Kamis, 14 Februari 2013

Jengkal Jarak.. (Part III)


Yuna memandang lurus layar monitornya, menjelajahi setiap inci angka-angka yang tertera disana. Sedikit kekhawatiran tampak meronai wajahnya ketika mengamati grafik profit pekerjaannya yang menurun tajam.
Yuna mengecek ulang semuanya. Pas. Tak ada yang terlewat atau lupa belum termasukkan. Semuanya jelas dan rapi. Jelas sekali tidak ada kesalahan penghitungan. Berati memang pekerjaannya menurun akhir-akhir ini.
Yuna mendengus. Menyandarkan kepalanya pada layar monitor komputer di hadapannya. Pikirannya kalut. Dia berusaha mencari sendiri penjelasan yang bisa menghibur hatinya dari semua ini. Tapi tak bisa.

'Belum selesai, Yun?' tanya Putri, rekan kerjanya. Yuna terkejut, mendongak sebentar, kemudian tersenyum.
'Sudah. Ardian benar. Pekerjaanku kacau, Put.' Lanjutnya
'Kamu sudah chek semuanya?'
'Sudah. Dan semuanya sudah tercover dengan baik.'
'Kau kecewa sepertinya.'
'Tidak. Mungkin iya. Entahlah. Tak ada artinya buatku. Aku sudah berusaha semampuku. Dan kerjaku berantakan. Apa artinya sekarang ini?.' Kata Yuna. Sorot matanya sedikit meredup Putri meletakkan tangannya di pundak Yuna.
'Kau masih terganggu?' lanjutnya.
'Aku bingung bagaimana menjelaskannya pada Ardian. Dia berkorban banyak untuk ini. Atau Ibuku yang berharap banyak aku bisa melakukan sesuatu dengan benar.' Yuna menghela nafas. 'Apakah ini suatu kesalahan, Put?'
'Kalau kau tanya aku, jelas iya. Tapi kau sudah berusaha, dan tahu letak kesalahannya dimana. Lupakan. Kau sudah terlalu banyak menerima dampaknya. Mulailah kembali. ' Putri menggenggam tangan sahabatnya itu. Yuna hanya tersenyum.

Sampai ketika Putri pamit tidur, Yuna masih berdiam diri disana. Dia berharap ada seseorang yang benar-benar bisa mendengarkan segala keluh kesahnya sejujur-jujurnya dan membantunya keluar dari kemelut seperti ini.
Ah, Yulian, dimana kamu? Yuna menggigit bibir sambil memejamkan matanya.

Beberapa hari yang lalu kekhawatiran sudah mulai menyusupi hati Yuna. Hanya saja dia masih bisa berharap semua yang menjadi kekhawatirannya hanyalah sekedar kekhawatiran. Dia masih sempat menyusun langkah-langkah selanjutnya : menyiapkan diri berbicara pada Ardian tentang pekerjaannya, memasukkan formulir pengajuan iklan untuk memenangkan tender di perusahaan lain yang mungkin bisa membantunya menegakkan kembali usahanya, menyiapkan seperangkat program kerja untuk komunitasnya, dan.. memaafkan dirinya sendiri.

Tapi kemudian semuanya bagaikan kecelakaan beruntun. Ardian tahu lebih dulu sebelum Yuna angkat bicara, Ibunya yang tahu kabar ini dari Ardian melarangnya menjalankan komunitas yang sedang memasuki masa perkembangan emasnya. Formulir pengajuan iklannya ditolak. Usahanya terancam collaps karena tak ada suntikan danaDan yang lebih parah, Ibunya menyalahkan dirinya karena masih mengingat Yulian. Tabrakan Combo yang benar-benar membuatnya tersudut.

Yuna mendongakkan kepalanya. Cairan bening turun menyusuri lereng pipinya. Yuna ingin menyerah. Tapi apa bisa setelah semuanya kacau seperti ini? Yuna menyeka airmatanya, mencuci muka, lalu tidur. berharap semuanya lebih baik ketika dia bangun dan membuka mata.
Tapi apa iya semudah itu?

bip, bip!
suara ponselnya menggantikan denting alarm yang membangunkan Yuna pagi ini.
Yuna menggelit, menanggalkan seluruh rasa malasnya untuk beringsut dari tempat tidurnya. Diraihnya ponsel, dan tertera nama Ardian disana. Yuna sempat tak ingin mengangkat teleponnya, tetapi akhirnya dia menekan tombol jawab.
'Hallo, Assalamualaikum..' Ujarnya
'Waalaikumsalam, Yun. Kamu sudah dikantor?' Suara Ardian terdengar dari seberang
'Apa? Aku? Sudah. Eh, maksudku belum. Entahlah. Sepertinya aku sedang tidak bisa berangkat ke kantor sekarang.' Yuna terbata
'Apa? Kenapa? Kamu sakit?'
'Tidak. Maksudku sedikit pusing. Atau radang sinusku sedang kambuh.' Yuna mengigit bibir. Ini kebohongan yang anak TK pasti juga langsung mengetahuinya. 
'Kupanggilkan dokter?' Suara Ardian terdengar tak yakin. Atau curiga. Entahlah, Yuna tak bisa membedakannya.
'Apa? Tidak. Aku bisa sendiri.' 
'Oke. Nanti sepulang dari kantor aku kerumahmu.' Detik kemudian Yuna mendengar suara telepon ditutup. Dia memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya ke tembok, lalu merosot terduduk.
Apa yang dipikirkannya? Padahal Ardian begitu baik. Mau berpura-pura percaya kalau dirinya memang sedang sakit.

Setelah menutup telepon dari Yuna, Ardian hanya duduk termangu di teras rumahnya. Ada apa dengan tunangannya itu? Kenapa Yuna seolah ingin menghindari dirinya?
Ardian tak ingin memenuhi kepalanya dengan puluhan spekulasi yang membebani hatinya. Maka dia memilih untuk segera menuju ke kantornya.


Yulian memarkirkan motornya di halaman sekolah. Tak lama kemudian kerumunan siswa-siswanya berebutan mencium tangannya dengan riang. Yulian tersenyum. Kebahagiaan semacam ini selalu memenuhi dadanya setiap pagi. Keceriaan polos anak-anak itu seolang mentransfer energi yang mampu melengkungkan senyumnya.
Kebahagiaan itu terdorong juga karena Yuna pernah menuntut ilmu yang sesuai dengan profesinya. Walaupun kini Yuna sudah bekerja di kantor penerbitan dan bukannya menjadi guru SD seperti yang mereka rencanakan dulu, setidaknya dia masih merasa Yuna mencintainya dengan mau menempuh pendidikan tinggi sesuai keinginannya.
Yulian mendongakkan kepalanya. Dibiarkan mata coklat jernihnya menjelajahi keindahan awan dan langit yang biru. Rambutnya yang cepak bergerak tertiup angin. 
Dulu, Yuna selalu suka jika awan cerah dan angin sepoi-sepoi seperti ini. Yuna akan tertawa ceria dan memekik kecil serta menutupi kepalanya erat-erat ketika jilbabnya tertiup angin.
Yuna, sedang apa kamu?

Yulian segera menyudahi lamunannya dan beranjak memasuki kantor. Kantor masih lengang. belum banyak guru yang datang. Jam pelajaran di sekolah tempat Yulian mengajar memang baru dimulai ketika jarum jam menunjukkan angka delapan. Dan sekarang masih pukul tujuh. 
Ditengah keheningan kantor, Angan-angan Yulian kembali melayang. Dia teringat pada hari Yuna memintanya meninggalkan dirinya.

'Yul.. pergilah. Kita tak akan bisa terus begini.'  Yuna menatap sendu matanya. Ada setitik ekspresi yang tidak bisa Yulian mengerti.

'Tapi kenapa Yun?'
'Karena bersama kembali bukan ide yang bagus. Aku memikirkannya. Melawan ibu jelas sekali bukan ide yang baik. Dan bukankah dulu kita memang sudah berpisah?'
'Tapi aku mencintaimu, Yun.. Aku ingin hidup denganmu.' Yulian bersikeras

'Aku juga mencintaimu, Yul.. dengan segenap hatiku. Bahkan hingga detik ini. Tapi sepertinya Allah memang tak pernah mempertemukan kita sebagai pasangan. Tegakah kau melihatku mengingkari keinginan ibuku? pergilah Yul.. tak apa.' aku tak mungkin membuatmu menunggu lebih lama lagi. Rasa bersalah itu akan terus menghantuiku. Sudahlah Yul.. kejarlah kebahagiaanmu. Lupakan aku..' Yuna berkata dengan berderai airmata

'Tapi bukankan kita masih bisa membujuk ibumu!' Yulian berteriak. Dia sudah kehabisan akal untuk menahan Yuna.

'Aku tahu. Tapi tak lagi bisa. Ibu menyuruhku meimilh antara kamu dan beliau. Maukah kau kita berdua hidup sebagai anak durhaka? Ingatlah Yul.. Ibuku tak ingin aku langsung menikah. Aku baru saja lulus kuliah..' Suara Yuna melirih. Dia tak sanggup menahan perih hatinya. Yulian terduduk. Dia tak bisa berkata apa-apa. semuanya mendadak menjadi rumit dengan begitu cepat. Bukankah ketika Yulian melamar Yuna semuanya baik-baik saja? Atau sebenarnya ibu Yuna memang tak ingin Yulian menjadi menantunya?

'Aku bisa menunggu lebih lama Yun.. aku bisa. Aku bahkan sudah menantimu selama 4 tahun untuk memenuhi keinginan ibumu, melamarmu waktu kau wisuda. Aku bisa Yun.. bekerjalah. Turuti ibumu. Aku bisa menanti..' Yulian berusaha kembali meyakinkan Yuna. Tapi sepertinya Yuna sudah lelah untuk mendengarnya lagi. Yulian sadar, bukan hal yang mudah untuk Yuna melewati 4 tahun dengan terpancang jarak dan segala masalah yang menyertainya. Dalam hati Yulian memaklumi jika Yuna tak ingin lagi merasakan semuanya.

'Yul.. pergilah..'

Yulian menggigit bibir. Perasaan pahit pada malam itu mendadak menyergap masuk kembali ke hatinya. Yulian mendadak merasa kehabisan nafas.

Selasa, 12 Februari 2013

Jengkal Jarak (Part II)


Yulian mengusap wajahnya yang basah untuk kesekian kalinya. Setiap wajahnya mulai kering dia segera mengguyurnya lagi di kran air. begitu seterusnya hingga hampir setengah jam.
'Yul, wudhu ratusan kali itu nggak bakal bikin kamu tenang kalau belum sholat.' Andre menepuk bahu Yulian.
Yulian kaget dan tergagap. Saking kagetnya air kran tanpa sengaja memasuki tenggorokannya.
Yulian mendongakkan kepala dengan kesal.
'Kamu nggak bisa permisi dulu apa sebelum ngomong? kamu pikir kesedak air kran itu hal yang keren gitu?' Yulian melemparkan raut muka penuh peperangan. Andre mengangkat bahu.
'Mungkin saja kan tahun ini bakal ada kontes menelan air kran terbanyak. Kamu bisa menang Yul..' Kata Andre sambil mendahului Yulian meninggalkan tempat wudhu.
Yulian mendelik.

Yulian menghempaskan dirinya ke dinding. Dia memandangi murid-muridnya yang bermain dengan riang di halaman sekolah. Beberapa tampak ceria bermain lompat tali dengan karet gelang yang disusun memanjang, beberapa tampak beradu mulut memperdebatkan siapa yang curang ketika bermain. Yulian tersenyum. Anak-anak memang selalu menunjukkan hal lucu yang menakjubkan. Kalau saja dia dan Yuna nantinya menikah, apakah anak-anak mereka akan selucu itu?
Yulian tertegun dan merubah cara duduknya. Dia merasakan seluruh tubuhnya menegang. Dia mengerjapkan matanya, berusaha menelaah pikirannya sendiri. Dia kaget dengan apa yang dipikirkannya barusan. Sejak kapan dia mulai melantur?

Yulian bergegas mengambil ponselnya dari saku. Dia hampir lupa kalau tadi mengirimkan pesan kepada Yuna. Apakah Yuna membalasnya? Apakah pesan yang dikirimnya bukannya memperbaiki hubungannya dengan Yuna tetapi malah semakin memperburuknya? Apakah Yuna justru marah besar dan menganggap dia hanya menggodanya?
Yulian terdiam sebentar, meredam kebisingan anggapannya sendiri yang terus berkecamuk di otaknya. Dilayar ponselnya tertera nama Yuna lengkap dengan balasan pesannya.
Aah..
Yulian mendesah.
Mencintai adalah sesuatu yang sulit ketika sudah begini keadaannya. Hal-hal kecil yang tampak tak berarti justru menjadi sesuatu yang besar dan sulit dipahami.
Apa artinya jika dalam setahun dia belum bisa melupakan Yuna?
Apa artinya jika dalam setahun dia masih berharap Yuna memiliki perasaan yang sama?
Seandainya malam itu Yuna tidak memutuskan hubungan mereka tepat sehari sebelum dia dan orangtua-nya mendatangi rumah Yuna, akankah semuanya terasa jauh membahagiakan?



Yuna menyerah. dia menggeletakkan ponselnya begitu saja dan tidak menyentuhnya sama sekali. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya dan membuat Putri menatapnya dengan tatapan curiga. Yuna bukannya tidak menyadari, hanya saja dia belum sempat menghadapi pertanyaan Putri yang pasti akan memberondongnya tanpa ampun.
Putri pasti akan terus menanyakan mengapa, dan aku belum tahu harus menjawab apa. Pikir Yuna. Dia mendengar Putri berbicara tapi tidak bisa berkonsentrasi pada apa yang dibicarakannya, hingga Putri menariknya keluar dari dunia lamunan dengan mencubit tangannya keras-keras.
'Aduh!' Pekik Yuna. Putri menatapnya dengan mata melebar. Sejenak Yuna takut mata sahabatnya itu akan mencuat keluar.
'Kamu itu kenapa sih Yun?' Ujar Putri kesal. Yuna mengusap-usap tangannya yang pedih bekas dicubit Putri tadi.
'Nggak papa. Kamu nggak bisa ya lembut dikit?' Kata Yuna kesal. Putri mendengus.
'Itu nggak seberapa Yun. Bisa lebih sakit, kalau kamu nggak mau cerita apa yang menjadi masalahmu.' Putri menegaskan.

Putri tahu, Yuna adalah tipe orang yang akan langsung bercerita jika ceritanya itu membahagiakan, tapi cenderung menyimpan rapat-rapat kalau itu membuatnya sedih.
Yuna menghela nafas. Tatapannya meredup. Putri secara defensif menepuk bahu Yuna, sekedar memberinya aliran kekuatan. Tidak masuk akal memang. Tapi apa salahnya dilakukan? Yuna kan sedang membutuhkan dukungan.
'Aku tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak menyangka, kalau sebuah sms dari Yulian bisa benar-benar membuat cuaca hidupku berubah. Sebegitu berartikan dia untukku?' Pertanyaan Yuna terdengar mengambang. Putri yakin pertanyaan itu lebih ditujukan Yuna kepada dirinya sendiri ketimbang kepada Putri.
'Yulian menghubungimu?' Tanya Putri. Yuna mengangguk samar.
'Aku takut dia kembali.. Maksudku kenangan tentang dia kembali.' Yuna merasakan nada tidak yakin dalam suaranya. Dia takut Yulian kembali atau justru mengharapkan Yulian kembali?

Yuna memeluk lengannya sendiri. Bukan kali pertama harapan itu menyembur dengan dahsyatnya ketika sebuah pesan pendek Yulian bertengger di kotak masuknya. Lalu tanpa ampun harapan itu gugur begitu saja ketika Yulian tak lagi mengirimkan pesan balasan ketika dia membalasnya.
Apa memang hati perempuan selalu serapuh ini? Atau Yulian yang terlalu kuat mendiami relung hatinya?
'Kamu yang memintanya meninggalkanmu.'  Suara Putri terngiang kembali di kepalanya. Yuna menahan isak tangisnya. Kenapa begitu membekas?
Putri secara refleks memeluk sahabatnya, dan Yuna membiarkan kepalanya bersandar di pundak Putri. Dia merasakan bulir air matanya menetes membasahi leher sahabatnya, tapi dia tak peduli.
Saat ini, keberadaan Putri sudah lebih dari cukup menghibur hatinya.



Yulian berulang kali menggumamkan kalimat meminta maaf. Dia sendiri tidak yakin kalimat itu ditujukan kepada siapa. Entah kepada Penciptanya, entah kepada Yuna. Satu-satunya yang dia rasakan saat ini adalah perasaan bersalah.
Mungkinkah dia sudah mengusik hidup wanita yang dicintainya?



(Bersambung...)

Jengkal Jarak (Part I)


'Aku tidak merindukannya.' Yuna mengerang
'Oh, Yuna. Akui sajalah.' Bantah Putri
'Tidak sama sekali. Kalau kau pikir aku cuma duduk di tempat tidur seharian sambil memandangi layar ponsel itu berarti aku merindukannya, kau salah besar.' Yuna bersikeras
'Kenyataannya memang seperti itu.' Putri merasa menang adu argumen dengan Yuna kali ini.
'Put, aku bisa gila kalau kita terus membicarakan ini.'
'Kamu yang memintanya meninggalkanmu, Yun..' Yuna mendadak menegakkan kepalanya.
'Kau bicara sekali lagi atau kuamputasi gajimu bulan ini!' Yuna berteriak. Putri mengangkat bahu. Sahabatnya ini memang keras kepala.
'Oke. Lupakan.' Katanya kemudian. Menyerah.

Yuna terdiam dan mengalihkan perhatiannya dengan membolak-balik halaman majalah remaja yang baru dibelinya di lampu merah pagi tadi.
Tapi seiring matanya menelusuri tiap baris majalah itu, pikirannya justru semakin terbang ke tempat lain.
Yuna ingat bagaimana dulu dia bergeming dengan perubahan sikapnya yang membuat Yulian protes keras.
Yuna ingat bagaimana dulu dia membiarkan Yulian lelah mempertanyakan kesibukannya, hingga akhirnya Yulian mengucapkan selamat tinggal padanya, satu tahun yang lalu.
Yuna berfikir dengan melepaskan Yulian berarti dirinya akan terbebas dari perasaan yang membelenggunya.
Jarak memang selalu membuat semuanya jauh lebih sulit.
Bagaimana hidup berjauhan menjadi alasan untuk saling mencurigai tanpa alasan, dan bagaimana hidup berjauhan mengubah waktu menjadi semakin sempit dari yang sebenarnya.
Dan rindu semakin terasa bagaikan pasir yang harus kau minum setiap hari.

Yuna menghela nafas. Ternyata anggapannya salah besar. Memutuskan hubungan dengan Yulian tak sepenuhnya membuat hatinya menjadi utuh untuk dirinya sendiri seperti sebelumnya, tetapi justru memecahnya menjadi bagian yang semakin kecil. Tak tersisa sedikitpun untuk dirinya sendiri.
'Astaghfirullah..' Yuna menghela nafas
'Yun, kau tak apa?' Putri mengguncang bahunya.
'Kurasa.. Jarak memang mengubah segalanya, kecuali 1 hal. Kenangan.' Yuna menggelengkan kepalanya, lalu menunduk. Membiarkan tirai tipis yang menyelimuti matanya meluncur menetesi rok yang dipakainya.



Yulian baru saja menulis sebuah teks di pesan singkatnya, namun butuh waktu beberapa menit untuk memutuskan menghapusnya kembali.
Yulian diam. Sebenarnya apa yang membuatnya ragu mengirim sebuah pesan?
Satu tahun yang lalu mengirimkan pesan singkat seperti ini terasa sangat mudah baginya. Bahkan dalam sehari dia bisa mengirim ratusan pesan singkat kepada orang yang sama : Yuna.
Dia memasukkan ponselnya sambil berfikir, apa yang membuatnya takut mengirim pesan? Apa dia takut Yuna mengetahui bahwa dia merindukannya, atau dia justru takut mengakui kenyataan bahwa dia merindukan Yuna?

Sebagai seorang cowok yang diputuskan hubungannya oleh seorang cewek, bukan hal yang mudah bagi Yulian untuk datang dan mengatakan 'Aku merindukanmu' kepada cewek yang telah memutuskannya.
Entahlah, ego memang selalu mengambil logikanya sendiri.
Satu tahun sudah berlalu. Dia memikirkan seperti apa Yuna sekarang. Dia mendengar kabar bahwa Yuna sekarang sudah bekerja di perusahaan penerbitan, persis seperti yang dicita-citakannya dulu. Dia juga mendengar kabar kalau diwajah Yuna sudah bertengger sebuah kacamata.
Mungkinkah Yuna semakin cantik dengan kacamata itu?

Jarak rumah Yulian dengan Yuna tidak kurang dari 20 km. Hanya saja sekarang Yuna bertempat tinggal di kota yang berjarak 75 km dari tempatnya tinggal. Yuna memang beruntung. Mendapatkan pekerjaan dan tinggal di kota besar, sedangkan dia masih di kota kelahirannya, berteman dengan anak-anak setiap harinya.
Yulian kembali mengingat, bagaimana perasaannya ketika melewati rumah Yuna dalam perjalanan menuju rumah ibunya. Perasaan bergetar dan seolah ada angin yang menerpa tubuhnya, melemaskan seluruh tulangnya.
Perasaan itu masih sama, dan tidak berkurang bahkan ketika Yulian tak lagi melihat wajah Yuna selama satu tahun belakangan.
Yulian menggigit bibirnya, kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia kembali tersenyum dan memejamkan mata, ketika pemberitahuan di ponselnya mengabarkan bahwa pesan yang dikirimnya telah sampai di ponsel Yuna.



Trrrrrr...
Yuna dikagetkan dengan getar ponselnya. Sudah berapa lama dia melamun?
Dibukanya ponselnya dan dibacanya pesan singkat dengan nama yang sangat dikenalnya tertera disana.

Hai, lama tak pernah memberi kabar. Kamu sudah lupa ya padaku?

Perlu sedikitnya limabelas detik bagi Yuna untuk mempercayai siapa pengirimnya.
Dia meletakkan ponselnya sebentar. menatap sekeliling, dan merenggangkan jemarinya.

Kau yang menghilang tanpa kabar

Ketiknya. tapi kemudian dia memencet tombol delete hingga layar ponselnya kembali bersih.

Alhamdulillah, aku baik. Kamu bagaimana Yul?

Yuna kemudian memencet tombol send.
Pesan balasannya tidak datang dalam waktu sepuluh menit setelah Yuna mengirimkan pesannya.
Yuna mulai gelisah. Sesekali dia menengok ponselnya ketika mengetik, berharap pesan balasan sudah bertengger disana. Tapi hingga genap keduapuluh kalinya Yuna menengok ponselnya yang tergeletak tanpa suara, balasan itu tak kunjung tiba.
Yuna menggigit bibirnya. Mungkinkah Yulian mengirim pesan singkat hanya untuk menggodanya?
Mungkinkah Yulian tak merindukannya seperti yang dia bayangkan?

Yuna masih berharap dengan cemas, bahkan ketika satu jam sudah berlalu.
Pesan dari Yulian tak kunjung menggetarkan ponselnya.
Yuna melirik jam dinding di kantornya.
Sudah waktunya istirahat makan siang. Masa sih Yulian tak sempat membalas pesannya?
Yuna menghempaskan tubuhnya pada senderan kursi kerjanya.
Dia menyesali dirinya yang begitu mudah terombang-ambing hanya dengan pesan singkat yang dikirimkan Yulian. Dia menyesali dirinya yang masih begitu mudah disusupi harapan kepada Yulian.
Ya Rabb, maafkan hamba. bisiknya. Kemudian Yuna berdiri dan beranjak menuju ke mushola di kantornya.


(Bersambung...)

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir