Selasa, 10 Januari 2012

Seminar Lomba Gagasan Tulis Ilmiah (LGTI) Se-Jawa Himpunan Mahasiswa PGSD FIP UNNES, Salah Satu Pergerakan Mahasiswa Dalam Menyukseskan Pendidikan Karakter

Sabtu (7/1 2011) bertempat di Kampus Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FIP Universitas Negeri Semarang (UNNES) Himpunan Mahasiswa PGSD FIP UNNES menggelar Seminar Lomba Gagasan Tulis Ilmiah (LGTI) Se-jawa setelah mengadakan Lomba Gagasan Tulis Ilmiah Se-Jawa untuk pertama kalinya. LGTI ini diikuti oleh berbagai Universitas di seluruh Jawa, antara lain UNTIRTA, UNJ, IKIP PGRI Semarang, IKIP PGRI Jogja, Polines, UMK, UNY, UNEJ, UGM, UNIBRAW, IKIP PGRI Madiun, dan Sang Tuan Rumah, UNNES.

Ketua Jurusan PGSD, Dra.Hartati, M.Pd mengatakan Seminar yang merupakan tindak lanjut dari Lomba Gagasan Tulis Ilmiah (LGTI) yang dimulai sejak Akhir November 2011 ini merupakan pergerakan kebangkitan mahasiswa untuk melakukan pembangunan nasional, terutama dibidang pendidikan karakter bangsa sehingga pada akhirnya mampu membangun kembali peradaban moral generasi penerus bangsa. Lebih lanjut, banyak pihak berharap LGTI yang merupakan agenda terakhir HIMA kepengurusan 2011 ini dapat menjadi stimulus kepada mahasiswa untuk produktif dalam menelurkan ide-ide baru dalam kancah karya ilmiah.

Seminar LGTI ini disambut oleh antusiasme yang hangat dari mahasiswa. Terbukti dari jumlah total peserta seminar sebanyak 142 yang telah mengalami penambahan kuota dari total peserta awal yang hanya 100 peserta. Seminar yang dirancang dalam format persentasi dari 10 karya Gagasan tulis yang telah berhasil menyisihkan 70 gagasan yang telah masuk ke Panitia untuk kemudian diseleksi menjadi 3 gagasan yang terbaik. Para finalis memperebutkan hadiah berupa trophy, sertifikat, serta uang pembinaan sebesar Rp. 1.000.000,00 untuk juara pertama, trophy, sertifikat dan uang pembinaan sebesar Rp. 600.000,00 untuk juara kedua, serta trophy, sertifikat dan uang pembinaan sebesar Rp. 400.000,00 untuk juara ketiga.

Ke-sepuluh finalis 10 besar LGTI ini terdiri dari 5 gagasan tulis dari mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES), 2 gagasan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 1 gagasan dari IKIP PGDRI Madiun, 1 gagasan dari dari IKIP PGRI Semarang, dan 1 gagasan dari Universitas Brawijaya.

Untuk menyeleksi kesepuluh karya tersebut, HIMA PGSD menghadirkan tiga juri dari Universitas Negeri Semarang yang telah diakui mampu dalam bidang keilmiahan. Juri tersebut adalah Arif Widagdo S,Pd, Drs. Wardi M.Pd, serta Farid Ahmadi S,Kom, M.Kom.

Dalam penilaian juri, terpilih Pagelaran Wayang panas sebagai Inovasi Pengembangan Media Pendidikan Karakter Pada Siswa di Sekolah Dasar (Agustin Anggriyani) sebagai pemenang pertama, Internalisasi "4 propectic character" Sebagai Nilai Luhur dan Dasar Perilaku Berkarakter melalaui Permainan Tradisional Modifikasi pada Anak Usia Dini Sekolah Dasar: Stategi Mikro Program Pendidikan Karakter Untuk Menyukseskan Gerakan Aksi Nasional Pendidikan Karakter 2010-2015 (Vebby Astri Rizkilia UNIBRAW) sebagai pemenang kedua, dan Cheerdio ( Cheerfull Radio ) Sebagai Pembersih Polusi Karakter pada Anak-Anak Usia Dasar (Desty Putri Hanifah UNNES) sebagai pemenang ketiga.

“Karya ini merupakan sebuah ide inovasi pendidikan karakter yang brillian dan bebas plagiarisme dalam masyarakat. karya ini sederhana namun apabila terlaksana akan menjadi media pendidikan karakter yang luar biasa. Bisa dipatenkan menjadi hak kekayaan intelektual” Ujar Arif Widagdo disela-sela penjurian. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya mahasiswa-mahasiwa yang mengikuti lomba LGTI ini khususnya telah memiliki capabilitas yang mampu membawa Indonesia kearah yang lebih baik.

Sepucuk Surat Lain, dari Rumput pada Ilalang


Menemuimu di lengkung pelangi, Ilalang..

Aku tak ingin bertanya kabar, walaupun aku memang sangat ingin mengetahui kabarmu.

Aku tak ingin bertanya kabar, walau aku memang sangat ingin mengetahui keadaanmu.



Aku juga tak ingin bertanya kenapa kau tak lagi menyapa padang tempat kita beradu bersama lembutnya angin dan basahnya hujan.

Aku juga tak ingin bertanya kenapa kau tak lagi menari gemulai memamerkan ketegasan bilah-bilah daunmu.

Aku menulis ini dalam jarak yang sangat jauh.

padahal kita hanya terpisah sekian puluh meter saja.

jauhnya jarak ini bukan dalam arti yang sebenarnya, jika kau tau.

aku menulis jarak tentang hati kita.



Dulu aku selalu berbisik pada diriku sendiri,

untuk tidak memperdulikan ilalang lain ketika kita dalam kerenggangan. karena aku percaya badai akan segera berlalu. aku percaya mentari akan segera terbit.



tapi dalam hari yang terus menerus hujan ini, kusadari bahwa ilalang-ku berubah. dia telah jauh berubah.

aku menyadari aku mulai kehilangan ilalang-ku pada awal aku meraih pelangi dunia baruku, disini.

ilalang-ku mulai jarang menari dalam angin yang sama denganku, hingga kemudian dia benar-benar berhenti menari bersamaku.

Aku terluka. Aku hanya rumput yang memujamu. Aku hanya rumput yang mengagumi buai gagah ilalang-ku.

Aku hanya ingin bertanya dalam tulisan ini. Kenapa kau, ilalang sepertimu membuatku terjatuh dalam hempasan

harap palsu?

Kenapa kau, ilalang sepertimu membuatku jatuh kepadamu? Kenapa harus rumput rapuh sepertiku?



Kenapa aku terbuai terbang, mengalun perlahan, menjemput bias-bias pelangi dalam embun, merasakan desir sentuhan angin? hingga kupikir aku telah meraih harap setinggi-tingginya. hingga kukira aku sudah jadi seperti harapmu.



Aku tidak menangis ketika menulis ini. sedikitpun tidak. tapi bukan berarti aku tidak merasakan apa-apa.

Aku selalu berusaha memberitahumu keadaanku, tapi kau hanya diam, diam, dan hanya diam.

aku sudah berusaha mencari tahu keadaanmu, tapi lagi-lagi kau hanya diam.

bahkan sampai musim telah berganti untuk ketiga kalinya.

kau pikir itu sebentar? pikirkanlah lagi.

Aku selalu menawarkan cara yang jauh lebih mudah untuk saling menautkan maksud, tetapi kau selalu memilih cara yang lebih sulit.

Apakah memang dicintai olehmu berarti disakiti olehmu?

Aku berusaha tidak menyalahkanmu. Sungguh, aku memang berusaha untuk tidak menyalahkanmu. Aku juga slalu menyadarkan diri bahwa tak pernah ada perkembangbiakan silang antara rumput dengan ilalang.

Tapi jika memang iya ilalang sepertimu bukan untuk ruput rapuh sepertiku, jika memang iya ilalang-ku tak lagi ingin menari bersamaku, katakanlah saja. katakanlah tanpa perlu menggelapkan dunia dan mengundang badai.

Aku tidak ingin kau terbebani dengan ini, karena aku bahkan sudah melalui musim panas yang membakar habis air mataku. aku tidak bisa menangis lagi. tapi disini, dipadang ini sedang terjadi musim dingin yang terlalu lama, namun uap bias harapku sekering sahara.

Aku membeku dan gersang dalam satu waktu karena rasa ini.



Tolong bangunkan aku ketika musim dingin ini telah sampai pada titik hentinya. Ataukah dunia memang hanya memiliki musim dingin ketika aku (rumput), kehilangan ilalang sepertimu...  


