Temaram senja, mengadu deru yang menerbangkan tiap butiran kristal pasir ini.
Dalam gelap aku berharap kelak akan tiba pula pada masa yang aku butuhkan. Masa dimana aku tak kan lagi menutup mata ketika memandang sepasang mata yang begitu mengagumkan.
Mungkin kau takkan tersenyum didepanku. Mungkin juga kau akan berlalu begitu saja. Mungkin juga kau akan menganggapku tak ada.
Tak apa. Aku sudah memikirkan tiap kemungkinan yang akan terjadi.
Aku sudah siap.
Hanya saja begitu lelah rasanya berdiri disini memandang gemerlap rumahmu hari ini.
Ini gurun. percayalah ini gurun. Gurun yang bahkan aku tak tau seberapa luasnya, atau berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mengarungi samudera pasir ini.
Temaram senja, mengadu deru yang menerbangkan bias-bias harapan masa ini.
Betapa tidak? bukankah seharusnya aku yang berdiri disana? memandang bahagia ke arah teman-teman yang menyaksikan perjuangan kita, hingga penghabisan luka yang harusnya terjadi hari ini. Masih ingatkah kau tentang tiap angan yang kita lukis bersama? tentang warna-warni indah dunia kita.
Temaram senja, mengadu deru yang menerbangkan secercah sinar kebenaran.
Aku terjebak dalam kabut, kalau kau tau. memandangmu dari sini tak akan cukup untuk seseorang yang menyayangimu.
Ya. Aku menyayangimu. Lalu apa? Sudahlah. Berdirilah. Berjalanlah. dan aku juga akan berjalan. Tapi aku ingin kau mengetahui satu hal,
bahwa aku sudah sangat beruntung sudah menjadi orang yang tau dirimu.
bahwa aku sudah sangat beruntung sudah mampu menemanimu, walau dari sudut terjauh hidupmu..
Temaram senja, mengadu deru yang menerbangkan titik-titik airmata ini.
Aku ini siapa? dari awal selalu kupikirkan tentang itu. Maafkan aku, aku yang membiarkanmu masuk kedalamku. Jadi kupikir memang benar sikapmu jika kau tak memandangku. Bagaimana bisa? Kau sudah berada dalam oase gurun ini. sedangkan aku adalah angin panas yang mematikan. Dan aku sepenuhnya sadar, hanya orang bodoh yang mau melepas oase hanya untuk mati bersamaku.
Dan aku tau kau tidak bodoh.
kau tidak cukup bodoh untuk memilih bersamaku.
Temaram senja, mengadu deru yang meniupkan angin kering disini.
Ini mataku, kau tau? gurun ini mataku. Mungkin jika orang lain yang merasakan ini dia sudah akan menangis tersedu-sedu.
Aku juga. Percayalah aku juga. Tapi tidak. Sudah kubilang gurun ini mataku. Kalahari yang kering ini mataku. airmata yang kubutuhkan tak pernah bisa kukeluarkan lagi. Semakin lama justru semakin menyiksa.
Dan tiap angin yang menghembus semakin membawa keringnya udara di sekitarku.
Semakin kering, semakin membakar habis, semakin memandang penuh harap pada hujan.
Aku tidak tau apa tujuanku mengirim ini padamu. Tolong ajari aku untuk ikhlas menjalani semua ini. Tolong ajari aku untuk tidak terus-terusan bertanya mengapa atau kenapa.
Temaram senja, mengadu deru yang menggersangkan air yang kubawa berlari.
Aku ini apa? aku hanya bisa membawa genggam air dalam mangkok tanganku, dan kering sebelum aku sampai. Tolonglah.. aku hanya butuh air untuk melanjutkan perjalanan. Aku hanya butuh menangis sebentar..
Tolonglah..
Selasa, 31 Januari 2012
Kalahari di Mataku Saat ini (Sepucuk Surat Penghabisan Kisah)
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.42 0 comments
Labels: Tulisan Bebas
GALAU itu sama sekali NGGAK KEREN
sekacau itu dalam jangka waktu yang berkepanjangan?
- Pikirkan hal-hal yang konkrit (rasional) saja. Sebaiknya hindari memikirkan hal-hal yang hanya ada dalam angan (ilusi).Kembangkan pandangan positif dalam diri. Barpandangan positif berarti memandang segala sesuatu dari segi yang baik, segi yang menggembirakan dan menyenangkan hati.Hindari pandangan negatif dengan cara membuang jauh-jauh pransangka buruk, perasaan cemas, rasa khawatir dan rasa curiga. Jika perasaan negatif tersebut muncul segeralah lupakan dan alihkan perhatian kepada hal-hal yang menyenangkan.
- Usahakan jangan terlalu banyak waktu kosong diluar waktu istirahat. Isilah waktu kosong diluar waktu istirahat. Isilah kesibukan dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, seperti bercanda, membaca, memasak, jalan-jalan, bersepeda santai, berkebun atau membuat ketrampilan.
- Yakini bahwa setiap masalah merupakan ujian dari Tuhan YME untuk menguji kesabaran kita. Jika kita mampu melewatinya, niscaya kita akan menjadi makhluk yang lebih baik lagi.Setiap masalah merupakan tahap menuju kedewasaan. Yakinkan hal ini pada hati kita. Asumsikan bahwa masalah yang melanda kita akan menjadikan kita lebih dewasa dan bijak dalam menjalani hidup. Ingat, “Kedewasaan bukan diukur dari usia kita, tapi dari cara kita menyikapi kehidupan dan masalah kita. Suatu masalah tidak akan selesai jika kita hanya meratapinya.
- Butuh suatu tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah meskipun terkadang butuh waktu yang tak singkat. Talk less, do more
- Jadikan orang tua sebagai tempat pertama untuk mengeluh. Minta pendapat mereka tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah yang kita alami. Orang tua kita telah mengalami berbagai fase kehidupan, dan tentunya keputusan yang mereka ambil akan lebih bijak dari apa yang kita pikirkan
- Dekatkan diri dengan Tuhan. Hal ini akan membuat kita merasa tenang. Perlahan kita akan menyadari bahwa kita tak sepantasnya membuang waktu di dunia hanya untuk sesuatu yang useless, seperti galau ini
- Cari kisah nyata tentang oran orang hebat yang dapat melewati tantangan yang ia alami. Dengan membaca, melihat atau mendengar kisah-kisah tersebut, kita akan termotivasi untuk melewati masalah dengan baik tanpa harus bersedih
- Uraikan apa yang kita rasa ke dalam sebuah tulisan, lagu, drama dsb. Hal ini akan mengurangi rasa galau yang kita alami. Kita dapat menyalurkan bakat kita sekaligus mencurahkan isi hati kita
- Pergilah ke tempat yang disukai, yang dapat memberikan ketenangan, kebahagiaan dan menghilangkan beban pikiran untuk sementara waktu. Selain itu lakukan hal-hal yang disukai. Hal ini akan memicu kita untuk melupakan masalah yang terjadi
Posted by Kharissa Widya Kresna at 15.36 0 comments
Labels: Tulisan Bebas
Kamis, 19 Januari 2012
Sebuah Rangkaian Paragraf Deskripsi, Episode Sederhana dari Hidup
Dalam beberapa saat tirai rintikan hujan melambungkan lamunanku.. kembali dalam masa-masa dimana aku tejebak dalam lingkaran pekat sendiri. Mencoba melawan yang terkuat, mencoba memutar yang sudah kaku. Rasanya semua jalan sudah tertutup dan aku tidak tau harus bagaimana atau melakukan apa. Semuanya terasa sudah telanjur kacau dan tidak bisa kuperbaiki. Aku bahkan merasa orangtuaku-pun tak pernah peduli padaku.
Aku mengeluh pada Tuhan. Menyalahkan orang-orang disekitarku, menyalahkan keadaan. Menyalahkan semua kecuali diriku sendiri atas apa yang terjadi padaku. Atas segala permasalahan dan keterbatasan yang kuterima. Rintikan hujan ini mengantarkan air mengalir dari sudut mataku.
Dari pandangan yang kabur karena bias airmata aku melihat sesuatu. Di Jalan setapak yang berada tepat di depan tempatku terduduk ini kulihat seorang wanita tujuhpuluhan tahun, raambut yang memutih, tanggannya kecil dan kurus tapi memperlihatkan ketegasan otot-ototnya. Menunjukkan adanya kekuatan dan ketegaran. Menunjukkan bahwa ketuaannya hanyalah sekedar mengerutnya kulit tubuhnya. Dia melangkah perlahan, terseok-seok sambil menggendong kayu bakar, sedang tangan kanannya membawa kantung plastic hitam dan dirigen kecil berisi minyak tanah. Aku tersentak. Sejenak egoku mengalami dera. Aku benci lamunanku terusik. Tapi melihat wanita itu… tidak. Aku tidak tega.
Tanpa sadar aku berlari menghampirinya. Masih dalam naungan tetesan hujan. Aku meraih kantung plastik dan dirigen yang dibawanya, sambil berusaha membantu menegakkan keseimbangannya.
Dan dia tersenyum, senyum itu sederhana tapi tulus.. sangat tulus.. hingga raut muka-nya yang sudah mulai keriput itu memancarkan kecantikan yang melebihi gadis remaja. Aku hanya bisa membalas tersenyum, tapi aku tau senyumku tak lebih indah dari senyumnya.
‘maturnuwun ya mbak.. mboten usah repot-repot. Kok ndadak udan-udanan niki lho.. mpun biasa kok.'
itu kalimat pertama yang dia ucapkan.
Dan mendadak rintikan hujan ini terasa seperti hujanan petir. Jadi selama ini beliau sudah sering kerepotan seperti ini? Sedangkan aku hanya sekali ini membantunya, dan itu-pun aku sempat tidak mau hanya karena lamunanku buyar?
Dalam membantunya menapaki jalan tahan yang becek dan berlumpur itu, aku mengumpat diriku sendiri. Aku merasakan tangannya menggandeng tangan kiriku, pegangan lembut tapi tulus..
Tepat diujung jalan yang kulalui ini mulai terlihat rumah itu. Rumah sederhana dari papan kayu dan triplek yang ditempelkan asal-asalan. Asal tak ada angina yang merembes masuk. Tapi ternyata gerimis kali ini terlalu kejam. Angin merembes masuk membawa butiran butiran air membasahi lantai tanahya, membuat udara dalam rumah ini terasa begitu dingin.
‘mpun mbak, njenengan paringke nginggil meja niku mawon’ kata wanita itu sambil berjalan kedapurnya.
‘mbak, moten usah ngalamun lho..’ teriaknya dari balik bilik
Aku tersentak. Malu karena ketahuan melamun.
‘inggih mbah..’ hanya itu yang keluar dari mulutku.
Kemudian kulihat dia keluar dari dapur sambil membawa ubi rebus.
‘mangga mbak, nyuwun sewu lho nggih.. namung niki wontene. Lha nggih pripun, namung piyambakan ing mriki. Matur nuwun sanget wau sampun ditulungi lho..’
‘mboten napa-napa mbah. Namung ngaten kemawon kok. Mboten usah dipun dadosaken penggalih.’ Aku tersenyum.
‘njenengan niku, njenengan dereng ngraosaken rasane urip piyambakan. Mboten wonten ingkang diajak ngomong, mboten wonten ingkan diajaik sambat. Napa malih urip namung nggantungaken ing dodolan krupuk sambel kados ngaten niki. Nanging kitha rak nggih mboten pareng ngresula nggih mbak, napa malih kok dugi nyalahaken ingkang maha Kuwaos karana keadaanipun kitha. Lha ingkang salah rak nggih kitha piyambak nggih mbak, sampun diparingi kathah nanging tansah maruk kemawon. kirang syukure. mila Gusti Allah paring cobaan kangge kitha supadhos kitha tansah eling. Lha kula niku riyin gadhah lare kalih nanging kula mboten pinter ingkang ngasuh. Dadose nggih pada mboten saged ngraosaken kesele wong tuwa. Sakniki pada mboten pinter kalih wong tuwa. kula mboten wonten ingkang ngrawati. Nanging kula tampi mbak, niki pangemut kangge kula menawa riyin kula mboten tanggungjawab ndidik lare-lere kula.’
Wanita itu menghapus airmatanya.. aku merasakan ada air hangat yang menetes ke pipiku, meluncur turun hingga membasahi leherku. Dia melanjutkan perkataannya,
‘mila nggih mbak, njenengan kudu pinter kalih bapak ibu. Ampun ngresula menawi bapak ibu mboten saged nuruti pengenipun penjenengan. Ampun nyalahaken. Napa malih kok dugi muring kaliyan bapak ibu. Ingkang maha kuwaos sampu maringi njenengan bapak ibu ingkang paling sae lho.. lha rak buktine sakniki panjenengan mboten kirang napa-napa. Pak Wibi lan mbak Tutik inggih sampun kathah ngrewangi kula. Lah rak sakniki putrane ingkang ngrewangi kula. Bapak ibuk panjenengan sampun kasil ndidik panjenengan mbak..’
Aku tersenyum. Menghapus airmata dan menegakkan kepalaku yang sedari tadi tertunduk. Aku berharap aku bisa keluar dari rumah itu sekarang. Sudah terlau banyak yang kudapat. Sudah terlalu banyak aku disadarkan. Aku berdiri, mengucapkan terimakasih lalu berpamitan.
Diluar hujan sudah berhenti, mentari sudah bersinar lagi. Aku melangkah ringan sampil tersenyum. Allah sudah menyadarkan aku melalui hal yang sangat sederhana. Sangat sederhana. Tapi menyelamatkan hidupku dari murka-Nya. Dengan cara yang sangat manis.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 07.51 0 comments
Labels: Tulisan Bebas

