Mungkin aku hanya harus mencoba berhenti. Sekuat apa-pun aku menginginkan untuk terus mendaki.
Namun puncakmu berada dalam sebuah ketinggian yang tak terdefinisi.
Mungkin aku hanya harus mencoba mencapai perbatasan. Sekuat apa-pun aku menginginkan untuk terus melanjutkan perjalanan
Namun tempatmu berada dalam sebuah jarak yang tidak bisa terukur pasti dalam satuan yang kugunakan.
Tahukah kau aku mulai putus asa?
Tentu saja aku sering memimpikan untuk kembali berjalan menuju sesuatu, tapi aku tak pernah sedikitpun mengira jika sekarang ini aku hanya ingin mencapaimu.
Tentu saja aku sering memimpikan melukis kembali pelangi dilangitku, tapi aku tak pernah sedikitpun mengira jika sekarang ini aku ingin men-cat-nya menggunakan warnamu.
Terkadang, kita memang berbatas pada daya meski jiwa masih ingin melakukannya.
Dan dayaku tiba dalam batasnya : Hatimu.
Hatimu yang terpaku pada hati selainku.
Padahal aku benci sekali menunggu dan berdiam diri. Itu terlalu menguras energi.
Dia…
Yang slalu kuingat
Takkan pernah hilang
Dari relung jiwa
Mengapa…
Tak pernah dia sadari
Getar rasa di hati
Yang kurasa kini..
Takkan ku bina semua
Rasa cinta ku padanya
Walau apa yang kurasa
Cukup pedih dan membara
Takkan ku paksa dirinya
'tuk memberikan cintanya
Karna ku tau dia takkan bisa
Tinggalkan cintanya...
(Takkan - Ten2Five)
Jika sampai hari ini kamu bertanya-tanya kenapa aku masih saja memandangmu meski kamu tak pernah sedikitpun melirikku,
You live my life, then you'll know what I feel.
Minggu, 21 April 2013
I haven't Write this Before.
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.28 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
Aku tidak (ingin) Bisa Hidup Tanpamu
.Because these days aren’t easy Like they have been once before These days aren’t easy anymore..
Mungkin, ketika seseorang berkata 'aku tidak bisa hidup tanpamu.' kita tidak bisa langsung percaya. Itu bukan berarti dia benar-benar akan mati tanpamu. Tapi bukan berarti juga dia mencoba berbohong.
Mereka mungkin hanya akan kehilangan sepenggal bagian dari hidup mereka.
Dan itu membuat hidup mereka tak akan selengkap sebelumnya.
Manusia diciptakan untuk tidak bisa hidup tanpa orang lain,
namun bukan berarti hidup matinya bergantung pada kehadiran seseorang. Tidak.
Sepahit dan sebesar apapun kita kehilangan seseorang dalam hidup kita, kita masih harus tetap hidup untuk menghargai kehadirannya yang pernah menjadi sesuatu yang kita sentuh keberadaannya.
Salah satu dari kita pasti pernah kehilangan. Ataupun setidaknya akan kehilangan.
Kalau aku, sebagaimana kau tahu, aku tidak bisa hidup tanpamu setelah kamu memutuskan untuk tidak lagi bertahan disampingku.
Tapi aku masih hidup.
Hanya saja setelah itu terasa ada yang berbeda, dan perbedaan itu semakin mendesak dari hari ke hari.
Aku masih bisa melakukan semuanya tanpamu.
Aku masih bisa tertawa, aku masih bisa menangis,
aku masih bisa berlari atau diam tak bergerak. semuanya aku bisa.
Hanya saja sebagian diriku mengingkanmu mengutuhkan kembali yang kulakukan selama ini.
Aku ingin kau disana ketika aku tertawa. Aku ingin menjumpaimu ketika aku meneteskan air mata. Aku ingin membawamu ketika aku bergerak. Dan aku ingin berdiam disampingmu ketika lelah.
Aku ingin semuanya kulakukan bersamamu.
Setidaknya ketika kamu disini, aku tenang.
Aku merasa ada sumber energi yang tak-kan habis untuk berjalan bertahun-tahun.
Aku merasa ada kasur empuk yang akan menopangku ketika aku terjatuh.
Aku merasa ada akar kokoh yang aku bisa bersembunyi dibawahnya ketika ketakutan.
Aku merasa ada kanopi dedaunan rindang yang melindungiku dari sengatan matahari.
Aku merasa ada tempat yang kutuju ketika aku tidak tahu dengan pasti arah jalan.
Aku merasa ada senyum yang kujadikan alasan kenapa aku melakukan sesuatu.
Sekarang siapa yang akan melakukannya?
Hari-hari setelah namamu terabadikan dalam patok kayu terasa lebih lama dari biasanya.
Tak ada lagi yang kusapa ketika aku membuka telepon selular, merasakan senyummu mengembang diantara sela-sela ceritaku hari ini.
Why do you do this to me? Why do you do this so easily?
You make it hard to smile because You make it hard to breathe.. Why do you do this to me?
10032013
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.27 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
Sudah Biasa
Aku sudah biasa.
Aku sudah biasa menahan diri untuk beringsut pelan-pelan tanpa sepengetahuan orang lain.
Aku sudah biasa menahan diri untuk tidak menunjukkan ekspresi apa-pun ketika namamu disebut orang lain.
Aku sudah biasa.
Aku sudah biasa menahan diri untuk tidak tenggelam dalam matamu ketika kamu lekat-lekat menatapku.
Aku sudah biasa menahan diri untuk tetap bergeming bahkan ketika kamu menanyakan seberapa pekat perasaanku.
Aku sudah biasa.
Aku sudah biasa menahan diri untuk tidak membiarkan seseorang dengan mudah menyentuh hatiku.
Aku sudah biasa menahan diri untuk bisa berdiri sedekat mungkin denganmu tapi mengambil jarak terjauh dengan hatimu.
Aku sudah biasa.
Maka kamu tak perlu khawatir akan perasaanku.
Aku sudah biasa menawarkan getir sendirian dalam gilas waktu.
Dan sekarang itu semua berguna.
Aku bisa tetap tegak menatapmu mengejarnya, dan Aku tak lagi merasakan apa-apa.
Aku bisa tertawa, sedang kau masih terus bertanya-tanya kenapa aku bisa berlaku seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Tidakkah kau menyesalinya?
11032013
Posted by Kharissa Widya Kresna at 23.26 0 comments
Labels: Belajar Hidup, Prosa, Tulisan Bebas