Kamis, 08 Desember 2011

Upaya Sadar Politik dalam Pemilihan Raya Unniversitas Negeri Semarang (UNNES)

Universitas Negeri Semarang (UNNES) belakangan ini dihebohkan oleh Pemilihan Raya Keluarga Mahasiswa atau yang biasa kita sebut Pemira periode 2011/2012 yang akan dilaksanakan tanggal 14 Desember 2011 nanti. SepertI yang telah disosialisasikan, Pemira tahun ini diikuti oleh tiga calon. Dengan diselenggarakannya Pemira, berarti hal terpenting yang disoroti adalah mengenai kesadaran politik mahasiswa.

Kampus, selain sebagai lembaga pendidikan, juga menggambarkan miniature kehidupan bernegara, terutama mengenai aspek politik. Kecenderungan aspek poltik ini semakin terasa kuat pengaruhnya ketika memasuki masa-masa pemilihan raya seperti saat ini. Namun, berdasarkan pemahaman yang ada sekarang, politik itu memang berarti sesuatu yang ‘kejam’. Bagaimana tidak, jika dalam sebuah pameo dikatakan, bahwa dalam politik tidak ada teman yang abadi, tidak ada kawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.

Menurut Henry S, dalam www.sumajanews.com, Pendidikan politik telah diatur dalam kurikulum Sisdiknas untuk memenuhi kebutuhan politik para pelajar dan mahasiswa. Tetapi bagi sebagian remaja, terutama mahasiswa yang notabene sudah dianggap mampu berpolitik dalam tingkatan lebih kompleks, ternyata masih kurang kesadaran politiknya. Bukan bermaksud sinis, tetapi menumbuhkan kesadaran politik dikalangan mahasiswa memang merupakan hal yang penting. Hal ini bertujuan bahwa sebagai mahasiswa kita dituntut untuk kritis sekaligus solutif dalam lingkungan masyarakat.

Selain itu, kesadaran politik perlu dibangun sedini mungkin pada kalangan mahasiswa mengingat merekalah yang akan menjadi pemengang pimpinan bangsa ini dengan sportif dan tanpa mengacuhkan norma-norma yang berlaku di bangsa kita. Tanggungjawab kita selanjutnya adalah bagaimana caranya agar terbangun kesadaran politik dalam diri masyarakat. Pada Buletin Express edisi 8 November 2011, tertulis bahwa pada Pemira tahun 2010 kemarin, dari 24000 mahasiswa hanya sekitar 6000 mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya. Selain itu, fenomena lain terjadi ketika diadakan dialog Presiden mahasiswa yang terlihat sedikit peminat. Hal ini dapat memicu adanya mahasiswa yang tidak memberikan hak suaranya pada saat Pemira, dengan alasan tidak mengenal calon Presma yang mengikuti Pemira. Hal ini tentu harus ditanggulangi, karena pemilih yang cerdas merupakan salah satu syarat terselenggaranya pemilu yang berkualitas. Pemilu yang berkualitas harus meliputi kontestan dan pemilih yang beretika, taat aturan main, media yang sehat dan objektif, penyelenggara juga objektif, dan pemilihnya cerdas. Pemilih yang cerdas adalah pemilih yang memahami peraturan pemilu, mengetahui orang yang dipilihnya dan pemilih yang tidak mau dibodohi oleh calon yang menggunakan politik iming-iming sebagai alat berkampanye.

Kita harus mencontoh aksi Himpunan Mahasiswa Islam di Jakarta yang mendirikan gerakan pemilih cerdas sebagai salah satu solusi mengurangi mahasiswa yang golput, serta memulai perybahan mendasar di kalangan mahasiswa. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan memberi stimulus kapada para mahasiswa untuk tutut serta menentukan keputusan yang menyangkut kehidupan mereka melalui media yang persuasif, misalnya dengan inovasi cara kampanye atau mengadakan teatrikal tentang pentingnya hak suara mereka untuk lembaganya.

Alternatif selanjutnya adalah dengan membudayakan partisipasi mahasiswa diluar organisasi penyelenggara Pemira dalam menentukan sistem pemungutan suara. Dengan begini, mahasiswa akan merasa bahwa kehadirannya sangat dibutuhkan, sehingga akan tumbuh rasa peduli dalam diri mereka. Mari kita canangkan suatu perubahan.









Kharissa Widya Kresna

PGSD FIP UNNES 2011

085742946406

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir