwa corak baju anda yg dipuji bagus oleh orang lain itu juga NIKMAT ?
bahwa anda masuk kelas terlebih dahulu --sedangkan teman anda mungkin terlambat-- itu juga nikmat ?
Dan bahkan, ketika anda punya teman bicara yg menyenangkan itu juga NIKMAT?
Bukankah anda sudah bisa berfikir lebih cepat dibanding teman anda itu juga nikmat?
Orang lain belum tentu mendapatkan itu semua kan?

masalahnya adalah, betapa hal2 yg sangat sederhana ini-lah yg tanpa sengaja kita abaikan. Dan bahkan, kita lupa untuk mengucapkan terimakasih. Dan yg lebih parah, kita sibuk mengkritik sedikit dari kekurangan kita yg bahkan jauh lebih sedikit dari kenikmatan kita.
DAN bukankah MASALAH serta KEKURANGAN kita juga sebuah NIKMAT ? dimana masalah dan kekurangan kita itulah yg menjadikan kita lebih dari sebelumnya.
Tanpa masalah, kita akan tetap menjadi kita ketika SD dulu.
Tanpa kekurangan, kita akan sama dengan banyak orang lain didunia ini yg mengakibatkan hidup ini monoton.
Kelebihan bisa diusahakan, tapi kekurangan kita yg tercover itulah yg menjadi ciri khas.

Jadi, katakanlah, yg mana dari nikmat Tuhanmu yg kamu dustakan ?

:)

0 comments:

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir