Seperti apa seharusnya teman itu ?
Seperti apa sih sebuah pertemanan itu dijalankan ?
Jangan anggap aku konyol bertanya seperti itu. tapi tolong renungkanlah. jika banyak orang bilang teman itu harus saling membantu dan tolong menolong dalam kebaikan, mari pikirkan lagi. kebaikan yang seperti apa?
jangan buat aku makin ragu dengan apa itu TEMAN.
beberapa bulan yang lalu, seorang teman datang meminta tolong dan aku menyanggupi. saya tau, bantuan yang kulakukan akan berdampak besar untukku sendiri. menyangkut pencitraan buruk atas diri saya sendiri. tapi karena KUPIKIR kami TEMAN, tidak masalah. karena aku temannya, dan kewajibanku membantunya. juga karena kau tidak tega membiarkanya kebingungan.
Tapi ketika semua yang direncanakan tidak berjalan mulus, bisakah seorang teman meninggalkan kita sendirian menyelesaikan masalah yang bahkan bukan wilayah kita?
bisakah seorang teman hanya datang ketika dia yang mempunyai keperluan tapi menghilang ketika situasi membahayakan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang yang tulus berkeinginan membantunya?
Sistem pertemanan macam apa ini?
Bukannya menuntut dihargai atau bagaimana. tapi paling tidak ketika anda bicara bahwa AKU TEMAN KAMU itu berarti anda telah memberikan dampak psikologis pada orang yang anda ajak bicara. secara tidak langsung, anda pasti juga MERASA BERARTI ketika seseorang mengatakan bahwa anda adalah temannya --tentu saja ini hanya berlaku pada hal kebaikan-- karena teman adalah sesuatu yang membanggakan. karena teman adalah bagian hidup yang tak bisa ditinggalkan. karena teman adalah orang yang kita sapa tiap harinya. ataukah cuma aku yang merasa begitu?
Bagaimana seharusnya kita memperlakukan seorang teman?
Banyak orang mau melakukan apa yang diminta seseorang atas dasar rasa TEMAN, tetapi tidak menyadari apakah hal yang dia lakukan benar atau salah. Aku salah satunya.
jadi,
TEMAN, apa aku salah menganggapmu teman?
apakah benar kamu temanku? atau kamu hanya sebatas orang lain yang kuketahui namanya tapi tidak kukenal?
buktikan bahwa kamu adalah TEMAN bukan raga dengan nama tapi TANPA ARTI bagi orang lain.
Sabtu, 12 November 2011
Seperti apa seharusnya teman itu?
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.33 0 comments
Labels: Artikel, Belajar Hidup, Kepedulian - Kemanusiaan
Menghapus Nepotisme. Yakin??
Salam..
ini bukan sesuatu yang diperuntukkan untuk mengkritisi suatu sistem, TAPI untuk MENGKRITISI DIRI SENDIRI.
Santai saja.. :bigsmile:
tau definisi Nepotisme?
Sederhananya Nepotisme adalah suatu tindakan memberikan sesuatu (mungkin jabatan, kesempatan, dll) kepada orang atau kelompok tertentu yg memiliki hubungan intens dengan si pemberi.
Flashback di Orde Baru, KKN --kolusi Korupsi Nepotisme-- banyak merebak di sistem pemerintahan RI.
Tapi kali ini kita tidak membahas sistem. Melainkan KEBIASAAN.
Mari kita renungkan, bisakah nepotisme dihapus ?
Nyatanya, nepotisme sudah mendarah daging dalam hidup kita.
Tidak usah jauh2. Sebagai mahasiswa, tiap masuk dalam ruangan untuk mengikuti kuliah, beberapa mahasiswa yg datang lebih awal mengklaim-kan tempat duduk untuk teman dekatnya yg belum datang.
Akibatnya, beberapa mahasiswa lain yg susah payah hanya bisa kebingungan melihat tempat duduk strategis sudah 'dipesan' teman2 lain yg belum datang.
Atau seperti ini kasusnya : Sama2 minta dipesankan tempat duduk, yg satu teman dekat kita, sedangkan yg lain belum kita kenal dgn baik, pasti yg pertama kali kita pesankan tempat duduk adalah teman dekat kita. Ini juga contoh nepotisme kan? Mengutamakan keuntungan orang yg sudah kita kenal, padahal mereka punya kesempatan yg sama.
Lalu, dalam proses perkuliahan : ketika persentasi materi, sesi tanyajawab diisi oleh pertanyaan dari teman dekat yg sengaja dipilih oleh kelompok yg bersangkutan. Lalu, saya ingat ketika seorang teman bercerita bahwa ketika dalam suatu forum ada yg bertanya tentang bagaimana menjadi aktifis organisasi mahasiswa, sang pemateri menjawab '..dengan mencari kenalan kakak tingkat.. (lupa lanjutannya)'
bukankah sudah jelas ?
Contoh lain dosen saya, lebih cenderung melihat dan menganakemaskan teman saya yg sudah beliau kenal dibanding saya, padahal saya sudah seaktif mungkin didepan beliau. Padahal saya berusaha sekeras mungkin mempersiapkan pertanyaan atau materi se-baik mungkin. Tapi tetap saja saya diabaikan. Sedangkan teman saya tidak melakukan apaapa. :( (curcol dikit)
Bahkan, baik anda akui atau tidak, anda pasti selalu mempertimbangkan aspek subjektifitas saat mengambil keputusan yg menyangkut orang lain. Cuma bedanya, anda mampu mengalahkan 'nafsu' tsb atau tidak. :)
Dan hey, anda pasti tidak sadar ketika anda menilai seseorang.
Anda PASTI akan lebih mempertimbangkan orang yg sudah anda kenal lama & sudah anda ketahui perilakunya, DARIPADA orang yg anda kenal sehari tanpa anda ketahui kemampuannya yg sebenar-benarnya.
Lalu bagaimana nasib orang yg baru anda kenal? Jika mungkin justru dia-lah yg (mungkin) lebih menginginkan dan lebih bisa melakukan sesuatu dibanding orang yg sudah lama anda kenal? Nepotisme juga kan itu?
Contoh :
ketika anda dihadapkan pilihan antara bekerjasama dengan teman dekat anda ato bekerjasama dengan teman yg belum anda kenal sebelumnya, apa yg akan ada pilih?
Hampir dapat dipastikan anda akan cenderung memilih teman dekat anda.
Memang, terlihat bahwa Nepotisme itu berkaitan erat dengan KENYAMANAN KITA.
Maka dari itu, jika ada suatu harapan menghapus nepotisme dari negara ini, mulailah menyadari hal kecil yg kita lakukan.
Kenapa kita 'takut' menilai seseorang yg baru dalam hidup kita?
Menurut saya pribadi, menghapus nepotisme itu sulit--bahkan cenderung tidak mungkin-- karna subjektifitas itu manusiawi. tapi setidaknya kita mampu meminimalisir terjadinya Nepotisme demi kenyamanan semua pihak. Betul tidak ? :)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.31 0 comments
Labels: Artikel, Belajar Hidup
Terkadang salah mengartikan 'Nikmat'
Teman, ingatkah apa yg kita katakan ketika awal pidato atau membuka sesuatu wacana lisan?
Berawal saya mencermati beberapa teman,
Lets repeat :
'..Pertama-tama marilah kita Panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yg telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya berupa nikmat keselamatan dan nikmat kesehatan..' dst.
Pertanyaan yg timbul adalah, APAKAH NIKMAT HANYA SEBATAS HAL-HAL SEMACAM ITU ?
dan otak saya secara otomatis menjawab : ABSOLUTELY NO.
Pernahkah terlintas difikiran anda,
bahwa corak baju anda yg dipuji bagus oleh orang lain itu juga NIKMAT ?
bahwa anda masuk kelas terlebih dahulu --sedangkan teman anda mungkin terlambat-- itu juga nikmat ?
Dan bahkan, ketika anda punya teman bicara yg menyenangkan itu juga NIKMAT?
Bukankah anda sudah bisa berfikir lebih cepat dibanding teman anda itu juga nikmat?
Orang lain belum tentu mendapatkan itu semua kan?
masalahnya adalah, betapa hal2 yg sangat sederhana ini-lah yg tanpa sengaja kita abaikan. Dan bahkan, kita lupa untuk mengucapkan terimakasih. Dan yg lebih parah, kita sibuk mengkritik sedikit dari kekurangan kita yg bahkan jauh lebih sedikit dari kenikmatan kita.
DAN bukankah MASALAH serta KEKURANGAN kita juga sebuah NIKMAT ? dimana masalah dan kekurangan kita itulah yg menjadikan kita lebih dari sebelumnya.
Tanpa masalah, kita akan tetap menjadi kita ketika SD dulu.
Tanpa kekurangan, kita akan sama dengan banyak orang lain didunia ini yg mengakibatkan hidup ini monoton.
Kelebihan bisa diusahakan, tapi kekurangan kita yg tercover itulah yg menjadi ciri khas.
Jadi, katakanlah, yg mana dari nikmat Tuhanmu yg kamu dustakan ?
:)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.30 0 comments
Labels: Artikel, Belajar Hidup

