Sabtu, 04 Agustus 2012

HADAPI


Menghadapi kenyataan tidak pernah menjadi pilihan.
Karena kita tidak bisa memaksa semuanya berjalan sesuai arah keinginan kita. padahal dalam kiblat yang sesungguhnya terlalu bertentangan.
Menghadapi kenyataan tidak akan pernah menjadi pilihan.
Karena semuanya terlalu cepat terjadi untuk menunggumu siap menghadapinya.
katanya,
kamu tidak akan tau seberapa kuat dirimu, sampai menjadi kuat adalah satu-satunya pilihanmu.
Saya terlalu sering dibilang gagal move on. Dan biasanya saya cuma menjawab dengan senyum dan jawaban klise.
Tapi sebenarnya tidak begitu. saya menulis tentang 'dia' bukan karena gagal move on. Karena memang hingga sekarang hal-hal yang lebih banyak menginspirasi saya adalah segala hal dari 'dia'.

Move On bukan berarti tidak membicarakannya sama sekali. Move On bukan berarti menghapusnya dari segala kehidupan kita. Itu terlalu kejam.

Move On adalah soal berhenti berharap dan memaafkan. Berhenti berharap bahwa dia akan kembali dan mau mengerti betapa kita terluka seolah semua ini salahnya. Memaafkan jika memang tindakannya kurang tepat untuk kita.
Kita tidak pernah tau apakah dia terluka juga atau tidak kan? Kita juga tidak tau apakah dengan rasa amarah kita semuanya akan lebih baik. Jadi, ayo berhenti menjadi pendendam. berikan maaf.. ringankan langkah kita sendiri..

And I know, I'm not alone.. I'm not the only one who is broken..
(Secondhand Serenade- You and I).
hanya orang dewasa yang bisa berfikir seperti itu.
Perpindahan hanyalah masalah perpindahan posisi. iya kan?
Beberapa orang tinggal di hatimu tetapi tidak di hidupmu. Maafkan mereka.
Beberapa orang tinggal di hidupmu tetapi tidak di hatimu. Hargai mereka.

Iya, perpisahan memang bukan persoalan gampang, tapi cukuplah seperti itu saja sulitnya. jangan semakin dipersulit dengan terus-terusan bertanya kenapa kita ditinggalkan dan kenapa itu terjadi.
Beberapa orang memang tercipta untuk kau cintai, tapi tidak untuk mencintaimu. itu biasa terjadi.
Tapi beberapa orang emang diciptakan untuk mencintaimu walau kau tidak pernah mencintainya.
Karena itulah kita belajar untuk tau bagaimana memaafkan dan menghargai orang dalam arti yang sedalam-dalamnya.
memaafkan mereka yang tak bisa membalas cintamu. menghargai mereka yang tetap mencintaimu walau kau tak pernah menoleh pada mereka.

Saya juga berharap note ini tidak hanya sekedar teori. saya juga sedang belajar memaknai dan tidak lagi merengek seperti anak kecil untuk sesuatu yang tidak membahagiakan. bahkan dalam hal menyayangi seseorang.

Ambil langkah. mantapkan berdiri.

Hanya Jika..


Hanya jika kamu sempat membacanya. Mungkin kamu akan tau bahwa jutaan kata-kata ini masih milikmu. 
Hanya jika kamu sempat membacanya. Mungkin kamu akan tau bahwa setiap apa yang kutulis, ada bayangmu dibaliknya.
Dan hanya jika kamu percaya.. keadaan yang seperti ini tidak akan terasa begitu menyiksa.

Bersembunyi mungkin menjadi keahlian setiap mereka yang mencinta tapi tak berani mengungkapkannya. Atau tidak tersambut baik.
Aku tau apa artinya sekarang. Banyak yang mereka lakukan untuk bersembunyi dari perasaannya.
Beberapa memilih bersembunyi pada setiap karakter kata yang mereka tuliskan.
Dan hanya jika kamu sempat membacanya, kamu mungkin akan menjadi orang yang paling menyesal sudah tidak melihat terangnya ketulusan mereka--orang-orang yang mencintaimu diam-diam-- dalam hidupmu.

Bagi kami--yang mencinta tanpa mengatakan atau menunjukkan apa-apa--, memandangmu yang ceria merupakan kebahagiaan. Tapi tidak ketika kamu tertawa dengan yang lain. Akan selalu ada pikiran 'kenapa bukan aku?'.

Hanya jika kamu sempat membacanya, kamu akan mengerti. Bahwa memiliki sudah bukan harga mutlak untukku. Memiliki adalah suatu keberuntungan. Semacam undian. Karena aku tau, akui tak akan membuatmu mengerti atas apa yang TIDAK PERNAH kuucapkan. Hanya saja aku memang selalu berharap ada kejaiban yang membuatmu mengerti. Dan menolongku untuk membuang jauh-jauh bagaimana rasanya mencinta bayangan.

Hanya jika kamu sempat membacanya, aku selalu menuliskan betapa kamu selalu terlihat sempurna. Walau aku tau, sempurnamu bukan milikku.
Kamu berdandan bukan untukku.
Kamu mengikut gaya dan tampil keren bukan untuk sengaja mempesonaku.
Bisakah kamu berbohong sekali saja kalau itu memang untukku?

Tidak. Kamu ternyata terlalu jujur bahkan untuk berkata 'tidak bisa mencintaiku'.
Tak apa. Aku hanya berharap hanya jika kamu sempat membacanya, kamu tau betapa ada orang yang bahkan rela memendam segalanya hanya agar kamu tetap nyaman. Dan mengabaikan kenyamaman mereka sendiri.

Hanya jika kamu sempat membacanya, mungkin kamu akan mengerti..
betapa kamu masih mengendap jauh didasar hatiku, tanpa aku bisa membuang endapanya. terlalu dalam. sampai aku bahkan tak sampai untuk mencapai dasarnya. dan kau tetap disana. Didasar hatiku. Dalam waktu yang lama.
Dan merindukanmu menjadi satu-satunya rasa sakit yang menyenangkan.

Hanya jika kamu sempat membacanya, mungkin kamu akan mengerti. Betapa setiap detik malam yang kulalui adalah malammu. 
Hanya jika kamu sempat membacanya, mungkin kamu akan mengerti. Betapa setiap tawaku ada kamu. masih ada kamu. bahkan ketika kau berfikir aku bisa hidup tanpamu.
Hanya jika kamu sempat membacanya, mungkin kamu akan mengerti. Iya, aku bisa hidup tanpa keberadaanmu. tapi tidak bayanganmu.

Dan hanya jika kamu membacanya, mungkin kamu akan mengerti. Kenapa aku menunggu. kenapa aku belum mengatakan mencintai orang lain selainmu.
Aku hanya ingin menemukanmu, dan menjalani semuanya bersamamu. Atau menemukan orang yang membuatku menangis seperti menangisimu. Seseorang yang membuatku jatuh dalam perasaan yang dalam, sedalam padamu. Disaat yang tepat dan takdir yang tepat.
Hanya saja.... Kau tak pernah sempat membacanya.
Dan aku merasa, mungkin memang bukan kamu.
dan karena itulah Tuhan tak mengizinkanku mampu meraihmu sekarang. karena kamu tak cukup peduli akan kepedulianku padamu. Hidupmu. yang bahkan aku juga tak tau kenapa..


Dedicate to :
Seorang teman yang tak bisa disebut namanya. KAU-TAHU-SIAPA.

Mungkin Memang Seperti Ini Seharusnya.. (Bag. 2 - Habis)


Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya.. terlampaui dengan cepat dan tanpa kenangan indah. Bukannya disambut penuh kehangatan.
Mungkin memang seperti ini pagi yang seharusnya.. terbangun dengan perasaan yang tak diinginkan. seolah kau terlahir tanpa di harapkan..

Resna menghela nafas dan membuka matanya dengan berat. Malam yang tidak menyenangkan. dan 1 lagi hari buruk yang harus dilalui. pikirnya.
'Resna.. jam berapa ini sayang? nggak libur kan?' teriakan ibu membangunkannya mulai terdengar seantero rumah.
'Iya bu.. Resna mau baru mau mandi..'
setengah jam kemudian Resna sudah bersiap dimuka pintu dengan muka ragu
'Bu, serius Resna harus sekolah hari ini?'
'Lho? memang kenapa? Resna masih sakit ya?'
'Resna malu. teman-teman dan.. Lian.. belum tau Resna pakai kursi roda..'
'Sayang, anak baik tidak akan tertolak. Resna pakai kursi roda kan cuma sementara..'
Resna tersenyum.
'Resna berangkat bu.. Assalamualaikum..' pamitnya
'walaikumsalam, sayang..'

Disekolah, Resna merasa setiap meter yang dilaluinya menuju ke kelas terasa seperti berjalan di bara api.
Teman-temannya memandang dengan tatapan yang tidak dia mengerti, seolah Resna adalah seorang tahanan penjara yang diarak keliling kota.
Resna merasakan mukanya memanas.. matanya mulai terasa perih. tapi hal itu ditahannya hingga sampai ke kelas.
ia melihat Lian sedang bercanda dengan teman-temannya ketika dia masuk.
Lian tercengang.
'Res.. ehm.. sayang.. kamu...' katanya terbata
'Apa?' Jawab Resna dingin. Lian salah tingkah.
'Kamu.. kenapa nggak bilang kalau sakit?'
'Apa pedulimu?'
'Kenapa kamu bilang begitu, sayang?'
'Kau tak cukup pandai berpura-pura dan tak usah berpura-pura, Li..' Ucap Resna sambil menjalankan kursi rodanya ke bangkunya. Lian ingin mengejarnya tetapi Pak Didik sudah memasuki kelas dan langung memulai pelajaran.
Lian mencuri kesempatan untuk melirik kearah Resna. tapi gadis itu tidak melihat kearahnya sedikitpun.
Lian menghela nafas dengan sedih.

'Res, tunggu. aku mau bicara.' teriak Lian sambil menghentikan laju kursi roda Resna.
'Ada apa?'
'Res.. kejadian seminggu yang lalu itu.. sungguh bukan seperti yang kamu pikir. Aku tidak tau kenapa kamu bisa berada disana....'
'kenapa?' potong Resna 'kamu kaget aku ada disitu dang melihat kamu sama adik kelasmu yang cantik itu? Kamu kaget karena aku tau kalau kamu nggak lebih baik dari mayat hidup? Kamu cuma punya raga tapi nggak punya hati, Li..' cercanya kemudian
'Res... bukan gitu. saat itu aku cuma sedang dimintai tolong untuk nganterin dia pulang karna dia sakit. serius..'
'Cukup Li. kamu lebih memilih ngenterin dia padahal aku nungguin kamu untuk ngeliat pentasku kan? yasudah. habiskan waktumu sama dia dan nggak usah menjelaskan kenapa kamu nggak datang. cukup. aku sudah bahagia karena kamu nggak datang. bahagia sekali sampai aku nggak tau gimana memaafkan kamu. sekarang kamu lihat. kamu nggak akan bisa lagi ngeliat aku menari..' Tiba-tiba Resna serak. dia sudah tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Lian memejamkan mata dengan pedih. kemudian berlutut memeluk Resna. Resna sesenggukan menahan tangis.
'Lepas Li.. kumohon..'
Lian menatap Resna tak mengerti.
'sudah cukup. sudah ada yang berubah tanpa kita sadari.. Pelukmu... kata-katamu.. entah kenapa aku merasa semua itu sudah bukan milikku lagi. Duniaku sudah runtuh.. dan aku--semoga kau mengerti-- sudah tidak ingin terlibat apapun denganmu..' Ucap Resna
'Sayang... kamu..' Lian terbata-bata dan menatap Rena tak percaya
'Aku hanya seorang gadis yang tersungkur di kursi roda. takkan bisa menemanimu berlatih lari lagi. takkan bisa menemanimu berenang lagi. aku tidak ingin tersiksa dengan kenyataan seperti itu. Lagipula kamu sudah lebih baik dengan adik kelasmu itu. terbukti karena kamu nggak mencariku bahkan ketika aku menghilang. kamu nggak sedikitpun ingin tau apa yang terjadi. dan kamu juga tak perlu berpura-pura peduli lagi.. Aku bukan orang yang tepat. Aku dan kamu bukan pasangan yang tepat. saat-saat kebersamaan kita bukan saat yang tepat. Kita akhiri saja..' pungkas Resna.

Lian memukul meja dengan geram.
'Apa yang dipikirkan Resna sebenarnya?' katanya
Dina memandang Lian 'Resna sedang mengalami saat-saat yang buruk, Li.. terlabih dia melihatmu merangkul Linda saat itu. kau harus mengerti apa yang mengganggu pikirannya..'
'Tapi dia memutuskanku. MEMUTUSKAN hubungan denganku. dia tidak menerima penjelasanku..'
Lian duduk dengan lemas.
'Tidak tahukah dia?' Lian merintih
'Li, bersabarlah. biarkan Resna tenang.. baru datang kembali dan jelaskan padanya.. mengetilah keadaannya..' Dina berusaha menenangkan Lian
'Tapi aku tidak punya banyak waktu Di..' kata Lian gusar.
'Apa maksudmu?' Tanya Dina tak mengerti
Lian tidak menjawab dan hanya menghela nafas sambil menerawang jauh.

Sudah berjalan 5 hari sejak Resna memutuskan hubungan dengan Lian, den keadaannya justru tidak membaik seperti harapannya.
Persidangan perceraian orangtuanya sudah terbayang didepan mata, dan Resna melewatkan malam-malamnya dengan menangisi perasaannya yang begitu dalam kepada Lian.
Hanya Lian. Dia mulai berfikir bahwa mungkin keputusannya salah, tapi dia tidak bisa membayangkan jika harus menemani Lian yang gila olahraga, padahal sekarang kedua kakinya lumpuh dan belum ada tanda-tanda akan sembuh. Resna mulai kehilangan harapan.
Tiba-tiba Bel motor tukang pos membuyarkan lamunannya.
dia melihat pak pos menyelipkan sepucuk surat di kotak surat miliknya. Resna bergegas menuju jalan dan mengambil surat tersebut. tidak ada alamat pengirimnya.
Dadanya tiba-tiba berdebar. ada sebuah firasat buruk yang tidak bisa dijelaskannya. dia merobek amplop dan segera menbaca isinya.

"Dear, Resna. Gadis berkursi roda yang slalu dihati yang mencintanya..
Begitu bunyi pembukaan suratnya. Hati Resna semakin tidak tenang.

Aku meminta maaf atas kesalah pahaman kita.
aku mencoba menjelaskan tapi kamu nggak mau mendengar kata-kataku.
Aku berusaha menemuimu tapi kamu menghindari aku terus menerus.
Aku mencoba menghubungi ponselmu tapi kau tidak pernah menerimanya.
Aku menulis ini dari rumah sakit. Aku tidak punya banyak waktu.
Tapi aku berharap masih sempat mengatakan jika saat itu aku hanya mau mengantar Linda pulang, kemudian langsung menonton pentasmu.
Aku hanya sedang menunggu buket bunga yang kupesan untukmu, itu sebabnya aku blum masuk ke studio ketika pentasmu mulai. bahkan ketika pentasnya berakhir. tapi ternyata kau lebih dulu melihatku memapah Linda sebelum aku sempat menjelaskan apa yang terjadi. 
Kau tak sempat mempercayaiku.
Tapi tak apa. aku bahagia sudah menjadi milikmu. mendengar kata-kata kau mencintaiku. Aku mencintaimu. selalu.

Salam sayang,
Lian.

Resna bagaikan tersambar petir. dia segera berteriak memanggil ibunya agar mengantarnya kerumah sakit. dia menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan gusar, dan meminta agar ibunya mendorong kusi rodanya semakin cepat dan semakin cepat.
Resna tiba dikamar Lian tepat saat ibu Lian berteriak histeris meminta agar Allah mengembalikan nyawa anaknya.

Mungkin memang seperti ini, hidupku yang seharusnya. Sepi dan ditinggalkan. Bukannya berkawan dengan tawa dan tertawa bersama orang yang kucintai, atau melihat mereka tertawa karena saling mencintai.
Mungkin memang seperti ini, hidupku yang seharusnya. Ditinggalkan oleh mereka yang kucintai. Ayah, Kekasih, bahkan Dunia yang kucintai.Tapi aku mengerti bahwa seluruhnya hanya-lah kedar perpindahan tempat. tanpa meninggalkanku. 
Ayah berpindah tempat dari sisi ibu ke sisi jodohnya yang lain, tapi aku tetap anak yang dicintainya.
Lian berpindah tempat dari sisiku ke sisi pemiliknya yang abadi, tapi tetap mencintaiku.
dan aku hanya berpindah tempat dari kemampuan berdiri ke atas kursi roda.
dan hobiku menari berpindah dari yang kualunkan secara fisik menjadi kualunkan dalam hati dan pikiranku.
tak apa. inilah hidup.
Allah selalu mencintaiku..

Resna menutup bukunya, dan memejamkan mata sejenak sambil mengusap nisan pusara Lian. kemudian beranjak pergi..

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir