Jumat, 28 Desember 2012

Apathy


Hujan malam ini, yang biasanya bercerita tentang kerinduan,
sekarang bicara tentang kebekuan.
tentang dingin rintikannya yang tak pernah bisa dihangatkan.
tentang dinginnya hembus angin yang tak bisa dipanaskan.
tentang dinginnya suasana yang tak bisa tersentuh oleh canda tawa.
Aku memejamkan mata, mencoba mencari sisa-sisa rasa yang kupunya.
Berharap kehangatannya mampu mengusir gemertak tulang yg menggigil.
Dan.. Tak ada apa-apa.
tak ada perasaan apa-apa.
seketika aku takut bekunya udara malam ini merenggut kepekaanku.
Aku takut hatiku membeku bersama butiran hujan yang membasahi setiap sudut tempatku terpaku.

Mungkin aku hanya lelah, atau memang aku sudah menyerah. Tak pernah bisa kupastikan.
aku hanya tau aku tak ingin mengalah hanya untuk meretaskan sebuah kehilangan.

Aku berhenti peduli.

Menyoal Jarak, Antara Kita


Senja kemarin menghantarkan aku merenungi semuanya. Semuanya.
Dan pertanyaan lama yang kukubur dalam-dalam kembali menyeruak masuk ke dalam otak.
'Bagaimana bisa manusia mempunyai jarak yang tak bisa diukur dengan manusia lain?'

Dulu, sebelum berkemas meninggalkan kota kelahiran, satu-satunya keyakinan yang membawaku melangkah adalah soal paham, dimana aku mengira jika semakin cepat saya beranjak pergi, semakin cepat pula apa yang selama ini kubahasakan secara tersirat mampu dimengerti.
Tapi tidak.
Manusia tidak diciptakan untuk mengerti kebisuan orang lain. Begitu pula orang-orang ini.
Orang-orang yang membuatku merasa kalau dicintai oleh mereka justru merupakan sebuah tancapan duri.
Tunggu, aku tidak bicara tentang cinta dengan orang yang kusukai.

Setiap orang pasti mendamba untuk dicintai. Tetapi tidak bagi sebagian orang.
Dicintai kadang membawa beban yang terlalu berat, terlalu menekan dan membuat tertekan.
Hingga pada detik selanjutnya kita tidak tau apa yang harus kita lakukan.

Hingga saat ini, ketika orang lain menyoal betapa mereka dicintai dengan cara yang mereka ketahui dan mereka inginkan secara sadar, aku hanya tersenyum.
Pasti banyak orang diluar sana yang ingin sekali memiliki perasaan seperti itu.
Dicintai dengan cara yang kita ingini. Atau disayangi dengan kebebasan berkomunikasi.

Tulisan ini mungkin mewakili mereka yang tak nyaman dengan hidupnya.
Yang merasa punya kasih sayang tapi rasanya gersang.
Tak apa. memang untuk itulah tulisan ini dibuat.

Kadang timbul tanda tanya besar dalam diri saya :
'Bagaimana bisa seseorang yang hidup dengan orang lain selama bertahun-tahun tapi tetap mempunyai jarak?'
padahal mereka menghabiskan banyak waktu bersama, melalui banyak peristiwa bersama.
Tapi tak kunjung bisa terbuka.

Menjaga perasaan masing-masing mungkin menjadi satu-satunya alasan yang kuat tapi tidak masuk akal.
Dan itu dijalani sepanjang hidup. Betapa menyiksa.
Dulu saya juga berfikir, kenapa kita bisa sedemikian hancur ketika seseorang tidak memahami apa yang kita rasakan.
Sekarang saya mengerti kenapa.

Setiap orang pasti mempunyai keinginan, dan orang lain juga punya keinginan atas orang tersebut.
Dan jarak terjauh yang bisa terjadi adalah ketika kedua keinginan itu tidak tersampaikan dengan baik. Atau tidak saling berlaku satu-sama lain.

Dua orang yang sudah bersama bertahun-tahun tetapi tak juga bisa saling meyelami isi hati masing-masing.
Sama-sama ngotot.
Sama-sama tak mau mengalah.
Sama-sama merasa paling benar.
Hingga satu-satunya perasaan yang bisa dirasakan hanyalah 'Hampa'.
dan satu-satunya anggapan yang bisa terpikirkan hanyalah : 'Semua yang kulakukan untukmu tak pernah berharga.'

