Hei, berhentilah sejenak dari kegiatanmu. aku ingin mengajakmu bicara sebentar.
Kau tau bagaimana dengung nyamuk ketika kau tertidur? kau terganggu? tidakkah kau menyukainya?
iya. Suara kecil itu mengganggu. menyulut kekesalanku ketika tidurku terganggu olehnya.
Tapi tau apa dia tentang kekesalanku?
Kau tau gemuruh petir ketika langit mendung? kau terusik? tidakkah kau menyukainya?
iya. gemuruh itu menakutkan. menyulut kemarahanku ketika dia merusak syahdunya hujanku.
Tapi tau apa dia tentang kemarahanku?
Sama seperti manusia. kadang kesalahan seseorang dapat menyulut kemarahan dan kekesalan orang lain tanpa disadari.
Hei, tolong berhenti sejenak dari kegiatanmu. Dengarkan kata-kataku tanpa harus kamu berpura-pura tak tau maknanya.
Kau tau. dan cukup kau membuatnya rumit dari kelihatannya. Aku sebenarnya benci sekali saat-saat seperti ini.
Aku takut menyinggungmu atau membuatmu membenciku. Tapi aku harus mengatakannya padamu.
Hei, tolong berhenti sejenak dari kegiatanmu. Aku ingin mengajakmu bicara.
Taukah kau yang kaulakukan ini salah? lalu kenapa kau tak punya keberanian untuk menghentikannya?
kau ini tidak mendengarku atau memang tidak mau mendengarkan aku?
Hei, tolonglah berhenti sejenak. aku ingin mengajakmu bicara.
tidakkah kau lelah mendengarku terus-terusan berteriak padamu? sekarang aku ingin bicara dengan tutur kata lembut, sebentar. jadi tolong, dengarkanlah.
Aku sedang dalam kebingungan, kau tau? tentang sebuah kesalahan.
aku bingung bagaimana menyampaikannya.
Kau-lah titik tumpunya. jadi tolong, apapun yang kau mulai harus kau jalani hingga akhir.
Aku ingin sekali berteriak ketika kau tak menghiraukan sindiran halus yang kutujukan padamu.
Aku tidak membencimu. aku hanya ingin kau sadari kesalahanmu.
Tidak. tidak hanya sadar, tapi mampu melakukan tindak lanjut setelah sadar.
Pernahkan kau melakukan kesalahan pada orang lain?
apa yang kau lakukan? mengakui dalam hati bahwa kau salah tapi bersembunyi dari kenyataan?
Kau takut dianggap pesakitan jika mengaku? Kau takut kehilangan yang kau anggap berharga jika mengaku?
Taukah kau diluar sana banyak yang menjadi korban ketidak-tegasanmu?
seseorang mungkin menjadi yang tertuduh ketika kau sembunyi. seseorang lain mungkin tenggelam dalam kepercayaannya terhadap dusta.
Ini contoh kecil, tapi bukankah ini sering sekali terjadi?
bahwa kita kadang takut mengambil keputusan hanya karena pertimbangan ego kita.
Teman--cukuplah aku memanggilmu dengan sebutan ini--, bukankah kau tau Allah tak pernah meninggalkan umatnya dalam kesempitan?
Bahkan ketika kita bersalah?
Jadi kenapa kau takut akan dunia yang malah menghimpitmu?
Berserahlah..
Teguhkan niatmu. jika kau merasa sudah melangkah dengan rencana yang benar, maka jalankanlah. jangan khawatir dengan apa yang mengusikmu. karena Dia pasti menggantinya nanti. Bukankah janji Allah pasti adanya?
jika kau merasa berjalan dalam rencana dan menuju tujuan yang benar, maka berjalanlah. jangan khawatir akan sakit hati atau kehilangan yang mungkin akan kau rasakan. karena Dia pasri menggantinya nanti. Bukankah janji Allah pasti adanya?
Kau--atau aku-- pasti akan melewatinya. dengan baik. seiring bantuan-Nya.
Berserahlah..
Jika kau pernah terpererosok dalam satu lubang, maka mengapa kau mengulanginya?
karena masalah itu rumit?
Iya, memang.
Tapi tidakkah kau menganggap ini ujian?
layaknya ujian sekolah, maka kau akan mengulang ujian ketika nilaimu dirasa belum memuaskan.
Remidi istilahnya.
Bukankah ini analoginya?
Jika kemarin kau terperosok dalam satu lubang sebagai tanda kau belum lulus ujian dari-Nya, tidakkah kau berfikir ini --yang kau alami sekarang-- adalah remidinya?
apa kau ingin gagal lagi?
tentu tidak kan?
Jika memang suatu keputusan yang baik akan mendatangkan kehilangan, bukankan Dia akan memberikanmu pengganti yang sepadan dengan usaha dan cinta-Mu pada-Nya?
Jika memang suatu keputusan yang baik akan mendatangkan sakih hati yang kita rasakan, bukankah Dia akan memberika penawar yang lebih manis karena cinta-Nya padamu?
Kau mungkin akan diuji dengan prestasi yang gemilang, Ikhwan/Akhwat yang taat, Atau segala bentuk yang menyenangkan. tapi bukankah semakin berat ujian maka itu sebagai penanda Imanmu?
Bukankan ujian yang Dia berikan pada hambanya sesuai dengan Iman hambanya?
Hingga tiba waktu kau lulus dengan baik, maka bertambah pula cinta-Nya padamu. bertambah pula Ridho-Nya padamu.
Masihkah kau takut?
Hanya karena kau temanmu. aku hanya ingin mengingatkanmu.
melalui ini. Sebagai teman yang harusnya saling mengingatkan.
Aku juga tak luput dari salah, tentu saja. dan kau juga pernah mengingatkanku. Dan kali ini mungkin aku yang berkesempatan untuk berusaha mengingatkanmu.
Kau bisa membuatku bangkit dari masalah yang jauh lebih rumit daru yang kau hadapi.
maka seharusnya kau bisa pula bangkit dari sini.
Maka tegakkanlah badanmu. angkat dagumu.
Evaluasi apa yang telah kita lakukan selama ini. Perbaiki yang kurang banar, sempurnakan yang benar, tambahi yang kurang.
Hingga pada akhirnya nanti kita akan melewati satu-demi satu ujian-Nya dengan memuaskan. dan tiba pada saat kita tersenyum lebar melihat rapor-mu membanggakan.
Mohon maaf atas tuturku yang tak berkenan, kawan.
Selamat Ramadhan. :)
Sabtu, 04 Agustus 2012
Berhentilah, Sejenak
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.57 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Coretan Kosong, Kepedulian - Kemanusiaan, Tulisan Bebas
Senyap
Senyap
dan terbenam dalam lelap
Tapi tidak bagi secercah cahaya
Dia berjaga
dan menunggu pagi mengusir dahaga
Lelah letih dari setiap duri
dan semua luka yang tak terperi
menancap dalam, mengukir kelam
dan dia yang tersungkur terlebur dalam kabur
Yang tak berpihak tergeletak
yang sesak lupa letak
hingga ceria enggan mengusir nelangsa
dan biarkan berjelaga
kandas selamanya
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.56 0 comments
Labels: Puisi - Curahan hati
HADAPI
Menghadapi kenyataan tidak pernah menjadi pilihan.
Karena kita tidak bisa memaksa semuanya berjalan sesuai arah keinginan kita. padahal dalam kiblat yang sesungguhnya terlalu bertentangan.
Menghadapi kenyataan tidak akan pernah menjadi pilihan.
Karena semuanya terlalu cepat terjadi untuk menunggumu siap menghadapinya.
katanya,
kamu tidak akan tau seberapa kuat dirimu, sampai menjadi kuat adalah satu-satunya pilihanmu.
Saya terlalu sering dibilang gagal move on. Dan biasanya saya cuma menjawab dengan senyum dan jawaban klise.
Tapi sebenarnya tidak begitu. saya menulis tentang 'dia' bukan karena gagal move on. Karena memang hingga sekarang hal-hal yang lebih banyak menginspirasi saya adalah segala hal dari 'dia'.
Move On bukan berarti tidak membicarakannya sama sekali. Move On bukan berarti menghapusnya dari segala kehidupan kita. Itu terlalu kejam.
Move On adalah soal berhenti berharap dan memaafkan. Berhenti berharap bahwa dia akan kembali dan mau mengerti betapa kita terluka seolah semua ini salahnya. Memaafkan jika memang tindakannya kurang tepat untuk kita.
Kita tidak pernah tau apakah dia terluka juga atau tidak kan? Kita juga tidak tau apakah dengan rasa amarah kita semuanya akan lebih baik. Jadi, ayo berhenti menjadi pendendam. berikan maaf.. ringankan langkah kita sendiri..
And I know, I'm not alone.. I'm not the only one who is broken..
(Secondhand Serenade- You and I).
hanya orang dewasa yang bisa berfikir seperti itu.
Perpindahan hanyalah masalah perpindahan posisi. iya kan?
Beberapa orang tinggal di hatimu tetapi tidak di hidupmu. Maafkan mereka.
Beberapa orang tinggal di hidupmu tetapi tidak di hatimu. Hargai mereka.
Iya, perpisahan memang bukan persoalan gampang, tapi cukuplah seperti itu saja sulitnya. jangan semakin dipersulit dengan terus-terusan bertanya kenapa kita ditinggalkan dan kenapa itu terjadi.
Beberapa orang memang tercipta untuk kau cintai, tapi tidak untuk mencintaimu. itu biasa terjadi.
Tapi beberapa orang emang diciptakan untuk mencintaimu walau kau tidak pernah mencintainya.
Karena itulah kita belajar untuk tau bagaimana memaafkan dan menghargai orang dalam arti yang sedalam-dalamnya.
memaafkan mereka yang tak bisa membalas cintamu. menghargai mereka yang tetap mencintaimu walau kau tak pernah menoleh pada mereka.
Saya juga berharap note ini tidak hanya sekedar teori. saya juga sedang belajar memaknai dan tidak lagi merengek seperti anak kecil untuk sesuatu yang tidak membahagiakan. bahkan dalam hal menyayangi seseorang.
Ambil langkah. mantapkan berdiri.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 08.55 0 comments
Labels: Artikel, Tulisan Bebas
