Oleh Dona Sukma Permana
Senin, 05 Juli 2010 20:38
Oleh Ermy Mulltiyarti
Mahasiswa. Tentu kita semua tahu apa pengertian dari kata – kata tersebut, Karena kita pun merupakan bagian dari kata – kata tersebut. Mahasiswa tidak dapat hanya diartikan sebagai suatu gabungan dari kata ‘Maha’ dan ‘Siswa’ tapi ‘Mahasiswa’ sebagai suatu kesatuan memiliki makna yang sangat luas. Mahasiswa bukan hanya sekedar sebutan bagi seseorang yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi tapi Mahasiswa adalah bagian sebuah proses panjang dari sesuatu yang biasa kita sebut dengan masa depan.
Apa yang kita sandang sebagai mahasiswa tidaklah ringan. Karena yang kita bawa adalah harapan dari begitu banyak manusia di Indonesia. Tentu sangatlah tidak mudah untuk dapat mewujudkan semua harapan tersebut. Tapi satu hal yang pasti bisa kita lakukan adalah belajar, karena belajar adalah suatu awal tanpa akhir. Kita akan terus belajar dan belajar untuk mendapatkan apapun yang kita inginkan termasuk masa depan yang lebih baik tidak hanya bagi diri kita sendiri tapi juga negara ini. Namun belajar dalam konteks ini tidak lantas diartikan dalam makna yang sempit sebagai seorang mahasiswa tipe ‘study oriented’ tapi belajar disini memiliki makna yang sangat luas karena dalam kehidupan sehari-hari pun kita senantiasa belajar dengan atau tanpa kita sadari. Saat kita semua terlahir kedunia ini pun kita mengalami proses yang sangat panjang, mulai dari bayi kita belajar bagaimana cara berbicara, merangkak, berjalan, hingga belajar tentang makna kehidupan. Dari kecil kita belajar membawa makna hidup yang sangat besar dari orang tua kita. Begitupun kita sebagai seorang mahasiswa, kita membawa makna dan harapan hidup dari bangsa ini. Bangsa yang tengah berjuang menghadapi banyak sekali permasalahan demi sebuah kata yaitu masa depan yang lebih baik.
Mahasiswa dengan berjuta-juta harapan yang diembannya juga merupakan seorang agen masa depan yang sangat penting. Mahasiswa berperan membawa amanat yang dititipkan banyak manusia Indonesia untuk dapat menyampaikan amanat itu dengan baik pada orang –orang yang tengah “berkuasa” di Negara ini.
Lalu muncul pertanyaan baru ‘Mengapa harus kita, seorang Mahasiswa yang harus mengemban semua itu ? Karena kita sebagai generasi muda dengan mau atau tidak mau akan menggantikan posisi orang – orang yang “berkuasa” tersebut. Karena itu kita harus mempersiapkan diri kita sebelum semua hal itu benar-benar sampai d hadapan kita. Kita harus mulai menempa kemampuan dan mental kita dari sekarang. Jangan biarkan keadaan menggerogoti jiwa kita.
Namun kenyataannya dewasa ini jauh lebih banyak mahasiswa yang “kopong” dari pada mahasiswa yang utuh. Mahasiswa kopong ini membiarkan dirinya digrogoti oleh keadaan. Wabah keadaan ini datang dalam berbagai bentuk baik rasa malas, pengaruh dunia luar ataupun sejuta alasan bodoh yang lain. Karena itu jangan sampai kita terjangkiti wabah mahasiswa ‘kopong ini’ yang terlihat secara fisik tapi kosong isinya bahkan seringkali tidak disadari keberadaannya oleh orang – orang disekitarnya. Tentu akan sangat menyedihkan. Yang seharusnya kita lakukan adalah memanfaatkan keadaan bukan dimanfaatkan oleh keadaan. Kita harus memanfaatkan keadaan kita sekarang ini di saat kita masih memiliki kesempatan untuk belajar berkontribusi dalam lingkungan dan masyarakat sekitar sebelum kita benar-benar kehabisan waktu untuk belajar.
Sekarang adalah saat yang tepat untuk membentuk karakter yang akan menjadi tolak ukur masyarakat pada kita di masa datang. Karakter ini dapat dibentuk melalui berbagai hal salah satunya dengan berorganisasi. Banyak sekali organisasi dan kegiatan di sekitar kita hanya tinggal kita yang memilih dan memutuskan karakter seperti apa yang akan kita ciptakan. Karakter ini akan menjadi stereotype untuk mengukur peran dan keberadaan mahasiswa bagi masyarakat. Seperti pada era kejatuhan orde baru. D masa itu kita bisa melihat bagaimana peran mahasiswa dalam pemerintahan. Karenanya masyarakat tidak bisa menyepelekan keberadaan mahasiswa karena mahasiswa adalah ‘agent of change’ yang merupakan tumpuan harapan masyarakat untuk masa depan Negara ini di masa depan . Kita harus bisa membuktikan keberadaan dan peranan kita bagi masyarakat dan Negara ini.
Mari Berkontribusi !!!
sumber : http://www.penilai-stan.com/index.php/component/content/article/78--mahasiswa-dan-masa-depan
Minggu, 13 November 2011
Mahasiswa dan Masa Depan
Posted by Kharissa Widya Kresna at 17.14 0 comments
Labels: Artikel, Kepedulian - Kemanusiaan
Sabtu, 12 November 2011
Perjalanan Mencari Tujuan
Sebelumnya, tolong jangan katakan saya hanya pintar TEORI atau MENGGURUI. tidak. Maksud saya bukan begitu. ini hanyalah suatu yang terfikir di otak saya. Jika anda berkenan membaca, lanjutkan saja. Tapi jika anda berfikir ini tidak ada artinya, Silahkan tinggalkan halaman ini. Karena anda tidak akan mengerti. :)
(Saturday Night, November 12th 2011)
Ketika terbungkus dalam deranya hujan dan kegelapan ruang kecil ini, saya berfikir. Seperti inikah yang saya inginkan?
Seperti inikah keadaan saya?
Bahwa saya hanya tersilap dalam kotak yang bahkan lebih kecil dari yang saya pikirkan.
Bisa dibilang pikiran saya sedang tidak rasional. Saya merasa dititik bawah hidup saya. Saya frustasi dengan apa yang ada di diri saya.
Tiba-tiba ponsel saya bergetar, dengan ringtone lagu yang cukup mengagetkan.
'..You never enjoy your life, living inside the box. You're so afraid for taking chances, how you gonna reach the top?'.
[Greyson Chance - Waiting Outside the Lines]
Saya tertegun.
Saya sendiri malah lupa kalau saya yang dengan sengaja memasang ringtone itu.
Anda tau rasanya? Seperti tertampar. Seperti dibangunkan.
Selama ini saya berfikir apa yang saya lakukan, sudah cukup untuk menyelesaikan masalah. Dan diam untuk menghindari masalah.
TAPI semua itu SALAH. masalah tidak selesai. Semuanya hanya 'pelarian' tetapi tidak mengubah apa-apa. Semua yang ingin saya tinggalkan justru mengendap semakin banyak, dan mendesak keluar semakin diluar kontrol.
Saya tidak mengerti, jujur saya merasa kesulitan.
Saya membatasi diri saya karna saya merasa hampa. Saya merasa ditarik keluar dari diri saya sendiri oleh segala deretan keadaan yang saya alami.
DAN sekarang saya tau saya HARUS BANGKIT.
saya harus bisa menyeret mereka dari posisi saya, dan menempatinya kembali.
Ini mungkin suatu teori, dan pasti akan banyak kendala. Tapi benar apa kata sahabat saya malam ini,
bahwa semua ini pasti bagian dari perjalanan hidup.
Sudah cukup saya berdiam diri dan membiarkan masalah men-damage diri saya.
Sudah cukup pula saya menghancurkan diri saya sendiri
SAYA AKAN BERJUANG.
Saya mungkin sedang berjalan tanpa arah, tapi saya sedang berjuang menentukannya.
Saya mungkin sedang berjalan tanpa tau arti perjalanan saya,
tapi saya sedang berjuang menemukannya.
Saya tau, jalan diluar sana akan jauh lebih terjal dan menyakitkan. Dan mungkin berdampak jauh lebih dalam dari yang saya alami sekarang, namun saya harus memulai berjalan atau mereka akan menang tanpa perlawanan.
Hidup itu berjalan, proses itu berjalan, dan masalah serta keadaan akan terus berkembang. Jadi, apa kita akan diam saja tanpa ingin berjalan?
BEGINNING IS ALWAYS DIFFICULT, BUT ITS NOT IMPOSIBBLE.
Saya juga tau bahwa perjuangan ini mungkin tidak akan pernah benar-benar berakhir. Tapi percayalah, tidak ada salahnya mencoba.
Saya mencoba. Bagaimana dengan anda?
Semangat untuk kita!
Posted by Kharissa Widya Kresna at 20.30 0 comments
Labels: Artikel, Belajar Hidup
Seperti apa seharusnya teman itu?
Seperti apa seharusnya teman itu ?
Seperti apa sih sebuah pertemanan itu dijalankan ?
Jangan anggap aku konyol bertanya seperti itu. tapi tolong renungkanlah. jika banyak orang bilang teman itu harus saling membantu dan tolong menolong dalam kebaikan, mari pikirkan lagi. kebaikan yang seperti apa?
jangan buat aku makin ragu dengan apa itu TEMAN.
beberapa bulan yang lalu, seorang teman datang meminta tolong dan aku menyanggupi. saya tau, bantuan yang kulakukan akan berdampak besar untukku sendiri. menyangkut pencitraan buruk atas diri saya sendiri. tapi karena KUPIKIR kami TEMAN, tidak masalah. karena aku temannya, dan kewajibanku membantunya. juga karena kau tidak tega membiarkanya kebingungan.
Tapi ketika semua yang direncanakan tidak berjalan mulus, bisakah seorang teman meninggalkan kita sendirian menyelesaikan masalah yang bahkan bukan wilayah kita?
bisakah seorang teman hanya datang ketika dia yang mempunyai keperluan tapi menghilang ketika situasi membahayakan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang yang tulus berkeinginan membantunya?
Sistem pertemanan macam apa ini?
Bukannya menuntut dihargai atau bagaimana. tapi paling tidak ketika anda bicara bahwa AKU TEMAN KAMU itu berarti anda telah memberikan dampak psikologis pada orang yang anda ajak bicara. secara tidak langsung, anda pasti juga MERASA BERARTI ketika seseorang mengatakan bahwa anda adalah temannya --tentu saja ini hanya berlaku pada hal kebaikan-- karena teman adalah sesuatu yang membanggakan. karena teman adalah bagian hidup yang tak bisa ditinggalkan. karena teman adalah orang yang kita sapa tiap harinya. ataukah cuma aku yang merasa begitu?
Bagaimana seharusnya kita memperlakukan seorang teman?
Banyak orang mau melakukan apa yang diminta seseorang atas dasar rasa TEMAN, tetapi tidak menyadari apakah hal yang dia lakukan benar atau salah. Aku salah satunya.
jadi,
TEMAN, apa aku salah menganggapmu teman?
apakah benar kamu temanku? atau kamu hanya sebatas orang lain yang kuketahui namanya tapi tidak kukenal?
buktikan bahwa kamu adalah TEMAN bukan raga dengan nama tapi TANPA ARTI bagi orang lain.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.33 0 comments
Labels: Artikel, Belajar Hidup, Kepedulian - Kemanusiaan
Menghapus Nepotisme. Yakin??
Salam..
ini bukan sesuatu yang diperuntukkan untuk mengkritisi suatu sistem, TAPI untuk MENGKRITISI DIRI SENDIRI.
Santai saja.. :bigsmile:
tau definisi Nepotisme?
Sederhananya Nepotisme adalah suatu tindakan memberikan sesuatu (mungkin jabatan, kesempatan, dll) kepada orang atau kelompok tertentu yg memiliki hubungan intens dengan si pemberi.
Flashback di Orde Baru, KKN --kolusi Korupsi Nepotisme-- banyak merebak di sistem pemerintahan RI.
Tapi kali ini kita tidak membahas sistem. Melainkan KEBIASAAN.
Mari kita renungkan, bisakah nepotisme dihapus ?
Nyatanya, nepotisme sudah mendarah daging dalam hidup kita.
Tidak usah jauh2. Sebagai mahasiswa, tiap masuk dalam ruangan untuk mengikuti kuliah, beberapa mahasiswa yg datang lebih awal mengklaim-kan tempat duduk untuk teman dekatnya yg belum datang.
Akibatnya, beberapa mahasiswa lain yg susah payah hanya bisa kebingungan melihat tempat duduk strategis sudah 'dipesan' teman2 lain yg belum datang.
Atau seperti ini kasusnya : Sama2 minta dipesankan tempat duduk, yg satu teman dekat kita, sedangkan yg lain belum kita kenal dgn baik, pasti yg pertama kali kita pesankan tempat duduk adalah teman dekat kita. Ini juga contoh nepotisme kan? Mengutamakan keuntungan orang yg sudah kita kenal, padahal mereka punya kesempatan yg sama.
Lalu, dalam proses perkuliahan : ketika persentasi materi, sesi tanyajawab diisi oleh pertanyaan dari teman dekat yg sengaja dipilih oleh kelompok yg bersangkutan. Lalu, saya ingat ketika seorang teman bercerita bahwa ketika dalam suatu forum ada yg bertanya tentang bagaimana menjadi aktifis organisasi mahasiswa, sang pemateri menjawab '..dengan mencari kenalan kakak tingkat.. (lupa lanjutannya)'
bukankah sudah jelas ?
Contoh lain dosen saya, lebih cenderung melihat dan menganakemaskan teman saya yg sudah beliau kenal dibanding saya, padahal saya sudah seaktif mungkin didepan beliau. Padahal saya berusaha sekeras mungkin mempersiapkan pertanyaan atau materi se-baik mungkin. Tapi tetap saja saya diabaikan. Sedangkan teman saya tidak melakukan apaapa. :( (curcol dikit)
Bahkan, baik anda akui atau tidak, anda pasti selalu mempertimbangkan aspek subjektifitas saat mengambil keputusan yg menyangkut orang lain. Cuma bedanya, anda mampu mengalahkan 'nafsu' tsb atau tidak. :)
Dan hey, anda pasti tidak sadar ketika anda menilai seseorang.
Anda PASTI akan lebih mempertimbangkan orang yg sudah anda kenal lama & sudah anda ketahui perilakunya, DARIPADA orang yg anda kenal sehari tanpa anda ketahui kemampuannya yg sebenar-benarnya.
Lalu bagaimana nasib orang yg baru anda kenal? Jika mungkin justru dia-lah yg (mungkin) lebih menginginkan dan lebih bisa melakukan sesuatu dibanding orang yg sudah lama anda kenal? Nepotisme juga kan itu?
Contoh :
ketika anda dihadapkan pilihan antara bekerjasama dengan teman dekat anda ato bekerjasama dengan teman yg belum anda kenal sebelumnya, apa yg akan ada pilih?
Hampir dapat dipastikan anda akan cenderung memilih teman dekat anda.
Memang, terlihat bahwa Nepotisme itu berkaitan erat dengan KENYAMANAN KITA.
Maka dari itu, jika ada suatu harapan menghapus nepotisme dari negara ini, mulailah menyadari hal kecil yg kita lakukan.
Kenapa kita 'takut' menilai seseorang yg baru dalam hidup kita?
Menurut saya pribadi, menghapus nepotisme itu sulit--bahkan cenderung tidak mungkin-- karna subjektifitas itu manusiawi. tapi setidaknya kita mampu meminimalisir terjadinya Nepotisme demi kenyamanan semua pihak. Betul tidak ? :)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.31 0 comments
Labels: Artikel, Belajar Hidup
Terkadang salah mengartikan 'Nikmat'
Teman, ingatkah apa yg kita katakan ketika awal pidato atau membuka sesuatu wacana lisan?
Berawal saya mencermati beberapa teman,
Lets repeat :
'..Pertama-tama marilah kita Panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yg telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya berupa nikmat keselamatan dan nikmat kesehatan..' dst.
Pertanyaan yg timbul adalah, APAKAH NIKMAT HANYA SEBATAS HAL-HAL SEMACAM ITU ?
dan otak saya secara otomatis menjawab : ABSOLUTELY NO.
Pernahkah terlintas difikiran anda,
bahwa corak baju anda yg dipuji bagus oleh orang lain itu juga NIKMAT ?
bahwa anda masuk kelas terlebih dahulu --sedangkan teman anda mungkin terlambat-- itu juga nikmat ?
Dan bahkan, ketika anda punya teman bicara yg menyenangkan itu juga NIKMAT?
Bukankah anda sudah bisa berfikir lebih cepat dibanding teman anda itu juga nikmat?
Orang lain belum tentu mendapatkan itu semua kan?
masalahnya adalah, betapa hal2 yg sangat sederhana ini-lah yg tanpa sengaja kita abaikan. Dan bahkan, kita lupa untuk mengucapkan terimakasih. Dan yg lebih parah, kita sibuk mengkritik sedikit dari kekurangan kita yg bahkan jauh lebih sedikit dari kenikmatan kita.
DAN bukankah MASALAH serta KEKURANGAN kita juga sebuah NIKMAT ? dimana masalah dan kekurangan kita itulah yg menjadikan kita lebih dari sebelumnya.
Tanpa masalah, kita akan tetap menjadi kita ketika SD dulu.
Tanpa kekurangan, kita akan sama dengan banyak orang lain didunia ini yg mengakibatkan hidup ini monoton.
Kelebihan bisa diusahakan, tapi kekurangan kita yg tercover itulah yg menjadi ciri khas.
Jadi, katakanlah, yg mana dari nikmat Tuhanmu yg kamu dustakan ?
:)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 00.30 0 comments
Labels: Artikel, Belajar Hidup