Dan puncak terburuknya adalah ketika salah satu sudah merasa lelah dan tak lagi peduli.
Tak lagi peduli bagaimana bertindak dengan baik.
Tak lagi peduli bagaimana bersikap dengan baik.
Tak lagi peduli untuk melakukan semuanya sebenar mungkin.
Tak lagi peduli dengan mengecewakan dan dikecewakan.

Maka dari sekarang, seandainya bisa, banyak orang pasti meminta dilahirkan kembali sebagai orang yang sama tapi dengan kehidupan berbeda.
Dimana bicara bukan lagi menjadi halangan.
Dimana bicara dari hati ke hati bukan sesuatu yang sulit.

Mungkin memang iya, satu-satunya hal yang membuat hidup ini 'tak tertahankan' adalah orang-orang yang kita cintai.
Dan aku kembali berharap, Semoga tak ada lagi keinginan seperti beberapa tahun lalu untuk yang kedua kali.

That's why, I never tell you that I love you, M**.
Aku takut bahwa kata sesederhana itu tak juga bisa dipahami maksudnya.
Maaf. :)


Gemerlap Lampu Kota


Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja mengadu tawa antara kita.
menawar rasa yang sengaja tak pernah dibicarakan selamanya.

Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja merajut tiap memori ketika kita bersama.
Tak masalah jika kita memandangnya dengan arah yang sama tapi dengan pikiran yang berbeda.
Aku hanya butuh setiap sel udara yang kuhirup bersamamu menjadi bermakna.
Jauh lebih bermakna, daripada apa-apa diantara kita.

Kau bilang, melihatnya menimbulkan sensasi yang istimewa. Seolah kesempatan selalu datang tanpa kita minta.
Dan harapan akan senantiasa berkembang bila kita percaya.
Namun aku memandangnya dengan makna yang berbeda.
Kita memang slalu berbeda.

Aku bilang, melihatnya mengingatkanku pada kita.
mengingatkan padamu tiap kali aku mengedipkan mata.

Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja.
Melukiskan kamu dalam setiap masa yang aku punya.
satu-satunya yang membuatku sesak ketika aku berusaha melapangkannya.

Kumpulan lampu kota itu mungkin hanya bisa kunikmati keindahannya ketika malam menjelang,
dan rasa rinduku mulai menggenang.

Ah, bagaimana bisa kumpulan lampu membuatku sedemikian risau?
jauh dari yang bisa terlihat, kumpulan lampu itu bagaikan kamu.
Menyinari kegelapan malamku dengan sinar cahaya yang samar-samar, tetapi cukup menimbulkan suasana yang tak bisa kudapatkan dari cahaya lain.
Namun kenyataannya aku tak bisa membawanya pulang kerumahku, atau menyalakanmu sesuka hatiku ketika aku membutuhkannya.
Bagai kamu.
Menyinari ruang hatiku yang sengaja kubiarkan padam tanpa penerangan setelah satu-satunya lampu disitu putus alirannya. Dan tak kubiarkan siapapun memasang penggantinya.
Tapi aku tak bisa membuatmu menjadi penerangan dirumahku ketika gelap mulai menyergap. Kamu hanya akan tetap bersinar disana dan menjadikan aku penonton setia.

Ah, bagaimana bisa kumpulan lampu bisa membuatku sedemikian risau?
jauh yang bisa terlihat, kumpulan lampu itu bagaikan kamu.
Memandangnya begitu menenangkan, seolah aku tak pernah sendirian.
Tapi sebenarnya tidak nyata. Rasa tak pernah sendirian itu hanya fatamorgana.
Lampu kota hanyalah teman yang akan lenyap ketika mentari menunjukkan seringainya. Dan aku kembali tertelan dalam lika-liku luka setiap harinya.
Bagai kamu.
Bersamamu membuat hampa menjadi sirna. Tapi sebenarnya kamu memang tak pernah ada.
Kebersamaan kita adalah bahagia yang tak bermakna, selalu tertelan jarak predikat 'siapa kita'. Kau memiliki segalanya dariku, Dan aku tetaplah satu-satunya yang tak punya apa-apa. Dan kamu tak bisa membuatku memiliki semuanya.

Gemerlap lampu kota dalam temaram senja,
Aku hanya penikmat keindahannya.
Tak apa, aku tau lampu kota itu tak hanya tercipta untuk menyinari jalanku. atau memang bukan untuk menyinariku.

Gemerlap lampu kota, dalam temaram senja.
Jangan kau padamkan sebelum aku puas mencecap pesonanya.


 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir