Salam jumpa
:smile
Sudah beberapa lama saya tidak menulis ya?
semoga tidak membuat saya lupa menempatkan kata-kata ini.
Hei, menyusun kata berarti memilih susunan yang paling tepat untuk kalimat yang bagus kan?
Seandainya saya salah meletakkan kata dalam suatu kalimat, maka makna kalimat itu akan berubah seluruhnya bukan?
Seperti itulah pilihan. kadang tidak terlihat penting. tapi ketika salah, dia merubah hidup anda.
Pilihan.
Siapa yang sering dilema menghadapinya?
*tunjuktangan
Saya sering. dan pastinya semua orang diantara kita atau di dunia ini pernah merasakan menghadapi suatu pilihan.
Mungkin kita sering mengeluh,
'aduh.. bingung. pilih ini apa itu ya.. aku pengen ini, tapi itu juga bagus...'
Tapi percayalah bahwa kita selalu beruntung karena memiliki pilihan.
hanya saja kita memang harus berfikir tentang semua hal yang harus dipertimbangkan.
Ketika kita memutuskan untuk menerima lamaran atau melamar seseorang misalnya. kita tidak mungkin memilih dengan cepat dan tanpa pertimbangan kan?
Oke. itu contoh sulit.
ini mungkin lebih mudah. kamu punya pilihan, pergi atau tinggal.
Itu dilema berat bukan?
Ada kalanya kamu harus mengambil pilihan untuk pergi, bukan karena kamu ingin berhenti, tapi karena kamu memang tak mungkin melanjutkan.
Masalahnya adalah bagaimana kita tau kalau kita sudah tidak bisa melanjutkan lagi?
Bingung juga ya..
Ada pepatah mengatakan,
Orang bilang, ikuti kata hatimu. Tapi ketika hatimu pecah menjadi berbagai bagian, bagian mana yang harus kau ikuti?
Kalau saya, saya akan tetap bilang ikuti kata hatimu, tapi biarkan waktu yang menjawab mana dari sisi hatimu yang terkuat.
Hanya saja ditulisan ini saya hanya ingin mengingatakan bahwa kita jangan sampai salah mengikuti nafsu, bukan hati kita.
karena bisa saja, suara keinginan hati kita itu tidak datang dari nurani, melainkan dari nafsu. atau keinginan sesaat.
Untuk yang nerasa sudah mempunyai pilihan, syukurilah.
karena tidak semua orang punya, dan tak semua orang bisa memutuskan pilihan yang tepat.
karena itu, jangan sia-siakan setiap pilihan.
Caranya, berfikirlah tentang siapa kita. apa tujuan hidup kita. apa yang kita inginkan dan sesuai dengan tujuan kita, dan apa yang akan kita kerjakan untuk orang lain.
Hidup ini pilihan, dan kita selalu beruntung karena sudah memilikinya.
Bayangkan jika ada orang lain yang selalu bermimpi untuk memiliki pilihan yang sama dengan kita, untuk memprbaiki hidupnya.
Betapa bergunanya satu pilihan yang tidak kita duga.
Tapi juga jangan asal mengambil pilihan. apalagi jika itu hanya suatu nafsu atau keinginan kita semata.
Misalnya begini.
kita dapat memilih antara pergi dari tempat kerja kita sekarang untuk tawaran pekerjaan lain yang lebih bergengsi daripada pekerjaan kita sekarang, atau tinggal di pekerjaan lama tetapi dengan title tidak sekeren tawaran tadi.
Jika tujuan hidup kita hanya untuk memperlihatkan title yang bergengsi kepada orang lain, kita boleh memilih untuk pergi dari pekerjaan yang lama
TAPI
jika tujuan hidup kita ingin mengabdikan diri pada orang lain walau dengan gaji yang tak seberapa atau dengen title tidak sepanjang pekerjaan baru kita, kita mungkin memilih tinggal.
apalagi mempertimbangkan dampak lain yang akan kita tempuh jika mengambil pilihan lain.
Untuk yang merasa belum memiliki pilihan, Hei. bukannya takdir tidak berpihak padamu. bukan. tapi memang..
ehm.. Rabb sedang membantu kita untuk memilih, dengan langsung menunjukkan padamu jalan yang harus kita tempuh.
Kita akan tetap punya pilihan, dilain kesempatan nanti. yang kita butuhkan adalah bersabar dalam keindahan dan percaya.
Hidup anda adalah akumulasi pilihan anda sekarang.
Jadi, melangkahlah dengan benar. :)
Rabu, 07 Maret 2012
Kita (Selalu) Beruntung karena Memiliki Pilihan
Posted by Kharissa Widya Kresna at 06.27 0 comments
Labels: Artikel, Kepedulian - Kemanusiaan
Sepucuk Surat... Entah yang ke-berapa.
Menemuimu di ujung pagi.
Salam untukmu yang sampai hari ini masih bertahan untuk tidak menengok ke belakang. Hebat sekali.
Sedangkan aku masih disini dan berusaha lari.
Aku tidak tau aku menunggu karena atau untuk apa. tapi yang kutau aku hanya masih ingin disini. ya. aku masih ingin disini.
Menyerap bau rumput yang tertinggal. barangkali saja masih ada serpihannya untuk kujadikan alasan yang tak akan lagi mampu tersapu waktu.
Aku suka melihatmu tersenyum seperti itu. tapi aku masih juga berusaha mengingkari kalau aku tak ingin kau bahagia tanpa aku.
Dalam surat sebelumnya aku pernah bilang, bahwa mimpi-pun terasa sangat menyakitkan ketika tak ada harapan akan terwujud. Aku hanya tak ingin membiarkan tembok yang berusaha kubangun melemah.
Tapi sebenarnya aku tau kalau sudah hancur. Lucu ya? tidak juga.
Hidup ini tragedi untuk mereka yang memikirkannya.
Aku hanya lelah untuk terus memikirkan, tapi aku juga tak bisa untuk melupakan. Aku tidak tau.
Hei, hari ini menyebalkan sekali. tapi aku berharap suatu saat tiap pucuk surat yang kutulis bisa ku kumpulkan menjadi sebuah bendel kecil.
Aku tau menulis seperti ini sedikit percuma. karena aku tak pernah berani mengirimkannya secara langsung padamu. aku hanya berharap kau membacanya ketika tanpa sengaja membuka dunia tanpa batas ini.
Aku hanya ingin menjaga diriku. Hei, bagaimana-pun aku perempuan bukan? aku hanya... yaa... tidak mungkin berkata terus terang kalau ini tentangmu. Aku hanya terus menulis perumpamaan yang hanya aku yang tau persis siapa tokoh utamanya. haha.. mungkin aku berbakat menjadi seorang penulis skenario?
entahlah.
Selalu dalam temaram senja seperti ini, aku mengingat sesuatu. sesuatu yang aku bahkan tidak tau kenapa aku mengingatnya. Maafkan aku. Jika kata seorang penulis, seseorang harus pindah katika tempat kediamannya sudah dirasa sempit untuk menuju ke tempat yang lebih luas dan nyaman, aku tidak begitu.
Entah kenapa aku justru sangat ingin tidak pindah.
tapi sudahlah, ini kewajibanku bukan? kuanggap ini adalah tugas.
Ya. tugasku yang tak pernah kau mengerti caraku melakukannya.
Berat memang. tapi biarkan aku menjalani prosesku sampai aku selesai. Kamu bisa diam disana jika sabar.
Aku hanya ingin melindungi milikku sendiri. aku tidak mau milikku terluka. maaf. mungkin aku membuat keputusan-keputusan yang salah, tapi itulah aku.
semua yang kumaksudkan hanya untuk diriku sendiri saat ini. aku ingin milikku utuh kembali. dengan sendirinya.
Kadang aku berfikir kenapa harus aku? kenapa bukan kamu?
hahaha.. lucu. tapi ya sudahlah. memang adanya begini dan kuakui.
Kamu boleh saja mengumpulkan lembaran lembaran halaman ini, menumpuknya atau membawanya ke psikiater untuk dianalisa. aku mungkin sudah bisa menebak hasilnya.
Ah, sudahlah. Aku sedang berada dipuncak ego-ku.
hanya 2 hal. perjuangkan atau tinggalkan. atau pilihan paling buruk: TIDAK KEMANA-MANA.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 05.58 0 comments
Labels: Tulisan Bebas
Kita TIDAK Perlu Menebang Pisang untuk Menyelamatkan Rumput. #EdisiKMD
Ini yang saya dapat selama ikut KMD.
KMD. Kursus Mahir Dasar untuk Menjadi Pembina Pramuka.
Keren? Jelas. PGSD punya.
:bigsmile
Kembali pada keadaan saya yang lebih cenderung memilih untuk mencoret-coret menuliskan sesuatu yang tidak penting daripada menuliskan catatan materi, saya tertarik pada satu kalimat ini:
'..Salah satu metode aman dan tidak merusak alam ketika pembuatan api unggun adalah dengan mencabut rumput disekitar area api unggun beserta tanahnya, kemudian di-area tersebut ditaruh batang pisang untuk tempat pembakarannya..'
Dan... Sreeettt..
otak saya tiba-tiba bekerja.
Kenapa harus batang pisang?
kenapa harus mencabut batang pisang untuk menyelamatkan kehidupan rumput?
Cinta alam darimana kalau membunuh satu tumbuhan itu demi tumbuhan lain?
maksudnya gini, apa gunanya kita menyelamatkan nyawa makhluk hidup dengan mengorbankan nyawa makhluk hidup lain?
Mungkin pemikiran saya salah.
Tapi saya bukannya ingin membahas itu, tapi saya ingin menganalogikan kalimat tersebut dalam hidup kita.
kita tidak perlu mengorbankan pisang untuk menyelamatkan rumput.
Maksud saya, kita tidak perlu mengorbankan hal yang lebih besar untuk keterpurukan kita karena masalah sepele.
Mulai mengerti arah pembicaraan saya?
Ya.
Benar. Dalam hal yang kita lakukan kita harus rasional memikirkan segala kemungkinan.
Dan saya rasa, kita-pun pasti juga sudah bisa mempertimbangkan resiko yang kita hadapi.
Pernah sakit hati sampai badmood se-badmood-badmoodnya?
Pernah sedih sampai nangis se-sedih-sedihnya?
Pernah bingung mikirin masalah sampai se-pusing-pusingnya?
Apa yang kita lakukan?
Berdiam diri dan membiarkan hari berlalu dengan duduk nungguin ada orang yang menayakan kabar kita?
Teman, nggak begitu caranya.
Saya pikir bahwa melewatkan semuanya yang bisa kita raih hanya karena kita sedang berada dalam keadaan yang tidak stabil itu merugikan sekali.
Contohnya gini, malam ini kamu bertengkar hebat sama pacar kamu. kamu sedih se-sedih-sedihnya, sampai lupa waktu buat tidur padahal besoknya ada seleksi fungsionaris HMJ atau ada lomba.
Karena kamu sedih kamu lebih milih begadang menyesali kesalahpahaman kamu sama dia.
besoknya telat bangun, kondisi nggak fit, seleksi mggak maksimal, dan sebagainya.
Hingga pada akhirnya kamu nggak lolos seleksi HMJ atau jadi finalis di lomba itu.
itu hanya satu contoh. dalam hidup kita, ribuan kejadian semacam ini banyak terjadi dengan kasus yang berbeda.
Inilah yang saya bilang kamu memotong tanaman pisang hanya untuk menyelamatkan rumput.
Kamu mengorbankan hal yang jauh lebih besar dari masalah yang menyandungmu saat ini.
Saya sedang dalam keadaan seperti ini.
Saya tidak tau apakah keputusan yang saya buat benar atau salah.
Saya tidak tau apakah pilihan yang saya buat benar atau salah.
Tapi bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa
Kehidupan Anda yang sekarang ini adalah kumulatif dari pilihan-pilihan yang anda buat saat ini.
Jadi saya memberanikan diri mengambil suatu keputusan yang sangat menyakitkan untuk saya.
Tapi saya percaya, apapun yang saya pilih nantinya pasti akan memberikan dampak yang positif baik untuk saya atau orang yang bersangkutan.
Teman, keadaan itu tidak pernah berpihak pada kita.
Tidak pernah.
Tapi bukan berarti kita tidak bisa membuat pilihan yang benar untuk meminimalisir segi negatifnya.
Teman, jika kamu sedang terpuruk sekarang, Berdirilah. Tolong berdirilah.
Sudah terlalu lama kamu tersungkur dan membiarkan banyak hal menyenangkan untuk menggantikan kesedihanmu.
Percayalah bahwa yang baik akan kembali baik padamu, seburuk apapun kondisinya saat ini. Yang pasti itu terjadi setelah kamu mengusahakannya semaksimal mungkin.
Selanjutnya percayakan semua pada tangan yang berwenang dalam menilai usaha dan keadaanmu yang sesungguhnya. semua sudah akan ada yang mengaturnya untukmu.
Jadi, kita tidak perlu menebang pisang untuk menyelamatkan rumput bukan?
Bukan karena rumput tidak berarti,
Tapi karena kita tidak boleh membuang manfaat tanaman pisang hanya untuk rumput yang sudah layu.
Salam Sayang. :)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 05.57 0 comments
Labels: Artikel, Kepedulian - Kemanusiaan
Re(A)l ̶a̶ wan. Tentang Kehidupan.#EfekDiklatsar
- Dengan penerimaan pada kenyataan yang digariskan Sang Pencipta untuk kita, kita terhindar dari sifat pengeluh. bahkan sikap menghujat keputusan-Nya.
- Dengan penerimaan pada kenyataan kita senantiasa melihat apa yang bisa disyukuri. Melihat apa yang terjadi pada kita tentulan bertujuan baik untuk kita.
- Dengan penerimaan pada kenyataan kita bisa melangkah dengan tenang tanpa terbebani dengan pemikiran buruk kita. gampangnya pikiran kita jadi lebih ringan.
- Dengan penerimaan pada kenyataan kita merasa terpacu bahwa mungkin setiap kegagalan adalah alasan kita untuk terus membuktikan diri kita layak dan mampu.
- Dengan penerimaan pada kenyataan kita tau bahwa ada alasan untuk kita untuk terus belajar dan tidak terseret kenyataan pahit.
- Dengan penerimaan pada kenyataan kita telah menjalin hubungan yang baik dengan sesama.
- Dengan penerimaan pada kenyataan kita mampu mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan kita, serta cara menanganinya..
- dan banyak hal yang belum terungkap oleh pemikiran saya.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 05.56 0 comments
Labels: Artikel, Kepedulian - Kemanusiaan
