Selasa, 31 Januari 2012

Kalahari di Mataku Saat ini (Sepucuk Surat Penghabisan Kisah)

Temaram senja, mengadu deru yang menerbangkan tiap butiran kristal pasir ini.
Dalam gelap aku berharap kelak akan tiba pula pada masa yang aku butuhkan. Masa dimana aku tak kan lagi menutup mata ketika memandang sepasang mata yang begitu mengagumkan.
Mungkin kau takkan tersenyum didepanku. Mungkin juga kau akan berlalu begitu saja. Mungkin juga kau akan menganggapku tak ada.
Tak apa. Aku sudah memikirkan tiap kemungkinan yang akan terjadi.
Aku sudah siap.
Hanya saja begitu lelah rasanya berdiri disini memandang gemerlap rumahmu hari ini.
Ini gurun. percayalah ini gurun. Gurun yang bahkan aku tak tau seberapa luasnya, atau berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mengarungi samudera pasir ini.

Temaram senja, mengadu deru yang menerbangkan bias-bias harapan masa ini.
Betapa tidak? bukankah seharusnya aku yang berdiri disana? memandang bahagia ke arah teman-teman yang menyaksikan perjuangan kita, hingga penghabisan luka yang harusnya terjadi hari ini. Masih ingatkah kau tentang tiap angan yang kita lukis bersama? tentang warna-warni indah dunia kita.

Temaram senja, mengadu deru yang menerbangkan secercah sinar kebenaran.
Aku terjebak dalam kabut, kalau kau tau. memandangmu dari sini tak akan cukup untuk seseorang yang menyayangimu.
Ya. Aku menyayangimu. Lalu apa? Sudahlah. Berdirilah. Berjalanlah. dan aku juga akan berjalan. Tapi aku ingin kau mengetahui satu hal,
bahwa aku sudah sangat beruntung sudah menjadi orang yang tau dirimu.
bahwa aku sudah sangat beruntung sudah mampu menemanimu, walau dari sudut terjauh hidupmu..

Temaram senja, mengadu deru yang menerbangkan titik-titik airmata ini.
Aku ini siapa? dari awal selalu kupikirkan tentang itu. Maafkan aku, aku yang membiarkanmu masuk kedalamku. Jadi kupikir memang benar sikapmu jika kau tak memandangku. Bagaimana bisa? Kau sudah berada dalam oase gurun ini. sedangkan aku adalah angin panas yang mematikan. Dan aku sepenuhnya sadar, hanya orang bodoh yang mau melepas oase hanya untuk mati bersamaku.
Dan aku tau kau tidak bodoh.
kau tidak cukup bodoh untuk memilih bersamaku.

Temaram senja, mengadu deru yang meniupkan angin kering disini.
Ini mataku, kau tau? gurun ini mataku. Mungkin jika orang lain yang merasakan ini dia sudah akan menangis tersedu-sedu.
Aku juga. Percayalah aku juga. Tapi tidak. Sudah kubilang gurun ini mataku. Kalahari yang kering ini mataku. airmata yang kubutuhkan tak pernah bisa kukeluarkan lagi. Semakin lama justru semakin menyiksa.

Dan tiap angin yang menghembus semakin membawa keringnya udara di sekitarku.
Semakin kering, semakin membakar habis, semakin memandang penuh harap pada hujan.
Aku tidak tau apa tujuanku mengirim ini padamu. Tolong ajari aku untuk ikhlas menjalani semua ini. Tolong ajari aku untuk tidak terus-terusan bertanya mengapa atau kenapa.

Temaram senja, mengadu deru yang menggersangkan air yang kubawa berlari.
Aku ini apa? aku hanya bisa membawa genggam air dalam mangkok tanganku, dan kering sebelum aku sampai. Tolonglah.. aku hanya butuh air untuk melanjutkan perjalanan. Aku hanya butuh menangis sebentar..
Tolonglah..

GALAU itu sama sekali NGGAK KEREN

Judulnya kontroversial ya?
maaf, ini bukan bermaksud frontal terhadap kaum tertentu. tapi cuma ingin menunjukkan ini lho, yang namanya galau itu nggak selamanya keren. bukan suatu tanda penghargaan membanggakan.
Oke. ayo mulai.

GALAU
What the meaning of 'galau'?

Darimana asal-muasalnya kata 'galau'?
Makna Galau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perasaan kacau, tidak karuan, atau kalau mau lebih keren istilahnya crowded.
Apa kita mau terus-terusan membiarkan otak kita
sekacau itu dalam jangka waktu yang berkepanjangan?
Bicara soal galau, kita--remaja--sering mengidentikkan suatu perasaan tak tertentu ini dengan ketidak-beruntungan dalam soal asmara. Padahal, kalau boleh saya bilang, galau soal asmara itu kayak narkoba.
sebenernya nggak apa-apa dikonsumsi, asal sesuai aturan. kalau nggak ya.. beginilah. mengakibatkan kerusakan jaringan otak permanen.

Sayangnya, kata galau ini terlalu populer dikalangan remaja. Bahkan sudah seperti indikator tidak tertulis ke-Gaul-an seorang remaja.
Lihat saja dari seberapa sering kata ini digunakan.
Bingung sedikit, galau.
Sedih sedikit, galau.

Saya tahu, dan sepenuhnya sadar bahwa berkeluh kesah dan sedih itu hak setiap orang. itu wajar dan naluriah. tidak selamanya manusia itu bahagia. tidak selamanya manusia itu sukses dan berada di atas. ada kalanya manusia berada di titik kulminasi dan jatuh tersungkur. dan saat itulah manusia terdiam dan berpikir bagaimana caranya keluar dari suasana seperti ini. manusia hanyalah manusia. saat kita tak tahu lagi harus berbuat apa, menangis adalah jalan terang untuk mengeluarkan semuanya. berkeluh kesah dan berbagi kepenatan kepada orang lain.

Menurut saya, galau adalah perasaan yang tak menentu, kacau, bingung, ketakutan, resah, putus asa, kesal, kecewa. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu dan inilah yang disebut galau. Karena begitu kompleksnya perasaan yang dirasakan, sesorang yang mengalami kegalauan sering kali tak mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan dan bagaimana cara mengungkapkannya kepada orang lain.

Disaat seseorang galau dia akan cenderung murung, menyendiri, emosional, perasa, tak nafsu makan, tak bisa tidur, bahkan ada yang sakit parah hanya karena kegalauannya. Orang yang sedang galau akan terus menerus memikirkan masalahnya tanpa ada tindak nyata untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pada akhirnya ia akan semakin tenggelam dalam kegalauannya tanpa mampu melawan perasaan itu.

Galau dan terus meratapi nasib, membuat kita kurang bersyukur atas apa saja yang telah dituliskan menjadi milik kita. Baik yang sudah kita sadari ataupun yang belum kita sadari.
Parahnya adalah ketika virus Galau ini berlanjut menjadi penyakit putus asa.

Ini bahaya. percayalah kawan, ini bahaya.
Apa yang akan terjadi jika kita putus asa?
kita akan STAGNAN. non-Progresif. Justru kita menuju ke suatu hal yang regresif.
yang ada masalah kita bukannya selesai malah makin kompleks. Dan kita makin terpuruk.
Kasarnya, Galau berlebihan itu memperparah keadaan.
Ya. memang tak bisa dipungkiri juga bahwa dalam beberapa kasus, galau menyebabkan kebangkitan semangat yang luar biasa.
Ya. memang benar jika bangsa kita membutuhkan generasi yang galau.
tapi galau yang seperti apa?
yang jelas bukan galau karena cinta-cintaan atau apalah yang berlebihan gitu yaa..
itu sih Ababil (ABG labil,Red).
Tapi dalam hal yang kita bicarakan ini, GALAU itu sama sekali NGGAK KEREN.
Justru sama parahnya kayak HIV/AIDS yang menggerogoti diri kita pelan-pelan dan nggak kasat mata.
Tau-tau sudah parah.
Contohnya gini:
kita galau karena berantem sama pacar. Terus nggak nafsu makan ato ngapa-ngapain. Ujung-ujungnya kuliah cuma duduk dan presensi. Pas IP keluar hasilnya jeblok.
Nah lho, masalah sama pacar nggak selesai, IP nggak maksimal, Orangtua bakal kecewa pula.
Yang ada apa? Kita makin galau. Dan akan terjadi siklus 'lingkaran setan' kayak gitu lagi. Dan kita makin terpuruk.
Jelas kan?

Obat Galau itu apa?

Nggak tau. jujur nggak tau.
dalam penanganan galau tiap orang itu berbeda. anda bisa komunikasikan dengan pihak-pihak yang anda percaya.
Tapi dari beberapa sumber yang saya himpun dari pengalamna pribadi dan saran teman-teman, berikut ini adalah alternatif 'pengobatan' galau:
  • Pikirkan hal-hal yang konkrit (rasional) saja. Sebaiknya hindari memikirkan hal-hal yang hanya ada dalam angan (ilusi).Kembangkan pandangan positif dalam diri. Barpandangan positif berarti memandang segala sesuatu dari segi yang baik, segi yang menggembirakan dan menyenangkan hati.Hindari pandangan negatif dengan cara membuang jauh-jauh pransangka buruk, perasaan cemas, rasa khawatir dan rasa curiga. Jika perasaan negatif tersebut muncul segeralah lupakan dan alihkan perhatian kepada hal-hal yang menyenangkan.
  • Usahakan jangan terlalu banyak waktu kosong diluar waktu istirahat. Isilah waktu kosong diluar waktu istirahat. Isilah kesibukan dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, seperti bercanda, membaca, memasak, jalan-jalan, bersepeda santai, berkebun atau membuat ketrampilan.
  • Yakini bahwa setiap masalah merupakan ujian dari Tuhan YME untuk menguji kesabaran kita. Jika kita mampu melewatinya, niscaya kita akan menjadi makhluk yang lebih baik lagi.Setiap masalah merupakan tahap menuju kedewasaan. Yakinkan hal ini pada hati kita. Asumsikan bahwa masalah yang melanda kita akan menjadikan kita lebih dewasa dan bijak dalam menjalani hidup. Ingat, “Kedewasaan bukan diukur dari usia kita, tapi dari cara kita menyikapi kehidupan dan masalah kita. Suatu masalah tidak akan selesai jika kita hanya meratapinya.
  • Butuh suatu tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah meskipun terkadang butuh waktu yang tak singkat. Talk less, do more
  • Jadikan orang tua sebagai tempat pertama untuk mengeluh. Minta pendapat mereka tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah yang kita alami. Orang tua kita telah mengalami berbagai fase kehidupan, dan tentunya keputusan yang mereka ambil akan lebih bijak dari apa yang kita pikirkan
  • Dekatkan diri dengan Tuhan. Hal ini akan membuat kita merasa tenang. Perlahan kita akan menyadari bahwa kita tak sepantasnya membuang waktu di dunia hanya untuk sesuatu yang useless, seperti galau ini
  • Cari kisah nyata tentang oran orang hebat yang dapat melewati tantangan yang ia alami. Dengan membaca, melihat atau mendengar kisah-kisah tersebut, kita akan termotivasi untuk melewati masalah dengan baik tanpa harus bersedih
  • Uraikan apa yang kita rasa ke dalam sebuah tulisan, lagu, drama dsb. Hal ini akan mengurangi rasa galau yang kita alami. Kita dapat menyalurkan bakat kita sekaligus mencurahkan isi hati kita
  • Pergilah ke tempat yang disukai, yang dapat memberikan ketenangan, kebahagiaan dan menghilangkan beban pikiran untuk sementara waktu. Selain itu lakukan hal-hal yang disukai. Hal ini akan memicu kita untuk melupakan masalah yang terjadi
Tentu saja ini juga bukan proses yang sekali coba langsung menyembuhkan lho ya..
kalau kata KSR (Korps Sukarela), ini adalah terapi PSP (Psychosocial System Program) bagi para korban bencara galau.
kalau saya bilang, para korban galau ini menjadi priotitas pertama yang harus diselamatkan para relawan.
kenapa? karena jika generasi bangsa ini terpuruk dalam kegalauan, mau kemana negara kita?
karena kalau kita terpuruk dalam kegalauan, mau kemana prestasi kita?
karena kalau kita terpuruk dalam kegalauan, mau kemana kebanggaan orang tua kita?
Sesungguhnya, kegalauan tidak memberikan banyak manfaat untuk kita. Sebaliknya, banyak dampak negatif yang ditimbulkan rasa galau. Bagi kita remaja-remaja, galau bukanlah sesuatu kebiasaan yang boleh dipelihara. Kita, seharusnya mengisi hari-hari kita dengan semangat meraih prestasi dan kebahagian. Isilah hari-hari dengan canda tawa, karena waktu terus berputar dan takkan dapat berputar kembali.
So, tanyakan.

Kamis, 19 Januari 2012

Sebuah Rangkaian Paragraf Deskripsi, Episode Sederhana dari Hidup

Dalam beberapa saat tirai rintikan hujan melambungkan lamunanku.. kembali dalam masa-masa dimana aku tejebak dalam lingkaran pekat sendiri. Mencoba melawan yang terkuat, mencoba memutar yang sudah kaku. Rasanya semua jalan sudah tertutup dan aku tidak tau harus bagaimana atau melakukan apa. Semuanya terasa sudah telanjur kacau dan tidak bisa kuperbaiki. Aku bahkan merasa orangtuaku-pun tak pernah peduli padaku.

Aku mengeluh pada Tuhan. Menyalahkan orang-orang disekitarku, menyalahkan keadaan. Menyalahkan semua kecuali diriku sendiri atas apa yang terjadi padaku. Atas segala permasalahan dan keterbatasan yang kuterima. Rintikan hujan ini mengantarkan air mengalir dari sudut mataku.

Dari pandangan yang kabur karena bias airmata aku melihat sesuatu. Di Jalan setapak yang berada tepat di depan tempatku terduduk ini kulihat seorang wanita tujuhpuluhan tahun, raambut yang memutih, tanggannya kecil dan kurus tapi memperlihatkan ketegasan otot-ototnya. Menunjukkan adanya kekuatan dan ketegaran. Menunjukkan bahwa ketuaannya hanyalah sekedar mengerutnya kulit tubuhnya. Dia melangkah perlahan, terseok-seok sambil menggendong kayu bakar, sedang tangan kanannya membawa kantung plastic hitam dan dirigen kecil berisi minyak tanah. Aku tersentak. Sejenak egoku mengalami dera. Aku benci lamunanku terusik. Tapi melihat wanita itu… tidak. Aku tidak tega.

Tanpa sadar aku berlari menghampirinya. Masih dalam naungan tetesan hujan. Aku meraih kantung plastik dan dirigen yang dibawanya, sambil berusaha membantu menegakkan keseimbangannya.

Dan dia tersenyum, senyum itu sederhana tapi tulus.. sangat tulus.. hingga raut muka-nya yang sudah mulai keriput itu memancarkan kecantikan yang melebihi gadis remaja. Aku hanya bisa membalas tersenyum, tapi aku tau senyumku tak lebih indah dari senyumnya.

‘maturnuwun ya mbak.. mboten usah repot-repot. Kok ndadak udan-udanan niki lho.. mpun biasa kok.'
itu kalimat pertama yang dia ucapkan.

Dan mendadak rintikan hujan ini terasa seperti hujanan petir. Jadi selama ini beliau sudah sering kerepotan seperti ini? Sedangkan aku hanya sekali ini membantunya, dan itu-pun aku sempat tidak mau hanya karena lamunanku buyar?

Dalam membantunya menapaki jalan tahan yang becek dan berlumpur itu, aku mengumpat diriku sendiri. Aku merasakan tangannya menggandeng tangan kiriku, pegangan lembut tapi tulus..

Tepat diujung jalan yang kulalui ini mulai terlihat rumah itu. Rumah sederhana dari papan kayu dan triplek yang ditempelkan asal-asalan. Asal tak ada angina yang merembes masuk. Tapi ternyata gerimis kali ini terlalu kejam. Angin merembes masuk membawa butiran butiran air membasahi lantai tanahya, membuat udara dalam rumah ini terasa begitu dingin.

‘mpun mbak, njenengan paringke nginggil meja niku mawon’ kata wanita itu sambil berjalan kedapurnya.
‘mbak, moten usah ngalamun lho..’ teriaknya dari balik bilik

Aku tersentak. Malu karena ketahuan melamun.
‘inggih mbah..’ hanya itu yang keluar dari mulutku.

Kemudian kulihat dia keluar dari dapur sambil membawa ubi rebus.

‘mangga mbak, nyuwun sewu lho nggih.. namung niki wontene. Lha nggih pripun, namung piyambakan ing mriki. Matur nuwun sanget wau sampun ditulungi lho..’


‘mboten napa-napa mbah. Namung ngaten kemawon kok. Mboten usah dipun dadosaken penggalih.’ Aku tersenyum.

‘njenengan niku, njenengan dereng ngraosaken rasane urip piyambakan. Mboten wonten ingkang diajak ngomong, mboten wonten ingkan diajaik sambat. Napa malih urip namung nggantungaken ing dodolan krupuk sambel kados ngaten niki. Nanging kitha rak nggih mboten pareng ngresula nggih mbak, napa malih kok dugi nyalahaken ingkang maha Kuwaos karana keadaanipun kitha. Lha ingkang salah rak nggih kitha piyambak nggih mbak, sampun diparingi kathah nanging tansah maruk kemawon. kirang syukure. mila Gusti Allah paring cobaan kangge kitha supadhos kitha tansah eling. Lha kula niku riyin gadhah lare kalih nanging kula mboten pinter ingkang ngasuh. Dadose nggih pada mboten saged ngraosaken kesele wong tuwa. Sakniki pada mboten pinter kalih wong tuwa. kula mboten wonten ingkang ngrawati. Nanging kula tampi mbak, niki pangemut kangge kula menawa riyin kula mboten tanggungjawab ndidik lare-lere kula.’

Wanita itu menghapus airmatanya.. aku merasakan ada air hangat yang menetes ke pipiku, meluncur turun hingga membasahi leherku. Dia melanjutkan perkataannya,

‘mila nggih mbak, njenengan kudu pinter kalih bapak ibu. Ampun ngresula menawi bapak ibu mboten saged nuruti pengenipun penjenengan. Ampun nyalahaken. Napa malih kok dugi muring kaliyan bapak ibu. Ingkang maha kuwaos sampu maringi njenengan bapak ibu ingkang paling sae lho.. lha rak buktine sakniki panjenengan mboten kirang napa-napa. Pak Wibi lan mbak Tutik inggih sampun kathah ngrewangi kula. Lah rak sakniki putrane ingkang ngrewangi kula. Bapak ibuk panjenengan sampun kasil ndidik panjenengan mbak..’
Aku tersenyum. Menghapus airmata dan menegakkan kepalaku yang sedari tadi tertunduk. Aku berharap aku bisa keluar dari rumah itu sekarang. Sudah terlau banyak yang kudapat. Sudah terlalu banyak aku disadarkan. Aku berdiri, mengucapkan terimakasih lalu berpamitan.

Diluar hujan sudah berhenti, mentari sudah bersinar lagi. Aku melangkah ringan sampil tersenyum. Allah sudah menyadarkan aku melalui hal yang sangat sederhana. Sangat sederhana. Tapi menyelamatkan hidupku dari murka-Nya. Dengan cara yang sangat manis.

Selasa, 17 Januari 2012

Sepucuk Surat dari Sang Bulan, Sebuah ledakan yang tak lagi tertahan.

Aku slalu berkata pada diriku sendiri, setidaknya aku pernah menjadi bulan yang kau puja ketika kau tenggelam dalam gelap malammu.
Walau kini ketika kau sudah mulai melihat fajar, kau menemukan mentari yang lebih terang daripada aku..
tapi memang setidaknya aku pernah kau puja walau kini tidak lagi.
seharusnya ku sudah cukup bahagia menjadi sesuatu yang menemanimu ketika kau terjebak dalam kebutaan yang pekat.
tapi ternyata tidak sesederhana itu.
Egoisme ini terlalu melekat kuat, berat untuk kupungkiri.
Seeorang macam apa yang telah tega meninggalkanku untuk matahari? sedangkan aku memberinya seluruh cahaya yang kupunya untuk mengangkatnya dari keredupan.

Kau slalu memuja mentari? selalu?
kau pikir matahari jauh lebih hebat dari aku?
tapi pernahkah kau berfikir, bagaimana kau layak mendapatkan sesuatu yang sebesar mentari jika pada sesuatu sekecil aku kau tak bisa mempertanggungjawabkan harapan yang kau ciptakan padaku?
pernahkah kau berfikir, sehebat apa mentari jika tak mampu menerangimu dalam gelap malammu?
Aku Sang Bulan.
Aku Sang Bulan tempat kau meratap dalam gelap malammu.
bagaimana aku bisa setidak-berarti itu dimatamu?
ataukah mentari yang bias sinarnya terlalu terang itu terlalu menyilaukanmu?
ataukah kecerahan mentari itu telah meredupkan sinar perak pucatku?

Sudah pasti aku kalah jika kau sandingkan pada mentarimu itu.
Sudah pasti.
Tapi tak seharusnya kau mensejajarkan aku dengannya. Apalagi untuk memilih!
Siapa dirimu, kau pikir?

Aku mempertahankanmu bahkan ketika badai dinginnya angin malam menghembusmu.
Aku mengawasimu, berjaga untuk keamananmu bahkan disaat kau mengalami titik paling terang dihidupmu. walau untuk bertahan melihatmu dalam terang mentari aku harus merasakan perih..
Aku Sang Bulan.
Aku Sang Bulan yang kau tinggalkan demi bias mentari.
Kenapa tak juga bisa kau melihatku?
Kenapa tak lagi bisa kau melihatku?

Tapi Aku Sang Bulan.
Aku Sang Bulan yang akan terus bersinar walau tak terlihat.

Mungkin kau bertanya, kenapa tulisan ini bukan lagi tentang rumput dan ilalang?
kenapa sekarang bulan dan mentari?
semua itu karena seiring menghilangnya malam aku --bulan-- terus menerus dan semakin meredup, sedangkan kau makin bersinar dalam terangnya mentari dalam hidupmu.

Aku.
Diujung senja peraduanku.

Selasa, 10 Januari 2012

Jangan Malu jadi Mahasiswa PGSD

     PGSD? Sering kali itulah yang ada dalam benak teman-teman kalau biicara tentang jurusan PGSD. Kenapa? Karena mindset teman-teman sudah terpatri bahwa PGSD nantinya hanya akan menjadi guru SD. Guru SD yang tiap harinya berkutat dengan anak-anak usia 7-12 tahun yang sangat badung. Guru SD yang gajinya sedikit. Guru SD yang harus berurusan dengan semua tetek bengek sekolah yang menyebalkan. Dimata sebagian besar rakyat Indonesia, guru SD adalah profesi yang tidak bergengsi.

     Namun semua mindset itu mulai goyah ketika ada isu dari pemerintah yang menyebutkan bahwa kesejahteraan guru SD akan sangat diperhatikan dimasa mendatang. Mulai-lah para orangtua berbondong-bondong menyuruh (baca: menyarankan) anaknya untuk mengambil jurusan ini. PGSD menjadi jurusan yang popular di masyarakat. Puluhan ribu fresh graduate dari SMA menyerbu jurusan ini. Sayangnya, yang tau hal-hal semacam ini juga hanya para pendahulu kita yang profesinya bersenggolan dengan dunia pendidikan. Dimasyarakat biasa, tetap saja profesi guru SD adalah suatu hal yang kurang membanggakan.

     Lebih lanjut, jurusan yang nantinya mencetak pendidik awal generasi penerus bangsa ini tetap saja ‘terpinggirkan’. Kenapa begitu? Karena dimata mahasiswa dari jurusan lain, mahasiswa PGSD adalah mahasiswa yang kurang modis. Bahkan, pada beberapa universitas yang memisahkan kampus PGSD-nya dari kampus utama gap social ini semakin terasa. Setiap kali menjejakkan kaki di kampus utama, langkah mahasiswa PGSD diiringi tatapan aneh dari teman-teman diluar jurusan PGSD. Tentu tidak semua seperti itu. Ada juga yang menghargai perbedaan. Tapi untuk mahasiswa gaul diluar sana, PGSD bukan termasuk mahasiswa yang bisa disebut keren.

     Dari berbagai fenomena inilah, maka banyak sekali mahasiswa jurusan PGSD menjadi tidak bangga menjadi bagian jurusan mereka. Mereka mengambil jurusan ini hanya atas dorongan orangtua dengan mempertimbangkan gaji jika sudah menjadi PNS nanti. Itu juga tidak salah. Orangtua mana yang ingin menyesatkan anaknya?

     Tapi kawan, PGSD sebenarnya bukan hanya jurusan pendidikan guru, tetapi juga sekolah kepribadian. Kenapa begitu? Karena ketika kita menapakkan kaki di PGSD, untuk 4 tahun mendatang kita akan digodog menjadi pribadi yang santun dan bermasyarakat. Mahasiswa PGSD lebih bisa melihat situasi masyarakat yang ada. Karena mereka memang nantinya kembali pada masyarakat lapisan menengah kebawah. Karena mahasiswa PGSD nantinya berjuang ditengah-tengah dinamika masyarakat yang hingga saat ini aspirasinya belum tersalurkan. Dan yang lebih penting, mahasiswa PGSD menjadi tonggak perbaikan bangsa karena mereka-lah yang menyiapkan generasi muda penerus negara ini.

     Karena tugasnya yang berat inilah, mahasiswa PGSD digembleng dengan berbagai kegiatan yang membentuk karakter mereka. Mulai dari rangkaian kegiatan kepramukaan yang melelahkan, sampai pada kegiatan perkuliahan yang mengharuskan mereka berlatih berbicara di depan orang banyak, termasuk berlatih memanagemen banyak orang didalam satu ruangan. Hal-hal seperti inilah yang baik disadari atau tidak juga membentuk karakter mereka. Secara tidak langsung, mereka telah mempersiapkan diri mereka sekaligus membangun kembali karakter manusia Indonesia yang seutuhnya. PGSD yang notabene ‘terpinggirkan’ justru adalah salah satu elemen penting pembangun bangsa.

    Alasan lain adalah, kuliah di PGSD secara tidak langsung mendidik kita baik dari cara berpakaian, cara bicara, hingga cara bergaul dalam masyarakat maupun sesama teman. Kita tanpa sadar telah terbiasa berpenampilan dan bergaul di masyarakat sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Masyarakat dan juga dosen-dosen dari jurusan lain bahkan mengakui bahwa ketika mahasiswa diterjunkan dalam masyarakat, mahasiswa PGSD adalah mahasiswa yang lebih mudah beradaptasi dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

     Mahasiswa PGSD adalah seorang generalis, terspesialisasi dalam kemahirannya di salah satu bidang, misalnya tari, music, karya ilmiah, penelitian, cabang olahraga, bidang lainnya. Sehingga modal jurusan ini untuk bisa berkembang sangat mumpuni. Keuntungan mahasiswa PGSD yang generalis sudah teraih,  dan masih pula mendapat fasilitas untuk mendalami spesifikasi tertentu. Jika seorang generalis 'banyak tahu' dalam artian mengerti banyak hal tapi dangkal, seorang spesialis 'tahu banyak' dalam artian sedikit hal tetapi dalam. So, tugas mahasiswa PGSD yaitu menjadi 'GEN SPESIAL'. Mengerti banyak hal dan dalam. (Siron, 2012)
Jadi? Jangan malu jadi mahasiswa PGSD!

Seminar Lomba Gagasan Tulis Ilmiah (LGTI) Se-Jawa Himpunan Mahasiswa PGSD FIP UNNES, Salah Satu Pergerakan Mahasiswa Dalam Menyukseskan Pendidikan Karakter

Sabtu (7/1 2011) bertempat di Kampus Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FIP Universitas Negeri Semarang (UNNES) Himpunan Mahasiswa PGSD FIP UNNES menggelar Seminar Lomba Gagasan Tulis Ilmiah (LGTI) Se-jawa setelah mengadakan Lomba Gagasan Tulis Ilmiah Se-Jawa untuk pertama kalinya. LGTI ini diikuti oleh berbagai Universitas di seluruh Jawa, antara lain UNTIRTA, UNJ, IKIP PGRI Semarang, IKIP PGRI Jogja, Polines, UMK, UNY, UNEJ, UGM, UNIBRAW, IKIP PGRI Madiun, dan Sang Tuan Rumah, UNNES.

Ketua Jurusan PGSD, Dra.Hartati, M.Pd mengatakan Seminar yang merupakan tindak lanjut dari Lomba Gagasan Tulis Ilmiah (LGTI) yang dimulai sejak Akhir November 2011 ini merupakan pergerakan kebangkitan mahasiswa untuk melakukan pembangunan nasional, terutama dibidang pendidikan karakter bangsa sehingga pada akhirnya mampu membangun kembali peradaban moral generasi penerus bangsa. Lebih lanjut, banyak pihak berharap LGTI yang merupakan agenda terakhir HIMA kepengurusan 2011 ini dapat menjadi stimulus kepada mahasiswa untuk produktif dalam menelurkan ide-ide baru dalam kancah karya ilmiah.

Seminar LGTI ini disambut oleh antusiasme yang hangat dari mahasiswa. Terbukti dari jumlah total peserta seminar sebanyak 142 yang telah mengalami penambahan kuota dari total peserta awal yang hanya 100 peserta. Seminar yang dirancang dalam format persentasi dari 10 karya Gagasan tulis yang telah berhasil menyisihkan 70 gagasan yang telah masuk ke Panitia untuk kemudian diseleksi menjadi 3 gagasan yang terbaik. Para finalis memperebutkan hadiah berupa trophy, sertifikat, serta uang pembinaan sebesar Rp. 1.000.000,00 untuk juara pertama, trophy, sertifikat dan uang pembinaan sebesar Rp. 600.000,00 untuk juara kedua, serta trophy, sertifikat dan uang pembinaan sebesar Rp. 400.000,00 untuk juara ketiga.

Ke-sepuluh finalis 10 besar LGTI ini terdiri dari 5 gagasan tulis dari mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES), 2 gagasan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 1 gagasan dari IKIP PGDRI Madiun, 1 gagasan dari dari IKIP PGRI Semarang, dan 1 gagasan dari Universitas Brawijaya.

Untuk menyeleksi kesepuluh karya tersebut, HIMA PGSD menghadirkan tiga juri dari Universitas Negeri Semarang yang telah diakui mampu dalam bidang keilmiahan. Juri tersebut adalah Arif Widagdo S,Pd, Drs. Wardi M.Pd, serta Farid Ahmadi S,Kom, M.Kom.

Dalam penilaian juri, terpilih Pagelaran Wayang panas sebagai Inovasi Pengembangan Media Pendidikan Karakter Pada Siswa di Sekolah Dasar (Agustin Anggriyani) sebagai pemenang pertama, Internalisasi "4 propectic character" Sebagai Nilai Luhur dan Dasar Perilaku Berkarakter melalaui Permainan Tradisional Modifikasi pada Anak Usia Dini Sekolah Dasar: Stategi Mikro Program Pendidikan Karakter Untuk Menyukseskan Gerakan Aksi Nasional Pendidikan Karakter 2010-2015 (Vebby Astri Rizkilia UNIBRAW) sebagai pemenang kedua, dan Cheerdio ( Cheerfull Radio ) Sebagai Pembersih Polusi Karakter pada Anak-Anak Usia Dasar (Desty Putri Hanifah UNNES) sebagai pemenang ketiga.

“Karya ini merupakan sebuah ide inovasi pendidikan karakter yang brillian dan bebas plagiarisme dalam masyarakat. karya ini sederhana namun apabila terlaksana akan menjadi media pendidikan karakter yang luar biasa. Bisa dipatenkan menjadi hak kekayaan intelektual” Ujar Arif Widagdo disela-sela penjurian. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya mahasiswa-mahasiwa yang mengikuti lomba LGTI ini khususnya telah memiliki capabilitas yang mampu membawa Indonesia kearah yang lebih baik.

Sepucuk Surat Lain, dari Rumput pada Ilalang


Menemuimu di lengkung pelangi, Ilalang..

Aku tak ingin bertanya kabar, walaupun aku memang sangat ingin mengetahui kabarmu.

Aku tak ingin bertanya kabar, walau aku memang sangat ingin mengetahui keadaanmu.



Aku juga tak ingin bertanya kenapa kau tak lagi menyapa padang tempat kita beradu bersama lembutnya angin dan basahnya hujan.

Aku juga tak ingin bertanya kenapa kau tak lagi menari gemulai memamerkan ketegasan bilah-bilah daunmu.

Aku menulis ini dalam jarak yang sangat jauh.

padahal kita hanya terpisah sekian puluh meter saja.

jauhnya jarak ini bukan dalam arti yang sebenarnya, jika kau tau.

aku menulis jarak tentang hati kita.



Dulu aku selalu berbisik pada diriku sendiri,

untuk tidak memperdulikan ilalang lain ketika kita dalam kerenggangan. karena aku percaya badai akan segera berlalu. aku percaya mentari akan segera terbit.



tapi dalam hari yang terus menerus hujan ini, kusadari bahwa ilalang-ku berubah. dia telah jauh berubah.

aku menyadari aku mulai kehilangan ilalang-ku pada awal aku meraih pelangi dunia baruku, disini.

ilalang-ku mulai jarang menari dalam angin yang sama denganku, hingga kemudian dia benar-benar berhenti menari bersamaku.

Aku terluka. Aku hanya rumput yang memujamu. Aku hanya rumput yang mengagumi buai gagah ilalang-ku.

Aku hanya ingin bertanya dalam tulisan ini. Kenapa kau, ilalang sepertimu membuatku terjatuh dalam hempasan

harap palsu?

Kenapa kau, ilalang sepertimu membuatku jatuh kepadamu? Kenapa harus rumput rapuh sepertiku?



Kenapa aku terbuai terbang, mengalun perlahan, menjemput bias-bias pelangi dalam embun, merasakan desir sentuhan angin? hingga kupikir aku telah meraih harap setinggi-tingginya. hingga kukira aku sudah jadi seperti harapmu.



Aku tidak menangis ketika menulis ini. sedikitpun tidak. tapi bukan berarti aku tidak merasakan apa-apa.

Aku selalu berusaha memberitahumu keadaanku, tapi kau hanya diam, diam, dan hanya diam.

aku sudah berusaha mencari tahu keadaanmu, tapi lagi-lagi kau hanya diam.

bahkan sampai musim telah berganti untuk ketiga kalinya.

kau pikir itu sebentar? pikirkanlah lagi.

Aku selalu menawarkan cara yang jauh lebih mudah untuk saling menautkan maksud, tetapi kau selalu memilih cara yang lebih sulit.

Apakah memang dicintai olehmu berarti disakiti olehmu?

Aku berusaha tidak menyalahkanmu. Sungguh, aku memang berusaha untuk tidak menyalahkanmu. Aku juga slalu menyadarkan diri bahwa tak pernah ada perkembangbiakan silang antara rumput dengan ilalang.

Tapi jika memang iya ilalang sepertimu bukan untuk ruput rapuh sepertiku, jika memang iya ilalang-ku tak lagi ingin menari bersamaku, katakanlah saja. katakanlah tanpa perlu menggelapkan dunia dan mengundang badai.

Aku tidak ingin kau terbebani dengan ini, karena aku bahkan sudah melalui musim panas yang membakar habis air mataku. aku tidak bisa menangis lagi. tapi disini, dipadang ini sedang terjadi musim dingin yang terlalu lama, namun uap bias harapku sekering sahara.

Aku membeku dan gersang dalam satu waktu karena rasa ini.



Tolong bangunkan aku ketika musim dingin ini telah sampai pada titik hentinya. Ataukah dunia memang hanya memiliki musim dingin ketika aku (rumput), kehilangan ilalang sepertimu...  


 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir